Laman

Rabu, 09 September 2015

spi H 1


SEJARAH PERADABAN ISLAM
MASA PRA ISLAM
MASA NABI MUHAMMAD SAW

Ari K.Ani Jihan F. Nani R.Nina S.

M. Fahri Baihaqi  

Kelas   : H

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat serta kenikmatan kepada kita. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Pada kesempatan ini perkenankan kami menyampaikan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah berjasa dalam penyelesaian makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik, yaitu kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I yang telah membimbing dalam penyusunan makalah ini dan juga kepada teman – teman STAIN Pekalongan mata kuliah Sejarah Peradaban Islam terutama yang telah banyak membantu dalam pembuatan makalah ini. Sehingga makalah kelompok kami dapat selesai tepat pada waktunya. Apabila dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, kami meminta saran dan kritik dari pembaca, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.




Pekalongan, 8 September 2015

                                                                                               
     Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Hadirnya Nabi Muhammad pada masyarakat Arab membuat terjadinya kristalisasi pengalaman baru dalam dimensi ketuhanan yang mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk hukum-hukum yang digunakan pada masa itu.
Sebagian dari nilai dan budaya Arab pra Islam, dalam beberapa hal diubahnya dan ada pula yang diteruskan oleh masyarakat Nabi Muhammad ke dalam tatanan moral Islam.
Islam sangat berperan penting dalam menciptakan peradaban yang luar biasa yang tercipta pada masa zaman Nabi Muhammad SAW.

B.       Rumusan Masalah
1.    Bagaimana peradaban Romawi Timur?
2.    Bagaimana peradaban Persia?
3.    Bagaimana peradaban Arab Jahiliyah?
4.    Bagaimana peradaban Makah?
5.    Bagaimana perdaban Madinah?
6.    Bagaimana peperangan dalam Islam?
7.    Bagaimana misi dakwah Nabi Muhammad?
8.    Bagaimana masa terakhir Nabi Muhammad?







BAB II
PEMBAHASAN

A.      Peradaban Romawi Timur
Kerajaan Romawi didirikan pada tahun 753 sebelum Masehi, dengan ibu kotanya Roma, dan usianya lebih sepuluh abad. Bulan Mei 30 M terjadi perpecahan dalam Kerajaan Romawi yang berpusat di Roma, yaitu pecah menjadi dua kerjaan; Kerajaan Romawi Barat (Roma) dan Kerajaan Romawi Timur, dengan ibu kota Konstatinopel, dan Konstantinus Agung (Kaisar Constantin) sebagai Maharajanya.
Kerajaan Romawi mengalami puncak kejayaan pada masa Maharaja Yustianus I (527-565), dan pada zamannya pula terjadi peperangan seru dengan kerajaan Persia Sassanid, dan berakhir dengan “Perjanjian Damai Kekal” yang tidak kekal. Dengan jasa dua orang panglimanya (Belisarius dan Narses) Yustianus berhasil merebut Afrika Utara, Italia, dan lain-lain dari tangan bangsa Vandal dan Got Timur.
a.         Agama
Negeri-negeri yang ada di bawah kekuasaan Kerajaan Romawi Timur pada umumnya beragama Nasrani, yang pada waktu itu terpecah dalam berbagai aliran, yaitu:
1.    Aliran Yaaqibah, banyak dianut di Mesir, Habsyah dan lain-lain
2.    Aliran Nasathirah, banyak dianut di Musil, Irak, dan Persia.
3.    Aliran Mulkaniyah, banyak dianut di Afrika Utara, Sicilia, Syiria dan Spanyol.
b.        Filsafat
Membicarakan masalah “kebudayaan Romawi”, terutama filsafat, kesenian, ilmu pengetahuan dan kesustraan, kita harus membicarakan juga masalah “kebudayaan Yunani”, karena kebudayaan Romawi pada hakikatnya adalah lanjutan dari kebudayaan Yunani.
Jurji Zaidan, membagi kebudayaan Yunani kepada tujuh zaman, yaitu:
1.    Masa Dongeng (mitologi)
2.    Masa Pahlawan (heroik) (900-700 SM)
3.    Masa Lyric (perasaan) (700-500 SM)
4.    Masa Keemasan (500-323 SM)
5.    Masa Iskandary (323-146 SM)
6.    Masa Yunani-Romawi (142 SM-550 M)
7.    Masa Bizantium (550-1453 M)
c.         Bahasa dan Kesenian
Dalam wilayah Kerajaan Romawi Timur, ada tiga bahasa yang berpengaruh, yaitu bahasa Latin, bahasa Greek, dan bahasa Suryani. Dalam bahasa-bahasa inilah ditulis kitab-kitab suci, undang-undang, cerita-cerita, sajak-sajak, dan sebagainya.

B.       Peradaban Persia
Kerajaan Persia merupakan saingan dari Kerajaan Romawi Timur, di mana antara dua kerajaan tersebut terus-menerus terjadi peperangan karena masing-masing ingin merebut daerah kekuasaan dan pengaruh. Pada waktu Yustianus menjadi Maharaja Romawi Timur, Kerajaan Persia berada di bawah Maharaja Anusyarwan (Sasaniah) yang terkenal sangat adil.
Pada hakikatnya, permusuhan antara dua kerajaan tersebut terus berlangsung sehingga keduanya mengalami kemunduran dan kehancuran. Hal tersebut terus berlangsung sampai dengan datangnya agama Islam, di mana akhirnya kedua super power pada waktu itu menyerah kalah kepada kebenaran Islam.
a.         Agama
Masyarakat Persia lama cenderung untuk menyembah berbagai alam nyata, seperti langit biru, cahaya, api, udara, air, dan sebagainya, yang semua makhluk itu mereka pandang sebagai Tuhan.[1]
1)        Zoroaster
-          Masyarakat Persia dan Agama Zoroaster
Persia pada abad ke 5 dan ke 6 M berada di bawah Pemerintahan Dinasti Sasaniah yang didirikan oleh Ardashir I dan berakhir ketika Shashanah (Raja Segala Raja) Sasaniah, Yazdegard III (632-651).
2)      Almanuwiyah
Ajaran-ajaran aliran ini yaitu campuran ajaran agama Zoroaster dan ajaran agama Nashrani.
3)      Mazdak
-          Mazdak dan Ajarannya
Pada awal abad ke 5 pada masa Pemerintahan Qabbadz/Kavadz (488-531 M) di Persia tampil seorang tokoh bernama Mazdak (w. 524 atau 528 M), yang dinilai sangat lihai dan pandai meyakinkan orang.[2]
b.        Bahasa
Pada waktu pemerintah “Dinasti Sassanid” yang menjadi bahasa Persia resmi yaitu bahasa Pahlawi, dan juga menjadi bahasa kitab suci mereka, Avesta. Oleh karena itu, pengaruh kitab agama ini dalam memelihara dan memperkembangkan bahasa Pahlawi besar sekali.
c.         Kesenian
Hasil seni Persia yang paling kuno, yaitu keramik, patung-patung, baerbagai perabot dari perunggu dan lain-lain (5.000-1.000 SM), seni lukis, dan arsitektur (550 SM-1.600 M).[3]

C.      Peradaban Arab Jahiliah
Kata-kata “Arab Jahiliah” sering digunakan, namun kadang pengertian mengenai “Jahiliah” itu salah. Terkadang ada yang mengatakan bahwa yang di maksud dengan “Arab Jahiliah” yaitu bangsa Arab yang bodoh. Pengertian ini jelas tidak tepat. Bahwa orang arab sebelum Islam (orang Arab Jahiliah) tidaklah bodoh, mereka pintar dan cerdas.
Seorang pujangga Arab Syiria, Jarji Zaidan, membagi masa jahiliah kepada dua masa, yaitu:
1.    Arab jahiliah pertama (Al-Arabul Jahiliyatul Ula), yaitu zaman sebelum sejarah sampai abad ke lima masehi.
2.    Arab Jahiliyah kedua (Al-Arabul Jahiliyatus Tsaniyah), yaitu dari abad kelima Miladiah sampai lahirnya Islam.[4]
Jazirah arabia merupakan tempat lahirnya agama Islam dan kemudian menjadi pusat Islam, oleh karena itu perlu dijelaskan mengenai keadaan geografi, penduduk politik, ekonomi, dan sosial, bahkan agama, sebelum lahirnya agama Islam.[5]
Bangsa arab memeluk berbagai agama, bangsa Arab yang memeluk agama Nashrani adalah dari suku-suku Ghassan, kabilah-kabilah Taghlib, Thayyi’ dan yang berdekatan dengan orang Romawi. Sedangkan agama Majusi lebih banyak berkembang di kalangan orang-orang arab yang berdekatan dengan Persia. Agama ini juga pernah berkembang di kalangan orang-orang Arab Iraq dan Bahrin.
Sedangkan agama Shabi’ah menurut beberapa kisah dan catatan berkembang di Iraq dan lainnya, yang dianggap sebagai agama kaum Ibrahim chaldeans.
a.       Kondisi Kehidupan Agama
Itulah agama-agama yang ada pada saat kedatangan Islam. Namun, agama-agama itu sudah banyak disusupi penyimpangan dan hal-hal yang merusak. Orang-orang musyrik yang mengaku berada pada agama Ibrahim, justru keadaannya jauh sama sekali dari perintah dan syariat ajaran Ibrahim.
Sedangkan agama Yahudi berubah menjadi orang-orang yang angkuh dan sombong. Pemimpin-pemimpin mereka menjadi sesembahan selain Allah. Pemimpin-pemimpin inilah yang membuat hukum ditengah manusia dan menghisab mereka menurut kehendak yang terbetik di dalam hatinya.
Sedangkan agama Nashrani menjadi agama peganisme yang sulit dipahami dan menimbulkan pencampuradukan antara Allah dan manusia.
Sedangkan semua agama bangsa Arab, keadaan para pemeluknya sama dengan orang-orang musyrik; hati, kepercayaan, tradisi dan kebiasaan mereka hampir serupa.
b.      Kondisi Politik
Masyarakat Arab jahiliah tidak ada sistem yang mengatur pemindahan kekuasaan dan kepemimpinan. Yang ada hanya tradisi, bahwa yang paling tua usianya, yang terkaya, yang paling banyak anggota keluarganya, dan yang paling layak mendapatkan kehormatan dan kepribadiannya dalam kabilahnya itulah yang terpilih sebagai pemimpin.[6]
c.       Kondisi Sosial
Di kalangan bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat yang kondisinya berbeda satu sama lain. Hubungan seseorang di kalangan bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati, dan dijaga sekalipun harus terjadi peperangan pedang dan darah yang tertumpah. Sedangkan kelas masyarakat lainnya beraneka ragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan wanita.
d.      Kondisi Ekonomi dan Sosial
Kondisi ekonomi mengikuti kondisi sosial, yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa arab jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja kecuali jika sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian. Sementara itu kondisi yang aman seperti ini tidak terwujud di Jazirah Arab, kecuali pada bulan-bulan suci.[7]
Adapun keadaan sosial mereka, terdapat beberapa segi yang baik dan ada pula yang buruk. Segi-segi yang baik, misalnya setia kepada kawan dan setia kepada janji, menghormati tamu, tolong-menolong antara anggota-anggota kabilah. Segi-segi yang buruk, misalnya merendahkan derajat wanita, suka bermusuhan lantaran masalah sepele.[8]

D.    Periode Makkah
1.    Periode Dakwah dengan Cara Rahasia dan Sembunyi-sembunyi
Periode ini berlangsung selama 3 tahun. Orang pertama yang beriman kepadanya dari kalangan dewasa adalah sahabat Abu Bakar, dari kalangan wanita adalah istrinya sendiri Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan budak adalah Zaid bin Haritsah.[9]
Di samping itu, banyak oramg yang masuk Islam dengan perantara Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang lebih dulu masuk Islam), mereka adalah Ustman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam, yang rumahnya dijadikan markas untuk berdakwah (rumah Arqam).[10] Rasulullah bersama kaum mukminin berkumpul di rumah Arqam bin Abi Al-Arqam untuk mengajarkan urusan agama mereka. Sejak saat itu orang Quraisy telah menyatakan permusuhan kepadanya. Namun, Allah melindungi beliau dengan adanya pamannya Abu Thalib.
2.    Dakwah dengan Terang-terangan
Dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW tidaklah mudah, beliau mendapatkan tantangan dari kaum Quraisy. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
a.       Orang-orang Quraisy tidak bisa membedakan antara kenabian, kepemimpinan, dan kekuasaan mereka bahwa agama baru yang dibawa oleh Nabi SAW akan merampas kekuasaan yang ada di tangan mereka.
b.      Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya, dan mereka tidak menerima realita ini.
c.       Mereka mengingkari hari kebangkitan dimana kehidupan akan dikembalikan lagi kepada manusia dan akan diperhitungkan amal yang pernah mereka lakukan.
d.      Mereka selalu melakukan tradisi yang dilakukan oleh para leluhurnya.
e.       Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rejeki.[11]
Kaum Quraisy menghalangi dakwah Nabi dengan ancaman, siksaan, dan pembunuhan. Banyak cara yang digunakan kaum Quraisy untuk menghalangi dakwah Nabi, antara lain dengan ancaman melalui pamannya, Abu Thalib. Kemudian diutuslah Walid bin Mughirah pemuda tampan untuk digantikan dengan Muhammad kemudian ditolak keras oleh Abu Thalib.
Tidak lama kemudian, dalam waktu yang hampir bersamaan, Nabi mengalami kejadian yang menyedihkan yaitu meninggalnya  dua orang yang sangat dicintai dan menjadi tumpuan selama ini. Abu Thalib meninggal dunia dalam usia 87 tahun, dan selang tiga hari, istrinya Khadijah juga meninggal dalam usia 65 tahun. Tahun ini dinamakan tahun “Amul Khusni” yang artinya tahun kesedihan. Peristiwa itu terjadi pada tahun kesepuluh kenabian.
Dalam kondisi yang ditimpa duka yang mendalam, untuk menghibur Nabi, Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam tanggal 27 Rajab tahun 621 M yang dikenal dengan peristiwa Isra’ Mi’rajuntuk diperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran Allah. Pada saat itu, Nabi sedang bermalam di rumah sepupunya, Hindun binti Abi Thalib yang dipanggil Ummu Hani’. Nabi diisra’kan diperjalankan dari Masjidil Haram di Makah ke Masjid Al-Aqsa di Palestina kemudian dimi’rajkan atau dinaikkan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha dan diperlihatkan surga dan neraka serta menghadap ke hadirat Alah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu.[12]
Berita tentang isra’ mi’raj ini menggemparkan masyarakat Mekkah. Bagi orang kafir, peristiwa ini dijadikan propaganda untuk mendustakan Rasulullah, sedangkan bagi orang yang beriman, ini merupakan ujian keimanan. Suatu perkembangan yang besar bagi dakwah Islam setelah kejadian isra’ mi’raj, yaitu dengan datangnya sejumlah penduduk Yatsrib (Madinah) untuk berhaji ke Mekah. Mereka terdiri dari dua suku yang saling bermusuhan, yaitu suku Aus dan suku Khazraj, yang masuk Islam dalam tiga gelombang. Pertama, pada tahun kesepuluh kenabian, mereka datang untuk memeluk agama Islam dan menerapkan ajarannya untuk upaya mendamaikan permusuhan antar kedua suku. Kedua, pada tahun 12 kenabian mereka datang lagi menemui Nabi dan melakukan perjanjian “Aqabah pertama”, yang berisi ikrar kesetiaan. Rombongan ini kembali ke Yatsrib sebagai juru dakwah disertai oleh Mus’ad bin Umair yang diutus oleh Nabi untuk berdakwah bersama mereka. Ketiga pada tahun ke 13 kenabian mereka datang kembali pada Nabi untuk hijrah ke Yatsrib. Nabi pun menyetujui usul dari mereka untuk berhijrah. Perjanjian ini disebut “Aqabah kedua”.
Akhirnya Nabi bersama kurang lebih 150 kaum muslimin hijrah ke Yatsrib. Sebagai penghormatan, Nabi Muhammad SAW. mengubah nama kota itu dengan Madinah a-Munawarah (kota yang bercahaya)

E.       Periode Madinah
Dalam periode ini, pengembangan Islam lebih ditekankan pada dasar-dasar pendidikan masyarakat Islam dan pendidikan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, Nabi kemudian meletakkan dasar-dasar masyarakat Islam di Madinah sebagai berikut.
1.      Mendirikan masjid
2.      Mempersatukan dan mempersaudarakan antara kaum Anshar dan Muhajirin
3.      Perjanjian saling membantu antara sesama kaum muslimin dan bukan muslimin
4.      Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi dan sosial untuk masyarakat baru.
Ketika masyarakat terbentuk maka diperlukan dasar-dasar yang kuat bagi masyarakat yang baru terbentuk tersebut. Oleh karena itu, ayat-ayat Al-qur’an yang diturunkan dalam periode ini terutama ditujukan kepada pemimpin hukum. Ayat-ayat ini kemudian diberi penjelasan oleh Rasulullah, baik dengan lisan maupun dengan perbuatan beliau sehingga terdapadat dua sumber hukum dalam Islam, yaitu Al-qur’an dan Hadist. Dari kedua sumber Islam tersebut didapat suatu sistem untuk bidang politik, yaitu sistem musyawarah. Dan untuk bidang ekonomi dititikberatkan pada jaminan keadilan sosial, serta dalam bidang kemasyarakatan, diletakkan pula dasar-dasar persamaan derajat antara masyarakat atau manusia, dengan penekanan bahwa yang menentukan derajat manusia adalah ketakwaan.[13]
Perlu digarisbawahi, bahwa dalam periode Mekah, dakwah yang dilakukan Nabi ditekankan pada penanaman dasar-dasar keimanan. Hal ini berbeda dengan saat ia berada di Madinah. Di Madinah, Nabi Muhammada menerapkan syari’ah Islam dan pembangunan ekonomi, sebagai dasar kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan pindah ke Madinah, Nabi berhasil meletakkan dasar-dasar kemasyarakatan Islam.[14]

F.       Peperangan dalam Islam
Banyak peperangan yang terjadi sebagai upaya kaum muslimin dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. Di awal pemerintahan, Nabi melakukan ekspedisi ke luar untuk mempertahankan dan melindungi negara yang baru dibentuk. Perjanjian dengan kabilah-kabilah di sekitar Madinah diadakan dengan maksut memperkuat kedudukan negara. Untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh, Nabi membuat siasat dan membentuk pasukan perang. Umat Islam diijinkan perang karena dua alasan:
-          Untuk melindungi diri dan melindungi hak milik
-          Untuk menjaga keselamatan dalam penyebaran kepercayaan dan mempertahankan diri dari penghalang.
Beberapa perang yang pernah terjadi dalam rangka menentukan masa depan negara Islam antara lain:
1.         Perang Badar, 8 Ramadhan 2 H (624 M) di lembah Badar, antara kaum muslimin melawan kaum Quraisy. Karena, kaum Quraisy ingin melenyapkan kaum muslimin. Kaum Quraisy 900-1000 orang, dipimpin oleh Uthbah bin Haris, Hamzah, dan Ali bin Abi Thalib. Pertempuran dimenangkan kaum muslimin.
2.         Perang Uhud, sya’ban 3 H, di kaki gunung Uhud. Karena, kaum Quraisy ingin balas dendam dalam perang Badar. Pasukan Quraisy dipimpin Abu Sufyan dan Khalid bin Walid. Pada awalnya pasukan Islam menang, karena godaan harta perang, pasukan Islam lengah, pasukan Quraisy kemudian menyerang dan kaum muslimin kalah.
3.         Perang Khandaq, Syawal 5 H, di Madinah. Sekitar Madinah digali parit (khandaq), ide Salman Al Farisi untuk mempertahankan dari serangan musuh. Perang ini dimenangkan kaum muslimin.
4.         Perjanjian Hudaibiyah, 628 M/6 H, perjanjian dengan penduduk Makah. Januari 630 M (8 H) Umat Islam berhasil menaklukkan kota Makah/Fathu Makah.
5.         Perang Khaibar, 7 H, di Khaibar, antara kaum muslimin melawan orang Yahudi. Nabi Muhammad membawa 1.600 dipimpin Ali bin Abi Thalib. Setelah mengepung selama 6 hari, pasukan Islam menang.
6.         Perang Mut’ah, 8 H, di desa Mut’ah. Karena, menuntut balas kekejaman Raja Ghassan yang membunuh utusan yang dikirim Nabi dalam rangka dakwah Islam. Pasukan 3000 orang dipimpin Zaid bin Harisah. Pasukan Ghassan 200.000 orang. Khalid bin Walid mengambil alih komando dan menarik pasukannya kembali menuju Madinah.
7.         Perang Hunain, 8 H, di lembah Hunain. Karena, maih adanya dua suku arab yang menentang yaitu Bani Tsaqif di Thaif dan Bani Hawazin, meskipun Makah sudah ditaklukkan. Mereka ingin menuntut bela atas diruntuhkannya berhala-berhala mereka oleh Nabi. 12.000 orang pasukan Islam dipimpin Nabi sendiri. Dengan ditaklukkannya Bani Hawazin dan Bani Tsaqif, berarti seluruh jazirah Arab berada di bawah pemimpin Nabi Muhammad SAW.
8.         Perang Tabuk, 9 H, di daerah Tabuk. Karena, Heraklius bergabung dengan Bani Ghassan dan Bani Lachmides menyusun pasukan besar untuk menghadapi Islam. Nabi menyusun pasukan dalam jumlah besar pula. Tentara Romawi akhirnya minder dan menarik diri ke daerahnya masing-masing. Nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di daerah Tabuk. Beliau mengadakan perjanjian dengan penduduk setempat sehingga daerah tersebut menjadi daerah Islam. Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah.[15]

G.      Misi Dakwah Nabi Muhammad
Di antara sahabat Nabi yang diutus menjadi misi dakwah Islamiyah, antara lain:
1.      Amr bin Umayyah Adh-Dhamiri. Mula-mula ia diutus membawa suratnya kepada An-Najasi Raja Ethiopia. Kemudian kepada Musailamah Al-Kadzab dengan membawa surat pula. Setelah itu ia diutus pula kepada Farwah bin Amr Al-Juzami, Gubernur Romawi di Amman, untuk mengajak masuk Islam.
2.      Dahyah bin Khalifah Al-Kalabi, diutus membawakan surat kepada Heraclius, Kaisar Romawi.
3.      Abdullah bin Hudzaifah, diutus membawakan surat kepada Kisra, Raja Persia.
4.      Suja’ bin Wahhab Al-Asasdi, diutus membawakan surat kepada Al-Harits bin Syamar di Syiria.
5.      Salith bin ‘Amr Al-Amiri, diutus membawakan surat kepada Hudzah bin Ali dan kepada Tsamamah bin Astal di Yamamah.
6.      Hatib bin Abi Balta’ah diutus membawakan surat kepada Muqauqis, gubernur Romawi di Mesir.
7.      Al-I’la bin Al-Hadhrani, diutus membawakan surat kepada Al-Mundzir bin Sawi, Raja Bahrain.
8.      Al-Muhajjir bin Umayah Al-Makhzumi, diutus kepada Al-Harits bin Kilal di Yaman, untuk mengajaknya masuk Islam.
9.      Abu Musa Al-Asy’ari, diutus ke satu daerah di Yaman untuk menyampaikan dakwah dan ajaran serta pengajaran tentang hukum-hukum Islam.
10.  Muadz bin Jabal, diutus ke daerah Yaman lainnya dengan tugas yang sama dengan Abu Musa Al-Asy’ari.
11.  Ali bin Abi Thalib, juga diutus ke Yaman.
12.  Jarir bin Abi Abdillah Al-bajali, diutus kepada Dzi Kilak dan Dzi Imrah
13.  Uyainah bin Hisham Al-Fawazi, diutus kepada Aslam dan Ghafar.
14.  Buraidah bin Al-Hasib Al-Aslami, diutus untuk mengajak kaumnya, Bani Juhainah.
15.  Rafi’ bin Makits Al-Juhaini, diutus mengajak kaumnya, Bani Juhainah.
16.  Amr bin Ash, diutus kepada Raja ‘Uman di Teluk Persia yang bernama Jaifar dan saudaranya Abdu dengan membawa surat dari Nabi.
17.  Ad-Dhahak bin Sufyan bin Auf, diutus untuk mengajak kaumnya.
18.  Yasar bin Sufyan Al-Ka’bi, diutus kepada kaumnya Bani Ka’ab.
19.  Usamah bin Zaid, diutus kepada Harakat dari Kabilah Juhainah.

H.      Masa Terakhir Nabi Muhammad
Pada tahun 9 dan 10 (630-632 M) banyak suku dari pelosok Arab, yang mengirimkan delegasi atau utusan kepada Nabi Muhammad, menyatakan pengakuan akan kekuasaan Islam. Oleh karena itu, tahun tersebut disebut dengan tahun perutusan.
Pada tahun 10 H (631 M) Nabi Muhammad beserta rombongan yang besar melaksanakan haji, dan inilah haji yang terakhir bagi beliau yang merupakan haji perpisahan atau wada’.
Dalam kesempatan itu Nabi Muhammad menyampaikan khutbahnya yang sangat bersejarah, yang isinya merupakan prinsip-prinsip yang mendasari gerakan Islam, dan yang terpenting adalah bahwa umat Islam harus selalu berpegang pada dua sumber, yaitu Alqur’an dan sunnah. Apabila prinsip-prinsip itu disimpulkan adalah kemanusiaan, persamaan, keadilan sosial, keadilan ekonomi, kebijakan dan solidaritas.[16]
Setelah melaksanakan haji, Nabi Muhammad kembali ke Madinah. Beliau mengatur organisasi masyarakat, mengatur peradilan, menetapkan zakat, dan mengajarkan para kabilah tentang ajaran-ajaran Islam untuk dikirim dakwah Islam ke berbagai daerah. Setelah dua bulan, Nabi sakit demam. Tenaganya menjadi berkurang. Pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul awal tahun 11 Hijriah/8 Juni 632 M, Rasulullah SAW wafat di rumah istrinya, Aisyah dalam usia 63 tahun.[17]







BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pada pemerintahan Nabi Muhammad SAW beliau berusaha membangun masyarakat yang beradab, dan pada masanya juga melahirkan kebijakan fiskal, dan memberlakukan larangan-larangan untuk menjaga seseorang dapat berbuat adil dan jujur dalam perdagangan maupun tingkah laku. Rasulullah SAW adalah seorang yang diberi wahyu Allah SWT untuk membenahi akhlak umatnya dan sebagai pemimpin yang teladan, segala sesuatu yang dilakukan Rasulullah SAW dalam masa pemerintahannya dilakukan berdasarkan keikhlasan sebagai bagian dari kegiatan dakwahnya. Perekonomian pada masa Rasulullah SAW belum bisa dikatakan maju karena masih banyak masyarakat yang perekonomiannya lemah sehingga Rasulullah bekerja dengan baik untuk meningkatkan sumber daya yang baik. Rasulullah telah mampu menjalankan perannya sebagai pemimpin agama, seorang negarawan, dan sekaligus pemimpin politik dan administrasi yang cakap.



















DAFTAR ISI

Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah.
Al-Usay, Ahmad. 2011. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX. Jakarta: Akbar Media.
Ibrahim, Hasan. 2009. Sejarah dan Kebudayaan Islam I. Jakarta: Kalam Mulia.
Karim, M. Abdul. 2011.  Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islan. Yogyakarta: Bagaskara.
Khoiriyah. 2012 Reorientasi Wawasan Sejarah Islam. Yogyakarta: Teras.
Shafiyyur, Syaikh. 2008. Sirah Nabawi. Jakarta Timur: Pustaka Al Kautsar.
Shihab, M. Qurais. 2014. Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-qur’an dan Hadist-hadist Shahih. Tangerang: Lentera Hati.











PROFIL

Nama                                      : Ari Karuniawan
Tempat Tanggal Lahir         : Pekalongan, 8 Mei 1994
Alamat                                    : Krapyak, Limas Indah. Jl Trapesium 2 no 16
Pendidikan                             : SD Al-Irsyad Pekalongan
 SMP Al-Irsyad Pekalongan
SMA N 2 Pekalongan
Ari Karuniawan.jpgAri Karuniawan.jpg


Nama                                      : Ani Jihan Furaida
Tempat Tanggal Lahir         : Pekalongan, 10 Desember 1994
Alamat                                    : Banyurip Alit Gg. 5 No. 58
Pendidikan                             : MII Banyurip Ageng 01
                                                  Mts Istifaiyah Nahdliyah
                                                  Man 2 Pekalongan Jurusan ke-Agamaan



Nama                                      : Nani Rahmawati
Tempat Tanggal Lahir         : Pekalongan, 16 Januari 1995
Alamat                                                : Prawasan Timur Kec. Kedungwuni Timur     kelurahan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan
Pendidikan                             : SD Negeri 06 Kedungwuni
                                                  SMP Negeri 2 Kedungwuni
                                                  MAN 1 Pekalongan

Nama                                      : Nina Sammirna
Tempat Tanggal Lahir         : Pekalongan, 18 November 1996
Alamat                                                : Kertijayan Gg 5 RT 14 RW 05
Pendidikan                             : MIS Kertijayan
                                                  MTs Istifaiyah Nahdliyah Banyurip Ageng
                                                  SMK Syafi’i Akrom Jurusan TKJ

Nama                                      : M. Fahri Baihaqi




[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010) hlm. 48-53
[2] M. Qurais Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-qur’an dan Hadist-hadist Shahih, (Tangerang: Lentera Hati, 2014), hlm. 44
[3] Op. Cit, Samsul Munir Amin, hlm. 54
[4] Ibid. hlm. 62
[5] Ibid. hlm. 55
[6] Hasan Ibrahim, Sejarah dan Kebudayaan Islam I, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hlm. 90
[7] Syaikh Shafiyyur, Sirah Nabawi, (Jakarta Timur: Pustaka Al Kautsar, 2008), hlm. 34-35
[8] Op. Cit, Samsul Munir Amin, hlm. 59
[9] Ahmad Al-Usay, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media, 2011), hlm. 86
[10] Op. Cit, Samsul Munir Amin, hlm. 65-66
[11] Op. Cit, Ahmad Al-Usay, hlm. 87-88
[12] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 36-37
[13] Op. Cit, Samsul Munir Amin, hlm. 67-69
[14] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islan, (Yogyakarta: Bagaskara, 2011), hlm. 68
[15] Op. Cit, Khoiriyah , hlm. 52-53
[16] Op. Cit, Samsul Munir Amin, hlm. 82-85
[17] Op. Cit, Khoiriyah , hlm. 49

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar