Laman

Rabu, 16 September 2015

s pendis M 2


POLA PENDIDIKAN ISLAM 
MASA KHULAFAUR RASYIDIN


Oleh:

DWI ARISWATI (2024214419)
AFIFAH                 (2024214401)

PENDIDIKAN GURU RAUDATUL ATFAL
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015



A.    PENDAHULUAN
Pendidikan Islam merupakan suatu hal yang paling utama bagi warga suatu negara, karena maju dan keterbelakangan suatu negara akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat pendidikan warga negaranya. Salah satu bentuk pendidikan yang mengacu kepada pembangunan tersebut, yaitu pendidikan agama adalah modal dasar yang merupakan tenaga penggerak yang tidak ternilai harganya bagi pengisian aspirasi bangsa, karena dengan terselenggaranya pendidikan agama secara baik akan membawa dampak terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran agama.
Pendidikan Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadits adalah untuk membentuk manusia yang seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Allah SWT, dan untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan seluruh kehidupannya, sebagaimana yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhira atau dengan kata lain, untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu memanusiakan manusia, supaya sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakan sebagai hamba dan khalifah di muka bumi.
Manusia adalah makhluk yang selalu merindukan kesempurnaan, oleh karena itu dengan segala potensi yang dimilkinya, manusia berusaha maju dan berkembang untuk mencapai kesempurnaannya itu. Manusia setiap saat membutukan belajar dari lingkungan atau alam semesta dan juga diperlukan pengaruh dari luar yang oleh Slamet Imam Santoso disebut dengan istilah pendidikan.[1]
Dengan demikian, jelaslah bahwa proses kependidikan merupakan rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia, dan kemampuan belajar yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam, paling tidak ada dua hal yang perlu diperhatikan tentang rumusan sejarah pendidikan Islam.
Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang. Pendidikan Islam mulai dilaksanakan Rasulullah setelah mendapat perintah dari Allah melalui firman-Nya QS. 74: 1-7, langkah awal yang ditempuh oleh Nabi adalah menyeru keluarganya, sahabat-sahabatnya, tetangga, dan masyarakat luas.
Pada masa Nabi, negara Islam meliputi seluruh jazirah Arab dan pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah Rasulullah wafat kekuasaan pemerintahan Islam dipegang oleh khulafaur rasyidin dan wilayah Islam telah meluas di luar jazirah Arab. Para khalifah ini memusatkan perhatiannya kepada pendidikan, syiarnya agama, dan kokohnya negara Islam.
Apa dan bagaimana pola pendidikan yang diterapkan oleh para khulafaur rasyidin pada masanya, sehingga dapat dijadikan perbandingan terhadap proses pendidikan pada masa sekarang. Makalah yang sederhana ini akan mencoba mengupas persoalan tersebut.

A.    MASA KEPEMIMPINAN KHULAFAUR RASYIDIN
1.      Masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq (632-634)
Setelah Nabi wafat, sebagai pemimpin umat Islam adalah Abu Bakar As-Siddiq sebagai khalifah. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat setelah Nabi wafat untuk menggantikan Nabi dan melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan pemerintahan.[2]
Masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai Nabi dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Berdasarkan hal ini Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memerangi para pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran Islam. Dengan demikian, dikirimlah pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah. Dalam penumpasan ini banyak umat Islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat dekat Rasulullah dan para hfiz Al-Qur’an, sehingga mengurangi jumlah sahabat yang hafal Al-Qur’an. Oleh karena itu, Umar ibn Khatab menyarankan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian untuk mereaisasikan saran tersebut diutuslah Zaid nin Tsabit untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an. Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.
Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan Tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya.
1.      Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah.
2.      Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Pendidikan ibadah seperti pelaksanaan Sholat, puasa dan haji.
3.      Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak gerik dalam sholat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.
Menurut Ahmad Syalabi, lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan kuttab. Kuttab  merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat Rasul terdekat. Lembaga pendidikan Isalam adalah Masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat sholat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya.
Berdasarkan uraian diatas, penulis berkesimpulan bahwa pelaksanaan pendidikan Islam pada masa khalifah Abu Bakar ini adalah sama dengan pendidikan Islam yang dilaksanakan pada masa Nabi baik materi maupun lembaga pendidikannya.
2.      Masa Umar bin Khatab (13-23H : 634-644 M)
Sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang mulia, pikiran, perasaan dan kemampuan berbuat, merupakan komponen dari kemuliaan dan kesempurnaan yang melengkapi ciptaan (kejadian) manusia. Firman Allah Swt. :


Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya (QS : 95 4)
Abu Bakar telah menyaksikan persoalan yang timbul dikalangan kaum muslimin setelah Nabi wafat, berdasarkan hal inilah Abu Bakar menunjuk penggantinya yaitu Umar bn Khatab, yang tujuannya adalah untuk mencegah supaya tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam, kebijakan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat.[3] Pada masa khalifah Umar bin Khatab, kondisi politik dalam keadaan stabil, usaha perluasan wilayah Islam memperoleh hasil yang gemilang. Wilayah Islam pada masa Umar bin Khatab meliputi Semenanjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir.[4]
Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluas pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki keterampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.
Pada masa khalifah Umar bin Khatab, sahabat-sahabat yang sangat berpengaruh tidak diperbolehkan untuk keluar daerah kecuali atas izin dari khalifah dan dalam waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar hadis harus pergi ke Madinah, ini berarti bahwa penyebaran ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidikan adalah terpusat di Madinah.[5]
Dengan meluasnya wilayah Islam sampai ke luar jazirah Arab, tampaknya khalifah memikirkan pendidikan Islam di daerah-daerah yang baru ditaklukkan itu. Untuk itu, Umar bin Khatab memerintahkan para panglima perangnya, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.[6]
Berkaitan dengan masalah pendidikan itu, khalifah Umar bin Khatab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar-pasar[7] serta mengangkat dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan itu, mereka bertugas mengajarkan isi Al-Qur’an dan ajaran Islam lainnya, seperti fikih kepada penduduk yang baru masuk Islam.
Diantara sahabat-sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Khatab ke daerah adalah Abdurahman bin Ma’qal dan Imran bin al-Hashim. Kedua orang ini ditempatkan di Basyrah. Abdurrahman bin Ghanam dikirim ke Syiria dan Hasan bin Ali Jabalah dikirim ke Mesir. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk di halaman masjid sedangkan murid melingkarinya.[8]
Dari hal di atas penulis berpendapat bahwa yang menjadi pendidik alah Umar dan para sahabat-sahabat besar yang lebih dekat kepada Rasulullah dan memiliki pengaruh yang besar, sedangkan pusat pendidikannya selain Madinah adalah Mesir, Syiria, dan Basyrah.
Meluasnya kekuasaan Islam, mendorong kegiatan pendidikan Islam bertambah besar, karena mereka yang baru menganut agama Islam ingin menimba ilmu keagamaan dari sahabat-sahabat yang menerima langsung dari Nabi. Pada masa ini telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah-daerah yang jauh dari Madinah, sebagai pusat agas Islam. Gairah menuntut ilmu agama Islam ini yang kemudian mendorong lahirnya sejumlah pembidangan disiplin keagamaan.[9]
Pada masa khalifah Umar bin Khatab, mata pelajaran yang diberikan adalah membaca dan menulis Al-Qur’an dan menghafalnya serta belajar pokok-pokok agama Islam. Pendidikan pada masa Umar bin Khatab ini lebih maju dibandingkan dengan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan untuk belajar bahasa Arab juga sudah mulai tampak, orang yang baru masuk Islam dari daerah yag ditaklukkan.
Berdasarkan hal di atas penulis berkesimpulan bahwa pelaksanaan pendidikan di masa khalifah Umar bin Khatab lebih maju, sebab selama Umar memerintah negara berada dalamkeadaan stabil dan aman. Ini disebabkan, disamping telah ditetapkannya masjid. Telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan baru di berbagai kota dengan indah yang dikembagkan, baik dari segi suku bahasa, menulis, dan pokok ilmu-ilmu lainnya. Pendidikan dikelola dibawah pengaturan gubernur yang berkuasa saat itu, serta diiringi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitul mal, dan sebagainya. Adapun sumber gaji para pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukkan dan dari baitul mal.
3.      Masa Khalifah Usman bin Affan (23-35 H: 644-656 M)
Nama lengkapnya adalah Usman in Abil Ash in Umaiyah. Beliau masuk islam atas seruan Abu Bakar Siddiq.[10] Usman bin Affan adalah termasuk saudagar besar dan kaya dan sangat pemurah menafkahkan kekayaannya untuk kepentingan umat Islam. Usman diangkat menjadi khalifah hasil dari pemilihan panitia enam yang ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khatab menjelang beliau akan meninggal. Panitia yang enam adalah : Usman, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bi Abi Waqash, dan Abdurrahman bin ‘Auf.
Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan di masa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rasulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah di masa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah-daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah-daerah.
Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam dan ari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para sahabat bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Khalifah Usman sudah merasa cukup dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada satu usaha yang cemerlang yang telah terjadi di masa ini yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam, yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena perselisihan dalam bacaan Al-Qur’an. Berdasarkan hal ini, khalifah Usman memerintahkan kepada tim untuk penyalinan tersebut. Adapun tim tersebut adalah : Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ash, dan Abdurrahman bin Harist.
Bila terjadi pertikaian bacaan, maka harus diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab Al-Qur’an ini diturunkan menurut dialek mereka sesuai dengan lisan Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraisy. Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy sedangkan ketiganya adalah orang Quraisy.
Tugas mendidik dan mengajar umat pada masa Usman bin Affan diserahkan pada umat itu sendiri, artinya pemerinta tidak mengangkat guru-guru, dengan demikian pada pendidik sendiri melaksanakan tugasnya hanya dengan mengharapkan keridhaan Allah.
Bahwa pada masa khalifah Usman bin Affan tidak banyak terjadi perkembangan pendidikan, kalau dibandingkan dengan masa kekhalifahan Umar bin Khatab, sebab pada masa khalifah Usman urusan pendidikan diserahkan saja kepada rakyat. Dan apabila dilihat dari segi kondisi pemerintahan Usman banyak timbul pergolakan dalam masyarakat sebagai akibat ketidaksenangan mereka terhadap kebijakan Usman yang mengangkat kerabatnya dalam jabatan pemerintahan.
4.      Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H: 656-661 M)
Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib adalah putra dari paman Rasulullah dan suami dari Fatimah anak Rasulullah. Ali bin Abi Thalib diasuh dan dididik oleh Nabi. Ali terkenal sebagai anak yang mula-mula beriman kepada Rasulullah.[11]
Ali adalah khalifah keempat setelah Usman bin Affan. Pada pemerintahannya sudah diguncang peperangan dengan Aisyah (istri Nabi) beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair karena kesalahpahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman, peperangan di antara mereka disebut Perang Jamal (unta) karena Aisyah menggunakan kendaraan unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan khalifah Ali tidak banyak mendapatkan ketenangan dan kedamaian.[12]
Muawiyah sebagai gubernur di Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Peperangan ini disebut dengan peperangan Shiffin, karena terjadi di Shiffin. Ketika tentara Muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, maka Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan tahkim (penyelesaian dengan adil dan damai). Semula Ali menolak, tetapi karena desakan sebagian tentaranya akhirnya Ali menerimanya, namun tahkim malah menimbulkan kekacauan, sebab Muawiyah bersifat curang. Sebab dengan tahkim Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Ali dengan cara tahkim, meninggalkan Ali dan membuat kelompok tersendiri yaitu Khawarij.[13]
Berdasarkan uraian di atas, penulis berkesimpulan bahwa pada masa Ali telah terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga di masa ia berkuasa pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa Ali berkuasa, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat Ali tidak sempat lagi memikirkan masalah pendidikan sebab keseluruhan perhatiannya ditumpahkan pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat Islam. Dengan demikian, pola pendidikan pada masa khulafaur rasyidin tidak jauh berbeda dengan masa Nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi.
B.     PUSAT-PUSAT PENDIDIKAN PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Pusat-pusat pendidikan pada masa khulafaur rasyidin antara lain :
1.      Mekkah. Guru pertama di Mekkah adalah Muaz bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an dan fikih.
2.      Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain : Abu Bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat-sahabat lainnya.
3.      Basrah. Sahabat yang termasyhur antara lain : Abu Musa al-Asy’ary, dia adalah seorang ahli fikih dan Al-Qur’an.
4.      Kuffah. Sahabat-sahabat yang termasyhur disini adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud mengajarkan Al-Qur’an, ia adalah ahli tafsir, hadis, dan fikih.
5.      Damsyik (Syam). Setelah Syam (Syiria) menjadi bagian negara Islam dan penduduknya banyak beragama Islam, maka khalifah Umar mengirim tiga orang guru ke negara itu. Yang dikirim adalah Mu’az bin Jabal, Ubaidah, dan Abu Darda’. Ketiga sahabat ini mengajar di Syam pada tempat yang berbeda. Abu Darda’ di Damsyik, Mu’az bin Jabal di Palestina dan Ubaidah di Hims.
6.      Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadis.

C.    PENUTUP
Pendidikan pada masa khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan pendidikan pada masa Rasulullah. Pada masa khalifah Umar bin Khatab, pendidikan sudah lebih meningkat di mana pada masa khalifah Umar guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukkan. Pada masa khalifah Usman bin Affan, pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah dibolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar. Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapat perhatian, hal ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan.





DAFTAR PUSTAKA
Asrohah, Hanum, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Wacana Ilmu, 2001.
Djojosuwarno, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, tt.
Santoso, Selamet Imam, Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa, Jakarta: Masagung, 1987.
Langgulung, Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, terj. Jakarta: Wacana Ilmu, 2001.
Supardi, Mohammad, Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an, Jakarta: Penebar Salam, 2001.
Syalaby, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Al-Husna Zikra, 2000.
______________, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Yatim, Badri, Sejarah Islam, Jakarta: Wacana Ilmu, 2001.
Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Hidakarya Agung, 1989.





















                                     
                                                                        Nama   : Afifah
Nim     : 2024214401 



 
Nama   : Dwi Ariswati
                                                           




                                                            Nama   : Dwi Ariswati
                                                            Nim     : 2024214419


[1] Slamet Imam Santoso, Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa, (Mas Agung, Jakarta, 1987). h. 52
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 36
[3] Ibid, h. 37
[4] Hanum Asrohah, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Wacana Ilmu, 2001), h. 36
[5] Sukarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Islam, (Bandung: Angkasa t.th), h. 51
[6] Hanum Asrohah, Op. cit.,
[7] Muhammad Syadid, Konsep Pendidikan dalam Al-Qur’an, terj. (Jakarta: Penebar Salam, 2001), h. 37
[8] Karsidjo Djojosuwarno, Life of Omar the Geat, terjemahan (Bandung: 1981), h. 387
[9] Hanum Asrohah, Op. cit., h. 18
[10] Ahmad Syalaby, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 2000), h. 266
[11] Ibid, h. 281
[12] Hanun Asrobah, Op. cit., h. 21
[13] Ibid,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar