Laman

new post

zzz

Sabtu, 08 September 2012

SBM F1 - hakikat, ciri dan komponen

SBM F1 - hakikat, ciri dan komponen - word

SBM F1 - hakikat, ciri dan komponen - ppt














MAKALAH
HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah                 :           Strategi Belajar mengajar
Dosen pengampu        :           Ghufron Dimyati, M.Si

Disusun oleh :
Dadang Irwanto         2021110256
Fatimatuz Zuhro         2021110257
Ifrokha                       2021110258


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN


BAB I
PENDAHULUAN
Siapa pun tidak akan pernah menyangkal bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dengan penuh makna. Didalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan kedalam ciri setiap pribadi anak didik.
Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki guru adalah kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar. Kemampuan ini membekali guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai  pengajar. Belajar dan mengajar terjadi pada saat berlangsungnya interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Sebagai proses, belajar dan mengajar memerlukan perencanaan yang saksama, yakni mengkoordinasikan unsur-unsur  tujuan, bahan pengajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode dan alat bantu mengajar serta penilaian atau evaluasi. Pada tahap berikutnya adalah melaksanakan rencana tersebut dalam bentuk tindakan atau praktek mengajar.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Proses Belajar Mengajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara profesional.
Setiap kegiatan belajar mengajar selalu  dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi belajar siswa yang didesain secara sengaja, sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan anak sebagai subyek pembelajaran merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang diciptakan guru. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan pada dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar. Walaupun pada kenyatannya tidak semua perubahan termasuk pada kategori belajar.[1]
Belajar yang dihayati oleh seorang pebelajar (siswa) ada hubunganya dengan usaha pembelajaran, yang di lakukan oleh pembelajar (guru). Pada satu sisi , belajar yangdi alami oleh pebelajar terkait oleh dengan pertumbuhan jasmaniyang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental tersebut juga didorong oleh tindak pendidikan atau pembelajaran dengan kata lain, belajar ada kaitanya dengan usaha atau rekayasa pembelajaran. Dari segi siswa, belajar yang di alaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak pengiring, selanjutnya, dampak pengiring tersebut akan menghasilkan program belajar sendiri sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindak mendidik atau kegiatan mengajar. Proses belajar siswa tersebut menghasilkan prilaku yang di kehendaki, suatu hasil belajar sebagai dampak pengajaran. Ditinjau dari acara pembelajaran, maka dampak pengajaran tersebut sesuai dengan  tujuan pembelajaran[2]. 

B.     Ciri-ciri Belajar Mengajar
1.      Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didikdalam suatu perkembangan tertentu.
2.      Adanya suatu prosedur atau jalannya interaksiyang direncanakan, didesain, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur, langkah-langkah atau  sistematik dan relevan.
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan matrei yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Materi harus sudah didesain dan disiapkan sebelum berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
4.      Ditandai dengan aktifitas anak didik. Sebagai konsekuensi bahwa anak didik meruopakan syarat muttlak bagi nerlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Aktifitas anak ddidk dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental, aktif.
5.      Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
6.      Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan senbagai suatu pola tingkah laku yang di atur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah di taati oleh pihak guru maupun anakn didik dengan sadar.
7.      Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah dsatu ciri yang tidak bisa di tinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai.
8.      Evaluasi. Evaluasi harus guru lakukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah ditentukan.[3]

C.     Komponen belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar menagdung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan pelajaran, kegaiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi.
a.       Tujuan
Tujuan merupakan suatau cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksananaan pembelajaran. Tujuan dalam pendidikan dan pengejaran merupakan sutau cita-cita yang bernialai normatif, sebab dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik.suatu ttujuan pengajaran menunjukkan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran dan bukan sekeadar proses dari pengajaran itu sendiri.
b.      Bahan Pelajaran
Bahan atau materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajran yang “dikonsumsi” oleh peserta didik. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembagng secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Bahan ajar yang diterima anak didik harus mampu merespon setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan.
Bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bidsa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan pengajran merupakan inti dalam proses belajar mengajar
c.       Kegiatan belajar mengajar
Dalam kegiatan belajar, guru dan peserta didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu peserta didiklah yang lebih aktif, bukan guru seperti yang dikhendaki oleh pendekatan CBSA (cara nelajar sisiwa aktif), murid sebagai sentral pembelajaran. Interaksi dikatakan maksimal bila terjadi antara guru dengan semua peserta didik,antara peserta didik dengan guru, antara peserta didik dengan peserta didik, pserta didik dengan bahan dan media pembelajatran, bahkan peserta didik dengan dirinmya sendiri, namun tetap dalam kerangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
d.      Metode
Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menguasai metode mengajar menrupakan keniscayaan, sebab seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila ia tidak menguasai metode secara tepat.
e.       Alat
Alat merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Dalam proses pengajaran maka alat mempunyai fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan.
f.       Sumber Pelajaran
Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran bisa didapatkan. Sumber bahan pelajaran sesungguhnya nahyak sekali terdapat di mana pun seperti di sekolah, pusat kota, pedesaan, benda mati, lingkungan, toko dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya.
g.      Evaluasi
Evaluasi dalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
Evaluasi sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan dalam proses bel;ajar mengajar dan di dalamnya melibatkan guru dan siswa, pada dasarnya memiliki funsi sebagai berikut :
1.      Memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pengajaran serta mengadakan perbaikan program bagi murid.
2.      Memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid
3.      Menentukan posisi murid di dalam situasi belajar mengajar agar sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki masing-masing siswa
4.      Mengenal latar belakang siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar. Nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan-kesulitan belajar
Seorang guru tidak bisa mengabaikan evaluasi dalam pendidikan, sekalipun seni, cara dan teknik pelaksanaannya bergantung pada guru masing-masing.[4]


BAB III
PENUTUP

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa hakikat belajar adalah perubahan, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukian oleh guru. inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran.
Selain itu, belajar dan mengajar juga memiliki ciri dan komponen yang harus diperhatikan untuk kelancaran proses belajar mengajar. Dengan memperhatikan aspek hakikat, ciri dan komponen, diharapkan tujuan daripada belajar mengajar bisa terealisasikan dalam interaksi antara guru dan murid.



[1] Syaiful Bahri Djamarah. Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, Cetakan ke-3,2006), Hal, 37-38
[2] Dimyati, Mudjiono. Belajar Dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rieneka Cipta,1999), Hal,38
[3] Saiful bahri djamarah dan Azwan Zain, strategi Beljar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006) hal. 40-41
[4]  Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar melalui penanaman konsep umum dan konsep islami, (Bandung : PT. Revika Aditama, 2009) hal 13-18












SBM E1 - hakikat, ciri dan komponen

SBM E1 - hakikat, ciri dan komponen - word

SBM E1 - hakikat, ciri dan komponen - ppt


HAKIKAT, CIRI, DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR
Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Strategi Belajar Mengajar
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)
Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan
Tahun Akademik 2012/2013


 







Disusun oleh :
1.      Ely Mustaghfiroh                          (2021110204)
2.      Indah Rediana                              (2021110105)
3.      Kurnia Hidayati                            (2021110206)


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI  (STAIN)
 PEKALONGAN
2012

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul “Hakikat, Ciri, dan Komponen  Belajar Mengajar”  ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.
Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan tentang hakikat, ciri-ciri, serta komponen-komponen apa saja yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam arti yang sebenarnya dari belajar dan mengaja, sebagai calon pendidik hendaknya kita lebih memahami apa saja hal-hal yang dicirikan sebagai proses belajar mengajar, serata apa saja komponen yang membentuk satu kesatuan dalam proses belajar mengajar. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada bapak M. Hufron Dimyati, M.S.I. selaku dosen pembimbing Strategi Belajar Mengajar dan semua mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Agama Islam yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Strategi Belajar Mengajar. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabbal alamin.

Pekalongan, 6 September 2012

Penulis
PENDAHULUAN

            Belajar mengajar adalah suatu kegiatan edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Dan interaksi tersebut dikarenakan adanya belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. 
Masalah yang cukup sulit dihadapi oleh seorang guru adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai anak didik secara tuntas. Dengan kata lain, sebagai seorang guru dituntut untuk bisa menentukan metode penyampaian bahan pelajaran yang terbaik  kepada anak didiknya. Karena metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh anak didik, akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan. Ini berarti, tujuan pembelajaran akan dapat dicapai dengan menggunakan metode yang tepat, sesuai dengan standart keberhasilan yang terparti di dalam suatu tujuan. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar.










PEMBAHASAN
A.    Hakikat Belajar Mengajar

Dalam kehidupan kita sehari-hari hampir tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sendiri atau berkelompok. Karena belajar merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk didalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Sedangkan mengajar dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.[1]
            Dalam kehidupan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai tujuan pengajaran.
Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Berbeda dengan belajar. Belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Sedangkan mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan anak didik. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran.
            Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal dalam perpisahan jiwa raga bersatu antara guru dan anak didik.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam dalam melakukan proses belajar. (Nana Sudjana,1991:29)   
                        Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru.[2]

B.     Ciri Belajar Mengajar

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memeroleh seusuatu yang ada di lingkungan sekitar.[3]
Karena itu, sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:
1.      Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembanagan tertentu
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
4.      Ditandai dengan aktivitas anak didik
5.      Dalam kegiatan balajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
6.      Dalam kegiatan balajar mengajar membutuhkan kedisiplinan
7.      Ada batas waktu
8.      Evaluasi

C.    Komponen-komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan balajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi. Penjelasan dari setiap komponen tersebut adalah sebagai berikut:   
1.      Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena tanpa tujuan adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan dibawa.
            Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif. Dengan kata lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya.
            Ny. Dr. Roestiyah, N.K. (1989:44) mengatakan bahwa suatu pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (perfomance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan yang kita ajarkan. [4]
2.      Bahan Pelajaran
            Bahan pelajaran adalah sustansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses balajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik.[5] Bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah initi dalam proses belajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik.
3.      Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.
4.      Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.[6] Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar mengajar. Ini perlu, karena ketepatan metode akan memengaruhi bentuk strategi belajar mengajar.[7]
5.      Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat dapat dibagi menjadi dua macam yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan, dan sebagainya. Sedangkan alat bantu pengajaran adalah berupa globe, papan tulis, batu tulis, batu kapur, gambar, diagram, slide, video, dan sebagainya.
6.      Sumber Pelajaran
Sumber pelajaran merupakan bahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sebab, pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal  baru (perubahan).
7.      Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai. Karena itu di dalam menyusun evaluasi hendaknya memperhatikan secara seksama rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan harus dapat mengukur sejauh mana proses pembelajaran telah dilaksanakan.[8]








KESIMPULAN
Belajar mengajar adalah suatu kegiatan edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Dan interaksi tersebut dikarenakan adanya belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat mengajar sebagai suatu “proses pengaturan” yang dilakukan oleh guru. Menurut Edi Suardi ciri belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1.      Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembanagan tertentu
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
4.      Ditandai dengan aktivitas anak didik
5.      Dalam kegiatan balajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
6.      Dalam kegiatan balajar mengajar membutuhkan kedisiplinan
7.      Ada batas waktu
8.      Evaluasi
            Komponen – komponen belajar mengajar  adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan
2.      Bahan Pelajaran
3.      Kegiatan  Belajar Mengajar
4.      Metode
5.      Alat
6.      Sumber Pelajaran
7.      Evaluasi


DAFTAR PUSTAKA

Aunnurrahman, 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Mujiono dan Dimyati.  1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Zain, Aswan & Syaiful Bahri Djamarah. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.




[1] Aunnurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010). Hal. 32.
[2]  Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hal.38-39.
[3] Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), hal. 7
[4] Ibid., hal. 41-42
[5] Ibid., hal. 43-44
[6] Ibid.,  hal. 53
[7] W Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Grasindo, 2002), hal. 9.
[8] Aunurrahman, Loc. Cit., hal. 209.

Rabu, 05 September 2012

pengumuman !!!

mata kuliah SBM kelas E, F dan G hari Senin jam 1 sd 6 yang semula di ruang G10

DIPINDAH

ke gedung D ruang D1 (atas),

sedangkan hari dan jam tetap sama seperti semula.

mohon maklum.

Dosen Pengampu:

M. Ghufron Dimyati, MSI

Kamis, 30 Agustus 2012

M. Ghufron Dimyati

"Selamat Datang Mahasiswa Baru 2012-2013"

Bagi "Mahasiswa Baru" tentu suatu yang istimewa bisa gabung di keluarga besar kampus STAIN Pekalongan ini. Semua serba baru, mulai dari teman baru, perkuliahan baru, dosen baru, gedung baru dan kalau boleh pacar baru. Sementara mahasiswa lama mungkin juga menghadapi hal tidak jauh berbeda, yang jelas aktivitas dan produktivitasnya harus beda.

Mahasiswa harus dimaknai sebagai manusia utuh yang siap menghadapi tantangan dan perubahan. Dalam arti bahwa dunia kampus, pendidikan tinggi dan mahasiswa merupakan ikon kemajuan bangsa dan berkembangnya peradaban dunia. Kuncinya adalah punya semangat baru untuk berubah dan merubah, jadi objek sekaligus subjek perubahan.

Bravo mahasiswa ...

Rabu, 15 Agustus 2012

M. Ghufron Dimyati: "Berbagi di hari Fitri"

Menyambut hari raya idul fitri 1433 H perlu persiapan berbagai hal. Di antara persiapan tersebut adalah sejauh mana kita mengambil hikmah dan barakah pada bulan ramadlan. selanjutnya berbagi untuk kemaslahatan ummat.

Senin, 23 Juli 2012

M. Ghufron: "Islam Simbol vs Masyarakat Islami"


Fenomena sekarang ditandai maraknya gerakan masyarakat yang mengusung Islam Simbol. Mereka memaknai agama sebagai bagian dari kehidupan nyata, tauchable, empirik, hitam di atas putih dan legal formal. kelompok ini mensyaratkan adanya kesaksian dan pengalaman langsung baik fisik, verbal, ataupun tindakan nyata. Fenomena yang muncul yaitu gerakan Front Pembela Islam (FPI), gerakan Khilafah, komunitas atau regulasi berlabel syari'ah ekonomi syari'ah, perbankan syari'ah atau state/negara Islam seperti Saudi Arabia, Iran, Pakistan, Brunai, Malaysia. Semua secara terbuka dan tertulis bahkan legal formal dalam bentuk Undang-Undang atau konstitusi menyatakan bahwa Islam dengan segalan atributnya menjadi dasar hukum dan peraturan perundangan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Berbeda dengan Islam Simbolik yaitu komunitas Islami, dimana dalam masyarakat tersebut mempraktekkan dan sadar atau tidak mereka telah melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, kearifan, dan keteladanan. Demikian juga tujuan dan pencapaian hidup dan kehidupan selaras dengan panji-panji Islam seperti kebahagiaan, kebaikan, kemakmuran dan kedamaian abadi di tengah-tengah kehidupan global. Namun demikian, mereka belum tentu berasal dari pribadi atau jamaah kaum muslimin, bisa jadi mereka golongan Hindu, Budha, Nasrani bahkan Yahudi, hanya saja perilaku dan perikehidupan mereka sejalan dengan nafas Islam. Banyak komunitas ataupun masyarakat yang telah menjalani prinsip-prinsip keislaman, sebut saja seluruh masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia. Banyak orang-orang shaleh ternyata non muslim, hal ini menandakan bahwa mereka sengaja atau tidak telah menerapkan isi pesan yang selaras dengan isi pesan Islam.

Baik Islam Simbol atau Masyarakat Islami tentu mempunyai tinjauan yang berbeda. Antara satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Dimana Islam Simbol merupakan tahapan syari'at sedangkan Masyarakat Islami cerminan haqiqat. Tahapan syari'at menuntut diberlakukannya simbol Islam sebagai pintu masuk dan syarat diterimanya semua amal perbuatan dan perikehidupan berlangsung serta aspek tujuan yang hendak dicapai. sedangkan tahapan haqiqat memberikan maksud dan kebermaknaan dalam menjalani sendi-sendi kehidupan baik secara pribadi (shaleh pirbadi) atau secara komunitas (shaleh sosial). Dalam konteks global banyak kesepakatan internasional yang diilhami oleh kesadaran untuk menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kesamaan, kebersamaan, kehormatan, kebaikan dan kebahagiaan, misal saja konsep Hak Asasi Manusia dan perlindungan kemanusiaan lainnya.

Analisa penulis, kita awali dengan Islam Simbol sedapat mungkin kita capai, kemudian diikuti dengan pembentukan komunitas Islami. Artinya, kita awali dengan pelaksanaan tahapan syari'ah, konkritnya melaksanakan rukun Islam dan simbol Islam lainnya semaksimal mungkin, seperti mengucapkan dan berikrar dengan dua kalimat syahadat, shalat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya bahwa semua ini sepenuhnya tunduk dan patuh kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ini baru masuk Islam walaupun Islam Simbolik. Selanjutnya sebagai seorang muslim dan masyarakat muslim maka harus menjiwai nilai-nilai dari simbol-simbol keislaman tersebut yaitu kejujuran, keadilan, kearifan, kemaslahatan dan ketulusan hanya kepada Dzat Yang Satu, Yang Maha Agung, Allah SWT.