Laman

Minggu, 22 Maret 2015

E-6-b: Naelatuz Zulfa

Makhluk Metafisik: 
 "Malaikat"
Mata Kuliah        : Hadis Tarbawi

Disusun oleh:
Nailatus Zulfa    (202 111 3243)
PAI -E

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2015




KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
 
     Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul ”” ini dapat di selesaikan. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.
    Makalah ini merupakan materi yang disajikan sebagai pengetahuan kita tentang apa saja batas-batas serta tanggungjawab pendidikan didalam ilmu pendidikan. Dengan adanya makalah ini semoga bisa menambah wawasan bagi pembacanya.
    Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya, makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini, meskipun di dunia ini tidak ada yang sempurna dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Amin ya rabbalalamin.




    Pekalongan,  10 Maret  2015


    Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Malaikat merupakan makhluk halus, tercipta dari cahaya, nur, tidak dapat di tangkap oleh panca indra dan tidak berbentuk fisik,
    Makhluk metafisika bisa disebut dengan istilah alam ghoib yang tidak bisa dirasakan oleh seluruh panca indera dan tidak bisa dinalar oleh rasio ( akal ) manusia, karena metafisika merupakan sebuah kekuatan yang terletak pada kekuatan mental, akal pikiran, hati, dan jiwa manusia.
    Dan dalam makalah ini akan membahas tentang hadis yang berkaitan dengan makhluk metafisik
pembehasan yang lebih lanjut akan dibahas pada rumusan masalah.
Rumusan Masalah
Berdasarkan judul diatas perlu kiranya adanya perumusan masalah guna terfokusnya kajian pada makalah ini.
Apa Pengertian malaikat?
Bagaimana Teori Pendukung ?
Materi Hadits (Sesuai Pembagian)
Bagaimana Refleksi Hadits dalam Kehidupan ?
Apa sajakah Aspek Tarbawi dari materi hadis?

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Malaikat
Malaikat merupakan makhluk halus, tercipta dari cahaya, nur, tidak dapat di tangkap oleh panca indra dan tidak berbentuk fisik. Walaupun demikian allah SWT memberikan kemampuan dapat menapakan diri dalam bentuk fisik yang dapat dilihat ini dimakzut untuk melaksanakan tugas tertentu contoh: datang sebagai tamu nabi Ibrahin As yang terhormat.
    Makhluk makhluk ini tidak makan dan minum, tidak kawin dan juga tidak berketurunan. Mereka juga tidak mempunyai jenis kelamin lelaki ataupun perempuan. Mereka memang diciptakan oleh Allah SWT untuk taat beribadah kepada-Nyadari mereka terpancar dzikir dan ibadah, sebagai halnya nafas dari seseorang manusia. Mereka tidak di bebani kewajiban seperti halnya manusia.
Teori Pendukung
Tempat-tempat yang Sering Didatangi Malaikat Ada malaikat yang berkeliling di penjuru bumi mencari majelis-majelis dzikir, dan jika mereka menemukan majelis dzikir mereka berkata: “Bersegeralah kepada hajatmu.” Ada beberapa cara berdzikir kepada Allah  di antaranya adalah:
1. Bacaan Al-Qur’an. Orang yang membaca Al-Qur’an berdzikir kepada Allah.
2. Orang yang shalat berdzikir kepada Allah.
3. Orang yang bertasbih, beristighfar, bertakbir dan bertahlil berdzikir kepada Allah. Para malaikat berkumpul di dekatnya dan syaithan menjauh daripadanya.
4. Orang-orang yang mempelajari buku-buku ilmu dan duduk di dalam halaqah untuk mempelajari agamanya – mereka berdzikir kepada Allah, dan para malaikat berkumpul di dekat mereka.

