Laman

Selasa, 14 Oktober 2014

SPI - H - 6 : DINASTI-DINASTI LAIN DI DUNIA ISLAM SEIRING DINASTI ABBASIYAH II



MAKALAH
DINASTI-DINASTI LAIN DI DUNIA ISLAM SEIRING DINASTI ABBASIYAH II
         
Disusun guna memenuhi tugas makalah :
              Mata Kuliah                   : Sejarah Peradaban Islam
         Dosen Pengampu           :Gufron Dimyati,M.Si

Disusun oleh:

1.               Dewi Nuril Aulia        (2021113043)
2.               Dian Nurul Aini          (2021113052)
3.               Lindawati                    (2021113054)

                                 KELAS : H

TARBIYAH (PAI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM  NEGERI (STAIN)PEKALONGAN
2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Dalam sejarah islam, setelah masa khulafaur rasyidin, digantikan oleh para penguasa yang membentuk kekuasaan dengan sistem kekuasaan dengan sistem kekuasaan kekeluargaan atau dinasti.
Dan  pada kenyataan yang ada, sebuah pemerintahan pasti terdapat kemunduran maupun kemajuan dan fase-fase penting dalam perjalanan sejarah islam.
 Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan menjelaskan sebuah materi tentang dinasti- dinasti lain di dunia islam seiring dinasti abbasiyah II.
B.       RUMUSAN MASALAH
1.        Bagaimana  Sejarah Dinasti Buwaihi?
2.        Bagaimana Sejarah Dinasti Murobbitun?
3.        Bagaimana Sejarah Dinasti Saljuk?
4.        Bagaimana Sejarah Dinasti Muwahhidun?
5.        Bagaimana Sejarah Dinasti Ayyubiyah?
6.        Bagaimana  Sejarah Dinasti Delhi?
7.        Bagaimana Sejarah Dinasti Mamluk?





BAB II
PEMBAHASAN
Dinasti-Dinasti Lain di Dunia Islam Seiring Dinasti Abbasiyah II
A.    Dinasti Buwaihi (333 H/954 M - 447 H/1055 M)
Wilayah kekuasaan Dinsti Buwaihi meliputi Irak dan Iran. Dinasti ini dibangun oleh tiga bersaudara, yaitu Ali bin Buwaihi, Hasan bin Buwaihi, dan Ahmad bin Buwaihi. Perjalanan Dinasti Buwaihi dapat dibagi menjadi dua periode. Periode pertama merupakan periode pertumbuhan dan konsolidasi, sedangkan periode kedua adalah periode defensif, khususnya diwilayah Irak dan Iran Tengah. Dinasti Buwaihi mengalami perkembangan pesat ketika  Dinasti Abbasiyah di Baghdad mulai melemah. Dinasti Buwaihi mengalami kemunduran  dengan adanya pengaruh Tugril Beg dari Dinasti Saljuk. Peninggalan Dinasti ini antara lain berupa observatorium di Baghdad dan sejumlah Perpustakaan di Syiraz, Ar-Rayy, dan Isfahan (Iran)
B.     Dinasti Al-Murabitun (448H/1056M-541H/1147M)
Al-Murabitun adalah nama sebuah Dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi dan Spanyol (Andalusia). Asal-usul dinasti ini berasal dari Lemtuna, salah satu anak dari suku Sahaja. Mereka juga biasa disebut  Al-Muksimun (pemakai kerudung sampai menutupi wajah dibawah muka). Dinasti ini berawal dari sekitar 1000 anggota pejuang. Kegiatan mereka antara lain menyebarkan agama Islam dengan mengajak suku lain untuk menganut agama Islam. Mereka mengambil ajaran mazhab Salaf (gerakan Salafiyah) secara ketat. Wilayah mereka meliputi Afrika barat daya dan daerah Spanyol.[1]
Dibawah seorang pemimpin spiritual, Abdullah bin Yasin dan seorang komandan militer, Yahya bin Umar, mereka berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Wadi Dara. Mereka juga berhasil menaklukan kerajaan Sijilmasat yang dikuasai Mas’ud bin Wanuddin Al-Magrawi tahun 447H/1055M. Ketika yahya bin Umar meninggal dunia, jabatanya digantikan saudaranya, Abu Bakar bin Umar. Kemudian Abu Bakar melakukan penaklukan kedaerah sahara Maroko. Tahun 450H/1058 M ia menyebrang ke atlas tinggi. Setelah itu diadakan penyerangan ke Maroko tengah dan selatan. Selanjutnya ia memerangi suku baghawata yang dianggap menganut paham bid’ah. Pada penyerangan ini Abdullah bin Yasin tewas. Sejak itu Abu Bakar memegang tampuk kekuasaan secara penuh dan lambt laut ia berhasil mengembangkan sistem kesultanan.
Abu bakar berhasil menaklukan daerah sebelah utara atlas tinggi dan akhirnya pada 462H/1074 Mia dapat menaklukan daerah Marrakech (Maroko). Kemudian ia mendapat informasi bahwa bulugan, Raja Kala dan Bani Hammad, mengadakan penyerangan ke maghribi dengan melibatkan sebagian kaum Sahaja. Mendengar berita itu ia memutuskan untuk kembali ke Sahara untuk menegakan perdamaian di antara kaum Al-Murabitun.
Sekembalinya dari Sahara, setelah ia berhasil memadamkan peneyerangan Bulugan, ia menyerahkan kekuasaannya  kepada Yusuf bin Tasyfin (500H/1107M), karena ia  mengklaim bahwa Maroko berada dibawah kekuasaannya. Akhirnya Abu Bakar kembali lagike Sahara dan kemudian hidup di Sudan sampai akhir hayatnya (1080 M).
Pada 1062 Yusuf bin Tasyfin mendirikan ibu kota Maroko. Iajuga berhasil menaklukan Fez dan Tangier. Pada tahun 1080-1082 ia berhasil meluaskan wilayahnya sampai Aljazair. Ia mengangkat para pejabat dari kalangan Al-Murabitun untuk meduduki jabatan gubernur pada wilayah taklukan, sementara ia sendiri memerintah di Maroko.
Puncak prestasi dan karir politiknya dicapai ketika ia berhasil menyebrang ke Spanyol. Ia datang ke Spanyol atas undangan Amir Cordova , Al-Mu’tamid bin Abas, yang terancam kekuasanya oleh Raja Alfonso VI (Raja Leon Castilla). Dalam melaksanakan tugasnya ini, Yusuf bin Tasyfin mendapat dukungan kuat dari Muluk At-Tawa’if yang ada di Andalusia. Dalam sebuah pertempuran Besar di Zallakah, ia berhasil mengalahkan Raja Alfonso VI, ia juga berhasil merebut Granada dan Malaga. Mulai saat itulah ia memakai gelar Amirul Mukminin. Yusuf bin Tasyfin juga berhasil menaklukan Amen dan Badajoz. Maridali ditaklukan pada 503 H/1110 M. Kemudian Kerajaan Saragosa dan Pulau Balearic berhasil diduduki oleh Dinasti Al-Murabitun.
Ketika Yusuf bin Tasyfin meninggal dunia, ia mewariskan kekuasaannya kepada anaknya, Ali bin Yusuf bin Tasyfin. Ali melanjutkan politik pendahulunya dan berhasil mengalahkan anak Alfonso VI pada 1111 M. Selanjutnya Tavalera de Rein. Lambat laut dinsti murabitun mengalami kemunduran dalam memperlas wilayahnya. Hal tersebut disebabkan perubahan sikap mental mereka, yakni adanya kemewahan yang berlebihan. Dinasti ini memegang kekuasaan selama sekitar 90 tahun.
Masa Kemunduran dan Kehancuran Murabitun disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal :
·         Faktor Internal
Faktor internal Murabitun antara lain figur penguasa yang lemah, Banyak pembesar Murabitun menguasai sejumlah tanah, dan tampil sebagai tuan rumah, ketika kekayaan dunia Islam melimpah terutama di Andalusia, semangat jihad yang semula menjadi karakter mereka semakin hari semakin menipis, bahkan lenyap, banyak umat Islam tenggelam ke dalam kemewahan dan kenikmatan dunia.
·         Faktor Eksternal
Faktor eksternal kejatuhan Murabitun diawali dengan banyaknya pemberontakan secara terus-menerus, baik di Andalusia maupun di Afrika Utara, utamanya dari mereka yang kelak berhasil membangun Daulat Muwahidun. Sementara itu sejak berdirinya Daulat Muwahidun timbulah pertempuran yang banyak dimenangkan oleh pihak Muwahidun.[2]
C.    Dinasti Saljuk (469H/ 1077H- 706 H/1307 H)
Saljuk adalah nama keluarga keturunan Saljuk bin Duqaq (Tuqaq) dari suku bangsa Guzz dari Turki yang menguasai Asia Barat daya pda abad ke-11 dan akhirnya mendirikan sebuah kekaisaran yang meliputi kawasan Mesopotamia, Suriah, Palestina dan sebagian besar Iran. Wilayah kekuasaan mereka yang demikian luas menandai awal kekuasaan suku bangsa Turki di kawasan Timur Tengah hingga abad ke-13.
Dinasti ini dibagi menjadi lima cabang, yaitu Saljuk Irak, Saljuk Kirman, Saljuk Asia Kecil dan Saljuk Suriah. Dinasti Saljuk didirikan oleh Saljuk bin Duqaq dari suku bangsa Guzz. Akan tetapi, tokoh yang dipandang sebagai pendiri Dinasti Saljuk yang sebenarnya adalah Tugril Bag. Ia berhasil memperluas wilayah Diasti Saljuk dan mendapat pengakuan dari Dinasti Abbasiyah. Dinasti saljuk melemah setelah para pemimpinnya meninggal atau ditaklukan oleh bangsa lain. Peninggalan Dinasti ini adalah Kizil Kule (Menara Merah) di Alanya, Turki Selatan, yang merupakan pangkalan pertahanan Bani Saljuk, dan Masjid Jumar di Isfahan, Iran.[3]

D.    Dinasti Al-Muwahhidun (515H/1121M-667H/1269M)
Dinasti Al-Muwahhidun adalah dinasti islam yang pernah berjaya di kawasan Afrika Utara dan Spanyol selama lebih dari satu abad. Dinasti ini didirikan pada tahun 1114 M, pendirinya yakni Muhammad bin Tumart (1080-1130 M) yang dikenal dengan Ibnu Tumart.
Dinasti Al-Muwahhidun yang berarti golongan yang berfaham Tauhid, didasarkan atas prinsip dakwah Ibnu Tumart yang memerangi faham At-Tajsim yang menganggap tuhan mempunyai bentuk (antropomorfisme). Menurut Ibnu Tumart, faham At-Tajsim identik dengan syirik (menyekutukan Allah) dan orang yang menganut faham tersebut adalah Musyrik.
Ibnu Tumart menganggap bahwa menegakkan kebenaran dan memberantas kemungkaran harus dilakukan dengan kekerasan. Oleh karena itu dalam mendakwahkan prinsipnya Ibnu Tumart tidak segan-segan menggunakan Kekerasan. Sikap keras Ibnu Tumart tidak disenangi sebagian besar masyarakat, terutama kalangan ulama’ dan penguasa. Tidak heran apabila Ibnu Tumart mendapat tantangan dimana-mana. Kemudian ia dilindungi oleh Sultan Ali bin Yusuf bin Tasyfin tahun 1113-1142 M yang hanya menguasainya dari Marrakech (Ibu Kota Kerajaan Al-Murabitun), dakwah Ibnu Tumart mendapat dukungan dari berbagai suku Barbar, seperti suku Haragah, Hantanah, Jadmiwah, Janfisah.
Setelah merasa bahwa dakwahnya telah mendapat sambutan yang sangat berarti dan pengikutnya sudah mulai banyak,sementara itu Dinasti Al-Murabitun mulai melemah, Ibnu Tumart berambisi menjatuhkan kekuasaan kaum Murabitun. Maka pada tahun 1120 M ia menobatkan dirinya sebagai Al-Mahdi. Ia menamakan penguasa Al-Muwahhidun dan wilayah kekuasaannya yaitu Tindasi dan sekitarnya, sebagai Ad-Daulah Al-Muwahhidiyah.
Langkah pertama yang diambil Ibnu Tumart dalam meraih ambisinya adalah mengajak Kabilah Barbar untuk bergabung bersamanya. Pada tahun 524 H/1129 M dengan jumlah pasukan yang banyak 40.000 orang, dibawah komando Abu Muhammad Al-Basyir At-Tansyarisi, kaum al-muwahidun menyerang ibu kota Murabitun, Marrakech. Peristiwa itu dikenal dengan nama Perang Buhairah. Dalam perang itu, Al-Muwahhidun mengalami kekalahan besar, kekalahan ini mengakibatkan meninggalnya Ibnu Tumart pada tahun itu juga.
Setelah Ibnu Tumart Wafat, Abdul Mu’min bin Ali tahun (467 H/1094 M-558 H/1163 M) dibaiat sebagai pemimpin Al-Muwahhidun menggantikan Ibnu Tumart. Di bawah kepemimpinanya Al-Muwahhidun meraih kemenangan demi kemenangan. Pada 1131 M Al-Muwahhidun menguasai Nadla, Dir’ah, Taigan, Fazar dan Gayamah. Pada tahun 1139 M kaum Al-Muwahhidun melancarkan serangan ke kubu-kubu pertahanan Al-Murabitun. Fez, kota terbesar kedua setelah Marrakech, direbut Kaum Al-Muwahhidun 540 H/1145 M. Setahun kemudian Al-Muwahhidun berhasil menguasai ibu kota Marrakech dan menjatuhkan Dinasti Al-Murrabitun.
Abdul Mu’min berambisi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Untuk memindahkan pusat pemerintahannya Al-Muwahhidun dari Tinmallal ke Marrakech. Pada tahun 1152 ia merebut Al-Jazair, 6 tahun kemudian Tunisia dikuasai, dan 2 tahunnya lagi pada tahun 1160 Tripoli (Libia) jatuh ketangan Al-Muwahhidun.
Sementara itu di Andalusia (Spanyol), Al-Muwahhidun merebut kembali wilayah kaum Al-Murabitun yang dikuasai kaum Nasrani. Pada masa Abdul Mu’min wilayah kaum Al-Muwahhidun membentang dari Tripoli hingga Samudra Atlantik sebelah barat.
Pada tahun 1162 M Abdul Mu’min bermaksud memperluas wilayah kekuasaannya jatuh ke Spanyol yang dikuasai oleh orang Kristen. Oleh karena itu, ia menyiapkan pasukan yang cukup besar, tetapi nasib menentukan lain. Sebelum niatnya tercapai, pada tahun itu juga Abdul Mu’min bin Ali menghembuskan nafas terakhir. Ia digantikan putranya, Abu Ya’kub Yusuf bin Abdul Mu’min tahun (w. 580 H/1184 M).
Pada masanya paling sedikit 2 kali kaum Al-Muwahhidun menyerang wilayah Andalusia. Pertama pada tahun 1169 M dibawah komando saudaranya, Abu Hafs, kaum Al-Muwahhidun berhasil merebut kota Toledo. Pada tahun 1184 M dibawah komandonya sendiri berhasil menguasai Syantarin di sebelah barat Andalusia dan menghancurkan tentara Kristen di daerah Lissabon (ibu kota Portugal). Akan tetapi, dalam pertempuran Abu Ya’kub Yusuf terluka berat, yang mengakibatkan meninggal dunia.
Penggantian Abu Ya’kub adalah putranya, Abu Ya’kub Al-Manshur. Pada tahun awal kekuasaannya terjadi 2 pemberontakan di Spanyol :
1.      Cucu Ibnu Ganiyah, Ali bin Ishaq bin Muhammad, penguasa kepulauan Miurqah, Manurqah, dan Yabisah.
2.      Orang Kristen yang berusaha merebut wilayah Islam di Spanyol.
Kedua pemberontakan tersebut dapat dipatahkan, bahkan pasukan Al-Muwahhidun berhasil menawan sekitar 13.000 orang Kristen dan memaksa Raja Alfonso bertekuk lutut dengan menerima konsesi terhadap Dinasti Al-Muwahhidun.
Pada tahun 1194 M, Alfonso kembali memberontak dengan keyakinan bahwa ia akan membebaskan wilayah Spanyol dari penguasaan orang Islam. Untuk itu ia mengirimkan pasukan dalam jumlah yang besar, yang didukung oleh kabilah Arab, Zanatah, Masmudah, Gamarah, Agraz dan kaum budak. Benteng Ark yang merepukan pusat pertahanan orang Kristen dapat dihancurkan dan kaum Al-Muwahhidun menawan 20.000 tentara Kristen. Kemenangan terbesar Al-Muwahhidun ini rupanya kemenangan terakhir kaum muslim terhadap Kristen di Spanyol.
Sementara itu, akibat perang salib yang berlangsung, di Timur antara kaum muslimin dibawah pimpinan Shalahudin Yusuf Al-Ayyubi dan orang Kristen, telah terjalin hubungan yang erat antara Khalifah Abu Ya’kub Al-Manshur dan Shalahudin Yusuf Al-Ayyubi. Disebutkan bahwa Abu Yusuf membantu pasukan Shalahudin dengan mengirimkan 180 unit kapal perang untuk melawan tentara Kristen. Namun demikian, hubungan baik antara Abu Yusuf dan Shalahudin itu tidak lantas meluapkan ambisi sang khalifah untuk menguasai Mesir. Hal tersebut belum dapat dilaksanakan karena terhalang oleh pemberontakan dalam negeri, baik oleh orang Islam maupun orang Kristen.[4]
E.     Dinasti Ayyubiyah (569 H/1174 M-650 H/1252 M)
Pusat pemerintahan Dinasti Ayyubiyah adalah Kairo, Mesir. Wilayah kekuasaannya meliputi kawasan Mesir, Suriah, dan Yaman. Dinasti Ayyubiyah didirikan Shalahuddin Yusuf Al-Ayubbi, setelah menaklukan khalifah terakhir Dinasti Fathimiyah, Al-Adid. Shalahuddin berhasil menaklukkan daerah islam lainnya dan pasukan salib. Shalahudin adalah tokoh dan pahlawan perang salib. Selain dikenal sebagai panglima perang, shalahuddin juga mendorong kemajuan di bidang agama dan pendidikan. Berakhirnya masa pemerintahan Ayyubiyah ditandai dengan meninggalnya Malik Asyraf Muzaffaruddin, sultan terakhir dan berkuasanya Dinasti Mamluk. Peninggalan Ayyubiyah adalah Benteng Qal’ah Al-Jabal di Kairo, Mesir.[5]



F.     DINASTI DELHI (602 H/1206 M- 962 H/1555 M)
Dinasti Delhi terletak di India Utara. Dinasti Delhi mengalami lima kali pergantian kepemimpinan yaitu Dinasti Mamluk, Dinasti Khalji, Dinasti Tuglug, Dinasti Sayid, dan Dinasti Lody. Pada periode pertama, Delhi dipimpin Dinasti Mamluk selama 84 tahun. Mamluk merupakan keturunan Qutbuddin Aybak, seorang budak dari turki. Dinasti Khalji dari Afganistan memerintah selama 30 tahun. Dinasti Tugluq memerintah sampai 93 tahun, sedangkan dinasti sayid selama 37 tahun. Penguasa terakhir Delhi adalah Dinasti Lody yang memerintah selama 75 tahun. Peninggalan Dinasti Delhi antara lain adalah Masjid kuwat Al-Islam dan Qutub Minar yang berupa menara di Lalkot, Delhi (India).[6]
G.    DINASTI MAMLUK (648 H/1250 M-923 H/1517 M)
Dinasti Mamluk memiliki wilayah kekuasaan di Mesir dan Suriah. Dinasti Mamluk berasal dari golongan hamba yang dimiliki oleh para sultan dan amir, yang dididik secara militer oleh tuan mereka. Dinasti mamluk yang memerintah di Mesir dibagi dua, yaitu Mamluk Bahri dan Mamluk Burji. Sultan pertama Dinasti Mamluk Bahri adalah Izzudin Aibak. Sultan Dinasti Mamluk Bahri yang terkenal antara lain adalah Qutuz, Baybars, Qalawun, dan Nasir Muhammad bin Qalawun. Baybars adalah sultan Dinasti Mamluk Bahri yang berhasil membangun pemerintahan yang kuat dan berkuasa selama 17 tahun. Dinasti Mamluk Burji kemudian mengambil alih pemerintah dengan menggulingksn sultan Mamluk Bahri terakhir, As-salih Hajji bin sya’ban. Sultan pertama penguasa Dinasti Mamluk Burji adalah Banjuq (784 H/ 1382 M-801 H/1399 M). Dinasti Mamluk Mesir memberikan sumbangan besar bagi sejarah islam dengan mengalahkan kelompok Nasrani Eropa yang menyerang Syam (Syiria), selain itu Dinasti Mamluk Mesir berhasil mengalahkan Bangsa Mongol, merebut dan mengislamkan kerajaan Nubia (Ethiopia), serta menguasai Pulau Cyprus dan Rhodes. Dinasti Mamluk Mesir berakhir setelah Al-Asyras Tuman Bai, sultan terakhir, dihukum gantung oleh pasukan Usmani Turki. Peninggalan Dinasti Mamluk antara lain berupa Masjid Rifai, Mausoleum Qalawun, dan masjid Sultan Hassan di Kairo.[7] pada masa Dinasti Mamluk ini terdapat fase-fase pemerintahan diantaranya:

a). Kondisi Dunia Islam Saat Itu
1.      Kondisi Kaum Muslimin
Saat itu kaum muslimin mengalami kelemahan yang sangat akut akibat perpecahan dan sikap mereka yang jauh dari islam.
2.      Kondisi Para Sultan dan Khalifah Bani Abbasiyah
Sebagian besar dari pemimpin Mamluk adalah orang-orang yang lemah. Sementara pada saat yang sama, kondisi para khalifah Bani Abbasiyah di Mesir tidak juga lebih baik dari kondisi mereka. Mereka kini sama sekali tidak memiliki pengaruh dan peran serta intervensi dalam pemerintahan.
3.      Spirit Keagamaan
Spirit Keagamaan di kalangan pemimpin Mamluk dan rakyat secara umum sangatlah tinggi. Itu terlihat dari adanya aktivitas keagamaan yang sangat banyak pada saat itu. Masa itu adalah masa di mana terjadi usaha menyatukan kaum muslimin.
       b).Gerakan Jihad
Dari sisi jihad orang-orang Mamalik memiliki peran penting dan menonjol serta dampak yang nyata. Mereka telah mampu membendung gelombang serangan orang-orang Mongolia yang kejam dalam perang ‘Ain Jalut pada tahun 658 H/ 1259 M. Mereka juga berhasil mengusir sisa-sisa orang Salibis di Syam pada tahun 590 H/ 1291 M. Pada akhir masa pemerintahannya mereka masih berhasil membendung serangan orang-orang Salibis Portugal.[8]
    c).    Jasa-jasa Pemerintahan Mamluk
Pemerintahan mamluk memberikan kontribusi dan sumbangan sangat berharga dalam sejatah islam. Mereka berhasil membendung dua serangan besar yang ada dalam sejarah islam dan sejarah manusia.
Pertama, membendung gelombang serangan Mongolia yang membabi buta, mereka mencegahnya masuk dunia islam.
Kedua, memerangi pasukan Silibis hingga berhasil mengeluarkan sisa-sisa mereka yang masih berada di negeri-negeri muslim pada tahun 660-690 H/ 1261/1291 M.
d)   Sebab-sebab Hancurnya Pemerintahan Mamluk.
1.    Karena mereka meninggalkan jihad (sekali-kali seseorang tidak meninggalkan jihad, kecuali mereka akan menjadi hina).
2.    Karena mereka menjadi terpecah dan terjadinnya konflik internal serta terjadinya banyak pertempuran di antara mereka.
3.    Ditemukannya jalan ar-Raja’ ash-saleh oleh orang-orang portugis yang membuat Mesir kehilangan pengaruhnya.
4.    Kegagalan mereka membendung serangan orang-orang portugis yang saat itu telah sampai ke Laut Tengah dan Laut Merah.
Munculnya kekuatan Utsmani yang kemudian mengakhiri pemerintahan mereka


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dinasti Buwaihi dibangun oleh tiga bersaudara, yaitu Ali bin Buwaihi, Hasan bin Buwaihi, dan Ahmad bin Buwaihi. Perjalanan Dinasti Buwaihi dapat dibagi menjadi dua periode. Periode pertama merupakan periode pertumbuhan dan konsolidasi, sedangkan periode kedua adalah periode defensif.
Al-Murabitun adalah nama sebuah Dinasti Islam yang berkuasa di Maghribi dan Spanyol (Andalusia). Sedangkan Saljuk adalah nama keluarga keturunan Saljuk bin Duqaq (Tuqaq) dari suku bangsa Guzz dari Turki yang menguasai Asia Barat.
 Dinasti Al-Muwahhidun adalah dinasti islam yang pernah berjaya di kawasan Afrika Utara dan Spanyol selama lebih dari satu abad.  Sedangkan Dinasti Ayyubiyah didirikan Shalahuddin Yusuf Al-Ayubbi, setelah menaklukan khalifah terakhir Dinasti Fathimiyah, Al-Adid.
 Dinasti Delhi mengalami lima kali pergantian kepemimpinan yaitu Dinasti Mamluk, Dinasti Khalji, Dinasti Tuglug, Dinasti Sayid, dan Dinasti Lody. Dinasti Mamluk memiliki wilayah kekuasaan di Mesir dan Suriah. Dinasti Mamluk berasal dari golongan hamba yang dimiliki oleh para sultan dan amir.
B.     Kritik dan Saran
Makalah yang kami tulis tidak lepas dari segala kekurangan dan kesalahan. Dengan segala kerendahan hati, kami selalu mengharap kritik dan saran yang membangun sekiranya sangat diperlukan untuk perbaikan dan pembelajaran dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Amin,Samsul Munir.2010. Sejarah Peradaban Islam.
(Jakarta:Amzah).
Fu’adi, Imam.2012.Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II.(Yogyakarta:Teras).
 al-’Usairy,Ahmad. Sejarah Islam.2010. (Jakarta:Akbar Media)


[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:Amzah,2010),hlm268-.277
[2] Imam Fu’adi,Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II,(Yogyakarta:Teras,2012),hlm.95-97
[3] Samsul Munir Amin, Op.cit, hlm. 278                    
[4] Ibid, hlm.270-274
[5] Ibid, hlm. 278
[6] Samsul Munir Amin , Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah,2010), hlm.279.         
[7] Ibid, hlm.279-280                                                                                                    
[8] Ahmad al-’Usairy, Sejarah Islam, (Jakarta:Akbar Media,2011),hlm.302-303

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar