Laman

new post

zzz

Kamis, 22 September 2016

TT1 A 4b KEWAJIBAN BELAJAR “ SPESIFIK” Pengembaraan untuk Menuntut Ilmu


KEWAJIBAN BELAJAR “ SPESIFIK”
Pengembaraan untuk Menuntut Ilmu
(QS. Al-Ankabut Ayat 19-20)
Atikah Fitri ( 2021115053 )
Kelas A

JURUSAN TARBIYAH/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016







KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah pencipta alam semesta yang menjadikan bumi dan isinya dengan begitu sempurna. Tuhan yang menjadikan setiap apa yang ada dibumi sebagai penjelajahan bagi kaum yang berfikir. Tidak lupa sholawat serta salam kami ucapkan kepada junjungan besar kita Nabi Muhammad beserta keluarga, sahabat dan umatnya hingga akhir zaman. sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul besar “Kewajiban Belajar SPESIFIK” dan judul kecil “Pengembaraan untuk Menuntut Ilmu (QS. Al-Ankabut Ayat 19-20).
 Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi I, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan tahun akademik 2016. Penulis menyadari tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak maka, makalah ini tidak akan terwujud. Oleh sebab itu pada kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
  1. Bapak Drs. M. Ghufron Dimyati, MSI selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I.
  1. Bapak dan ibu selaku kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan moral, materiil serta motivasinya;
  2. Segenap Staf Perpustakaan IAIN Pekalongan yang telah memberikan bantuan referensi-referensi buku rujukan;
  3. Segenap teman-teman yang telah memberikan bantuan, dukungan dan motivasinya;
  4. Serta semua pihak yang telah memberikan dukungan moral dan materiilnya.
saya menyadari bahwa adalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, sehingga dengan segala kerendahan hati kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi lebih baiknya kinerja saya akan mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak.
Pekalongan,  september  2016

Penul
BAB I
PENDAHULUAN

A.                LATAR BELAKANG
Ilmu pengetahuan tumbuh dan  berkembang dalam diri manusia melalui pengalaman empiris , rasional, dan ilham yang masuk melalui indra, baik zahir maupun batin. Oleh karena itu, Al- Qur’an selalu mengajak manusia menggunakan indranya untuk mengkaji alam dan fenomena yang terjadi dengan melakukan perjalanan di muka bumi agar kita bisa menemukan banyak pelajaran yang berharga melalui ciptaan Allah.
B.                 Judul
Judul garis besar makalah ini adalah Kewajiban belajar “Spesifik”, dan sub pembahasannya adalah Pengembaraan untuk Menuntut Ilmu
C.                Manfaat
Manfaat mempelajari ayat ini adalah
1.      Di dalam ayat ini kita diperintahkan untuk melakukan perjalanan di muka bumi agar kita bisa menemukan banyak pelajaran yang berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam maupun dari peninggalan – peninggalan lama yang masih tersisa pung-puingnya
2.      Kita bisa merenungkan  segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini.
3.      Kita bisa mengetahui betapa besarnya  kekuasaan Allah SWT.







D.                Nash dan Terjemahan
öNs9urr& (#÷rttƒ y#øŸ2 äÏö7ムª!$# t,ù=yø9$# ¢OèO ÿ¼çnßÏèム4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ n?tã «!$# ׎Å¡o ÇÊÒÈ   ö@è% (#r玍ŠÎû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øŸ2 r&yt/ t,ù=yÜø9$# 4 ¢OèO ª!$# à×Å´Yムnor'ô±¨Y9$# notÅzFy$# 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ  
Artinya :
19. “Dan apakah tidak mereka perhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan kemudian itu Dia mengulanginya kembali, sesungguhnya pada yang demikian  atas Allah adalah mudah.”
20. “Katakanlah : ‘Mengembaralah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Dia memulai penciptaan, kemudian Allah memunculkan kemunculan yang lain, sesungguhnya Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa’.”









BAB II
PEMBAHASAN
A.   Teori
Pakar tafsir, fakhruddin ar-razi, menulis bahwa perjalanan wisata mempunyai dampak yang sangat besar dalam menyempurnakan jiwa manusuia. Dengan prjalananitu, manusia memperoleh kesulitan dan kesukaran yang denganya jiwa terdidik dan terbina, terasah dan terasuh. Bisa juga ia menemui orang – orang terkemuka sehingga dapat memperoleh manfaat dan informasi dari pertemuaanya dan yang lebih penting lagi ia dapat menyaksikan aneka ragam ciptaan Allah.
Pakar tafsir lain,jamaludin al- qasimi , menulis bahwa : ‘’aku telah menemukan skian banyak pakar yang berpendapat bahwa kitab suci memerintah manusia agar mengorbakan sebagiaan (masa) hidupnya untuk melakukan perjalanan agar ia dapat menemukan peningalan-penigalan lama,mengetahui kabar berita umat terdahulu,agar semua itu menjadi pelajaran dan ‘ibrah  yang dengan nya dapat diketuk dengan keras otak-otak yang beku. ’’Memang, sekiaan banyak orang yang terpaku ditempat kediamannya yang terpaku pula pikirannya dengan rutinitas dan kebiasaan kebiasaan yang dialamidan dilihatnya. Tetapi, jika dia meninggalkan  tempat, pikirannya akan terbuka, perasaannya akan terasah, sehingga dia akan menemukan hal-hal baru yang dapat mengantarnya kepada hakikat wujud ini dan bahwa di balik segala yang dilihat dan didengarnya ada Tuhan Yang Maha Esa.[1]
B.     Tafsir
1.      Tafsir Al-Maragi
öNs9urr& (#÷rttƒ y#øŸ2 äÏö7ムª!$# t,ù=yø9$# ¢OèO ÿ¼çnßÏèム4 ¨bÎ) šÏ9ºsŒ n?tã «!$# ׎Å¡o ÇÊÒÈ  

Ibrahim kekasih Ar-Rahman mengisyaratkan kaumnya kepada penetapan pembangkitan kembali yang mereka ingkari dengan apa yang mereka saksikan pada diri mereka sendiri, seperti penciptaan mereka dari sebelumnya tidak ada sama sekali, pemberian pendengaran, penglihatan dan hati kepada mereka, berbuatnya mereka di dalam kehidupan hhingga waktu tertentu, kemudian kematian mereka setelah itu. Tuhan yang memulai semua ini kuasa untuk mengembalikannya, bahkan pengembaliannya itu lebih mudah baginya.
ö@è% (#r玍ŠÎû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øŸ2 r&yt/ t,ù=yÜø9$# 4 ¢OèO ª!$# à×Å´Yムnor'ô±¨Y9$# notÅzFy$# 4 ¨bÎ) ©!$# 4n?tã Èe@à2 &äóÓx« ֍ƒÏs% ÇËÉÈ  
Berjalanlah di muka bumi dan saksikanlah langit-langit dengan segala bintangnya yang terang, baik bintang yang tetap mmaupun bintang yang beredar, saksikanlah pula bumi dengan segala isinya, seperti gunung, tanah rata, gurun pasir, padang tandus, pepohonan dan buah-buahan, serta sungai-sungai dan lautan. Semua ini menjadi saksi atas kebaruannya sendiri dan atas adanya pembuatannya yang apabila berkata kepada sesuatu, “Jadilah”, maka terjadilah ia.[2]
2.      Tafsir Al-Azhar
Ayat 19
”Dan apakah tidak mereka perhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan.”. Allah tidaklah akan dapat dilihat dengan mata. Untuk meyakinkan adanya Allah. Hendaklah peerhatikan alam yang diciptakan oleh Allah. Dalam ayat yang tengah kita renungi ini terdapatlah panggilan kepada manusia yang selama ini kurang memperhatikan, bahkan tidak teguh kepercayaannya tentang adanya Yang Maha Kuasa. Atau kalaupun ada kepercayaan bahwa Tuhan itu ada , tidak diperhatikannya bagaimana cara nya kita sebagai insan menghubungi al-khaliq itu. Untuk mencari Allah perhatikanlah alam. kian diperhatikan, akan kian teranglah dalam hatimu bantahan kepada pendirianmu yang kaku dan kejang, yang selama ini mengatakan tuhan tidak ada. diawal ayat ini kita dianjurkan memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan. Banyak  permulan pendapat penciptaan ilahi yang sangat ajaib, yang mustahil begitu teratur dan mengagumkan kalau dia terjadi tersendirinya .
Lihatlah misalya Permulaan penciptaan manusia sendiri. Dari tetesan air kama atau mani yang berpadu satu, dari diri seorang perempuan dan seorang laki-laki, terkumpul didalam rahim peranakan perempuan. Dalam sekian hari dinamai nutfah (segumpal air pekat), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah), kemudian jadi  mudhghah (segumpal daging), kemudian daging itu beransur tumbuh tulang-tulang di dalamnya. Kemudian datang daging lain memalut tulang itu, setelah 3 kali 40 hari mulailah dia bernyawa dan setelah 9 bulan 10 hari, lahirlah kedunia.
Semuanya terjadi setiap hari, tiap saat. Semuanya ganjil tidak diketahui bagaimana perkembanganya dan dari mana sebab- musababnya oleh manusia, namun dia adalah kenyataan.
“Kemudian itu Dia mengulanginya kembali”.
“Sesungguhnya  pada yang demikian atas Allah adalah mudah”. Sebagaimana manusia ini hidup didinua, kemudian mati. Dan setelah mati kelak, menurut ukuran waktu yang ditentukan Allah akan dibangkitkan kembali, yang bernama hari kiamat, semuanya itu adalah urusan yang mudah saja bagi Allah.
 Ayat 20.
“Katakanlah : mengembaralah  dimuka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Dia memulai penciptaan.”. disini  perintah itu sudah lebih tegas lagi. Manusia disuruh mengembara di muka bumi. Supaya dia jangan sebagai katak di bawah tempurung. Jangan membeku saja tidak berfikir, tidak menyelidiki. Selidikilah bagaimana asal mula penciptaan dalam alam ini.
“Kemudian Allah memunculkan kemunculan yang lain.” Artinya ialah setelah manusia memperhatikan awal permulaan penciptaan lam ini sampai  menjadi ilmu, dianjurkan manusia supaya merenungkan kemungkinan yang amat luas bagi Maha Penguasa itu.
“Sesungguhny Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah Maha Kuasa”. Kalau manusia sudah insaf dan mengakuibahwa segala permulaan penciptaan itu  sangat teratur dan mengagumkan, meninggalkan bahwa kesan bahwa Pencipta itu memang Maha Kuasa, maka tidak ada jalan lagi buat memungkiri bahwa Dia pun Maha Kuasa pula membuat bentuk alam kelak kadalam bentuk yang lain, dan mengulangi kehidupan manusia  dalam alam yang lain.[3]
3.      Tafsir Al-Mishbah
Ayat 19
“Dan apakah tidak mereka perhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan kemudian itu Dia mengulanginya kembali, sesungguhnya pada yang demikian  atas Allah adalah mudah.”
Sesungguhnya yang demikian itu yakni penciptaan dan pengulangannya bagi Allah semata – mata dan khusus bagi –Nya adalah mudah. Kata(  ) terambil dari kata ( ), yang dapat berarti melihat dengan mata kepala atau mata hati/ memikirkan  atau memperhatikan.
Ayat 20
Katakanlah :” berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan, kemudian Allah menjadikannya di kali lain. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Sudah banyak penjelasan yang dikemukakan melalui ayat –ayat lalu guna membuktikan kekuasaan Allah dan keniscayaan Hari Kiamat. Kaum musyrikin belum juga menyambut bai penjelasaan –penjelasan itu. Karena itu, ayat diatas memerintahkan Nabi Muhammad saw. Bahwa : Katakanlah kepada mereka: “ kalau kamu belum juga mempercayai keterangan-keterangan di atas, antara lain disampakan oleh leluhur kamu dan bapak para nabi yakni Nabi Ibrahim, maka berjalanlah di  muka bumi kemanasaja kaki kamu membawa kamu, lalu dengan segera walau beberapa langkah kamu melangkah.  perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan makhluk yang beraneka ragam manusia, binatang, tubuhan dan sebagainya, kemudian Allah menjadikannya di kali lain setelah penciptaan pertama kali itu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.[4]
C.     Aplikasi Dalam Kehidupan
Melakukan wisata ziarah atau study tour karena kita bisa menemukan banyak pelajaran yang berharga dari perjalanan yang kita lakukan, dengan kita melakukan perjalanan kita bisa mengamati  dan memperhatikan segala macam hal yang ada di dunia ini serta kita bisa menarik pelajaran dari bukti- bukti kekuasaan Allah SWT.
D.    Aspek Tarbawi
1.      manusia menggunakan indranya untuk mengkaji alam dan fenomena yang terjadi dengan melakukan perjalanan di muka bumi.
2.      Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.
3.      Akal digunakan untuk memikirkan, menafsirkan, segala sesuatu ciptaan Allah SWT.
4.      Percaya bahwa segala ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia.


BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Pada ayat diatas  manusia disuruh merenungkan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, mulai dari permulaaan sampai penciptaan tersebut terulang-ulang. Dalam ciptaan Allah tidak ada yang sulit bagi-Nya. Selain itu kita juga diperintahkan untuk melakukan perjalanan di muka bumi ini agar kita bisa menemukan banyak pelajaran yang berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam maupun dari peninggalan – peninggalan lama yang masih tersisa pung-puingnya.














DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Musthofa. 1993.  Tafsir Al- Maraghi,cet 2. Semarang: PT KaryaToha Putra Semarang,

Hamka.  2004.  Tafsir Al-Azhar Juz XX.  Jakarta: PustakaPanjimas.

Shihab, M. Quraish. 2011.  Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.






BIODATA PENULIS
Nama : Atikah Fitri
TTL : Pekalongan, 10 Febuari 1997
Alamat : Kali Baros Rt 02 rw II Pekalongan Timur
Cita-Cita : Guru dan pengusaha
Riwayat Pendidikan :
·         Tk Salsabila II Jakarta pusat
·         SDI An-nur  Jakarta Pusat
·         MI NU Baros Pekalongan Timur
·         SMP Islam Pekalongan Timur
·         SMA N 04 Pekalongan Timur


[1]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah pesan, kesan, dan keserasian dalam Al-Qur’an,(Jakarta:Lentera Hati,2011)hlm. 48
[2]Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghi,(Semarang: PT Tohaputra Semarang, 1993) hlm. 221-222
[3]Hamka, Tafsir Al-AZHAR Juz XX, (Jakarta:PustakaPanjimas, 2004) hlm. 163-165
[4]M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah pesan, kesan, dan keserasian dalam Al-Qur’an,(Jakarta:Lentera Hati,2011)hlm. 47

Tidak ada komentar:

Posting Komentar