MALAIKAT juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, hanya saja ia dibuat dari unsur yang berbeda. Seperti layaknya manusia, malaikat pun diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Malaikat ada hanya untuk mengabdi kepada Allah. Tak pernah sekali pun malaikat menentang apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dan malaikat pun tak pernah melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Untuk selalu mengingat Allah, maka jalan terbaik untuk kita sebagai hamba Allah ialah dengan berdzikir. Ternyata, bukan hanya manusia yang berdzikir kepada Allah SWT, malaikat pun ikut berdzikir, mengagungkan Allah SWT. Di saat kita sedang berdzikir, malaikat senantiasa berada di samping kita, dan ikut berdzikir bersama kita.
Ketika kita mengunjungi majlis ilmu untuk mengagungkan Allah SWT dengan berdzikir, malaikat juga ada di sana. Malaikat menemani kita yang sedang berdzikir, mengingat Allah. Bahkan, Rasulullah SAW pernah berkata bahwa malaikat akan senantiasa di samping orang yang mengingat Allah senantiasa mendoakan orang tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap manusia yang berkumpul di majlis ilmu dengan senantiasa berdzikir kepada Allah, malaikat akan menyertainya. Para malaikat yang menyertai berdzikir kepada, ‘Berdirilah kalian wahai hamba Allah, sungguh Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah ganti keadaan kalian’.”
Subhanallah, itulah doa dari malaikat bagi orang-orang yang berdzikir kepada Allah. Malaikat melakukan dzikir setiap waktu atau pun setiap saat. Kita sebagai makhluk yang tak luput dari dosa, juga seharusnya harus lebih semangat lagi untuk berdzikir kepada Allah. Maka, mari tumbuhkan cinta terhadap dzikir.


Materi Hadis
عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: { إن لله تبارك وتعالى ملا ئكة سيارة فضلا يتتبعون مجالس الذكر فإذا وجدوا مجلسا فيه ذكرقعدوا معهم وحف بعضهم بعضا بأجنحتهم حتى يملئوا ما بينهم وبين السماء الدنيا فإذا تفرقوا عرجوا وصعدوا إلى السماء قال فيسألهم الله عز و جل وهو أعلم بهم من أين جئتم فيقولون جئنا من عند عباد لك فى الأرض يسبحونك ويكبرونك ويهللونك ويحمدونك ويسئلونك. قال وما ذا يسألونى قالوا يسألونك جنتك قال وهل رأوا جنتى قالوا لا أي رب قال فكيف لو رأوا جنتي قالوا ويستجيرونك قال مم يستجيرونني قالوا من نارك يارب قال وهل رأوا ناري قالوا لا قال فكيف لو رأوا ناري قالوا ويستغفرونك قال فيقول قدغفرت لهم فأعطيتهم ما سألوا وأجرتهم مما استجاروا قال فيقولون رب فيهم فلان عبد خطاء إنما مر فجلس معهم قال فيقول وله غقرت هم القوم لا يشقى بهم جليسهم }.   (رواه مسلم فى الصحيح، كتاب الذكر والدعاء والتوبة والإستغفار، باب فضل مجالس الذكر)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, daru nabi SAW : beliau bersabda, “sesungguhnya Allah Tabaraka wata’ala mempunyai malaikat-malaikat yang bertugas berkeliling mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka telah mendapatkan suatu majlis zikir, malaikat-malaikat duduk bersama mereka dan menaungi sama lainya dengan sayap- sayap mereka sampai memenuhi ruang antara mereka dengan langit dunia ini. Setelah majelis itu bubar, malaikat-malaikat itu kembali lagi naik keatas langit.”Sabda beliau,’’lalu Allah bertanya kepada malaikat-malaikat itu, sedangkan Dia lebih mengetahui dari pada mereka, ‘Dari manakah kalian datang?’ mereka menjawab, ‘kami datang dari majelis hamba-hamba Engkau dibumi, yang bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid,dan memohon kepada Engkau. Tanya Allah, ‘Mereka memohon apa kepada-Ku?’ Jawab malaikat, ‘Mereka memohon surga kepada Engkau.’ Tanya Allah, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’ Jawab malaikat, ‘Belum, wahai Tuhanku.’ Allah berfirman, ‘Bagaimanakah kiranya kalau mereka telah surga-K
u?’ Malaikat itu berkata lagi, ‘Mereka memohon perlindungan kepada Engkau.’Tanya Allah, ’Dari apakah mereka memohon perlindungan kepada-Ku?’ Jawab mereka, ‘Mereka memohon perlindungan-Mu dari api neraka-Mu wahai Tuhanku, ‘Tanya Allah, ’Apakah mereka telah melihat api neraka-Ku?’ Jawab malaikat, ’Belum. ’Tanya Allah, ’Bagaimanakah kiranya kalau mereka telah melihat api neraka-Ku?’ Malaikat itu berkata lagi, ’Mereka juga memohon ampunan kepada Engkau.’ Firman Allah, ’Aku telah mengampuni mereka, Aku telah memberi mereka apa yang mereka minta, dan Aku telah melindungi mereka dari api neraka,” Sabda beliau,” Kemudian malaikat-malaikat berkata, ‘Wahai Tuhanku, didalam majelis itu ada si fulan, yaitu seorang hamba yang penuh dosa. Dia hanya lewat, lalu bertemu dengan majelis dzikir itu, kemudian dia duduk bersama mereka.” Sabda beliau, “Lalu Allah berfirman,’Aku telah mengampuni dosanya, mereka adalah orang-orang yang teman duduk mereka itu tidak akan ada yang celaka.” (HR. Muslim)
C.   Mufrodat (kata-kata penting)
يَتَبَّعُونَ : mencari                                                    وَيَسْتَجِيرُونَكَ : memohon perlindungan-Mu
  قَعَدُوا : duduk                                                              وَصَعِدُوا : naik
  وَحَفَّ : menaungi                                                        فَأَعْطَيْتُهُمْ : memberikan kepada mereka
بِأَجْنِحَتِهِمْ : dengan sayap-sayap mereka                       تُهُمْ وَأَجَرْ  : melindungi
    يَمْلَئُوا : memenuhi                                                         خَطَّاءٌ : penuh dosa
   تَفَرَّقُوا : bubar                                                              يَشْقَى لاَ : tidak akan ada yang celaka      
 اعَرَجُو: kembali                                

                                                    
E.   Keterangan Hadis
          Yang dimaksud majlis-majlis dzikir-dzikir adalah yang mencangkup dzikir kepada Allah dengan berbagai macam dzikir, yaitu berupa tasbih, takbir dan sebagainya, dan juga membaca kitab Allah, serta berdoa memohon kebaikan dunia dan akhirat. Adapun tentang cakupannya terhadap membaca hadits, mengkaji ilmu syar’i dan menghafalkannya, serta berkumpul untuk melaksanakan shalat nafilah, ini perlu diteliti, karena yang lebih tepat adalah mengkhususkan majlis-majlis itu dengan tasbih, takbir, dan serupanya serta membaca Al Quran, walaupun membaca hadits, mengkaji dan mendalami ilmu syar’i juga termasuk kategori yang disebut dzikir kepada Allah.
            Yang dimaksud dengan dzikir disini adalah mengucapkan kalimat-kalimat yang dianjurkan dan memperbanyaknya. Dzikir kepada Allah juga berarti menjaga pelaksanaan amalan yang diwajibkan atau dianjurkan, seperti membaca Al Quran, membaca hadits, mengkaji ilmu, shalat sunnah.
            Dzikir kadang dilakukan dengan lisan, dan yang mengucapkannya mendapat pahala. Dalam hal ini tidak disyaratkan menghadirkan maknanya, tapi disyaratkan agar tidak memaksudkan selain maknanya. Bila dzikir disertai dengan hati, maka akan lebih sempurna dan bila ditambah lagi dengan menghadirkan maknanya beserta semua yang terkandung didalamnya berupa pengagungan Allah dan penafian segala kekurangan dari-Nya, maka akan lebih sempurna lagi. Jika dzikir itu dilakukan ketika sedang melakukan amal shalih, sekalipun amal shalih itu diwajibkan, yaitu berupa shalat, jihad dan sebagainya, maka akan lebih sempurna lagi. Jika hal itu dilakukan dengan benar-benar dan ikhlas karena Allah, maka itulah kesempurnaannya yang tertinggi.
            Seorang ahli ma’rifah mengatakan,”Dzikir ada tujuh macam: Dzikir kedua mata adalah dengan menangis, dzikir kedua telinga adalah dengan mendengarkan secara seksama, dzikir lisan adalah dengan pujian, dzikir kedua tangan adalah dengan memberi, dzikir badan adalah dengan memenuhi janji, dzikir hati adalah dengan takut dan cemas dan dzikir ruh adalah dengan kepasrahan dan kerelaan.
Refleksi Hadits dalam Kehidupan
Dalam majelis dzikir akan turun rahmah, diliputi majelis itu dengan sakinah/ketenangan dan ketentraman, para malaikat mengelilinginya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji-muji orang yang hadir di majelis tersebut di hadapan para malaikat-Nya.
Orang-orang yang hadir di majelis dzikir adalah suatu kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka. Bahkan terkadang seorang pendosa yang duduk bersama mereka dirahmati karenanya. Terkadang di antara yang hadir ada yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ahlul majelis seluruhnya beroleh anugerah.
Majelis dzikir adalah Taman-Taman Surga sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا. قَالُوْا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: مَجْلِسُ الذِّكْرِ
“Apabila kalian melewati Taman-Taman Surga maka singgahlah.”
Para sahabat bertanya, “Apa taman-taman surga itu?” “Majelis dzikir”, jawab beliau.
Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan menghadiri Majelis Dzikir/Ta’lim. Demikian tingginya nilai ta’lim sehingga dikatakan oleh Rasulullah SAW nilainya lebih baik dari shalat sunat 100
Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, seorang ulama salaf mengatakan dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin:
Orang yang duduk menghadiri Majelis Ta’lim, sekalipun tidak dapat mengingat ilmu yang disampaikan, akan meperoleh tujuh kemuliaan:
*Kemuliaanorang yang menuntut ilmu.
*Mengekang kelakuan dosa selama duduk dalam majelis.
*Ketika berangkat menuju majelisnya dilimpahi rahmat Allah
* Akan ikut memperoleh rahmat yang dilimpahkan Allah kepada majelis
* Dituliskan sebagai amal kebajikan sepanjang memperhatikan apa yang dibicarakan
* Diliputi para malaikat dengan sayapnya.
* Setiap langkah ditulis sebagai kebaikan dan sebagai penebus dosa.
. Oleh karena itu dekatilah Majelis Ta’lim, karena tiada majelis yang lebih mulia dari Majelis Ta’lim”
F.    Aspek Tarbawi
1.      Hadits ini menunjukkan keutamaan majlis-majlis dzikir dan orang-orang yang berdzikir.
2.      Hadits ini juga menunjukkan kecintaan para malaikat kepada manusia dan kepedulian mereka terhadap manusia.
3.      Hadits ini juga menujukkan bahwa yang bertanya itu lebih mengetahui daripada yang ditanya, hal ini menunjukkan penghormatan kepada yang ditanya, mengingatkan akan kekuasaan-Nya dan kemuliaan kedudukan-Nya.
4.      Dzikir yang dihasilkan oleh manusia adalah lebih tinggi dan mulia dari dzikir yang dihasilkan oleh para malaikat, karena dzikirnya manusia disertai dengan berbagai kesibukan dan beragam penghambat, namun bisa menembus alam ghaib.
5.      Hadits ini juga menunjukkan kedustaan orang-orang kafir yang mengatakan bahwa dia dapat melihat Allah secara nyata sewaktu di dunia.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa dzikir kepada Allah dalam hadis tersebut adalah dzikir yang sempurna, yaitu dzikir lisan dan hati, serta memikirkan maknanya dan menghadirkan keagungan Allah. Orang yang berdzikir seperti itu lebih utama daripada orang yang memerang orang kafir –misalnya- tanpa berdzikir. Sesungguhnya keutamaan jihad tersebut adalah dengan dzikir lisan. Maka yang dapat memadukan semuanya, yaitu berdzikir kepada Allah dengan lisan, hati dan menghadirkannya dan itu dilakukan dalam shalatnya atau puasanya atau sedekahnya atau saat memerangi orang-orang kafir –misalnya-, maka dialah yang mencapai puncak paling tinggi.
Tidak ada satu amal shalih pun kecuali disyaratkan dzikir untuk keabsahannya. Maka orang yang tidak berdzikir kepada Allah (tidak mengingat Allah) dengan hatinya saat bersedekah atau puasanya –misalnya- maka amalnya tidak sempurna. Dilihat dari segi ini, maka dzikir merupakan amal yang paling utama.













Daftar  Pustaka

Amiruddin dan Amir Hamzah. 2009. Fathul Baari: Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari, Buku 30. Jakarta: Pustaka Azzam.
Djamaludin, Shinqithy dan Mochtar Zoerni. 2002. Ringkasan Shahih Muslim. Bandung: Penerbit Mizan.
https://daarulmajaadzib.wordpress.com/2010/09/21/majlis-talim-dan-dzikir-adalah-taman-surga/(akses:10/03/2015, 09:00)


BIODATA PENULIS



Nama        : Nailatuz Zulfa   
Alamat        : Salakbrojo Kedungwuni Pekalongan
Nim        : 2021113243
No Hp        : 085869097809
Hobbi        : menonton Tv, Membaca,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar