new post

zzz

Sabtu, 08 September 2012

SBM F1 - hakikat, ciri dan komponen

SBM F1 - hakikat, ciri dan komponen - word

SBM F1 - hakikat, ciri dan komponen - ppt














MAKALAH
HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah                 :           Strategi Belajar mengajar
Dosen pengampu        :           Ghufron Dimyati, M.Si

Disusun oleh :
Dadang Irwanto         2021110256
Fatimatuz Zuhro         2021110257
Ifrokha                       2021110258


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN


BAB I
PENDAHULUAN
Siapa pun tidak akan pernah menyangkal bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dengan penuh makna. Didalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan kedalam ciri setiap pribadi anak didik.
Salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki guru adalah kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar. Kemampuan ini membekali guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai  pengajar. Belajar dan mengajar terjadi pada saat berlangsungnya interaksi antara guru dengan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Sebagai proses, belajar dan mengajar memerlukan perencanaan yang saksama, yakni mengkoordinasikan unsur-unsur  tujuan, bahan pengajaran, kegiatan belajar-mengajar, metode dan alat bantu mengajar serta penilaian atau evaluasi. Pada tahap berikutnya adalah melaksanakan rencana tersebut dalam bentuk tindakan atau praktek mengajar.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Proses Belajar Mengajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara profesional.
Setiap kegiatan belajar mengajar selalu  dua pelaku aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi belajar siswa yang didesain secara sengaja, sistematis dan berkesinambungan. Sedangkan anak sebagai subyek pembelajaran merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang diciptakan guru. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan pada dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar. Walaupun pada kenyatannya tidak semua perubahan termasuk pada kategori belajar.[1]
Belajar yang dihayati oleh seorang pebelajar (siswa) ada hubunganya dengan usaha pembelajaran, yang di lakukan oleh pembelajar (guru). Pada satu sisi , belajar yangdi alami oleh pebelajar terkait oleh dengan pertumbuhan jasmaniyang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental tersebut juga didorong oleh tindak pendidikan atau pembelajaran dengan kata lain, belajar ada kaitanya dengan usaha atau rekayasa pembelajaran. Dari segi siswa, belajar yang di alaminya sesuai dengan pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental, akan menghasilkan hasil belajar sebagai dampak pengiring, selanjutnya, dampak pengiring tersebut akan menghasilkan program belajar sendiri sebagai perwujudan emansipasi siswa menuju kemandirian. Dari segi guru, kegiatan belajar siswa merupakan akibat dari tindak mendidik atau kegiatan mengajar. Proses belajar siswa tersebut menghasilkan prilaku yang di kehendaki, suatu hasil belajar sebagai dampak pengajaran. Ditinjau dari acara pembelajaran, maka dampak pengajaran tersebut sesuai dengan  tujuan pembelajaran[2]. 

B.     Ciri-ciri Belajar Mengajar
1.      Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didikdalam suatu perkembangan tertentu.
2.      Adanya suatu prosedur atau jalannya interaksiyang direncanakan, didesain, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu adanya prosedur, langkah-langkah atau  sistematik dan relevan.
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan matrei yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Materi harus sudah didesain dan disiapkan sebelum berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
4.      Ditandai dengan aktifitas anak didik. Sebagai konsekuensi bahwa anak didik meruopakan syarat muttlak bagi nerlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Aktifitas anak ddidk dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental, aktif.
5.      Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
6.      Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan senbagai suatu pola tingkah laku yang di atur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah di taati oleh pihak guru maupun anakn didik dengan sadar.
7.      Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah dsatu ciri yang tidak bisa di tinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai.
8.      Evaluasi. Evaluasi harus guru lakukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah ditentukan.[3]

C.     Komponen belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar menagdung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan pelajaran, kegaiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi.
a.       Tujuan
Tujuan merupakan suatau cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksananaan pembelajaran. Tujuan dalam pendidikan dan pengejaran merupakan sutau cita-cita yang bernialai normatif, sebab dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik.suatu ttujuan pengajaran menunjukkan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran dan bukan sekeadar proses dari pengajaran itu sendiri.
b.      Bahan Pelajaran
Bahan atau materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pengajran yang “dikonsumsi” oleh peserta didik. Bahan ajar merupakan materi yang terus berkembagng secara dinamis seiring dengan kemajuan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Bahan ajar yang diterima anak didik harus mampu merespon setiap perubahan dan mengantisipasi setiap perkembangan yang akan terjadi di masa depan.
Bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bidsa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan pengajran merupakan inti dalam proses belajar mengajar
c.       Kegiatan belajar mengajar
Dalam kegiatan belajar, guru dan peserta didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu peserta didiklah yang lebih aktif, bukan guru seperti yang dikhendaki oleh pendekatan CBSA (cara nelajar sisiwa aktif), murid sebagai sentral pembelajaran. Interaksi dikatakan maksimal bila terjadi antara guru dengan semua peserta didik,antara peserta didik dengan guru, antara peserta didik dengan peserta didik, pserta didik dengan bahan dan media pembelajatran, bahkan peserta didik dengan dirinmya sendiri, namun tetap dalam kerangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
d.      Metode
Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menguasai metode mengajar menrupakan keniscayaan, sebab seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila ia tidak menguasai metode secara tepat.
e.       Alat
Alat merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Dalam proses pengajaran maka alat mempunyai fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan.
f.       Sumber Pelajaran
Sumber pelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran bisa didapatkan. Sumber bahan pelajaran sesungguhnya nahyak sekali terdapat di mana pun seperti di sekolah, pusat kota, pedesaan, benda mati, lingkungan, toko dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tergantung pada kreatifitas guru, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya.
g.      Evaluasi
Evaluasi dalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
Evaluasi sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan dalam proses bel;ajar mengajar dan di dalamnya melibatkan guru dan siswa, pada dasarnya memiliki funsi sebagai berikut :
1.      Memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses pengajaran serta mengadakan perbaikan program bagi murid.
2.      Memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid
3.      Menentukan posisi murid di dalam situasi belajar mengajar agar sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki masing-masing siswa
4.      Mengenal latar belakang siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar. Nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan-kesulitan belajar
Seorang guru tidak bisa mengabaikan evaluasi dalam pendidikan, sekalipun seni, cara dan teknik pelaksanaannya bergantung pada guru masing-masing.[4]


BAB III
PENUTUP

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa hakikat belajar adalah perubahan, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukian oleh guru. inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran.
Selain itu, belajar dan mengajar juga memiliki ciri dan komponen yang harus diperhatikan untuk kelancaran proses belajar mengajar. Dengan memperhatikan aspek hakikat, ciri dan komponen, diharapkan tujuan daripada belajar mengajar bisa terealisasikan dalam interaksi antara guru dan murid.



[1] Syaiful Bahri Djamarah. Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, Cetakan ke-3,2006), Hal, 37-38
[2] Dimyati, Mudjiono. Belajar Dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rieneka Cipta,1999), Hal,38
[3] Saiful bahri djamarah dan Azwan Zain, strategi Beljar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006) hal. 40-41
[4]  Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar melalui penanaman konsep umum dan konsep islami, (Bandung : PT. Revika Aditama, 2009) hal 13-18












8 komentar:

  1. Nama naely fajriyah h nim 2021 11 037
    mau tnya dlm belajar mengajar apakah metode di stiap tingkatan pendidikan itu sama atau berbeda ? Jika berbeda tolong jelaskan
    dan metode seperti apa yg pas n gmpang diserap atau diterima oleh anak didik ?
    Sekian terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. dalam belajar mengajar, tentunya harus memandang tingkatan seseorang. apakah dalam tingkat anak-anak, remaja maupun dewasa. sehingga penggunaan metode disesuaikan dengan tingkatan seseorang. dengan hal itu akan bisa memahamkan anak didik

      Hapus
  2. Nama: Arinun Ilma, NIM: 2021 111 045
    jika dilhat dari hakikat proses belajar meengajar adalah perubahan, yakni salah satunya anak didik yang semula tidak tahu menjadi tahu. namun pada kenyataannya, banyak proses belajar mengajar dikatakan gagal karena tidak deapat memahamkan anak didiknya. hal itu dilihat dari hasil ujian akhir yang sebagian besar mendapatkan nilai dibawah rata". jika melihat fenomena tersebut siapa yang berpengaruh besar dalam berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan? karena pada makalah bagian komponen belajar mengajar tentang evaluasi poin 4 itu banyak tidak diterapkan oleh para pendidik.
    Terimakasih dan mohon penjelasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dalam pembelajaran, sebenarnya antara pendidik dan anak didik sama-sama memiliki pengaruh dalam pembelajaran. karena tugas pendidik yang sebagai pembimbing akan bisa tercapai manakala bisa membimbing anak didik dengan benar. begitu juga anak didik, adalah subyek pembelajar. yang harus bisa menguasai suatu hal yang diberikan oleh si pendidik. apabila ada hubungan antara pendidik dan anak didik, maka akan bisa melancarkan proses pendidikan

      Hapus
  3. aslm
    nama nur daningsih
    nim 2021 111 046
    dalam komponen belajar mengajar ,apakah semua point terlaksana dengan baik sesuai yang dijelaskan oleh makalah?
    mohon dijelaskan dan dipahamkan.

    BalasHapus
  4. nurma agista nim 2021 111 044
    dalam belajar mengajar ada anak didik yang lambat menerima pelajaran dan cepat menerima pelajaran. bagaimana cara seorang guru agar anak didik yang lambat menerima pelajaran itu tidak ketinggalan dengan yang cepat menerima pelajaran?

    kemudian di dalam komponen belajar ada poin ke c yang membahas tentang kegiatan belajar mengajar.disitu dijelaskan anak didik yang lebih aktif. menurut kelompok anda apakah kegiatan belajar mengajar yang semacam itu dapat diterapkan di SLB (sekolah luar biasa)? mohon penjelasannya terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. solusi agar bisa adil adalah guru harus memberi tambahan pelajaran pada siswa yang lambat menerima pelajaran. atau kalau tidak bisa, dibentuk kelompok belajar kecil antara siswa yang cepat pemahamannya dan siswa yang lambat pemehamannya

      2.peranan siswa memang harus lebih aktif. namun jika kondisinya menghadapi anak yang dalam kondisi anak luar biasa, gurulah yang harus lebih aktif. karena di sini guru sebagai pusat pembelajaran

      Hapus
  5. dewi nurlita kurniawati
    2021111036
    mengenai komponen belajar mengajar pada poin C YAKNI keg belajar mengajar atau ygt byaza disingkat SBM itu dijelaskn bhwa interaksi dlm KBM itu dengan pendekatan CBSA (cara belajar siswa aktif) yakni murid sbg sentral pembelajran
    pendekatan CSBA itu mulai diterapkan pada jenjang level kls berapa? apakah sudah biza diterapkan pada anak SD sedangkan kita tahu bahwa mereka msih membutuhkan guru sbg pusat pembelajaran
    sekian dan terima ksih

    BalasHapus