Laman

new post

zzz

Jumat, 24 Oktober 2014

SBM - C - 6 : METODE BELAJAR MENGAJAR INKONVENSIONAL



MAKALAH
METODE BELAJAR MENGAJAR INKONVENSIONAL

Disusun guna memenuhi tugas:
Mata kuliah : Strategi Belajar Mengajar
DosenPengampu : Ghufron Dimyati, M.S.I

Disusun oleh:
1.      Muhamad Hamzah      202 111 2141
2.      Ana Kusrini                 202 111 2123
3.      Gustamal                     202 111 2131
4.      Sri Wahyuningsih        202 111 2124

Tarbiyah (PAI)
Kelas C

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014



PENDAHULUAN


Sekolah merupakan sebuah gambaran masyarakat kecil. Di dalamnya terdapat beberapa peserta didik yang berbeda-beda. Dengan perbedaan itu seorang guru diharapkan dapat memberikn pelajaran yang sama namun dapat diterima oleh peserta didik yang berbeda-beda tersebut.
Seorang pendidik sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Seorang guru hendaknya dalam menyampaikan materi pelajaran tidak monoton cara penyampaiannya. Metode yang digunakan hendaknya bervariasi.
Untuk itulah para pendidik dituntut juga menguasai materi dengan baik sekaligus mampu menyampaikan materi tersebut dengan menggunakan metode yang baik pula yang ada dalam macam-macam metode inkonvensional, lebih jelasnya kami akan membahas lebih lanjut tentang metode-metode pembelajaran inkonvensional yang lainnya dalam makalah kami.















PEMBAHASAN


A.      Pengertian Metode Inkonvensional
Metode mengajar inkonvensional yaitu suatu teknik mengajar yang baru berkembang dan belum lazim digunakan secara umum, seperti metode mengajar dengan modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit, machine program, masih merupakan metode yang baru dikembangkan dan diterapkan dibeberapa sekolah tertentu yang mempunyai peralatan dan media yang lengkap serta guru-guru yang ahli menanganinya.[1]
Selain itu metode mengajar inkonvensional bisa juga diartikan sebagai suatu metode mengajar yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, seperti: metode pengajaran modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit, metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).[2]

B.       Macam-Macam Metode Inkonvensional
a.         Metode Pengajaran Modul
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu  satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, opersional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. Dalam formatnya, modul meliputi: pendahuluan, tujuan pembelajaran, tes awal, pengalaman belajar, sumber belajar dan tes akhir.

b.         Metode Pengajaran Berprogram
Metode pengajaran berprogram adalah metode pengajaran yang memungkinkan siswa untuk mempelajari materi tertentu, terbagi atas bagian kecil yang dirangkaikan secara berurutan untuk mencapai tujuan tertentu pula.
Sebagai contoh metode ini adalah pengajaran dengan menggunakan alat tape recorder, film, radio, komputer, internet, dll.

c.          Metode Pengajaran Unit
Metode ini juga disebut dengan metode proyek yang memberi makna bahwa metode pengajaran unit adalah suatu sistem pengajaran yang berpusat pada suatu masalah yang dipecahkan secara keseluruhan sehingga mempunyai arti. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode ini mempunyai kriteria: adanya tujuan yang luas dan menyeluruh, perencanaan bersama, berpusat pada suatu masalah, dan berpusat pada siswa.

d.         Metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
Metode CBSA adalah metode pengajaran yang menuntut keaktifan dan partisipasi subyek didik seoptimal mungkin sehingga siswa mampu mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien. Dalam metode ini guru tidak boleh menganggap siswa sebgai anak kecil yang tidak bisa mandiri dalam belajar, akan tetapi guru sebagai mitra siswa untuk bersama-sama aktif dalam proses pembelajaran.
Gibs (1972) diikuti E. Mulyasa menyatakan bahwa untuk merealisasikan peningkatan keaktifan belajar siswa perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1.         Dikembangkan rasa percaya diri kepada para peserta didik, dan mengurangi rasa takut.
2.         Memberi kesempatan kepada seluruh peserta didik untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas dan terarah.
3.         Melibatkan peserta didik dalam menentukan tujuan belajar dan  evaluasinya.
4.         Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter.
5.         Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara  keseluruhan.

e.         Metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
KBK adalah konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performance (kompetensi) sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.
Ada tiga landasan secara teoritis kurikulum berbasis kompetensi yaitu :
Pertama, adanya pergeseran pembelajaran kelompok, kearah pembelajaran individual. Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas atau belajar penguasaan adalah suatu falsafah pembelajaran yang mengatakan bahwa dengan sistem pembelajaran yang tepat, semua peserta didik dapat mempelajari semua bahan yang diberikan dengan hasil yang baik. Ketiga, pendefinisian kembali terhadap bakat.

f.          Metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
KTSP merupakan kkurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan, terdiri dari guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan dewan pendidikan. Untuk merealisasikan KTSP ini tentu disesuaikan dengan satuan pendidikan, potensi sekolah atau daerah, karakteristik peserta didik. Adapun tujuan KTSP adalah meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan insiatif sekolah, meningkatkan keperdulian warga sekolah dan masyarakat, meningkatkan kompetensi yang sehat anta satuan pendidikan tentang kualitas pndidikan yang akan dicapai.[3]

C.      Beberapa Contoh Metode Inkonvensional
1.         Kartu Sortir ( Card Sort)
Ini merupakan bagian kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek atau mengulangi informasi. Gerakan fisik yang di utamakan dapat membantu untuk memberikan energi kepada kelas yang telah letih.


Prosedur:
a.         Berilah masing-masing peserta didik kartu indeks yang berisi informasi atau contoh yang cocok dengan satu atau lebih kategori.
b.         Mintalah peserta didik  untuk mencarri temannya di ruang kelas dan menemukan orang yang memiliki kartu dengan kategori sesama.
c.            Biarkan peserta didik dengan kartu kategori yang sama menyajikan sendiri kepada orang lain.
d.         Selain masing-masing kategori dipresentasikan,  buatlah beberapa unit mengajar yang anda (guru) rasa penting.

2.         Tim Quiz (Team Quiz)
Teknik ini meningkatkan kemampuan tanggung jawab peserta didik untuk apa yang mereka pelajari yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
Prosedur:
a.         Pilihlah topik yang dapat dipresentasikan dalam tiga bagian.
b.         Bagilah peserta didik menjadi 3 tim.
c.          Jelaskan bentuk sesinya dan mulailah presentasi.
d.          Minta tim A untuk menyiapkan quiz yang berjawaban singkat.
e.         Tim A menguji tim B. Jika tim B tidak  bisa menjawab beri kesempattan tim C untuk menjawab.
f.          Ketika kuiz selesai lanjutkan dengan bagian kedua dimana dimulai dari tim B
g.         Setelah tim  B selesai, lanjutkan pada tim C untuk memberi quiz seperti tadi.

3.         Poin Kaunterpoin (Point- Counterpoint)
Kegiatan ini merupakan sebuah teknik hebat untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu kompleks. Format tersebut mirip dengan sebuah perdebatan namun kurang formal dan berjalan dengan lebih cepat.

Prosedur:
a.         Pilihlah sebuah masalah yang mempunyai dua bidang atau lebih.
b.         Bagilah kelas ke dalam kelompok-kelompok menurut jumlah bidang yang telah ditentukan, dan tiap minta kelompok untuk berargumen untuk mendukung materi yang didapatkan.
c.           Gabungkan kembali seluruh kelas, tetapi mintalah para anggota kelompok  untuk duduk bersama dengan jarak antara sub-sub kelomppok.
d.          Jelaskan bahwa  peserta didik bisa memulai perdebatan.
e.         Simpulkan kegiatan tersebut.

4.         Belajar Melalui Jigso (Jigsaw Learning)
Jigsaw learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “ pertukaran dengan kelompok ke kelompok”  (group-to-group exchange) dengan suatu perbedaan penting : setiap peserta didik mengajarkan sesuatu. Ini adalah alternatif menarik, ketika ada materi yang dipelajari dapat disingkat atau dipotong dan disaat tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum yang lain-lain. Setiap peserta didik mempelajari suatu yang dikombinasikan dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain, buatlah sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian atau keahlian.
Prosedur:
a.         Pilihlah materi belajar yang dapat dipisah menjadi bagian-bagian.
b.          Hitunglah jumlah bagian belajar dengan jumlah peserta didik.
c.           Bentuklah kelompok, berilah tugas pada tiap kelompok denganbagian tadi, kelompok satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
d.         Mintalah anggota kelompok untuk mengajarkan materi yang telah dipelajari kepada yang lain.
e.          Kumpulkan kembali peserta didik untuk memberi usulan dan sisakan pertanyaan guna memastikan pemahaman yang tepat.

5.         Peta Pikiran (Mind Maps)
Peta pikiran adalah cara kreatif bagi peserta didik secara individual untuk menghasilkan ide-ide, mencatat pelajaran atau merencanakan penelitian baru. Dengan memerintahkan peserta didik membuat peta pikiran memudahkan mereka untuk mengidentifikasi secara jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari dan apa yang sedang mereka rencanakan.
Prosedur:
a.         Pilih topik untuk pemetaan pikiran.
b.         Konstruksikan bagi kelas peta pikiran yang sederhana yang menggunakan warns, simbol atau khayalan. Ajaklah peserta didik untuk menceritakan contoh-contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari  yang dapat dipetakan.
c.          Berikanlah kertas, pen, dan sumber-sumber lain yang dapat membantu  peserta didik membuat peta pikiran.
d.         Berikanlah waktu yang cukup bagi peserat didik untuk mengembangkan peta  pikiran mereka.
e.         Perintahkan peserta didik untuk saling membagi peta pikirannya.[4]


D.      Variasi Metode Dalam Belajar
1.      The power of two
a.       Siswa dikelompokan yang terdiri atas 2 orang
b.      Melemparkan masalah ataupun pertanyaan
c.       Diperintahkan, masing-masing menjawab masalah
d.      Mendiskusikan jawaban
e.       Diambil jawaban yang paling tepat
f.       Disaring, untuk menemukan jawaban yang tepat.
2.      Critical insident
a.       Mengingat pengalaman masalalu yang mengesankan
b.      Menanyakan pendapat masing-masing tentang pengakuan dan mencari solusinya
c.       Mengulas apa yang telah di ceritakan
d.      Mengambil pelajaran dari pengalaman itu
3.      Every one is a teacher here
a.       Memberikan bahan bacaan
b.      Menyuruh siswa membaca sebentar
c.       Menyuruh setiap siswa membuat pertanyaan dari bacaan dalam kertas
d.      Mengambil kertas yang berisi tulisan
e.       Mengacak kertas dan bagikan ke siswa
f.       Siswa di minta untuk menjawab
4.      Snowballing
a.       Melempar masalah
b.      Masing-masing diminta pendapat
c.       Sharing dengan teman sebelahnya
d.      Hasil 2 orang didiskusikan oleh 4 orang
e.       Menjadi kelompok besar
f.       Presentasi masing-masing kelompok
5.      Card sort
a.       Motivasi
b.      Membagi tulisan berisi tulisan secara acak
c.       Menempelkan induk tulisan dipapan tulis
d.      Mengelompokan siswa sesuai kelompok
e.       Menyesuaikan dengan induk kata
f.       Presentasi
6.      Information search
a.       Membuat kelompok (individual)
b.      Memberi bacaan
c.       Memberikan pertanyaan untuk dijawab
d.      Menjawab pertanyaan untuk kelompok
e.       Presentasi

7.      Call on the next speaker
a.       Siswa dibagikan kertas untuk membuat pertanyaan
b.      Pertanyaan diambil dan diberikan kembali secara acak
c.       Menunjuk salah satu siswa untuk menjawab dengan waktu terbatas
d.      Siswa tadi menunjuk siswa lain untuk melanjutkan
8.      Small group discussion
a.       Siswa dibagi kedalam 4-5 kelompok
b.      Memberi bacaan untuk masing-masing kelompok
c.       Mendiskusikan bacaan
d.      Menunjuk jubir
e.       Jubir di presentasikan kedepan
f.       Kelompok lain bertanya atau menanggapi
9.      Poster session
a.       Siswa membuat permasalah
b.      Membentuk kelompok
c.       Meminta kelompok untuk mencari satu solusi dari masalah tersebut
d.      Solusinya dituangkan dalam gambar atau poster
e.       Presentasi poster
10.  Index card match
a.       Buatlah pertanyaan yang berpasangan atau jawabanya sebanyak jumlah siswa
b.      Bagikan kepada setiap siswa secara acak
c.       Siswa diminta untuk mencari pasangannya
d.      Bagi yang sudah ketemu pasanganya duduk berdampingan
e.       Masing-masing pasangan diminta untuk membacakan kertas yang dipegangnya
f.       Siswa yang lain ikut menilai
g.      Guru mengklarifikasi
11.  True of false
a.       Guru membuat pertanyaan yang benar dan pernyataan yang salah kepada sejumlah siswa
b.      Setiap siswa diberi satu pertanyaan
c.       Siswa membaca dan menilai pernyataan tersebut
d.      Guru membuat dua kelompok yakni kelompok yang memegang pernyataan benar dan yang memegang pernyataan salah
e.       Setiap siswa diminta untuk membacakan pernyataan dan siswa yang lain menilai
f.       Guru mengklarifikasi
12.  Pohon jawaban
a.       Guru buat pernyataan yang berpasangan atau pernyataan dan jawaban
b.      Satu pernyataan atau ditempel-tempelkan dipohon
c.       Pernyataan yang lain atau jawaban dibagikan kepada setiap murid
d.      Siswa diminta pahami pernyataan atau pertanyaan
e.       Siswa diminta mengambil pasangan dipohon
f.       Siswa diminta membacakan pertanyaan dan jawabanya, siswa lain menilai
g.      Guru mengklarifiksi

13.  Learning smart with question
a.       Memberikan bacaan baru (asing)
b.      Membaca secara berkelompok (minimal 2 orang)
c.       Mengutarakan bacaan sebatas pemahaman
d.      Mempertanyakan yang belum dipahami
e.       Siswa yang tahu presentasi
f.       Guru mengklarifikasi
14.  Branstorming (inventarisasi pendapat dengan bebas tanpa diseleksi)
a.       Menentukan topik
b.      Mengajak siswa menyampaikan hal yang berhubungan dengan topik
c.       Guru mencatat dipapan tulis
15.  Elisitasi (inventarisasi pendapat dengan selektif)
a.       Menentukan topik
b.      Mengajak siswa menyampaikan hal yang berhubungan dengan topik (presenter yang menyeleksi)
c.       Menulis kata (pendapat) yang diseleksi
16.  Poster comment
a.       Sediakan gambar
b.      Siswa diminta mengamati gambar
c.       Siswa diminta mengomentari dan menilai
17.  Reading guide
a.       Membagikan bahan ajar ( berisi daftar pertanyaan dan bacaan)
b.      Diminta untuk membaca bahan tersebut
c.       Siswa diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut
d.      Siswa diminta menyampaikan jawaban
e.       Guru mengklarifikasi
18.  Billboard ranking
a.       Guru membagikan lembaran yang berisi beberapa karakteristik tentang sesuatu
b.      Siswa merangking karakteristik tersebut sesuai dengan prioritas masing-masing
c.       Ditempel dan di tampilkan dipapan tulis
d.      Siswa menjelaskan hasilnya
e.       Siswa lain menanggapi[5]

Metode-metode mengajar tersebut merupakan beberapa contoh metode dari sekian banyak metode yang dapat digunakan dan divariasikan yang tentunya disesuaikan dengan tujuan instruksional dan kebutuhan dari pengajaran.
PENUTUP

Metode mengajar inkonvensional yaitu suatu teknik mengajar yang baru berkembang dan belum lazim digunakan secara umum, seperti metode mengajar dengan modul, pengajaran berprogram, pengajaran unit, machine program, masih merupakan metode yang baru dikembangkan dan diterapkan dibeberapa sekolah tertentu yang mempunyai peralatan dan media yang lengkap serta guru-guru yang ahli menanganinya.

Macam-Macam Metode Inkonvensional yaitu:
1.        Metode pengajaran modul
2.        Metode pengajaran bermodal
3.        Metode pengajaran unit
4.        Metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
5.        Metode KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)
6.        Metode KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Contoh metode inkonvensional:
1.        Kartu sortir
2.        Tim Quiz
3.        Poin Kounterpoin
4.        Belajar melalui Zigso
5.        Metapikiran



DAFTAR ISI



Mustakim, Zaenal. 2013. Strategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Press
Usman, Basyirul. 2002. Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: PT. Ciputat Press



       [1] Basyirul Usman, Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: PT. Ciputat Press, 2002), hlm. 33
       [2] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Press, 2013), hlm. 134
       [3] Zaenal Mustakim, Ibid., hlm. 134-137
       [4] Zaenal Mustakim, Ibid., hlm. 137-142
       [5] Zaenal Mustakim, Ibid., hlm. 249-253

Tidak ada komentar:

Posting Komentar