new post

zzz

Sabtu, 03 Maret 2012

Kelas F, Beni Siswanto, 4: Penggunaan Panca Indera Akan Dinilai dan Dimintai Pertanggung jawaban


HADIST TARBAWI II
Penggunaan Panca Indera Akan Dinilai dan Dimintai Pertanggung jawaban 
Dosen Pengampu :
Muhammad Hufron, M.S.I
Di susun oleh :
Beni Siswanto
202 111 0249
Kelas F

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI )
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI
( STAIN ) PEKALONGAN
 2011 – 2012

BAB I
PENDAHULUAN


A.    DASAR HADIST

عَنْ أَ بِي هُرَ يْرَ ةً وً عًنْ أَ بِي سَعِيدٍ قَا لَ قا لَ رًسُو لُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلًيْ
وَسَلًمً : يُؤ تًى بِا لْعَبْدِ يَوْ مَ القِيَا مَةِ فَيَقُو لُ اللهُ لَهُ أً لَمْ أجْعَلْ لَكَ سَمْعَا وَ بَصَرًا وَ مَا لَا وَوَ لًدًا وَسَخَّرْ تُ لكَ ا لأ نْعَا مَ و ا لْحرْ ثَ وَ تَرَ كْتُكَ تَرْ أ سُ وَ تَرْبَعُ فكُنْتَ تطَنَّ أنَكَ مُلاَ قِي يَوْ مَكَ هَذَ ا قَا لَ فَيَقُو لُ لَا فَيَقُو لُ لهُ ا لَيوْ م َنسَا كَ كَمَا لَسِيتَنِي قَا لَ أَ بُو عِسَى هذَا حَدِ يَثُ صَحِيحُ غَرِ يبُ وَمَعْنَى قَولِهِ اليُومَ اَتْرُكُكَ غِي الْعَذَ بِ هَكَذَ ا فَسْرُ وهُ قالَ أبُو عيسَي وَقَدْ فَسَّرَ بَعضُ أهْلِ الْعِلْمِ هَذِهِ الا يَتَ فَلْياوْمَ نَسَا هُمْ قَا لُوا إنَّمَا مَعْنَا هُ الْيوْمَ نَثْرُكُهُمْ ڤِي الْعَذَابِ
 ( ر و ا ه التر مذ ي فى الجامع،كتاب صفت القيا مة  و الرقا ٔق َ الو رع عن ر سو ل الله)
B.            Mufrodat
سَخَرْتُ         : kutundukan                                                              
 الأَنْعا مُ                         : hewan ternak
 الَرْثُ                : tumbuhan / hasil bumi
 تَرْ أ سُ                         : memimpin
 تَرْبَعُ                 : hidup sejahtera
 أنْسَاكَ               : aku melupakanmu
 كَمَا                  : seperti
  نَسِيتَنِي                         : kamu melupankan-Ku
 يُؤتَى                 : di pertemukan
 سَمْعَا                : pendengaran
 بَصَرَا                : penglihatan
 مَا لاَ                 : harta
  وَلَدَا                : keturunan
 تَظُنَّ                  : mengira
  ألَمْ                 : bukankah
C.                TERJEMAHAN
Dari Abu Hurairah dan Abi Said berkata : Rasullah SAW bersabda : Pada hari kiamat nanti para hamba di pertemukan dengan-Nya, dan Allah berkata kepada mereka” Bukankah telah Ku ciptakan untukmu pendengaran, penglihatan, harta serta keturunan dan telah kutundukan padamu hewan ternak dan tumbuhan dan hasil bumi agar kau bisa memimpin dan hidup sejahtera dan kamu mengira bahwa kamu kan bertemu dengan hari ini ?” mereka berkata “ tidak ” maka Allah mengakatan pada mereka “ Hari ini Aku melupakan seperti kamu melupankan-Ku.” ( HR. Imam Tirmidzi )
D.                PERAWI
Abu Hurairah lahir pada tahun 21 sebelum Hijriyah. Menurut pendapat mayoritas, nama beliau adalah 'Abdurrahman bin Shakhr ad Dausi. Pada masa Jahiliyah, sebelum ia msuk Islam, namanya Abu Syamsi. ia Masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah, ketika perang Khaibar sedang berkecamuk. Abu hurairah langsung terjun ke dalam perang tersebut. Setelah ia msuk Islam, Nabi SAW memberinya nama Abdurahman.
Abu Hurairah sangat menyenangi seekor kucing, sehingga sering kucing itu digendong, dirawat, diberi makan dan bagi kucing itu disediakan tempat khusus. maka beliau digelari pula dengan Abu Hurairah, yang artinya orang yang menyanyangi kucing. Nama lengkap Beliau adalah Abu Hurairah bin Shakhkhar. Ibunya adalah Maimunah, yang sempat masuk Islam sebelum wafatnya.
Ahli hadits telah sepakat, beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan bahwa, dalam Musnad Baqiy bin Makhlad terdapat lebih dari 5300 hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu. [1]
Pada masa Khalifah Umar bin Khatab beliau pernah diangkat menjadi gubernur Bahrain. Beliau wafat pada tahun ke-59 Hijriyah dalam usia 78 tahun.[2]

E.                ASPEK KEHIDUPAN TARBAWI
Sungguh melimpah ruah karunia dan  nikmat dari Allah SWT bagi manusia, baik nikmat lahir maupun batin, yang agung hingga yang paling kecil. Meskipun demikian, nikmat tidak selamanya akan menghantarkan kepada nikmat berikutnya, tak selamanya pula akan melanggengkan eksistensinya pada diri seorang insan, semua itu terpulang kepada manusia dalam merespon nikmat tersebut. Boleh jadi dengan nikmat itu ia akan meraih nikmat berikutnya, dan boleh jadi pula justru nikmat tersebut akan membawa kepada dosa dan nista yang berujung sengsara. Na’udzubillahi min dzalik.
Penting untuk diingat bahwa setiap nikmat itu pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dihadapan Allah SWT pada hari akhirat kelak. Allah SWT berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian sungguh kalian benar-benar akan ditanyai pada hari itu (kiamat) tentang nikmat-nikmat.”  (At-Takatsur: 8)
Mari kita mencermati sekaligus introspeksi diri terhadap  nikmat-nikmat Allah SWT yang dikaruniakan kepada kita. Tak pernah mampu rasanya menghitung dan menyebut seluruh nikmat yang telah digelar untuk hamba-hamba-Nya, oleh karenanya akan disinggung dalam bahasan kali ini salah satu nikmat saja, insya Allah, yaitu nikmat mata atau indra penglihat dan beberapa nikmat lainnya. Betapa agungnya nikmat penglihatan tersebut sehingga terulang sekian kali penyebutannya di dalam Al-Qur’an, di antaranya yang Allah SWT tegaskan:
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
 ‘’Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.’’( Qs. Al Israa’ [17] : 36)
Fungsi dan posisi pendengaran dan penglihatan pada ayat tersebut adalah sebagai alat bantu bagi manusia untuk mendengar, melihat dan meraih hidayah kepada jalan yang lurus, yaitu dengan memahami perintah dan larangan Allah SWT dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai bentuk syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Namun apa guna alat pendengar dan penglihat jika hati yang penuh nafsu kenikmatan terlampau banyak didapati manusia dalam kondisi ingkar lagi kafir terhadap perintah-perintah-Nya.
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَلِيٍّ: يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ
Artinya “ Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Ali, jangan kau ikuti pandangan pertama (kepada yang haram) dengan pandangan berikutnya! Karena yang pertama (tidak berdosa) bagimu dan yang kedua bukan untukmu (berdosa). (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Hakim)”[3]
 Suatu hari, Imam Ghazali bertanya, "Apa yang paling dekat dengan kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, dan kerabatnya. Imam Ghazali menjelaskan semua jawapan itu benar.Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab itu sudah janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati.[4]
Firman Allah :
حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Fushshilat [ 41] : 20)
Penting untuk direnungi sejenak bahwa setiap perbuatan dosa pasti akan membekas berupa noda hitam di hati manusia, semakin bertambah dosa bertambah pula noda-noda hitam itu sampai menutupi rona dan warna hatinya. Tatkala hati telah tertutup noda hitam maka tiada mampu lagi mengenali kebaikan dan tiada pula mengingkari kemungkaran, jadilah hati itu keras lagi sulit menerima nasihat serta kebaikan. Pandangan mata kepada yang haram adalah faktor penyebab rusaknya hati,  faktor pendorong berbagai perbuatan dosa dan keji seperti zina, mencuri, membunuh dan berbagai aksi kejahatan lainnya. Dan tatkala ketika menghadap-Nya semua akan di timbang dan di adili tentang apa yang mereka lakukan di dunia ini. Firman Allah SWT tentang kesaksian hari akhir :
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
‘’Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.’’ (Qs. Yaasin [ 36 ]: 65)
Manusia adalah khalifah di muka bumi ini. Setiap apa yang di kerjakannya pasti akan ditanyakan di hari akhir ( Qs. Al Israa’ [17] : 36). Semoga apa yang di kesempurnaan yang di berikan oleh-Nya tidak membuat kita lalai dalam menjalankan perintah-Nya.
Wallahu a’lamu bish shawab.

KESIMPULAN
Pada dasarnya manusia takkan terlepas dari hawa nafsu, namun semua itu dapat di kendalikan jika kita mendekatkan diri pada-Nya. Dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya insya allah kita bisa. Poin-poin yang dapat kita ambil dari keterangan di atas adalah:
v  Kesempurnaan yang kita miliki harusnya di manfaatkan dengan baik
v  Alat indra yang kita miliki juga pada hari akhir akan dimintai pertanggung jawaban
v  Apapun yang kita kerjakan pasti akan di tanya di hari akhir
v  Kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita,sehinga jangan sia-siakan hidup ini dengan melakukan hal-hal yang memberatkan kita di hari akhir.
Semoga semua ini dapat bermanfaat dan membantu anda untuk mengetahui tentang pertanggung jawaban alat indra pada Allah SWT. Terimakasih


















DAFTAR PUSTAKA

Dr. Mahmmud Ali Fayyad 1998, Manhaj al-muhaddisin fii dhabth As-sunnah,Bandung: CV PUSTAKA SETIA.








[1] Dr. Mahmmud Ali Fayyad, Manhaj al-muhaddisin fii dhabth As-sunnah,(Bandung: CV PUSTAKA SETIA,1998)hml 108

[3] http://www.buletin-alilmu.com/
[4] http://salsedakwahcenter.blogspot.com/2009/04/fatwa-imam-al-ghazali.html

29 komentar:

  1. nama: ahmad mursalin
    kelas: F
    nim: 202 1110 277

    jujur memang sulit bagi saya pribadi untuk menjaga pandangan mata serta panca indera lainnya! nah yang ingin saya tanyakan adalah solusi serta langkah2 menurut anda dalam menjaga pandangan mata serta panca indra lainnya dalam keseharian agar senantiasa jauh dari nafsu, dosa dan lain-lain yang sesuai dengan ajaran agama?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam firman Allah SWT (Al-A'raf :179) Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
      Dan dalam Al Quran surat Yusuf : 53 mengatakan Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
      Dari ayat tersebut dapat di simpulkan bahwa yang menjadi persoalan besar jika kita tidak bisa mengendalikan nafsu adalah sesuai yang tertuang di atas yaitu menjadi penghuni neraka. Mari kita mencermati sekaligus introspeksi diri terhadap nikmat-nikmat Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang dikaruniakan kepada kita. Tak pernah mampu rasanya menghitung dan menyebut seluruh nikmat yang telah digelar untuk hamba-hamba-Nya. Semoga bermanfaat. Tq ^_^

      Hapus
  2. lilis Handayani
    2021110246
    kelas:F

    menurut anda bagaimana jika seseorang memanfaatkan kecacatan alat indranya untuk menarik belas kasihan orang lain,misal:para peminta-minta. apakah itu dapat dibenarkan??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengeksploitasi kecacatan fisik ( alat indra khususnya ) adalah suatu bentuk sikap tidak menghargai rasa syukur atas apa yang diberikan-Nya pada kita. Rasa mengeluh, iri, dan minder dengan apa yang dimilikinya adalah salah satu sebab yang mengakibatkan seseorang melakukan hal tersebut. Karena tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk bertahan hidup dengan cara sama seperti manusia normal lainnya ( yang tidak cacat alat indra) untuk mencari pekerjaan. Kemudian mereka pasrah dengan keadaan.
      انَّ للهَ ل يُغَيّرُما بِقَوّمِ حتى يُغَيِرُمابِأنْفُسِهِمْ
      “ Sesungguhnya Allah tidak akanmerubah suatu kaum sehingga suatu kaum merubahnya sendiri ”. Jika patokanya benar-benar ingin mengubah hidup, untuk setidaknya hidup layak maka itu suatu tindakan yang tidak terpuji jika mengeksploitasi kekurangan fisik yang di miliki. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki. Sesungguhnya orang yang kaya di dunia ini adalah orang yang pandai bersyukur.

      Hapus
  3. nama:eni marfuah
    nim :2021110238
    kelas:f
    menurut pemakalah?......bagaimana cara memenfaatkan panca indra dengan baik agar menjadi pahala bukan dosa dan di akherat di hisab dengan seringan-ringannya?..........................

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.’’( Qs. Al Israa’ [17] : 36)

      Kesimpulannya adalah: gunakanlah hati, pendengaran, penglihatan sebagai indra untuk menangkap realitas-realitas, termasuk realitas teks yang ada dalam Alquran, dan pelajarilah dengan sungguh-sungguh, jangan tergesa-gesa, gunakan akal dengan benar, dengan didasari ilmu pengetahuan, jangan atas dasar dugaan semata Q.S Az Zukhruf 43: 20, dan berdoalah “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Q.S Thaahaa 20 : 114. Semoga bermanfaat. Tq ^_^

      Hapus
  4. Arif stiawan
    2021110270
    f

    Penggunaan Panca Indera Akan Dinilai dan Dimintai Pertanggung jawaban
    gimana kalo ga digunakan?
    dipertangung jawabkan atau tidak?
    mhn jelaskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ ». قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ(رواه الإمام الترمذي).
      Dari Abi Barzah al-Aslamy berkata: Rasul SAW bersabda: “Tidak akan bergerak kaki seseorang pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa ia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana dihasilkan dan untuk apa saja ia infakkan dan tentang jasadnya untuk apa ia gunakan” (HR Tirmidzi)
      Allah SWT menjadikan hidup dan mati sebagai ujian bagi manusia sehingga dapat diketahui siapakah dari mereka yang paling baik dan sesuai amalnya di hadapan Allah SWT. Dari sini kita meyakini bahwa kehidupan dunia tidak bisa dan tidak akan terpisahkan dari kehidupan akhirat. Setiap ucapan, gagasan, perilaku, dan aktivitas—baik kecil apalagi yang besar—akan berkaitan erat dengan kehidupan setelah kehidupan ini, yaitu Hari Hisab (perhitungan), Hari Pembalasan Amal. Maka, setiap jiwa akan dihadapkan ke “mahkamah” Allah Yang Maha adil untuk mempertanggungjawabkan setiap yang dilakukan di masa hidupnya di dunia. Ia akan menghadapinya sendirian; tidak ditemukan lagi jual-beli, apalagi kolusi dan kongkalingkong untuk mengelabui Rabbul- Jalil Allah SWT. Semua yang telah dilakukan di dunia akan tercatat secara detail, terdeteksi dengan akurat dan cermat.
      Barang siapa yang melakukan kebaikan sekecil apa pun, dia akan mendapatkannya dalam catatan kebaikan, dan pasti mendapatkan balasan sesuai dengan sifat Allah yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
      Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dari Ibnu Mas’ud ini menjelaskan kepada kita bahwa setiap anugerah yang Allah berikan kepada kita, sebagai sarana untuk menunaikan misi dan fungsi manusia di muka bumi ini—sebagai pen-ta’mir bumi—bukan semata-mata pemberian yang lepas dari tanggung jawab, melainkan semua itu harus kita pertanggungjawabkan di hadapan mahkamah Allah Yang Maha adil pada hari pembalasan. Semoga bermanfaat. Tq ^_^

      Hapus
  5. fatimatuz zuhro
    2021110257
    F
    dalam makalah disebutkan bahwa kita harus memanfaatkan kesempurnaan kita secara baik dan benar.bagaimna cara memanfaatkan kesempurnaan kita secara baik?bagaimana pendapat anda biasanya orang yeng memiliki kesempurnaan atau kelebihan pasti tidak akan luput dari yang namanya kesombongan,bagaimana cara anda mensikapinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara memanfaatkan kesempurnaan yang kita miliki sudah saya jawab pada pertanyaannya Eni Marfuah. Kemudian sifat takabur sering menghinggapi umat manusia. Ini terjadi disaat mereka merasa di atas, atau dengan kata lain merasa sempurna di banding yang lainya. Mereka lupa akan kehidupan yang fana ini. Tinggi hati atau sombong adalah ciri orang yang selalu memandang ke atas apa yang lingkungan sekitar miliki. Padahal perlu kita ingatkan hidup adalah seperti perputaran roda,kadang selalu di atas dan kadang pula selalu di bawah. Atau seperti bunyi pepatah mengatakan di atasnya langit masi ada langit. Apakah kita akan membanggakan tentang harta,martabat,jabatan, ataukah kemolekan dan kegagahan fisik jasmani yang kita miliki. Karena semua yang bernafas pasti akan mati,
      seperti firman Allah SWT : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(Al Imron 185)

      Dan bagaimana kita menyikapinya. Saya rasa kebiasan kita untuk tafakur dan mengucap rasa syukur atas apa yang kita miliki harus di biasakan pada diri kita. Dan itu sebagai bentuk intropeksi pada diri sendiri. Karena sesungguhnya orang yang paling bahagia adalah orang yang mensyukuri apa yang dia peroleh.

      Hapus
  6. Nama:Dadang Irwanto
    NIM:2021110256
    kls:F

    Setiap yang kita lakukan dengan panca indra kita,segalanya akan dimintai pertanggungjawaban.Apakah perbuatan buruk yang pernah kita lakukan dengan panca indra dapat di ubah agar tanggungan kita tidak berat atas perbuatan buruk yang kita lakukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti yang tadi saya jelaskan pada saudara Arif Setiawan bahwa yang dipertanyakan pada yaumul hisab ada 4 hal yaitu :
      (1) Tentang umur, untuk apa umur itu dihabiskan.
      (2) Tentang ilmu, untuk apa ilmu itu difungsikan.
      (3) Tentang harta benda, dari mana harta benda itu diperoleh.
      (4) Tentang kondisi tubuh, untuk apa kenikmatan itu digunakan.
      Dan kondisi tubuh,seperti panca indra yang kita mililiki untuk apa di gunakan ? jikalau ada perbuatan yang bisa mengurangi dosa2 yang kita lakulan pastilah perintah-perintah yang tertuang dalam Al quran,sunah dan hadist rassulullah SAW yang bisa membantu

      Hapus
  7. Miskiyatin nufus 2021110283 F


    bagaimana cara menghindari penggunaan panca indera yang tidak bermanfaat atau bahkan mengandung keburukan...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inti jawabanya sama dengan pertanyaan yang di atas dan sudah saya jelaskan pada saudara ENI MARFUAH. Semoga paham Tq ^_^

      Hapus
  8. Yeni nur khasanah
    2021110266
    F

    Menurut anda apa yang harus dilakukan apabila ada seseorang yang ingin bertobat dari hal2 buruk yang pernah dilakukan agar terhindar dari pertanggung jawaban di akhirat nanti?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibarat pepatah lama mengatakan kita bukan keledai yang jatuh pada lubang yang sama. Jika suadah tahu perbuatan itu salah / berdosa kemudian masi mengulanginya lagi bukankah itu sama saja dengan keledai. ‘’Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.’’( Qs. Al Israa’ [17] : 36). Jika sadar akan apa yang kita lakukan bertobatlah,sebelum ajal menjemput. Adapun antara manusia dengan Allah SWT maka syarat tobatnya ada tiga :
      a. Menyesal dalam hati
      b. Niat tidak akan mengulangi dosa itu
      c. Mebaca istighfar dengan lidah
      Menyesali kesalahan adalah cukup untuk memenuhi persyaratan taubat,begitukata orang yang telah melaksanakannya, karena tindakan tersebut mempunyai akibat berupa dua persyaratan yang lain. Artinya, orang tidak mungkin bertaubat dari suatu tindakan yang tetap dilakukannya atau yang dia mungkin bermaksud melakukannya.inilah makna taubat secara ringkas.
      إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
      Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. QS. Al Baqarahayat 222
      يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
      Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.......

      Hapus
  9. 2021110281
    yang dimaksud dengan pertanggung jawaban atas segala penggunaan panca indra itu bagaimana? jika dilihat dari hubungan antar manusia (hablum minannas) maupun hubungan dengan Allah (hablum minaALLAH? terimakasih....
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup dari bantuan orang lain. Apapun yang kita lakukan dan hasil apa yang kita lakukan akan menghasilkan dua sisi nilai yang berbeda. Yang pertama akan menghasilkan kebaikan jika hasil itu bermanfaat bagi orang lain. Dan yang kedua bersifat sebaliknya. Karena manusia tidak bisa lepas dari pendapat oang lain. Jadi itulah pertanggungjawaban dari segi hubungan antar manusia (hablum minannas ). Sedangkan dari segi hablum minanallah yang pada dasarnya Allah SWT maha melihat lagi maha pendengar, dan tentu saja tahu apa yang di lakukan umatnya. Seberapa besar dan kecil perbutan yang kita lakukan di dunia ini pastilah Dia tahu apayang di lakukan pada umatnya

      Hapus
  10. syaiful islam
    2021110250

    apa yang dimaksu dari penjelasan dengan penglihatan dan hati, bagaimana keterkaitan keduanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fungsi dan posisi mata pada penjelasan hadist di atas adalah sebagai alat bantu bagi manusia untuk melihat dan meraih hidayah kepada jalan yang lurus, yaitu dengan memahami perintah dan larangan Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai bentuk syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Sedangkan hati adalah bersifat menjalankan dan mengiyakan apa yang panca indra kita respon. Karena hati tidak bisa berbohong. Ibarat kata dari mata turun ke hati. Semuanya bersumber dari hatikarena hati tidak pernah bohong

      Hapus
  11. chomsatun nadhiroh
    2021110274
    F

    kan ada manusia yg tidak memanfaatkn alat indranya untuk hal yg positif,,melainkan mlkkn hal negatif yg brdmpak buruk baginya,smpai meninngal..nah apakah mnsia itu akn d pertanggung jwbkn d akhirat nantinya,???...yg pda dsarnya mngerti/memahami alat indranya itu hrs dgunakan untk apa saja yg bs brguna bgi dirinya maupun orang lain...

    BalasHapus
    Balasan
    1. “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Fushshilat [ 41] : 20). ‘’Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.’’ (Qs. Yaasin [ 36 ]: 65). ‘’Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.’’( Qs. Al Israa’ [17] : 36.
      وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ
      Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Qs Az Zumar ; 54
      Saya rasa sudah jelas janganlah tergoda hawa nafsu kenikmatan duniawi dan lekas bertobatlah

      Hapus
  12. Nama: Diah Safitri
    Nim: 2021110260


    Apakah ada perbedaan dalam pertanggungjawaban diakhirat antara orang yang mempunyai panca indra normal dengan orang yang mempunyai kecacatan dalam panca indranya? mohon dijelaskan!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Saya rasa jika patokanya pada aspek perbedaan panca indra yang normal dan yang tidak normal ( mempunyai kekurangan dalam panca indra) itu sama saja hadapan-Nya. Secara psikologis orang mempunyai kecacatan/ kekurangan akan mempunyai kepekaan yang lebih pada salah satu indra yang dimilikinya. Yang menjadi pertanyaan di hari akhir adalah :
      (1) Tentang umur, untuk apa umur itu dihabiskan.
      (2) Tentang ilmu, untuk apa ilmu itu difungsikan.
      (3) Tentang harta benda, dari mana harta benda itu diperoleh.
      (4) Tentang kondisi tubuh, untuk apa kenikmatan itu digunakan.
      Dan yang paling membedakanya adalah ketaqwaannya

      Hapus
  13. kalau menurut saya semua hal yang sudah diberikan Allah pada manusia pasi akan dmintai pertanggung jawaban. Pertanggungjawaban akan disesuaikan dengan hukum-hukum Allah yang dapat diketahui manusia melalui Al qur'an dan hadist. Agar kita terhindar dari hal yang negatif alangkah baiknya jika kita internalisasi bahwa Allah maha tahu, maha melihat, dan maha mendengar. Sehingga kita akan selalu ingat untuk menghindari hal2 buruk yang akan mendapat pertanggungjawaban di akhirat.

    BalasHapus
  14. Hartini
    2021110237
    F

    jika semua perbuatan kita dimintai pertanggung jawaban atas semua yg kita lakukan, lalu bagaimana dengan mereka yg tidak sengaja melakukan sesuatu yg berkaitan dengan panca indra demi kebaikan mereka sendiri ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuhan maha tahu segala apa yang di lakukan umatanya. Apa yang menurut mereka baik belum tentu baik pula munurut orang lain. Sehingga bijaksanalah dalam menentukan piliahan. Apakah kita mengira semua tak ada konsekwensi atas apa yang kita perbuat ? Bahkan sebelum menerima pertanggung jawaban kelak di alam "Nyata" terkadang kita sudah menerima balasannya di alam "Maya" ini. Kita diberi kebebasan memilih

      Apakah ketika kita gagal dan menjadi pecundang dalam permainan ini kita bisa mengulang ? kita bisa memohon kepada-Nya untuk diberi kesempatan kedua ? untuk melakukan remidi agar mendapat nilai sempurna ?

      Semua akan bersaksi di hadapan-Nya kelak. Kita tak bisa mengelak dan berkata "ah itu rekayasa... saya berbuat baik koq, mengapa diaanggap jahat". Firman Allah kurang lebih artinya :

      QS Al Zalzalah, 99:4] pada hari itu (kebangkitan) bumi menceritakan beritanya,

      Yap,,, bumi ibarat kepingan CD tiga dimensi yang selalu berputar dan berputar merekam jejak-jejak yang kita lakukan. Bahkan hingga susunan partikel terkecil (mikrokosmos) pun memberi kesaksian pula,,,

      QS Fushshilat, 41:21. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan."

      QS An Nur, 24:24 Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

      http://debu-semesta.blogspot.com/2012/01/hidup-game-dan-takdir.html


      Maaf, kawan. Jika terlalu banyak ayat2 Al Qur'an yang saya taburkan. Sekali lagi bukan untuk bermaksud melakukan "abuse" terhadap firman-Nya, hanya saja saya berharap masing2 kita bertanya, sudahkah kita tadarus Al Qur'an seluruhnya, walaupun sekedar terjemahan dulu. Berapa banyak waktu kita untuk membaca cerpen, novel, flash-stories, lalu berapa banyak waktu yang kita sisakan sepetak untuk memahami ayat-ayat NYA....

      Hapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus