Laman

new post

zzz

Rabu, 21 November 2018

TT B L4 METODE PENDIDIKAN SPECIAL ”Metode Dialogis”


METODE PENDIDIKAN SPECIAL
”Metode Dialogis”
QS. Ash-Shaaffaat, 37: 102
M. Alik Thoifur
NIM. 2117350
Kelas B

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018



KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semuaShalawat serta salam semoga tetap kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua termasuk umat yang mendapat syafaat di Yaumul Akhir nanti. Amin.
Makalah yang berjudul Metode Pendidikan “SPECIAL” dalam QS. Ash-Shaaffaat, 37: 102, ”Metode Dialogis”, dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan Terima Kasih kepada Bapak Muhammad Ghufron selaku dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi yang telah memberikan waktu kepada penulis untuk menyelesaikan tugas makalah ini.
Dengan menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi bahasa, analisis materi kajian atau pun cara penulisannya. Maka dari itu, penulis berharap kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis dan semua pembaca. Amin

Pekalongan, 22 Oktober 2018

Penulis






BAB I
PEMBAHASAN
A.  Latar Belakang
Pada  dasarnya,  metode  pendidikan  islam  sangat  efektif  dalam  membina kepribadian  anak  didik  dan  memotivasi  mereka  sehingga  aplikasi  metode  ini memungkinkan  puluhan  kaum  mukminin  dapat  membuka  hati  manusia  untuk menerima  petunjuk  Ilahi  dan  konsep-konsep  peradapan  Islam  (AnNahlawi,1995:204).
Metode  yang  dianggap  paling  penting  dan  menonjol  adalah  metode melalui dialog Qur‟ani dan Nabawi.  Bentuk dialog dalam Al-Qur‟an dan sunnah sangat variatif. Namun, bentuk yang paling penting adalah dialog khitabi (seruanAllah)  dan  ta‟abbudi  (penghambaan  terhadap  Allah),  diaolog deskriptif,  dialog naratif, dialog argumentatif, serta dialog nabawiah.
Kejelasan tentang aspek-aspek dialog ditujukan agar setiap pendidik dapat memetik  manfaat  dari  setiap  bentuk  dialog  tersebut  dan  dapat  mengembangkan afeksi,penalaran,  dan perilaku ketuhanan anak didik. Selain itu, seorang pendidik dapat  memanfaatkan  dialog  untuk  melengkapi  metode  pengajaran  ilmu-ilmu lainnya (An- Nahlawi,1995:205-206)

B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana metode pendidikan islam dalam surah As-Shaffat ayat 102?
2.      Bagaimana implementasi metode pendidikan dialog dalam pendidikan Islam?

C.  Tujuan
1.      Mengetahui metode pendidikan  islam  yang terkandung dalam al-Qur‟an surat as-Shaffat ayat 102
2.      Mengetahui implementasi metode pendidikan dialog dalam pendidikan Islam


BAB II
PEMBAHASAN
A.  Hakikat Metode Dialogis
Ayat sebelum ini menguraikan janji Allah kepada Nabi Ibrahim as, tentang perolehan anak. Demikianlah hingga tiba saatnya anak tersebut lahir dan tumbuh berkembang  (Shihab,  2002:  280).  “ Maka  tatkala  anak  itu  sanggup  berusaha bersama-sama  Ibrahim,”  yaitu  menjadi  besar  dan  dewasa  serta  dapat  pergi bersama  ayahnya  dan  sanggup  melaksanakan  pekerjaan  yang  dikerjakan  oleh ayahnya, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah  bagaimana  pendapatmu!”.
Sesungguhnya Ibrahim memberitahukan kepada anaknya dengan cara seperti itu agar lebih mudah diterima oleh anaknya dan dengan maksud menguji kesabaran, keteguhan, dan keistiqamahan anaknya di kala masih kecil dalam menaati Allah dan menaati ayahnya. Maka dia menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang telah  diperintahkan  kepadamu,  yakni  laksanakanlah  perintah Allah untukmenyembelihku itu, Insya Allah, kamu akan  mendapatkanku  termasuk  orang-orang yang sabar.” Aku akan bersabar dan megharapkan pahala-Nya dari sisi-Nya (Ar-Rifa‟i, 2000: 41-42).
Dalam penafsiran di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa dalam surat as-Shaffat  ayat  102  mengandung  metode  dialog.  Dialog  dapat  diartikan  sebagai pembicaraan antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui tanya jawab dan didalamnya  terdapat  kesatuan  topik  atau  tujuan  pembicaraan.  Dengan demikian, dialog  merupakan  jembatan  yang  menghubungkan  pemikiran  seseorang  dengan orang  lain  (An-  Nahlawi,1995:205).  Dalam  pembahasan  ini  penulis  hanya  akan menjelaskan  mengenai  metode  tanya  jawab,  maka  kita  harus  mengetahui pengertian  dari  setiap  kata  tersebut.  Maka  dengan  ini  penulis  menguraikan menjadi dua kata, yaitu kata metode dan kata tanya jawab.
Metode berasal dari dua kata  yaitu  meta  yang artinya melalui dan  hodos yang artinya jalan atau cara. Dapat disimpulkan bahwa metode adalah suatu jalan atau cara yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan (Uhbiyati, 1999: 99). Dalam bahasa arab metode disebut  thariqot  yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi  metode  adalah  sebuah  cara  yang  dipergunakan  guru  dalam mengadakan  pembelajaran  dengan  peserta  didik,  pada  saat  berlangsung  proses pembelajaran  secara  efektif  dan  efesien  juga  untuk  mencapai  tujuan  yang ditentukan (Gunawan, 2014: 255-257).
Sedangkan kata tanya jawab berasal dari dua kata yaitu tanya yang artinya permintaan  keterangan  (penjelasan  dan  sebagainya).  Adapun  kata  jawab  artinya sahut,  balasan.  Jadi  kata  tanya  jawab  adalah  cara  belajar  atau  mengajar  yang menekankan  pada  pemberian  pertanyaan  oleh  pengajar,  sedangkan  peserta  didik harus menjawab pertanyaan tersebut atau sebaliknya.
Dari  penjelasan  di  atas  dapat  ditarik  kesimpulan  bahwa  metode  tanya jawab  adalah  cara  penyajian  pelajaran  dalam  bentuk  pertanyaan  yang  harus dijawab,  terutama  dari  guru  kepada  siswa,  tetapi  dapat  pula  dari  siswa  kepada guru. Metode tanya jawab adalah yang tertua dan banyak digunakan dalam proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah (Djamarah dan Zain, 2010: 94-95).
Metode  tanya  jawab  juga  dapat  diartikan  sebagai  penyampaian  pesan pengajaran  dengan  cara  mengajukan  pertanyaan-pertanyaan  dan  siswa memberikan jawaban, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru yang menjawab pertanyaan (Usman, 2002: 43).[1]
Menurut  Ibnu  Katsir,  sebagaimana  dikutip  oleh  Miftahul Huda dan Muhammad  Idris,  cara dialog bertujuan untuk melatih berargumentasi, kesabaran, ketangguhan, dan keteguhannya untuk patuh kepada Allah dan taat kepada orangtua.[2]



B.  Dalil Metode Dialogis sesuai Al-Quran Surat as-Shaffat Ayat 102
 فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".
Ayat  diatas  menggunkan  bentuk  kata  kerja  mudhari‟  (masa  kini  dan datang) pada kata-kataأَرَى  saya melihat dan  أَدْبَحُكَsaya  menyembelihmu. Demikian  juga  kata تُؤْمَرُ diperintahkan.  Ini  untuk  mengisyaratkan  bahwa apa  yang  beliau  lihat  itu  seakan-akan  masih  terlihat  hingga  saat penyampaiannya  itu.  Sedang  penggunaan  bentuk  tersebut  untuk  kata menyembelihmu untuk mengisyaratkan bahwa perintah Allah yang dikandung mimpi itu belum selesai dilaksanakan, tetapi hendaknya  segera dilaksanakan. Karena itu pula jawaban sang anak  menggunakan kata kerja masa kini juga untuk  mengisyaratkan  bahwa  ia  siap, dan  bahwa  hendaknya  sang  ayah melaksanakan perintah Allah yang sedang maupun yang akan diterimanya.[3]
Dalam  tafsir  al-Ibriz  juga  dijelaskan  “Bareng  putrone  wus  yuswo pitung tahun, Setelah putranya sudah berusia tujuh tahun nabi Ibrahim nompo wahyu supoyo nyembelih putrone. Nabi Ibrahim ngendiko: “He anak ingsun engger! Ingsun  supeno  sak  jerone  sare  ingsun,  menowo  ingsun  nyembelih marang seliramu, cubo pikiren kapriye mungguh seliramu?” Ingkang putro matur: “Bapak dalem aturi nindaaken perintahipun Allah, dalem insya‟Allah amboten bade bangkang, nangeng bade sabar”,  Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu agar menyembelih putranya. Nabi Ibrahim berkata sebagaimana untuk pertimbangan nabi  Isma‟il: “wahai anakku! Aku bermimpi didalam tidurku, kalau aku menyembelih dirimu, coba pikirkan bagaimana menurutmu?” Yang putra berkata: “ Ayah, Jalankanlah perintah Allah, Insya‟Allah aku tidak akan membangkang, tapi akan sabar.[4]
Ucapan sang anak أَفْعَلُ مَاتُؤْمَرُ laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,  bukan  berkata:  “Sembelihlah  aku”,  mengisyaratkan  sebab kepatuhannya,  yakni  karena  hal  tersebut  adalah  perintah  Allah  swt.
Bagaimanapun  bentuk,  cara  dan  kandungan  apa  yang  diperintahkan-Nya, maka ia sepenuhnya  pasrah. Kalimat ini juga dapat merupakan obat pelipur lara bagi keduanya dalam menghadapi ujian berat itu. Ucapan  sang  anak  سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ  engkau  akan mendapatiku  Insya  Allah  termasuk  para  penyabar,  dengan  mengaitkan kesabarannya  dengan  kehendak  Allah,  sambil  menyebut  terlebih  dahulu kehendak-Nya,  menunjukkan  betapa  tinggi  akhlak  dan  sopan  santun  sang anak kepada Allah Swt. Tidak dapat diragukan bahwa jauh sebelum peristiwa ini  pastilah  sang  ayah  telah  menanamkan  dalam  hati  dan  benak  anaknya tentang  keesaan  Allah  dan  sifat-sifat-Nya  yang  indah  serta  bagaimana seharusnya bersikap kepada-Nya. Sikap dan ucapan sang anak  yang direkam oleh ayat ini adalah buah pendidikan tersebut.[5]
Dalam perspektip pendidikan Islam faedah yang bisa  diambil dari kisah qurban  adalah  reaksi  anak  ketika  ayahnya  meminta  pendapatnya  tentang perintah  yang  ia  terima  untuk  menyembelihnya,  dengan  sopan  dan  lembut  ia megiakan  perintah  tersebut,  dengan  penuh  kepatuhan, ketundukan,  dan  sikap penyerahan diri kepada Allah.
Sikap sopan, lembut, patuh, pasrah, jujur,terbuka, sabar, dan bertanggung jawab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh peristiwa  qurban bukanlah muncul dengan tiba-tiba. Sebaliknya, sikap ini muncul darisebuah proses pendidikan. Sebagai  orang  tua,  Nabi  Ibrahim  telah  berhasil  memainkan  perannya sebagai seorang pendidik utama dan pertama bagi anaknya, ia tanamkan pada anaknya  melalui  contoh  dan  suri  teladan  yang  ia  perankan  sendiri  dari nilai-nilai baik, yang pada akhirnya mampu menjadikannyaseorang yang memiliki keyakinan  yang  kuat,  perilaku  yang  baik,  dan  kesadaran  yang tinggi  untuk menimbang masalah seperti orang dewasa, tentu ismail merupakan anak ideal dan  istimewa  layak  diidamkan  oleh  setiap  orang  tua. Oleh  karena  itu penggalian  masalah  strategi  pendidikan  dan  nilai  yang dihasil  dari  al-Qur’an perlu dilakukan.[6]
1.    Tafsir Jalalain
(Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim) yaitu telah mencapai usia sehingga dapat membantunya bekerja; menurut suatu pendapat bahwa umur anak itu telah mencapai tujuh tahun. Menurut pendapat yang lain bahwa pada saat itu anak Nabi Ibrahim berusia tiga belas tahun (Ibrahim berkata, "Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat) maksudnya, telah melihat (dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!) mimpi para nabi adalah mimpi yang benar, dan semua pekerjaan mereka berdasarkan perintah dari Allah swt. (maka pikirkanlah apa pendapatmu!") tentang impianku itu; Nabi Ibrahim bermusyawarah dengannya supaya ia menurut, mau disembelih, dan taat kepada perintah-Nya. (Ia menjawab, "Hai bapakku) huruf Ta pada lafal Abati ini merupakan pergantian dari Ya Idhafah (kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu) untuk melakukannya (Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar") menghadapi hal tersebut.
2.    Ringkas Kemenag
Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, nabi ibrahim berkata, 'wahai anakku! sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku dalam mimpiku itu diperintah oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' dengan penuh kepasrahan kepada Allah dan ketaatan pada ayahnya, dia menjawab, 'wahai ayahku! lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dalam melaksanakan perintah-Nya. '103-106. Maka ketika keduanya telah berserah diri, patuh, dan bertawakal kepada Allah, dia pun membaringkan anaknya atas pelipis-Nya ke tanah agar tidak melihat wajah anaknya saat dia menyembelihnya. Nabi ibrahim berbuat demikian supaya keteguhan hatinya dalam melaksanakan perintah Allah tidak terganggu. Ketika pisaunya dia ayunkan, lalu kami panggil dia dari arah bukit, 'wahai ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu sebagai perintah Allah yang wajib engkau laksanakan. Sungguh, demikianlah tugas yang membutuhkan kesabaran dan pengorbanan tinggi. Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dan ikhlas dalam beramal. Sesungguhnya perintah ini benar-benar suatu ujian yang nyata dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan hamba terhadap perintah-Nya.[7]
3.    Tafsir Ibnu Katsir
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim.(Ash Shaaffat:102) Yakni telah tumbuh menjadi dewasa dan dapat pergi dan berjalan bersama ayahnya.Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim 'alaihis salam setiap waktu pergi menengok anaknya dan ibunya di negeri Faran, lalu melihat keadaan keduanya. Disebutkan pula bahwa untuk sampai ke sana Nabi Ibrahim mengendarai buraq yang cepat larinya, hanya Allah-lah Yang Maha mengetahui.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ata Al-Khurrasani, dan Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, (Ash Shaaffat:102) Maksudnya, telah tumbuh dewasa dan dapat bepergian serta mampu bekerja dan berusaha sebagaimana yang dilakukan ayahnya. Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! " (Ash Shaaffat:102).
Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa mimpi para nabi itu adalah wahyu, kemudian ia membaca firman-Nya: Ibrahim berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" (Ash Shaaffat:102). Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain ibnul Junaid, telah menceritakan kepada kami Abu Abdul Malik Al-Karnadi, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Israil ibnu Yunus, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: Mimpi para nabi itu merupakan wahyu. Hadis ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab Sittah dengan jalur ini.
Dan sesungguhnya Ibrahim memberitahukan mimpinya itu kepada putranya agar putranya tidak terkejut dengan perintah itu, sekaligus untuk menguji kesabaran dan keteguhan serta keyakinannya sejak usia dini terhadap ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan baktinya kepada orang tuanya. Ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintah­kan kepadamu.” (Ash Shaaffat:102). Maksudnya, langsungkanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu untuk menyembelih diriku. insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash Shaaffat:102) Yakni aku akan bersabar dan rela menerimanya demi pahala Allah subhanahu wa ta'ala Dan memang benarlah, Ismail 'alaihis salam selalu menepati apa yang dijanjikannya. Karena itu, dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya: Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang rasul dan nabi.
Dan ia menyuruh ahlinya untuk salat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. (Maryam:54-55).[8]
C.  Implementasi Metode Dialogis dalam Pendidikan
Metode  tanya  jawab  adalah  salah  satu  tehnik  mengajar  yang  dapat membantu  kekurangan-kekurangan  yang  terdapat  pada  metode  ceramah.  Ini disebabkan karena  guru  dapat memperoleh  gambaran sejauh mana peserta didik dapat  mengerti  dan  dapat  mengungkapkan  apa  yang  telah  diceramahkan  (Said, 1981: 240).
Dalam  kegiatan belajar  mengajar melalui tanya  jawab,  guru memberikan pertanyaan-pertanyaan  atau  peserta  didik  diberikan  kesempatan  untuk  bertanya. Pada saat pertengahan atau pada akhir pelajaran. Bila mana metode tanya jawab ini dilakukan secara tepat akan dapat meningkatkan perhatian siswa untuk belajar secara aktif (Usman, 2002: 43).
Peserta  didik  yang  biasanya  kurang  mencurahkan  perhatiannya  terhadap pelajaran  yang  diajarkan  melalui  metode  ceramah  akan  berhati-hati  terhadap pelajaran yang diajarkan melalui metode tanya jawab. Sebab peserta didik tersebut sewaktu-waktu  akan  mendapat  giliran  untuk  menjawab  suatu  pertanyaan  yang akan diajukan kepadanya. Meteode  tanya  jawab  ini  tidak  dapat  digunakan  sebagai  ukuran  untuk menetapkan  kadar  pengetahuan  setiap  peserta  didik  dalam  suatu  kelas,  karena metode ini tidak memberi kesempatan yang sama pada setiap peserta didik  untuk menjawab  pertannyaan.  Metode  tanya  jawab  dapat  dipakai  oleh  guru  untuk menetapkan perkiraan secara umum apakah peserta  didik yang mendapat giliran pertanyaan sudah memahami bahan pelajaran yang diberikan.
Beberapa alternatif dapat terjadi dalam metode tanya jawab yaitu:

1.    Segi kecepatan menuangkan bahan pelajaran
Dalam  hal  menerangkan  bahan-bahan  pelajaran  pada  peserta  didik penggunaan  metode  tanya  jawab  lebih  lamban  apabila  dibandingkan  dengan metode ceramah. Akan tetapi metode tanya jawab dari segi kepastian lebih tajam, karena guru memberikan pertanyaan untuk suatu jawaban tertentu, dan guru dapat mengetahui  dengan  segera  apakah  peserta  didiknya  mengerti  atau  tidak.  Kalau terjadi  yang  demikian  maka  guru  dapat  segera  menjelaskan  kembali  segi-segi yang belum jelas itu.
2.      Dapat terjadi penyimpangan dari pokok persoalan
Guru  dalam  melaksanakan  tanya  jawab  lebih  besar  kemungkinan menyimpang  dari pokok-pokok persoalan.  Hal ini dapat terjadi bila peserta  didik memberikan  jawaban,  lalu  berbalik  mengajukan  pertanyaan  yang  menimbulkan masalah-masalah baru di luar yang sedang dibicarakan.
3.      Dapat terjadi perbedaan pendapat antara peserta didik dan guru
Dalam  metode  ceramah  biasanya  guru  sulit  mengetahui  apakan  peserta didik menyetujui atau tidak isi ceramah yang diberikan kecuali kalau dibuka tanya jawab. Dengan adanya tanya jawab kemungkinan jawaban peserta  didik berbeda dengan  yang  diingini  guru.  Apabila  guru  menyatakan  salah  terhadap  jawaban peserta  didik  maka  peserta  didik  yang  berani  cenderung  mempertahankan jawabannya, apalagi peserta didik yang bersangkutan sanggup mengajukan bahwa pertanyaan itu mempunyai banyak kemungkinan jawaban. Disinilah akan timbul perbedaan pendapat anatara guru dan peserta didik.
Metode tanya jawab juga banyak dipakai pada pendidikan Agama dalam hubungannya dengan bahan atau materi pelajaran agama, yang meliputi Aqidah, Syari‟ah dan Akhlak. Bahkan ketiga inti ajaran Islam tersbut disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad denagn melalui tanya jawab. Demikian pula pada waktu keangkatan Mu‟adz bin Jabal untuk menjabat hakim di negeri Yaman, melalui  beberapa tanya jawab yang diajukan oleh Rasulullah, sekaligus merupakan contoh pemakaian metode tanya jawab dalam pendidikan ( Zuharini dkk, 1983: 87-88).[9]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pembelajaran  efektif  terjadi  saat  ada  interaksi  antara  guru  dan  peserta
didik,  guru  bertanya  peserta  didik  menjawab  atau  sebaliknya.  Maka  guru
dapat menilai pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Guru
dapat menyiapkan pertanyaan-pertanyaan sebelum pembelajaran dimulai, dari
yang  mudah  hingga  yang  sulit.  Guru  tidak  boleh  menyalahkan  jawaban
peserta  didik,  namun  menghargainya  dengan  ucapan  yang  baik:  “pendapat
yang bagus, tapi ada jawaban yang lebih tepat dari ini.” Guru juga tidak boleh
emosi  saat  para  peserta  didik  bertanya  atau  berbeda  pendapat  dengannya.
Guru harus bisa tenang dan menjawab sesuai pengetahuannya, ia harus jujur
jika  belum  mengetahui  jawabannya.  Ini  akan  berdampak  lebih  positif  bagi peserta  didik,  karena  ia  menunjukkan  bahwa  guru  bukan  orang  tahu segalanya. Guru profesional bukan berarti bahwa guru bisa menjawab setiap
pertanyaan para peserta didik.








DAFTAR PUSTAKA
Bisri Mustafa, Tafsir Al-Ibriz Lima‟rifati Tafsir Al-Quran Al-Aziz,  Menara Kudus.
Rizqa, Fatichurriza, 2017, Metode Pendidikan Islam dalam Surat Ash-Shaffat Ayat 102, (Salatiga, IAIN Salatiga,)
https://risalahmuslim.id/quran/ash-shaffaat/37-102/ (diakses tanggal 23 November 2018. 13.56)
https://tafsir.learn-quran.co/id (diakses tanggal 23 November 2018. 13.54)
Huda, Miftahul, 2008,  Muhammad  Idris,  Nalar  Pendidikan  Anak, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,)
Quraisy  Syihab, 2002,  Tafsir  Al-Misbah  Pesan  dan  Keserasian  Al-Qur‟an, Lentera  Hati, Jakarta.
Sahirman, 2013, Strategi Keberhasilan Nabi Ibrahim Bagi Pendidikan Anak dan Relevansinya dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta,).









DAFTAR RIWAYAT HIDUP








1)   Nama                                  : M. Alik Thoifur
2)   Tempat Tanggal Lahir        : Pemalang, 21 Januari 1997
3)   Alamat                                : Dsn. Rejomulya RT/RW : 16/04 Ds. Tundagan,                                                Kec. Watukumpul Kab. Pemalang
4)   Riwayat Pendidikan
a.    MI Minhajutthullab Tundagan
b.    MTs Minhajutthullab Tundagan
c.    SMK Tarbiyatunnasyiin Jombang
5)   Motto                     : Hidup harus bisa seperti PAKU


[1]Fatichurriza Rizqa, Metode Pendidikan Islam dalam Surat Ash-Shaffat Ayat 102, (Salatiga, IAIN Salatiga, 2017), hlm, 60-63
[2] Miftahul  Huda,  Muhammad  Idris,  Nalar  Pendidikan  Anak, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), hlm. 154.
[3] Quraisy  Syihab,  Tafsir  Al-Misbah  Pesan  dan  Keserasian  Al-Qur‟an, Lentera  Hati, Jakarta, 2002, hlm. 62-63
[4] Bisri Mustafa, Tafsir Al-Ibriz Lima‟rifati Tafsir Al-Quran Al-Aziz,  Menara Kudus,  hlm. 1587
[5] Quraisy Syihab, Op. Cit, hlm. 63.
[6] Sahirman, Strategi Keberhasilan Nabi Ibrahim Bagi Pendidikan Anak dan Relevansinya dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2013), hlm, 9-10.
[7] https://tafsir.learn-quran.co/id (diakses tanggal 23 November 2018. 13.54)
[8] https://risalahmuslim.id/quran/ash-shaffaat/37-102/ (diakses tanggal 23 November 2018. 13.56)
[9] Fatichurriza Rizqa, hal, 63-69


Tidak ada komentar:

Posting Komentar