Laman

Kamis, 03 Desember 2015

spi G 13 (Perang Salib)



SEJARAH PERADABAN ISLAM
(Perang Salib)

Oleh :
1.    Muhammad Khoirul Huda         (2021114001)
2.    Gita Sukmawati Dewi               (2021114101)
3.    Nala Rizqiyati                            (2021114163)


Kelas PAI ( G )
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.
          Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan taufiq, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perang Salib”. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, sahabatnya, keluarganya, serta segala umatnya hingga yaumil akhir.
Makalah ini disusun guna menambah wawasan yang berguna bagi pembaca. Makalah ini disajikan sebagai bahan materi dalam diskusi mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. Penulis menyadari bahwa kemampuan dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna. Penulis sudah berusaha dan mencoba mengembangkan dari beberapa reverensi mengenai Perang Salib. Apabila dalam penulisan makalah ini ada kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan dan pembahasannya maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca.
Akhir kata, semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Amin yaa robbal’alamin.

Pekalongan,28 September 2015

       Penulis


DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................ .... i
Daftar Isi .........................................................................................................      ii  
BAB   I     PENDAHULUAN ........................................................................... 1  
A.      Latar Belakang Masalah................................................................ .... 1  
B.       Rumusan Masalah .........................................................................      2
C.       Metode Pemecahan Masalah ........................................................ .... 2  
D.      Sitematika Penulisan Makalah ........................................................... 2  

BAB II      PEMBAHASAN ......................................................................... .... 3   
A.      Timbulnya Perang Salib................................................................. .... 3  
B.       Sebab-sebab Perang Salib.............................................................. .... 6  
C.       Periodisasi Perang Salib................................................................. .... 11
D.      Jalannya Perang Salib..................................................                   .... 14
E.       Pengaruh Perang Salib terhadap Peradaban Islam ..... .................. .... 17

BAB III     PENUTUP       ............................................................................. .... 19
A.      Kesimpulan  ....................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------------ --- 20






 


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Perang Salib adalah reaksi Kristen Eropa terhadap dunia Islam di Asia, sejak tahun 632 M yang merupakan pihak penyerang di Syiria dan Asia Kecil, tetapi juga di Spanyol dan Sicilia. Dilihat dari sudut lain, maka faktor-faktor yang turut menimbulkan Perang Salib ialah keinginan mengembara dan bakat kemiliteran bangsa Teutonia yang mengubah peta Eropa sejak mereka memasuki lembaran sejarah; penghancuran Gereja Suci dilakukan oleh seorang khalifah Fathimiyah tahun 1009, sedang gereja itu merupakan tujuan beribu-ribu jamaah dari Eropa, dan perlakuan buruk yang telah dialami oleh para jamaah kristen di Asia Kecil yang telah diislamkan. Akan tetapi yang merupakan penyebab langsung terjadinya Perang Salib ialah permintaan Kaisar Alexius Comnenus tahun 1095 kepada Paus Urbanus II. Kaisar dari Bizantium ini meminta bantuan dari Romawi, karena daerah-daerahnya yang terserak sampai ke pesisir laut Marmora ditindas-binasakan oleh bani Saljuk. Bahkan kota konstantinopel pusat kekuasaan Romawi diancam direbut oleh kaum muslimin.












A.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Timbulnya Perang Salib ?
2.      Penyebab Terjadinya Perang Salib ?
3.      Periodisasi Perang Salib ?
4.      Jalannya Perang Salib ?
5.      Pengaruh Perang Salib terhadap Peradaban Islam?

B.  Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang di bahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya di mulai dengan menentukan masalah yang akan di bahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

C.  Sitematika Penulisan Makalah
Makalah ini di tulis dalam tiga bagian, meliputi : Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan.





BAB II
PEMBAHASAN

  1. Timbulnya Perang Salib

Perang Salib (The Crusades War) adalah serangkaian perang agama selama hampir dua abad sebagai reaksi Kristen Erpa terhadap Islam Asia. Perang ini terjadi karena sejumlah kota dan tempat suci Kristen diduduki Islam sejak 632, seperti di Suriah, Asia kecil, Spanyol, dan Sicilia. Militer kristen menggunakan salib sebagai simbol yang menunjukkan bahwa perang ini suci dan bertujuan membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari orang islam.[1]
Kekuatan umat Islam yang terpendam kembali tampak ketika bangsa Barat yang beragama Kristen melancarkan sembilan kali serbuan terhadap kaum muslim dalam peperangan yang terkenal dengan Perang Salib. Bangsa Barat dengan semangat Perang Salib dan kebencian di dada mereka menyerang umat Islam. Didorong pula oleh keinginan untuk merampas kekayaan negara-negara Islam dan menghancurkan kekuatan dan kesinambungan kekuasaan pemerintah Islam. Usaha mereka dipermudah dengan kelengahan umat Islam dan para penguasa yang tenggelam dalam nafsu syahwat. Juga oleh perpecahan mereka dalam memperebutkan kepentingan dunia, cinta kekuasan, dan kesanggupan penguasa yang berjiwa kerdil tersebut yang rela menjual saudara mereka dengan membeli orang asing, dan menjual umatnya untuk membeli kekuasaan mereka.[2]
Perang Salib awalnya disebabkan adanya persaingan pengaruh antara Islam dan Kristen. Penguasa Islam Alp Arselan yang memimpin gerakan ekspansi yang kemudian dikenal dengan “Peristiwa Manzikart” pada tahun 464 H (1071 M) menjadikan orang-orang romawi terdesak. Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Prancis dan Armenia. Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian ini bertambah setelah dinasti saljuk dapat merebut baitul maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir.[3] Penguasa saljuk menetapkan beberapa peraturan bagi umat kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan ini dirasakan sangat menyulitkan mereka.
Oleh karena itu, untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci kristen itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada Umat kristen di eropa agar melakukan perang suci. Perang ini kemudian dikenal dengan nama perang salib karena pasukan kristen dalam berperang mengenakan tanda salib pada pakaian yang dikenakannya sebagai lambang.  
Pidato yang mungkin paling besar hasilnya dalam sejarah, ialah pidato Paus Urbanus II pada tanggal 26 November 1095 di Clermont (Prancis Selatan), orang-orang Kristen mendapat suntikan untuk mengunjungi kuburan-kuburan suci dan merebutnya dari orang-orang bukan kristen serta menaklukkan mereka.[4] Seruan bersama “Tuhan menghendaki yang demikian” menggelora di seluruh negeri dan memiliki pengaruh psikologis, baik di lapisan masyarakat bawah maupun atas. Di musim semi tahun berikutnya, 150.000 orang yang terdiri dari sebagian besar orang-orang Prancis dan Norman memenuhi panggilan tersebut dan berkumpul di Konstantinopel. Perang Salib yang pertama pun dimulai.[5]
Tidak aneh jika pasukan Salib pada permulaannya mendapatkan kemenangan. Mereka kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Islam, dengan dibantu oleh para penguasa yang berkhianat. Mereka masuk ke Baitul Maqdis setelah membantai berpuluh-puluh ribu umat Islam dan menyebabkan terjadi banjir darah.
Pasukan Salib bertahan di Syam lebih kurang selama 200 tahun, dan Bitul Maqdis berada dalam kekuasaan mereka selama 90 tahun penuh.
Kemudian Allah menyiapkan tokoh-tokoh Islam ntuk melakukan perlawanan terhadap penjajah, merebut negeri mereka yang dianeksasi dan hak mereka yang dirampas. Perlawanan tersebut dilakukan oleh umat Islam di bawah pimpinan ‘Imaduddin Zanki dan anaknya sang pahlawan Nuruddin Mahmud asy-Syahid, yang menyerupai Khulafaur Rasyidin dalam perjalanan hidup, keberanian, ketaatan, dan keadilannya. Juga muridnya, pemimpin Shalahuddin al-Ayyubi, yang mendapatkan kemenangan atas pasukan Salib dalam peperangan Hathin yang termasyhur dan peperangan merebut Baitul Maqdis sehingga Baitul Maqdis dapat dikuasai kembali oleh umat Islam. Kemudian peperangan terjadi di Mesir yang berakhir dengan ditawannya Louis IX di Dar Ibn Luqman di Manshuriah. Semua itu merupakan petunjuk bahwa umat Islam bisa saja tertidur atau sakit, namun ia tidak akan mati. Selama di dalam umat Islam mengalir darah akidah dan selama ada orang yang memimpin mereka untuk menegakkan laa ilaaha illalah.[6]
Tidak semua orang dari kalangan kaum kristen yang mengikuti perang salib didorong oleh keimanan terhadap agama mereka. Beberapa pemimpin jamaah salib, di antaranya Bohemond ikut berperang dikarenakan dorongan nafsu untuk memperkaya diri. Para pedagang Pisa, Venesia, dan Ganoa melihat kepentingan perdagangan dalam peperangan. Orang-orang yang berbakan romantis, yang suka berkelana dan suku bertualang, yang menyatukan diri dalam kumpulan orang-orang mukmin itu, mempunyai tujuan hidup baru, banyak pula jumlahnya orang-orang yang mempunyai dosa-dosa berat menganggap bahwa dengan ikut berperang dapat menebus dosa-dosa mereka. Sebagian besar rakyat Prancis, Lotharingen, Italia dan Sicilia, yang perekonomian dan kehidupan sosialnya buruk ikut berperang dengan tujuan lain yaitu untuk memperbaiki nasib sosial mereka dan bukan bertujuan sebagai suatu pengorbanan terhadap agama mereka.[7]
Perang salib berlangsung 200 tahun lamanya, dari mulai  1095-1293 M, dengan 8 kali penyerbuan. Perang tersebut bertujuan untuk merebut kota suci palestina, tempat “tapak Tuhan berpijak”, dari tangan kaum muslimin. Peperangan ini memakan korban baik jiwa maupun harta dan kebudayaan yang tidak sedikit jumlahnya. Perang tersebut juga merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan di pantai timur Laut Tengah, yang merusak hubungan antara dunia timur dan dunia barat.[8] 

  1. Penyebab Terjadinya Perang Salib

Penyebab utama Perang Salib adalah upaya Seljuk merebut Syria dari Fatimiyyah pada 1070 M. Selama proses penaklukan tersebut, mereka juga mengalami konflik dengan kerajaan Byzantium yang melemah, yang batas-batasnya tidak dipertahankan dengan memadai. Ketika kavaleri Seljuk telah melintasi batas dan masuk ke Anatolia, mereka mengalahkan kerajaan Byzantium secara besar-besaran dalam perang Mazikurt pada 1071 M. Dalam satu dasawarsa, penduduk nomad Turki bebas berkelana ke seluruh Anatolia dengan rombogan mereka, dan para amir mendirikan negara-negara kecil di sana, yang membawahi kaum Muslim yang memandang Anatolia sebagai batas baru dan tanah harapan. Karena tidak berdaya menghentikan kemajuan Turki, Raja Byzantium, Alexius Comnenus I meminta bantuan Paus pada 1091 M, dan sebagai tanggapannya Paus Urban II mengumumkan Perang Salib Pertama. Pendudukan para serdadu Perang Salib terhadap wilayah-wilayah Anatolia tidak cukup lama dalam menahan penaklukan tentara Turki atas kawasan tersebut. Pada akhir abad ke-13 orang-orang Turki telah mencapai Mediterania; selama abad ke-14 mereka mengarungi Aegean, menetap di Balkan, dan mencapai Danube. Sebelumnya tidak ada penguasa Muslim yang mampu mengalahkan Kerajaan Byzantium seperti itu, yang pernah menjadi lambang keagungan pada kekaisaran Romawi kuno. Dengan kebanggaan inilah orang-orang Turki menyebut negara baru mereka di Anatolia sebagai “Rum” atau Roma. Walaupun terjadi kemunduran kekhalifah-an, Muslim telah meluas sampai dua kawasan yang sebelumnya tidak pernah menjadi bagian Dar al-Islam—Eropa Timur dan sebagian India barat laut—dan yang akan membawa kawasan-kawasan yang amat kreatif beberapa waktu kemudian.
Khalifah an-Nasir (1180-1225 M) berusaha merestorasi kekhalifahan di Bagdad da wilayah sekitarnya. Ia berusaha menyetuh Islam setelah melihat kekuatan kebangkitan keagamaan. Awalnya, syariah dikembangkan sebagai protes atas peraturan khalifah, tetapi sekarang an-Nasir belajar menjadi seorang alim dalam empat mazhab Hukum Sunni.[9] Ia juga ditasbihkan dalam salah satu dari kelompok futuwwah, dengan tujuan menjadikan dirinya Guru Besar dari semua futuwwah di Bagdad. Setelah kematiannya, para penerusnya melanjutkan kebijakan ini. Tetapi hal ini sudah terlambat. Dunia Islam terdampar dalam bencana yang akhirnya membawa kekhalifahan Abbasiyyah ke akhir riwayat yang kejam dan tragis.[10] Perag Salib adalah sebuah peperangan dengan rentang waktu yang cukup panjang, yaitu antara tahun 1095-1291 M. Ahli sejarah cukup variatif dalam melakukan periodisasi kesejarahannya, tentu didasarkan atas data mereka masing-masing. Secara sepintas perang ini terkesan sebagai perag agama semata, tetapi kalau dilakukan analisis sesungguhnya penyebab terjadinya perang Salib itu bisa beragam.
            Secara umum ada tiga faktor utama terjadinya perang Salib itu, yaitu faktor agama, faktor politik, dan faktor ekonomi. Bhakan bisa jadi ketiga faktor tersebut sulit dilepaskan dari meletusnya Perang Salib. Ketiga faktor tersebut aka dijelaskan pada bagian berikut.
1.      Faktor Agama
Ketika Dinasti Saljuk berkuasa dan mejalankan roda pemeritahan dinasti Abbas, Dinasti Saljuk dapat mengembagkan kekuasaannya sampai ke daerah-daerah Byzantium dengan merebut Armenia dan Asia Kecil di masa Arp Arselan dan Malik Syah  (1063-1092 M). Pada tahun 471 H Dinasti Saljuk dapat merebut Bait al-Maqdis dari dinasti Fatimiah yang berkedudukan di Mesir. Sejak itu, penguasa menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan ii dirasakan sagat menyulitkan mereka. Untuk mendapatkan keleluasaan kaum Kristen untuk dapat berziarah suci ke Bait al-Maqdis itulah Paus Urbanus II berseru untuk melakukan perang suci yang dikenal dengan Perang Salib.
            Bagi orang-orang Kristen, dengan melakukan ziarah ke Bait al-Maqdis itu akan dapat menghapuskan dosa dan memperoleh kebahagiaan abadi. Dengan keyakinan ini serta upaya yang dilakukan oleh Paus Urbanus II untuk megobarkan perang suci, bukan saja dapat menyemangati golongan atas Eropa, tetapi juga berhasil membakar semangat rakyat bawah untuk bangkit melakukan perang suci.
Pada tahun 1095 M Paus Urbanus II berpidato di kalangan kaum Kristen dengan pidato yang terkenal dan cukup memukau yang menggema ke seluruh penjuru Eropa.  Inilah yang membakar semangat umat Kristen Eropa untuk melakukan perang suci bagi mereka. Dalam hal ini Paus dibantu oleh seorang pendeta sebagai juru propagandanya, bernama Peter Pertapa. Sambil membawa salib besar, Peter mengembara keliling Eropa. Ia berbicara di hadapan rakyat banyak mengenai pengalaman pahitnya ketika berziarah ke Bait al-Maqdis yang mendapatka perlakuan tidak  nyaman dari orang-orang Islam.
            Dari apa yang dilakukan oleh Paus dan Peter di atas berhasil membangkitkan fanatisme umat Kristen Eropa dengan terhimpunnya suatu kekuatan besar yang melimpah ruah memasuki Konstantinopel tahun 1097 M da kemudian mereka melakukan serangkaian peperangan besar terhadap umat Islam dan mereka berhasil merebut Yerussalem tahun 1099 M dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya, Godfrey.

2.      Faktor Politik
Selain faktor agama, faktor politik juga cukup kental sebagai penyebab terjadinya perang Salib ini. Yaitu terutama sejak Dinasti Saljuk dapat meluaskan wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Byzantium setelah pertempuran Manzikart tahun 1071 M telah mengancam kota Konstantinopel sendiri, sehingga kaisar Alexius I terpaksa meminta bantuan Paus Urbanus II dan raja-raja Eropa Barat untuk melakukan peperangan yang kemudian mereka sebut perang suci itu.
Paus Urbanus II dalam pidatonya di Clermont tahun 1095 ia meyerukan kepada ummat Kristen melakukan perang suci menentang aggresor muslim. Himbauannya ini kemungkinan dilatarbelakangi oleh berbagai keberhasilan Kristen di Spanyol yang mencapai puncaknya dengan dengan direbutnya Toledo dan juga mengenai penaklukan Kristen di Sicilia. Karena itu upaya Paus tersebut mendapat sambutan yang besar dari masyarakat Kristen Eropa.
Pada sisi lain, di tubuh Dinasti Saljuk juga terjadi perpecahan di samping juga adanya bahaya kelaparan dan wabah penyakit pada masa khalifah al-Mustanshir, turut menguntungkan kaum Salib mendapatkan kesuksesannya merebut Bait al-Maqdis, tanah suci mereka.

3.      Faktor Ekonomi
Faktor ketiga yang juga disebut-sebut melatari terjadinya Perang Salib adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi dimaksud adalah bahwa pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Veneria, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu, mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka. Hal ini dimungkinkan karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute-rute perdagangan di timur melalui jalur strategis tersebut. Tentu hal itu bisa mereka kuasai apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan dalam perang tersebut.
Selain itu juga ternyata, ada kelas-kelas sosial di tengah masyarakat Eropa. Stratifikasi sosial masyarakat Eropa ketika itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu kaum gereja, kaum bangsawan serta kesatria, da rakyat jelata. Meskipun kelompok terakhir ini merupakan mayoritas dalam masyarakat, tetapi mereka menempati kelas yang paling rendah. Kehidupa mereka sangat tertindas. Mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-mena, di samping harus memikul berbagai beban pajak dan kewajiban lainnya. Karena itu, ketika ada mobilitas tionggi dari pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam Perang Salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik bila perang dapat dimenangkan, mereka menyambut seruan itu secara spotan. Agar nasib mereka mengalami perubahan.
Dalam peperangan Salib ini, masyarakat mayoritas Eropa ikut ambil bagian di dalamnya. Segenap elemen masyarakat di banyak negara negara, baik raja, bangsawan, petani dan rakyat jelata mempunyai pandangan yang tidak berbeda terhadap perang Salib. Dengan kata lain, perang Salib bagi bngsa-bangsa Eropa merupakan perekat kesatuan moral. Gema perang Salib dengan demikian sangat kuat di Eropa.[11]

  1. Periodisasi Perang Salib

Menurut Dr, Badri Yatim, M.A., bahwa Perang Salib dapat dibagi dalam 3 periode.[12]

  1. Periode Pertama
Jalinan kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan semangat umat kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont (26 November 1095). Menurut Philip K. Hitti, pidato ini kemungkinan merupakan pidato yang paing berkesan sepanjang sejarah yang telah dibuat paus. Pidato ini menggema ke seluruh pwnjuru Eropa yang membangkitkan seluruh negara Kristen mempersiapkan berbagai bantuan untuk mengadakan penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti berbagai kalangan masyarakat. Akhirnya dengan mudah pasukan Salib dapat dikalahkan pasukan Dinasti Saljuk.
Pasukan perang salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfrey of Boulion. Gerakan ini lebih merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi rapi. Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang eropa, sebagian besar bangsa prancis dan norman berangkat menuju konstantinopel, kemudian ke palestina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea, dan tahun 1098 menguasai Edessa. Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldwin sebagai rajanya.[13] Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur, Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis atau Yerusalem (15 Juli 1099) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan Godfrey sebagai rajanya. Setelah penaklukan baitul maqdis, tentara salib melanjutkan ekspansinya, mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M), dan Tyre (1124 M). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV, dengan Raymond sebagai rajanya.Hamimah, dan Edessa. Kemenangan itu merupakan kemenangan pertama kali yang disusul dengan kemenangan selanjutnya sehingga tentara Salib merasakan pahitnya kekalahan demi kekalahan. Pada tahun 1046 M, Imanuddin Zanki wafat.

  1. Perang Salib Kedua
Dengan adanya kekalahan ini, tentara salib mengirim utusan kepada paus meminta bantuan. Maka datanglah serbuan kedua (1147-1179 M) dipimpin oleh raja Louis VII dari Prancis, kaisar Kourad dari jerman, dan putra Roger dari Sisilia. Menyambut kedatangan angkatan kedua Salibiyah, muncullah pahlawan Nuruddin Zanki, Putra Imanuddin Zanki.[14]
Jatuhnya Edessia ini menyebabkan orang-orang kristen mengobarkan perang salib kedua. Paus Eugenus III menyerukan perang suci yang disambut posiitif oleh Raja Prancis Louis VII dan Raja Jerman Codrad II. Keduanya memimpin pasukan salib untuk merebut wilayah kristen di syiria. Akan tetapi, pasukan mereka dihadang oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Codrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat pada tahun 1174 M.[15] Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Salahuddin Al-Ayyubi yang berhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyyah di Mesir pada tahun 1175 M.[16]
Oleh karenanya daerah sekitar pantai Timur Laut Tengah ada kekuatan seorang pemimpin Islam yang tangguh, maka tentara salib mengarahkan perhatiannya kearah Mesir. Di mesir peperangan salib ini melahirkan pahlawan yang termasyhur namanya ialah sultan Shalahunddin Al-Ayyubi. Dengan pimpinan Shalahuddin  ini bahkan tentara islam dapat merebut kembali baitul maqdis, kota yang menjadi tujuan tentara salib. Walaupun dia telah mencapai kemenangan besar yang luar biasa tidaklah dia mabuk kemenangan lalu melupakan perjuanngan selanjutnya.[17]
Jatuhnya yerusalem ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja jerman, Richard The Lion Heart raja Inggris, dan Philip Augustus raja Prancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mendapat tantangan berat dari shalahuddin akan tetapi mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin, tetapi mereka tidak berhasil merebut palestina. Pada tanggal 2 november 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan shalahuddin yang disebut dengan Shulh Ar-Ramlah. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa oarang-orang kristen yang berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu. Tidak lama kemudian, setelah perjanjian itu disepakati, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi, pahlawan Perang Salib itu meninggal dunia pada Februari 1193 M.[18] Selanjutnya kekuasaan al-Ayyubi jatuh ke dalam kekuasaan Sultan Mamluk tahun 1250 M. Merekalah yang mempertahankan Mesir dari seragan-serangan Salib dan membedung serangan-serangan kaum Mongol di bawah pimpinan Hulagu dan Timur Lenk, sehingga Mesir lepas dari penghancuran seperti yag terjadi di dunia Islam lain.[19]

  1. Periode Ketiga
Tentara salib pada periode ketiga ini dipimpin oleh Raja Jerman Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut mesir terlebih dahulu sebelum ke palestina, dengan harapan mendapat bantuan dari orang-orang kristen Qibti. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki kota Dimyat. Raja Mesir dari Dinasti Ayyubiyah waktu itu, Al-Malikul Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick. Dalam perkembangan berikutnya, palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1247 M, di masa pemerintahan Al-Malikush Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik pengganti dinasti Ayyubiyah, pimpinan kaum muslimin dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1291 M.
Demikianlah Perang Salib yang terjadi di Timur. Perang ini tidak hanya berhenti di Barat, di Spanyol, sampai akhirnya umat islam terusir dari spanyol Eropa. Akan tetapi meskipun demikian, mereka tidak dapat merebut apa pun dari tangan kaum muslimin, dan tidak dapat menurunkan bendera islam dari Palestina.Walaupun umat Islam telah berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara salib, namun kerugian akibat perang itu sangat banyak. Kerugian ini mengakibatkan kekuatan kaum muslimin menjadi melemah.[20]

  1. Jalannya Perang Salib

Perang salib yang berlangsung dalam kurun waktu hampir dua abad, yakni antara tahun 1095-1291 M, terjadi dengan serangkaian peperangan.
Pada tahun 490H/1096 M, pasukan salib yang dipimpin oleh komandan walter dapat ditundukkan oleh kekuatan kristen Bulgaria. Kemudian peter yang mengomando kelompok kedua pasukan salib bergerak melalui Hongaria dan Bulgaria. Pasukan ini berhasil menghancurkan setiap kekuatan yang menghalanginya. Seorang penguasa negeri Nicea berhasil menghadapinya bahkan sebagian pimpinan salib berkenan memeluk islam dan sebagian pasukan mereka terbunuh dalam peperangan ini.
Setahun kemudian yakni pada tahun 491 H/1097 M, pasukan kristen di bawah komando Goldfrey bergerak dari konstantinopel menyeberangi selat Bosporus dan berhasil menaklukan Antioch setelah mengepungnya elama 9 bulan. Pada pengepungan ini pasukan perang salib melakukan pembantaian secara kejam tanpa perikemanusiaan.[21] Selama terjadi peperangan tersebut, kesultanan saljuk sedang mengalami kemundurn. Perselisihan antara sultan-sultan saljuk memudahkan pasukan perang salib merebut wilayah kekuasaan islam. Dalam kondisi seperti ini muncullah seorang sultan Damaskus yang bernama Mahmud yang berusaha mengabaikan konflik internal dan menggalang kesatuan dan kekuatan saljuk untuk mengusir pasukan salib. Baldwin, penguasa Yerusalem penganti Goldfrey, dapat dikalahkan oleh pasukan saljuk ketika ia sedang menyerang kota Damaskus. Daldwin segera dapat merebut wilayah-wilayah yang lepas setelah datang bantuan pasukan dari eropa.
Sepeninggal sultan Mahmud, tampillah seorang perwira muslim yang cakap dan berani. Ia adalah Imanuddin Zanki, seorang anak dari pejabat tinggi Sultan Malik Syah. Masyarakat Aleppo dan Hammah yang menderita dibawah kekuasaan pasukan salib berhasil diselamatkan oleh Imanuddin Zanki setelah berhasil mengalahkan pasukan salib. Satu persatu Zanki meraih kemenangan atas pasukan salib, hingga ia merebut wilayah Eddesa pada tahun 539 H/1144 M.[22]
Dalam perjalanan penaklukkan Kalat Jabir, zanki terbunuh oleh tentaranya sendiri. Kepemimpinan Imanuddin Zanki digantikan oleh putranya yang bernama Nurudin Mahmud, ia bukan hanya seorang prajurit yang cakap, sekaligus sebagai ahli hukum, dan seorang ilmuan. [23] Pendek kata kota-kota penting pasukan salib berhasil dikuasainya.
selanjutnya sultan Malik syah yang menggantikan Nuruddin adalah raja yang masih muda belia, sehingga amir-amir saling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis politik internal. Setelah beberapa lama tampillah Shalahuddin berjuang mengamankan damaskus dari pendudukan pasukan Salib.[24] Selanjutnya shlahuddin memusatkan perhatiannya untuk menyerang yerusalem, dimana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan salib kristen. Setelah beberapa lama terjadi pengepungan, pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon kemurahan hati sang sultan.[25]
Dalam hal ini seorang ahli sejarah menyatakan bahwa prancis mengerahkan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan laut. Bahkan wanita-wanita kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini. Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.[26]
Setelah berhasil menundukkan Acre, pasukan salib bergerak menuju Ascolon dipimpin jenderal Richard. Berasamaan dengan itu shalahuddin sedang mengarahkan pasukannya dan tiba di Ascolon lebih awal ketika tiba di Ascolon Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Shalahuddin. Mereka tidak berdaya mengepung kota ini, Richard mengirim delegasi perdamaian menghadap shalahuddin. Setelah berlangsung perdebatan kritis, akhirnya sultan bersedia menerima tawaran damai tersebut. “Antarpihak muslim dan pihak pasukan salib menyatakan bahwa wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan masing-masing, dan bahwa wrga negara kedua belah pihak dapat saling keluar masuk ke wilayah lainnya tanpa gangguan apa pun”. Jadi kesepakatan diatas mengakhiri Perang salib ketiga.[27] Sultan shalahuddin meninggal enam bulan setelah tercapainya perdamaian, yakni pada tahun 1193 M.[28]

  1. Pengaruh Perang Salib terhadap Peradaban Islam
           
Sebenarnya perang Salib di atas akhirnya dimenangkan oleh umat Islam, namun demikian umat Islam mengalami kerugian yang banyak karena peperangan tersebut terjadi di wilayah umat Islam. Ummat Islam tidak melihat arti penting apapun dalam peristiwa Perang Salib itu. Pengaruh dari Perang Salib itu hanya sedikit seperti ornamen-ornamen gereja berpengaruh terhadap seni gaya bangunan masjid sebagaimana terlihat pada masjid An-Nashr di Kairo.[29] Sebalikya, orang-orang Kristen justru memperoleh keuntungan dan pengalaman yang cukup berarti dari kebudayaan dan peradaban Islam, misalnya mengetahui kemajuan dunia intelektual di wilayah Islam, idustri, irigasi, persenjataan, dan lai-lain.
Misalnya di bidang perindustrian, pasukan Salib banyak menemukan kain tenun dan sekaligus peralatan tenunnya. Karena itu mereka mengimpor sejumlah kain dari timur seperti satin dan damas. Mereka juga menemukan berbagai jenis parfum, dan getah Arab untuk mengaharumkan ruangan. Demikian juga sistem pertanian yang sama sekali baru bagi mereka ialah seperti model irigasi yang praktis serta berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Termasuk dalam hal ini adalah penemuan gula yang masih asing bagi mereka.
Selanjutnya pada bidang militer, dunia Barat menemukan persenjataan dan teknik berperang yag belum pernah mereka temui sebelumnya, seperti penggunaan bahan-bahan peledak, teknik melatih burung merpati untuk kepentingan informasi militer dan sebagainya. Ini juga yang termasuk pengalaman baru bagi pasukan Salib.
Meskipun pasukan Salib mendapatkan keuntungan di atas, di samping kekalahannya, tetapi agaknya banyak para ilmuwan Kristen Eropa dari abad ke-12 sampai abad ke-14 yang memberikan informasi mengenai Islam dan orang-orang Islam yang memutarbalikkannya, dan mereka memberikan gambaran yang salah mengenai Islam yang memungkinkan orang-orang Kristen untuk meyakini kenggulan mereka sendiri. Dan bahkan gambaran abad pertengahan seperti itu sekarang masih ada sisa-sisanya di dalam pikiran orang-orang Eropa Barat. Termasuk dalam hal ini persepsi akan perang Salib antara umat Islam dengan orag-orang Kristen juga berbeda, di dalam masyarakat Islam, peperangan Salib itu lebih dikenal sebagai perang politik, sedangkan bagi masyarakat Kristen Eropa tetap menganggap bahwa perang Salib adalah perang agama. Mungkin karena perbedaan persepsi dan persoalan sensitifisme agama  inilah yang menjadikan hubungan antara Islam dan Barat sampai abad-abad belakangan masih belum harmonis, tetapi upaya-upaya untuk melakukan harmonisasi hubungan Barat dan Islam yang dilakukan oleh para tokoh agama dan kaum intelektual sudah mulai tampak hasilnya.[30]







BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan

Perang Salib adalah gerakan umat Kristen di Eropa yang memerangi umat Muslim di Palestina secara berulang-ulang mulai abad ke-11 sampai abad ke-13, dengan tujuan untuk merebut Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslim untuk mendirikan gereja dan kerajaan Latin di Timur. Dinamakan Perang Salib, karena setiap orang Eropa yang ikut bertempur dalam peperangan memakai tanda salib pada bahu, lencana dan panji-panji mereka.

Perang Salib terjadi tiga angkatan, semua negara Kristen mempersiapkan tentara yang lengkap persenjataannya untuk pergi berperang merebut Palestina. Dari sinilah bermula suatu penyerbuan Barat Kristen ke dunia Islam yang berjalan selama 200 tahun lamanya dari mulai 1095- 1293 M dengan 8 kali penyerbuan.

 










                                                                                                                  





DAFTAR PUSTAKA

Amin,Samsul Munir.2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:Amzah.
Qardhawi, Yusuf. 1997. Berita Kemenangan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.  
Armstrong, Karen. 2003. Islam: Sejarah Singkat.Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Sunanto, Musyrifah. 2007. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Jakarta: Kencana.
Fuadi, Imam. 2012. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Yogyakarta: Teras.
Asmuni, M. Yusran. 1996. Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran (Dirasah Islamiyah II). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Hasibuan, Ahmad Supardi. “Perang Salib dan Dampak yang Ditimbulkan”. 27 September 2015. Riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=439.























BIOGRAFI PENULIS



Nama   : Muhammad Khoirul Huda
NIM     : 2021114001
TTL     : Pekalongan, 30 Maret 1996
Alamat : Kradenan Gang 8, Kec. Pekalongan Selatan,   
                Kota Pekalongan.






Nama   : Gita Sukmawati Dewi
NIM     : 2021114101
TTL     : Pekalongan, 15 Februari 1996
Alamat : Ketitang Lor, Bojong, Kab. Pekalongan










Nama   : Nala Rizqiyati
NIM     : 2021114163
TTL     : Pekalongan 8 April 1996
Alamat : Kertijayan Gang 7 , Kab. Pekalongan


[1] Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 231
[2] Yusuf Qardhawi. Berita Kemenangan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 70
[3] Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm.231
[4] Ibid.., hlm.232
[5] Ibid.., hlm. 233
[6] Yusuf Qardhawi, Loc.Cit, 1997), hlm. 70
[7] Samsul Munir  Amin, Loc.Cit., hlm.233
[8] Ibid., hlm.234
[9] Karen Armstrong. Islam: Sejarah Singkat, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2003), hlm. 113

[10] Ibid., hlm. 114
[11] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 113-117.
[12] Samsul Munir Amin. Op.Cit, hlm.237
[13] Ibid., hlm.238
[14] Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 188
[15] Samsul Munir Amin. Op.Cit, hlm.239
[16] Ibid.,hlm. 240
[17] Musyrifah Sunanto. Op.Cit, hlm. 189
[18] Samsul Munir Amin. Loc.Cit, hlm.240
[19] M. Yusran Asmuni, Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran (Dirasah Islamiyah II), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 13.
[20] Samsul Munir Amin. Op.Cit, hlm.241
[21] Ibid., hlm.242
[22] Ibid., hlm.243
[23] Ibid., hlm.244
[24] Ibid., hlm.246
[25] Ibid., hlm.247
[26] Ibid., hlm.248
[27] Ibid., hlm.249
[28] Ibid., hlm.250
[29]Ahmad Supardi Hasibuan, “Perang Salib dan Dampak yang Ditimbulkannya”, Riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=439, diakses pada tanggal 27 September 2015.

[30] Imam Fu’adi, op. cit., hlm. 123-124.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar