Laman

Selasa, 22 November 2016

TT1 A 12a “Metode Kisah” (QS. Al-A’raf ayat 176-177)

Metode Pendidikan Khusus dalam Al-Qur’an
“Metode Kisah”
(QS. Al-A’raf ayat 176-177)

Ahmad Ghozali  2021115341
Kelas A

FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2016





KATA PENGANTAR
Alhamdulillah Segala Puji Bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah selalu memberikan rahmat serta hidayah kepada Kita Semua. Sholawat Serta salam saya haturkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penerang jiwa dan penyempurna akhlak. Semoga syafaat Nabi yang kita nantikan kita dapatkan. Penulis bersyukur kepada Allah yang telah memberi kekuatan kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
  Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak seorangpun yang mampu memberikan petunjuk. Dan kita bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kita bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya.
  Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Terimakasih untuk kedua Orang Tua yang selalu mendukung dan memberi semangat. Terimaksih kepada Pak Muhammad Ghufron yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat. Terimakasih Teman-teman semua yang telah membantu.



Pekalongan, 23 November 2016



Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada terdidik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian yang Islami. Dari satu segi kita melihat bahwa pendidikan itu lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain. Disamping itu pendidikan bertujuan agar terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Menurut Islam pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadikan manusia yang menghambakan diri kepada Allah.
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Akan tetapi pendidikan Islam disini mencakup pengajaran umum dan pengajaran agama, yang didasari dengan langkah-langkah mengajar yang disebut dengan metode pengajaran.
Dalam Al-Qur’an dan Hadits dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan,mendidik jiwa, dan membangkitkan semangat, juga mampu menggugah puluhan ribu Muslimin untuk membuka hati umat manusia menerima tuntunan Allah. Dalam hal ini, salah satunya metode dakwah yang merupakan metode pendidikan yang berfungsi untuk mengajak dan membawa uamtnya ke jalan Allah dan untuk mendapat keridhoan-Nya. Untuk itu, pemakalah akan menguak lebih jelas mengenai metode pendidikan atau yang dikenal dengan metode pengajaran secara global dalam bab pembahasan yang selanjutnya akan di bahas metode dalam surat AL-A’raf 176-177.



B. Judul
Makalah ini berjudul “Metode pendidikan khusus dalam Al-qur’an” dengan sub Bab “Metode Kisah” yang mengaambil kajian dari surat Al-A’raf ayat 176-177, sesuai tugas yang diberikan oleh dosen pengampu kepada penulis makalah.
C. Nash dan Arti
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَٮٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايٰتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿الأعراف:١٧٦﴾
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Al A’raf:176 ﴿
سَآءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايٰتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُوا۟ يَظْلِمُونَ ﴿الأعراف:١٧٧﴾
Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. Al A’raf:177 ﴿
D. Arti Penting
Ayat diatas supaya kita patuh, taat dan melakukan ibadah kepada Allah. Dan agar kita mengetahui metode pendidikan yang ada dalam surat Al-a’raf ayat 176-177. Serta agar kita selalu bertaqwa pada Allah, tidak menuruti hawa nafsu, tidak mendustakan ayat ayat Allah, dan menjadikan kisah kisah terdahulu sebagai pembelajaran.




BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori
Ada dua metode bentuk perbincangan dalam Al-qur’an mengenai metode pembelajaran. Pertama, pembicaraan langsug mengenai metode tersebut. Kedua, secara tidak langsung.
Dalam alqur’an terdapat metode amtsal, qissah (kisah), memulai pembelajaran dengan bertanya dan lain sebagainya. Teknik-teknik pembelajaran ini tidak digambarkan secara langsung sebagai suatu metode, tetap ia merupkan cara yang digunakan al-Qur’an dalam menyampaikan pesan-pesan Allah yang terdapat didalamnya.[1]
Dalam surat Al-A’raf ayat 176-177 terdapat dua metode pendidikan, yaitu:
1. Metode cerita (kisah)
Al-Qur’an dalam mengajar mnausia selalu menggunakan cerita, yaitu cerita orang-orang berakhlak mulia dan cerita orang-orang yang berakhlak tercela. Cerita orang berakhlak mulia misalnya para nabi, orang-orang shaleh, dan orang yang teguh imannya dalam meghadapi cobaan. Dan cerita tentang orang yang berakhlak tercela yang meliputi cerita orang sombong, angkuh, dan terlalu mencintai  harta dan kekayaan  dunia sehingga lupa kepada Allah.[2]
Dalam surat Al-A’raf ayat 176-177, seorang pendidik mengajarkan kepada muridnya dengan cara menceritakan kisah tentang seseorang yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah di milikinya. Seperti Qorun yang tamak akan harta yang dimilikinya, sehingga dengan ketamakannya itu, Allah menengglamkannya bersama hartanya tersebut. Jadi, surat Al-A’raf ayat 176-177 memberikan perempumaan tentang siapapun yang sedemikian dalam pengetahuannya sampai-sampai pengetahuan itu melekat pada dirinya, seperti melekatnya kulit pada daging. Namun ia menguliti dirinya sendiri dengan melepaskan tuntutan pengetahuannya. Ia diibaratkan seekor anjing yang terengah-engah sambil menjulurkan lidahnya sepanjang hidupnya. Hal ini sama seperti seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan tetapi ia terjerumus karena mengikuti hawa nafsunya. Ia tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya dengan ilmu yang ia miliki.
2. Metode Perumpamaan
Adapun pengertian dari metode perumpamaan adalah penuturan secara lisan oleh guru terhadap peserta didik yang cara penyampainnya menggunakan perumpamaan. Seorang pendidik mengumpamakan seekor anjing yang terus menjulurkan lidahnya. Dalam hal ini seorang pendidik mengajari anak didiknya untuk senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Jangan merasa kekurangan, seperti seekor anjing baik itu ketika ia lapar, haus, berlari, maupun kenyang, ia terus menjulurkan lidahnya. Kebaikan metode ini diantaranya yaitu :
 a. Mempermudah siswa memahami apa yang disampaikan pendidik
 b. Perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna tersirat didalamnya.[3]                                   
B. Tafsir
1. Tafsir Al-Maraghi
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا  
Kalau kami menghendaki agar orang itu kami angkat dengan ayat-ayat kami tersebut dan dengan mengamalkannya kepada derajat-derajat kesempurmnaan dan pengetahuan, bisa saja itu kami lakukan. Yaitu, kami buat petunjuk itu menjadi wataknya benar benar, dan kami membuat dia mesti mengamalkannya, baik dengan suka hati atau terpaksa. Karena bagi kami, itu pun tidak sukar. Hanya saja itu pertentangan dengan sunnah kami.
وَلٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَٮٰهُ
Akan tetapi, orang itu cenderung dan lebih condong kepada dunia, dan seluruh perhatian dalam hidupnya dia arahkan untuk menikmati kelezatan-kelezatan jasmani, dan tidak dia arahkan kepada kehidupan ruhani sama sekali, namun tak puas-puas juga. Akhirnya, hilanglah perhatiannya sama sekali untuk memikirkan ayat-ayat kami yang telah kami berikan kepadanya.
فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث
Sesungguhnya, orang ini, dengan sifat seperti itu, dia bagaikan anjing dalam kelakuannya yang terburuk dan paling hina. Karena dia senantiasa ingin dan tak pernah berhenti ingin mengumpulkan kekayaan duniawi dan kemewahan-klemewahannya, dari yang terkecil sampai yang terbesar, bagaikan budak nafsu dan para penyembah harta.
ذّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايٰتِنَا
Contoh yang sangat ganjil itu adalah perumpamaan dari kaum yang ingkar terhadap ayat-ayaat kami dan angkuh untuk menerimanyaMereka dengan orang yang diberi pngetahuan tentang ayat-ayat Allah, tetapi melepaskan diri kepadanya, kekeliruan tidaklah terletak pada ayat-ayat allah, bahkan dia sendirilah keliru, kenapa dia memperturutkan hawa nafsunya sehingga ia tak dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat tersebut.[4]
فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Maka, ceritakanlah hai rosul, kisah-kisah tentang orang yang menyerupai keadaanya dengan keadaan mereka yang mendustakan ayat-ayat yang terang yang kamu bawa. Dengan kisah-kisah itu diharapkan mereka mau memikirkanya, sehingga keadaan mereka yang buruk dan perumpamaan mereka yang jelek akan menyebabkan mereka mau berlama-lama memperhatikan dan memikirkan dengan pikiran yang jernih tentang diri mereka sendiri, dan mau memandang ayat allah dengan mata hatinya.
سَآءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايٰتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُوا۟ يَظْلِمُونَ
Amat buruklah sifat orang-orang yang mendustakan ayat ayat kami, dan kepada diri mereka sendiri mereka berbuat dhalim. Dan betapa jelek perumpamaan mereke dalam berbagai perumpamaan. Karena mereka berpaling dari memikirkan ayat-ayat kami, dan hanya memandang padanya dengan pandangan bermusuhan dan kebencian.
Alquran tidak menyebutkan siapa nama orang yang dijadikan sebagai perumpamaan, dari bangsa apa dan dari negara mana. Maka, dalam memberi nasihat, kita tidak perlu menerangkan siapa namanya.[5]
2. Tafsir Al-Azhar
Allah tetap bersedia mengangkat manusia naik, asal dia sendiritidak ingin hendak lekat saja di bumi karena diilkat kakinya oleh hawanafsunya.
Alangkah hinanya perumpamaan yag diambil Allah daripada rang yang menyilih baju ayat itu dan menukarnya dengan kufur. Laksana anjing selalu kehausan, selalu lidahnya  terulur karena tidak puas-puas oleh tamaknya. Anjing mengulukan lidah terus karena merasa belum kenyang, karena hawanafsunya belum terpenuhi.
Menurut penafsiran ibnu jarir at-Thabari, maka ceritakanlah olehmu hai rasul, cerita-cerita yang telah Aku kisahkan kepada engkau ini, tentang berita yang telah datang kepada mereka ayat Kami itu, dan berita tentang ummat-ummat yang telah Aku khabarkan kepada engkau dalam surat ini, dan berita lain yang menyerupai itu, sampaikan juga betapa akibat siksaan kami terhadap mereka, sebab mereka telah mendustakan rasul-rasul yang kami utus. Dan hal  yang seperti itu bisa saja sebelum engkau dari Yahudi Bani Israil. Supaya mereka ikirkan hal ini baik-baik, supaya mereka mengambil i’tibar , lalu mereka kembali kepada jalan yang benar, mereka taat kepada Kami.[6]
Allah sendiri mengakui memang amat buruk perumpamaan itu, mereka dimisalkan dengan anjing yang selalu kehausan, selalu mengulurkan lidah, sebab selalu tidak puas. Perhatikanlah sejak ayat sebelumnya. Tadinya ayat Allah ada dalam dirinya, lalu dia muntahkan kembali, dia perturutkan pimpinan syaitan, lalu dia tersesat. Mau diangkat naik, dia tidak mau, dia tetap lekat bumi, sebab yang berkuasa atas dirinya tidak lagi iman, melainkan nafsu. Sedang batas kehendak nafsu itu tidak ada, kalau tidak dibatasi dengan hidayat Allah padahal hidayat Allah lah  yang mereka dustakan.[7]
C. Aplikasi dalam Kehidupan
Dalam surat Al-A’raf ayat 176-177 disebutkan bahwasanya orang yang mengikuti hawa nafsu dan mendustakan ayat-ayat Allah bagaikan anjing yang selalu menjulurkan lidah, maka dari itu nabi Muhammad diperintahkan untuk memberikan cerita mengenai hal tersebut agar umatnya tidak sesat. sedangkan pengaplikasian kandungan ayat tersebut yaitu dengan cara sealau bertaqwa dengan istiqomah tanpa adanya rasa pamrih, senantiasa menjalankan perintah Allah, mengamalkan ayat-ayat Alqur’an dengan sepenuh hati, tidak melakukan kesenangan yang bersifat sesaat yang dapat memawa kita pada kesesatan.
D. Aspek Tarbawi
Dalam surat Al-A’raf ayat 176-177 terdapat banyak nilai tarbawi:
1. Memerintahkan untuk tidak mengikuti hawa nafsu
2. Senantiasa mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an
3. Meyakini ayat-ayat Allah
4. Menjadikan kisah-kisah terdahulu sebagai pembelajaran
5. Tidak mencintai harta dunia
6. Istiqomah dalam bertaqwa dan berdzikir kepada Allah agar tidak  terjerumus oleh hawa nafsu.






BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Melakukan sesuatu semata mata karena allah, bukan karena hawa nafsu belaka. Selalu meyakini dan mengamalkan ayat ayat Allah. Senantiasa menjadikan pelajaran atas kejadian yang lampau
Menjadikan metode kiasah sebagi metode pembelajaran yang senantiasa di amalkan dalam kehidupan. Serta kita janganlah mengikuti hawa nafsu yang semata-mata hanya untuk dunia saja dan bisa menjerumuskan kita kedalam neraka serta syukurilah apa yang telah ada pada diri kita.
B. Saran
Saya selaku penulis makalah, menyadari banyaknya kekurangan dalam makalah tentang metode khusus dalam pendidikan al-Qur’an (metode kisah) ini. Maka dari itu saya senantiasa menunggu kritik dan saran para pembaca. Kritik dan saran para pembaca merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi saya. Oleh karena itu saya mohon maaf atas kekurangan dalam makalah ini.










Daftar Pustaka
M Yusuf Kadar, 2013. Tafsir Tarbawi Pesan-pesan Alqur’an tentang      Pendidikan, Jakarta: Amzah.
Sudiyono M, 2009.  Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Rineka Cipta.
Mustofa Al-Maraghi Ahmad, 1987. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 9, Semarang: CV Toha Putra.
Hamka, 1982. Tafsir Al-Azhar Juz IX, Jakarta: PT Pustaka Panjimas.



PROFIL

NamaNim
TTL
Alamat                     

Riwayat Pendidikan 
: Ahmad Ghozali
: 2021115341
: Pekalongan, 05 Agustus 1997
: Jl. Raya Karanganyar Tirto Rt/Rw 01/03                   Pekalongan
: - TK Muslimat NU Karanganyar (2001-2003)
  - MIS Karanganyar 02 (2003-2009)
  - MTs S NU Karanganyar (2009-2012) 
  - MAS Simbangkulon (2012-2015)
  - IAIN Pekalongan (2015-Sekarang)

.




[1] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi Pesan-pesan Alqur’an tentang Pendidikan, (Jakarta: Amzah, 2013) hlm 115.
[2] Ibid, Kadar M Yusuf, hlm 121.
[3] M Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm, 285-286.
[4]Ahmad Mustofa Al-Maraghi,terjemah Tafsir Al-Maraghi 9, (Semarang, CV Toha Putra, 1987) hlm, 199-203.
[5] Ibid, Ahmad Mustofa Al-Maraghi, hlm, 203-204
[6]Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: PT Pustaka Panjimas,1982) hlm 165.
[7] Ibid, Hamka, hlm 166.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar