Laman

Kamis, 17 November 2016

tt1 B 11b METODE DAKWAH (QS. An-Nahl ayat 125)



METODE PENDIDIKAN “UMUM”
METODE DAKWAH
(QS. An-Nahl ayat 125)


Irma Rusdiana (2021115353)
 Kelas : B

TARBIYAH/ PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat Allah SWT., atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Metode Pendidikan Umum; Metode Dakwah” guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi 1 ini tanpa halangan berarti. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW., beserta para shahabat dan keluarga serta ummat Beliau hingga akhir zaman.
Penyusunan makalah ini dapat terlaksana bukan semata-mata hasil usaha keras dari penulis saja, namun berkat do’a dan dukungan dari berbagai pihak yang terlibat di dalamnya. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih. Terutama kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku dosen pengampu, dan khususnya kepada kedua orang tua.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, dengan adanya kritik dan saran diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi bagi penulis untuk perbaikan kedepannya. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan studi keilmuan, baik bagi audience maupun diri penulis pribadi.
Amin..



Pekalongan, 7 Oktober 2016


Irma Rusdiana
(2021115353)


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR   i
DAFTAR ISI   ii
BAB I   PENDAHULUAN
A. Latar Belakang  1
B. Judul Makalah  2
C. Nash dan Terjemahan  2
D. Arti Penting Pengkajian Makalah  3
BAB II   PEMBAHASAN
A. Teori  4
B. Tafsir QS. An-Nahl ayat 125  6
C. Aplikasi Dalam Kehidupan Sehari-hari  9
D. Aspek Tarbawi  10
BAB III   PENUTUP
Simpulan  11
DAFTAR PUSTAKA   12
PROFIL PENULIS   13








BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam adalah agama dakwah artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Maju mundurnya umat Islam sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya, karena itu Al-Qur’an dalam menyebutkan kegiatan dakwah dengan Ahsanu Qaula. Tidak dapat dibayangkan apabila kegiatan dakwah mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh berbagai faktor terlebih pada era globalisasi sekarang ini, di mana berbagai informasi masuk begitu cepat dan instan yang tidak dapat dibendung lagi. Umat Islam harus dapat memilah dan menyaring informasi tersebut sehingga tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Implikasi dari pernyataan Islam sebagai agama dakwah menuntut ummatnya agar selalu menyampaikan dakwah, karena kegiatan ini merupakan aktifitas yang tidak pernah usai selama kehidupan dunia masih berlangsung dan akan terus melekat dalam situasi dan kondisi, apapun bentuk dan coraknya. Dakwah Islam adalah tugas suci yang dibebankan kepada setiap muslim di mana saja ia berada, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah Rasulullah SAW., kewajiban dakwah menyerukan, dan menyampaikan agama Islam kepada masyarakat. Agar dakwah dapat mencapai sasaran strategis jangka panjang, tentunya diperlukan suatu sistem manajerial komunikasi yang baik dalam penataan perkataan maupun perbuatan yang dalam banyak hal sangat relevan dan terkait dengan nilai-nilai keislaman, dengan adanya kondisi seperti itu bukan saja menganggap bahwa dakwah adalah frame “ammar ma’ruf nahi munkar”, hanya sekedar menyampaikan saja melainkan harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya mencari materi yang cocok, mengetahui psikologi objek dakwah secara tepat, memilih metode yang representative, menggunakan bahasa yang bijaksaan dan sebagainya.



B. Judul Makalah
Dalam kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang “Metode Dakwah” yang termaktub dalam Qur’an surat An-Nahl ayat 125. Menyesuaikan dengan tugas yang telah penulis terima.
C. Nash dan Terjemahan
1. Nash dan Arti QS. An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ .
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (16: 125)

2. Arti Mufrodat
- ادْعُ = (Serulah), hai Muhammad.
- إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ = (kepada jalan Rabb mu) yakni agamaNya.
- بِالْحِكْمَةِ = (dengan hikmah) dengan Al-Qur’an.
- وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ = (dan pelajaran yang baik) atau nasihat yang
Lembut.
- وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي = (dan bantahlah mereka dengan cara)
Bantahan.
- هِيَ أَحْسَنُ = (yang baik) seperti menyeru untuk
menyembah Allah dengan menyampaikan kepada mereka tanda-tanda kebesaranNya.
- إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ = (sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang lebih
mengetahui).
- بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ = (tentang siapa yang tersesat dari jalanNya
dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk).

D. Arti Penting Pengkajian Makalah
Pentingnya pengkajian makalah ini berkaitan dengan tafsir ayat di atas yang menerangkan temtang berbagai metode dakwah yang sesuai dengan perintah Rasulullah SAW. Di mana telah kita ketahui bahwa kewajiban berdakwah merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada seluruh umat muslim. Maka dengan mengkaji materi tersebutlah kita selaku umat muslim diharapkan dapat turut menerapkan metode-metode tersebut, baik dalam lingkup akademik yang terbatas maupun dalam kehidupan masyarakat yang jauh lebih luas.




















BAB II
PEMBAHASAN



A. Teori
1. Pengertian Metode Dakwah
Secara etimologi, metode berasal dari dua kata yaitu “meto” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara). Metode berarti cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan arti dakwah menurut beberapa pakar adalah sebagai berikut:
a. Bakhial Khauli: dakwah adalah satu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan lain.
b. Syeh Ali Mahfudz: dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari pendapat diatas dapat diambil pengertian bahwa, metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da’i (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang. Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan human oriented menempatkan penghargaan yang mulia atas diri manusia.
2. Bentuk-Bentuk Metode Dakwah
Berdasarkan surat An-Nahl ayat 125 tersebut metode dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu:
a. Al-Hikmah
Kata hikmah disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 20 kali baik dalam bentuk nakiroh maupun ma’rifat. Bentuk masdarnya adalah “hukman” yang diartikan secara makna aslinya adalah mencegah. Orang yang memiliki al-Hikmah disebut al-hakim yaitu orang yang memiliki pengetahuan yang paling utama dari segala sesuatu. Al-hikmah juga berarti pengetahuan yang dikembangkan dengan tepat sehingga menjadi sempurna. Menurut pendapat ini, al-hikmah termanifestasi ke dalam empat hal: kecakapan manajerial, kecermatan, kejernihan pikiran dan ketajaman pikiran. Sedangkan sebagai metode dakwah, al-Hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih, dan menarik perhatian orang kepada agama atau Tuhan.
Hikmah adalah bekal da’i menuju sukses. Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang mendapatkan hikmah insya Allah juga akan berimbas kepada mad’u nya, sehingga mereka termotifasi untuk mengubah diri dan mengamalkan apa yang disampaikan da’i kepada mereka.
b. Al-Mau’izhatul Hasanah
Secara bahasa terdiri dari dua kata, yaitu mau’idzah yang berasal dari wa’adza-ya’idzu-wa’adzan-‘idzatan yang berarti; nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan, dan kata kedua yaitu hasanah, merupakan kebalikan dari sayyi’ah yang artinya kebaikan lawannya kejelekan.
Mau’izhatul Hasanah dapatlah diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan positif (wasiat) yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
c. Al-Mujadalah Billati Hiya Ahsan
Kata jadala dapat bermakna menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu. Orang yang berdebat bagaikan menarik dengan ucapan untuk meyakinkan lawannya dengan menguatkan pendapatnya melalui argumentasi yang disampaikan.
Dari segi terminologi terdapat beberapa pengertian. Al-Mujadalah (al-Hiwar) berarti upaya tukar menukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara keduanya. Sedangkan menurut Dr. Sayyid Muhammad Thantawi ialah, suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat.
3. Sumber Metode Dakwah
a. Al-Qur’an
b. Sunnah Rasul
c. Sejarah hidup para Sahabat dan Fuqaha
d. Pengalaman.

4. Aplikasi Metode Dakwah Rasulullah
a. Pendekatan personal; antara da’i dan mad’u langsung bertatap muka sehingga materi yang disampaikan langsung diterima dan biasanya reeaksi yang ditimbulkan oleh mad’u akan langsung diketahui.
b. Pendekatan pendidikan; pendekatan ini teraplikasi dalam lembaga-lembaga pendidikan pesantren, yayasan yang bercorak Islam ataupun perguruan tinggi yang di dalamnya terdapat materi-materi keislaman.
c. Pendekatan diskusi; da’i berperan sebagai narasumber sedangkan mad’u sebagai audience. Tujuan dari diskusi ini adalah membahas dan menemukan pemecahan semua problematika yang ada kaitannya dengan dakwah sehingga apa yang menjadi permasalahan dapat ditemukan jalan keluarnya.
d. Pendekatan penawaran; Nabi mengajak untuk beriman kepada Allah tanpa menyekutukanNya dengan yang lain. Cara ini dilakukan Nabi dengan metode yang tepat tanpa paksaan sehingga mad’u ketika meresponnya tidak dengan keadaan tertekan. Cara ini pun harus dilakukan oleh da’i dalam mengajak mad’unya.
e. Pendekatan misi; pengiriman tenaga para da’i ke daerah-daerah di luar tempat domisili.
B. Tafsir QS. An-Nahl Ayat 125
1. Tafsir Al-Maraghi
Allah Ta’ala menguraikan apa yang harus diikuti oleh Rasulullah saw. dalam mengikuti Ibrahim yang diperintahkan kepada beliau:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَن
Hai Rasul, serulah orang-orang yang kamu utus kepada mereka dengan cara: menyeru kepada syari’at yang telah digariskan Allah bagi makhluk-Nya, melalui wahyu yang diberikan kepadamu; dan memberi mereka pelajaran dan peringatan yang diletakkan di dalam Kitab- Nya sebagai hujjah atas mereka, serta selalu diingatkan kepada mereka, seperti diulang-ulang dalam surat ini. Dan bantahlah mereka dengan perbantahan yang lebih baik daripada bantahan lainnya, seperti memberi maaf kepada mereka jika mereka mengotori kehormatanmu, serta bersikaplah lemah-lembut terhadap mereka dengan menyampaikan kata-kata yang baik, sebagaiman firman Allah di dalam ayat lain:
مِنْهُمْ ظَلَمُوا الَّذِينَ إلاَّ  أحْسَنُهِيَ بِالَّتِي إلاَّ لْكِتَابِا أَهْلَ تُجَادِلُوا وَلَا
Artinya: Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang baik, kecuali kepada orang orang yang dzalim di antara mereka. (Al-Ankabut: 46)
Dan firman Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika diutus kepada Fir’aun:
يَخْشَى يَتَذَكَّرُ أَوْ لَّعَلَّهُ لَّيِّنًا قَوْلًا لَهُ فَقُولَا
Artinya: “Maka berbiacaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (kepada Allah)”. (QS. Thaha :44)
 Kemudian Allah mengancam dengan berjanji:
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya Tuhanmu, hai Rasul, lebih mengetahui tentang orang-orang yang berselisih tentang hari sabtu dan lainnya, serta lebih mengetahui tentang siapa di antara mereka yang menempuh jalan lurus dan benar. Dia akan memberi balasan kepada mereka semua, ketika mereka kembali kepada-Nya, sesuai dengan hak mereka masing-masing.
Singkatnya, gunakan metode terbaik di dalam berdakwah dan berdebat, yaitu dengan cara yang terbaik. Itulah kewajibanmu. Adapun pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan atas keduanya, diserahkan kepada-Nya semata, bukan kepada selain-Nya. Sebab, Dia lebih mengetahui tentang keadaan orang yang tidak mau meninggalkan kesesatan karena ikhtiarnya yang buruk, dan tentang ketaatan orang yang mengikuti petunjuk karena ia mempunyai kesiapan yang baik. Apa yang digariskan Allah untukmu di dalam berdakwah, itulah yang dituntut oleh hikmah, dan itu telah cukup untuk memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta menghilangkan udzur orang-orang yang sesat.
2. Tafsir Al-azhar
Ayat ini adalah mengandung ajakan kepada Rasul saw. tentang  cara melancarkan da’wah, atau seruan terhadap manusia agar mereka berjalan di atas jalan Allah (Sabilillah). Sabilillah, atau Shirathal Mustaqim, atau Ad-Dinul Haqqu, agama yang benar. Nabi saw. memegang tampuk kepemimpinan dalam melakukan dakwah hendaklah memakai tiga macam cara atua tiga tingkat cara. Pertama, Hikmah (kebijaksanaan), yaitu dengan secara bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang dan hati yang bersih menarik perhatian orang kepada agama, atau kepada kepercayaan terhadap kepercayaan Tuhan. Contoh-contoh kebijaksanaan itu selalu  pula ditunjukkan Tuhan.
Yang kedua ialah Al-Mau’izhatul Hasanah, yang kita artikan pengajaran yang baik, atau pesan-pesan yang baik, yang disampakan sebagai nasihat. Sebagai pendidikan dan tuntunan sejak kecil. Sebab itu termasuklah kedalam bidang “Al-Mau’izhatul Hasanah”, pendidikan ayah-bunda dalam rumah-tangga kepada anak-anaknya, yang menunjukkan contoh beragama di hadapan anak-anaknya, sehingga menjadi kehidupan mereka pula. Termasuk juga pendidikan dan pengajaran dalam perguruan-perguruan.
Yang ketiga ialah “Jadilhum billati hiya ahsan”, bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Kalau terpaksa timbul perbantahan atau pertukaran fikiran, yang di zaman kita ini sudah tidak dapat dielakkan lagi, pilihlah jalan yang sebaik-baiknya. Diantaranya ialah memperbedakkan pokok soal yang tengah dibicarakan dengan perasaan benci atau sayang kepada pribadi orang yang tengah diajak berbantah. Misalnya seseorang yang masih kufur, belum mengerti ajaran Islam, lalu dengan sesuka hatinya saja mengeluarkan celaan kepada Islam, karena bodohnya. Orang ini wajib dibantah dengan jalan yang sebaik-baiknya, disadarkan dan diajak kepada jalan fikiran yang benar, sehingga dia menerima. Tetapi kalau terlebih dahulu hatinya disakitkan, karena cara kita membantah yang salah, mungkin dia enggan menerima kebenaran, meskipun hati kecilnya mengakui, karena hatinya telah disakitkan. Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa dalam hal agama sekali-kali tidak ada paksaan (Al-Baqarah ayat 256). Dan diujung ayat ini dengan tegas Allah mengatakan bahwa urusan memberi orang petunjuk atau menyesatkan orang, adalah hak Allah sendiri.
3. Tafsir Ibnu Katsir
Allah berfirman menyuruh Rasul-Nya berseru kepada manusia mengajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah kebijaksanaan dan nasihat serta anjuran yan baik. Dan jika orang-orang itu mengajak berdebat, maka bantahlah mereka dengan cara yang baik. Allah lebih mengetahui siapa yang durhaka tersesat dari jalanNya dan siapa yang bahagia berada di dalam jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh Alah. Maka janganlah menjadi kecil hatimu, hai Muhammad, bila ada orang-orang yang tidak mau mengikutimu dan tetap berada dalam jalan yang sesat. Tugasmu hanyalah menyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah kepadamu dan memberi peringatan kepada mereka, sedang Allah lah yang akan menentukan dan memberi petunjuk, serta Dia-lah yang akan memminta pertanggungjawaban hamba-hambaNya kelak di hari kiamat.
4. Tafsir Al-Mishbah
Ayat ini menyatakan: Wahai Nabi Muhammad, serulah, yakni lanjutan usahamu untuk menyeru semua yang engkau sanggup seru kepada jalan yang ditunjukkan Tuhanmu, yakni ajaran Islam dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka, yakni siapapun yang menolak atau meragukan ajaran Islam dengan cara yang terbaik. Itulah tiga cara berdakwah yang hendaknya engkau tempuh menghadapi menusia yang beraneka ragam peringkat dan kecenderungannya; jangan hiraukan cemoohan, atau tuduhan-tuduhan tidak berdasar kaum musyrikin dan serahkan urusanmu dan urusan mereka pada Allah, karena sesungguhnya Tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu. Dialah sendiri yang lebih mengetahui dari siapapun yang menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalanNya dan Dialah saja juga yang lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk.
Penyebutan urutan ketiga macam metode itu sungguh serasi. Ia dimulai dengan hikmah yang dapat disampaikan tanpa syarat, disusul dengan mau’idzah dengan syarat hasanah, karena memang ia hanya tediri dari satu macam, dan yang ketiga adalah jidal yang dapat terdiri dari tiga macam buruk, baik dan terbaik, sedang yang dianjurkan adalah yang terbaik.
C. Aplikasi Dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebagai diketahui, aktifitas dakwah pada awalnya hanyalah merupakan tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang diterima dari Rasulullah SAW., walaupun hanya satu ayat. Inilah yang membuat kegiatan atau aktifitas dakwah boleh dan harus dilakukan oleh siapa saja yang mempunyai rasa keterpanggilan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Itu sebabnya aktifitas dakwah memang harus berangkat dari kesadaran pribadi yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat melakukan dakwah tersebut.
Dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas. Dakwah harus tampil secara aktual; dalam arti memecahkan masalah yang kekinian dan hangat di tengah masyarakat, faktual; dalam arti konkret dan nyata, serta kontekstual; dalam arti relevan dan menyangkut problema yang sedang dihadapi oleh masyarakat.
Kebebasan sangat dijamin dalam Islam, termasuk kebebasan meyakini agama. Objek dakwah harus merasa bebas sama sekali dari ancaman, harus benar-benar yakin bahwa kebenaran ini hasil penilaiannya sendiri. Jelas dakwah tidak bersifat memaksa. Dakwah adalah ajakan yang tujuannya dapat tercapai hanya dengan persetujuan tanpa paksaan dari objek dakwah.
D. Aspek Tarbawi
1. Dakwah Islam adalah tugas suci yang dibebankan kepada setiap muslim di mana saja ia berada, karena kegiatan ini merupakan aktifitas yang tidak pernah usai selama kehidupan dunia masih berlangsung dan akan terus melekat dalam situasi dan kondisi, apapun bentuk dan coraknya.
2. Maju mundurnya umat Islam sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukan.
3. Dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas, yaitu dengan ditampilkan secara aktual, faktual, serta kontekstual.
4. Kewajiban kita adalah menggunakan metode terbaik di dalam berdakwah dan berdebat. Adapun pemberian petunjuk dan penyesatan, serta pembalasan atas keduanya, diserahkan kepada Allah semata.





BAB II
PENUTUP


Simpulan
Dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Bentuk-bentuk metode dakwah yang tertuang dalam QS. An-Nahl ayat 125 ada tiga yaitu; al-Hikmah (akal budi mulia), al-Mau’idzah hasanah (bimbingan/ pengajaran yang mengandung kebaikan) dan Al-Mujadalah Billati Hiya Ahsan (membantah pendapat lawan dengan cara yang baik).
Kegiatan dakwah boleh dan harus dilakukan oleh siapa saja yang mempunyai rasa keterpanggilan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam sebab aktifitas dakwah memang harus berangkat dari kesadaran pribadi. Cara penyampaiannya haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas agar menarik perhatian orang kepada agama Allah. Serta menjamin kebebasan pada objek dakwah, yaitu dengan tidak menggunakan unsur ancaman dan paksaan agar tujuan kebenaran ini berasal dari hasil penilaiannya sendiri.














DAFTAR PUSTAKA


Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. 1990. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sinar Baru.


Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1992. Terjemah Tafsir Al-Maraghi juz14. Semarang: Toha Putra.


Bahreisy, H. Salim dan H. Said Bahreisy. 1988. Terjmahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 4. Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset.


Hamka. 1983. Tafsir Al-Azhar Juz Ke13-14. Jakarta: Pustaka Panjimas.


M. Munir. 2009. Metode Dakwah. Jakarta: Kencana.


Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati.

















PROFIL PENULIS



            



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar