Laman

new post

zzz

Selasa, 14 Oktober 2014

SPI - G - 6 : Dinasti-dinasti Lain di Dunia Islam II



Makalah
Dinasti-dinasti Lain di Dunia Islam II

Disusun guna memenuhi  tugas:
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati, M.S.I

Di Susun Oleh:
1.       Ahmad Shochib                                (202 111 2272)
2.       Yuhan                                               (202 111 2285)
3.       Khayatul Karimah                             (202 111 3006)

KELAS G

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014




BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sejarah Islam, para penguasa setelah masa kekuasaan khulafaur rasyidin, digantikan oleh para penguasa yang membentuk kekuasaan dengan sistem kekuasaan kekeluargaan atau dinasti. Sistem pemerintahan yang bersifat monarchi hereditis (kerajaan turun-temurun).
Dinasti-dinasti yang berkuasa setelah khulafaur rasyidin, ada beberapa dinasti lain yang berkuasa di beberapa belahan dunia Islam. Juga terdapat beberapa dinasti lain yang juga memiliki peran penting dalam pengembangan peradaban di dunia Islam.













BAB II
PEMBAHASAN
1.      Dinasti Buwaihi (333-447 H/945-1055 M)
Wilayah kekuasaan Dinasti Buwaihi meliputi Irak dan Iran. Dinasti ini dibangun oleh tiga bersaudara, yaitu Ali bin Buwaihi, Hasan bin Buwaihi dan Ahmad bin Buwaihi. Perjalanan Dinasti Buwaihi dapat dibagi dalam dua periode. Periode Pertama merupakan periode pertumbuhan dan konsolidasi, sedangkan Periode Kedua adalah periode Defensif, khususnya di wilayah Irak dan Iran Tengah. Dinasti Buwaihi mengalami perkembanagan pesat ketika Dinasti abbasiyah di Baghdad mulai melemah. Dinasti Buwaihi mengalami kemunduran dengan adanya pengaruh Tugril Beg dari Dinasti Saljuk. Peninggalan dinasti ini antara lain berupa observatorium di Baghdad dan sejumlah perpustakaan di Syiraz, Ar-Rayy dan Isfahan (Iran).[1]
Dinasti Buwaihi mencapai masa kejayaan pada pemerintahan ‘Adhud al-Daulah, putra Rukn al-Daulah (Hasan). Hasil peradaban yang telah dicapai antara lain:
-          Kemajuan Bidang Ilmu Pengetahuan.
-          Kemajuan Bidang Pembangunan
-          Berhasil mempersatukan beberapa wilayah kerajaan kecil di Persia dan Irak.
Ada dua faktor yang menyebabkan hancurnya Dinasti Buwaihiyah yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain: Perebutan kekuasaan dikalangan keturunan Bani Buwaihiyah dan pertentangan dalam tubuh militer antara golongan Dailam dan keturunan Turki. Sedangkan faktor Eksternal adalah semakin gencarnya serangan-serangan Byzantium ke dunia Islam, semakin banyaknya Dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad dan serangan dari Dinasti Saljuk.[2]
2.      Dinasti Murabithun (448-541 H/1056-1147 M)
Mereka adalah keturuna orang-orang Barbar Sahara dari kabilah Lamtunah, salah satu cabang dari Shanhajah. Mereka menamakan dirinya dengan Murabithun karena belajar pada Abdullah bin Yasin di Ribath yang dia dirikan untuk tempat belajar dan ibadah di padang Sahar Maghrib. Mereka juga sering dikenal dengan sebutan Multsimin.
Pemerintahan mereka di Maghrib memanjang dari Tunis di sebelah Timur dan Lautan Atlantik di sebelah Barat, serta Laut Tengah di sebelah Utara hingga ke perbatasan Sudan ke arah Selatan. Dia membangun kota Marakisy yang kemudian dijadikan sebagai ibukota pemerintahan oleh anaknya Ali bin Yusuf.
Dia melanjutka jihad ayahnya dan berhasil mengalahkan orang-orang kristen Spanyol pada perang Iqlisy pada tahun 502 H/1108 M. Perang ini adalah perang terbesar setelah Perang Zalaqah. Setelah itu pemerintahan ini mengalami kemunduran dan melemah hingga akhirnya dikalahkan oleh orang-orang Muwahhidun pada tahun 541 H/1147 M.[3]
3.      Dinasti Saljuk (469-706 H/1077-1307 M)
Saljuk adalah nama keluarga keturunan Saljuk bin Duqaq (Tuqaq) dari suku bangsa Guzz dari Turki yang menguasai Asia barat daya pada abad ke-11 dan akhirnya mendirikan sebuah kekaisaran yang meliputi kawasan Mesopotamia, Suriah, Palestina dan sebagian besar Iran. Wilayah kekuasaan mereka yang demikian luas menandai awal kekuasaan suku bangsa Turki di kawasan Timur Tengah hingga abad ke-13.
Dinasti saljuk dibagi menjadi lima cabang, yaitu Saljuk Iran, Saljuk Irak, Saljuk Kirman, Saljuk Asia Kecil dan Saljuk Suriah. Dinasti Saljuk didirikan oleh Saljuk bin Duqaq dari suku bangsa Guzz. Akan tetapi, tokoh yang dipandang sebagai pendiri Dinasti Saljuk yang sebenarnya adalah Tugril Beq. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan Dinasti Saljuk dan mendapat pengakuan dari Dinasti Abbasiyah. Dinasti Saljuk melemah setelah para pemimpinnya meninggal atau ditaklukan oleh bangsa lain. Peninggalan dinasti ini adalah Kizil Kule (Menara Merah) di Alanya, Turki Selatan, yang merupakan pangkalan pertahanan Bani saljuk dan Masjid Jumar di Isfahan, Iran.[4]
4.      Dinasti Muwahhidun (515-667 H/1121-1269 M)
Dinasti Muwahhidun adalah sebuah dinasti Islam yang pernah berjaya di kawasan Afrika Utara dan Spanyol selama lebih dari satu abad, yaitu sejak tahun 515-667 H/1121-1269 M. Dinasti ini didirikan pada tahun 1114 M, berdasarkan ajaran pendiriannya, yakni Muhammad bin Tumart (1080-1130 M) yang dikenal dengan sebutan Ibnu Tumart.
Dinasti Al-Muwahhidun, yang berarti golongan berfaham tauhid, didasarkan atas prinsip dakwah Ibnu Tumart yang memerangi faham At-Tajsim yang menganggap bahwa tuhan mempunyai bentuk (antropomorfisme) yang berkembang di Afrika Utara pada masa itu dibawah kekuasaan Dinasti Al-Murabbitun (448-541 M/1056-1147 M) atas dasar bahwa ayat yang berkaitan dengan sifat Tuhan yang tersebut dalam Alqur’an, seperti tangan Tuhan, tidak dapat ditakikkan (dijelaskan) dan harus difahami seperti apa adanya. Menurut Ibnu Tumart, faham At-Tajsim identik dengan syirik (menyekutukan Allah), dan orang-orang yang menganut faham At-Tajsim adalah musyrik.
Diantara penguasa Al-Muwahhidun, Abu Ya’qub Yusuf adalah yang paling dekat dengan kaum ulama dan cendekiawan. Pada masanya hidup orang besar seperti Ibnu Rusyd (filsuf besar Islam yang mengilhami kebangkitan intelektualitas di barat), Ibnu Tufail (filsuf terkenal Islam yang mengarang buku Hayy Ibn Yaqzan), Ibnu Mulkun Abu Ishaq Ibrahim bin Abdul Malik (ahli bahasa yang tekenal), Abu Bakar bi Zuhur (ahli kesehatan yang merangkap menteri) dan sebagainya.[5]
5.      Dinasti Ayyubiyah (569-650 H/1174-1252 M)
Pusat pemerintahan Dinasti Ayyubiyah adalah Kairo, Mesir. Wilayah kekuasaannya meliputi kawasan Mesir, Suriah dan Yaman. Dinasti Ayyubiyah didirikan Shalahudin Yusuf Al-Ayyubi, setelah menaklukan khalifah terakhir dinasti Fathimiyah, Al-Adid. Shalahudin berhasil menaklukan daerah Islam lainnya dan pasukan Salib. Shalahudin adalah tokoh dan pahlawan perang salib. Selain dikenal sebagai panglima perang, Shalahudin juga mendorong kemajuan di bidang agama dan pendidikan. Berakhirnya masa pemerintahan Ayyubiyah ditandai dengan meninggalnya Malik Al-Asyraf Musyaffaruddin, sultan terakhir dan berkuasanya Dinasti Mamluk. Peninggalan Ayyubiyah adalah Bentang Qa’lah Al-Jabal di Kairo, Mesir.
6.      Dinasti Delhi (602-962 H/1206-1555 M)
Dinasti Delhi terletak di India Utara. Dinasti Delhi mengalami lima kali pergantian kepemimpinan yaitu Dinasti Mamluk, Dinasti Khalji, Dinasti Tuglug, Dinasti Sayid dan Dinasti Lody. Pada periode pertama, Delhi dipimpin Dinasti Mamluk selama 84 tahun. Mamluk merupakan keturunan Qutbuddin Aybak, seorang budak dari Turki. Dinasti Khalji dari Afghanistan memerintah selama 30 tahun. Dinasti Tugluq memerintah sampai 93 tahun, sedangkan Dinasti Sayid selama 37 tahun. Penguasa terakhir Delhi adalah Dinasti Lody yang memerintah selama 75 tahun. Peninggalan Dinasti Delhi antara lain adalah masjid Kuwat Al-Islam dan Qutub Minar yang berupa menara di Lalkot, Delhi (India).
7.      Dinasti Mamluk (648-923 H/ 1250-1517 M)
Dinasti Mamluk memiliki wilayah kekuasaan di Mesir dan Suriah. Dinasti Mamluk berasal dari golongan hamba yang dimiliki oleh para sultan dan amir, yang dididik secara militer oleh tuan mereka. Dinasti Mamluk yang memerintah di Mesir dibagi dua, yaitu Mamluk Bahri dan Mamluk Burji. Sultan pertama Dinasti mamluk Bahri adalah Izzudin Aibak. Sultan Dinasti Mamluk Bahri yang terkenal antara lain adalah Qutuz, Baybars, Qalawun dan Nasir Muhammad bin Qalawun. Baybars adalah sultan Dinasti Mamluk Bahri yang berhasil membangun pemerintahan yang kuat dan berkuasa selama 17 tahun. Dinasti Mamluk Burji kemudian mengambil alih pemerintah dengan menggulingkan Sultan Mamluk Bahri terakhir, As-Salih Hajji bin Sya’ban. Sultan pertama penguasa Dinasti Mamluk Burji adalah Barquq (784-801 H/1382-1399 M). Dinasti Mamluk Mesir memberikan sumbangan besar bagi sejarah Islam dengan mengalahkan kelompok Nasrani Eropa yang menyerang syam (Syiria), selain itu Dinasti Mamluk mesir berhasil mengalahkan bangsa Mongol, merebut dan mengislamkan kerajaan Nubia (Ethiopia), serta menguasai pulau Cyprus dan Rhodes. Dinasti Mamluk Mesir berakhir setelah Al-Asyras Tuman Bai, sultan terakhir, dihukum gantung oleh pasukan Usmani Turki. Peninggalan Dinasti Mamluk antara lain berupa Masjid Rifa’i, Mausoleum Qalawun dan Masjid Sultan Hassan di Kairo.[6]










BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ada banyak Dinasti-dinasti di Dunia Islam, dan yang dijelaskan dalam makalah ini antara lain:
-          Dinasti Buwaihi
-          Dinasti Murobbitun
-          Dinasti Saljuk
-          Dinasti Muwahhidun
-          Dinasti Ayyubiyah
-          Dinasti Delhi
-          Dinasti Mamluk
Dalam masa pemerintahannya, dari masing-masing Dinasti tersebut memiliki masa kejayaan, kemajuan juga masa kemunduran dan kehancuran  dengan proses berbeda-beda seperti yang dijelaskan pada makalah ini.









DAFTAR PUSTAKA
Al-Usairy, Ahmad. 2011. Sejarah Islam. Jakarta: AkbarMedia.
Khoiriyah. 2012. Reorientasi Wawasan Sejarah Islam. Yogyakarta: Teras
Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: AMZAH



[1] Samsul Munir Amir, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 277
[2] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 146-148
[3] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta: Akbarmedia, 2011), hlm. 286-287
[4] Samsul Munir Amin, Op.cit, hlm. 278
[5] Ibid, hlm. 270-273
[6] Ibid, hlm. 278-280

Tidak ada komentar:

Posting Komentar