Laman

Selasa, 17 April 2012

F1-xx Nurfita Lestari


MAKALAH

PROFESIONAL DALAM MENDIDIK

Disusun guna memenuhi Tugas :
Mata Kuliah                   : Hadits Tarbawi II
Dosen pengampu           : Ghufron Dimyati, M.Si





Description: D:\FOTO\LOGO\STAIN_warna.jpg
 











Disusun oleh:

NURFITA LESTARI
202109244
Kelas F


JURUSAN TARBIYAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2012

PENDAHULUAN

Mendididk  anak adalah tugas yang sangat mulia dimana orang tua mengarahkan anak-anaknya ke arah yang diridhai Allah SWT.
Orang tua dapat mendidik anaknya seperti yang diajarkan oleh rasulullah dalam mendidik anaknya, yaitu dalam pendidikan anaknya kepada empat aspek
1.    Pendidikan Aqidah
2.    Pendidikan Ibadah
3.    Pendidikan Dakwah
4.    Pendidikan Akhlak
Dengan begitu akan tercipta anak-anak yang selalu berada di jalan Allah, selalu ingat perintah-perintah Nya.



















PEMBAHASAN

A.  Hadits
عن عمروبن شعيب عن أبيه عن جده قال: قال رسول لله صلى الله عليه وسلم مروا أبناء كم بالصلاة لسبع سنين وا ضربو هم عليها لعشرسنين وفرقوابينهم في المضاجع وإذ انكح أحدكم عبده او أجيره فلا ينظرن الى شيى من عورته فإن ما أسفل من سرته إلى ركبتيه من عورته
Dari Amr bin Syu’aib dari apaknya dari kakenya berkata Rasulullah Saw bersabda: “ Perintahkanlah anak-anakmu untuk melakasanakan sholat ketika berumur 7 tahun, dan pukullah mereka (jika membangkang) ketika berumur 10 tahun, dan pisahkan tempat tidurnya, dan ketika salah satu diantara kamu menikahi budak atau babu, maka janganlah melihat sesuatu dari auratnya, maka sungguh aurat itu berada di bawah pusar dampai lutunya.
عن بن عباس رضي الله عنهما قال: أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بتعليق الشوط فى البيت
Dari Ibnu Abbas R. A berkata : “ sesungguhnya Nabi SAW menyuruhnya untuk menggantungkan cambuk didalam rumah.”

B.  Mufrodat
Perintahlah
مروا
Pukulah
وا ضربو هم
Pisahkan
وفرقو
Tempat tidurnya
المضاجع
Budak atau babu
او أجيره
Menggantungkan
بتعليق
Cambuk
الشوط




C.  Biografi Rawi
1.      Amar bin Syu’aib
Nama lengkapnya adalam Amr Bin Syu’aib bin Muhammad bin Abdillah Bin Amru bin Ash al Qurayi Asshami, beliau berasal dari Thoif, beliau merupakan generasi ke-4, beliau berguru kepada ayahnya. Adapun murid-murid beliau adalah atha’ Umar bin Dinar dann lain-lain. Beliau meninggal pada tahun 118 H.[1]

2.      Ibnu Abbas
Nama Asli adalah Abdullah Bin Abbas bin Hasyim, tetapi beliau biasa dipanggil dengan Ibnu Abbas saja. Ia Lahir sebelum tahun 3 H. Ia di do’akan Rasulullah Saw agar diberi kepahaman mengenai Al-Qur’an, sehingga ia mempunyai pengetahuan yang luas. Dan Umar berkata: bahwa Abbas merupakan salah satu orang yang banyak meriwayatkan hadits sejumlah 1660. Ia wafat di kota Thoif pada tahun 86 H. A merupakan salah satu dari sekian banyak sahabat Nabi dan merupakan salah satu sahabat yang ahli dalam ilmu fiqih.[2]
Adapun sifat-sifatnya antara lain ialah:
-       Kamuannya keras dan perhatiaannya di arahkan untuk ilmu
-       Jiwanya suci
-       Tidak menyimpan dendam terhadap siapapun
-       Menginginkan kebaikan bagi setiap orang yang dikenalnya ataupun tidak
-       Kuat ibdahnya
-       Rajin bangun malam untuk ibdah
-       Cenderung menjauhi persengketaan, perselisihan, dan memudahkan perdamaian serta bersikap lemah lembut.[3]

D.  Keterangan Hadits
Hadits diatas menerangkan perintah untuk sholat dan memukulnya jika membangkang ketika berumur 10 tahun. Hukuman dengan memukul adalahg hal yang diterapkan oleh Islam. Dan ini dilakukan pada tahap terakhir, setelah nasehat dan meninggalkannya. Tata cara yang tertib ini menunjukan bahwa pendidik tidak boleh menggunkan yang lebih keras jika yang lebih ringan sudah bermanfaat.[4]
Bolehnya memukul anak untuk mendidik mereka jika mereka melairkan yang melanggar syari’at jika anak telah mencapai usia yang memungkinkan bisa menerima pukulan dan mengambil pelajaran-pelajaran darinya dan ini biasanya di usia 10 tahun. Dengan syarat pukulan-pukulan tersebut tidak terlalu keras dan tidak pada wajah.[5]
Rahasiannya agar anak dapat mempelajari hukum-hukum ibadah ini sejak masa pertumuhannya, sehingga ketika anak tumbuh besar di terbiasa melakukan dan terdidik untuk menaati Allah, melaksanakan kewajibannya, bersyukur kepada Nya, kembali kepada Nya, berpegang teguh kepada Nya, bersandar dan berserah diri Kepada Nya. Disamping anak akan mendapatkan kesucia rohani, kesehatan jasmani, dan kebaikan akhlak dalam ibadah.
Menggantungkan cambuk didalam rumah, hadits tersebut bukan maksud agar orang tua sering memukul anggota keluarganya tetapii maksudnya adalah sekedar membuatnya takut terhadap ancaman tersebut sehingga mereka meninggalkan perbuatan buruk dan tercela.[6]

E.  Aspek Tarbawi
Ayah dan ibu (orang tua) hendaknya selalu memberikan contoh dan suri tauladan, baik mora/akhlak dan watak harus menunjukkan pribadi muslim pada umumnya. Jika pepatah mengatakan “ orang tua kencing berdiri, maka anak akan kencing berlari”. Sehingga apabila orang tua menunjukan sikap dan watak ytang kurang terpuji maka anaka akan  memiliki sifat yang lebih buruk lagi.
Pepatah jawa mengatakan “ kacang ora ninggal lanjaran” yang artinya “ sifat yang dimiliki oleh induknya, akan menurun kepada anaknya”.
Pepatah-pepatah tersebut jika di kaji secara filosofi tidak bertentangan dengan ajawan islam. Untuk itu islam menganjurkan orang tua di tuntut untuk senantiasa bersikap dan berbuat sesuai dengan garis-garis yang ditetapkan oleh Allh dan Rasul Nya.[7]
Ada baiknya sebagai pedoman dan perbandingan kita pelajari bagaimanan Luqman mendidik adanknya, sebagaimana  yang di abadikan oleh Allah dalam surat Luqman ayat 13-19. Luqman menekankan perhatiannya dalam pendidikan anaknya kepada empat aspek, yaitu aidah, ibadah, akhlak dan dakwah.
1.        Pendidikan Aqidah
Pendidikan aqidah perlu dittanamkan kepada anak sedini mugnkin. Anak  diajak mengnal Allah SWT dengan memperkenalkan bermacam-macam ciptaan Allah yang Maha Rahman. Pendidikan Tauhid sangat penting sekali sebagai modal dasar bagi anak dalam menjalani roda kehidupan nanti. Bahwa apa saja yang dikerjakan manusia, betapapun halus dan kecunya, tidak luput dari pandangan Allah, baik buruk semua akan dicatat dan diberi balasan yang adil.
2.        Pendidikan Ibadah
Setelah rasa aqidah dan ditanamkan kepada anak, Luqman mengajaknya membiasakan diri melakukan ibdah yang diperintahkan oleh Allah dna Rasul Nya. Sesuatu, betapapun ringannya, kalau tidak dibiasakan akan terasa berat. Sebaliknya sesuatu yang berat kalau dibiasakan terasa ringan. Pertama Luqman menyuruh anaknyanya mendirikan sholat karena sholat adalah tiang agama dan menjadi barometer ketaqwaan seseorang kepada Allah.
Rasulullah saw mengajarkan kepada orang ta untuk menyuruh anaknya mendirikan sholat pada umur 7 tahun dan memberikan sanks pada umur 10 tahun bila masih belum mau mendirikan shalat. Tentu saja disiplin ibadah baru bisa didirikan di tengah keluarga apabila bapak atau ibu terlebih dahulu melaksanakannya (akan lucu sekali apabila seorang bapak memarahi dan memukul anaknya karena tidak sholat, sedangkan dia sendiri tidak melaksanakannya).
Adapun persyaratan memberikan hukuman pukulan adalah sebagai berikut:
1.         Pendidik tidak terburu menggunakan metode pukulan, kecuali setelah menggunakan semua metode yang lembut, yang mendidik dan membuat jera
2.         Pendidik tidak memukul ketika dalam keadaan sangat marah, karena di khwatirkan menimbulkan bahaya terhadap anak.
3.         Ketika memukul hendaknya menghindari anggota badan yang peka, seperti kepadala, muka, dada dan perut.[8]
Disiplin yang ditanamkan dari kecil oleh orang tua akan meninggalkan bekas yang lama, sehingga nantinya anak tidak mudah tergoda meninggalkan perintah-perintah Allah SWT.
Pada masa anak berumur 10 tahun, anak-anak supaya dipisahkan tempat tidurnya dari sadara-saudaranya, maupun dari ibu bapaknya. Dengan pendidikan mengerjakan sholat, anak-anak akan mempunyai kebiasaan sebagai berikut:
a.         Bersih, yaitu bersuci dengan wudhu’
b.         Belajar menutup aurat
c.         Disiplin dan menjaga waktu
d.        Menghormati piminan atau imam
e.         Mengingat  Allah yang dapat memberikan ketenangan pikiran
f.          Selanjutnya dengan mengerjakan sholat mendidika remaja menghadapi masa puber yang sangat berbahaya, karena sholat yang sesungguhnya mencegah orang berbuat kejahatan.
3.        Pendidikan Akhlak
Luqman menanamkan kepada anaknya sifat keberanian menyatakan kebenaran, dan mengajak orang untuk melakukannya, serta keberanian menunjukkan mana yang salah dan melarang orang untuk mendekatinya. Inilah sikap da’i yang tidak mementingkan dirinya sendiri tetapi juga memperhatikan lingkungan sekitarnya. Apabila setiap orang berusaha amar ma’ruf dan nahi mungkar tentu dunia ini akan penuh kedamaian saling sengketa akan bisa diatasi
4.        Pendidikan Dakwah
Manusia menurut pandangan Allha mempunyai nilai dan kedudukan yang sama. Allah tidak menilai seseorang dari tampan rupa atau gagahnya peampilan fsik, tetapi Allha hanya menilai hati dan amalan. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi seseorang untuk berbuat sombong kepada orang lain. Seseorang harus menghormati orang lain. Yang tua di hormati yang kecil yang disayang, dan yang sesama besar saling menghargai.[9]




PENUTUP

Sebagai orang tua merasa perlu di perluasnya pengetahuan tentang membina rumah tangga dan mendidik anak-anaknya guna memelihara tegaknya nilai-nilai moral. Sebagai agama yang memberikan pedoman hidup kepada umat manusia dalam segala aspeknya. Islam mengatur dan memberi arah juga kepada manusia dalam hal kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap umatnya ketika sudah memasuki waktu yang telah ditentukan.
Sebagai contoh seseorang anak yang sudah berumur 7 tahun maka orang tua anak tersebut harus menyuruhnya shalat dan diberi sanksi ketika berumur 10 tahun jika tidak mengajarkannya.



DAFTAR PUSTAKA

Syihabudin ahmad bin Ali bin Hajar Asqolimi, Tahdibu Tahdib, Mesir: Darul Fikr.
Miri Jamaludin. 1999. Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta: Pustaka Amani.
Hasan, Maimunah. 2000. Rumah Tangga Islam. Yogyakarta: Bintang Cemerlang.
Ilyas, Yunahur. 2004. Kuliah Akhlak. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
http://noencahyana. blogspot.com/2010-12-22_archive.html.
www.elitha_eri.net. /2007/06/28/biografi_singkat_Abdullah_bin_Abas.


[1] Syaihabuddin Ahmad bin Ali bin Hajar Asqolani, Kitab Tahdibu Tahdib, (Mesir: Darul Fikr, 852)
[2] Drs Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak Dalam Islam ( Jakarta: Pustaka Amani, 1999), Cet.II, Hal. 321
[3] www.elitha_eri.net/2007/06/28/biografi-singkat-Abdullah-bi-Anas
[4] Drs Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak Dalam Islam ( jakarta: Pustaka Amani, 1999), Cet.I, hal. 167-168
[5] Maimunah Hasan, Rumah Tangga Muslim, (Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2000), Cet I., hal. 71-72
[7] Drs. H. Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.2004), hal. 179-180
[8] Drs Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak Dalam Islam ( Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hal. 325
[9] Op.Cit., hal. 181-182.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar