Laman

Sabtu, 20 September 2014

Ilmu Akhlak - E - 3 : ASPEK-ASPEK PEMBENTUK PERILAKU DAN KEBEBASAN SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR, KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB



ASPEK-ASPEK  PEMBENTUK PERILAKU
DAN KEBEBASAN SEBAGAI SALAH SATU FAKTOR,
KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

Makalah
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
                  Mata Kuliah               : Ilmu Ahlak
Dosen Pengampu        : Ghufron Dimyati, M.Si

oleh:
1.      Listi Bahati                      (2021114232)
2.      Umar Biki                        (2021114233)
3.      Ityanul Fahmi Dinina     (2021114234)
4.      Meri Marsela                   (2021114235)

KELAS E

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
PEKALONGAN
2014



DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................... i
Daftar Isi    ........................................................................................................... ii

BAB  I     PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.    Latar Belakang Masalah   ..................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah   .............................................................................. 1
C.     Tujuan Penulisan  ................................................................................. 1
D.    Sistematika Perumusan Makalah.......................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3
A.    Aspek-aspek Pembentuk Perilaku...................................................... 4   
1.      Tingkah Laku Manusia................................................................. 4   
2.      Insting dan Naluri......................................................................... 4
3.      Nafsu............................................................................................ 4   
4.      Adat dan Kebiasaan..................................................................... 4   
5.      Lingkungan................................................................................... 5   
B.     Kebebasan  Menjadi  Salah Satu Faktor Penentu Perilaku................ 5   
1.      Kebebasan Manusia...................................................................... 5   
a.       Bebas dalam faham negatif dan positif.................................. 5   
b.      Tiga Macam Kebebasan.......................................................... 6   
C.     Hubungan Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab......................... 6
1.      Kebebasan.................................................................................... 6   
2.      Tanggung Jawab........................................................................... 7   


BAB III PENUTUP............................................................................................... 8   
Simpulan..................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 10  


KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Aspek-aspek pembentuk perilaku an kebebasan sebagai salah satu faktor, kebesan dan tanggung jawab”. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, sahabatnya, keluarganya, serta segala umatnya hingga yaumil akhir.
Makalah ini disusun guna menambah wawasan pengetahuan mengenai sumber-sumber ajaran agama islam yang dijadikan sebagai pedoman hidup. Makalah ini disajikan sebagai bahan materi dalam diskusi mata kuliah Metodologi Studi Islam STAIN Pekalongan.
Penulis menyadari bahwa kemampuan dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna. Penulis sudah berusaha dan mencoba mengembangkan dari beberapa reverensi mengenai sumber ajaran islam yang saling berkaitan. Apabila dalam penulisan makalah ini ada kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan dan pembahasannya maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca.
Akhir kata, semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Amin yaa robbal ‘alamin.
                                                                             Pekalongan,  25  September 2014

                                                                                                     Penulis



BAB I
     PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
          Didalam ajaran Islam, ahlak mamiliki karakter yang khusus. Islam bukanlah agama takhayul yang mengajarkan penganutnya untuk mengisolasi diri dari masyarakat umum. Islam juga bukanlah agama yang mengatur masalah ritual balaka. Namun, Islam adalah yang mengajarkan kepada para penganutnya untuk bermasyarakat secara Islami sehingga nilai-nilai ditegakkan untuk mengaturnya.                                                                         
       Ahlak dalam ajaran Islam menyangkut seluruh sisi kehidupan Muslim dengan    sesama manusia, ahlak dalam mengelola alam, dalam berhubungan dengan binatang, kegiatan ekonomi, dan dalam kahidupan beragama. Setiap manusia terlahir kemuka bumi dengan kebebasannya, namun ia hanya boleh menggunakan kebebasannya itu sepanjang tidak melanggar norma-norma dan peraturan dalam ajaran Agama. Oleh karena itu,`dalam melakukan kebebasan perlu adanya tanggunga jawab, karena kebebasan adalah syarat mutlak untuk tanggung jawab.

B.  Rumusan Masalah
1.        Apa saja aspek-aspek pembentuk perilaku ?
2.        Mengapa kebebasan menjadi faktor penentu perilaku ?
3.        Apa keterkaitan antara kebebasan dan tanggung jawab ?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.       Tujuan Umum
Secara umum penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa tentang perilaku dalam kebebasan dan tanggung jawab.
b.      Tujuan Khusus
·         Menjelaskan tentang aspek-aspek pembentuk perilaku
·         Menjelaskan tentang kebebasan yang menjadi faktor penentu perilaku
·         Menjelaskan tentang keterkaitan antara kebebasan dan tanggung jawab
D.    Sistematika Perumusan Makalah
Makalah ini ditulis menjadi tiga bagian meliputi :
Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang, perumusan masalah, tujuan, dan sistematika penulisan makalah;
Bab II, pembahasan;
Bab III, penutup yang terdiri dari simpulan.














BAB II
PEMBAHASAN
A.      Aspek-aspek Pembentuk Perilaku
Hidup ini  hanya merupakan perantara suatu jalan untuk mencapai tujuan akhir. Kehidupan manusia terdiri dari rangkaian perbuatan, yang ada dibawah pengawasan manusia, hinggga ia hidup layak sebagaimana selayaknya derajat manusia, perbuatan ini dinamakan tingkah laku. Tujuan hidup adalah bertingkahlaku sedemikian rupa hingga kita dapat mencapai kebahagiaan sempurna.
Aspek-aspek yang mempengaruhi pembentukan  perilaku, di antaranya :
1.        Tingkah Laku Manusia
             Tingkah laku manusia yaitu sikap yang dimanifestasikan dalam perbuatan. Sikap seseorang boleh jadi tidak digambarkan dalam perbuatan atau tidak tercermin dalam perilaku sehari-hari tetapi adanya kontradiksi antara sikap dan tingkah laku. Oleh karena itu, meskipun secara teoritis hal itu terjadi tetapi dipandang dari sudut Islam termasuk iman yang tipis.
Untuk melatih akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari, contoh yang dapat diterapkan yaitu:
·         Akhlak yang berhubungan dengan Allah
·         Akhlak terhadap diri sendiri
·         Akhlak terhadap keluarga
·         Akhlak terhadap masyarakat
·         Akhak terhadap alam sekitarnya

2.        Insting dan Naluri
            Menurut bahasa (etimologi) insting berarti kemampuan berbuat pada suatu tujuan yang dibawa sejak lahir atau dalam ilmu akhlak berati akal pikiran, merupakan pemuasan nafsu, dorongan-dorongan nafsu dan dorongan psikologis. Menurut istilah, insting adalah suatu kesanggupan untuk melakukan perbuatan yang tertuju kepada sesuatu pemuasan dorongan nafsu atau dorongan batin yang telah dimiliki manusia maupun hewan sejak lahir. Insting pada manusia dapat berubah-ubah dan dapat dibentuk secara intensif.
Naluri merupakan asas tingkah laku perbuatan manusia. Tingkah laku manusia sehari-hari dapat ditunjukan oleh naluri sebagai pendorong. Contohnya tindakan makan ialah naluri lapar. Akal dapat mengendalikan naluri sehingga terwujud perbuatan yang diputuskan oleh akal. Hubungan naluri dan akal membentuk kemauan, kemauan melahirkan tingkah laku. Nilai tingkah laku perbuatan menentukan nasib seseorang. Naluri yang ada pada diri seseorang adalah takdir Tuhan.[1]
3.        Nafsu
Nafsu barasal dari bahasa arab ”afsun” yang artinya niat. Nafsu ialah keinginan hati yang kuat. Nafsu merupakan kumpulan dari kekuatan sahwat yang ada pada manusia. Hawa nafsu ini bergerak dan berkuasa di dalam kesadaran. Nafsu memiliki kecenderungan dan keinginan yang sangat kuat, ia mempengaruhi jiwa seseorang, inilah yang disebut hawa nafsu.[2]
Di kalangan ahli tasawuf berpendapat, bahwa nafsu ialah semua sifat tercela yang ada pada manusia dan mesti dikendalikan. Nabi bersabda: Musuh yang paling berat di sisimu ialah nafsumu dan berada di antara kedua punggungmu. Perasaan yang hebat dapat menimbulkan gerak nafsu dan sebaliknya nafsu dapat menimbulkan akhlak baik dan akhlak buruk yang hebat, adakalanya kemampuan berpikir dikesampingkan.
4.        Adat dan Kebiasaan
Adat menurut bahasa adalah aturan yang lazim diikuti sejak dahulu. Kebiasaan ialah perbuatan yang dilakukan dengan sendirinya, tetapi masih dipengaruhi oleh akal pikiran. Kebiasaan bisa timbul karena ada dalam diri pribadi seseorang itu yang diawa sejak lahir. Kebiasaan yang sudah melekat pada seseorang susah dihilangkan. Tetapi jika ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk menghilangkan, ia dapat mengubahnya.

5.        Lingkungan
Lingkungan ialah ruang lingkup luar yang berinteraksi dengan insan yang dapat berwujud benda-benda dan selain benda. Lingkungan dapat memainkan peranan dan pendorong terhadap perkembangan kecerdasan, sehingga manusia dapat mencapai taraf yang setingi-tinggginya dan sebaliknya juga dapat merupakan penghambat yang menyekat perkembangan, sehingga seseorang tidak dapat mengambil manfaat dari kecerdasan yang diwarisi.[3]


B.     Kebebasan  Menjadi  Salah Satu Faktor Penentu Perilaku
1)    Kebebasan Manusia
Etika mempunyai objek material perilaku, atau perbuatan manusia yang secara sadar. Etika tidak akan berguna tanpa dilandasi sikap tanggung jawab. “Etika itu sendiri suatu perencanaan menyeluruh yang mengaitkan daya kekuatan alam dan masyarakat dengan bidang tanggung jawab manusiawi” (Van Peursen, 1976-193). Tanggungjawab hanya dapat dituntut apabila ada kebebasan untuk memilih.
a)    Bebas dalam faham negatif dan positif
      Disebut bebas apabila kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tidak dibatasi oleh suatu paksaan dari atau keterikatan kepada orang lain. Paham ini disebut paham negatif karena hanya dikatakan bebas dari apa, tetapi tidak ditentukan bebas untuk apa. Sedangkan bebas dalam arti positif yaitu bebas tidak hanya dari sesuatu melainkan juga untuk sesuatu.
 Dikatakan bebas apabila :
a.       Dapat menentukan sendiri tujuan-tujuannya dan apa yang dilakukanya
b.      Dapat memilih antara kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya
c.       Tidak dipaksa atau terikat untuk berbuat sesuatu oleh kehendak orang lain

b)                  Tiga macam kebebasan
Ø  Kebebasan Jasmaniyah
   Tidak adanya paksaan terhadap  kemungkinan-kemungkinan  kita untuk menggerakan badan kita. Jangkauan kebebasan jasmaniyah ini ditentukan oleh kemampuan badan kita sendiri.
Ø  Kebebasan Kehendak
    Kebebasan untuk menghendaki sesuatu. Jangkauan kebebasan kehendak adalah sejauh jangkauan kemungkinan untuk berfikir, karena manusia dapat memikirkan apa saja, ia juga menghendaki apa saja.
Ø  Kebebasan Moral
    Tidak adanya macam-macam ancaman, tekanan larangan dan lain  desakan yang tidak sampai berupa paksaan fisik.

C.    Hubungan Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab
1.        Kebebasan
Kebebasan sebagaimana dikemukakan Ahmad Charis Zubair adalah terjadi apabila kemungkinan-kemungkinan untuk bertindak tidak dibatasi oleh suatu paksaan dari atau keterikatan kepada orang lain. Paham ini disebut paham negatif, karena hanya dikatakan bebas dari apa, tetapi tidak ditentukan bebas untuk apa. Kebebasan mengandung kemampuan khusus manusiawi untuk bertindak yaitu dengan menentukan sendiri apa yang mau dibuat berhadapan dengan macam-macam unsur. Manusia bebas berarti menusia yang dapat menetukan sendiri tindakanya.[4]
    Paham adanya kebebasan pada manusia di jelaskan pada beberapa ayat, yaitu:

فَلْيَكْفُرْ شَاءَ وَمَنْ فَلْيُؤْمِنْ شَاءَ فَمَنْ رَبِّكُمْ مِنْ الْحَقُّ وَقُلِ
Katakanlah kebenaran datang dari Tuhanmu. Siapa yang mau percayalah ia, siapa yang tidak mau janganlah ia percaya. (QS. Al-kahfi, 18:29)


Buatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Fushilat, 41:40)
    Ayat-ayat tersebut dengan jelas memberi peluang kepada manusia untuk secara bebas menentukan tindakanya berdasarkan kemauanya sendiri.
2.        Tanggung Jawab
Selanjutnya kebebasan sebagaimana disebutkan di atas itu ditantang jika berhadapan dengan kewajiban moral. Sikap moral yang dewasa adalah sikap tanggung jawab. Tak mungkin ada tanggung jawab tanpa ada kebebasan. Disinilah letak hubungan kebebasan dan tanggung jawab. Tanggung jawab dalam kerangka akhlak adalah keyakinan bahwa tindakanya itu baik. Selain itu tanggung jawab erat hubunganya dengan hati nurani atau instuisi yang ada dalam diri manusia yang selalu menyuarakan kebenaran. Seseorang baru dapat disebut tanggung jawab apabila secara instuisi perbuatanya itu dapat dipertanggung jawabkan pada hati nurani dan kepada masyarakat pada umumnya. Allah telah menjelaskan dalam ayat al-Qur’an :
74:38
Artinya:
tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QSl-Al-Mudatsir: 38)

8:27
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS: Al-Anfaal ayat 27)


“KEBEBASAN” dan “TANGGUNG JAWAB”  seolah-olah merupakan pengertian kembar. Terdapat hubungan timbal balik antara dua pengertian ini, sehingga orang menyatakan “manusia itu bebas” dan dengan sendirinya menerima juga “manusia bertanggung jawab”. Sebaliknya jika kita bertolak dari pengertian tanggung jawab, kita selalu turut memaksudkan juga kebebasan, tidak mungkin kebebasan tanpa tanggung jawab  dan tidak mungkin tanggung jawab tanpa kebebasan.
Kebebasan adalah syarat mutlak untuk tanggung jawab,  tanggung jawab adalah pertanggung  jawaban  segala  sesuatu yang disebabkan olehnya. Tingkah laku yang didasarkan pada sikap, sistem nilai dan pola fikir berarti  tingkah laku berdasarkan kesadaran, berarti bukan instinktif, terdapat makna kebebasan manusia yang merupakan objek material etika.












BAB III
PENUTUP
Simpulan
            Semua perbuatan-perbuatan yang baik dan yang buruk dapat dilihat dari akhlaknya seseorang. Akhlaqul Mazdmumah merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan tidak diridhai Allah SWT, karena perbuatan-perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT dan tidak ada untungnya bagi manusia, dan Etika tidak akan berguna tanpa dilandasi sikap tanggung jawab.
            Dengan demikian perbuatan akhlak itu harus dilakukan atas kemauan sendiri bukan karena adanya faktor paksaan dari orang lain.  Perbuatan seperti inilah yang diminta pertanggungjawabannya dari orang yang melakukannya. Dan sinilah letak hubungan antara tanggung jawab dan akhlak.

      


     








DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Muhammad Yatimin.2007. Studi Akhlak dalam Prespektif Islam. Jakarta: Amzah
Amin, Achmad. 1975. Etika. Jakarta: NV Bulan Bintang
Bertens, K. 1999. Etika. Jakarta:  PT Gramedia Pustaka
Nata, Abuddin.2011. Akhlak Tasawuf. Jakarta:  PT RajaGrafindo Persada
Zubair, Akhmad Charis.1987. Kuliah Etika. Jakarta:  CV Rajawali


[1] Sidi Gazalba,  Asas Kebudayaan Islam,  (Jakarta: Bulan Bintang,1978), hlm.111
[2] Hamka, Tasauf,  (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993), hlm.294
[3] Zakia Daradjat,  Ilmu Pendidikan Islam,  (Jakarta: Bumi Aksara,1994), hlm.55
[4] Ahmad Charis  Zubair, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990), cet.1, hlm.39-40

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar