Laman

Jumat, 07 Oktober 2016

tt1 B 6d (Merubah Keadaan) : Q.S 13. Ar-ra’d ayat: 11



 TUJUAN PENDIDIKAN KHUSUS
(Merubah Keadaan) : Q.S 13. Ar-ra’d ayat: 11

Mega Pradipta  (2021115239)
 Kelas B

PRODI PAI / JURUSAN TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2016


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil ‘Alamiin
Segala  puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan Rahmat,Nikmat dan hidayah-Nya kepada hamba-Nya.Salah satunya adalah nikmat yang diberikan kepada penulis yaitu bimbingan,petunjuk dan kemudahan dalam menyusun makalah sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tanpa suatu halangan apapun.
Sholawat serta salam juga tidak lupa penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW,begitu pula kepada keluarganya serta para sahabatnya.Tak lupa juga penulis ucapkan terimakasih kepada kedua orang tua yang telah mendo’akan.Disamping itu,penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas serta teman-teman semua ,sehingga tersusunlah makalah ini yang berjudul “Tujuan Pendidikan Khusus” dengan sub pembahasan”Merubah Keadaan”.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari segi teknik penulisan maupun dari segi materi yang perlu diperbaiki.Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk memperbaiki makalah ini dimasa mendatang.



Pekalongan,27 September
                                                                               Penulis,






BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
Manusia senantiasa dijaga oleh malaikat.  Amal manusia dicatat oleh malaikat yang menyertainya, Raqib dan Atid. Karena semua amal manusia dicatat oleh malaikat dan manusia diberi pilihan, maka ketika seseorang atau masyarakat berada dalam kondisi buruk, mereka diperintahkan untuk melakukan perubahan. Begitu pula sebaliknya, kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. akan berganti menjadi malapetaka jika mereka mengubahnya. Perubahan yang terjadi diinformasikan oleh Allah Swt. hanya akan terjadi jika dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, baik ke arah baik maupun ke arah buruk. Ketika suatu masyarakat hendak berubah maka masyarakat itu sendirilah yang harus memperjuangkan dan melakukan perubahan, bukan yang lain.
Jika suatu masyarakat hendak mengubah sistem ekonomi kapitalis menjadi ekonomi Islam haruslah dilakukan perubahan pemahaman dalam diri mereka tentang kebobrokan ekonomi kapitalis sekaligus pemahaman tentang kewajiban menerapkan ekonomi Islam dan pemahaman tentang apa dan bagaimana sistem ekonomi Islam. Demikian juga untuk mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam;  pemahaman jahiliah yang berkaitan dengan pemikiran, perasaan, dan sistem aturan sebagai pembentuk masyarakat harus diubah dan diganti menjadi pemahaman yang berdasarkan Islam. 

B.       Judul
Judul yang akan saya bahas kali ini adalah tentang tujuanpendidikankhusus“Merubah Keadaan”.


C.      Nash
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَال
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”Q.S ar’rad 13 :11”

Dalam ayat yang mulia ini terkandung penjelasan, bahwasanya semua perkara di seluruh dunia ini terjadi dengan taqdir dan perintah-Nya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan sunnah- sunnah kauniyah dan syari’at dalam merubah nasib suatu kaum. Sehingga umat yang menjalankan sunnah-sunnah kauniyah dan syari’at untuk kejayaan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala merubahnya menjadi jaya. Demikian juga sebaliknya, apabila mereka menjalankan sunnah-sunnah Allah untuk kerendahan dan kehinaan, maka Allah menjadikan mereka hina dan rendah. Hal ini telah terjadi pada umat-umat terdahulu, yang semestinya menjadi pelajaran bagi umat manusia pada zaman sesudahnya.

D.    ArtiPentinguntukDikaji
Ayatinipentingdikajikarenabanyak aspek-aspek kehidupan baik aspek berbau agama Islam maupun non-Islam menjadikan ayat ini sebagai motif dan motivasi hidup.Selainitu, ayattersebutdapat dikonsepkan mengenai dua hal yakni konsep Ikhtiar (usaha) dan Doa(Tawakal). Suatu perbuatan yang dilakukan oleh individu pasti mempunyai tujuan yakni mencapai kebahagiaan lahir batin.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori
Kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepada suatu masyarakat, bisa saja hilang dan berubah menjadi adzab apabila masyarakatnya berbuat durhaka dan maksiyat kepada Allah. Begitupun sebaliknya, keadaan yang buruk yang menimpa masyarakat akan berubah menjadi menyenangkan dan penuh nikmat apabila masyarakatnya berlaku takwa dan beramal sholeh.
Tuhan tidak akan merubah keadaan mereka, selama mereka tidak merubah sebab-sebab kemunduran mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaumseperti penyakit, kemiskinan, dan musibah lain yang di sebabkan oleh ulah mereka sendiri, maka tidak ada seorangpun yang dapat melindungi mereka daripadanya, tidak pula menolak apa yang di takdirkan Allah pada mereka.[1]
Perubahankeadaanmasyarakat daripositifkenegative ataupunsebaliknyatersebutsudahmenjadisunnatullah. Allah telahmembuataturan-aturanbakudi alamini, siapapun yang dapatmenjalankanaturan-aturannyainimakaiatelahberhasilmerengkuhsunnatullah.
Di samping itu, bukan hanya mereka sendiri yang harus melakukan perubahan, apa yang harus diubah pun dijelaskan dalam ayat ini. Allah Yang Mahatahu menegaskan bahwa yang harus diubah itu adalah segala sesuatu yang terkait dengan apa yang hendak diubah tersebut dan yang meniscayakan terjadinya perubahan. Pangkal dari semua itu adalah pemahaman (mafâhim).  Artinya, untuk mengubah suatu keadaan harus dilakukan perubahan mafâhim. 
Firman Allah Ta’ala, “sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata: Allah mewahyukan kepada salah seorang nabi Bani Israel : katakanlah kepada kaummu “ tidaklah penduduk suatu negri dan tidaklah penduduk suatu rumah yang berada dalam ketaatan kepa Allah, kemudian mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap Allah, melainkan Allah mengalihkan dari mereka apa yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci”. Kemudian Ibrahim berkata : pembenaran atas pernyataan itu terdapat dalam kitab Allah, “ sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”[2]

B.       Tafsir
1.    Tafsir  Al Qhurtubi
Abu Muljam berkata, “suatu ketika seorang lelaki datang dari murtad menemui Ali RA, lalu berkata, “ berhati hatilah, beberapa orang dari murtad bermaksud membunuhmu”.  Ali RA berkata, “sesungguhnya bersama setiap manusia ada dua manusia yang menjaganya, selama belum datang takdir. Jika takdir datang, malaikat itu berlalu meninggalkan manusia tersebut bersama Allah SWT. Sesungguhnya ajal adalah benteng penjaga yang kuat.”[3]
2.    Tafsir Al Misbah
Masing-masing ada baginya pengikut pengikut, yakni malaikat-malaikat atau makhluk yang selalu mengikutinya secara bergilirandi hadapannya dan juga di belakangnya, mereka, yakni malaikat itu menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum dari positif ke negatif atau sebaliknya dari negatif ke positif sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka,yakni sikap mental dan pikiran mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum,tetapi ingat bahwa dia tidak menghendakinya kecuali jika manusia tidak mengubah sikapnya terlebih dahulu. Jika Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka ketika itu berlakulah ketentuan-Nya yang berdasar sunatullah atau hukum-hukum kemasyarakatan yang di tetapkan-Nya. Bila itu terjadi, maka tak ada yang dapat menolaknyadan pastilah sunatullah menimpanya; dan sekali kali tidak ada pelindung bagi mereka yang jatuh atas ketentuan tersebut selain Dia.[4]
3.    Tafsir al azhar
Terdapat bunyi wahyu bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau tidak kaum itu sendiri yang merubah nasibnya sendiri.. disitu terdapat ikhtiar manusia dan ikhtiar itu terasa sendiri oleh masing masing pada diri kita. Kekayaan jiwa yang terpendam dalam batin kita, tidaklah akan menyatakan dirinya keluar kalu kita sendiri tidak berikhtiar dan berusaha. Kekhilafan kita mengambil jalan yang salah, menyebabkan kita dapat saja terperosok kedalam jurang malapetaka. Ibarat seorang pengemudi mobil yang tidak berhati-hati pada tikungan yang berbahaya, lalu mobilnya terjungkir masuk jurang. Maaka terjungkirnya masuk jurang itu tidak dapat ditahan tahan lagi. Kita harusnberusaha sendiri merubah nasib yang lebih baik, mempertinggi mutu diri dan mutu amal, melepaskan diri dari perbudakan dari yang selain Allah kita harus berusaha mencapai kehidupan yang lebih bahagia dan lebih maju. Tetapi kitapun mesti insaf bahwa kita sebagai insan tenaga kita sangat terbatas. Kita terikat oleh ruang yang sempit dan terkurung oleh waktu yang pendek. Disamping usaha yang kita kerjakan menurut kesanggupan dan dan takdir kita kita harus insaf bahwa ada takdir lain di alam ini, yang dijadikan tuhan kadang kadang beremu, dan kadang kadang bertentangab dengan apa yang kita kehendaki.[5]

C.      Aplikasi dalam kehidupan
Aplikasitentang ayat ayat di atas juga sangat mudah di jumpai, karena model kehidupan masyarakat yang sudah cukup jauh dari pada islam, sehingga banyak kasus kasus yang muncul di masyarakat. Masyarakat sekarang sudah tidak lagi memperhatikan asupan akal (ilmunya), masyarakat lebih suka mencari kemudahan kemudan dan cenderung malas. Sehingga intisari yang terkandung dalam ayat ayat di atas serasa menjadi sia sia. Bahwasanya manusai di muliakan dalam aspek akalnya, mau belajar dan mengembangkan diri.
Sedangkan yang terjadi sekarang sudah jelas, pola pikir masyarakat masih rendah, terutama pada aspek pentingnya menuntut ilmu, terutama pada ilmu agama. Sehingga kehidupan menjadi timpang akibat masyarakat tidak memahami islam baik dari segi hukum/aturan, pendididkan, ekonomi, politik, ibadah bahkan sampai ke level tata negara, islam sangatlah kompleks.

D.      Aspek Tarbawi
1.      Bahwasanya kita selalu diawasi oleh para malaikat yang selalu mencatat segala amal perbuatan kita, jika itu perbuatan buruk, maka baru akan dicatat ketika tindakan itu telah dilakukan, tapi kalau amal kebaikan, baru berniat saja, sudah dicatat sebagai amal kebaikan.
2.      Menyinggung tentang tawakal, bahwasanya tawakal itu dilakukan setelah kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu. tatkala kita sudah berjuang semaksimal mungkin baru kita tawakal, apapun yang terjadi, itulah hal terbaik menurut Allah, ingat, apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah, dan hal yang buruk menurut kita, mungkin saja adalah hal yang baik menurut Allah.
3.      Pelindung kita di dunia ini adalah Allah, adapun bahwasanya, kalau kita pakai kendaraan, kita pakai helm, itulah wasilah, sebuah jalan agar kita diselamatkan, tetapi bukan helm yang menyelamatkan kita, tetapi Allah.






BAB III
KESIMPULAN

Manusia terlahir sebagai mahluk sosial, yang saling ketergantungan dengan manusia yang lain, manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia di pandangan Allah semua sama, hanya tingkat ketaqwaannya lah yang membedakannya. Maka dari itu berbaik-baiklah dalam bermasyarakat.
Tuhan tidak akan merubah keadaan mereka, selama mereka tidak merubah sebab-sebab kemunduran mereka.Perubahankeadaanmasyarakat daripositifkenegative ataupunsebaliknyatersebutsudahmenjadisunnatullah.Selaiitu, bukan hanya mereka sendiri yang harus melakukan perubahan,akantetapisesuatu yang terkait dengan apa yang hendak diubah tersebut dan yang meniscayakan terjadinya perubahan.


















DAFTAR PUSTAKA

Al Maragi,Ahmad Mustofa.1994.  Tafsir Al Maragi. Semarang: PT karya toha.

Ar Rifai, Muhammad Nasib. 1999. Tafsir Ibnu Katsir.  Jakarta: Gema Insani Press.

Hamka. 1983. tafsir al azhar. jakarta: Pustaka Panjimas.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al Misbah. Jakarta: Lentera Hati.

Ustman, Muhammad Hamid. 2008. Tasir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam.



















[1]Ahmad Mustofa Al Maragi, Tafsir Al Maragi, (Semarang : PT Karya Toha, 1994), hal. 144
2 Muhammad Nasib Ar Rifai, Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), hal.906
3 Muhammad Hamid Ustman, Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2008), hal.681-682
4 M. Quraish shihab, Tafsir Al Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hal.565
5 Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1983),hal.73

BIODATA DIRI



Nama                              :   MEGA PRADIPTA
Tempat, tanggal lahir      :   Batang, 6 April 1997
Alamat                            :   Bandar, Kec. Bandar Kab.  Batang
RiwayatPendidikan        :  
1.      SD Negeri Bandar 03
2.      SMP Negeri 01 Bandar
3.      SMA Negeri 01 Bandar







[1]Ahmad Mustofa Al Maragi, Tafsir Al Maragi, (Semarang : PT Karya Toha, 1994), hal. 144
[2]Muhammad Nasib Ar Rifai, Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), hal.906
[3]Muhammad Hamid Ustman, Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2008), hal.681-682
[4]M. Quraish shihab, Tafsir Al Misbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), hal.565
[5]Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta : Pustaka Panjimas, 1983),hal.73

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar