Laman

Sabtu, 21 Februari 2015

G-2-05: Safeny Kholishoh



MENINGKATKAN FUNGSI MASJID SEBAGAI PUSAT ILMU
Mata kuliah               : Hadits Tarbawi II
 Oleh:
Saveny Kholishoh      ( 2021112196 )
Kelas G



TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
 (STAIN) PEKALONGAN
 2015









PENDAHULUAN

Masjid merupakan tempat ibadah umat islam dan juga merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada sejak nabi. Disamping sebagai tempat ibadah, Ia mempunyai peranan sangat penting bagi masyarakat muslim sejak awal sampai sekarang.
Masjid berfungsi sebagi tempat bersosialisasi, pendidikan, istirahat dan lain sebaginya. Tetapi yang lebih penting adalah sebagai tempat ibadah.
Dalam perjalanan waktu hingga sekarang lambat laun mulai berubah yang tadinya masjid sebagi sentral agama islam sekarang masjid hanya menjadi tempat ibadah saja bahkan yang sangat ironis lagi masjid dibangun dengan megah hanya untuk taman rekreasi belaka.
Dilain sisi bahwa sesungguhnya masjid merupakan benteng terkokoh untuk ketakwaan kepada Allah, tempat menggali ilmu ilmu Allah hingga akhir zaman nanti, memajukan peradaban ilmu pengetahuan. Untuk itu mari kita bahas hadits di makalah ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Amien……






















PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Kata Masjid berasal dari bahasa Arab (المسجد) yang berarti tempat sujud. Secara harfiah didefinisikan sebagai tempat ibadah umat muslim, selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur’an sering dilaksanakan di masjid.
Semenjak berdirinya di zaman Nabi Muhammad SAW masjid telah menjadi pusat kegiatan dan informasi sebagai masalah kehidupan kaum muslimin. Masjid menjadi tempat bermusyawarah, tempat mengadili perkara, tempat menyampaikan penerapan agama dan informasi-informasi lainya dan tempat menyelenggarakan pendidikan. Kemudian pada masa Khalifah Bani Umayah berkembang fungsinya sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang bersifat keagamaan. Para ulama mengajarkan ilmu di masjid, tetapi majlis khalifah berpindah ke masjid atau ke tempat tersendiri.[1]
B.     Teori Pendukung
Masjid sebagai implikasi dari terbentuknya masyarakat muslim di suatu tempat, maka secara serta merta pula mereka membutuhkan masjid tempat melaksanakan kegiatan ibadah. Fungsi masjid tersebut diperluas  selain sebagai tempat ibadah (shalat) juga tempat pendidikan. Di tempat tersebut dilaksanakan pendidikan untuk orang dewasa dan anak.[2]
C.    Materi Hadits

Hadits tentang meningkatkan fungsi masjid sebagai pusat ilmu

حدثنا بشر بن هلال الصواف . حدثنا داود بن الزبرقان عن بكر بن خنيس عن عبد الرحمنبن زياد عن عبد الله بن يزيد عن عبد الله بن عمرو : قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم ذات يوم من بعض حجره . فدخل المسجد . فإذا هو بحلقتين . إحداهما يقرأون القرآن ويدعون الله والأخرى يتعلمون ويعلمون . فقال النبي صلى الله عليه و سلم :  { كل على خير . هؤلاء يقرأون القرآن ويدعون الله فإن شاء أعطاهم وإن شاء منعهم . وهؤلاء يتعلمون ويعلمون . وإنما بعثت معلما } فجلس معهم ) . (رواه ابن ماجه فى السنن, كتاب المقدمة, باب فضل العلماء و الحث على طلب العلم : 229)

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal ash shawwafi telah menceritakan kepada kami Dawud bin Az Zabirqan dari salah satu kamarnya dan masuk ke dalam masjid lalu beliau menjumpai dua halaqah, salah satunya sedang membaca Al-Qur’an dan berdoa kepada Allah, sedangkan yang lainya melakukan proses belajar mengajar, sementara diriku diutus sebagai pengajar “lalu beliau duduk bersama mereka (HR Ibnu Majah, kitab Muqodimah, Bab keutamaan dalam mencari ilmu)

Mufrodat

Keluar
خَرَجَ
Suatu hari
 ذَاتَ يَوْمٍ
Dari kamarnya
مِنْ بَعْضِ حُجَرِهِ
Kemudian masuk
فَدَخَلَ
Masjid
الْمَسْجِدَ
2 kelopak
بَحَلْقَتَيْنِ
Mereka membaca Al-Qur’an
يَقْرَءُونَ الْقُرْاَنَ
Belajar
يَتَعَلَّمُونَ
Mengajar
وَيُعَلَّمُونَ
Mereka Belajar
يَتَعَلَّمُونَ
Orang yang mengajar
مُعَلَّمَا

Keterangan Hadits
Hadits di atas menerangkan bahwa pada waktu itu Nabi Muhammad SAW keluar dari rumahnya dan pergi ke masjid, dan didalam masjid Nabi Muhammad melihat ada dua majlis atau halaqah yang sedang menjalankan kegiaannya masing-masing.
Halaqoh pertama adalah orang-orang yang sedang membaca Al-Qur’an dan berdo’a kepada Allah sedangkan halaqoh yang kedua adalah orang-orang yang sedang belajar mengajar (KBM), maka beliau berkata kedua halaqoh tersebut adalah perbuatan yang baik. Sesungguhnya membaca Al-Qur’an dan berdo’a kepada Allah SWT itu adakalanya bisa diterima dan juga ditolak oleh Allah SWT. Dan halaqoh belajar  sesungguhnya nabi diutus untuk mengajar bersama mereka.
Sangatlah jelas pada zaman Rasulullah SAW masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga dijadikan sebagai lembaga pendidikan untuk kegiatan belajar mengajar. 
Biografi Rowi (Ibnu Majah)
Nama sebenarnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’i al-Qazwini dari desa Qazwin, Iran. Lahir tahun 209 dan wafat tahun 273. Beliau adalah muhaddits ulung, mufassir dan seorang alim. Beliau memiliki beberapa karya diantaranya adalah Kitabus Sunan, Tafsir dan Tarikh Ibnu Majah.
Ia melakukan perjalanan ke berbagai kota untuk menulis hadits anatara lain Ray, Basrah, Kufah, Baghdad, Syam, Mesir dan Hijaz. Ia menerima hadit dari guru gurunya antara lain Ibn Syaibah, Sahabatnya Malik dan al-Laits. Abu Ya’la berkata,” Ibnu Majah seorang ahli ilmu hadits dan mempunyai banyak kitab”.
Beliau menyusun kitabnya dengan sistematika fikih, yang tersusun atas 32 kitab dan 1500 bab dan jumlah haditsnya sekitar 4.000 hadits. Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi menghitung ada sebanyak 4241 hadits di dalamnya. Sunan Ibnu Majah ini berisikan hadits yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’. Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi mengkritik ada hampir 30 hadits maudhu di dalam Sunan Ibnu Majah walaupun disanggah oleh as-Suyuthi.
Ibnu Katsir berkata,” Ibnu Majah pengarang kitab Sunan, susunannya itu menunjukan keluasan ilmunya dalam bidang Usul dan furu’, kitabnya mengandung 30 Kitab; 150 bab, 4.000 hadits, semuanya baik kecuali sedikit saja”.
Al-Imam al-Bushiri (w. 840) menulis ziadah (tambahan) hadits di dalam Sunan Abu Dawud yang tidak terdapat di dalam kitabul khomsah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasa’i dan Sunan Tirmidzi) sebanyak 1552 hadits di dalam kitabnya Misbah az-Zujajah fi Zawaid Ibni Majah serta menunjukkan derajat shahih, hasan, dhaif maupun maudhu’. Oleh karena itu, penelitian terhadap hadits-hadits di dalamnya amatlah urgen dan penting. Ia wafat pada tahun 273 H. Disalin dari riwayat Ibnu Majah dalam Tarikh Ibnu Katsir 11: 66,67. [3]
D.    Refleksi Hadits
Menurut penulis surau sama dengan masjid yang mempunyai dua fungsi yaitu pertama berfungsi sebagai lembaga pendidikan, di mana pada abad-abad awal Islam tarikat telah muncul sebagai tanggapan atas kebutuhan umum sebagai sarana dan metode pendekatan diri kepada Tuhan. Pelaksanaan pengajaran Islam yang berpusat di surau-surau itu, telah menunjukan adanya interaksi belajar-mengajar yang sangat intensif, meskipun belum melembagakan secara formal. Kedua  berfungsi sebagai lembaga sosial, di mana merupakan pusat para pemuda dalam upaya sosialisasi diri dengan lingkungan.
E.     Aspek Tarbawi
1.      Masjid sebagai pusat pendidikan
2.      Masjid sebagai pusat pengembangan kehidupan sosial
3.      Kita harus mengoptimalkan masjid
4.      Pentingnya ilmu di dalam islam












KESIMPULAN

Masjid menjadi tempat bermusyawarah, tempat mengadili perkara, tempat menyampaikan penerapan agama dan informasi-informasi lainya dan tempat menyelenggarakan pendidikan. Kemudian pada masa Khalifah Bani Umayah berkembang fungsinya sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang bersifat keagamaan. Para ulama mengajarkan ilmu di masjid, tetapi majlis khalifah berpindah ke masjid atau ke tempat tersendiri.
Masjid sebagai implikasi dari terbentuknya masyarakat muslim di suatu tempat, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga dijadikan sebagai lembaga pendidikan untuk kegiatan belajar mengajar. 



















DAFTAR PUSTAKA

Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000)
Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta :Rinika cipta, 2004)
http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/01/biografi-ibnu-majah.html






















PENULIS
Nama : Saveny Kholishoh
Tempat Tanggal Lahir : Brebes, 17 Agustus 1993
Alamat Lengkap : Prumnas Griya Ketanggungan Indah RT/RW : 01/03 Ketanggungan Brebes
Hobi : Membaca, Mendengarkan musik
Riwayat Pendidikan : TK Muslimat
                                    SD Pejagan 01
                                    MTs N Ketanggungan
                                    MAN Brebes 01
                                    Sekarang sedang berjuang di STAIN Pekalongan

Description: IMG-20150221-00726.jpg


[1] Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), hlm. 99
[2] Haidar Putra Daulay, Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara, (Jakarta :Rinika cipta, 2004),
[3] http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/01/biografi-ibnu-majah.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar