zzz

Jumat, 30 Maret 2012

B7-38 Tika Permatasari


MAKALAH
MANUSIA ( ASPEK FISIK – BIOLOGIS )
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Hadits Tarbawi 2
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.S.I

 











Disusun Oleh
Nama                 : Tika Permatasari
NIM                   : 2021110084
Kelas                  : B ( Reguler )


JURUSAN TARBIYAH (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2012




PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah swt  yang paling mulia, baik dilihat dari segi bentuk, kepribadian, akal, pikiran,perasaan dan sebagainya. Berbeda dengan makhluk lain, meskipun memiliki kehidupan tetapi tidak memiliki sifat seperti manusia.
Olek karena itu, pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang penciptaan manusia melalui proses yang begitu rumit yang telah dirancang oleh Allah melalui tahapan-tahapan untuk memperoleh bentuk yang sempurna.





















PEMBAHASAN

A. MATERI HADITS           
Manusia dilihat dari aspek fisik- biologis

عَنْ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ, قَال:( إِنَّ اَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي أُمَّهِ بَطْنِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا, ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ, ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْل ذّلِكَ, ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْ مَرُ بِأَ رْبَعِ كَلِمَا تٍ, وَيُقَالُ لَهُ: اُكْتُبْ عَمَلَهُ, وَرِزْقُهُ, وَأَجَلَهُ, وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ, ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ, فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجَنَّةِ إِلاَّ ذِرَاعٌ, فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَا بُهُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْل النَّارِ. وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّأرِ إِلاَّ ذِرَاعٌ, فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ, فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ )                                                                          
( رواه البخاري فى الصحيح,كتبا بدء الخلق,باب ذكر الملا ئكة )                                                              
B.TERJEMAH HADITS
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a.: Rasulullah Saw orang yang benar dan dipercaya - pernah bersabda,”( Subtansi ciptaan ) manusia disimpan dalam rahim ibunya selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi gumpalan darah untuk periode yang sama lalu menjadi segumpal daging juga untuk periode yang sama. Kemudian Allah mengutus malaikat dan menyuruاnya menuliskan empat hal. Dia berfirman kepadanya : Tulislah perbuatan – perbuatannya, kehidupannya,( tanggal ) kematiannya, dan apakah kelak ( pada hari kiamat ) ia ( termasuk orang yang ) diberkahi atau disiksa. Jadi, mungkin saja salah seorang dari kalian melakukan perbuatan – perbuatan baik sehingga jarak dirinya dengan surga tinggal sejengkal saja dan kemudian apa yang telah dituliskan untuknya mengubah perilakunya sehingga mulai melakukan perbuatan – perbuatan buruk yang dilakukan oleh para penghuni neraka. Begitu pula seseorang dari kalian mungkin saja melakukan perbuatan – perbuatan buruk sehingga jarak dengan dirinya dengan neraka tinggal sejengkal saja namun apa yang telah dituliskan untuknya mengubah perilakunya sehingga mulai melakukan perbuatan – perbuatan baik yang dilakukan para penghuni surga. “ (HR. Bukhari, kitab Bad’il Khalqi, Bab Zikir para malaikat ).[1]

C. اMUFRODAT

TERJEMAH
TEKS ARAB
Yang benar dan dipercaya
الصَّادِقُ الْمَصْدُوق
Segumpal darah
عَلَقَةً
Segumpal daging
مُضْغَةً
Empat perkara
 بِأَ رْبَعِ كَلِمَا ت
Dia berfirmannya
وَيُقَالُ لَهُ
Tulislah perbuatan-perbuatanya (amal)
اُكْتُبْ عَمَلَهُ
rezekinya
وَرِزْقُهُ
Tanggal kematiannya(ajal)
وَأَجَلَهُ
Dan apakah termasuk orang yang disiksa atau orang yang bahagia
وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
Sejengkal saja
ذِرَاعٌ
Penghuni neraka
أَهْل النَّار
Penghuni surga
أَهْلِ الجَنَّةِ

 D. BIOGRAFI PERAWI
Abdullah bin Mas’ud
Nama lengkapnya Abdullah bin Mas’ud bin Ghofil bin Habib al-Hadzaly. Biasanya dipanggil Abu Abdurrahman. Ayahnya bernama abdur dengan sebutan “Habrul Ummah”(ilmuan umat Islam) seperti halnya Ibn ‘Abbas. Beliau juga termasuk orang yang ahli fiqh. [2]
Mengenai keislamannya, beliau masuk Islam sebelum Rasulullah datang ke rumah al-Arqom. Rumah inilah yang menjadi cikal bakal tempat pengajian ajaran Islam dimana para sahabat hadir di sana. Beliau termasuk enam orang yang masuk Islam pada awal-awal datangnya kambing milik ‘Uqbah bin Abu Mu’id di Mekkah. Maklum, orang tuanya bukan orang yang kaya yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.[3]
Selama berjuang bersama Rasulullah, beliau telah meriwayatkan kurang lebih 848 hadits. Selain itu, semasa hidupnya Abdullah selalu mengikuti Rasul. Beliau banyak mendengarkan  ayat–ayat alquran sejak  tahu tentang alquran sejak alquran diwahyukan pertama kali kepada Rasul.
yang akhirnya beliau meninggal dunia pada tahun 32 Hijriah. Sebelum wafatnya beliau sempat berpesan kepada Zubair bin Awwam untuk mensholatinya. Beliau dikuburkan di kuburan Baqi’ (samping masjid Nabawi, Madinah).[4]

E. KETERANGAN HADITS
Syarah hadits  ini dinukil dari kitab Syarah Al Imam An-nawawi ‘ala Shahih Muslim rahimahullah Ta’ala.
الصَّادِقُ الْمصْدُوِق  Maksud kalimat disamping adalah: jujur dalam hal tutur katanya dan dapat dipercaya mengenai kabar wahyu yang beliau bawa.
Sesuai laporan para malaikat, ada beberapa tahapan perkembangan embrio manusia yang dipaparkan sebagai berikut. Awalnya adalah ketika Allah mernjadikannya sel telur yang dibuahi untuk kemudian dijadikan  segumpal darah. Ini merupakan tahapan pertama yang dilaporkan malaikat, sebab tidak setiap sel telur bisa mencapai tahapan berikutnya. Tahapan tersebut berjalan selama empat puluh hari pertama. Pada waktu inilah rezeki, ajal, amal perbuatan, dan nasib celaka atau keberuntungannya ditetapkan. Tahapan ketika Allah menciptakan rupa, pendengaran, penglihatan, tulang belulang, dan jenis kelaminnya (laki-laki atau perempuan) . Tahapan ini terjadi pada empat puluh hari yang ketiga, yakni ketika perkembangannya menjadi segumpal daging. Sebelum lengkap masa empat puluh hari ketiga inilah akan ditiupkan ruh kehidupan pada embrio manusia tesebut.[5]
Kata dziraa’ dalam hadits ini maksudnya adalah  perumpamaan untuk menyatakan betapa dekat nasib orang itu dengan surga ketika meninggal dunia. Begitu dekatnya dengan alam tempat tinggal keabadian itu, sampai akhirnya diungkapkan dengan kata dziraa’ yang artinya tingkal sejengkal. Maksud substansi hadits ini tentu jarang terjadi pada kebanyakan orang, sebab mayoritas orang yang dikasihi oleh Allah Islam. Masa kecilnya dihabiskan untuk mengembala
Ta’ala akan dilapangkan untuk mendapatkan rahmat-Nya, yakni diberi hidayah untuk mengerjakan kabaikan setelah sebelum-nya mempraktekan keburukan. Sedangkan seeorang yang semula baik,diakhir hayatnya berbuat buruk (sebagaimana matan hadits di atas), bisa dinilai sangat jarang terjadi. Allah berfirman, “ Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mendahului dan mengalahkan murka-Ku.”
Orang yang termasuk dalam kategori hadits ini adalah yang di akhir  hayatnya melakukan kekufuran atau kemaksiatan. Hanya saja perlu dibedakan antara nasib orang yang mengakhiri hidupnya dengan  kemaksiatan, dan antara orang yang mengakhiri hidupnya kehidupannya dengan kekufuran. Orang yang mengakhiri hidupnya kehidupannya dengan kekufuran maka akan tinggal kekal didalam neraka, sedangkan orang yang mengesakan Allah, dia tidak akan tinggal kekal di dalam neraka Wallahu a’lam.[6]

F.ASPEK TARBAWI
Dari uraian hadits ini dapat kita pahami bahwa proses penciptaan manusia melalui beberapa tingkatan atau tahapan-tahapan.Tahapan pertumbuhan janin dimulai dari dibuahinya sel telur yang ada dirahim ibu, setelah  terjadi pembuahan maka terbentuklah nutfah (air mani) yang tersimpan dalam rahim ibu selama empat puluh hari, dengan tahapan yang sama pula alaqoh berubah menjadi mudlghoh, kemudian mudlghoh berkembang menjadi tulang belulang yang dibungkus dengan daging akhirnya berubah menjadi janin, pada waktu itulah Allah ke dalam  meniupkan ruh ke dalam janin tersebut,menurut kesepakatan para ulama diupkan ruh pada usia kandungan 120 hari.. [7]
Dapat disimpulkan kita juga harus beriman kepada Qadar, karena  Allah Subahanhu wa Ta'ala telah mentakdirkan nasib manusia sejak di alam rahim. Tentang rezekinya,ajalnya yang juga tidak bisa diajukan atau diundurkan, amal perbuatannnya baik yang baik atau yang buruk dan juga celaka atau bahagianya. Celaka yang dimaksud yaitu sebagai penghuni neraka .[8]
Tentang keempat hal tersebut, tidak ada seorang pun yang mengetahui hakikatnya. Oleh karenanya, tidak boleh bagi seseorang pun enggan untuk beramal shalih, dengan alasan bahwa semuanya telah ditakdirkan Allah swt. Memang benar, bahwa Allah telah mentakdirkan akhir kehidupan setiap hamba, namun Dia Yang Maha Bijaksana juga menjelaskan jalan-jalan untuk mencapai kebahagiaan. Sebagaimana Allah Yang Maha Pemurah telah mentakdirkan rizki bagi setiap hamba-Nya, namun Dia juga memerintahkan hamba-Nya keluar untuk mencarinya.
Seperti saat Rasul menjawab pertanyan dari sahabat Suraqah bin malik, Beliau bersabda:
اِعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ.

Beramallah kalian, karena semuanya telah dimudahkan oleh Allah menurut apa yang Allah ciptakan atasnya. Adapun orang yang termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, maka ia dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang berbahagia. Dan adapun orang yang termasuk golongan orang-orang yang celaka, maka ia dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang-orang yang celaka.
























PENUTUP

Setelah kita memahami penjelasan hadits di atas tentang bagaimana proses penciptaan manusia yang begitu rumit,setidaknya kita bisa meningkatkan rasa bersyukur kita kepada Allah swt, dengan selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Walaupun rezeki,ajal,amal perbuatan serta nasib manusia sudah ditetapkan kita tetap harus selalu berusaha mencapai yang terbaik dihadapan Allah, jangan hanya pasrah saja pada takdir sebelum kita berikhtiar dan berdoa.




















DAFTAR PUSTAKA

Al Asqalani,Ibnu Hajar.2008.Fathul Baari 17.Jakarta: Pustaka Azzam
Kiptiyah.2007.Embriologi dalam Alquran.Malang: UIN-Malang Press
Lisanul ar rab juz 10 hlm.267
Soffandi,Wawan Djunaedi.2007.Syarah Hadits Qudsi.Jakarta:Pustaka Azzam
Tholbah,Hushama.Ensiklopedi mukjiat alquran dan hadits.2008.Kairo:Sapta Sentosa
http://www.2lisan.com/biografi/sastrawan/biografi-william-shakespeare/



[1] Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari 17,(Pustaka Azzam: Jakarta,2008),hlm.558-559
[2] Lisanul ar rab juz 10 hlm.267
[3] Tagrib at tahdib syihabudin ahmad bin ali bin hajr al asqalani al maq’tufi
             [4] http: //www.2lisan.com/biografi/sastrawan/biografi-william-shakespeare
[5] Wawan Djunaedi Soffandi, Syarah Hadits Qudsi,(Pustaka Azzam:Jakarta,2007),hlm.212-214
[6] Ibid,hlm.216-217
[7] Ibid,hlm.214
[8] Prof.Dr.hushama tholban,ensiklopedi mukjizat alquran dan hadis (kairo:sapta santosa,2008)jilid11,hlm.52-56

10 komentar:

  1. kelas ; b
    nim ; 2021110057
    nama ; tri istiani

    assalamualaikum. .
    mau tanya nih mbak tika, ,gimana si cara nya agar kita selalu semangat dalam berusaha atas apa yang kita inginkan maupun semangat dalam melakukan kebaikan, mengingat seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa semua telah di taqdirkan Allah. . . thanx

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas pertanyaannya...saya akan mencoba menjawab
      agar kita semangat dalam berbuat kebaikan bisa dengan cara banyak melihat pada pedoman kehidupan bagi seluruh umat manusia yaitu alquran. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang memerintahkan untuk selalu berbuat baik. Begitu besar penghargaan Allah pada setiap kebaikan yang dilakukan manusia. Tiada kerugian dan tiada kesia-siaan. Sebesar zarrah pun akan dinilai. Seperti firmanNya, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (biji sawi), niscaya dia akan melihat balasannya.” (Surah Al Zalzalah:7)
      Jadikanlah ayat tersebut sebagai pedoman dalam bertindak baik dalam ucapan atau perbuatan. selain itu dengan berbuat baik dengan orang lain misalnya saja itu sama saja berbuat baik dengan diri kita sendiri.

      Hapus
  2. siti maskanah
    2021110069
    bagaimana cara kita selaku calon pendidik dalam menyikapi orang-orang yang anti agama yang beranggapan bahwa proses penciptaan manusia hanyalah sekadar proses biologis saja?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau menurut saya menanggapi hal yang demikian,kita sebagai calon pendidik khususnya pendidik muslim harusnya tidak memisah -misahkan ilmu yang satu dengan ilmu yang lain karena ilmu itu bersumber pada alquran yang merupakan firman Tuhan yang sempurna dan tidak diragukan kebenarannya, seperti firman Allah Swt dalam surat al –jaatsiyah ayat 20. Dan ditegaskan kembali pada ayat 23. Selain itu, pemisahan ilmu disini hanya untuk memudahkan analisa saja. Sehingga dari sini kita bisa mengambil kesimpulan seorang yang anti agama tersebut telah keliru karena proses penciptaan manusia yang termasuk dalam ilmu biologi termasuk ayat kauniyah yang wajib dipelajari.

      Hapus
  3. dina rina
    2021110064
    bagaimana pendapat anda tentang hadis di atas agar kita tidak salah memahami hadis tersebut yang dimana hadis tersebut menggambarkan bahwa seolah-olah di dunia ini sudah diatur atau sudah ditentukan oleh Allah sehingga kita melakukan suatu usaha apapun menjadi sia-sia? atau lebih tepatnya agar kita tidak menjadi manusia yang menganut adanya aliran fatalisme?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menghindari kesalahan pemahaman dari isi hadis saya,,yaitu didalam alquran telah dijelaskan bahwa walaupun Allah telah menetapkan takdir namun Allah tidaknya menafikan adanya ikhtiar dari makhluknya. Untuk itu perlu di ingat satu hal kita harus percaya pada takdir dan selalu berusaha berbuat yang terbaik dengan ikhtiar, semuanya harus seimbang antara usaha dan kepasrahan (doa) sehingga kita tidak terjebak pada paham fatalisme maupun paham qadariyah.

      Hapus
  4. Assalamualaikum,,,
    Mbak Tika, rasanya kalau berbicara tentang penciptaan manusia setiap kita sudah cukup mengerti bahkan tentang teori darwin sekalipun yang ternyata sangat salah dan tidak ada kaitannya dengan manusia.
    namun kalau kita bahas tentang takdir, rasannya sangat sulit kita pahami. seperti hadits anda mengatakan (kurang lebih)bahwa orang yang selalu beriman belum tentu meninggal dalam keadaan berima dan sebaliknya. karena itu semua telah ditakdirkan Allah.
    menurut anda bagaiman konsep takdir tersebut?
    kemudian, mungkin saya sekarang saya beriman namun ada kekhawatiran dan ketakutan mendalaman kalau saja nanti takdir saya berubah lantas bagaimana(Na'udhubillah), menurut anda bagaimana kiat2nya mengatasi kekhawatiran tersebut?
    terima kasih,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. TAKDIR DALAM AGAMA ISLAM
      Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir.

      DIMENSI KETUHANAN
      Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
      •Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (QS. Al Hadid [57]:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
      •Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya). (QS. Al-Furqaan25]:2)
      •Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj[22]:70)
      • Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (QS. Al Maa'idah[5]:17)
      • Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya. (QS. Al-An'am[6]:149)
      DIMENSI KEMANUSIAAN
      Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
      •Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS. Ar Ra'd[13]:11)
      •(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Mulk[67]:2)
      •Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (QS. Al-Baqarah[2]:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
      •... barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir... (QS. Al Kahfi[18]:29)
      IMPLIKSI IMAN KEPADA TAKDIR
      Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
      Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (QS. Al Hadiid[57]:23).Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah.

      Hapus
  5. MARIA ROSIDA
    2021110088
    bgaimana sikap kita apabila melihat saudara kita atau teman kita yang kurang mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita,terutama nikmat kesempurnaan fisik dibandingkan yg lain(cacat fisik).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama yang perlu dilakukan dengan mendekati secara santun teman tsb jangan langsung dinasehati, setelah anak itu sekiranya sudah mau terbuka baru diberi nasehat.Ayolah belajar menjadi hamba yang bersyukur kpd Allah dengan cara pertama,Meminta tolong kepada Allah ta’ala agar dibantu bersyukur.kedua,Senantiasa berusaha membandingkan kenikmatan duniawi yang kita rasakan dengan kenikmatan orang yang di bawah kita.yang terahir cobalah untuk selalu bersabar.Allah memberi kita cobaan pasti ada hikmah dibalik semuanya.

      Hapus