Laman

Senin, 19 Oktober 2015

spi H 6

PERADABAN ISLAM 
DINASTI-DINASTI LAIN DI DUNIA ISLAM 
II
Fitriana  Ria


riezkawahyuni

Pendidikan Agama Islam H
 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015




KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Peradaban Islam Dinasti-Dinasti Lain di Dunia Islam II”. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, sahabatnya, keluarganya, serta segala umatnya hingga yaumil akhir.
Makalah ini disusun guna menambah wawasan pengetahuan mengenai sejarah berdirinya dinasti tersebut, raja-raja yang berkuasa, masa kejayaan dan hasil peradaban dan masa kehancuranya. Makalah ini disajikan sebagai bahan materi dalam diskusi mata kuliah Sejarah Peradaban Islam  STAIN Pekalongan.
Kami menyadari bahwa kemampuan dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna. Kami sudah berusaha dan mencoba mengembangkan dari beberapa referensi mengenai sumber buku yang saling berkaitan. Apabila dalam penulisan makalah ini ada kekurangan dan kesalahan, baik dalam penulisan dan pembahasannya. Maka kami dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca.
Akhir kata, semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Amin yaa robbal ‘alamin.

Pekalongan, 06 Oktober  2015


Penulis
DAFTAR ISI
Kata pengantar....................................................................................................   ii
Daftar Isi.............................................................................................................   iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang........................................................................................   1
B.     Rumusan Masalah...................................................................................   2
C.     Metode Pemecahan Masalah .................................................................... 2
D.    Sistematika Penulisan Makalah............................................................... ..   2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Dinasti Buwaihi...................................................................................... ..     ..3
B.     Dinasti Murobbitun................................................................................. ....5
C.     Dinasti Saljuk ......................................................................................... ....7
D.    Dinasti Muwahhidun.............................................................................. ..10
E.  Dinasti Ayyubiyah .................................................................................. ..12
F.  Dinasti Delhi.............................................................................................. 14
G. Dinasti Mamluk.......................................................................................... 18

BAB III PENUTUP
A.    Simpulan....................................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................23
BIODATA PENULIS..........................................................................................24



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Dimulai dari sejarah Arab sebelum islam lahir atau muncul, kemudian islam zaman Nabi Muhammad saw, Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyyah. Dalam sejarah Islam, para penguasa setelah masa kekuasaan khulafaaur rasyidin, digantikan oleh para penguasa yang membentuk kekuasaan dengan sistem kekuasaan kekeluargaan atau dinasti. Dimulai dari kekuasaan Muawiyah yang membentuk Dinasti Umayyah, maka sistem pemerintahan yang bersifat demokrasi berubah menjadi monarchi hereditis (kerajaan turun- temurun).
Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan dan diplomasi, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun- temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid, yang kelak menggantikannya.
Dinasti- dinasti yang berkuasa setelah khulafaaur rasyidin adalah Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Umayyah di Andalusia, Dinasti Safawiyah, Dinasti Usmani di Turki, Dinasti Mongol Islamdi India, dan beberapa dinasti lain yang berkuasa di beberapa belahan dunia Islam.Selain dinasti- dinasti yang disebutkan di atas, juga terdapat beberapa dinasti lain yang juga memiliki peran penting dalam pengembangan peradaban di dunia Islam. Di makalah ini, akan dibahas mengenai peradaban Islam pada Dinasti Buwaihi, Dinasti Murobithun, Dinasti Saljuk, Dinasti Muwahhidun, Dinasti Ayyubiyah, Dinasti Delhi dan Dinasti Mamluk.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokuskan kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.         Bagaimana Peradaban Dinasti Buwaihi?
2.         Bagaimana Peradaban Dinasti Murobitun?
3.         Bagaimana Peradaban Dinasti Saljuk?
4.         Bagaimana Peradaban Dinasti Muwahhidun?
5.         Bagaimana Peradaban Dinasti Ayyubiyah?
6.         Bagaimana Peradaban Dinasti Delhi?
7.         Bagaimana Peradaban Dinasti Mamluk?
C. Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/ metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan
D. Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Dinasti Buwaihi (945-1055M)
1)      Sejarah pembentukan
Dinasti Buwaihi berkuasa tahun 334-447H/ 945-1055M di Syiraz Persia. Berasal dari tiga bersaudara yaitu Ali, Hasan, dan Ahmad ibn Buwaihi. Ketiganya adalah anak dari Abu Sujak Buwaihi(nelayan di Dailam). Sebagai nelayan, pekerjaan ini dipandang tidak banyak mendatangkan rezeki. Keadaan ekonomi dan situasi kehidupan mereka yang membuat mereka menjadi gigih. Mereka bertiga pernah diramalkan oleh seorang ahli ramal bahwa mereka kelak akan memegang kekuasaan di kemudian hari. Ketiganya masuk ke dinas ketentaraan yang waktu itu cukup menjanjikan. Ali, Hasan, dan Ahmad mengawali karirnya sejak memasuki militer menjadi amggota pasukan panglima perang daerah Dailam, pekerjaan militer tersebut mendatangkan banyak rizki.[1]
Kemudian mereka masuk militer yang dipimpin oleh Makan Ibn Kali, begabung dengan Mardawij Ibn Zayyar. Karena berprestasi, Ali diangkat menjadi Gubernur al-Karaj dan kedua saudaranya diberikan kedudukan penting. Dari al-Karaj inilah ekspansi bani Buwaihi bermula. Pada saat terjadi pertentangan antra khalifah Al-Muttaqi dengan Amirul Umara’ (Tuzun), keluarga Buwaihi menggunakan kesempatan itu untuk memasuki Baghdad, pada waktu itu juga kebetulan khalifah meminta agar mereka ke Baghdad untuk membantunya. Ketika Buwaihi memasuki Bghdad, Tuzun telah mengalahkan Khalifah, akan tetapi pada akhirnya Tuzun dapat dikalahkan oleh Buwaihi. Untuk membalas jasa-jasa bani buwaihi tersebut, khalifah Al Mustakfi memberikan kepercayaan kepada Ali ibn Buwaihi untuk memegang kekuasaan di Ahwaz, saudaranya, Hasan di Ashbahan, Hamzan dan sebagian kota Irak. Sedangkan Ahmad di daerah Kirman dan Makram.
Ali menaklukan Persia dan mendapat legalitas dari khalifah Dinasti Abbasiyyah, ia menjadikan Syiraz sebagai pusat pemerintahan. Ia diberikan gelar Imad al-Daulah. Hasan berkuasa disebelah utara (Isfahan,Ray) dan diberi gelar Rukn al-Daulah. Sedangkan Ahmad berhasil ekspansi sampai ke Irak, Ahwaz, Wasith dan Baghdad. Ahmad menggulingkan al-Mustakhfi (Abbasiyyah) dan menjadi Khalifah pertama dinasti Buwaihi. Ia bergelar Mu’iz al-Daulah. Ahmad Ibn Buwaihi Memusatkan kekuasaaanya di Ahwaz.
Selama sekitar satu seperempat abad bani Buwaihi memerintah, terdapat 11 orang penguasa yang sempat mengisi sejarah peradaban islam Ibn Ahmad Buwaihi (Mu’iz al-Daulah) tahun 334-356, Bakhtiar (‘Izz al-Daulah) tahun 356-367 H, Abu Syuja’ Khusru (‘Adhdu al-Daulah) tahun 367-372 H, Abu Kalyajar (shamsham al-Daulah) tahun 372-376 H, Abu al-Fawarits (Syiraf al-Daulah) tahun 376-379 H, Abu Nashr Fairus (Baha’ al-Daulah) tahun 379-403 H, Abu Syuja’ (Sultah al-Daulah) tahun 416-435 H, Musyrif al-Daulah tahun 411-416 H, Abu Thahir (Jalal al-Dulah) tahun 416-435 H, Abu Khalyar al-Marzuban (Imad al-Daulah) tahun 435-440 H, Abu Nashr Kushr (al-Malik al-Rahim) tahun  440-447 H.[2]
2)      Kemajuan yang dicapai
Pada masa pemerintahan ‘Adhdu al-Daulah inilah dinasti Buwaihi mencapai kemajuan yang pesat. Keadaan politik yang kurang stabil sebelumnya dapat diperbaiki. Pada masa ini pula penguasa Buwaihi mulai memakai gelar al-Malik . ‘Adhdu al-Daulah sendiri dikenal seseorang yang cinta ilmu, dia memiliki perpustakaan besar yang berisi macam-macam  jenis buku. Istana sering digunakan untuk pertemuan ilmuwaan dan ulama. Kepada para fuqaha’, muhadditsin, mufassirin, mutakallimin, pujangga, sastrawan, dokter, ahli hisab, ahli bangunan, dan lain lain , ia tidak segan memberi honor yang besar karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.
Disamping itu juga diadakan perbaikan kota dan pembangunan gedung-gedung pemerintahan, dibangun pula beberapa rumah sakit. Rumah sakit terbesar di Baghdad mempunyai 24 dokter yang dibayar dengan bayaran yang tinggi, rumah sakit yang terkenal juga di daerah Syiraz. Ini memberikan gambaran bahwa umat Islam pada masa Buwaih icukup maju dibanyak bidang. Dan dia juga berhasil mempersatukan beberapa wilayah kerajaan kecil di Persia dan Irak.
3)      Kemunduran dan kehancuran
Ada dua faktor yang menyebabkan hancurnya dinasti Buwaihi yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain: perebutan kekuasaan dikalangan keturunan bani Buwaihi dan pertentangan dalam tubuh militer antara golongan Dailam dan keturunan Turki. Sedangkan faktor eksternalnya yaitu: semakin gencarnya serangan-serangan Bizantyium kedunia Islam, semakin banyaknya dinasti-dinasti kecil (fatimiyyah, ikhsyidiyyah, hamdaniyyah dan Ghaznawiyah) yang membebaskan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad dan serangan dari dinasti saljuk.[3]
B.  Dinasti Murobbitun (1056-1147M)
1)      Sejarah pembentukan
Murobbitun adalah sebuah gerakan keagamaan di kalangan kaum Barbar yang pernah berkuasa di Afrika Utara dengan beribukotakan Marakesy. Di masa kejayaan dinasti ini, kekuasaannya mencapai negeri Spanyol pada saat politik di Andalusia mengalamai perpecahan. Kaum murobbitun ini merupakan penguasa ke tiga dari muslim Barbar di Afrika, setelah Maghrawiyah dan Sanhajah. Mereka kadang juga disebut kaum mutalatsimun karena tradisinya memakai cadar.
Dinasti Murabithun pada awalnya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf in Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062, dia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Dinasti Murabithun masuk ke Spanyol atas undangan para penguasa Islam di Spanyol yang sedang kewalahan mempertahankan kekuasaan Islam akibat serangan-serangan dari penguasa Kristen. Yusuf ibn Tasyfin bersama pasukannya memasuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan pasukan Castilia.Kondisi Spanyol yang tidak stabil saat itu akhirnya mendorong Dinati Murabithun untuk menguasai Spanyol. Akan tetapi, penguasa Dinasti Murabithun sepeninggal Yusuf ibn Tasyfin adalah orang-orang lemah sehingga pada tahun 1143 kekuasaan Dinasti Murabithun berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol. Pada saat Spanyol dikuasi oleh Dinasti Murabithun, tepatnya pada tahun 1118 M.[4]
2)      Kemajuan yang dicapai
Dinasti Murabithun mengalami kemajuan ketika berada di bawah kepemimpinan Yusuf bin Tasyfin. Ia memperluas kekuasaannya ke Fes, kemudian ke Tlemsan dan Aljazair, hingga mencapai pegunungan Kabyles. Prestasi ini menujukkan bahwa Murabithun merupakan dinasti suku Berber yang pertama kali berhasil menguasai sebagian besar wilayah Afrika Utara bagian barat.
Atas berbagai keberhasilannya itu, Dinasti Murabithun kemudian mendaulat diri sebagai dinasti yang otonom dimana penguasanya diberi gelar Amir Al-muslimin. Kemajuan Murabithun tidak hanya perluasan wilayah, tetapi juga di bidang yang lain. Masjid dan istana megah di Marakisy di bangun. Selain itu didirikan masjid Ja’i Tlemsan, masjid Qairuwan di Fes, masjid Agug Aljazair, dan lain-lainnya.
3)      Kemunduran dan kehancuran
Masa kemunduran dan kehancuran dinasti murobbitun disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu Faktor internal : Figur penguasa yang lemah, sehingga memberi peluang kepada bawahannya untuk mewujudkan kepentingan pribadinya, antara lain keinginan untuk menumpuk kebudayaan. Akibatnya banyak pembesar Murobbitun menguasai sejumlah tanah dan tampil sebagai tuan tanah. Semangat jihad yang mula-mula kuat menjadi lemah dan semakin hari semakin menipis, bahkan lenyap. Di bidang keagamaan, para fuqaha’ dipraktekkan secara sempit dan kaku, mereka bersikap menutup diri terhadap faham lain, bahkan mereka mengkafirkan faham lain yang dianggap tidak sama dengan faham mereka. Dan para fuqaha’ memanfaatkan otoritas amirnya menginstruksikan pembakaran kitab-kitab al-Ghazali, khususnya ihya’ ulumuddin yang tidak mereka sepakati karena lebih mengutamakan kaum sufi.
Sedangkan dari Faktor eksternal : Banyaknya pemberontakan secara terus-menerus, baik di Andalusia maupun Afrika Utara, Pasukan Muwahidun berhasil merebut Kota Aghmat dari Amir Ali bin Yusuf, M. Abdul Mu’min menggempur Murobbitun sehingga Marakesy semakin terjepit, bahkan Amir Ali bin Yusuf mengalami tekanan jiwa dan akhirnya meninggal dunia. Dua pemimpin pengganti Amir Ali bin Yusuf yaitu Tasyfin bin Ali dan kemudian Ishaq bin Ali keduanya terbunuh dan akhirnya Marakesy ditaklukan. Dengan jatuhnya Marakesy dan terbunuhnya Ishaq bin Ali, maka berakhirlah kekuasaan Murobbitun dan digantikan oleh Dinasti Muwahidun.[5]
C.  Dinasti Saljuk(1077-1307M)
1)      Sejarah pembentukan
Bani Saljuk berasal dari suku Ghuz dari suku Turkistan. Karena kondisi tertentu, keluarga ini dibawah pimpinan saljuk berpindah-pindah antara khurasan, Bukhara, Asfahan, dan Marwa. Dari Marwa  Sepeninggal Saljuk bin Tuqaq kepemimpinan bani Saljuk digantikan oleh anaknya yang bernama Israil. Melihat kekuatan yang semakin hari semakin kuat maka pemimpin kaum ghaznawy, sultan mahmud mulai waspada ia mengundang israil untuk berunding dengan cara menangkap dan memenjarakan israil. Tampaknya perundingan itu hanya tipu muslihat dalam usaha menangkap israil. Orang-orang saljuk mengangkat mikail sebagai pemimpin. Menyadari kekuatan bani saljuk tidak seimbang dengan kekuatan sultan mahmud, mikail memilih berdamai namun perdamaian itu tidak lama karena sultan mahmud menyerang bani saljuk, yang menyebabkan meninggalnya mikail.
Setelah mikail meninggal kaum saljuk dipimpin oleh thughrulbek dimasa ini khalifah abbasiyah yang waktu itu dipegang oleh al-qaim meminta bantuan untuk menumpas pemberontakan al-basasiry. Permintaan ini disambut baik oleh thughrul sehingga kaum saljuk segera memasuki kota Baghdad dan kemudian menjadi penguasa di abbasiyah. Thughrulbek dapat merebut ibu kota Baghdad dari tangan Al-basasiry. Karena kesuksesan itulah kemudian khalifah al-qaim memberi gelar al-mulk kepada thughrul bek.
2)      Kemajuan yang dicapai
Kemajuan yang dicapai yaitu pada masa pemerintahan Tughril Bek, Alp Arselan, Maliksyah, yang berhasil menaklukan wilayah Bukhara pada tahun 482H. Hasil peradaban yang telah dicapai antara lain:
a.    Politik
Kaum saljuk menjadikan pusat kejadian politiknya dikota Naisabur. Kaum saljuk menganut aliran sunni yang sama dengan madzhab keluarga Abbasiyah, karena itu kondisi khalifah lebih baik dibanding dengan sebelumnya, bani saljuk tidak berbuat sewenang-wenang terhadap keluarga khalifah. Wilayah-wilayah yang dikuasai bani saljuk diperintah oleh seorang sultan dan dibantu oleh wazir.  Setiap wilayah dipimpin oleh seorang syah, semua syah harus tunduk kepada sultan. Pada saat tughrulbek meninggal dunia bani saljuk dipegang oleh altarselan. Ia kemudian melakukan perluasan daerah yang dimulai oleh pendahulunya dan dilanjutkan ke arah barat sampai ke Bizantium. Ketika kekuasaan saljuk dibawa pimpinan malik syah wilayah kekuasaan bani saljuk sangat luas, wilayahnya membentang dari kashgor sampai ke Jerusalem. Secara umum pembagian wilayah-wilayah dizaman saljuk ini sebagai berikut:
1.      Saljuk besar yang menguasai khurasan, ray, jabal, irak, persia, dan ahwaz. Saljuk ini merupakan induk bagi yang lain yang dipimpiun oleh syah yang memerintahsebanyak 8 orang.
2.      Saljuk kirman, berada dibawah kekuasaan keluarga Qawurt Bekibn Daud Ibn mikail ibn saljuk. Jumlah syah yang memerinta 12 orang.
3.      Saljuk irak dan qurdistan. Pemimpin pertamanya adalah mughirs al-Din Mahmud. Saljuk ini secara berturut-turut diperintah oleh 9 syah.
4.      Saljuk syria. Diperintah oleh keluarga Tutush Ibn Alp Arselan Ibn Daud Ibn Mikail Ibn Saljuk. Jumlah syah yang memerintah 5 orang.
5.      Saljuk rum. Diperintah oleh keluarga Qutlumish Ibn Israil Ibn Saljuk. Jumlah syah yang memerintah seluruhnya 17 orang.
b.    Ilmu pengetahuan
                                                  Kemajuan bidang ini mulai tampak pada masa Alp Arselan dan mengalami kemajuan pada masa Sultan Maliksyah dengan berdirinya Perguruan Tinggi Nizhamiyah (1065 m) di kota Baghdad dan di Naisabur dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Hampir di setiap kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang Nizhamiyah. Intelektual yang terkenal diantaranya adalah Al-Ghazali. Perguruan Tinggi Nizhamiyah merupakan pergururuan yang telah teratur mengenai kurikulum dan silabusnya. Tenaga pengajarnya mendapat gaji yang cukup, semua mahasiswa belajar dengan gratis bagi yang miskin mendapat tunjangan tertentu dan pemerintah sudah mengalosikan anggaran yang cukup untuk semua kebutuhan perguruan tinggi ini, pendanaannya banyak diambil dari dana pajak dan dana wakaf.
c. Seni dan bangunan
Bangunan yang merupakan peninggalan Bani Saljuk di Isfahan merupakan pertanda besarnya perhatian mereka tentang pembangunan fisik. Selain pada masa itu banyak pembangunan seperti pemugaran benteng Bukhara, pembangunan berbagai masjid, rumah sakitm dan sekolah-sekolah di berbagai desa dan kota. Dalam bidang seni juga mendapat banyak perhatian diantaranya lukisan dan kaligrafi berkembang dengan baik. Sultan-sultan bani slajuk memberikan motivasi kepada para seniman.
3)      Kemunduran dan kehancuran
Sepeninggal Maliksyah menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan, dan tidak ada tokoh yang mampu mempersatukan kekuatan bani saljuk, sehingga kekuatan mereka bertambah lemah. Kekuasaan dinasti saljuk kemudian terbagi-bagi menjadi kerajaan kecil dimana masing-masing wilayah itu berada dibawah kekuasaan putra Maliksyah
Faktor luar yang mempengaruhi kemunduran dinasti saljuk adalah terjadinya perang salib yang cukup mengurus energi umat islam secara keseluruhan terutama dinasti Abbasiyah yang waktu itu berada dalm penguasaan dinasti saljuk, selain itu juga propinsi-propinsi mulai banyak yang melepaskan diri dari pemerintah, ditambah lagi dengan konflik didalam keluarga yang semakin melemahkan mereka dan kondisi ini diperparah dengan lahirnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri sperti Syahat Khawarizm, Ghuz dan Ghuriyah. Pada sisi yang lain kekuasaan Abbasiyah telah kembali terutama untuk wilayah Irak. Dan dinasti saljuk berakhir pada tahun 1196 M di tangan Khawarim Syah.[6] 
D.  Dinasti Muwahhidun( 1121-1269M)
1)      Sejarah pembentukan
Dinasti al-Muwahhidun adalah sebuah dinasti islam yang pernah berjaya dikawasan afrika utara dan Spanyol selama lebih satu abad, yaitu sejak tahun 515H/1121M hingga 667H-1269M. Dinasti ini didirikan pada tahun 1114 M, berdasarkan ajaran pendirinya, yakni Muhammad Bin Thumard (1080-1130M), yang dikenal dengan sebutan Ibn Thumart.[7]
Dinasti Al-Muwahhidun, yang berarti golongan berfaham tauhid yang didasarkan atas prisip dakwah Ibn Thumart yang telah memerangi faham at-Tajsim yang menggangap bahwa tuhan mempunyai bentuk yang berkembang diafrika utara pada masa itudibawah kekuasaan Dinasti Murobbitun atas dasar bahwa ayat yang berkaitan dengan sifat Tuhan yang tersebut dalam al-Quran , seperti tangan tuhan, yang tidak dapat dijelaskan dan harus difahami seperti apa adanya. Menurur Ibn Thumart, faham at-Tajsim ini identik dengan syirik, dan orang yang menganut faham ini adalah musyrik.
Al-Muwahhidun lahir untuk memprotes mazhab maliki yang kaku, konservatif dan legalistik yang berkembang di Afrika utara berkat dakwah Al-Murabithun. Di samping itu, dinasti ini muncul sebagai respon terhadap kehidupan sosial yang mengalami kerusakan sejak masa akhir kekuasaan Al-Murabithun. Sebagaimana Al-murabithun, kemunculan dinasti Al-Muwahhidun bermula dari gerakan dakwah agama beralih menjadi kekuatan politik dan reformasi sosial.
Gerakan dakwah ini di pelopori oleh Muhammad Ibn Tumart yang kemudian bergelar Al-Mahdi. Ia berasal dari kabilah Masmudah, Berber, suku Hargah di wilayah Sus Maghrib al-Aqsha. Ia adalah ulama besar yang pernah berguru di berbagai pusat ilmu pengetahuan, Spanyol dan Baghdad.
Dinasti Muwahhidun berkuasa selama kurang lebih 122 tahun dipimpin oleh 14 sultan. Mereka adalah Abdul Mukmin (1130-1163 M), Abu Ya’qub (1163-1184 M), Abu Yusuf Ya’qub (1184-1199 M), Muhammad Al-Nashir (1199-1214 M), Al-Mansur (1214-1223 M), Al-Makhlu (1223-1234 M), Al-‘Adil (1224-1227 M), Al-Mu’tasim (1227-1229 M), Al-Makmun (1227-1232 M), Al-Rashi (1232-1242 M), Al-Sa’id (1242-1248 M), Al-Murtadla (1248-1266 M) dan Al-Wasiq (1266-1269 M).
2)      Kemajuan yang dicapai
Ada beberapa hal penting yang menjadi faktor pendukung bagi perkembangan kemajuan yang dicapai oleh Dinasti al-Muwahhidun, antara lain: Adanya kemampuan managemen pemimpinnya. Adanya kemampuan, terutama dalam bidang managemen militer tersebut menjadikan Dinasti al-Muwahhidun memiliki pasukan yang kuat yang dilengkapi dengan armada laut berupa kapal perang, bahkan hal inilah yang mendorong Salahuddin al-Ayyubi bekerja sama dengan al-Muwahhidun untuk mengusir tentara salib yang mengasai sebagian negeri-negeri Islam di Timur. Perhatian penguasa terhadap amal sosial kemasyarakatan. Dalam bidang amal sosial, khususnya bidang kesehatan adalah berupa pembangunan rumah sakit dalam jumlah yang banyak guna diperuntukkan bagi orang miskin, bahkan di Maroko dibangun sebuah rumah sakit yang lengkap fasilitasnya, yang tidak ada bandingannya ketika itu. Sedangkan amal sosial lainnya adalah dibangun pula di berbagai kota panti penampungan jompo untuk orang-orang miskin.
3)      Kemunduran dan kehancuran
Kemunduran Dinasti Muwahhidun disebabkan utamanya karena luasnya wilayah, sementara penduduknya sangat majemuk yang terdiri dari bangsa Berber yang terkenal dengan sikapnya yang keras dan bengis. Wilayah yang luas ini, khususnya di Spanyol sulit dikontrol oleh pemerintahan pusat, sehingga akhirnya mudah dikuasai oleh tentara Kristen Spanyol yang belakangan mengalami kebangkitan politik pada 1212 M. Al-Nashir dengan tentaranya yang berjumlah lima ratus ribu orang dapat dikalahkan. Maka, sejak itu ibu kota di Spanyol jatuh ke tangan kekuasaan Kristen pada 633-636 H. Raja Ferdinand III dari Kastalah dan raja Jimm I dari Arrajun bersama-sama merebut kota Balansiyah, Cardova, Marsiyah dan Isbiliyah.
Adapun sebab yang menjadikan Dinasti Muwahhidun akhirnya mengalami kehancurannya adalah timbulnya berbagai pemberontakan di Afrika Utara yang menuntut kemerdekaan, seperti Bani Tilmasan. Namun, yang paling langsung adalah pemberontakan yang dilancarkan oleh bani marin yang berhasil merebut Marakisy. Maka, semua wilayahnya di Afrika Utara diambil alih oleh Bani Marin, sedangkan wilayahnya yang di Spanyol diambil alih oleh penguasa Kristen.
E.  Dinasti Ayyubiyyah(1171-1250M)
1)      Sejarah pembentukan
Dinasti Ayyubiyyah didirkan oleh Al-Malik Al-Nashir Shalahuddin Yusuf(al-Ayyubi). Ia merupakan seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dan Tikrit daerah utara Irak saat ini. Dinasti Ayyubiyah berdiri diatas puing-puing dinasti Fatimiyyah Syi’ah di Mesir. Disaat itu, Mesir mengalami krisis mengalami krisis dan pemerintahanya melemah disegala bidang. Orang-orang Nasrani mengintai Mesir sebagai lawan dalam memproklamirkan perang salib oleh Tentara Salib.
Berdirinya Dinasti Ayyubiyah dimulai ketika Shalahuddin mendampingi pamanya, Asaddudin Syirkuh yang mendapat tugas dari Nuruddin Zanki(Gubernur Suriah-Abbasiyyah) dalam rangka membantu Bani Fatimiyyah di Mesir. Perdana Menteri Syawar meminta bantuan Shalahuddin untuk menggalahkan Dirgam yang mengadakan kudeta terhadap pemerintahanya. Kemudian setelah tiga tahun, Shalahuddin juga mampu memberantas syawar (perdana mentri bani Fatimiyah) yang di anggap sangat membahayakan kaum Muslimin karena bersekutu dengan Amauri, panglima tentara salib. Shalahuddin berhasil menduduki Iskandariah, tetapi tentara salib telah mengepungnya.
Untuk mengatasi situasi yang rumit tersebut, akhirnya terjadi perjanjian damai diantara  ketiganya, yang isinya pertukaran tawanan perang. Shalahudin kembali ke Suriah, Amauri kembali ke Yerussalem dan Iskandariyah kembali kepada Syawan.  Pada tahun 1169M, tentara salib dibawah pimpinan Amauri kembali menyerang Mesir dan bermaksud menguasai Mesir. Al-adid yang pada waktu itu menjadi kholifah dinasti bani Fatimiyyah meminta bantuan Shalahudddin dan Asaduddin Syirkuh untuk mempertahankan mesir. Shalahuddin dan Asaduddin Syirkuh berhasil menggalahkan Amauri. Keberhasilan ini kemudian malah menjadikan Syawar dengki dan berencana membunuh Shalahuddin dan Asaduddin. Rencana itu gagal dan akhirnya ditangkap. Atas perintah khalifah Al-adid, Syawar dihukum mati.  Atas jasa-jasanya, Asaduddin diangkat menjadi perdana menteri oleh al-adid. Namun dua bulan setelah itu, asadudddin meninggal dan diangkatlah Shalahuddin untuk menggantikanya pada usia 32 tahun dan mendapat gelar al-Malik an-Nasair.[8]
Raja-raja yang berkuasa pada masa dinasti Ayyubiyah adalah sebagai berikut Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi(1174-1193M), Al-Aziz ‘Imad Al-Din(1193-1198M), Al-Mansur Muhammad(1198-1199M), Al-‘Adil I Sayf al-Din(1199-1218M), Al-kamil Muhammad(1218-1238M), Abu Bakar Al-Adil II(1238-1240M), Al-Malik Al-Shaleh Najm al-Din Ayyub(1240-1250M), Al-Muazzam Turansyah(1250M), Al-Asyraf Musa(1250M).
2)      Kemajuan yang dicapai
Dinasti Ayyubiyah mengalami masa kejayaan ditangan Shalahudddin Al-Ayyubi. Hasil peradaban yang telah dicapai antara lain:
·   Bidang Militer. Pada masa dinasti Ayyubiyah ini banyak dihabiskan untuk membela Islam dari tentara Salib. Kemengan selalu diraih oleh dinasti ayyubiyah kemajuan ini ditandai dengan Strategi yang baik dan senjata-senjata yang digunakan.
·  Bidang Industri dan Perdagangan. Adanya pabrik tekstil, parfum, kemenyan, getah arab, karpet, kain, gelas, merupakan kemajuan bidang industri.
·  Bidang pertanian. Antara lain irigasi yang praktis, pembangunan dan terusan produk pertanian dan ditemukanya gula.
·  Bidang Arsitek. Monumen bangsa arab, Masjid Beirut(mirip Gereja), istana-istana dll.
·  Bidang politik. Shalahuddin membuat beberapa kebijakan pemerintahan yaitu menganti Qadi-qadi(Hakim) syi’ah dengan hakim Sunni, mengganti pegawai yang korupsi, dan memecat pegawai yang bersekongkol dengan para pejabat.
3)      Kemunduran dan kehancuran
Setelah Al-kamil meninggal pada tahun 1238M, Dinasti Ayyubiyah berada diambang kehancuran. Hal ini ditandai dengan pertentangan-pertentangan yang terjadi dikalangan Intern. Serangan tentara salib kenam dapat diatasi, dan pemimpinya ditangkap. Setelah meninggal al-Malik Al-Shalih diganti oleh anaknya, Turansyah. Konflik terjadi antara Turansyah dengan Mamluk Bahr, Turansyah dianggap mengabaikan peran Mamluk Al-Bahr dan lebih mengutamakan tentara yang berasal dari Kurdi. Oleh karena itu Mamluk Al-Bahr di bawah pimpinan Baybars dan Izzudin Aybak melakukan kudeta terhadap Turansyah (1250 M).. Sedangkan di Syiria, keruntuhana Dinasti Ayyubiyah terjadi Setelah dapat dihancurkan oleh pasukan mongol. Dengan demikian berakhirlah Munculnya pemberontakan mamluk diwilayah Barat telah membunuh penguasa terakhir Dinasti Ayyubiyah dan Menggantikanya dengan salah satu pejabatnya menjadi Sultan baru Dinasti Ayyubiyah.

F.   Dinasti Delhi (1206 – 1555)
1)      Sejarah pembentukan
Periode ini dipimpin oleh Quthbuddin Aybak setelah hancur Gaznawi (1186 M) dan dinasti Ghuri (1192 M). Dua dinasti di atas, tampaknya tidak mampu mengembangkan kekuasaannya. Sementara Aybak lebih pandai karena ia memiliki kemampuan manajemen politik dan ketrampilan yang sangat hebat hingga ia akhirnya membentuk dinasti yang berpusat di Delhi dengan nama kesultanan Delhi. Kesultanan yang berisi para budak militer, menandai adanya periode tunggal dalam sejarah muslim india. Ini terjadi karena adanya kesinambungan kepemimpinan pemerintahannya, baik dalam suksesi kepemimpinan atas dasar warisan kepercayaan militer yang cukup panjang maupun dari segi keberlanjutan kepemimpinan para budak dan panglima yang tangguh berasal dari Turki dan Afganistan serta Asia Tengah, sebagai penerus generasi Mamluk.[9]
Dinasti delhi terletak di india utara. Dinasti delhi mengalami lima kali pergantian kepemimpinan yaitu dinasti mamluk, dinasti khalji, dinasti tuglug, dinasti sayid, dan dinasti lody. Pada periode pertama, delhi di pimpin oleh dinasti mamluk selama 84 tahun. Mamluk merupakan keturunan qutbuddin aybak, seorang budak dari turki. Dinasti khalji dari Afghanistan memerintah selama 30 tahun. Dinasti tugluq memerintah sampai 93 tahun, sedangkan dinasti sayid selama 37 tahun. Penguasa terakhir delhi adalah dinasti lody yang memerintah selama 75 tahun.peninggalan dinasti delhi antara lain adalah masjid kuwat al-islam  dan qutub minar yang berupa menara di lalkot, delhi (india).[10]
Wilayah kesultanan delhi terbentang dari timur sampai ke selatan. Kesultanan ini mendapat ancaman besar dari daerah barat laut dan juga tekanan dari para bangsawan. Akibatnya terjadi ketidak stabilan dalam kesultanan ini karena ada 5 dinasti yang berganti dengan cepat.
2)      Kemajuan yang dicapai
Beberapa kemajuan-kemajuan Kesultanan Delhi, antara lain
1.      Sistem Pemerintahan
Bentuk pemerintahan kesultanan Delhi adalah monarki. Sultan dibantu oleh badan-badan menteri yang membawahi masing-masing departemen yaitu departemen keagamaan, departemen hukum, departemen ketentaraan, departemen intelejen, departemen keuangan dan pendapatan.
Dalam kepemimpinannya, Muhammad bin Qasim telah meletakkan dasar-dasar kemasyarakatan yang baik dan harmonis. Dia mengatur sistem pertanahan, pertanian, administrasi pajak, membangun hubungan antar agama, serta memberi penghargaan terhadap tokoh-tokoh setempat yang dianggap berpengaruh dan membangun administrasi lokal yaitu sistem pancayat di pedesaan. Yang mana tanggung jawab pemerintahan lokal diserahkan kepada pemerintahan local, kepala pancayat dipilih langsung oleh rakyat setempat.
2.      Sistem Penegakan Hukum
Hukum dibawah pemerintahan kesultanan Delhi tidak benar-benar memakai hukum Islam. Secara etika keagamaan, para penguasa kesultanan ini tidak berpegangan pada tuntunan keislaman. Sangat jarang ditemukan sultan yang shaleh. Keuangan penguasa dan bangsawan dikontrol dengan ketat.
3.      Sistem Perdagangan
Sejak Ibn Qasim berada di India (Sind dan Multan) menyebabkan semakin banyak orang Arab yang menetap di sana dan melakukan perdagangan dengan orang-orang pribumi. Pusat-pusat perdagangan terkenal, antara lain, Daibul, Pantai Malabar (Kadangalur, Kalicut, Quilon), Pantai Karamandel termasuk Ceylon, Madura, Saptaragam Chittagong, Samandar, dan Akyab (sekarang di Birma). Dalam kesultanan Delhi ada peraturan yang mengontrol harga pasar seperti harga makanan, kuda, binatang ternak, budak, kain dan buah. Industri kerajinan yang ada pada masa itu adalah kapas, kain sutra, karpet, wol, besi dan gula. Wilayah ini juga telah memproduksi baja.
4.      Ilmu Pengetahuan
Dalam budaya di bidang ilmu pengetahuan seperti astrologi, astronomi, kedokteran, bahasa, seni, filsafat, dan sebagainya. Banyak orang yang mempelajari budaya India. Menurut Amir Khusru, Ahli astronomi Arab, Abu Mashar datang ke Benaras, pusat pendidikan budaya Hindu, dia belajar selama 10 tahun. Buku India banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada saat itu banyak ilmuwan yang dikirim ke India untuk memperlajari ilmu-ilmu yang ada.
5.      Kebudayaan
Ada banyak bangunan-bangunan yang didirikan oleh para Sultan Delhi antara lain istana kerajaan, benteng, masjid dan tugu. Andaikata, dinasti ini tidak hancur akibat penyerangan Timur Lang, niscaya akan banyak bangunan-bangunan indah yang tersisa. Sebab setiap penguasa yang menguasa masing-masing dinasti di Kesultanan Delhi berlomba-lomba membangun bangunan-bangun mewah.
Peninggalan kebudayaan non-fisik yang paling terasa sampai saat ini adalah Bahasa Urdu. Lahirnya bahasa ini disebabkan pada zaman Dinasti Ghazni dan Ghuri mengalami kesulitan berbahasa, mereka adalah orang turki berbahasa Persia dan Arab sedangkan pribumi berbahasa Pakrit dan Sansekerta. Kebutuhan komunikasi ini melahirkan bahasa baru yaitu Urdu.[11]
3)      Kemunduran dan kehancuran
Keruntuhan kesultanan Delhi mulai terlihat setelah kemunculan dinasti mamluk. Semenjak itu kesultanan semakin rapuh dan tidak stabil. Setelah dinasti mamluk runtuh kesultanan Delhi di pegang oleh Dinasti Khalji dengan mengangkat jalaluddin sebagai sultan Khalji oleh para bangsawan sekitar tahun 1290, ketika jalaluddin meninggal dinasti tersebut dilanjutkan oleh Al Husain. Pada masa ini dinasti tersebut mencapai masa keemasannya dan bertahan selama 30 tahun, setelah era tersebut dinasti khalji mengalami keruntuhan ketika seorang Gujarat, keluar dari islam dan merebut tahta kesultanan Delhi. Kekuasaan islam di India kembali ditegakkan oleh panglima malik Tughlag dengan mendirikan Dinasti Tughlagiah (1321-1412 M), ia berusaha memulihkan kembali stabilitas ekonomi dan administrative kesultanan dan menerapkan kembali kekuasaan muslim di Deccan.
Dinasti Tughlag berakhir ketika dinasti sayyid muncul pada 1414 M. Khitar Khan memegang peperangan dengan Mahmud syah, raja terakhir dinasti Tughlag. Di bawah dinasti ini, beberapa wilayah di kesultanan Delhi m,enyatakan emerdekaannya.[12]
G. Dinasti Mamluk
1)      Sejarah pembentukan
Dinasti Mamluk didirikan oleh para budak. Mereka pada mulanya adalah orang- orang yang ditawan oleh penguasa Dinasti Ayyubiyah sebagai budak, kemudian dididik dan dijadikan tentaranya. Dinasti Mamluk memiliki wilayah kekuasaan di Mesir dan Suriah. Dinasti Mamluk yang memerintah di Mesir dibagi dua, yaitu Mamluk Bahrii dan Mamluk Burji.
Sultan pertama Dinasti Mamluk Bahri adalah Izzuddin Aibak. Sultan Dinasti Mamluk Bahri yang terkenal antara lain adalah Qutuz, Baybars, Qalawun, dan Nasir Muhammad bin Qalawun. Baybars adalah sultan Dinasti Mamluk Bahri yang berhasil membangun pemerintahan yang kuat dan berkuasa selama 17 tahun.
1.    Masa Pemerintahan Mamluk Bahriyah (648-792 H/1250-1389 M)
Pemerintahan didirikan oleh Malik Saleh Najmuddin Ayyub. Kemudian mereka membangun sebuah benteng di Kepulaun Raudhah pada tahun 638 H/1240 M. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan Mamluk Bahriyah atau Shalihiyah.
a.    Menggapai ke Puncak Kekuasaan
Malik Salih al-Ayyubi meninggal saat pasukannya sedang sibuk melawan pasukan Salib yang dipimpin oleh Louis IX. Istrinya yang bernama Syajaratud Dur menyembunyikan kabar kematiannya dan dia mengatur negara atas namanya. Dengan demikian dia adalah ratu pertama yang pernah hadir dalam sejarah islam. Dia memanggil anaknya Turansyah untuk mmegang kekuasaan. Kemudian dia datang dan berhasil mengalahkan orang-orang Salibis Kristen berkat bantuan orang-orang Mamluk pada tahun 648 H/1250 M.
Setelah itu Turansyah di bunuh oleh Syajaratud Dur dan dia memegang sepenuhnya roda kekuasaan. Perbuatan ini mengundang reaksi keras dari pemerintahan Abbasi. Melihat kondisi yang genting ini, dia segera menikah dengan salah seorang terpandang dari Mamluk  yang bernama Izzuddin Abeik. Kemudian dia menyerahkan kekuasaan itu kepada suaminya. Raja dari pemerintahan Ayyubiyah an-Nashir bin Yusuf, penguasa Syam, berusaha untuk mengambil alih kembali Syam. Namun, dia kalah perang dengan pasukan Mamluk.
Syajaratud Dur membunuh suaminya. Maka wanita ini pun dibunuh oleh orang-orang Mamluk sebagai balas dendam atasnya pada tahun 655 H/1257 M. Setelah itu naiklah Nuruddin bin ‘Izzuddin Abeik. Pada saat itulah orang-orang Mongolia datang menyerang Baghdad dan menghancurkannya pada tahun 656 H/ 1268 M. Setelah itu mereka berangkat menuju Syam. Maka, Saifuddin Qathaz bersiap-siap memerangi orang-orang Mongolia itu.
b.    Perang ‘Ain Jalut
Pada tanggal 15 Ramadhan tahun 658 H/1259 M terjadi perang ‘Ain Jalut (dekat Nablus di Palestina) yang sangat terkenal antara orang-orang Mamluk dengan pimpinan Sultan Qathaz dan panglimanya azh-Zhahir Babiris dengan orang-orang Mongolia yang kejam dengan pimpinan Kitabukawakil Hulaku. Kaum muslimin mengalami kemenangan yang sangat gemilang dan berhasil mengusir orang-orang Mongolia dari Syam. Maka, Mesir dan Syam kini berada di bawah kekuasaan Mamluk. Lalu stabilitas negara saat itu menjadi normal.
Perang ini merupakan peristiwa besar dalam sejarah islam dan merupakan kemenangan pertama yang berhasil dicapai oleh kaum muslimin terhadap orang-orang Mongolia. Mereka berhasil menghancurkan mitos yang mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah terkalahkan. Setelah perang Ain Jalut kaum muslimin pernah menang dalam perang manapun atas orang-orang Mongolia.
Setelah kemenangan ini kaum muslimin mengejar orang-orag Mongolia kearah utara. Mereka berhasil mengalami kekalahan yang sangat mengenaskan kembali dalam perang Qayasairiyah (di Asia kecil).
2. Masa Pemerintahan Mamluk Barjiyah (792-923 H/1389-1517 M)
a. Asal-usul Mamluk Barjiyah
Mereka berasal dari Syarakisyah dari negeri Georgia yang berdekatan dengan Laut Hitam. Mereka dibeli oleh sultan Qalawan, salah seorang Raja Mamluk Bahriyah, dengan harapan untuk menguatkan posisi keluarganya. Mereka disebut dengan Mamluk karena sekelompok dari mereka tinggal diujung benteng (barj).
b. Peristiwa-peristiwa Penting di Masa Pemerintahan Mereka
1.        Pada tahun 792 H/1389 M Shalih Haji dicopot dan diangkatlah Sultan Barquq. Maka, bergeserlah kekuasaan dari Mamluk Bahriyah ke Mamluk Barjiyah.
2.        Pada tahun 803 H/1400 Mpasukan Tartar yang dipimpin Timurlank berangkat menuju Syam dan menghancurkan kota itu serta membunuh pasukan Mamluk yang membela negeri itu
3.        Pada tahun 805 H/1402 M pasukan Timurlank berangkat menuju pusat pemerintahan Utsmani dan berhasil mengalahkan mereka di Ankara serta berhasil melawan Sultan Bayazid. Lalu, menempatkannya dalam penjara hingga meninggal.
4.        Pada  tahun 830 H/1426 M     pasukan Mamluk berhasil mengalahkan pasukan Salibis dengan kemenangan besar dan mengusir mereka dari kepulauan Siprus dan pada saat yang sama mereka berhasil mengancam kepulauan Rhodesia.
5.        Pada saat orang-orang portugis sampai ke pantai-pantai India, kaum muslimin yang berada disana meminta bantuan pasukan Mamluk. Mereka pun berangkat untuk memberikan bantuan. Namun, mereka berhasil dikalahkan oleh orang-orang Portugis pada tahun 950 H/11509 M. Setelah itu orang-orang Portugis masuk ke perairan negeri Arab dan memasuki Laut Merah.
  2) Kemunduran dan kehancuran
Akhir Pemerintahan Dinasti Mamluk ketika Pemerintahan Syiah ash-Shafariyah bersekutu dengan orang-orang Portugis  dalam melawan orang-orang Portugis dalam melawan pasukan Utsmani yang meminta kepada orang-orang Mamluk untuk membantu menghancurkan musuh mereka bersama. Namun, orang-orang Mamluk menolak memberikan bantuan. Bahkan, juga melarang orang-orang utsmani untuk masuk ke wilayah mereka dalam usaha melawan pasukan Portugis.[13]











BAB III



PENUTUP

A. SIMPULAN
Dinasti Buwaihi berkuasa tahun 334-447H/ 945-1055M di Syiraz Persia. Berasal dari tiga bersaudara yaitu Ali, Hasan, dan Ahmad ibn Buwaihi. Ketiganya adalah anak dari Abu Sujak Buwaihi(nelayan di Dailam). Murobbitun adalah sebuah gerakan keagamaan di kalangan kaum Barbar yang pernah berkuasa di Afrika Utara dengan beribukotakan Marakesy. Di masa kejayaan dinasti ini, kekuasaannya mencapai negeri Spanyol pada saat politik di Andalusia mengalamai perpecahan. Bani Saljuk berasal dari suku Ghuz dari suku Turkistan. Karena kondisi tertentu, keluarga ini dibawah pimpinan saljuk berpindah-pindah antara khurasan, Bukhara, Asfahan, dan Marwa. Dinasti al-Muwahhidun adalah sebuah dinasti islam yang pernah berjaya dikawasan afrika utara dan Spanyol selama lebih satu abad, yaitu sejak tahun 515H/1121M hingga 667H-1269M. Dinasti Ayyubiyyah didirkan oleh Al-Malik Al-Nashir Shalahuddin Yusuf(al-Ayyubi). Ia merupakan seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dan Tikrit daerah utara Irak saat ini.




DAFTAR PUSTAKA


Al-Azizi, Abdul Syukur. 2014.  Kitab Sejarah Peradaban Islam terlengkap: Menelusuri Jejak-jejak Peradaban Islam di Barat dan Timur. Jogjakarta: Saufa
 Al-Usairy, ahmad. 2011. sejarah islam. Jakarta: Akbar media.
Fu’adi, imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta : Teras.
http://patahkekeringan.blogspot Amin.co.id/2014/12/sejarah-peradaban-islam-di-andalusia.html
Khoiriyah. 2012.  Reorientasi Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Sukses Offest.
Munir, Samsul. 2010.  Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
Supriyadi, Dedi, 2008,  Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia.











BIODATA PENULIS


Nama                                                   :FITRIANA (2021114008)
Tempat, Tanggal Lahir                        :Pekalongan, 09 Februari 1996
Alamat                                                            :Sidorejo Gg. 19A  Tirto Pekalongan.
Riwayat Pendidikan                           : TK MUSLIMAT NU SIDOREJO.
  MIS SIDOREJO
  MTs-IN BANYURIP AGENG
  MAs SIMBANG KULON
Nama                                                   : Reizka Efrilia Sanam (2021113053)
Tempat, Tanggal Lahir                        : Pemalang, 15 April 1996
Alamat                                                : Pesucen Petarukan Pemalang
Riwayat Pendidikan                           : TK PERTIWI DESA PESUCEN
                                                            SDN 01 PESUCEN
                                                            MAN PEMALANG
Nama                                                   : Ria Ovika S (2021114142)
Tempat, Tanggal Lahir                        :30 September 1996
Riwayat Pendidikan                           : SD N 01 WONOGIRI
                                                            SMP N 01 AMPEL GADING
                                                            SMA PMS KENDAL
Nama                                                   :Wahyuni Nafisah  (2021114226)
Tempat, Tanggal Lahir                        Tegal, 27 Agustus 1996
Alamat                                                            : Desa Balapulang wetan , Tegal
Riwayat Pendidikan                           : SDN BALAPULANG WETAN 07
SMP N 1 BALAPULANG
MAN BABAKAN LEBAKSIU TEGAL



[1] Khoiriyah, Reorientasi Sejarah Peradaban Islam, ( Yogyakarta: Sukses Offest, 2012), hlm.145
[2] Khoiriyah, Loc. cit hlm.146
[3] Imam fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta : Teras, 2011), hlm 185-197
[4]http://patahkekeringan.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-peradaban-islam-di-andalusia.html
[5] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah, (Yogyakarta : Teras, 2012), hlm 97
[6]ibid, hlm 208
[7] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm.270                          
[8] Khoiriyah,op.cit, hlm. 166
[9] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm 258.
[10] Samsul Munir Amin., Op.Cit. hlm. 279
[11] https://padinadariyanti.wordpress.com/2012/11/17/kesultanan-delhi-kesultanan-pertama-islam-di-anak-benua-india1/
[12] Abdul Syukur al-Azizi, Kitab Sejarah Peradaban Islam terlengkap: Menelusuri Jejak-jejak Peradaban Islam di Barat dan Timur, (Yogjakarta: Saufa. 2014), hlm. 265-270
[13] Ahmad Al-Usairy, sejarah islam., (Jakarta: Akbar media 2011), hlm. 302-311



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar