TAFSIR TARBAWI
"BERTANYALAH
SUATU MASALAH PADA AHLINYA"
M.Fatchu Minhajul Qowim (2021114025)
Kelas : H
JURUSAN TARBIYAH
PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2016
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah S.W.T. atas segala
nikmat dan karunia-Nya, makalah yang berjudul “ Manusia Dikesenangi Hidup
Duniawi’ Serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad Saw.
Makalah ini membahas tentang arti atau terjemahan ayat dan
penafsiran ayat dari Q.S. An – Nahl ayat 43
Penulis telah berupaya menyajikan makalah ini dengan
sebaik-baiknya, meskipun tidak komprehensif. Disamping itu apabila dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dalam pengetikan maupun
isinya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang
membangun dari pembaca guna penyempurnaan penulisan berikutnya.
Akhir kata, semoga makalah yang sederhana ini bisa menambah
khasanah keilmuan dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Pekalongan, Maret 2016
Penulis
A.
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan melalui
malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai pedoman bagi kehidupan
manusia (way of life). Al-Qur’an mengandung beberapa aspek yang terkait dengan
pandangan hidup yang dapat membawa manusia ke jalan yang benar dan menuju
kepada kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dari beberapa aspek tersebut,
secara global terkandung materi tentang kegiatan belajar-mengajar atau pendidikan yang tentunya membutuhkan
komponen-komponen pendidikan, diantaranya yaitu pendidik dan peserta didik.
Pendidik dalam proses pendidikan adalah salah satu
faktor yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Selain
pendidik, peserta didik juga mempunyai peran penting dalam proses pendidikan,
tanpa adanya peserta didik maka pendidik tidak akan bisa menyalurkan pengetahuan yang dimilikinya sehingga proses pembelajaran tidak
akan terjadi dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan.antara pendidik dan peserta didik harus sejalan agar tujuan pendidikan
dapat tercapai.
Inti
hadist
Pertama
pada lafadz “waamaarsalna” artinya dan tidaklah kami, maksudnya adalah
bahwa Allah itu mengutus sebelum engkau melainkan orang laki-laki yang kami
beri wahyu kepada mereka agar mentauhidkan aku dan melaksanakan perintahku,
kecuali mereka itu adalah laki laki dari bani adam yang kami wahyukan kepada
mereka, bukan para malaikat, sebab mereka itu semuanya adalah manusia, orang
laki laki yang tidak lepas daripada suka dan duka. Maka disuruhlah nabi s.a.w menyampaikan kepada orang orang itu : “maka
bertanyalah kepada ahli – ahli yang telah yang telah mempunyai peringatan, jika
kamu belum mengetahui.”
B.
PEMBAHASAN
Tafsir Q.S. An-Nahl
ayat 43-44
“ Dan tidaklah kami mengutus sebelum engkau
melainkan orang laki laki yang kami beri wahyu kepada mereka.” (pangkal
ayat 43). Hal ini diperingatkan kembali pada beliau, rosul Allah bahwa itu, dan
isi pengajaranya pun sama. Bahkan nasib pertetnagna pun kebanyakan bersamaan.
Sebab mereka itu semuanya adalah manusia, orang orang laki laki yang tidak
lepas daripada suka dan duka. Maka suruhlah nabi muhammad menyampaiakan kepada
orang orang itu : “maka
bertanyalah kepada ahli ahli yang telah mempunyai peringatan, jika kamu belum
mengetahui.”(ujung ayat 43)[1]
Nabi nabi dan rosul rosul itu di utus tuhan :” dengan penjelasan-penjelasan
dan kitab-kitab.”(pangkal ayat 44). Penjelasan, yaitu keterangan keterangan
dan alasan alasan untuk menguatkan pendirian bahwa alah ta’ala itu ada dan
tunggal, tidak berserikat dengan yang lain.
“Dan kami turunkan kepada engkau peringatan.”- yaitu al qur’an –“supaya
engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka .” dengan
ayat ini teranglah bahwa nabi muhammad saw menyampaikan peringatan (Al-Qur’an)
bukanlah kewajiban yang baru sekarang melainkan sambungan mata rantai saja dari
rencana tuhan membimbing dan memberi petunjuk umat manusia yang telah dimulai
sejak adam sampai kepada berpuluh rosul sesudahnya , sampai kepada muhammad
saw: “mudah mudahan mereka akan berfikir.” (ujung ayat 44) sebab maksud
al quran itu memang yang utama sekali yang mengajak orang berfikir orang
tentang dirinya, tentang hidupnya , tentang tuhanya, dan hubungannya dengan
tuhan itu.[2]
1. Pengertian
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia itu tidak boleh sombong dengan ilmu yang
didapatnya karena terkadang kecerdasan yang dimiliki kita itu belum sebanding
dengan apa yang orang lain punya meskipun kadang kita merasa bahwa ilmu kita
itu tinggi dan bahkan melebihi orang lain maka dari itu sifat manusia tidak
luntur dari sifat sombong.
Begitu juga jika kita tidak tahu tentang materi yang akan kita ajarkan
kepada peserta didik atau sulit di ajarkan maka kita harus bertanya kepada yang
lebih tahu, nah ayat di sini menjelaskan bahwa jika kita tidak tahu tentang
materi apa yang kita akan ajarkan kepada peserta didik maka kita bertanyalah
kepada ahlinya seperti contoh guru, ulama dll.
2. Hadist/ Ayat pendukung
Ad – Dahak meriwayatkan dari ibnu abbas, bahwa ketika Allah mengutus
muhammad saw. Orang orang arab mengingkari keputusanya itu dan berkata “Allah
maha agung dari menjadikan utusanya seorang manusia”. Maka Allah menurunkan
ayat yang artinya sebagai berikut :
“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa kami memwahyukan kepada
seorang laki – laki diantara meraka berilah peringatan kepada manusia.....”(yunus,10:2)
Senada dengan ayat ini ialah firman Allah yang artinya;
“Dan mereka berkata, ‘mengapa tidak dituruunkan kepadanya(muhammad)
seorang malaikat ?’ ” (al-an’am,6 : 8)
Dalam Firman-Nya :
Yang artinya “(orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, dia
makan dari apa yang kalian makan, dan minum dari apa yang kalian minum. Dan
sesunggunya jika kalian mentaati manusia seperti kalian , niscaya jika kalian
benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.” (Al-Mu’minun, 23 : 33-34)[3]
3. Teori Pengembangan
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلأَ رِجَلآ نٌوْحِيْ
اِلَيْهِمْ =
Tidakkah Kami mengutus para rasul sebelummu kepada umat-umat untuk mengajak
mereka agar mentauhidkan Aku dan melaksanakan perintah-Ku, kecuali mereka itu
adalah laki-laki dari Bani Adam yang Kami wahyukan kepada mereka, bukan para
malaikat. Ayat ini menguraikan kesesatan pandangan mereka menyangkut kerasulan
Nabi Muhammad SAW. Dalam penolakan itu mereka selalu berkata bahwa manusia
tidak wajar menjadi utusan Allah, atau paling tidak dia harus disertai oleh
malaikat.
فَسْئَلُوْا اَهْلَ ألذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَ
تَعْلَمُوْنَ =
Maka tanyakanlah kepada ahli kitab dahulu diantara orang-orang Yahudi dan
Nasrani, apakah para utusan yang diutus kepada mereka itu manusia ataukah malaikat? Jika mereka itu malaikat silakan kalian ingkari Muhammad SAW
tetapi jika mereka itu manusia, jangan kalian ingkari dia. أهل الذكر (Ahli
dzikri): Ahli kitab yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah
menerima kitab-kitab dan ajaran dari Nabi-nabi terdahulu. Di sini tersebut Ahlu-Dzikr,
orang yang ahli peringatan, atau orang yang berpengetahuan lebih luas. Arti
umum ayat menyuruhkan orang yang tidak tahu bertanya kepada yang lebih tahu,
karena ilmu pengetahuan itu adalah umum sifatnya, berfaedah mencari kebenaran.
Menurut yang diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa ahlu-dzikri di
sini maksudnya ialah Ahlul-kitab. Sebelum ahlu kitab ini
dipengaruhi oleh nafsu ingin menang sendiri, mereka akan mengakui bahwa
Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang terdahulu itu semuanya adalah manusia belaka,
manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah.
Dengan ayat ini kita mendapat pengertian bahwasannya kita boleh menuntut
ilmu kepada ahlinya, dimana saja dan siapa saja, sebab yang kita cari ialah
kebenaran.
بِالْبَيِّنٰتِ
وَالزُّبُرِ = keterangan-keterangan dan zubur, para rasul yang diutus sebelum itu semua
membawa keterangan-keterangan yakni mukjizat-mukjizat nyata yang membuktikan
kebenaran mereka sebagai rasul dan sebagian pembawa pula zubur yakni
kitab-kitab yang mengandung ketetapan-ketetapan hukum dan nasihat-nasihat yang
seharusnya menyentuh hati. Kata Zubur yakni tulisan, yang dimaksud disini
adalah Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim as.
وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ الذِّكْرَلِتُبَيِّنَ
للِنَّاسِ مَانُزِّلَ اِلَيْهِمْ = dan Kami turunkan padamu adz-dzikr agar engkau
menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. Kata
adz-dzikr disini adalah al Qur’an, dari segi bahasa adalah antonim kata lupa.
Al Qur’an dinamai demekian karena ayat-ayatnya berfungsi mengingatkan manusia.
Pengulangan kata turun dua kali yakni وَأَنْزَلْناَاِلَيْكَ dan مَانُزِّلَ
اِلَيْهِمْ
mengisyaratkan perbedaan penurunan yang dimaksud, yang pertama adalah
penurunan al Qur’an kepada Nabi Muhammad yang bersifat langsung dari Allah dan
dengan redaksi pilihan-Nya sendiri. Sedang yang kedua adalah ditujukan kepada
manusia seluruhnya.
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ = Supaya mereka berfikir, yakni agar mereka berfikir dan tidak mengikuti
jejak para pendusta terdahulu sehingga mereka tidak ditimpa azab seperti yang
telah ditimpakan kepada mereka. Allah tidak membinasakan mereka dengan azab
yang cepat, akan tetapi dengan keadaan yang menakutkan seperti angin kencang,
petir dan gempa. Disini terdapat penangguhan waktu yang mungkin didalamnya
terdapat pengabaian, ini adalah salah satu dampak rahmat Allah terhadap
hamba-Nya.
4. Aplikasi hadist dalam kehidupan
يَا أَيُّهَا
النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِير
“Hai Nabi,
berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan
bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan
itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”
(QS. At Taubah: 73).
Pendapat pertama ini
diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud dan dari banyak ahli tafsir.
5. Nilai tarbawi / pendidikan
Nilai pendidikan yang dapat kita ambil dari surat
An-Nahl ayat : 43 dan 44 antara lain:
1) Menganjurkan kita untuk bertanya apabila kita tidak tahu.
2) Apabila kita mempunyai ilmu sebaiknya ajarkan kepada yang belum tahu.
3) Dalam mendidik sebaiknya menyesuaikan dengan tingkat kecerdasan dan
pemahaman peserta didik.
4) Pendidik sebaiknya menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami.
5) Pendidikan dilakukan secara bertahap.
6) Pendidik atau guru sebaiknya menguasai bahan ajar.
C.
PENUTUP
Kesimpulan
Pendidik dalam proses pendidikan
adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan. Selain
pendidik, peserta didik juga mempunyai peran penting dalam proses pendidikan,
tanpa adanya peserta didik maka pendidik tidak akan bisa menyalurkan pengetahuan yang dimilikinya sehingga proses pembelajaran tidak
akan terjadi dan menghambat tercapainya tujuan pendidikan. Antara pendidik dan peserta didik harus sejalan agar tujuan pendidikan
dapat tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Al Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir
Al Maragi. 1992. Semarang. Toha Putra. hlm. 160-161
Hamka .2004. Tafsir Al-Azhar.
Jakarta. Pustaka Panjimas. hlm 248
Ar-rifa’i,Muhamad Nasib.1999.Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir.Jakarta.Gema
Insani Press.
Tentang Penulis
Nama : M. Fatchu Minhajul Qowim
Tempat,Tanggal Lahir : Pekalongan, 23 desember 1995
Alamat :Jl. Jlamprang Krapyak lor gg 2 baru pekalongan utara
Asal Sekolah : MAN 3 Pekalongan
Teks Materi
Hadist
وَمَا أَرسَلْناَ مِنْ قَبْلِكَ إِلاَ
رِجَالًا نُو خِىَ إِلَيْهِمْ فَسْعَلوآ أَهْلَ الذِّ كْرِإنْ كُنْتٌمْ لَا تَعْلمُوْنَ
باْلبَينَتِ وَالزُّبُوْرِ وَاَنْزَلْنَا
إِلَيْك الِّذكْرَ لِتُبَيْنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَرٌوْن
Artinya :
Dan tidaklah kami mengutus sebelum engkau
melainkan orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah
pada ahli-ahli yang telah mempunyai peringatan, jika kamu belum mengetahui
Dengan penjelasan-penjelasan dan kitab-kitab.
Dan kami turunkan kepada engkau peringatan. Supaya engkau terangkan kepada
manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Mudah – mudahan mereka
berfikir.
[1] Hamka .2004. Tafsir
Al-Azhar. Jakarta. Pustaka Panjimas. hlm 248
[2] Opcit hlm. 250
[3] Al Maragi,
Ahmad Mustafa. Tafsir Al Maragi. 1992. Semarang. Toha Putra. hlm.
160-161.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar