Laman

Rabu, 16 September 2015

spi-F 2


SEJARAH PERADABAN ISLAM
MASA KHULAFAURROSYIDIN

 
M. Ulul Albab (2021114150)
Afyfah Nur Akhmad (2021114222)
Risqi Ginanjar (2021113136)
Khoerul Mar’ah (2021112022)
Kelas : F
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015


KATA PENGANTAR

            Alhamdulillah, puji syukur  kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya , makalah yang berjudul “Masa Khulfaurrosyidin” sebagai bagian dari Sejarah peradaban islam”.ini dapat terselesaikan .Tak lupa  Shalawat dan salam juga kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, yang kita nantikan syafaatnya besok di Yaumil Qiyamah . Aamiinn...
Pembuatan makalah ini bertujuan guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pendidikn Islam,  dimana   Makalah ini menjelaskan tentang bagaimana karakter,kepribadian,strategi para khalifah adalam mengatur dan menyelesaikan masalah negara.Dan sebagai teladan umat bagaimana cara memimpin negara dengan baik sesaui kaedah islam.
            Dengan demikan diharapkan materi makalah dapat membantu kita dalam membangun karakter mahasiswa yang lebih baik. Sebagai mahasiswa harus dapat menganalisis,mengamti dan meneladani kepribdaian para sahabat yang mulia dan memfilter segala peradaban yang da sesuai kaedah islam.
            Penulis telah berupaya menyajikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, meskipun masih jauh dari kata sempurna, disamping itu apabila dalam penulisan makalah ini didapati kekurangan dan kesalahan ,dalam penulisan, maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik guna penyempurnaan pembuatan makalah berikutnya.Semoga makalah yang sederhana ini  menambah khasanah dan bermanfaat.



                                                                                                Pekalongan 14 September 2015

Penulis


DAFTAR ISI

 

 

 

 

 

 



BAB l

PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw kepada Umatnya.Beliau berkorban,mempin dan mengatur hingga masyarakat sejahtera.Berbagai maslah dan rintangan dilalui dengan penuh semangat.tetapi Rasulullahwafat tanpa meninggalkan wasiat kepada seseorang untuk meneruskan kepemimpinannya (kekhalifahan).Para sahabat bingung bahkan belum memakamkan jenazah nabi sebelum menemukan penerusnya.
 Sekelompok sahabat berpendapat bahwa yang berhak Abu Bakar dan ada yang berpendapat bahwa Ali Bin Abi Tholib karena masih kerabat Nabi.Memang Rasulullah wafat mengejutkan kaum muslimin tetapi sesungguhnya dalam sakitnya.Sepeninggal Rasulullah, Akhirnya telah tercapai mufakat dan musyawarah para penerus perjuangan Nabi yakni .empat orang pengganti beliau adalah para pemimpin yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi dari sang Guru Agung bagi kemajuan Islam dan umatnya. Oleh karena itu, gelar Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat bimbingan di jalan lurus diberikan kepada mereka.

B.Rumusan Masalah

            Berdasar pada latarbelakang diatas, kita dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Apa Yang dimaksud dengan Khulfaurrroyidin?
2.      Bagaimana Profil para Khulafarrosyidin?
3.      Bagiamana Karakter Para Khaulafaurrosyidin?
4.      Mengapa Para Sahabat memilih Ke empat Khulafaurrosyidin Sebagai penerus Nabi?
5.      Siapa Yang Membunuh Para Khulafaurrosyidin?

Khulafaurrosyidin
Khulafaurrosyidin merupakan para pengganti atau penerus nabi Muhammad SAW untuk memimpin,mengatur kehidupan umat manusia.Posisi Rosulullah tak akan tergantikan.Melainkan diteruskan oleh para sahabatnya.Karena tanpa adanya generasi penerus sebagai pemimpin maka kehiudupan tak akan berjalanan lancar.
Abu bakar, mempunyai nama lengkap Abdullah bin Abi Quhafa At-Tamimi. Di zaman pra islam bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi menjadi Abdullah. Ia merupakan sahabat yang utama dan pertama meyakini ajaran Rasulullah sehingga ia dijuluki Abu Bakar, dan gelar Ash-Shiddiqnya diperoleh karena ia dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai peristiwa, terutama isra’ dan mi’raj. Rasulullah mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas keamanan dan mengurusi persoalan-persoalan aktual di madinah.
Setelah wafatnya Rasulullah kemudian Abu bakar di angkat menjadi penggantinya, dan dalam pidatonya ia mengucapkan penegasan totalitas kepribadian dan komitmen abu bakar terhadap nilai-nilai islam dan strategi meraih keberhasilan tertinggi bagi umat sepeninggal Rasulullah. Abu bakar memangku jabatan khalifah selama dua tahun 3 bulan 11 hari, yang dihabiskan terutama untuk mengatasi berbagai masalah dalam negeri yang muncul akibat wafatnya nabi.
Masalah-masalah yang muncul akibat wafatnya Rasulullah diantaranya:
A.riddah
yaitu gerakan pengingkaran terhadap islam. Riddah yang berarti murtad , beralih agama dari islam ke kepercayaan semula, yang secara politis merupakan bentuk pembangkangan terhadap khalifah. Oleh karena itu khalifah dengan tegas melakukan peperangan.
B.Nabi-nabi palsu
Tahun-tahun terakhir kehidupan Nabi, telah muncul nabi-nabi palsu di wilayah Arab bagian selatan dan tengah. Pertama yang mengaku dirinya nabi adalah Aswad Ansi di Yaman, kemudian Musailamah Al-Kadzab, yang menyatakan bahwa dirinya diangkat oleh Rasulullah sebagai mitra (partner) dalam kenabian, kemudian Tulaihah dan Sajjah Ibnu Haris seorang wanita dari Arab tengah.
C.Orang-orang yang enggan membayar zakat
Adapun orang yang enggan membayar zakat diantaranya mereka mengira bahwa zakat adalah serupa dengan pajak yang dipaksakan dan penyerahanya ke perbendaharaan pusat di madinah yang sama artinya dengan penurunan kekuasaan, merupakan suatu sikap yang tidak disukai oleh suku Arab karena bertentangan dengan karakter mereka yang independen.[1]
Penumpasan terhadap orang-orang murtad dan para pembangkang tersebut terutama setelah mendapat dukungan dari suku Gatafan yang kuat ternyata banyak menyita konsentrasi khalifah, baik secara moral maupun politik. Dalam memerangi kaum murtad, dari kalangan kaum muslimin banyak hafizh (penghafal Alqur’an) yang tewasPeristiwa tersebut yang mendasari adanya pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang di pelopori oleh Umar bin Khattab, dan di setujui oleh khalifah Abu Bakar, dan dalam hal ini zaid bin tsabitlah yang di utus oleh khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan semua tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian khalifah Abu Bakar berjasa dalam menyelamatkan keaslian materi dasar pendidikan islam.[2]
Khalifah mengirim tentaratentaranya untuk menaklukan Hirah ke Irak dan ke Syiria, suatu negara di utara Arab yang dikuasai Romawi Timur (Bizantium) yang ingin menghancurkan dan menguasai agama islam, selain itu karena umat islam memandang Syiria sebagai bagian integral dari semenanjung Arab yang di diami oleh suku bangsa Arab dengan menggunakan bahasa Arab bicaranya. Dengan demikian untuk keamanan umat Islam (Arab) maupun untuk pertalian nasional dengan orang Syiria adalah sangat penting bagi kaum muslimin (Arab).
Ketika pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan Kerajaan Hirah, dan telah meraih kemenangan yang dapat memberikan kepada mereka beberapa kemungkinan besar bagi keberhasilan selanjutnya, Khalifah Abu Bakar meninggal dunia pada hari Senin, 23 Agustus 624 M setelah terbaring di tempat tidur kurang lebih 15 hari, Ia berusia 63 tahun.  [3]

B.Umar Bin Khaththab (13-23 H/ 634-644 M)

Profil Sayydina Umar Bin Khottob
Umar bin khahthab nama lengkapnya adalah umar bin khaththab bin nufail keturunan Abdul Uzza Al-Quraisy dari suku adi; salah satu suku yang terpandang mulia. Umar dilahirkan di Mekkah empat tahun sebelum perang fijar.Silsilah Umar bersambung pada Rosulullah pada kakek ketujuh,sedangkan dri pihak Umar beretamu Rosulullah pada kakek ke enam.Panggilan Kunyah Umar adalag Abu Hafash. ia adalah seorang yang berbudi luhur, fasih, dan adil serta pemberani.
Karakteristik Sayyidina Umar Bin Khottob
Umar Bin Khttob Ra adalah seorang yang berwatak tegas dalam hak.Sebelum masuk islam,beliau dikenal sebagai orang quraisy yang paling berbahaya bagi kaum muslimin.akan tetapi ketika sudah masuk islam,Suasana menjadi berubah drastis dan beliau menjadi orang yang paling berani dan gigih dalam membela agama.Beliau juga dikenal sebagai orang yang teguh dalam memegang prinsip,tegas pada gubernurnya,perhatian kepada kaum muslimin,sangat adil,alim,wara dan meninggalkan kemewahan.
Umar masuk Islam pada tahun kelima setelah kenabian, dan menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi SAW serta dijadikan sebagai tempat rujukan oleh Nabi mengenai hal-hal yang penting. Ia dapat memecahkan masalah yang rumit tentang siapa yang berhak mengganti Rasulullah dalam memimpin uat setelah wafatnya Rasulullah sehingga ia mendapat penghormatan yang tinggi dan dimintai nasihatnya serta menjadi tangan kanan khalifah yang baru itu.[4]

Sayyidina Umar Bin KHottob Di Baiat Menjadi Kholifah
Terpilihnya umar sebagai khalifah, berbeda dengan pendahulunya, Abu Bakar. Ia mendapatkan mandat kepercayaan sebagai khalifah kedua tidak melalui pemilihan dalam suatu forum musyawarah yang terbuka, tetapi melalui penunjukan atau wasiat oleh pendahulunya. Abu bakar sebelum meninggal pada tahun 634 m/ 13 h telah menunjuk umar sebagai penggantinya. Setelah Abu Bkar meninggal dunia, umar bin khathab ternyata dikukuhkan sebagai khalifah kedua pada hari selasa tanggal 22 Jumadil Akhir 13 H/ 634 M dalam suatu bai’at umum secara sepakat dan terbuka di Masjid Nabawi.[5]
Kebijakan Umar Ibn al-Khathab
Dalam rangka menjalankan pemerintahannya Umar ibn al-Khathab melakukan beberapa hal yang dipandang penting. Kebijakan ini perlu dilakukan dalam upaya melanjutkan pemerintahan Islam yang sudah kondusif pasca meninggalnya Abu bakar. Mereka semua memiliki kepentingan bersama dan juga hak yang sama untuk mendapatkan perolehan-perolehan pemerintah madinah.
Selain Umar ibn al-Khathab melakukan konsolidasi internal, dia juga melakukan upaya untuk mengakomodasi potensi dan bakat aministratur pemerintah.[6]
A.Peluasan wilayah
Di zaman khalifah Umar ibn al-Khathab, perluasan wilayah banyak dilakukan. Perluasan wilayah itu diawali dengan penaklukan kota Damaskus di Suriah pada tahun 635 M/ 13 H dibawah pimpinan panglima Abu Ubaidah bin Jarah. Kemudian seluruh wilayah Suriah dapat dikuasai setelah kekuasaan Bizantium menyerah akibat kekalahan dalam eprtemuran Yarmuk pada tahun 637 M/ 16 H. selanjutnya ekspansi diteruskan ke mesir di bawah pimpinan Amr bin Ash dan Mesir pun dikuasai pada tahun 640 M/ 19 H.  kesuksesan demi kesuksesan dicapai oleh pasuka Islam dalam perluasan wilayah.Suriah, Mesir,.[7]

B.Administrasi pemearintahan
Umat Islam di zaman Umar ibn al-Khathab mengalami kemajuan di bidang tata administrasi pemerintahan, juga dirumuskan sejumlah kebijakan dan menerbitkan peraturan-peraturan baru. Pada masanya pula diterbitkan gaji, diaturnya administrasi pajak tanah, didirikanpengadilan-pengadilan, dan ia juga memisahkan bidang yudikatif dan eksekutif. Pada masa ini beberapa departemen pemerintah negara yang pentng telah terbentuk seperti majlis permusyawaratan yang beranggotakan sahabat-sahabat dari golongan Muhajirin dan Anshor.
Penguatan wilayah keuangan juga dilakukan dengan dibangunnya lembaga baitul mal, menempa mata uang, mengadakan Hisbah, yaitu pengontrolan terhadap pasar, timbangan dan takaran, juga pengaturan administratif lain berupa pengaturan perjalanan pos, dan menetapkan tahun Hijriyah, serta penjagaan terhadap tata tertib dan susila, dan pengawasan terhadap kebersihan.Hal lain yang juga tidak kalah penting yang menjadi perhatian Umar adalah kepentingan pertahanan keamanan  dan mendirikan pos-pos militer di tempat-tempat strategis.[8]
Peristiwa Wafatnya sayyidina Umar
Khalifah Umar memerintah selama 10 tahun 6 bulan (13-23 H/ 634-644 M). masa jabatannya berakhir dengan kematian yang tragis yaitu seorang budak bangsa Persia bernama Feroz atau yang dikenal dengan Abu Lu’luah secara tiba-tiba menyerang dari belakang, ketika Umar hendak berjamaah sholat Subuh di Masjid Nabawi. Umar meningga pada tanggal 25 Dzulhijjah 23 H. Dalam kepemimpinannya yang terakhir beliau menunjuk 6 sahabat untuk dicalonkan sebagai pengganti. Mereka adalah Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Zubair ibn al-Awwan, Sa’ad ibn Abi Waqash, Abdurrohman ibn Auf, Thalhah ibn Ubaidillah.[9] 




C.UTSMAN BIN AFFAN (23-36 H / 644-656 M)

Profil Sayyaidina Ustman
Khalifah ketiga adalah Utsman bin Affan. Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah Bin Abdul Syam Bin Abdul manaf Bin Qushay Al Amawi dari suku Quraisy. Beliau dilahirkan enam tahun stelah tahun gajah.Ibunya bernama Arwa Binti Kuraiz Bin Rabiah Bin Habib Bin Abdul Syams.Sedangkan ennek dari ibunya bernama Al Baidha’ Binti Abdul Mutholib,Bibi Rpsulullah yakni saudara kandung Abdullah.Beliau memeluk Islam karena ajakan Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat Nabi.
Ia sangat kaya tetapi berlaku sederhana, dan sebagian besar kekayaannya digunakan untuk kepentingan Islam. Ia mendapat julukan zun nurain, artinya yang memiliki dua cahaya, karena menikahi dua putri Nabi secara berurutan setelah yang satu meninggal.Yakni beliau dinikahkan pada Roqoyyah dan Ummu Kultsum.
Karakteristik Sayyidina Ustman Bin Affan
Ia juga merasakan penderitaan yang disebabkan oleh tekanan kaum Quraisy terhadap muslimin di Mekah, dan ikut hijrah ke Abesinia beserta istrinya. Beliau dikenal kedermawan,takwa dan wara’.Utsman menyumbang 950 ekor unta dan 50 bagal serta 1000 dirham dalam ekspedisi untuk melawan Bizantium di perbatasan Palestina. Ia juga mebeli mata air orang-orang Romawi yang terkenal dengan harga 20.000 dirham untuk selanjutnya diwakafkan bagi kepentingan umat Islam, dan pernah meriwayatkan hadis kurang lebih 150 hadis. Seperti halnya Umar, Utsman diangkat menjadi khalifah melalui proses pemilihan. Bedanya, Umar dipilih atas penunjukan langsung sedangkan Utsman diangkat atas penunjukan tidak langsung, yaitu melewati badan Syura yang dibentuk oleh Umar menjelang wafatnya.

Sayyidina Ustman Di Baiat Menjadi Kholifah & Kebijakan-kebijakan Ustman Bin Affan
Pada masa-masa awal pemerintahannya, Utsman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam. Daerah-daerah strategis yang sudah dikuasai Islam seperti Mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencanakan secara cermat dan simultan di semua front. Di Mesir pasukan muslim diinstrusikan untuk memasuki Afrika Utara. Salah satu pertempuran penting disini ialah “Zatis Sawari” (Peperangan Tiang Kapal) yang terjadi di Laut Tengah dekat kota Iskandariyah, antara tentara Romawi di bawah pimpinan Kaisar Constantin dengan Laskar Muslim Pimpinan Abdullah bin Abi Sarah. Dinamakan perang kapal karena banyaknya kapal-kapal perang yang digunakan dalam peperangan tersebut. Disebutkan terdapat 1000 buah kapal, dan 200 buah kapal milik kaum muslim sedangkan sisanya milik bangsa Romawi. Pasukan Islam berhasil mengusir pasukan lawan.
Karya monumental Utsman lain yang dipersembahkan kepada umat Islam ialah penyusunan kitab suci Alquran. Penyusunan Alquran dimaksudkan untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan serius dalam bacaan Alquran.disebutkan bahwa selama pengiriman ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan, perselisihan tentang bacaan Alquran muncul di kalangan tentara muslim, di mana sebagiannya direkrut dari Suriah dan sebagian lagi dari Irak. Ketua dewan penyusunan Alquran, yaitu Zaid bin Tsabit, sedangkan yang mengumpulkan tulisan-tulisan Alquran antara lain adalah dari Hafsah, salah seorang istri Nabi. Kemudian dewan itu membuat beberapa salinan naskah Alquran untuk dikirimkan ke berbagai wilayah kegubernuran sebagai pedoman yang benar untuk masa selanjutnya.
Ketika Utsman mengangkat Marwan bin Hakam, sepupu khalifah yang dituduh sebagai orang yang mementingkan diri sendiri dan suka intrik menjadi sekretaris utamanya, segera timbul mosi tidak percaya dari rakyat. Begitu pula penempatan Muawiyah, Walid bin Uqbah dan Abdullah bin Sa’ad masing-masing sebagai gubernur Suriah, Irak dan Mesir, sangat tidak disukai oleh umum. Ditambah lagi tuduhan-tuduhan keras bahwa kerabat khalifah memperoleh harta pribadi dengan mengorbankan kekayaan umum dan tanah negara. Hakam, ayah Marwan mendapatkan tanah Fadah, Marwan sendiri menyalahgunakan harta baitul mal, Muawiyah mengambil alih tanah negara Suriah dan khalifah mengizinkan Abdullah untuk mengambil seperlima dari harta rampasan perang Tripoli untuk  dirinya dan lain-lain.Dengan kata lain, mereka mendakwa Utsman secara tidak benar telah menggunakan kekuasaan keagamaan yang dimilikinya.[10]
Terhadap berbagai kecaman tersebut, khalifah telah berupaya untuk membela diri dan melakukan tindakan politis sebatas kemampuanSelain karena harta yang ia miliki digunakan untuk membantu sanak familinya, juga karena seluruh waktunya dihabiskan untuk mengurusi permasalahan kaum muslimin, sehingga tidak ada lagi kesempatan mengumpulkan harta seperti di masa sebelum beliau menjadi khalifah.

Ali Bin Abi Tholib (35 – 40H/656-661 M)

Profil Sayyaidina Ali
Ali  Bin Abu tholib merupakan kholifah yang keempat.Beliau merupakan sepupu nabi Muhammad SAW.Ayahnya bernama Abu tholib bin Abdul Mutholib bin Hasyim Bin Abdul Manaf Bin Luay Bin Kilab Al Quraisyi dan ibunya bernama fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abdul manaf.Beliau dilahirkan dikota Makkah hari jumat 13 rajab tahun 570M atau 32 setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW.Abu Tholib(ayah Ali) merupakan orang yang dikaruni oleh banyak anak.Sehingga nabi pun simpati untuk meringankan bebannya yakni dengan mengambil Ali untuk didik.Beliau didik langsung nabi Muhammad Sehingga tumbuh menjadi remaja yang pemberani,berbudi luhur,berjiwa luhur dan tangguh.Akhirnya Rosulullah pun menikahkan putrinya yakni fatimah dan dikarunia oleh dua putra yakni Hasan Dan Husen.Beliau dikenal degan panggilan Abu Turob(bapaknya Tanah.
Beliau termasuk sahabat Assabiqunal Awwalun dan masuk islam disaat ikut hijrah bersama nabi Muhammad SAW.Ia masuk islam sebelum genap usia tiga belas tahun.Ia merupakan salah satu sahabat yang turut serta bersama Rosulullah disaat senang dan susah seperti dalam peperangan kecuali peraang Tabuk.Beliau juga banyak meriwayatkan Hadits dari nabi..
Peran Sayyidina Ali dizaman Rosulullah.
ü  Sebagai penyelesai masalah-masalah yang berkaitan dengan amanat nabi
Ø  Posisi Ali dsisi Nabi sebagaimana posisi Harun dengan Nabi Musa as dalam hadits:
“Dari Saad Bin Abi Waqqash berkata,Rosulullah bersabda”Posisi Engkau disisiku sperti posisi Harun diposisi Musa kecuali tidak ada nabi Setelahku”(Muttafaqun Alaih)[11].
Karakteristik Sayyidina Ali Bin Abi Tholib
Ali bin Abi Tholib merupakan orang yang berhias budi pekerti yang terpuji.Beliau tumbuh ditengah kehidupan Rosulullah sehingga terbentuk kepribadian yang sangat etis dan berakhlak mulia.Ia tulus dalam membela agama islam dan dikenal sebagai ksatria pahlawan gagah berani.Sehingga Rosulullah menempatkan beliau diposisi tinggi(diberi amanat banyak untuk mengurusi kaum muslimin dan terselesaikan dengan baik) dan selalu diperhatikan Rosulullah.Karakter ini merupakan karakter bukan orang munafik sebgaiamana hadits nabi”tanda-tanda ornag munafik ada tiga:Jika berkata dusta,Jika berjanji dia mengingkari & jika dipercaya khianat “(Hr.Muttafaqun alaih)
Beliau dikenal sebagai orang yang pemalu,menepati janji,menghormati janji dan sangta berhati-hati serta memperhatikan harta kaum muslimin.Sebagaimana diriwayatkan oleh At Thabari”pada suatu hari ia masuk dan melihat saudari putrinya  memakai mutiara yang bersal dari baitul mal maka yyida Ali bertanya”darimna kau mendapatkan mutiara ini?Demi Allah! Akan aku potong tangannya.Sunggauh tegas dalam menegakkan keadilan walaupun itu kerabatnya.
Dalam Buku Al Fakhri diterangkan bahwa Aqil Bin Abu Tholib (saudara kandung Ali Bin Abi Tholib) meminta sesuatu dari baitul mal yang bukan haknya.Maka Ali seraya menolaknya dan berkata”Wahai saudaraku engkau tak mempunyai hak atas harta ini,melainkan bersabarlah apa yang aku berikan padamu.Niscaya aku akan memberi apa yang kamu inginkan”.Bahkan beliau terhadapnya putra Hsan Husen tidak pernah memberikan sesuatu melebihi haknya.Kutipan memberikan pelajaran betapa pentingnya hidup beristiqomah dan fadhilah tidak bermegah-megahan[12]..
Sayyidina Ali Di Baiat Menjadi Kholifah
Pemilihan Ali sebagai kholifah yang terpilih dengan prosedur yang berbeda dengan kholifah yang lain.ketika zaman Abu Bakar dipilih berdasarkan persetujuan dari sahabat di madinah walaupun ada sedikit perbedaan.Pada zaman Umar bin Khotton tidak terdapat perbedaan karena sebelumnya Sayyidina umarv telah diangkat menjadi kholifah(atas saran Abu bakar).Pada zaman Sayyidina Utsman bin Affan terplih berdasarkan undang-undang musyawarah yang digariskan Umar bin khottab.Pada zaman Ali bin Abi Tholib ,terdapat sedikit keributan yakni adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Ibnu Saba untuk mengangkat Ali.walaupun akhirnya disepakati oleh kaaum muhajirin dan kaum anshor[13].
Beliau dibaiiat menjadi kholifah dan langsung bergerak aktif yakni menggeser para gubernur yang diangkat oleh ustman bin affan  dan mengambil alih tanah-tanah yang diberikan oelh Yutsman Bin Affan kepada para kerabatnya untuk dijadikan baitul mal.Oleh sebab itu,timbul pemberontakan yang dilpimpin oleh Muawwiyah bin Abu sufyan.Perang terjadi pada tahun 37H.
Dalam masa awal pemerintahan,kelompok islam terpecah menjadi tiga yaitu:
ü  Kelompok Muawwiyah menuntut bela atas wafatnya Khalifah Utsman Bin Affan dan Kholifah Ali harus ikut bertanggungjawab..Disaat peperangan dan Muawwiyah diambang kekalahan.Amr bin Ash pembantu utama Muawwiyah memerintahakan kepada pasukannya untuk mengangkat Alquran diujung tombak yang berarti tanda kedaimaian menurut Kitabullah. Inilah penyebab terpecahnya golongan Ali menjadi dua yakni:
·         Syiah
·         Khawarij Golongan menganggap Ali kurang handal dalam mengambil keputusan[14].
ü  Kelompok Aisyah,zubair dan tholhah menyetakan tidak setuju atas tuntutan muawwiyah dan atas pengangkatan kholifah Ali.Karena Zubair anak angkat Aisyah ingin menduduki jabatan kholifah.
ü  Kelompok Pendukung Khalifah Ali.
Ketiga kelompok tersebut memiliki pengikut yang kuat dan setia,Ditambahkan masuknya islam orang yahudi (Abdullah Bin Saba’) yang berpura-pura yang bermaksud untuk mengadu domba.Siasat Abdullah Saba’ pun berhasil dengan munculnya beberapa peperangan
Peristiwa Wafatnya sayyidina Ali
Peristiwa terbunhnya sayyidina Ali merupakan tindakan kriminal yang direncanakan  oleh tiga orang dari kaum khawarij.Mereka sepakat akan membunuh Ali,Muawwiyah dan amr bin Ash.Disaat hari yang sama yakni bertepatan ketika Sayyidina Ali ingin menyerang muawwiyah dengan pasukan empat puluh ribu tentara.Sebelum terjad perang,beliau dibunuh oleh Abdurrahman Ibnu Muljam pada saat mengimami shalat subuh di majsid Kuffah.Bertepatan pada tanggal 21 Ramadhan 40H.Ketika berusia 63 tahun.Beliau dikuburkan di Najaf secara rahasia.Bahkan riwayat lain menyatakan kuburan ditempat lain.                                                      

A.Kesimpulan

 Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa suatu negara atau bangsa tanpa adanya seorang pemimpin tak akan sejahtera bahkan hancur dan penuh kekacauan.Tetapi setiap pemimpin memiliki karakter,cara,strategi yang berbeda-beda untuk mengatur negara.Yang terpenting adalah pemimpin ersebut dapatv bersifat adil,dan bijaksana.Karena negara akan maju,makmur dan sejahtera jika pemimpinnya adil.
Setiap generasi pemimpinpasti memiliki halangan,rintangan.Oleh sebab itu,diperlukan pemimpin yang adil,peka terhadap masalah.Karena didalam kehidupan pasti memiliki masalah.Hidup itu mencari dan menyelesaikan masalah.

B.Saran         

            Dengan mengetahui berbagai karakters,cara,strategi pemimpin dalam mengatur negara.Diharapakan para pembaca dapat mneledani sifat dan sikap pemimpin yang baik.Serta agar tidak terulang peristiwa yang dahulu.Karena manfaat mempelajari sejarah yakni meneledani,meniru,hal yang baik dan menghindar dari peristiwa yang dulu pernah terjdi agar tak menjdai kesalahan yang sama.






DAFTAR PUSTAKA


ü  Amin ,Samsul Munir,. 2010.Sejarah Peradaban Islam,.Jakarta: Amzah
ü  Fu’adi ,Imam, 2011.Sejarah Peradaban Islam.Yogyakarta: Sukses Offset
ü  Syukur ,Fatah, 2012. Sejarah Peradaban Islam .Semarang: Pustaka Rizki Putra
ü  Mas’ud ,Abdurrahman, Sejarah Peadaban Islam.Bandung
ü  Yatim, ,Badri . 1997.Sejarah dan kebudayaan Islam.Jakarta: Rdaaya Grafindo Pers
ü  Hasan ,Hasan Ibrohim, 2001Sejarah dan kebudayaan Islam.Jakarta: Kalam Mulia
ü  Zuhairiini. 1986.Sejarah dan kebudayaan Islam. Jakarta.



                                              








BIODATA PENULIS

                   
Nama                           :Muhammad ulul Albab
TTL                             :Pekalongan 23 Juni 996                     
Alamat                         :Tangkil Tengah Kedungwuni pekalongan
Riwayat pendidikan     :RA Tangkil Tengah
                                    MI Walisongo Tangkil Tengah
                                    Mts.S.Wonoyoso
                                    MAS Simbang Kulon
Nama                                    :Afyfah Nur Akmad
TTL                                         :Tegal, 31 Maret 1996
Alamat                                  :Dukuhwaru, Tegal
Riwayat Pendidikan        : SDN VI Bintara Jaya Bekasi Barat
                                                MTs Al-Hikmah 2 Benda
                                                SMA N 1 Dukuhwaru

Nama                           : Risqi Ginanjar
TTL                             : Batang, 22 mei 1993
Alamat                         : Jl. Tentara Pelajar Kalisalak, batang
Riwayat Pendidikan     : SDN Kalisalak Batang
                                      SMP Islam YPI Buaran, Pekalongan
                                     MAS Simbang Kulon, Pekalongan




Nama                                    :Khoerul Mar’ah
TTL                                         :12 Juni1994
Alamat                                  :RanduDongkal,Pemalang
Riwayat Pendidikan        :SDN 02 Kalitorong
                                                SMPN 02 Randudongkal
                                                MA Nururl Huda Mereng WarungPring




[1] . Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: AMZAH, 2010) hlm 93-96
[2]. Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hlm. 71
[3] .Opcit, Samsul Munir Amin, hlm: 98
                [4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010) Hlm. 98
                [5] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2011) Hlm. 32 &                                 34
                [6] Ibid, halm. 34-36
                [7] Ibid, hlm. 37-38
                [8] Ibid, hlm. 41-42
                [9] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2012), Hlm. 54
[10] H.Abdurrahman Mas’ud, Sejarah Peadaban Islam, hlm.105
[11]Badri Yatim, Sejarah dan kebudayaan Islam, (Jakarta: Rdaaya Grafindo Pers,1997), Hlm. 245

[12] Ibid,Hlm507
[13]Hasan Ibrohim Hasan, Sejarah dan kebudayaan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,2001), Hlm. 505

[14]Dra.Zuhairiini, Sejarah dan kebudayaan Islam, (Jakarta:,1986), Hlm. 6


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar