Laman

Minggu, 15 Maret 2015

G - 5 - a: SAHURIP



AKAL, ILMU dan AMAL
Mata Kuliah: Hadist Tarbawi II


Disusun Oleh:
Sahurip            (2021113010)
Kelas: G

JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Hadist Tarbawi II “Akal, Ilmu dan Amal” dapat terselesaikan dengan baik.
            Penulis berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku dosen pengampu Mata Kuliah Hadits Tarbawi II. Tak lupa kepada teman-teman kelas PAI G yang memberikan motivasi kepada penulis untuk bisa menyelesaikan tugas makalah ini.
            Penulis menyadari dalam makalah ini jauh lebih dari kata sempurna, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembacanya.



Pekalongan, 13 Maret 2015
Penulis






BAB I
PENDAHULUAN
Hadits sebagai sumber kedua setelah Al – Qur’an selain mempunyai fungsi menjelaskan, menguatkan hukum yang ada dalam  AL – Qur’an juga merupakan  sumber ilmu pengetahuan (keagamaan), humaniora (kemanusiaan) dan pengetahuan sosial yang dibutuhkan umat manusia.
 Hadits dari Aisyah mengatakan bahwa manusia bisa utama baik di dunia maupun di akhirat dengan akalnya. Allah SWT menganugerahkan akal kepada manusia, dengan akal itulah manusia berbeda dari makhluk – makhluk lainnya. Dan dengan akal juga manusia dikenai kewajiban oleh Allah SWT. Agar manusia tidak sesat, maka akal manusia harus dibekali dengan ilmu yang bermanfaat sehingga manusia mendapatkan keutamaan baik di dunia maupun di akhirat.


















BAB II
PEMBAHASAN
1.      Pengertian
Akal adalah sarana terpenting yang dapat membantu manusia membangun peradaban dibumi dan melaksanakan tugas kekhalifahan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT. Allah SWT menganugerahkan kepada manusia suatu petunjuk yang tinggi, yaitu petunjuk akal. Akal itulah yang membedakan manusia dari semua makhluk lainnya. Dengan akal, manusia dapat mengetahui dirinya sendiri dan dunianya serta Rabbnya. Dan akal itulah yang menjadikan manath al-taklif ( sebab manusia dikenakan kewajiban oleh Allah SWT ).
Akal juga sering tergesa-gesa, sombong atau dikuasai oleh ambisi. Akal juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan, latar belakang keagamaan, dan budaya masyarakat yang ia warisi, baik pengaruh ini merupakan pengaruh positif ataupun negatif.[1]
Karena itu, akal sebagaimana dikatakan oleh Imam Muhammad Abduh memerlukan penolong yang dapat membimbingnya kejalan yang benar, pembimbing itu akan memberikan perasaan damai apa yang akan dicapai oleh akal, pembimbing akal ini adalah wahyu Ilahi.[2]
Sedangkan Ilmu menurut etimologi berasal dari kata bahasa Arab عَلِمَ artinya mengetahui, sedangkan menurut istilah yaitu:
اَ لْعِلْمُ صِفَة ٌيَنْكَشِفُ بِهاَ ا لْمَطْلُوْ بِ ا ِنْكِشاَ فاً تاَ ماً
ilmu adalah suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu yang dituntut bisa terungkap dengan senpurna”.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan sarana untuk mengungkap, mengatasi, menyelesaikan dan menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia. Dengan ilmunya orang akan dapat memikirkan semesta dengan segala kemahakuasaan Penciptanya, dimana proses berfikir itu melibatkan akalnya.[3]
Sedangkan amal adalah perbuatan manusia yang biasanya mengacu pada perbuatan positif atau aplikasi ilmu dalam kehidupan.
Bisa dikatakan bahwa setiap perbuatan atau amalan manusia itu semua dapat dilakukan karena adanya akal dan ilmu yang telah Allah berikan kepada tiap-tiap manusia agar mereka dapat melakukan sesuatu dalam kehidupannya. Dari akal manusia dapat memikirkan sesuatu dan mencoba mencari tahunya secara terus menerus yang disebut dengan ilmu yang kemudian ilmu tersebut akan disampaikan kepada orang lain atau sebagai amal.
Seorang muslim yang unggul dengan akal dan kebersihan pikirannya adalah manusia yang lurus, seimbang dan realitas, bukan manusia yang gelisah dan goncang jiwanya. Orang seperti ini akan menyingsingkan lengan baju untuk segera bersungguh-sungguh dalam beramal sholeh tanpa bersandar kepada asal keturunan, kemuliaan nenek moyang dan tempat tinggal.[4]
2.      Teori Pendukung
Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir,namun sayang kebanyakan dari mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir tersebut, semakin dalam ia berpikir semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.[5]
Fungsi dan peran ilmu :
a.       Ilmu merupakan sarana dan alat untuk mengenal Allah SWT.
b.      Ilmu akan menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan
c.       Ilmu merupakan syarat utama diterimanya seluruh amalan seorang hamba, maka orang yang beramal tanpa ilmu akan tertolak seluruh amalannya.
            Dan sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang diamalkan, sedang beramal sendiri diperlukan akal agar pengamalan ilmunya tepat sesusai dengan apa yang diharapkan. Dengan demikian menjadikannya ilmu yang bermanfaat.
3.      Materi Hadist
a.       Hadits 21   : Proses Akal Sehat ( Akal, Ilmu dan Amal )
عَنْ عَائِشة قَالَتْ:﴿  قُلْتُ  يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَيِّ شَئٍ يَتَفَاضَلُ النَّاسُ فِى الدُّنْيَا ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ, قَلَتْ فَفِى اْلأَخِرَةِ ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّمَا يُجْزَوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ ؟ قَالَ وَهَلْ عَمِلُوْا اِلاَّ بِقَدْرِمَا أَعْطَاهُمْ اللهُ مِنَ الْعَقْلِ فَبِقَدْرِمَا أُعْطُوْا مِنَ الْعَقْلِ كَانَتْ أَعْمَالُهُمْ وَبِقَدْرِمَا عَمِلُوْا يُجْزَوِنَ﴾   ( رَاوَهُ الحَارث فِى الْمُسْنَد )

b.       Terjemah Hadits
Dari ‘Aisyah-ra- ia berkata : saya bertanya kepada Rasulullah, dengan apakah manusia bisa utama di dunia. Rasulullah berkata ; dengan akal. Aisyah bertanya lagi : kalau diakhirat?, Rasulullah menjawab ; dengan akal. Maka Aisyah bertanya lagi : (bukankah) manusia sesungguhnya manusia itu dibalas hanya karena amal-amalnya. Rasulullah menjawab : dan tidaklah manusia-manusia beramal kecuali dengan sekedar yang Allah SWT berikan yaitu akal. Maka dengan sekedar apa yang telah diberikan kepada mereka (akal) itulah amal-amal mereka. Dan atas sekedar apa yang mereka kerjakan, maka mereka mendapat balasan.
4.      Refleksi Hadist
Pedoman berpikir umat islam pada dasarnya juga sebaiknya meniru dan mengacu pada sunnah Rasulullah dalam berpikir, dan bukanlah Muhammad SAW, juga seorang filosof dan bahkan teladan berpikir ini menjadi lebih penting daripada yang lainnya, karena berpikirlah yang menentukan kualitas manusia, sehingga mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada makhluk Tuhan lainnya. Akal pada hakikatnya merupakan potensi ruhaniah yang dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batal, mana yang benar dan mana yang salah. Akal dalam pandangan islam bukanlah otak, tetapi merupakan daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang dalam Al-Qur’an digambarkan memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya.[6]
Sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang diamalkan, sedang beramal sendiri diperlukan akal agar pengamalan ilmunya tepat sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan demikian menjadikannya ilmu yang bermanfaat.
5.      Aspek Tarbawi
a.       Dengan akal manusia mempunyai kelebihan-kelebihan dibanding makhluk-makhluk lainnya sehingga akal memudahkan urusan mereka di dunia tentunya diimbangi dengan ilmu yang ada.
b.      Menggunakan akal dalam rangka mendapatkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupannya, seperti memikirkan dan merenungi ciptaan-ciptan Allah SWT dan syariat-syariat Nya.
c.       Memuliakan dan menjaga akal dengan hal-hal positif.









PENUTUP
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa akal merupakan sesuatu yang hanya dimiliki manusia yang membedakannya dengan makhluk-makhluk lain. Dari akal manusia dapat memikirkan sesuatu dan mencoba mencari tahunya secara terus menerus yang disebut dengan ilmu yang kemudian ilmu tersebut akan disampaikan kepada orang lain atau sebagai amal dan manusia akan mendapat balasan sesuai dengan amal-amal yang diperbuatnya.
















DAFTAR PUSTAKA
Al-Qardhawy, Yusuf. 1998. As-Sunnah sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Asy’arie, Musa. 2002. Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir. Yogyakarta: LESFI.
Dieb Al Bugh, Musthafa. 2002. Al-Wafi Syarah hadist Arba’in. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Jawariyah. 2010. Hadist Tarbawi. Yogyakarta: Teras.
Yahya, Harun. 2003. Bagaimana Seorang Muslim Berpikir. Jakarta: Robbani Press.












TENTANG PENULIS
Nama                           : Sahurip
TTL                             : Pekalongan, 23 Maret 1995
Alamat                                    : Sumub Kidul RT 10/03
                                     Kec. Sragi Kab. Pekalongan
Riwayat Pendidikan   :- SD N 01 Sumud Kidul
-           SMP N 02 Sragi
-SMA N 01 Sragi
-STAIN Pekalongan
Hobi                             : Membaca
Motto Hidup                : Jangan jadikan cobaan itu sebagai musibah jadikanlah cobaan itu sebagai acuan hidup kita.
Description: E:\Foto kampus.jpg


[1] Dr. Yusuf Al Qardhawy. As Sunnah Sebagai IPTEK Dan Peradaban, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 1997), hlm. 98-99
[2] Ibid., hlm. 100
[3] Dr Juwariyah, M.Ag. Hadist Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm 139
[4] Musthafa Dieb Al bugh. Al Wafi Syarah hadist Arba’in, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002), hlm 375
[5] Harun Yahya. Bagaimana Seorang Muslim Berpikir, (Jakarta: Robbani Press, 2003), hlm 4-5
[6] Prof. Dr. Musa Asy’arie. FILSAFAT ISLAM Sunnah Nabi dalam Berpikir, (Yogyakarta: LESFI, 2002), hlm 25-26

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar