Laman

Minggu, 17 November 2013

SBM-B-10: pembelajaran berpusat pada siswa - student center



MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA
Disusun Guna Memenuhi Tugas:
Mata Kuliah                : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu        : Ghufron Dimyati, M.S.I



 

Oleh :

Eli Rofita                                            (2022111073)
Siti Munawiroh                                   (2022111088)
Khikmatul Bariroh                              (2022111093)

                                                                      Kelas B                                                                                 

PRODI PBA
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013

BAB I
PENDAHULUAN
Hakikat belajar yang sesungguhnya adalah proses pembelajaran yang memanusiakan, yakni membantu peserta didik mengembangkan potensinya yang beragam dengan bantuan guru. Pendekatan belajar berpusat pada siswa (student centred learning) merujuk pada teori constructivism yang menempatkan siswa sebagai individu yang memiliki bibit ilmu di dalam dirinya yang memerlukan berbagai aktifitas / kegiatan untuk mengembangkannya menjadi pemahaman yang bermakna terhadap sesuatu hal.
Dalam pandangan ini siswa perlu terlibat melalui penalaran oleh diri sendiri maupun dalam kelompok diskusi atau suatu kelompok kecil yang membahas suatu materi belajar. Guru lebih bersifat sebagai fasilitator dalam proses membangun pengetahuan tersebut.











BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pembelajaran Berpusat pada Siswa
Undang-undang Sisdiknas No. 20/2003 Bab I pasal 1 yang berbunyi “ yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya sendiri”. Inilah secara teoretis disebut pembelajaran berpusat pada siswa yang diadopsi kedalam sistem pendidkan nasional.[1]
Konsep dasar pembelajaran berpusat pada siswa antara lain:
1.      Pembelajaran merupakan proses aktif peserta didik yang mengembangkan potensi dirinya. Peserta didik dilibatkan kedalam pengalaman yang difasilitasi oleh guru sehingga pelajar mengalir dalam pengalaman yang melibatkan pikiran, emosi, terjalin dalam kegiatan yang menyenangkan  dan menantang serta mendorong prakarsa siswa.
2.      Pengalaman aktifitas siswa harus bersumber/relevan dengan realitas sosial.
3.      Didalam proes pengalaman  ini peserta didik memperoleh inspirasi dari pengalaman yang menantang dan termotivasi untuk bebas berprakarsa, kreatif dan mandiri.
4.      Pengalaman poses pembelajaran merupakan aktivitas mengingat, menyimpan dan memproduksi informasi, gagasan-gagasan yang memperkaya kemampuan dan karakter peserta didik.
Perubahan dari paradigma pengajaran menjadi paradigma pembelajaran dapat dibandingkan dalam tabel sebagai berikut:
No
Pengajaran
Pembelajaran
1
Berpusat pada guru.
Berpusat pada siswa.
2
Guru domonan dalam aktor kelas.
Guru sebagai fasilitator (penulis sekenario).
3
Suasana“tertib”, tenang, kaku dan membosankan
Suasana“hidup”,menyenangkan, dan interatif.
4
Siswa terelibat dalam kompetisi dengan siswa lain, dengan motivasi mengalahkan teman.
Siswa didorong kerjasama mencapa tujuan. Tolong menolong dalam memecahkan masalah dan bertukar pikiran.
5
Siswa adalah tempat guru mencurahkan pengtahuan (banking system). Prestasinya adalah sejumlah hapalan/produksi pengetahuan.
Siswa adalah pelaku proses pengalaman mengambil keputusan, memecahkan masalah, menganalisis dan mengevaluasi. Kegiatan intelektual memproduksi pengethuan.
6
Evaluasi oleh guru bersifat menyeleksi  dan merangking kuantitas hapalan.
Evaluasi oleh siswa bersifat refleksi dan berperan memperbaiki proses untuk meningkatkan prestasi.
7
Sumber belajar buku teks dan buku.
Sumber belajar adalah pengalaman eksplorasi mandiri dan pengalaman keberhasilan temannya memecahkan masalah.
8
Tempat belajar sebatas ruangan kelas.
Tempat belajar tidak terbatas ruang kelas tetapi seluas jagat raya.

Peran penting guru adalah secara sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar yang menyenangkan, memproses pembelajaran agar siswa aktif mengembangkan potensinya sendiri. Dalam penggunaan media pembelajaran yang terjadi adalah diskusi, penugasan, dan permainan, bukan lagi metode guru menyampaikan materi pembelajaran. Media disediakan oleh guru agar murid melakukan aktivitas interaktif yang menyenangkan dan menantang potensi siswa serta membebaskan tumbuhnya prakarsa dan kreativitas murid menjadi manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan.[2]
B.     Model-Model Pembelajaran Interaktif Berpusat Pada Siswa
1.      Cooperative Learning
a.       Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Cooperative learning adalah suatu model pembelajaran dimana dalam sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa langsung lebih bergairah dalam belajar.
b.      Ciri-Ciri Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif memilki ciri-ciri sebagai berikut:
1)      Untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif.
2)      Kelompok dibentuk dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
3)      Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada perorangan.[3]

c.       Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.

d.      Langkah-langkah pembelajaran kooperatif
Langkah-langkah cooperative learning menurut Stahl, 1994; Slavin, 1983 (dalam Solihatin dan Raharjo, 2007:10) dijelaskan secara operasional sebagai berikut:
1)      Dosen merancang rencana program pembelajaran.
2)      Dalam aplikasi pembelajaran di kelas, dosen merancang lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan mahasiswa dalam belajar secara bersama dalam kelompok-kelompok kecil.
3)      Dalam melakukan observasi terhadap kegiatan mahasiswa, dosen mengarahkan dan membimbing mahasiswa, baik secara individual maupun kelompok, baik dalam memahami materi maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama kegiatan belajar berlangsung.
4)      Dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Pada saat diskusi kelas ini, dosen bertindak sebagai moderator.[4]
e.       Variasi dalam Model Cooperative Learning
1)      Student Teams Achievement Division (STAD)
Slavin menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim telah mengusai pelajaran tersebut. Kemudian seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut. Pada tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
2)      Tim Ahli (Jigsaw)
Langkah-langkah pembelajaran:
-          Siswa dibagi atas beberapa kelompok.
-          Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi menjadi beberapa sub-bab.
-          Setiap anggota kelompok membaca sub-bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
-          Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub-bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
-          Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompokya bertugas mengajar teman-temannya.
-          Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.[5]
3)      Investigasi Kelompok
Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif investigasi kelompok adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajrakan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas untuk berbagi dan saling tukar informasi temuan mereka.[6]


4)      Think Pair Share (TPS)
Strategi Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Guru memilih mengguankaan think pair share untuk membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan.
5)      Numbered Head Together (NHT)
Numbered Head Together atau jenis penomoran berpikir bersama adalah  jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.[7]
2.      Problem Based Learning (PBL)
a.       Pengertian PBL
PBL (Problem Based Learning) yang bermakna pembelajaran berbasis masalah adalah siswa belajar tentang subjek melalui pengalaman pemecahan masalah. Esensi PBL berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa, yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan.[8]
Hal yang terpenting dalam pembelajaran teknis ini adalah guru menyediakan perancah atau kerangka pendukung yang meningkatkan penyelidikan dan pertumbuhan intelektual. PBL tidak mungkin terjadi kecuali jika guru menciptakan lingkungan kelas (menangani situasi multi tugas, menyesuaikan dengan tingkat penyelesaian yang berbeda, memantau dan mengelola pekerjaan siswa, mengatur gerakan dan perilaku di luar kelas) tempat pertukaran ide-ide yang terbuka dan jujur dapat terjadi. Dalam hal ini banyak pararel diantara PBL, cooperatif learning, dan diskusi kelas.
b.      Ruang Lingkup PBL
1)        Masalah pembelajaran
Banyak kritik yang ditunjukan kepada cara guru mengajar yang terlalu menekankan pada penguasaan informasi/konsep. Konsep memang merupakan  hal yang sangat penting, namun bukan terletak pada konsep itu sendiri, tetapi terletak pada bagaimana konsep itu dipahami oleh subjek didik. Pentingnya pemahaman konsep dalam proses belajar mengajar sangat mempengaruhi sikap, keputusan, dan cara-cara memecahkan masalah.
PBL tidak mungkin terjadi kecuali jika guru menciptakan lingkungan kelas tempat pertukaran ide-ide yang terbuka dan jujur dapat terjadi.[9]
2)        Tujuan PBL
Pengajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajarn proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
Menurut Arends (1997), pengajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiri (penyelidikan) dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
c.       Fitur-Fitur Khusus PBL
Para pengembang PBL (Cognition & Technology Group at Fanderbilt, 1990, 1996a, 1996b; Gordon et al., 2001; Krajik et al., 2003, Slavin, Madden, Dolan & Wasik, 1994; Torp & Sage, 1998) mendeskripsikan bahwa model instruksional ini memiliki fitur-fitur di bawah ini:
1)        Pertanyaan atau masalah perangsang
PBL mengorganisasikan pengajaran di seputar pertanyaan dan masalah yang penting secara sosial dan bermakna secara personal bagi siswa. Mereka menghadapi berbagai situasi kehidupan nyata yang tidak dapat diberi jawaban-jawaban sederhana dan ada berbagai solusi yang berkompeten untuk menyelesaikannya.
2)        Fokus Interdisipliner
PBL dapat dipusatkan pada subjek tertentu (sains, matematika, sejarah), tetapi masalah yang diinvestigasi dipilih karena solusinya menuntut siswa untuk menggali banyak subjek.
3)        Investigasi autentik
PBL mengharuskan siswa untuk berusaha menemukan solusi riil untuk masalah riil. Mereka harus menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan mengembang prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen jika memungkinkan, dan menarik kesimpulan.
4)        Produk artefak dan exhibit
PBL menuntut siswa untuk menjelaskan atau merepresentasikan solusi mereka. Produk itu bisa berbentuk debat bohong-bohongan, bisa berbentuk laporan, model fisik, video, atau program komputer. Artefak dan exhibit yang nanti akan dideskripsikan, dirancang oleh siswa untuk mendemonstraksikan kepada orang lain apa yang telah mereka pelajari dan memberikan alternatif yang menyegarkan untuk ujian tradisional. Contoh-contohnya antara lain seperti topik pembaharuan kota, kehidupan dalam kolam, atau species yang terancam punah.
5)        Kolaborasi
PBL ditandai oleh siswa-siswa yang bekerja satu sama lain, paling sering secara berpasangan atau dalam bentuk kelompok-kelompok kecil. Kerja sama memberikan motivasi untuk keterlibatan secara berkelanjutan dalam tugas-tugas kompleks dan meningkatkan kesempatan untuk melakukan penyelidikan dan dialog bersama, dan untuk mengembangkan berbagai ketrampilan sosial.[10]
d.      Manfaat PBL
Menurut Sudjana, manfaat khusus yang diperoleh darimetode Dewey adalah pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa untuk merumuskan tugas-tugas, yang mana objek palajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya.
e.       Beberapa varisi dalam Model Pembelajaran PBL
1)        Tugas-tugas perencanaan
a)        Penetapan tujuan, seperti ketrampilan menyelidiki, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa menjadi pembelajar yang mendiri
b)        Merancang situasi masalah. Situasi masalah yang baik seharusnya otentik, megandung teka-teki, dan tidak mendefinisikan secara ketat, memungkinkan kerjasama, bermakna bagi siswa, dan konsisten dengan tujuan kurikulum
c)        Organisasi sumber daya dan rencana logistik. Tugas mengorganisasikan sumber daya dan merencanakan kebutuhan untuk investigasi haruslah menjadi tugas perencanaan yang utama bagi guru yang menerapkan PBL.
2)        Tugas Interaktif.
a)        Orientasi siswa pada masalah
b)        Mengorganisasikan siswa untuk belajar
c)        Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
d)       Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
3)        Lingkungan belajar dan tugas-tugas menajemen
Untuk efektifitas kerja guru, maka guru harus memiliki aturan prosedur yag jelas dalam pengelolaan, penyimpanan dan pendistribusian bahan.
Selain itu, guru harus menyampaikan aturan, tata krama dan sopan santun yang jelas untuk mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan di luar kelas termasuk di dalamnya ketika melakukan investigasi di masyarakat.
4)        Assesmen dan evaluasi. Misalnya, dengan assesmen kinerja dan peragaan hasil. Assesmen kerja dapat berupa assesmen melakukan pengamatan, merumuskan pertanyaan dan merumuskan sebuah hipotesa.[11]












BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya sendiri. Peran penting guru adalah secara sadar dan terencana mewujudkan suasana belajar yang menyenangkan, memproses pembelajaran agar siswa aktif mengembangkan potensinya sendiri.
Media disediakan oleh guru agar murid melakukan aktivitas interaktif yang menyenangkan dan menantang potensi siswa serta membebaskan tumbuhnya prakarsa dan kreativitas murid menjadi manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan.
Model model pembelajaran berpusat pada siswa ada dua yaitu kooperatif learning dan proble beside learning.









DAFTAR PUSTAKA

Dananjaya,Utomo. 2011. Media Pembelajaran Aktif. Bandung :NUANSA
L Arends, Ricard. 2008. Belajar untuk Mengajar, (Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mustakim, Zaenal. 2011. Strategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Press
Taniredja. Tukiran  dkk. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif. Bandung: ALFABETA









[1] Utomo Dananjaya, Media Pembelajaran Aktif, (Bandung :NUANSA, 2012), hlm. 25
[2] Ibid, hlm. 27-36
[3] Tukiran Taniredja dkk, Model-model Pembelajaran Inovatif, (Bandung :ALFABETA, 2011), hlm.55-57
[4] Ibid, hlm. 60-63
[5] Zaenal Mustaqim, strategi dan Metode Pembelajaran, (Pekalongan : Stain Press, 2011), hlm. 281-284
[6] Tukiran Taniredja dkk, op.cit, hlm.74
[7] Zaenal Mustaqim, op.cit, hlm. 286
[8] Ricard I Arends, Belajar untuk Mengajar, alih bahasa Helly Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 41
[9] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran (Pekalongan: STAIN Press, 2011), hlm. 293
[10] Ricard I. Arends, Op. Cit, hlm. 42-43
[11] Zainal Mustakim, Op.Cit, hlm.294-297

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar