Laman

Minggu, 19 Oktober 2014

SPI - G - 7 : MASA TIGA DINASTI BESAR: TURKI USMANI, SAFAWIYAH DAN MUGHOL




MAKALAH
PERADABAN TIGA DINASTI BESAR

Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah                       :  Sejarah peradaban islam
Dosen pengampu             : Ghufron Dimyati, M.S.I

 


Disusun oleh :
Ratna anggraini           :   2021113033
Ari rohmatul azizah     :   2021113011
M.Afif yasin                :  2021113029


KELAS : PAI G


 TARBIYAH / PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGANGAN
2014




BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Setelah Dinasti Abbassiyah di Bagdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol yang terus berekpansi terhadap kekuasaan Islam, hingga muncullah tiga kerajaan Islam sebagai kekuatan baru Islam yaitu kerajaan Safawiyah di Persia, Turki Usmani di Turki dan Mughol di India. Selanjutnya ketiga kerajaan Islam itu melanjutkan kekuasaan dan perpolitikan Islam.




















                                                                                                     

BAB II
PEMBAHASAN

A . DINASTI TURKI USMANI
1. Sejarah Berdirinya Kerajaan Usmani
Kerajaan Usmani pendirinya adalah bangsa Turki dari kabilah Oghus yang mendiami daerah utara negeri China. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah.[1]
Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk Rum ini kemudian terpecah-belah dalam beberapa kerajaan kecil. Usmani kemudian menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah  Kerajaan Usmani dinyatakan berdiri.
Penguasa pertama adalah Usman yang disebut juga dengan Usman I. Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al Usman (Raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah Bizantium dan menaklukan  kota Broessa tahun 1317 M. Kemudian tahun 1326 M dijadikan sebagai ibukota kerajaan Turki Usmani.
Pada masa pemerintahan Orkhan (1326-1359 M) Turki Usmani dapat menaklukkan Azumia (1327), Tasasyani (1330 M) Uskandar (1328) M), Ankara (1354), Gallipolli (1356). Daerah ini adalah bagian bumi Eropa yang pertama kali diduduki Kerajaan Usmani.
Turki Usmani mencapai kegemilangannya pada saat kerajaan ini dapat menaklukkan pusat peradaban dan pusat agama Nasrani di Bizantium, yaitu Konstantinopel. Sultan Muhammad II yang dikenal dengan Sultan Muhammad Al Fatih (1451-1484 M) dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M.
Dengan terbukanya kota Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih memudahkan arus ekspansi Turki Usmani ke benua Eropa. Dan wilayah Eropa  bagian timur semakin terancam oleh  Turki Usmani juga dilakukan  ke wilayah ini, bahkan sampai ke pintu gerbang kota Wina, Austria.
2. Penaklukkan Konstantinopel
Konstantinopel adalah ibu kota Bizantium dan merupakan pusat agama Kristen. Ibu kota Bizantium itu akhirnya dapat ditaklukkan oleh pasukan Islam di bawah Turki Usmani pada masa pemerintahan  Sultan Muhammad II, yang bergelar Al Fath, artinya sang penakluk.
Sultan mempersiapkan penaklukan terhadap kota Konstantinopel  dengan penuh keseriusan. Dipelajari penyebab kegagalan dalam  penaklukan-penaklukan sebelumnya. Sultan tidak mau lagi kalah sebagaimana para pendahulunya. Ia terlebih dahulu membereskan wilayah-wilayah yang membangkang di Asia kecil. Datanglah kesempatan yang dinanti-nanti, yakni ketika Kaisar Konstantin IX  mengancam Sultan untuk membayar pajak yang tinggi  kepada  pihaknya. Ancaman tersebut dihadapi dengan kebulatan tekad, yakni  dengan membuat benteng-benteng itu dibangun untuk melindungi dan mengawasi rakyatnya yang lalu lalang ke Eropa melalui wilayah Bosporus itu.
Konstantinopel akhirnya dapat dikepung dari segala penjuru oleh pasukan    Sultan Muhammad II yang berjumlah kira-kira 250.000 di bawah pimpinan Sultan sendiri. Kaisar Bizantium meminta bantuan kepada Paus di Roma dan raja-raja Kristen di Eropa, tetapi tanpa hasil, bahkan ia dicemooh oleh rakyatnya sendiri karena merendahkan martabatnya. Raja-raja Eropa juga pasuktidak ingin membantunya karena mereka masih dalam perselisihan yang belum terselesaikan. Hanya pasukan Vinicia yang ingin membantu karena memiliki kepentingan dagang di wilayah Usmani. Maka terperanjatlah pasukan Bizantium dengan strategi Sultan yang telah mengepung kota selama 53 hari. Dalam masa itu meriam-meriam Turki dimuntahkan ke arah kota dan menghancurkan benteng-benteng dan dinding-dindingnya sehingga menyerahlah Konstantinopel pada tanggal 28 Mei 1453.
Dalam pertempuran itu Kaisar mati terbunuh, dan Konstantinopel  jatuh ke tangan Usmani.  Sultan Muhammad II memasuki kota, kemudian mengganti nama Konstantinopel menjadi Istambul, dan menjadikannya sebagai Ibukota.
3. Peradaban Islam di Turki
Sejak masa Usman bin Artaghol (1299-1326 M), yang dianggap pembina pertama Kerajaaan Turki Usmani ini dengan nama imperium Ottoman, timbullah kemajuan dalam berbagai bidang agama Islam.Turki juga membawa pengaruh yang cukup baik dalam bidang ekspansi agama Islam di Eropa. Kemajuan lainnya antara lain dalam bidang militer, dan pemerintahan, bidang ilmu pegetahuan dan budaya, serta dalam bidang keagamaan.
a.      Bidang Pemerintahan dan Militer
Kerajaan Usmani sehingga mencapai masa keemasannya itu, bukan semata-mata karena keunggulan keberhasilan ekspansi itu. Tetapi yang terpenting diantaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan, dan kekuatan militernya yang sanggup bertempur kapan saja.
Kemajuan dalam bidang kemiliteran  dan pemerintahan ini membawa Dinasti Turki Usmani mampu membawa Turki Usmani menjadi sebuah negara yang cukup disegani pada masa kejayaannya.
b.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Peradaban Turki Usmani merupakan perpaduan bermacam-macam peradaban, di antaranya adalah peradaban Persia, Bizantium, dan Arab. Dari peradaban Persia, mereka mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Sedangkan ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, kemasyarakatan dan keilmuwan mereka terima dari orang-orang Turki Usmani  yang dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah  brasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan dari luar.
c.       Bidang Kebudayaan
Dalam bidang kebudayaan Turki Usmani banyak muncul tokoh-tokoh penting seperti yang terlihat pada abad ke-16, 17, dan 18.
Antara lain abad ke-17, muncul penyair yang terkenal yaitu Nafi’ (1532-1636 M). Nafi’ bekerja untuk Murad Pasya dengan menghasilkan karya-karya sastra Kaside yang mendapat tempat di hati para Sultan.
Dalam hal pembangunan dan arsitek, Turki Usmani telah menghasilkan keindahan-keindahan yang tinggi nilainya, dan bercorak khusus sehingga membedakan dengan peradaban dan kebudayaan daulah Islam lainnya.
d.      Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam sosial politik. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syari’at sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku
4. Kemunduran Turki usmani
Menurut Badri yatim, M.A. bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kerajaan turki usmani mengalami kemunduran adalah sebagai berikut.
1.      Wilayah kekuasaaan yang sangat luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang sangat luas wilayahnya sangan rumit dan komlpeks, sementara administrasi pemerintahan kerjaraan usmani tidak beres. Dipihak lain para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah-wilayah yang sangat luas,sehingga mereka terlibat perang terus-menerus dengan berbagai bangsa.
2.      Heteroginitas penduduk
Sebagai kerjaan besar,Turki usmani menguasai wilayah yang sangat luas didiami oleh penduduk yang beragam, baik dari segi agama, ras dan etnis maupun adat istiadat,untuk mengatur penduduk yang beragam  dan terbesar diwilayahnya yang luas itu diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur.
3.      Kelemahan para penguasa
Sepeninggal sultan Al-Qanuni, kerajaan usmani diperintaholeh sutan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadiaanya maupun dalam kepemimpinanya.

4.      Budaya korupsi
Korupsi merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam kerajaan usmani, setiap jabatan yang hendak diraih oleh dseseorang harus “dibayar” dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut.
5.      Pemberontakan tentara Yenisseri
Kemajuan ekspansi kerajaan usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara Yenisseri. Pemberontakan tentara Yenisseri terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M dan 1826 M.
6.      Merosotnya perekonomian
Akibat perang yang tidak pernah berhenti, perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang, sementara belanja Negara sangat besar, termasuk untuk biaya perang
7.      Terjadi stagnasi dalam lapangan ilmu dan tekhnologi.
Kerajaan usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pemgembangan kekuatan militer, sehingga kerajaan in tidak sanggup menghadapi persejataan musuh dari eropa yang lebih maju.[2]

B. Kerajaan safawiyah
1. Asal-usul Dinasti safawiyah
Dinasti Safawiyah berkuasa antara tahun 1502-1722 M. Dinasti safawiyah merupakan kerajaan islam di Persia yang cukup besar.Awalnya kerajaan Safawiyah berasal dari sebuah gerakan Tarekat yang berdiri di Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan.Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, di dirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya kerajaan Usmani.
Nama Safawiyah, diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din (1252-1334 M) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan kerajaan. Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M. pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang ingkar, kemudian memerangi golongan yang mereka sebut “ahli-ahli bid’ah”. Tarekat yang dipimpin Safi Al-Din ini semakin penting, terutama setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri di luar Ardabil Safi Al-Din menempatkan seorang wakil yang memimpin murid-muridnya. Wakil itu diberi gelar “khalifah”  kerajaan ini mengatakan syi’ah sebagai madzhab Negara.[3]
Suatu ajaran agama yang dipegang secara fanatik biasanya kerap kali menimbulkan keinginan di kalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa. Karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan, dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syi’ah.
Kecenderungan memasuki dunia politik itu mendapat wujud kontretnya pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Dinasti Safawi memperluas geraknya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan kegiatan ini menimbulkan konflik antara Juneid dengan penguasa Kara Koyunlu (domba hitam), salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu. Dalam konflik tersebut, Juneid kalah dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat itu baru ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK-Koyunlu (domba putih), juga satu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian besar Persia.
 Selama dalam pengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia malah dapat menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Sircassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut.
Ketika itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Karena itu, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salah seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini lahirlah Ismail yang di kemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia.
Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu di Sharur, dekat Nakhehivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Koyunlu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota ini Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja pertama dinasti SafawiI.ia disebut juga Ismail I.
Ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya, seperti ke Turki Usmani. Namun Ismail bukan hanya menghadapi musuh yang sangat kuat, tetapi juga sangat membenci golongan Syi’ah yaitu Suktan salim I dari turki.
 Rasa permusuhan dengan kerajaan Usmani yang berbeda aliran agama ini terus berlangsung sepeninggal Ismail. Peperangan-peperangan antara dua kerajaan besar Islam ini terjadi beberapa kali pada zaman pemerintahan Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), dan Muhammad Khudabanda (1577-1587 M). Pada masa tiga raja tersebut, kerajaan Safawi dalam keadaan lemah.

2. Kemajuan Peradaban Dinasti safawiyah
Syah abbas I adalah raja yang dianggap paling berjasa membawa kemajuan kerajaan safawi, usaha-usaha yang dilakukannya adalah sebagai berikut :
1.    Mengganti pasukan qizilbash dengan pasukan baru dari kalangan budak berasal dari tawaran perang yang berkebangsaan Georgia,Armenia dan Sircassia.
2.    Mengadakan perjanjian damai dengan turki usmani pada tahun 1589
3.    Mengadakaan hubungan dengan dua penasehat militer inggris untuk belajar membuat meriam.          
Kemajuan yang dicapai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik. Di bidang yang lain, kerajaan ini juga mengalami banyak kemajuan. Kemajuan-kemajuannya antara lain adalah sebagai berikut:
a. Bidang Ekonomi
Stabilitas politik kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun di ubah menjadi Bandar Abbas.Kerjaan safawi mengalami kemajuan dalam sektor pertanian dan perdagangan.
b. Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut.
c. Bidang Arsitektur
Para penguasa kerajaan ini telah berhasil mencipatakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di kota tersebut, berdiri bangunan-bangunan besar lagi indah seperti masjid-masjid, rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa di atas Zende Rud, dan istana Chihil Sutun, kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang di tata secara apik. Dan tercatat terdapat 162 mesjid, 48 akademi, 1802 penginapan, dan 273 pemandian umum.
Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada mesjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan mesjid Syaikh Lutf Allah yang dibangun tahun 1603 M.
d. Bidang kesenian
Kerajaan safawi mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang seni,antara lain dalam bidang kerajianan tangan, keramik,karpet,permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar,dan benda seni lainnya.



e. Bidang Tarekat
Kemajuan dibidang sufistik cukup maju bahkan gerakan tarekat pada masa ini tidak hanya berfikir dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam bidang politik dan pemerintahan.
3.      Sebab-sebab kemunduran dan kehancuran kerajaan Safawi
Seiring dengan perjalanan waktu, kerajaan Safawi, lama kelamaan mengalami masa- masa kemunduran, yang disebabkan antara lain:
a. Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Utsmani. Berdirinya kerajaan Safawi yang bermadzhab Syi'ah merupakan ancaman bagi kerajaan Utsmani, sehingga tidak pernah ada perdamaian antara dua kerajaan besar ini.
b. Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan Safawi. Raja Sulaiman yang pecandu narkotik dan menyenangi kehidupan malam selama tujuh tahun tidak pernah sekalipun ssmenyempatkan diri menangani pemerintahan, begitu pula dengan sultan Husein.
c. Pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I ternyata tidak memiliki semangat perjuangan yang tinggi seperti semangat Qizilbash . Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki ketahanan mental karena tidak dipersiapkan secara terlatih dan tidak memiliki bekal rohani. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Safawi.
d. Sering terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana. Krisis abad 18 mengantarkan kepada berakhirnya sejarah Iran pramodern. Hampir diseluruh wilayah muslim, periode pramodern yang berakhir dengan Intervensi, penaklukan bangsa Eropa, dan dengan pembentukan beberapa rezim kolonial, maka dalam hal ini konsolidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa Eropa telah didahului dengan kehancuran Inperium Safawiyah dan dengan liberalisasi ulama. Demikianlah, Rezim safawiyah telah meninggalkan warisan kepada Iran modern berupa tradisi Persia perihal sistem kerajaan yang agung, yakni sebuah rezim yang dibangun berdasarkan kekuatan uymaq atau unsure unsur kesukuan yang utama, dan mewariskan sebuah kewenangan keagamaan syiah yang kohesif, monolitik dan mandiri.[4]

C. DINASTI  MUGHAL.
1. Asal-usul Dinasti Mughal
Dinasti mughol didirikan oleh Babur Zainuddin Muhammad Babur (1482-1530 M). merupakan seorang sekutu ismail.[5] Kerajaan mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan delhi. Sejak islam masuk ke India pada masa Bani Umayyah, yakni pada masa khalifah al-Walid (705-715) maka peradaban Islam mulai tumbuh dan menyebar di anak benua India.
Dinasti mughal bukanlah kerajaan islam pertama di India, karena sebelun itu ada beberapa dinasti kecil yang menguasai negeri India ini, seperti Dinasti Khalji (1296-1316), Dinasti Tuglag (1320-1412), Dinasti Sayyid (1414-1451), dan Dinasti Lodi (1451-1526). Dalam periodesasi sejarah Islam Dinasti ini dikenal sebagai masa kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecermelangan pada masa Dinasti Abbasiyah.
Dinasti Mughal didirikan oleh Zaharuddin Babur, seorang keturunan Timur Lenk. Ayahnya bernama Umar Mirza adalah penguasa Farghana, sedang ibunya keturunan Jenghis Khan.[6]
Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekad akan menaklukan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia pada masa itu. Pada mulanya ia mengalami kekalahan ttapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi Ismail 1, akhirnya ia berhasil  menaklukan Samarkand tahun 1494 M.
Zaharuddin Babur mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Lodi yang dipimpin oleh Ibrahim Lodi yang tengah berkuasa di India. India saat itu tengah dilanda krisis sehingga stabilitas kekuasaan menjadi kacau. Alam Khan paman Ibrahim Lodi besama-sama Daulat Khan meminta bantuan Babur di Afghanistan untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lodi.
Pada tahun 1525 dalam pertempuran di Panipat Babur berhasil memperoleh kemenangan dari tangan Ibahim Lodi.  Babur bersama pasukanya memasuki kota Delhi untuk menegakkan pemerintahan di kota ini. Dengan ditegakkanya pemerintahan Babur, maka berdirilah Dinasti Mughal di India pada tahun 1526 M.
Kerajaan mughal mencapai puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Akbar, generasi sesudah Akbar yaitu Janaghir, Syah Jahan, Aurangzeb masih dapat mempertahankan kejayaan tersebut. namun Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak dapat mengatasi kemerosotan politik dalam negeri.
Selama masa pemerintahan Dinasti Mughal dipimpin oleh beberapa orang raja. Raja-raja yang pernah memerintah adalah Zaharuddin Babur (1526-1530), Humayun (1530-1556), Akbar (1556-1605), Jahangir (1605-1627), Syah Jahan (1627-1658), Aurangzeb (1658-1707), Bahadur Syah (1707-1712), Jehandar (1712-1713), Fahrukhsiyar (1713-1719), Muhammad Syah (1719-1748), Ahmad Syah (1748-1754), Alamghir II (1754-1760), Syah Alam (1760-1806), Akbar II (1806-1837), Bahadur Syah (1837-1858).
2.  Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal     
Bidang Politik dan Administrasi Pemerintahan
Ø  Perluasan wilayah dan konsolidasi pemerintahan. Usaha ini hingga masa pemerintahan Aurangzeb.
Ø  Pada masa Akbar terbentuk landasan institusional dan geografis bagi kekuatan imperiumnya yang dijalankan oleh elite militer dan politik yang pada umumnya terdiri dari pembesar-pembesar Afghan, Iran, Turki, dan Muslim asli India.
Ø  Akbar menerapkan politik unuversal. Dengan politik ini semua rakyat India dipandang sama.
Ø  Wilayah imperium dibagi menjadi sejumlah propinsi, guna untuk memudahkan pengumpulan pajak.
Bidang Ekonomi
Ø  Terbentuknya sistem pemberian pinjaman bagi usaha pertanian.
Ø  Adanya sistem pemerintahan lokal yang digunakan untuk mengumpulkan hasil pertanian dan melindungi petani.
Ø  Perdagangan dan pengolahan isdustri pertanian mulai berkembang. Pada masa Akbar konsesi perdagangan diberikan kepada The British East Company (EIC) perusahaan Inggris.
Bidang Agama
Ø  Pada masa Akbar, ia membentuk konsep Din-i-Ilahi. Namun dalam prakteknya bukanlah sebuah ajaran tentang Agama Islam tetapi adalah sebuah usaha Akbar untuk mempersatukan umat-umat beragama di India. Sehingga Akbar mendapat kritik dari berbagai lapisan umat Islam.
Ø  Perbedaan kasta di India membawa keuntungan terhadap pengembangan Islam, orang-orang India berbondong-bondong masuk Islam, terutama dari
Ø  Sebelum dinasti Mughal, muslim India adalah penganut sunny fanatik. Tetapi penguasa Mughal memberi tempat bagi Syi’ah untuk memgembangkan pengaruhnya.
Ø  Pada masa Aurangzeb disusun sebuah risalah hukum Islam atau upaya kondifikasi hukum islam yang diberi nama fattawa alamgiri. Ajaran ini dimaksudkan untuk meluruskan syari’at Islam yang nyaris kacau akibat politik sulakhul Din-i-Ilahi.
Bidang Seni dan Budaya
Ø  Munculnya beberapa karya sastra tinggi seperti padmavat yang mengandung pesan kebajikan manusia .
Ø  Taj mahal di agra merupakan puncak arsitektur dimasanya, istana Fatpur sikri dan masjid raya Delhi di Lahore adalah beberapa contoh dari bidang arsitektur, dan masih banyak lagi yang lainya.
Ø  Taman-taman kreasi Mughal menonjolkan gaya campuran yang harmonis antara asia tengah, persia, Timut tengah, dan lokal.
Sebab-sebab kemajuan Dinasti Mughal.
Ø Dinasti Mughal memiliki pemerintahan dan raja yang kuat.
Ø Hingga masa pemerintahan Aurangzeb rakyat cukup puas dan sejahtera dengan pola kepemimpinan raja dan program kesejahteraan.
Ø Prajurit Mughal dikenal sebagai prajurit yang tangguh dan memiliki patriotisme yang tinggi.
Ø Sultan yang memerintah sangat mencintai ilmu pengetahuan.


3.    Kemunduran Kerajaan Mughal
            Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjutnya Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Pada masa kepemimpinan raja Bahadur Syah tahun 1858 kerajaan ini mulai mengalami kemerosotan. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India Tengah, Sikh di belahan utara dan islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam.
            Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal itu mundur pada satu setengah abad terakhir dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858, yaitu:
1.      Kurang tegasnya raja  yang memimpin kerajaan Mughal.
2.      Terjadinya stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer baik untuk angkatan darat maupun angkatan laut.
3.      Adanya kemerosotan moral dan kehiupan yang mewah di kalangan elit politik.
4.      Kepemimpinan Aurangzeb yang terlalu kasar sehingga konflik antar agama sangat sukar dasi oleh raja-raja sesudahnya.
5.      Semua pewaris tahta kerajaan pada masa akhirnya adalah orang yang lemah pada bidang kepemipinan. [7]











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kerajaan Islam sebagai kekuatan baru Islam yaitu kerajaan Safawiyah di Persia, Turki Usmani di Turki dan Mughol di India.
Dinasti Safawiyah berkuasa antara tahun 1502-1722 M. Dinasti safawiyah merupakan kerajaan islam di Persia yang cukup besar.kemajuan yang dicapai adalah,  Bidang Ekonomi, Bidang Ilmu Pengetahuan, Bidang Arsitektur, Bidang kesenian,Bidang Tarekat
Dinati turki usmani merupakan kerajaan islam yang berkuasa cukup lama, hampir 7 abad. Didirikan oleh usmani I putra Ertoghul bangsa turki dari Kabilah Oghus. Mengalami kemajuan diberbagai bidang diantaranya dibidang perluasan wilayah, kemiliteran, pemerintahan  ilmu pengetahuan, kebudayaan dan arsitek bangunan.
Dinasti Kerajaan Mughal didirikan oleh Zainuddin Muhammad Babur (1482-1530 M). Dinasti ini mengalami kemajuan diberbagai bidang diataranya adalah dalam bidang politik dan administrasi pemerintahan, ekonomi, agama dan bidang seni budaya.
















DAFTAR PUSTAKA

Amin , Samsul munir .2010 sejarah peradaban islam.jakarta: Amzah
Armstrong,Karen.2003.Sejarah Singkat Islam.Yogyakarta: Jendela.
K. Ali. Sejarah Islam (Tarikh Pra modern).Jakarta; PT Raja Grafindo Persada
Lupidus , Ira M. .1999.  Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo          
Persada
Yatim, Badri. .2011. sejarah peradaban islam.jakarta :raja grafindo pesada


[1] Drs. samsul munir amin,sejarah peradaban islam(jakarta: Amzah,2010)hlm.194.
[2].ibid.samsul munir amin hlm 208-209.
[3] .Ibid. samsul munir amin hlm 187-288.
[4] Lupidus , Ira M, Sejarah Sosial Ummat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1999, h. 147

[5] Karen amstrong,sejarah singkat islam ( yogjakarta: Jendela,2003) cet 4,hlm 145
[6] Prof. K. Ali, Sejarah Islam (Tarikh Pra modern), (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada). Hlm. 529
[7] Dr.Badri yatim,sejarah peradaban islam.(jakarta :raja grafindo pesada 2011)hlm 163.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar