Laman

new post

zzz

Sabtu, 12 November 2011

SBM (8) Kelas B


MAKALAH

UMPAN BALIK ATAU FEEDBACK

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas:
Mata Kuliah                                : Strategi Belajar Mengajar
Dosen pengampu                         : Muhammad Ghufron Dimyati, M. Si




Disusun oleh :
Kholidin                      (202109056)
Eka Purwanti              (202109073)
Aulia Rachman           (202109097)

Kelas B
Program Studi Pendidikan Agama Islam
Jurusan Tarbiyah


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011







BAB I
PENDAHULUAN
Suatu realita sehari-hari, di dalam suatu ruang kelas ketika sesi kegiatan belajar-mengajar (KBM) berlangsung, nampak beberapa atau sebagian besar peserta didik belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. peserta didik baru mampu mempelajari fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. Ini terjadi karena, guru belum optimal memberdayakan tambang emas potensi masing-masing peserta didik yang sering kali tersembunyi.
Kalau masalah ini dibiarkan dan berlanjut terus, lulusan sebagai generasi penerus bangsa akan sulit bersaing dengan lulusan dari negara-negara lain. Lulusan yang diperlukan tidak sekedar yang mampu mengingat dan memahami informasi tetapi juga yang mampu menerapkannya secara kontekstual melalui beragam kompetensi. Inti dari paparan materi ini adalah untuk mengembangkan kompetensi peserta didik secara optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik, keadaan sekolah dan tuntutan kehidupan di masa depan. Informasi yang disajikan diharapkan dapat membantu mengembangkan gagasan tentang penyediaan strategi mengajar yang mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik. Kegiatan Belajar-Mengajar adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan kegiatan pendidikan di dalam lingkungan sekolah dengan kegiatan pendidikanyang dilakukan di luar lingkungan sekolah dalam wujud penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik.
Pada permasalahan ini ada salah satu teknik yang mendukung yaitu umpan balik yang mana umpan balik ini akan kami bahas, pengertian umpan balik, bagaimana teknik-teknik mendapatkan umpan balik, diantaranya dengan memancing apersepsi peserta didik, memanfaatkan teknik alat bantu akseptabel, dan menggunakan metode yang bervariasi.


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Umpan Balik
Yang dimaksud umpan balik adalah pemberian informasi yang diperoleh dari tes atau alat ukur lainya kepada peserta didik untuk memperbaiki atau pencapaian hasil belajarnya. Termasuk dalam “alat ukur lainnya” itu adalah pekerjaan rumah (PR) dan pertanyaan yang diajukan guru dalam kelas. Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa umpan balik berkaitan erat dengan kegiatan belajar mengajar terdahulu yang dievaluasi dengan suatu alat evaluasi. Hasil evaluasi ini memberikan informasi mengenai sejauh mana penguasaan peserta didik terhadap materi yang disajikan dalam proses atau kegiatan belajar mengajar.[1]
Kondisi atau keadaan peserta didik maupun situasi pengajaran menentukan keberhasilan usaha pemberian umpan balik terhadap belajar peserta didik. Berikut ini beberapa ketentuan mengenai umpan balik
1.         Umpan balik tidak mempermudah belajar jika:
a.         Peserta didik sudah mengetahui jawaban yang benar sebelum memberikan jawaban atas soal itu (misalnya “nyontek” jawaban yang benar dari temannya tanpa mengolah soal itu dengan pemikirannya sendiri).
b.        Bahan yang hendak dipelajari terlalu sukar dimengerti, sehingga peserta didik umumnya hanya menebak jawaban soal-soal yang diberikan.
2.         Umpan balik membantu dan mempermudah belajar, apabila dipenuhi syarat-syarat berikut ini:
a.         Mengkonfirmasikan jawaban-jawaban benar yang diberikan peserta didik dan menyampaikan kepadanya seberapa jauh dia mengerti materi belajar yang disajikan.
b.        Mengidentifikasikan kesalahan dan memperbaikinya atau menyuruh peserta didik memperbaiki sendiri.[2]
Manfaat umpan balik menurut Daniel Muijs & David Reinold di dalam buku Strategi & Metode Pembelajaran Zaenal Mustakim adalah sebagai berikut:
1.         Tanya jawab memungkinkan guru untuk memeriksa pemahaman peserta didik tentang pelajaranya.
2.         Tanya jawab memungkinkan peserta didik untuk mempraktikan dan menguasai topik yang diajarkan sebelum mereka pindah ke topik berikutnya.
3.         Menjawab pertanyaan memungkinkan peserta didik mengklarifikasi pemikiran dan pemahaman mereka tentang konsep yang diajarkan.[3]
B.       Tujuan Umpan Balik
Pengajar perlu mengetahui sejauh mana bahan yang telah dijelaskan dapat dimengerti oleh peserta didik, karena dari sinilah tergantung apakah ia dapat melanjutkan bahan pembelajaran bearikutnya. Umpan balik tidak sama dengan penilaian. Umpan balik bertujuan mencari informasi sampai dimana peserta didik mengerti dan faham tentang bahan yang talah  dibahas. Selain itu peserta didik juga diberi kesempatan untuk memeriksa sampai dimana mereka mengerti bahan tersebut, sehingga mereka dapat melengkapi pengertian-pengertian yang belum lengkap.
Pelajaran selanjutnya tidak mungkin diberikan jika guru tidak tahu secara pasti hasil pelajaran sebelumnya. Guru dapat mengetahui hasil pelajaran sebelumnya dengan cara:
1.         Lewat kesan yang diperoleh selama jam pelajaran itu sendiri;
2.         Lewat informasi sederhana dari pihak murid melalui pertanyaan-pertanyaan lisan yang diajukan oleh pengajar selama atau setelah jam pelajaran;
3.         Lewat informasi tertulis dari pihak murid yang diperoleh melalui ujian singkat;
4.         Mempelajari hasil tentamen atau ujian yang diadakan pada akhir kursus (di sini murid dinilai).
Setiap umpan balik pengajaran menentukan isi pelajaran berikutnya, oleh karena itu jelas, bahwa umpan balik tidak hanya perlu bagi guru, tetapi juga bagi peserta didik.[4]
C.       Fungsi Umpan Balik
Umpan balik mempunyai tiga fungsi utama, yaitu fungsi informasional, fungsi motivasional, dan fungsi komunikasional.
1.         Fungsi Informasional
Tes sebagai alat penilaian pencapaian atau hasil belajar siswa dikoreksi menurut kriteria tertentu yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dengan hasil tes tersebut, maka didapatkan tentang sejauh mana siswa telah menguasai materi yang telah diterima dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan informasi ini dapat diupayakan umpan balik berupa pengayaan atau perbaikan.
2.         Fungsi Motivasional
Motivasi merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang siswa, terutama agar siswa senang dan bergairah dalam belajar. Dengan motivasi, diharapkan siswa tergerak hatinya untuk belajar bersama-sama. Dalam kaitan dengan fungsi motivasional, umpan balik dapat berpengaruh secara negatif kepada siswa disamping pengaruh positif. Dampak positif negatif ini dapat dicontohkan pada pengumuman hasil evaluasi melalui papan pengumuman. Dampak mana yang dialami seorang siswa tergantung pada keterbukaan siswa terhadap cara umpan balik seperti itu. Agar dapat diperoleh dampak positif, situasi yang memungkinkan keterbukaan siswa menerima cara umpan balik melalui papan pengumuman itu perlu dipersiapkan.
3.         Fungsi Komunikasional
Pemberian umpan balik merupakan komunikasi antara siswa dan guru. Guru menyampaikan hasil evaluasi kepada siswa dan bersama siswa membicarakan upaya peningkatan atau perbaikannya. Dengan demikian melalui umpan balik siswa mengetahui letak kelemahannya, dan dapat bereaksi terhadap hasil umpan balik tersebut baik sendiri maupun bersama guru.[5]
D.      Teknik Mendapatkan Umpan Balik
Dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan akhir yang harus dicapai guru yaitu bagaimana agar anak didik dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas (mastery). Untuk sampai kesana bukan merupakan hal gampang, karena hal ini akan berbalik lagi pada masalah bagaimana umpan balik yang diberikan oleh anak didik selama pengajaran berlangsung.
Umpan balik yang diberikan oleh anak didik selama pelajaran berlangsung ternyata bermacam-macam, tergantung dari rangsangan yang diberikan oleh guru. Rangsangan yang diberikan guru bermacam-macam dengan tanggapan yang bermacam-macam pula dari anak didik. Rangsangan guru dalam bentuk Tanya, maka tanggapan anak didik dalam bentuk jawab. Lahirlah interaksi melalui tanya jawab antara guru dengan murid. Sebaliknya, rangsangan anak didik dalam bentuk Tanya, maka tanggapan guru dalm bentuk jawab. Maka jadilah interaksi dalam bentuk Tanya jawab pula.
Untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik, diperlukan beberapa teknik yang sesuai dan tepat dengan diri setiap anak didik sebagai makhluk individual. Berikut ini akan diuraikan beberapa teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik.

1.         Memancing Apersepsi Anak Didik
Dalam mengajar, pada saat yang tepat, guru dapat memanfaatkan hal-hal yang menjadi kesenangan anak untuk diselipkan dalam melengkapi isi dari bahan pelajaran yang disampaikan. Tentu saja pemanfaatannya tidak sembarangan, tetapi harus sesuai dengan bahan pelajaran. Pendekatan realisasi ini dirasakan keampuhannya untuk memudahkan pengertian dan pemahaman anak didik terhadap bahan pelajaran yang disajikan. Bahan pelajaran yang belum pernah didapatkan dan masih asing baginya, mudah diserap bila penjelasannya dikaitkan dengan apersepsi anak.
Pengalaman anak mengenai bahan pelajaran yang telah diberikan merupakan bahan apersepsi yang dipunyai oleh anak. Pertama kali anak menerima bahan pelajaran dari guru dalam suatu pertemuan, merupakan pengalaman pertama anak untuk menerima sesuatu yang baru; dan hal itu tetap menjadi milik anak. Itulah pengetahuan yang telah dimiliki anak untuk satu pokok bahasan dari suatu bidang studi di sekolah. Pada pertemuan berikutnya, pengetahuan anak tersebut dapat dimanfaatkan untuk memancing perhatian anak terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan, sehingga anak terpancing untuk memperhatikan penjelasan guru. Dengan demikian, usaha guru menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki anak didik dengan pengetahuan yang masih relevan yang akan diberikan, merupakan teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak didik dalam pengajaran.[6]
Ada beberapa perilaku guru yang disarankan untuk diimplementasikan agar pengajaran yang efektif bisa terwujud, dan bisa memancing apersepsi anak didik, perilaku tersebut adalah:
a.         Menggunakan suatu sistem aturan tertentu dalam menghadapi hal-hal atau prosedur tertentu.
b.        Mencegah agar perilaku siswa yang salah tidak berketerusan.
c.         Mengarahkan tindakan dengan disiplin secara tepat.
d.        Bergerak ke seluruh ruang kelas untuk mengamati siswa.
e.         Situasi-situasi yang menggangu diatasi dengan cara-cara yang bijaksana (dengan cara-cara non verbal, isyarat, pesan-pesan, kedekatan, kontak mata, dan lain-lain).
f.         Memberikan tugas-tugas yang menarik minat siswa, terutama apabila mereka bekerja secara bebas.
g.        Menggunakan cara yang memungkinkan siswa melaksanakan tugas-tugas belajar dengan arahan seminimal mungkin.
h.        Memanfaatkan waktu pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus terlibat aktif dan produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.
i.          Menggunakan cara-cara tertentu untuk mendapatkan perhatian siswa.
j.          Tidak memulai berbicara kepada kelas sebelum semua siswa memberikan perhatian.
k.        Menggunakan suatu sistem pemeriksaan tugas-tugas.
l.          Menghubungkan bahan yang diajarkan dengan aktifitas yang harus dilakukan siswa.
m.      Menggunakan teknik-teknik yang memberikan kemudahan perpindahan secara beragsur dari aktifitas yang konkret ke yang lebih abstrak.
n.        Menggunakan campuran pertanyaan dari peringkat yang rendah dan tinggi.
o.        Menyadari apa yang sedang berlangsung di dalam kelas.
p.        Dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran.
q.        Menunjukkan sikap memelihara, menerima, dan menghargai anak.
r.          Memberikan respon yang memadai terhadap makna, perasaan, dan pengalaman peserta didik.
s.         Mengarahkan pertanyaan kepada banyak siswa yang berbeda-beda, dan bukan hanya kepada siswa tertentu.
t.          Menggunakan berbagai teknik untuk membantu siswa dalam memperbaiki respons yang keliru atau salah.
u.        Memberikan penghargaan dan ganjaran untuk memotivasi siswa.
v.        Menggunakan kritik yang halus dalam mengomunikasikan harapan kepada siswa yang lebih pandai.
w.      Menerima insiatif siswa yang disampaikan melalui pertanyaan, bahasan, atau saran-saran.[7]
Akhirnya, pengetahuan guru mengenai apersipsi dapat memancing aktivitas belajar anak didik secara optimal.
2.         Memanfaatkan Taktik Alat Bantu yang Akseptabel
Ada beberapa macam alat bantu yang dapat diterima oleh siswa, agar mereka mudah memahami pelajaran diantaranya adalah:
a.         Audio Visual
Cara ini menyajikan contoh situasi nyata atau contoh situasi buatan dalam sajian tayangan hidup (film). Tentu saja, cara ini lebih mudah menjadi pengalaman belajar kalau sajian tayangan mengandung unsur cerita yang berkaitan dengan pengalaman dan imajinasi siswa. Pencapaian kompetensi tentang sikap/attitude seperti pada mata pengajaran Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama, akan sangat membantu kalau dikemas dalam suatu cerita tayangan hidup yang menyentuh dimensi emosi dan perasaan. Alat audio visual dapat membantu anak-anak belajar dengan menyajikan dalam bentuk yang kongkrit. Film, film strip, model-model, dan lain memepermudah pengertian tentang konsep dan proses tertentu. Pengalaman belajar berupa eksperimen dalam laboratorium bermanfaat sekali untuk memahami ide atau pengartian yang sulit.
b.        Visualilasi Verbal
Tak semua murid sanggup belajar dengan cara verbal yang abstrak. Alat audio-visual diperlukan untuk membantu mereka. Akan tetapi tak semua bahan harus disampaikan secara kongkrit. Kebanyakan pelajar dapat dan harus disampaikan secara verbal akan tetapi untuk bagian-bagian tertentu alat audio-visual atau alat intruksional pada umumnya sangat berguna untuk mempermudah dan memepercepat pemahaman bagi murid-murid tertentu.apa yang dikemukakan diatas merupakan usaha uantuk mempertinggi mutu mengajar agar murid-murid dapat memahami apa yang diajarkan tanpa komunikasi yang baik antara guru dan murid proses mengajar-belajar tidak akan berjalan dengan efektif. Sekalipun terdapat komunikasi yang baik masih dapat diharapkan bahwa selalu terdapat kekurang pahaman.
c.         Audio Verbal
Guru terbiasa menggunakan cara audio-verbal dalam bentuk ceramah. Pada keadaan ini, siswa senantiasa diam-pasif sambil mendengarkan penjelasan guru. Kekurangan atau kelemahan cara ini adalah ada sebagian siswa tidak mudah untuk menyamakan informasi yang diceramahkan guru dengan pengetahuan awal siswa. Kalau keadaan ini berkelanjutan, peristiwa belajar cenderung tidak berlangsung. Untuk mengatasinya, guru harus mengurangi cara ini, atau kalau terpaksa perlu berceramah cukup antara 20–25 menit saja dan diselingi dengan kegiatan yang mendorong indra. Materi yang diceramahkan pun perlu kontekstual dengan pengalaman sebagian besar siswa.

Dalam mengelola kegiatan pembelajaran, guru perlu merencanakan tugas dan alat belajar yang menantang, pemberian umpan balik, dan penyediaan program penilaian yang memungkinkan semua siswa mampu unjuk kemampuan/mendemonstrasikan kinerja (performance) sebagai hasil belajar. Inti dari penyediaan tugas menantang ini adalah penyediaan seperangkat pertanyaan yang mendorong siswa bernalar atau melakukan kegiatan ilmiah. Para ahli menyebutkan jenis pertanyaan ini sebagai pertanyaan produktif. Karena itu, dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran ini guru perlu memiliki kemampuan merancang pertanyaan produktif dan mampu menyajikan pertanyaan sehingga memungkinkan semua siswa terlibat baik secara mental maupun secara fisik.[8]
3.         Memilih Bentuk Motivasi yang Akurat
Motivasi memang merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang anak didik. Apalah artinya anak didik pergi ke sekolah tanpa motivasi untuk belajar. Untuk bermain-main berlama-lama di sekolah adalah bukan waktunya yang tepat. Maka, anak didik datang ke sekolah bukan untuk itu, melainkan untuk belajar demi masa depannya kelak di kemudian hari.
Agar minat anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan dapat bertahan, guru bisa menerapkan beberapa bentuk motivasi yang dapat guru gunakan, yaitu:
a.         Memberi Angka
Angka dimaksud adalah sebagai symbol atau nilai hasil aktivitas belajar anak didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik biasanya bervariasi sesuai hasil ulangan yang telah diperoleh dari hasil penilaian guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan prestasi belajar anak didik. Angka ini biasanya terdapat dalam buku rapor sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
b.        Hadiah
Hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan/cinderamata. Pemberian hadiah oleh guru kepada anak didiknya harus tepat waktunya/timingnya, tepat sasarannya, serta tujuan pemberiannya adalah untuk menggairahkan belajar anak didik.
c.         Pujian
Pujian adalah alat motivasi yang positif diberikan kepada seseorang yang bertujuan untuk menyenangkan orang yang dipuji. Dikarenakan sifat manusia (dalam hal ini peserta didik) adalah senang mendapat perhatian, seorang guru juga dapat melakukan pujian terhadap anak didiknya dengan tujuan agar anak yang dipuji dapat termotivasi. Pujian yang diberikan tidak boleh berlebihan, dan harus tepat sasarannya. Sehinggga, pujian dapat digunakan untuk mendapatkan umpan balik dari setiap anak didik dalam proses belajar mengajar.
d.        Gerakan Tubuh
Gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, geleng-geleng kepala, menaikkan tangan dan lain-lain adalah sejumlah gerakan fisik yang dapat memberikan umpan balik dari anak didik.
Gerakan tubuh merupakan penguatan yang dapat membangkitkan gairah belajar anak didik, sehingga proses belajar mengajar lebih menyenangkan. Hal ini terjadi karena interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik seiring untuk mencapai tujuan pengajaran. Anak didik memberikan tanggapan atas stimulus yang guru berikan. Gerakan tubuh dapat meluruskan perilaku anak didik yang menyimpang dari tujuan pembelajaran.
e.         Memberi Tugas
Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan. Guru dapat memberikan tugas kepada anak didik sebagai bagian yang tak dapat terpisahkan dari tugas belajar anak didik. Tugas dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Tidak hanya dalam bentuk tugas kelompok, tetapi dapat juga dalam bentuk tugas perorangan.

f.         Memberi Ulangan
Ulangan adalah salah satu strategi yang penting dalam pengajaran. Dengan ulangan, guru dapat mengetahui sampai di mana dan sejauh mana hasil pengajaran yang telah dilakukannya (evaluasi proses) dan sampai sejauh mana tingkat penguasaan anak didik terhadap bahan yang telah diberikan dalam rentangan waktu tertentu (evaluasi produk).
Selain dari dua fungsi tersebut, kepentingan lainnya adalah untuk mendapatkan umpan balik dari anak didiknya. Biasanya anak didik akan giat belajar ketika diketahui akan dilaksanakan ulangan.
g.        Mengetahui Hasil
Ingin mengetahui hasil adalah suatu sifat yang sudah melekat di dalam diri setiap orang. Dorongan ingin mengetahui membuat seseorang berusaha dengan cara apapun agar keinginannya menjadi kenyataan atau terwujud. Karena anak didik adalah manusia, maka di dalam dirinya ada keinginan untuk mengetahui sesuatu. Guru tidak harus mematikan keinginan anak didik untuk mengetahui, tetapi memanfaatkannya untuk kepentingan pengajaran.
h.        Hukuman
Hukuman adalah reinforcement yang negatif, tetapi diperlukan dalam pendidikan. Hukuman yang mendidik sangat diperlukan dalam pendidikan. Kesalahan anak didik karena melanggar disiplin dapat diberikan hukuman berupa sanksi menyapu lantai, mencatat bahan pelajaran yang ketinggalan, atau apa saja yang sifatnya mendidik. Dengan pemberian hukuman ini diharapkan anak didik menyadari atas kesalahan yang di lakukan dan tidak akan mengulangi perbuatan nya lagi.[9]

Anak didik akan aktif dalam kegiatan belajarnya bila ada motivasi, baik itu motivasi ekstrinsik maupun instrinsik. Beberapa hal yang dapat merangsang tumbuhnya motivasi belajar aktif pada diri peserta didik, antara lain :
a.         Penampilan guru yang hangat dan menumbuhkan partisipasi positif
Sikap guru tampil hangat, bersemangat, penuh percaya diri dan antusias, serta dimulai dan pola pandang bahwa peserta didik ada lah manusia-manusia cerdas berpotensi, merupakan faktor penting yang akan meningkatkan partisipasi aktif peserta didik. Segala bentuk penampilan guru akan membias mewarnai sikap para peserta didiknya. Bila tampilan guru sudah tidak bersemangat maka jangan harap akan tumbuh sikap aktif pada diri peserta didik. Karena itu hendaknya seorang guru dapat selalu menunjukkan keseriusannya terhadap pelaksanaan proses, serta dapat meyakinkan bahwa materi pelajaran serta kegiatan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting bagi peserta didik, sehingga akan tumbuh minat yang kuat pada diri para peserta didik yang bersangkutan.
b.        Peserta didik  mengetahui maksud dan tujuan pembelajaran
Bila peserta didik telah mengetahui tujuan dari pembelajaran yang sedang mereka ikuti, maka mereka akan terdorong untuk melaksanakan kegiatan tersebut secara aktif. Oleh karena itu pada setiap awalkegiatan guru berkewajiban memberi penjelasan kepada peserta didik tentang apa dan untuk apa materi pelajaran itu harus mereka pelajari serta apa keuntungan yang akan mereka peroleh. Selain itu hendaknya guru tidak lupa untuk mengadakan kesepakatan bersama dengan para peserta didiknya mengenai tata tertib belajar yang berlaku agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.
c.         Tersedia fasilitas, sumber belajar, dan lingkungan yang mendukung
Bila di dalam kegiatan pembelajaran telah tersedia fasilitas dan sumber belajar yang menarik dan cukup untuk mendukung kelancaran kegiatan belajar mengajar maka hal itu juga akan menumbuhkan semangat belajar peserta didik. Begitu pula halnya dengan faktor situasi dan kondisi lingkungan yang juga penting untuk diperhatikan, jangan sampai faktor itu memperlunak semangat dan keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar.
d.        Adanya prinsip pengakuan penuh atas pribadi setiap peserta didik
Agar kesadaran akan potensi, eksistensi, dan percaya diri pada diri peserta didik dapat terus tumbuh, maka guru berkewajiban menjaga situasi interaksi agar dapat berlangsung dengan berlandaskan prinsip pengakuan atas pribadi setiap individu. Sehingga kemampuan individu pendapat atau gagasan, maupun keberadaannya perlu diperhatikan dan dihargai. Dan yang penting lagi guru hendaknya rajin memberikan apresiasi atau pujian bagi para peserta didik, antara lain dengan mengumumkan hasil prestasi, mengajak peserta didik yang lain memberikan selamat atau tepuk tangan, memajang hasil karyanya di kelas atau bentuk penghargaan lainnya.
e.         Adanya konsistensi dalam penerapan aturan atau perlakuan oleh guru di dalam proses  belajar mengajar.
Perlu diingat bahwa bila terjadi kesalahan dalam hal perlakuan oleh guru di dalam pengelolaan kelas pada waktu yang lalu maka hal itu berpengaruh negatif terhadap kegiatan selanjutnya. Peneapan peraturan yang tidak konsisten, tidak adil, atau kesalahan perlakuan yang lain akan menimbulkan kekecewaan dari para peserta didik, dan hal ini akan berpengaruh terhadap tingkat keaktifan belajar peserta didik. Karena itu di dalam memberikan sanksi harus sesuai dengan ketentuannya, memberi nilai sesuai kriteria, dan memberi pujian tidak pilih kasih.
f.         Adanya pemberian penguatan dalam proses belajar-mengajar.
Penguatan adalah pemberian respon dalam interaksi belajar mengajar baik berupa pujian maupun sanksi. Pemberian penguatan ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan keaktifan belajar dan mencegah berulangnya kesalahan dari peserta didik. Penguatan yang sifatnya positif dapat dilakukan dengan kata-kata; bagus! baik!, betul!, hebat!”. Namun semua itu tidak disajikan dengan cara berpura-pura tetapi harus tulus dari nurani guru. Dan sebagainya, atau dapat juga dengan gerak; acungan jempol, tepuk tangan, menepuk-nepuk bahu, menjabat tangan dan lain-lain. Adapula dengan cara memberi hadiah seperti hadiah buku, benda kenangan atau diberi hadiah khusus berupa; boleh pulang duluan atau pemberian perlakuan menyenangkan lainnya.
g.        Jenis kegiatan pembelajaran menarik atau menyenangkan dan menantang
Agar peserta didik dapat tetap aktif dalam mengikuti kegiatan atau melaksanakan tugas pembelajaran perlu dipilih jenis kegiatan atau tugas yang sifatnya menarik atau menyenangkan bagi peserta didik di samping juga bersifat menantang. Pelaksanaan kegiatan hendaknya bervariasi, tidak selalu harus di dalam kelas, diberikan tugas yang dikerjakan di luar kelas seperti di perpustakaan, dan lain-lain. Penerapan model belajar sambil bekerja (learning by doing) sangat dianjurkan, di jenjang sekolah dasar, antara lain dilakukan belajar sambil bernyanyi atau belajar sambil bermain. Untuk lebih mengaktifkan peserta didik secara merata dapat diterapkan pemberian tugas pembelajaran secara individu atau kelompok belajar (group learning) yang didukung adanya fasilitas/sumber belajar yang cukup. Sekiranya tersedia dianjurkan penggunaan media pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat lebih efektif.
h.        Penilaian hasil  belajar dilakukan serius, obyektif, teliti dan terbuka
Penilaian hasil belajar yang tidak serius akan sangat mengecewakan peserta didik, dan hal itu akan memperlemah semangat belajar. Karena itu, agar kegiatan penilaian ini dapat membangun semangat belajar para peserta didik maka hendaknya dilakukan serius, sesuai dengan ketentuannya, jangan sampai terjadi manipulasi, sehingga hasilnya dapat obyektif. Hasil penilaiannya diumumkan secara terbuka atau yang lebih baik dibuatkan daftar kemajuan hasil belajar yang ditempel di kelas. Dari daftar kemajuan belajar tersebut setiap peserta didik dapat melihat prestasi mereka masing-masing tahap per tahap.[10]
4.         Menggunakan Metode yang Bervariasi
Dengan cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid. Usaha guru itu harus dibantu dengan mengunakan bantuan seperti feedback atau umpan balik yang terperinci kepada guru maupun murid, sumber dan metode-metode pengajaran tamabahan di mana saja diperlukan usaha tambahan itu dimaksud untuk memperbaiki mutu pengajaran dan meningkatkan kemampuan anak memahami apa yang diajarkan dan dengan demikian mengurangi jumlah waktu untuk menguasai bahan pelajaran sepenuhnya.
Banyak sekali metode-metode yang dapat digunakan dalam menimbulkan feedback antara lain:
a.         Belajar kelompok, belajar atau saling membantu dalam pelajaran. Murid sering lebih paham akan apa yang disampaikan oleh temannya, dari pada guru, biasanya cara belajar yang digunakan oleh murid lebih mudah ditangkap oleh murid lain. Maka memanfaatkan batuan murid dapat meningkatkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran.
b.        Bantuan tutor, yaitu orang yang dapat membantu murid secara individual. Sebaiknya orang itu jangan gurunya sendiri sehingga ia dapat memberi bantuan dengan cara yang lain dari pada guru itu. Hendaknya diusahakan agar murid selekas mungkin dapat membebaskan diri dari bantuan tutor. Jadi tutor harus mendidik anak agar dapat belajar sendiri.
c.         Pelajaran berprogram, ini juga merupakan bantuan agar murid menguasai bahan pelajaran melalui langkah-langkah pendek, tanpa bantuan guru pelajar akan mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran.[11]
DAFTAR PUSTAKA

Mustakim, Zaenal. 2011. Strategi & Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.
Silverius, Suke. 1991. Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik. Jakarta: PT Grasindo.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.


[1] Zaenal Mustakim, Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2011), hlm 188-189
[2] Ibid., hlm 189
[3] Ibid., hlm 192
[4] Ibid., hlm 191-192
[5] Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, (Jakarta: PT. Grasindo, 1991), hlm 150-152
[6] Saiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), hlm 141-144
[9] Saiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), hlm 147-157