Laman

Minggu, 29 April 2012

Pengajian A, Nurul Fauziyah: "Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW"


TUGAS PENGAJIAN
Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati, M.S.I



 









Disusun Oleh :
NURUL FAUZIYAH
2021110023
Kelas A




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 (STAIN) PEKALONGAN
 2012
Nama majlis ta’lim : Al-Muqarrabin
Hari / tanggal          : Jumat, 20 April 2012
Waktu                      : 16.30 wib
Alamat                     : Jalan Palapa III Perumahan Kandang Panjang, Pekalongan Utara
Pembicara              : Hj. Mualifah
Tema                       : Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW

Ringkasan Pengajian
            Pada zaman kepemimpinan nabi Muhammad saw, banyak terjadi peperangan antara kaum muslim dan kaum kafir. Dan banyak pula terdapat orang-orang munafik, yang berpindah-pindah agama sesuka mereka. Ada sebuah cerita ketika terjadi peperangan antara kaum muslim dengan kaum kafir, yang kemudian kaum muslim berhasil menawan sebagian dari kaum kafir. Dan kemudian nabi saw dan kaumnya berkumpul untuk membicarakan mengenai apa yang harus dilakukan pada tawanannya ini. Kemudian, sahabat nabi yang bernama  Abu Bakar mengusulkan bahwa lebih baik para tawanan itu dimaafkan saja. Mendengar usul Abu Bakar nabi saw hanya diam. Kemudian Umar bin Khatab angkat bicara dan mengusulkan bagaimana jika tawanan ini kita bunuh saja. Mendengar usul Umar nabi juga masih diam. Kemudian nabi beranjak dari tempat duduknya dan masuk kekamar, setelah beberapa menit nabi saw keluar dari kamarnya dan memberikan tanggapannya mengenai usul dari kedua sahabatnya tersebut. Beliau menyampaikannya dengan sangat bijak dan hati-hati agar tidak menyakiti siapapun. Sebagian kaum muslim setuju dengan pendapat Abu Bakar dan sebagian lain setuju dengan Umar bin Khatab. Nabi saw memulai perkataanya, beliau memuji Abu Bakar dan mengumpamakan Abu Bakar jika di umpamakan malaikat Abu Bakar seperti malaikat mikail yang pemaaf dan jika diumpamakan nabi Abu Bakar seperti nabi Ibrahim yang menghadapi umatnya bukan dengan keras. Kemudian nabi saw juga memberikan pujianny kepada Umar bin Khatab, jika diumpamakan malaikat Umar seperti malaikat jibril yang maha pemberi wahyu, dan jika diumpamakan nabi Umar seperti nabi nuh yang berdoa kepada Allah “ ya allah jangan Engkau tinggalkan satupun orang kafir disini”. Nabi saw adalah pemimpin yang bijaksana, setelah memberi pujian kepada keduannya bagaimanapun sebagai seorang pemimpin nabi saw harus tegas mengambil keputusan, dan nabi saw memilih pendapat Abu Bakar untuk memaafkan para tawanannya, mendengar itu Umar bin Khatab berlapang dada menerimanya.
            Namun, pada zaman sekarang ini tidak mudah menemukan seorang pemimpin yang mampu mempunyai sifat sedemikian rupa seperti nabi muhammad saw. Pemimpin itu hendaknya bijaksana, tegas dan berwibawa. Hal tersebut sebenarnya cuma satu yang menentukannya yaitu hati. Ketika hati kita sudah bersih dan selalu mengingat Allah swt, maka kita akan menjadi pemimpin yang baik. Dan sebaliknya jika hati kita telah tertutup oleh noda-noda dosa, maka kita akan menjadi pemimpin yang rusak pula. Untuk mampu menjadi pemimpin yang memiliki sifat dan sikap seperti nabi muhammad saw memang mustahil, akan tetapi sebagai umatnya hendaknya kita berusaha mencontoh beliau meskipun tidak sesempurna Rasulullah saw. Pemimpin pada zaman ini, dirasa kurang mampu menjalankan tugasnya, hal tersebut terjadi karena manusia sekarang kurang bertirakat. Banyak dari mereka yang lalai akan perintah Allah dan lebih banyak melakukan maksiat. Itu semua terjadi karena hati mereka, para manusia yang sudah tidak bersih lagi. Karena kurangnya berdoa atau mendekatkan diri kepada Allah swt. Doa itu sangat penting dan segala sesuatu itu terjadi atas kehendak-NYA. Namun, setidaknya seorang pemimpin itu harus bersungguh-sungguh dalam kerjaanya karena itu adalah sebuah amanat. Seperti hadis nabi yang berbunyi “ tidaklah seorang pemimpin yang memimpin perkara orang muslim kemudian dia tidak bersungguh-sungguh dan tidak berbuat baik kepada mereka kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka”.
            Ciri-ciri orang yang hatinya sudah mati yaitu :
-          Mudah meninggalkan solat, misalnya ketika seseorang menjadi domas di acara hajatan dan berdandan begitu rapinya, ketika memasuki watu solat mereka merasa kesulitan jika harus berwudhu dan sebagainya maka mereka tidak mengerjakan solat.
-          Melakukan maksiat dengan bangga, seperti melakukan aborsi dan itu berkali-kali meskipun diketahui orang lain sekalipun.
-          Benci dengan Al quran, maksudnya malas membaca al quran dan lebih suka mengobrol sana sini .
-          Suka maksiat, maksudnya lebih banyak  mengerjakan larangan Allah dari pada perintahNya.
-          Benci dengan ulama, maksudnya apabila ada orang yang mengajarkan pada kebajikan justru digunjing.
-          Keras hatinya, artinya tidak mau mendengarkan nasehat orang lain.
-          Gila dunia, maksudnya bahwa orang tersebut hanya memikirkan kekayaan atau kebahagiaan dunia saja. Tanpa memikirkan akhirat.
-          Sibuk dengan menggunjing, senang menggosip dan menjelek-jelekan orang lain.
Hati adalah mata dari segalanya, hati yang dapat merasakan senang, sedih, marah, dan juga iman pada Allah dirasakan melalui hati. Menurut Abu Hurairah, hati adalah panglima, apabila panglima itu baik maka prajuritnya akan baik pula.
Analisisa pengajian :
            Setelah mendengar pengajian tersebut, menambah ilmu saya. Bahwasanya Rasulullah itu adalah sebaik-baiknya seorang pemimpin. Beliau mempunyai tutur kata yang sangat baik dan bijak dan mempunyai sikap yang tak kalah baiknya dengan sifat beliau. Beliau memimpin umatnya dengan baik, berwibawa, tegas dan sangat bijaksana.
            Sungguh, pada era sekarang ini memang tidak mudah menemukan pemimpin seperti beliau. Karena pemimpin saat ini banyak yang hanya memikirkan diri sendiri. Dan hatilah yang menjadi kunci segalanya. Ketika hati kita bersih, selalu berfikir positif dan tidak pendendam maka kita akan mempunyai sikap yang baik. Dan begitu sebaliknya.
            Dan untuk mampu memiliki hati yang bersih, dengan cara mendekatkan diri pada Allah, dan bergaul dengan ulama atau orang-orang yang memang menuntun kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar