Laman

new post

zzz

Sabtu, 07 Juli 2012

M. Ghufron Dimyati : "Membaca dan Menulis: Dua Kunci Pintu Peradaban"

Membaca bisa jadi hal yang paling membosankan bagi sebagian orang. Namun tidak bagi mereka yang butuh sebagaimana tubuh kita butuh makan dalam setiap harinya. Dengan membaca terbukalah cakrawala kehidupan dan terungkaplah tabir kegelapan karena ketidaktahuannya.
Dalam konsep Al-Qur'an, membaca tidaklah hal yang kosong tanpa arah dan tujuan, Al-Qur'an memberikan mandat sekaligus bimbingan bahwa kita diperintahkan untuk membuka tabir kehidupan ini dengan "membaca" yang terintegrasi dengan nilai-nilai spiritual yaitu "atas nama (pertolongan) Tuhan" (QS. Al-'Alaq: 1). Dengan demikian proses aktivitas "membaca" pun tidak lepas dari ibadah dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemaslahatan kehidupan umat manusia.
Al-Qur'an pun memberikan rekomendasi kepada orang-orang beriman agar proses "membaca" tidak cukup secara tekstual tapi juga kontekstual, tidak hanya lahiriyahnya saja tapi juga batiniyahnya, tidak puas dengan tersurat tapi juga yang tersirat, ...

Selasa, 29 Mei 2012

Dewi Zulaikha: “ Mendidik Pemuda Pemudi Yang Bersolidaritas Tinggi dan Cinta Terhadap Sesama ”


Cinta terhadap sesame tiada lain halnya dengan solidaritas, namun cinta dalam hal ini bukan berarti cinta- cintaan dalam tanda ( “) melainkan rasa peduli kita ingin member, mengasihi, menyayangi dan bisa berbagi terhadap sesame muslim khususnya karena kita orang muslim dan pada orang umum yang membutuhkan. Karena hal ini tidak dianjurkan harus menggunakan materi.tetapi bisa tenaga, dan pikiran kita apabila kita Cuma bisa membantu dengan tenaga saja kenapa tidak, tetapi apabila semuanya yaitu tenaga, pikiran dan materi akan jauh lebih baik.
 
Seperti ada dalam hadits dimana cinta terhadap sesame itu sangat dianjurkan, kemudian beliau membacakan hadits tersebut, yaitu:

عن آبى حَمْزَةَأنس بَنِ ماَلِكِ رَضى اللّه عنهُ خاَ دَ مِ رَسُوْ اللّه صلىّ اللّه عَيه وسم عب انبىّ اللّه صلىّ اللّه عَيه قل لاَيُوْ مِنُ أَحَدُ عُمُ حَتَّى لاْخِيْ ماَ يُمِنُ لِفْنِه رِوه الحارءوسلم

Dari Abi Hamyah Anas bin Malik r.a. pelayan rasulullah saw bersabda “ tidak sempurna iman seseorang diantaramu apabila tidak mencintai saudaranya ( sesame muslim ) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri ” Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim

Beliau mengatakan bahwa pentingnya rasa cinta dan solid terhadap sesame karena berhubungan dengan iman.iman itu ternyata tidak hanya bisa dilihat dari ibadah mahdohnya saja namun bisa dilihat dari ibadah ghoiru mahdhohnya juga. Diakhir pengajian beliau menekankan bahwa diharapkan remaja sekarang ini khususnya rekan dan rekanita dari IPNU/ IPPNU yang notabanenya organisasi islam lebih meningkatkan rasa social mereka apabila ingin imannnya tetap sempurna. Disamping melakukan kewajibannya terhadap Allah SWT, juga tidak boleh ketinggalan kewajiban mereka terhadap sesama.
Kalau tidak sekarang kapan lagi??? Belum terlambat untuk jadi lebih baik.
Pesan dari bapak kyai

ANALISA ISI PENGAJIAN    

Isi pengajian tersebut apabila dianalisas sangat mengandung nilai- nilai tarbawi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan. Seperti yang disampaikan oleh bapak K.H.Zainal Arifin, bahwa betapa parahnya remaja sekarang ini yang mana rasa social mereka sudah terkikis akibat globalisasi yang tidak bisa mereka olah dengan cerdas.
Dari hadits yang disampaikan yaitu:

عن آبى حَمْزَةَأنس بَنِ ماَلِكِ رَضى اللّه عنهُ خاَ دَ مِ رَسُوْ اللّه صلىّ اللّه عَيه وسم عب انبىّ اللّه صلىّ اللّه عَيه قل لاَيُوْ مِنُ أَحَدُ عُمُ حَتَّى لاْخِيْ ماَ يُمِنُ لِفْنِه رِوه الحارءوسلم

Sudah sangat jelas bahwa cinta terhadap sesame itu ada kaitanyya dengan kesempurnaan iman dari seseorang. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa, apabila kita mengabaikan hal ini bisa dirujuk berdasarkan hadits, sudah gugur satu proses dalam rangka menyempurnakan iman.
Selain itu nilai tarbawi dari apa yang telah disampaikan adalah pesan beliau yaitu sejenak bisa menggugah kesadaran kita bahwa selama ini hal yang kita anggap sepele ternyata malah sangat berguna baik dalam kehidupan didunia maupun diakhirat nanti. Pesan yang lain ialah motifasi dalam semangat dari beliau yang ditujukan kepada para remaja untuk berubah menjadi lebih baik.

                                                         PENUTUP

   Allah ta’ala berfirman :” Sesungguhnya orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal –amal soleh , mereka diberi petunjuk oleh tuhannya karena keimananya , di bawah mereka mengalir sungai –sungai didalam surga yang penuh kenikmatan . Doa mereka didalamnya ialah “ Subhanakallahumma ( maha suci engkau wahai allah ) Dan salam penghormatan mereka ialah “ assalam ( sejahtera dari segala  bencana ) Dan penutup Doa mereka ialah “ Alhamdullilahirobil’alamin “ ( Segala puji bagi tuhan semesta alam ) .
( Q.S Yunus 9- 10 )

  Segala puji bagi Allah yang telah member petunjuk kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini, dan kami tidak akan mendapatkan petunjuk seandainya allah tidak memberikan petunjuk kepada kami wahai allah limpahkan rahmat kepada nabi Muhammad yang hambamu dan utusanmu, nabi yang ummi: serta limpahkanlah kepada keluarga, istri- istri dan anak cucu Muhammad sebagaimana engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim. Limpahkanlah barokah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Di alam semesta ini sesungguhnya engkaulah dzat terpuji lagi maha agung.Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam
Demikianlah tugas UTS dari kami yang telah kami selesaikan. Kami yakin masih banyak kekurangan disana sini, baik materi maupun teknis penulisan. Untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan.
Akhirnya kami mohon maaf yang sebesar- besarnya dan berharap semua tulisan ini bisa bermanfaat. Amien.

Dewi Zulaikha
2021110330


A.    NAMA MAJELIS TA’LIM     : IPNU / IPPNU PAC BANYU PUTIH
B.     HARI / TANGGAL                   : Jumat, 27 April 2012
C.    WAKTU                                     : Pukul 19.00 WIB s/d selesai
D.  Pembicara                                  :  K.H.Zainal Arifin dari Tembok Limpung.
E.    ALAMAT                                   : Ds. Banyuputih Kec. Banyuputih Kab.batang
F.     TEMA PENGAJIAN
“ Mendidik Pemuda Pemudi Yang Bersolidaritas Tinggi dan Cinta Terhadap Sesama ”






Khotimatul Khusna : Keistimewaan Orang yang Menuntut Ilmu

Keistimewaan Orang yang Menuntut Ilmu
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا لِىَ الْعِلْمِ سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا اِلَى الْجَنَّةِ وَاَنّ الْعَالِم يَسْتَخْفِرْ لَهُ مَنْ غى السَّمَوَا تِ وَمَنْ فِيْ فِ اْلاَ رْضِ حَتَّى الْحِيْتَا نِ فِيْ الْبَحْرِاِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَتُ اْلآَنْبِيَاء
Artinya:
            “Siapa yang menempuh jalan menuju ilmu pengetahuan , pasti Allah menyalurkan jalan menuju surga, sesungguhnya para penghuni langi tdan bumi serta ikan-ikan dilautan, semua beristighfar memohon ampun bagi orang alim, sebab para ulama adalah pewaris para Nabi” (H.R. Abu Hurairah)
Maksud dari hadits diatas yaitu orang yang mau mencari ilmu maka Allah akan menunjukan jalan menuju surga dan semua yang ada dibumi dan dilangit seperti para malaikat akan memintakan ampunan bagi para ulama atau pewaris Nabi.

ANALISA
Seseorang yang menuntut ilmu lalu mengamalkan ilmu yang ia punya, Maka Allah akan memberikan pahala 70 Nabi dan itu lebih bagus dibandingkan dengan sholat 1000 raka’at, dan orang yang  menuntut ilmu dengan memperhatikan firman Allah kemudian disajikan didalam majlis kemudian melaksanakan ilmu tersebut maka Allah akan menjamin enam perkara kepadanya yaitu:
1.Allah akan memberikan rizki yang halal
2. Allah akan memberikan bebas siksa dari kubur
3.Orang tersebut akan menerima buku catatan amal perbuatannya semasa didunia dengan tangan kanan
4.Akan dimudahkan saat melewati shirathalmustaqim bagaikan kilat yang menyambar
5.Akan berkumpul dengan para Nabi-Nabi
6.Akan dibangunkan sebuah gedung disurga dari mutiara yang indah dengan 40 buah pintu-pintu.
Ilmu itu lebih utama dari pada amal, diantara kelebihan dari ilmu yaitu:
1.Ilmu sekalipun tanpa diamalkan, ia tetap utuh keadaannya, tetapi sebaliknya amal tidak akan terwujud dengan meninggalkan ilmu
2.Ilmu sekalipun tidak diamalkan, ia akan bermanfaat bagi pemiliknya,tetapi sebaliknya amal tidak bakal berguna dengan meninggalkan ilmu
3.Amal bersifat pasif sedangkan lmu bersifat aktif karena ilmu akan menyinari lingkungan sekitarnya seperti pelita
4.Ilmu adalah para maqam Nabi
5.Ilmuadalahsifat Allah, tetapi amal hanya sifat manusia padahal kita tahu bahwa sifat Allah lebih unggul dari pada sifat manusia.
Ilmu itu mengungguli amal, sebab dengan adanya ilmu sekalipun amal tersebut sedikit akan diperoleh manfaatnya, tetapi tanpa ilmu sekalipun amal itu banyak tiada manfaatnya maka nilai ilmu itu lebih berharga daripada amal ibadah dan sudah menjadi ketentuan wajib bagi orang yang beramal dan beribadah disertai dengan ilmunya, pelanggaran ketentuan tersebut berakibat sia-sia amal ibadahnya bagai debu yang berhamburan yang ditiupangin.
Keutamaan dan kemuliaan yang dicapai didunia ataupun diakhirat itu harus diperjuangkan bersama ilmu.Dan seseorang yang alim itu lebih besar keutamaannya dari pada 1000 pejuang yang mati syahid.
Agar terpelihara ilmunya,maka seorang yang alim harus memelihara lima perkara secara istiqamah yaitu:
1.Melaksanakan sholat sunah malam, sekalipun hanya 2 rakaat
2.Selalu suci dari hadats karena memiliki wudhu
3.Selalu bertaqwa kepada Allah walaupun berada ditempat sepi atau keramaian
4.Makan dengan tujuan taqwa kepada Allah, bukan melampiaskan nafsu(begitu pula ketika bersetubuh, suami istri)
5.Bersiwak atau gosok gigi setelah bangun tidur, setelah makan, ketika hendak sholat dan ketika mau membaca al-qur’an.

Nama   : Khotimatul Khusna
NIM    : 2021110068
Kelas   : B


NamaMajlisTa’lim    :Majlis Al-Ma’sumi
Pengasuh/Pembicara            :K.H.Yasin
Hari/Tanggal            :Kamis/3 Mei 2012
Waktu                        :18.15-19.00WIB
Alamat                        :Kemasan,Bojong,Pekalongan
Sumber/Kitab           :Durotun nasihin
Tema                         :Keistimewaan Orang yang MenuntutIlmu

                                                                                    Pekalongan,3 Mei 2012
                                                            Mengetahui

            Saksi                                                                                        Saksi


Siti maskanah                                                                     Dewi fantihana


Minggu, 20 Mei 2012

M. Farid Ash Shiddieqi : "Etika Mencari Ilmu"


      Adab - adab yang harus diperhatikan oleh seorang muslim ketika dalam mencari atau menuntut ilmu sebagaimana yang telah diterangkan dalam Kitab Tanbihul Muta’alim, adalah sebagai berikut :
1.      Tata Krama sebelum belajar, antara lain :
a.       Bersuci.
b.      Berpakaian bersih dan suci.
c.       Memakai wewangian.
d.      Di sunnahkan bersiwak.
e.       Berkonsentrasi dan mempersiapkan peralatan tulis.
2.   Tata Krama di dalam sekolah, antara lain :
a.       Duduk tenang, memperhatikan materi pelajaran, menumbuhkan rasa hormat terhadap guru. Tempat duduk harus menetap, menghadap ke guru dan kalau bisa menghadap kiblat.
b.      Memulai dan mengakhiri kegiatan belajar mengajar, dengan berdo’a :
a)      Basmalah.
b)      Hamdalah.
c)      ShalawatNabi.
c.       Memperhatikan terhadap guru, berfikirapa yang guru sampaikan.
3.   Tata Krama setelah selesai KBM, antara lain :
1)      Muroja’ah, yaitu :mempelajari kembali keterangan guru yang diajarkan di kelas.
2)      Saat mau masuk kembali, maka buku tersebut di buka dan  dipelajari kembali.
4.   Tata Krama saat belajar, antara lain :
a.       Orang yang mencari Ilmu, hendaknya berbudi pekerti yang baik, agar dinaikkan derajatnya, karena orang yang mencari Ilmu Syara’ adalah benar-benar menyibukkan dirinya dalam mencari Ilmu Dunia dan Agama.
b.      Seorang pelajarharus Halal makanan dan pakaian, serta alat-alat pembelajarannya, untuk menjadikan sebab bersihan hati, karena hati sebagai tempat ilmu.
8.)    Analisa Isi Pengajian:
Setiap manusia itu memiliki kewajiban untuk mencari ilmu dan mengajarkannya untuk menghadapi suatu keadaan yang harus dihadapi. Orang Islam berkewajibanshalat, maka ia berkewajiban menunut ilmu tentang shalat dalam batas pelaksanaan fardhu, pula pengetahuan yang mendukung hal – hal yang wajib, karena sesuatu yang mengantarkan kewajiban itu menjadi berhukum wajib. Dalam kefardhuan puasa dan zakat ketika seseorang berharta ( yang berkewajiban zakat ) pula berhaji apabila merupakan hal yang wajib. Damn masalah jual – beli ketika seseorang hendak berdagang.
Demikian pula dalam urusan hubungan ( berkehidupan sesama manusia ) dan profesi seseorang. Orang yang terlibat dalam gal ini diharuskan berpengetahuan menjaga dari terjatuh kepada keharaman. Pula berkewajiban mengetahui urusan perilaku hati, yaitu tentang tawakal, kembali kepada Allah, takut ( terhadap siksaan Allah ) dan sikap ridha ( berlapang dada terhadap aturan dan kepastian Allah ), dimana perilaku hati selalu eksis setiap saat, keadaan dan kondisi.
Tidak disangsikan bahwa ilmu pengetahuan berpredikat mulia karena ilmu sebagai barometer kemanusiaan, yakni tidak ada perbedaan perilaku antara manusia dan hewan di luarsisi keilmuan, seperti sikap berani, sikap nekat, unjuk kekuatan, bermurah hati, berkasih sayang. Allah Ta’ala manampilkan kelebihan dari Nabi Adam AS di hadapan Para Malaikat dan Mereka diperintahkan untuk bersujud kepada beliau adalah karena sisi keilmuan. Dimana faktor kemuliaan ilmu adalah sebagai sarana bertaqwa kepada Allah SWT dan keberuntungan abadi di negeri akhirat.

            Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw, sebagai berikut :
عَنْ اَنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَاَلَ : قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ﴿رواه الطبرانى
Artinya :         
            “ Dari Anas ra. berkata : Rasulullah saw, bersabda : Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim “.(HR. Ath-Thabrani)
Tidaklah yang dimaksud itu bahwa setiap muslim diwajibkan menuntut semua ilmu, tetapi ilmu yang wajib dituntut adalah ilmu perihal sikap perilaku ( ‘Ilmul – haal ), sebagaimana dinyatakan : “ Ilmu yang paling utama adalah ilmul haal ( ilmu untuk mengatur sikap perilaku ) dan amal perbuatan yang paling utama adalah menjaga sikap perilaku “.
عَنْ مُعَاوِيَة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ يُرِدِ الله خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ﴿ متفق عليه﴾
Artinya :
            Dari Mu’awiyahra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa dikehendaki oleh Allah menjadi baik, maka Allah akanmemberikan kefahaman (ilmu) masalah agama. (HR. Bukharidan Muslim)
Orang yang sedang menuntut Ilmu, maka akan memperoleh berkah dari Allah, karena Allah dan para Malaikat-Nya akan selalu menyertaiperjalanan orang yang menuntut ilmu.
            Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw, sebagai berikut :
            Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ الله لَهُ طَرِيْقًا فِى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang berjalan mencari Ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
            Diriwayatkan dari Anas ra, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda :
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمَ فَهُوَ فِي سَبِيْلِ الله حَتَّى يَرْجِع
“Barangsiapa yang keluar untuk mencari Ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.”
1.      Tata Krama sebelum belajar, antara lain :
a.       Bersuci.
Mendahulukan pensucian hati dari kekotoran akhlak dan tercelanya sifat, karena mencari ilmu adalah suatu ibadah hati. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW bersabda : “ Agama itu dibangun atas dasar ( nilai – nilai ) kebersihan “.

b.      Berpakaianbersihdansuci.
Kebersihan yang dimaksud tidak hanya terbatas pada kebersihanpakaian semata, tetapi juga mencakup kebersihan hati. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah QS. At – Taubah : 28 yang artinya : “ Sesungguhnya orang – orang musyrik itu najis ( kotor jwa ) “. Ayat ini menjelaskan bahwa sifat najis tidak hanya melekat pada pakaian saja. Jadi barangsiapa yang tidak menyucikan hatinya dari kotoran – kotoran jiwa, maka tidak akan mendapat ilmu agama yang bermanfaat dan pantulan cahaya ilmu.
Ibnu Mas’ud berkata, “ Yang dimaksud ilmu itu bukan dikarenakan banyaknya riwayat, sebab ilmu adalah cahaya yang ditiupkan Allah kedalam hati ”.
c.       Memakai wewangian.
d.      Di sunnahkan bersiwak.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda : Bersuci itu ada 4 macam : yaitu menggunting kunis, mencukur rambut kemaluan, menggunting kuku, dan bersiwak ( HR. Al – Bazzar dan Thabarani dari Abi Darda ). Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk membersihkan sisa makanan dari sela – sela gigi, Nabi SAW mendo’akan mereka agar mendapat rahmat karena mereka berhati – hati dalam beribadah.
e.       Berkonsentrasi dan mempersiapkan peralatan tulis.
Penuntut ilmu hendaklah selalu beruntung dengan suatu manfaat setiap waktu untuk meraih keutamaan dan kesempurnaan ilmu dengan cara selalu siap dengan alat tulis untuk mencatat setiap nilai keilmuan yang didengar dari seorang guru.Dalam menulis di buku tulis hendaklah mengosongkan bagian pinggir ( margin ), dan selalu siap dengan alat tulis untuk menulis hikmah yang didengar.

2.      Tata Krama di dalam sekolah, antara lain :
a.       Duduk tenang, memperhatikan materi pelajaran, menumbuhkan rasa hormat terhadap guru. Tempat duduk harus menetap, menghadap ke guru dankalau bisa menghadap kiblat.
Perlu diketahui, untuk didapatkan ilmu yang bermanfaat haruslah mengagungkan ilmu dan penyandangnya, mengagungkan dan menghormati guru. Seoarng ulama’ berkata : “ Seseorang berilmu yang bermanfaat pastilah ia menghormati dan mengagungkan guru (pula ilmu dan orang berilmu) dan seseorang yang gagal dalam berilmu manfaat pastilah ia meninggalkan sikap perilaku menghormati dan mengagungkan guru “.
Termasuk menghormati guru adalah tidak berjalan di depan guru, tidak duduk di tempat duduk guru, tidak mendahului bicara kecuali diijinkan, tidak banyak bicara di hadapan guru, tidak bertanya sesuatu dalanm keadaan lelah ( tenaga atau pikiran ), mencari waktu yang memungkinkan dan tidak mengetok pintu, tetapi bersabar menunggu guru keluar. Walhasil pelajar dituntut mencari kelonggaran hati guru dan tidak membuat kemarahan guru, pula melaksanakan perintah guru dalam catatan tidak berupa kemaksiatan, karena tidaklah diperbolehkan mematuhi makhluk dalam bentuk pendurhakaan kepada Allah SWT. Termasuk menghormati guru juga diantaranya menghormati putra – putri guru dan orang – orang yang dalam persambungan dengan guru.

b.      Memulai dan mengakhiri kegiatan belajar mengajar, dengan berdo’a :
a)      Di awali dengan membaca Basmalah dan berdo’a, sebagai berikut :
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴿طه : ١١٤﴾
Artinya :
Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
(QS. Thahaa :114)
b)      Dan diakhiri dengan membaca Hamdalah, serta Shalawat Nabi.
c.       Memperhatikan terhadap guru, berfikirapa yang guru sampaikan.
            Dengan memperhatikan setiap perkataan dari guru, maka diharapkan ilmu yang disampaikan oleh guru dalam dipahami dan dihayati. Karena guru adalah sebagai tempat untuk menimba ilmu.
            Penuntut ilmu hendaklah selalu beruntung dengan suatu manfaat setiap waktu untuk meraih keutamaan dan kesempurnaan ilmu dengan cara selalu siap dengan alat tulis untuk mencatat setiap nilai keilmuan yang didengar dari seorang guru. Sebagimana ada kata mutiara yang berbunyi : “ Mendengar maka akan menghilang dan mencatat maka akan melekat “

3.      Tata Krama setelah selesai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), antara lain :
a.       Muroja’ah, yaitu :mempelajari kembali keterangan guru yang diajarkan di kelas.
Pelajar hendaklah selalu bersama kirab ( buku ) di setiap keadaan terutama di kelas untuk ditelaah. Dinyatakan: Orang yang tidak bersama buku maka hikmah tidak bersemayam di dalam hatinya. Dalam menulis di buku tulis hendaklah mengosongkan bagian pinggir ( margin ), dan selalu siap dengan alat tulis untuk menulis hikmah yang didengar.
b.      Saat mau masuk kembali, maka buku tersebut di buka dan dipelajari kembali.
            Mempelajari kembali semua ilmu yang telah disampaikan oleh guru merupakan perkara yang Ma’ruf, karena hal yang demikian akan dapatmembuka segala memori ingatan kita terutama ilmu yang telah disampaikan pada hari yang lalu.
            Membuka ingatan tentang Ilmu, akan memudahkan kita dalam memahami Ilmu yang selanjutnya, karena runtutan dari ilmu tersebut akan terlihatjelas dalam ingatan kita.
            Sebagaimana dalam firman Allah, QS.Az-Zumar : 9, sebagai berikut :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ﴿الزمار : ٩﴾
Artinya :
            Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Ilmu Pengetahuan).)QS. Az-Zumar : 9(
4.      Tata Krama saat belajar, antara lain :
a.       Orang yang mencariIlmu, hendaknya berbudi pekerti yang baik, agar dinaikkan derajatnya, karena orang yang mencari Ilmu Syara’ adalah benar-benarmenyibukkan dirinya dalam mencari Ilmu Dunia dan Agama.
            Sebagaimana dalam firman Allah, QS.Al-Mujadiilah : 11, sebagaiberikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴿المجادله : ١١﴾
Artinya :         
            “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan member kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara mudan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetah uiapa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujadiilah : 11)



            Sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw, sebagai berikut :
مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِهِ
﴿رواه البخارى﴾
            Artinya :
            “Barangsiapa menghendaki dunia, maka hendaknya dia berilmu, barangsiapa menghendaki akhirat, maka hendaknya dia berilmu danbarangsiapa menghendaki keduanya, maka hendaklah dia berilmu pula”.(HR. Bukhari)
Orang berilmu hendaklah berkarakter kasih sayang, gemar melakukan kebaikan dan tidak menyimpan rasa iri hati, dimana iri hati itu berbahaya dan tidak berguna. Penuntut ilmu hendaklah tidak berbantah atau bersaing, karena demikian akan menghabiskan waktu secara percuma. Syaikh Muhammad bin Abu Bakar membaca syair dari Syaikh Yusuf Al – Hamadani : “ Biarkan orang dengan perilaku buruknya, jangan dibalas. Keburukan yang dilakukan yang akan menimpanya “
b.      Seorang pelajar harus halal dalam makanan dan pakaian, serta alat-alat pembelajarannya, untuk menjadikans ebab bersihnya hati, karena hati sebagaitempat ilmu.
            Manusia dituntut untuk makan makanan yang Halalan Thoyyiban dan menjauhi yang Haram, karena sesuatu yang Halal adalah syaratmudahnya memahami Ilmu.
              Sebagaimana dalam firman Allah, QS. Al-Baqoroh : 172, sebagai berikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴿البقرة : ١٧٢﴾
Artinya :
     “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik (Halal) yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh : 172)
     Penuntut ilmu hendaklah tidak makan makanan pasar bila memungkinkan kerena makanan pasar lebih dekat dengan najis dan kotor, lebih jauh dari dzikir kepada Allah SWT dan lebih dekat dengan kelalaian, pula karena sering dilihat orang – orang melarat yang tidak mampu membeli makamereka sakit hati ( oleh keinginan yang tidak tersalurkan ), demikian dapat menghilangkan nilai barakah.

Nama          :  M. Farid Ash Shiddieqi
Kelas          : G
Nim            :  2021110306
  • Nama Majlis Ta’lim                  :    Al-Ikhsan
  • Pengasuh/Pembicara                :    Ust. M. Mutawali
  • Hari/Tanggal                             :    2 – 30 April 2012 (kajian mingguan)
  •  Waktu                                        :    19.30 (ba’da Isya’)
  • Alamat                                       :    Pandanarum RT 09 / RW 03 Kec.Tirto Kab. Pekalongan.
  • Tema Pengajian                        :    Kajian KitabTanbihul Muta’alim


Lampiran kolom tanda tangan teman sejawat.


                       Tertanda,                                            Tertanda,

                    (Abdul Hadi)                                       (M. Lendra)

                       Tertanda,                                            Tertanda,

          ( M. Farid Ash-shiddiqie )                     ( Lusiana Mashitoh )

                       Tertanda,                                           Tertanda,

                 ( Anna Irhamna )                                   ( Riskiyah )


Wiwid Prihartanti (C) : "Balasan dan Keutamaan belajar Al-Quran"


1.      Ahad, 1 April 2010
(Hadits tentang larangan memukul wajah)

اِذَا ضَرَبَ اَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبُ الْوَجْهَ . (رواه البخا رى)
“Apabila seseorang diantara kalian memukul, janganlah memukul bagian muka. (HR. Bukhari)

Dalam hadits tersebut, di jelaskan bahwa seorang pendidik boleh memberi hukuman terhadap muridnya, salah satunya boleh memukul. Namun memukul tersebut bukan dengan tujuan untuk menyakiti murid, memukul hanya sebatas pengajaran. Dalam hadits memberikan batasan bahwa kita sebagai pendidik atau calon pendidik dilarang memukul bagian wajah karena wajah adalah bagian terpenting dan terindah bagi manusia. Dalam islam ketika anak telah berusia 7 tahun namun belum mau mengerjakan sholat maka orang tuanya boleh memukul anak sebagai pengajaran. Dalam ilmu pendidikan dijelaskan bahwa hukuman memukul dilakukan pada bagian tubuh yang tidak berbahaya dan jangan sampai mengangkat tangan, dengan kata lain pukulan tersebut tidak boleh keras bahkan sampai membekas.

2.      Ahad, 8 April 2012
(Hadits tentang perintah taqwa)
 مَا اُعْطِى الْسَا ئِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَائِدِ الْكَلاَمِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ . (اخرجه الترمذى)
“ Hai anak adam;Taatlah kepada tuhan mu, maka kamu termasuk orang yang berakal dan janganlah kamu mendurhakainya karena kamu akan dinamai seseorang yang jahil. (HR, Abu naim melalui abu Hurairah ra)
Manusia diciptakan dimuka bumi sebagai kholifah fil ardh yaitu pemimpin di muka bumi, dengan tujuan hanya untuk beribadah kepada Allah swt. Beribadah dalam artian taqwa pada Allah swt. Taqwa adalah taat mematuhi perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Manusia diberikan kelebihan dari makhluk-makhluk lain berupa akal, sehingga segala perbuatan yang akan dilakukan haruslah dengan pertimbangan terlebih dahulu tidak seperti hewan yang hanya menggunakan nafsu dan insting. Dengan akal manusia dapat mempertimbangkan baik buruknya amal perbuatan karena pada saatnya nanti akan di mintai pertanggung jawaban Allah swt atas segala perbuatannya. Sehingga sebagai orang yang berakal manusia harus taat pada Allah swt.

3.      Ahad, 8 April 2012
Tentang balasan orang yang belajar dan mengajarkan Al-quran, Ustadz Drs. HM Chumaidi ZM menyebutkan dalam sebuah hadits qudsi berikut:
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ الْخُدْرِى رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الرُّبُّ عَزَّوَجَلَّ مَنْ سَغَلَهُ الْقُرْاَنُ وَذِكْرِى عَنْ مَسْأَ لَتِى, اَعْطَيْتُهُ اَفْضَلُ مَا اُعْطِى الْسَا ئِلِيْنَ وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ عَلَى سَائِدِ الْكَلاَمِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ . (اخرجه الترمذى)
“Dari Abu Sa’id Al Khudri Ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman , “ Barang siapa yang sibuk membaca Al-quran dan dzikir kepada-Ku dengan tidak memohon kepada-Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta.” Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan, seperti kelebihan Allah atas seluruh makhluk-Nya.” ( Hadits di takhrij oleh Tirmidzi)[1]

Dari hadits diatas memberikan semangat untuk seorang pendidik/guru yang ikhlas dalam mengajarkan ilmu (Al-quran). Kadang sebagai seorang pendidik khawatir mendapatkan upah yang kecil dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Namun Allah swt dalam sebuah hadits qudsi diatas menjanjikan akan memberikan sesuatu yang belum diminta kepada orang-orang yang mau belajar Al-quran dan yang mengajarkannya. Sesuatu yang belum diminta sekalipun akan diberikan bahkan melebihi pemberian pada orang yang meminta pada Allah.
Sehingga sebagai orang mukmin, seorang pendidik harus ikhlas dalam mengajarkan ilmu pada muridnya tanpa mempertimbangkan besar kecilnya materi yang akan didapat, karena balasan Allah lebih baik dari balasan makhlukNya.

4.      Ahad, 22 April 2012
(Hadits tentang belajar dan mengajarkan Al-Quran)
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاَنَ وَعَلَّمَهُ(رواه البخا رى) .
Sebaik-baiknya Manusia adalah yang belajar Al-quran dan  yang mengajarkannya.”(HR. Bukhari)
Dalam pertemuan dan bahasan hadits ini, Ustadz Drs.HM. Chumaidi ZM, menjelaskan bahwa orang islam harus belajar Al-quran atau mengajarkan Al-quran. Orang yang mau belajar dan mengajarkan Al-quran maka hidupnya akan bahagia, tentram, tenang jiwanya dan mendapatkan keberkahan dari Allah swt. Ada sebuah hadits yang menjelaskan kurang lebih “ Barang siapa yang membaca al-quran maka setiap hurufnya itu adalah sepuluh hasanah dan satu hasanah menjadi seratus kebaikan.”
Sehingga kita senantiasa diperintahkan untuk belajar dan mengajarkan Al-quran.

5.      Ahad, 29 April 2012
( Hadits tentang “Lupa adalah bencana ilmu”)

اَفَةُ الْعِلْمِ النَّسْيَانُ, وَاِضَاعَتُهُ اَنْ تُحَدَّثَ بِهِ غَيْرَ اَهْلِهِ.
 (رواه ابن ابى شيبة)

“ Bencana ilmu adalah lupa dan menyia-nyiakannya ialah bila engkau membicarakannya dengan orang yang bukan ahlinya.” (HR. Ibnu Abu Syaibah)

Dari penjelasan hadits ini, pelajaran yang dapat saya tangkap bahwa kita jangan pernah menyia-nyiakan ilmu. Apabila kita belajar sesuatu haruslah pada orang yang professional/ menguasai dalam bidangnya. Karena jikalau kita bertanya suatu ilmu bukan pada orang yang ahli dalam bidangnya maka itu akan menjadi sia-sia belaka karena ilmu yang kita dapat tidak akan sesuai dan mungkin akan jauh dari kebenaran.
Ada sebuah cerita tentang Rasulullah saw suatu hari pernah ditanyai tentang masalah pertanian oleh seorang sahabat, dan beliau hanya menjawab sekedarnya saja. Kemudian suatu hari sahabat tersebut datang lagi menemui Rasulullah saw dan meminta penjelasan kenapa jawaban yang disampaikan tidak sesuai dengan harapan petani, hama bukan hilang malah menjadi banyak. Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa Beliau tidak mengetahui dalam bidang pertanian, seandainya mau bertanya sesuatu maka bertanyalah pada ahlinya maka akan mendapatkan pengetahuan yang benar.
Sehingga untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dan tidak menyia-nyiakan ilmu kita harus belajar dari ahlinya.


 Nama Majlis Ta’lim                 : Pentashih Pengajar Dan Pembimbing Buku Qiroati
Pengasuh / Pembicara             : Drs. H.M. Chumaidi ZM
Hari / Tanggal                         : Ahad / 1 April-22April 2012
Waktu                                     : 06.30-09.00 WIB
Alamat                                    : Jln. Yudha Bakti, Medono, Pekalongan
Tema Pengajian                       : Balasan dan Keutamaan belajar Al-Quran
Sumber/ Kitab                         : Durrotul Ahadits (Mutiara hadits, jilid 2)
                                                  H. Taufiqul Hakim, Bangsri Jepara.

Pekalongan, 1 Mei 2012

Wiwid Prihartanti
2021110062
Kelas C








Validasi:

Nur Maila
2021110087


[1]  Achmad sunarto & samsudin noor. Himpunan Hadits Qudsi. (Jakarta: An-Nur, 2005), Hal.40