Laman

Kamis, 12 September 2013

SBM-B,02: pembelajar, gizag dan uswah



MAKALAH
“PEMBELAJAR, GIZAG DAN USWAH”

Disusun guna memenuhi tugas :

  Mata Kuliah            : Strategi Belajar Mengajar
 
  Dosen Pengampu    : Ghufron Dimyati, M.S.I



Disusun Oleh :

1. Moh. Abdurrohim                    2022111084
2. Muslimun                                   2022111067
3. Khadzik Alami                          2022111077
4. Muhammmad Rasyidi              2022111091

Kelas B



JURUSAN TARBIYAH PBA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2013




BAB I
PENDAHULUAN
        
        
         Pada hakikatnya aktivitas pendidikan selalu berlangsung dengan melibatkan pihak-pihak sebagai aktor penting yang ada di dalam aktivitas pendidikan tersebut. Aktor penting itu disebut sebagai subjek yang menerima disatu pihak dan subjek yang memberi di pihak yang lain dalam suatu interaksi pendidikan. Subjek yang memberi disebut pendidik sedang subjek yang menerima disebut peserta didik (pembelajar). Agar bisa menjadi tenaga pendidik yang baik dan profesional di samping mempunyai ilmu dan seni dalam mendidik seorang pendidik harus memiliki gizaq (wibawa) dan uswah (keteladanan).
         Demikian juga keberadaan peserta didik yang berpotensi berperan penting dalam sistem pendidikan. Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang arti pembelajar, gizaq dan uswah. Makalah ini penulis susun guna memenuhi tugas mata kuliah Strategi Belajar Mengajar.


BAB II
PEMBAHASAN


A.  Pembelajar
1.   Pengertian Pembelajar
         Pembelajar adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan.[1] Sosok Pembelajar umumnya merupakan sosok anak yang membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan. Ia adalah sosok yang sedang mengalami perkembangan jasmani dan rohani sejak lahir sampai meninggal dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara wajar.[2] Istilah pembelajar pada pendidikan formal di sekolah jenjang dasar dan menengah, dikenal dengan nama anak didik atau siswa, dan pendidikan di dalam keluarga disebut dengan istilah anak.
         Menurut Sutari Imam Bernadib, pembelajar sangat tergantung dan membutuhkan bantuan dari orang lain yang memiliki kewibawaan dan kedewasaan.

2.   Pembelajar sebagai Persona
         Dalam proses belajar mengajar seorang pendidik harus sedapat mungkin memahami hakikat peserta didiknya yang merupakan subjek yang otonom, memiliki motivasi, hasrat, ambisi, ekpresi, cita-cita, mampu merasakan kesedihan, bisa senang, susah dan sebagainya. Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik sebagaimana dijelaskan oleh Umar Tirtarahardja dan la Sulo adalah peserta didik merupakan:
1.      Individu yang memiliki perbedaan dengan individu lainnya yang meliputi potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik. Maksudnya ia sejak lahir telah memiliki potensi-potensi yang berbeda dengan individu lain yang ingin dikembangkan dan diaktualisasikan.
2.      Individu yang mengikuti periode-periode perkembangan, yakni selalu ada perubahan dalam dirinya secara wajar baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun ke arah penyesuaian dengan lingkungan.
3.      Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi. Maksudnya ialah walaupun ia adalah makhluk yang berkembang punya potensi fisik dan psikis untuk mandiri, namun masih membutuhkan bantuan dan bimbingan dari pihak lain.
4.      Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri. Hal ini dikarenakan bahwa di dalam diri anak ada kecenderungan untuk memerdekakan diri, sehingga mewajibkan bagi pendidik dan orang tua untuk setapak demi setapak memberikan kebebasan kepada anak dan pada akhirnya pendidik mengundurkan diri.
         Keempat ciri di atas merupakan justifikasi indikasi keunikan peserta didik sebagai persona yang multi-dimensional.

Sifat-sifat dan Kode Etik Peserta Didik
            Sifat-sifat dan kode etik peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilaksanakannya dalam proses belajar mengajar. Al-Ghazali merumuskan sebelas pokok kode etik peserta didik, yaitu:
1.   Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT, sehingga dalam keseharian pesrta didik dituntut untuk menyucikan jiwanya dari akhlak tecela dan mengisi dengan akhlak terpuji.
2.   Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrawi.
3.   Bersikap tawadlu.
4.   Menjaga pikiran dan pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.
5.   Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji serta meninggalkan ilmu yang tercela.
6.   Belajar dari ilmu yang fardlu ’ain menuju ilmu yang fardlu kifayah.
7.   Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya.
8.   Mengenal ilmu-ilmu ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajarinya.
9.   Memprioritaskan ilmu diniyah yang terkait dengan kewajiban sebagai hamba Allah SWT.
10. Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang manfaatnya dapat membahagiakan dan memberi keselamatan hidup dunia akhirat.
11. Peserta didik harus tunduk pada nasihat pendidiknya.[3]
B.  Pengertian Gizag
1.   Pengertian Gizag
         Gizag atau kewibawaan adalah sikap atau pembawaan yang dapat mempengaruhi dan menguasai orang lain atau memimpin yang penuh kemampuan dan daya tarik.[4]
Kewibawaan atau “gizag” adalah suatu daya mempengaruhi yang terdapat pada seseorang, sehingga orang lain yang berhadapan dengan dia secara sadar dan suka rela menjadi tunduk dan patuh kepadanya. Jadi barang siapa yang memiliki kewibawaan, akan dipatuhi secara sadar, dengan tidak terpaksa, dengan tidak merasa / diharuskan dari luar, dengan penuh kesadaran, keinsyafan, tunduk, patuh, menuruti semua yang dikehendaki oleh pemilik kewibawaan itu.[5]
Di dalam proses pendidikan, kewibawaan (gezag) adalah syarat yang harus ada pada pendidik dan Karena kewibawaan itu digunakan oleh pendidik didalam proses pendidikan untuk membawa anak didik kepada kedewasaan, maka kewibawaan itu termasuk alat pendidikan.
Yang dimaksud dengan kewibawaan dalam pendidikan (Opveodinggozag)
di sini ialah, pengakuan dan penerimaan secara sukarela terhadap
pengaruh atau anjuran yang datang dari orang lain. Jadi pengakuan dan penerimaan pengaruh atau anjuran itu atas dasar keikhlasan, atas kepercayaan yang penuh, bukan didasarkan atas rasa terpaksa, rasa takut akan sesuatu, dan sebagainya.

Macam-Macam Kewibawaan
Ditinjau dari daya yang mempengaruhi pada seseorang yang ditimbulkan, maka kewibawaan dapat dibedakan menjadi :
a. Kewibawaan lahir
Adalah kewibawaan yang timbul karena kesan-kesan dilihat dari lahiriah seseorang.



b. Kewibawaan batin
         Adalah kewibawaan yang didukung oleh keadaan batin atau yang muncul dari diri seseorang.[6]
Agar kewibawaan yang dimiliki oleh pendidik tidak goyah, tidak melemah, maka hendaknya pendidik itu selalu:
a) Bersedia memberi alasan
Pendidik harus siap dengan alasan yang mudah diterima anak, mengapa pendidik menghendaki anak didik supaya berlaku begini, mengapa pendidik melarang anak didik, mengapa pendidik memberikan nasihat begitu, penjelasan hendaknya singkat dan dapat diterima anak dengan jelas, menggunakan bahasa yang sesuai dengan perkembangan anak. Dengan adanya kejelasan ini, akan membuat anak didik menerima semuanya penuh dengan kerelaan dan kesadaran.
b) Bersikap demi kamu / you attitude
Pendidik selalu harus menunjukkan sikap demi kamu / you attitude, sikap ini tidak perlu ditonjolkan, tetapi harus dengan jelas. Nampak kepada anak, atau mudah diketahui oleh anak. Pendidik menuntut anak didik ini, melarang berbuat itu, semuanya demi anak didik sendiri bukan untuk kepentingan pendidik.
c) Bersikap sabar
Pendidik harus selalu bersikap sabar, memberi tenggang waktu kepada anak didik untuk mau menerima perintah dan nasehat yang diberikan oleh pendidik. Mungkin pendidik harus memberikan nasihatnya berkali-kali kepada seorang anak, pendidik dituntut kesabarannya secara sungguh-sungguh, tidak boleh putus asa.
d) Bersikap memberi kebebasan
Semakin bertambah umur anak didik atau semakin dewasa, pendidik hendaknya semakin memberi kebebasan, memberi kesempatan kepada anak didik, agar belajar berdiri sendiri, belajar bertanggung jawab, dan belajar mengambil keputusan, sehingga pada akhirnya anak tidak lagi memerlukan nasihat dalam kewibawaan melainkan anak diberi kebebasan untuk mengikuti nasihat itu, atau tidak.[7]



C.  Uswah
1.   Pengertian Uswah (keteladanan)
         Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa keteladanan dasar katanya ”teladan” yaitu: ”(perbuatan atau barang dsb,) yang patut ditiru dan dicontoh. Dalam bahasa Arab keteladanan diungkapkan dengan kata ”uswah” dan ”qudwah”.
         Pengertian yang diberikan oleh Al-Asfahani, bahwa ”al-uswah” berarti suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau kemurtadan.[8] Menurut Ibn Zakaria bahwa ”uswah” berarti ”qudwah” yang artinya ikutan, mengikuti yang diikut. Dengan demikian keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh seseorang dari orang lain. Namun keteladanan yang dimaksud di sini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan yaitu keteladanan yang baik, sesuai dengan pengertian ayat Al quran di bawah ini.
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
Artinya:
Dan sesungguhnya pada diri Rasulullah itu ada tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan (bertemu dengan) Allah dan hari kemudian dan yang mengingat Allah sebanyak-banyaknya”. (Q.S. al-Ahzab: 21)
         Ayat di atas memperlihatkan bahwa kata ”uswah” digandeng dengan sesuatu yang positif: ”Hasanah” (baik) dan suasana yang sangat menyenangkan yaitu bertemu dengan Tuhan sekalian alam.

2.   Pentingnya Figur Teladan
         Pentingnya figur teladan dalam proses pembelajaran bagaikan kebutuhan kita yang setiap saat harus dipenuhi. Agar setiap langkah selalu dalam kebenaran dalam meniru figurnya. Hal ini sejalan dengan metode yang diterapkan Allah dengan menurunkan Rasul sebagai figur teladan dalam kehidupan umat.
         Dengan sistem dan kurikulum pendidikan yang sempurna seperti apapun namun tetap tidak dapat dipungkiri jika timbul masalah, bahwa kurikulum seperti itu masih tetap membutuhkan pola pendidikan realistis yang dicontohkan seorang pendidik melalui perilaku sambil berpegang pada landasan metode dan tujuan kurikulum. Oleh karena itu Allah Swt. mengutus nabi Muhammad Saw agar menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam merealisasikan sistem pendidikan Islam yang sempurna. Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw. ia menjawab bahwa akhlak beliau adalah Al-quran.[9]

3.   Landasan Psikologis Keteladanan
         Pada dasarnya fitrah manusia adalah meneladani. Fitrah tersebut berupa hasrat yang mendorong anak untuk meniru perilaku orang lain yang dilihatnya tatkala ia dalam masa pertumbuhan dan perkembangan dalam dirinya.
         Beberapa unsur yang menyebabkan anak meneladani oarang lain, yaitu:
         Pertama, pada setiap anak ada dorongan dalam dirinya berupa keinginan halus yang tidak dirasakannya untuk meneladani orang yang dikagumi, baik dalam pembicaraan, cara gerak dan sebagian besar adat tingkah laku, yang semuanya itu tanpa disengaja. Peniruan ini tidak hanya terarah pada tingkah laku yang baik saja akan tetapi kepada yang lainnya.
         Kedua, pada usia tertentu anak mempunyai kesiapan untuk meniru perilaku orang yang dijadikan idola dalam hidupnya.
         Ketiga, dalam melakukan peniruan pada diri anak ada suatu tujuan yang bersifat naluriah. Setiap peniruan mempunyai tujuan yang kadang diketahui anak dan kadang tidak.

4.   Bentuk-Bentuk Pendidikan dengan Keteladanan
a.   Bentuk Pengaruh Keteladanan yang Tidak Disengaja
         Dalam hal ini pendidik tampil sebagai figur yang dapat memberikan tauladan yang baik dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk pendidikan ini keberhasilannya banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik pendidik yang diteladani. Dalam kondisi pendidikan seperti ini pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa sengaja
b.   Bentuk Pengaruh Keteladanan yang Disengaja
         Adalah sang pendidik sengaja memberikan contoh yang baik kepada anak didiknya supaya dapat menirunya. Umpamanya guru memberikan contoh membaca yang baik agar para siswa menirunya.[10]


BAB III
KESIMPULAN
     
Pembelajar adalah makhluk yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrahnya masing-masing. Di mana ia sangat memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah optimal kemampuannya.
Gizag adalah sikap atau pembawaan yang dapat mempengaruhi dan menguasai orang lain atau memimpin yang penuh kemampuan dan daya tarik.
Uswah dalam bahasa indonesia adalah keteladanan yang berarti perilaku baik yang dapat ditiru oleh orang lain (anak didik). Keteladan memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan karena secara psikologi anak didik banyak meniru sosok figurnya termasuk di antaranya adalah para pendidik.
          


DAFTAR PUSTAKA


An-Nahlawi, Abdurrahman. 1996. Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam. Diterjemahkan oleh Herry Noer Ali. Bandung: cv. Diponegoro.
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Syahidin. 2009. Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Quran. Bandung: Alfabeta.
Rohman, Arif. 2009. Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Mediatama.
Soehardi. 2010. Kamus Populer Kepolisian. Semarang: Koperasi Wira Raharja.


[1]  Arif Rohman, Memahami Pendidikan & Ilmu Pendidikan  (Jakarta: Mediatama, 2009), hlm. 105.
[2]  Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan  Islam  (Yogyakarta: Ciputra Pers, 2002),
    hlm. 74.

[3]  Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu  Pendidikan  Islam  (Jakarta: Kencana Prenada Media,   2006), hlm. 114.
[4]  Soehardi, kamus populer kepolisian  (Semarang: Koperasi Wira Raharja,   2010), hlm. 93.
[5] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendididkan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 57
[6]  Ibid, hlm. 58
[7]  Ibid., hlm. 61
[8]  Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm.
    117.

[9]  Abdurrahman an-Nahlawi, Ushulut Tarbiyatil Islamiyah wa Asalibuha, terjemahan Herry Noer Ali
    (Bandung, 1989), hlm. 363.
[10]  Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Quran (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 159.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar