Laman

new post

zzz

Jumat, 22 Maret 2019

UQ E 6D HERMENEUTIKA AL-QUR’AN


HERMENEUTIKA AL-QUR’AN
Nur Maszidah
NIM. 2318117 
KELAS: E

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
IAIN PEKALONGAN
2019



KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis atas kehadirat Allah swt yang telah senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hermeneutika Al-qur’an” sesuai harapan. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, yang kita nantikan syafa’atnya di yaumil akhiraamiin.
Ucapan terimakasih kami tujukan kepada Bapak Muhammad Hufron,M.Si, selaku dosen mata kuliah Ulumul Qur’an atas tugas yang telah diberikan sehingga menambah wawasan penulis tentang Hermeneutika Al-qur’an. Serta kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini.
            Makalah ini tentu tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis dengan terbuka menerima saran dan kritik yang membangun dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini dapatmendatangkanmanfaatyaituberupailmu serta dapat membuka wawasan yang luas bagi mahasiswa. Amin yaa robbal ‘alamin.


                                                                                    Pekalongan, 21 Mare 2019
Penulis









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................      i
DAFTAR ISI..............................................................................................      ii

BABI       PENDAHULUAN.....................................................................      1
A.    Latar Belakang Masalah........................................................      1
B.     Rumusan Masalah..................................................................      1
C.     Tujuan Pembahasan............................................................. 2
D.    Metode Pemecahan Masalah.................................................      2
E.     Sitematika Penulisan Makalah...............................................      2

BAB II    PEMBAHASAN........................................................................      3
A.    Pengertian Hermeneutika......................................................      3
B.     Sejarah Singkat Hermeneutika..............................................      4
C.     Aliran-aliran Hermeneutika Al-qur’an ............................ ......     4
D.    Perbandingan hermeneutika dengan tafsir............................      5
E.     Kontra hermeneutika Al-qur’an.............................................      6      

BABIII    PENUTUP.................................................................................      9
A.    Simpulan................................................................................      9
B.     Saran .....................................................................................      9

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................      11
BIODATA PENULIS................................................................................      12



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LatarBelakangMasalah
Akhir-akhir ini di kalangan kaum muslimin terutama kaum modernis telah banyak memanfaatkan Hermeneutika sebagai salah satu instrumen untuk menggali isi dan kandungan al Quran. Dewasa ini, muncul upaya-upaya untuk mengaplikasikan hermeneutika sebagai metode tafsir al-Quran menggantikan metode yang telah dirumuskan oleh para ulama. Namun tentu saja, ide tersebut harus ditelaah dan dikritisi.
Penggunaan hermeneutika dalam dunia penafsiran al Quran adalah hal baru yang belum pernah dilakukan oleh para mufassir terdahulu. Dalam tradisi keilmuwan Islam telah dikenal ilmu tafsir yang berfungsi untuk menafsirkan al Quran, sehingga ilmu ini dianggap telah mapan dalam bidangnya. Dari segi epistemologi dan metodologi ilmu ini telah diakui mampu mengembankan tugasnya untuk menggali kandungan al Quran.
Penggunaan Hermeneutika dalam penafsiran ayat-ayat al Quran mendapat tanggapan yang beragam dari para ulama dan cendekiawan muslim. Ada yang menyetujuinya dan ada pula yang menolaknya. Para filosof muslim tidak menelan mentah-mentah filsafat Aristoteles atau Plato, akan tetapi mengkritisi bahkan memodifikasinya. Bagi mereka yang menerima selama itu sesuai dengan akidah dan syariat Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian hermenrutika?
2.      Bagaimna sejarah hermeneutika?
3.      Apa saja aliran-aliran hermeneutika Al-qur’an?
4.      Apa perbedaan hermeneutika dan tafsir Al-qur’an?

C.    Tujuan pembahasan

Setelah mengetahui rumusan masalah, dapat diketahui tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui arti hermeneutika
2.      Untuk mengetahui sejarah singkat hermeneutik
3.      Untuk mengenal lebih jauh tentang hermeneutika Al-qur’an

D.  Metode Pemecahan Masalah
       Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

D.    Sitematika Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan pembahasan, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Hermeneutika
Secara etimologis, kata hermeneutika (hermeneutic) berasal dari kata Yunani, hermeneuein, yang berarti menerjemahkan atau menafsirkan.[1] Istilah tersebut merujuk pada seseorang tokoh mitologis yang disebut Hermes, yaitu seseorang utusan dewa yang bertugas menerjemahkan pesan Yupiter yang menggunakan bahasa langit agar lebih mudah dipahami oleh manusia yang menggunakan bahasa bumi.[2] Adapun secara terminologis, istilah hermeneutika dapat di definisikan sebagai tiga hal,
1.      Mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata,menerjemahkan, dan bertindak sebagai penafsir.
2.      Usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh sipembaca.
3.      Pemindahan ungkapan pikiran yang kurang jelas, diubah kedalam bentuk ungkapan yang lebih jelas.
Secara ringkas, hermeneutika ini bisa diartikan sebagai proses mengubah suatu situasi ketidaktahuan menjadi tahu dan menerti.[3]
Istilah hermeneutika dalam pemikiran Islam, pertama-tama diperkenalkan oleh Hasan Hanafi dalam karyanya yang berjudul Les Methodes d’exegese, Essai sur La Science des Fordements de la Comprehension, Ilmu Ushul Fikih (1965), sekalipun tradisi hermeneutik telah dikenal luas dalam berbagai bidang ilmu-ilmu islam traisional,terutama tadisi ushul fiqih dan tafsir Al-qur’an. Rintisan Hasan Hanafi ini kemudian mendapat respon dan dilanjutkan oleh pemikir-pemikir Muslim Kontemporer lainya seperti Nasr Hamid Abu Zayd dengan Mafhum al-Nashnya.[4]

B.     Sejarah Singkat Hermeneutika
Pada awalnya hermeneutika digunakan oleh kalangan agamawan. Melihat hermeneutika dapat menyuguhkan makna alam teks kelasik, maka pada abad ke-17 kalangan gereja menerapkan telaah hermeneutis untuk membongkar makna teks injil, ketika menemukan kesulitan dalam memahami bahasa dan pesan kitab suci itu, mereka berkesimpulan bahawa kesulitan itu akan terpecahkan oleh hermeneutika.Fakta ini dinisbatkan sebagai langkah awal pertumbuhan hermeneutika menjadi sebuah gerakan interpretasi atau eksegesis diawal perkembangannya.
Memasuki abad ke-20 kajian hermeneutika semakin berkembang.sebagai metode interpretasi, hermeneutika sangat besar pengaruhnya, artinya bagi keilmuan dan bisa diadopsi oleh semua kalangan. Selanjutnya hingga abad ke-20 paling tidak hermeneutika dapat dipilih dalam tiga kategori, yakni filsafat, kritik, dan teori.[5]

C.    Aliran-aliran Hermeneutika Al-qur’an
Meski secara terminilogis metode hermeneutika al-Qur’an tergolong baru dalam hasanah tafsir, namun sampai saat ini ilmu yang dalam perkembangannya menjadi bagian dari kajian filsafat ini telah mengalami perkembangan signifikan ditangan para hermeneut muslim kontemporer. Berbagai metode telah tersajikan untuk menyempurnakankerangka metodologis ilmu-ilmu al-Qur’an. Pengelompokan aliran-aliran hermeneutik dalam kesarjanaan muslim juga telah terpetakan. Dalam hal ini Sahiron Syamsuddin memetakan aliran hermeneutika al-Qur’an menjadi tiga kelompok:
1.      Quasi obyektivis tradisionalis, yakni suatu pandangan bahwa al-Qur’an harus dipahami, ditafsirkan serta diaplikasikan pada masa kini, sebagaimana ia juga telah dipahami, ditafsirkan dan diaplikasikan pada situasi di mana al-Qur’an diturunkan pada Nabi Muhammad.
2.      Quasi obyektivis modernis, aliran ini juga memandang penting terhadap original meaning (makna asal), namun bagi kelompok ini, makna asal tersebut hanya sebagai pijakan awal untuk melakukan pembacaan terhadap al-Qur’an dimasa kini. Makna asal literatur al-qur’an  tidak lagi dipandang pesan utama al-Qur’an.
3.      Aliran subyektivis, yaitu aliran yang meyakini langkah penafsiran sepenuhnya merupakan subyektivitas penafsir. Karena itu setiap generasi berhak menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan[6]

D.    Mengenal Hermeneutika dan Tafsir Al-qur’an
Di kalangan umat islam, penafsiran terhadap kitab suci al-Qur’an telah berjalan sejak ayat al-Qur’an turun pada nabi Muhammad SAW , nabi sendiri telah menafsirkan beberapa ayat al-Qur’an. Tafsir al-Qur’an yang langsung dilakukan oleh nabi adalah tafsir bil-manqu. Dalam perkembangan selanjutnya para ulama menyusun sebuah disiplin untuk penafsiran terhadap  al-Qur’an, yakni ulum al-tafsir. Akan tetapi, menurut kami ulum al-tafsir tidak dapat diidentikkan dengan  hermeneutika. Mungkin secara bahasa ada kesamaan artinya hermeneutika itu sebenarnya berarti penafsiran. Hanya sebatas makna lafdziyah ini dapat di terima. Akan tetapi jika yang dikehendaki dengan istilah penafsiran sebagai satu sistem metodologi penafsiran kitab suci, jelas tidak identik. Sebagai sebuah sistem ulum al-tafsir atau ulum al-Qur’an terdiri dari unit-unit bahasan yang mana satu dengan yang lain saling berhubungan. Di antara unit-unit itu adalah :
1.      Kaidah memahami al-Qur’an, kaidah ini membahas shorof dan nahwu.
2.      Ayat muhkamat dan mutasyabihat.
3.      Nasakh : nasih dan mansuh.
4.      Bahasan mengenai manthuq dan mafhum.
5.      Bahasan mengenai mafatih al-suwar.
6.      Dan lain-lain.
Item-item di atas merupakan bagian yang menjadi bahasan dalam ulum al- tafsir atau ilmu untuk menafsirkan al-Qur’an. Dari tema-tema atau item-item bahasan tersebut menjelaskan kepada kita, bahwa, pertama, ulum al-tafsir memiliki otonom yang mandiri dan berbeda dari hemeneutika. kedua, sebagai suatu disiplin untuk menafsirkan kitab suci, ulum al-tafsir tidak terpengaruh hermeneutika, dalam sisi tata bahasa atau nahwu, secara umum, artinya tidak saja berlaku untuk menafasirkan al-Qur’an tetapi juga untuk teks yang berbahasa Arab, sastra arab mempunyai otonom sendiri.
Tidak hanya itu, aspek kontekstualisasi juga tidak lepas dari perhatian beberapa pengkaji al-Qur’an periode klasik. Kajian  terhadap konsep maslahah atau maqasid al-syar’iyah bisa dimasukkan dalam ranah ini. Maqasid al-syar’iyah dimaksudkan bahwa setiap hasil penafsiran atau produk ijtihad bener-benar mampu membawa kebaikan umat. Kitab-kitab ushul fiqh karya sarjana muslim klasik telah memberikan porsi yang cukup signifikan mengenai hal ini.[7]
E.     Argumen Kontra Hermeneutika
E.Ada  beberapa problematika yang perlu  dijadikan pertimbangan ketika menjadikan hermeneutika diaplikasikan sebagai tafsir Al-Qur’an dan inilah yang menjadi argumen bagi yang kontra hermeneutika, yakni:
1.      Hermeneutika berlandaskan pada pedoman bahwa segala penafsiran al-Quran itu relatif. Padahal, fakta menunjukkan bahwa para mufasir sepanjang masa tetap memiliki pedoman-pedoman pokok dalam menafsirkan al-Quran
2.      Para ahli hermeneutika berpendapat bahwa mufasir bisa lebih mengerti lebih baik daripada pengarang, mustahil dapat terjadi dalam al-Quran. Tidak pernah ada seorang mufassir al-Qur’an yang mengklaim bahwa ia lebih mengerti dari pencipta atau pengarang al-Quran, yaitu Allah SAW
3.      Konsep hermeneutika yang berpedoman bahwa interpretasi teks yang berdasarkan doktrin dan bacaan yang dogmatis harus ditinggalkan dan dihilangkan (deabsolutisasi) juga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Umat Islam meyakini bahwa al-Quran adalah sebuah mukjizat dan berbeda dengan teks-teks biasa. Doktrin kebenaran al-Quran semuanya bersumber kepada Allah dan menjadi syarat keimanan umat Islam
4.      Hermeneutika yang mengatakan bahwa pengarang tidak mempunyai otoritas atas makna teks, tapi sejarah yang menentukan maknanya juga tidak mungkin diaplikasikan pada al-Quran. Seluruh umat Islam sepakat bahwa otoritas kebenaran al-Quran tetap dipegang oleh Allah Swt. sebagai penciptanya. Realita juga menunjukkan bahwa Allah, melalui al-Quran, justru mengubah sejarah, bukan dipengaruhi atau ditentukan oleh sejarah. Di antara pengaruh al-Quran adalah fakta bahwa al-Quran telah melahirkan sebuah peradaban baru yang disebut sebagai “peradaban teks” (haḍarah al-nash)
5.      Tradisi hermeneutika dalam Bibel memang memungkinkan. Terdapat berbagai macam Bibel dan tiap-tiap Bibel ada pengarangnya. Tapi teks al-Quran pengarang adalah hanya Allah. Karena itu metode hermeneutika yang diaplikasikan pada Bibel tidak mungkin digunakan dalam al-Quran
6.       Bibel diliputi serangkaian mitos dan dogma yang menyesatkan. Hal tersebut yang memicu penggunaan hermeneutika pada Bibel. Sedangkan al-Quran itu pasti dan keasliannya selalu terjaga. Begitu pula sejarah dan tradisi tafsir al-Quran. Karena al-Quran diciptakan oleh dzat yang maha sempurna dan ditafsirkan oleh makhluk yang penuh keterbatasan, maka tidak akan pernah ada kata sempurna tentang penafsirannya
7.      Orang yang ingin menafsirkan al-Quran harus memenuhi beberap ketentuan seperti: menguasai al-Sunnah, yaitu memahami sepenuhnya nash (teks) asSunnah, mengetahui dan memahami  kisah-kisah sejarah di dalam al-Quran atau berita tentang berbagai umat manusia pada zaman dulu yang bersumber dari Rasulullah Saw. Menguasai ilmu Tauhid, ilmu Fiqih, ilmu I’rāb (gramatika), Ilmu Balaghah, dan lain sebagainya. Hal ini tidak berlaku untuk hemeneutika.[8]










BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah mengetahui definisi hermeneutika, manfaat, sejarah perkembangannya, dan perbandingan dengan tafsir Al Qur’an dalam Islam, di penghujung makalah ini, penulis menyimpulkan bahwa hermeneutika mempunyai latar belakang dan metode yang berbeda bahkan cenderung bertentangan dengan karakter al- Quran, tafsir, serta pandangan hidup Islam. Karena itu hermeneutika tidak dapat diterapkan sebagai metode tafsir al-Quran. Mengapa?
1.      Al Quran adalah kitab suci yang merupakan firman Allah SWT. Padanya terdapat petunjuk dan hidayah bagi seluruh umat manusia dan merupakan mukjizat, serta keotentikannya tidak terbantahkan karena Allah swt sendirilah yang menjaga. Jika kita menerima hermeneutika sebagai instrumen untuk menafsirkan al Quran, maka keyakinan tersebut akan runtuh.
2.      Jika kita menerima Hermeneutika dalam penafsiran al Quran maka akan muncul sikap syak (ragu) pada setiap kebenaran al Quran.
3.      Ulama telah menentukan metode dan alat yang diperlukan untuk menafsirkan/ menginterpretasikan suatu ayat Al Qur’an dengan standarisasi yang ketat, sehingga tidak memerlukan hermeneutika.
B. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini para pembaca dan kami selaku pemateri mendapatkan manfaatnya. Dan apabila terdapat kekhilafan dan kekurangan dalam penulisan atau penyajian makalah ini kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah ini lebih bermanfaat di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Faiz, Fakhrudin. 2002. Hermeneutika Qur’ani antara Teks,Konteks,dan Kontekstualisasi. Yogyakarta: Qalam.

Kurdi, dkk. 2010. Hermeneutika Al-qur’an dan Hadis. Yogyakarta: eLSAQ.

Muslim ,Ahmad Shobirin.2015.Problematika Hermeneutika sebagai Metode Tafsir Al-qur’an.Jurnal Empirisma.24(1):47-55.

Saenong, Ilham B. 2002. Hermeneutika Pembebasan Metodologi Tafsir Al-qur’an Menurut Hasan Hanafi. Jakarta: TERAJU.

Sibawaihi. 2007. Hermeneutika Al-qur’an dan Fazlur Rahman. Yogyakarta: Jalasutra.

Syamsudin, Sahiron, dkk. 2003. Hermeneutika Al-qur’an. Yogyakarta: Islamika.







REFERENSI BUKU





BIODATAPENULIS

  
Nama: Nur Maszidah
Tempat Tanggal Lahir : Pekalongan, 03 November 2000.
Alamat : Jl. Pelita lll no 7 rt 01 rw 09 Jenggot Gg 4 Pekalongan Selatan
NIM: 2318117
Kelas : Ulumul Qur’an E.
Jurusan : Pendidikan Guru MI.
Hobi : Membaca.



[1] Sibawaihi,Hermeneutika Al-qur’an dan Fazlur Rahman,(Yogyakarta:Jalasutra,2007),hlm.6
[2] Ilham B. Saenong,Hermeneutika Pembebasan Metodologi Tafsir Al-qur’an Menurut Hasan Hanafi,(Jakarta:TERAJU,2002),hlm.xx
[3] Fakhrudin Faiz,Hermeneutika Qur’ani antara Teks,Konteks,dan Kontekstualisasi,(Yogyakarta:Qalam,2002),hlm.22
[4] Sahiron Syamsudin,dkk,Hermeneutika Al-qur’an(Yogyakarta:Islamika,2003),hlm.60
[5] Sibawaihi,Hermeneutika Al-qur’an dan Fazlur Rahman,(Yogyakarta:Jalasutra,2007),hlm.7
[6] Kurdi,dkk,Hermeneutika Al-qur’an dan Hadis(Yogyakarta:eLSAQ,2010),hal.5
[7] Kurdi,dkk,Hermeneutika Al-qur’an dan Hadis(Yogyakarta:eLSAQ,2010),hal.6
[8] Ahmad Shobirin Muslim,”Problematika Hermeneutika sebagai Metode Tafsir Al-qur’an”.Empirisma.Vol.24No.1,Januari2015,hal47-55

3 komentar:

  1. ayo daftarkan diri anda di AJOQQ :D
    menangkan jackpot dengan sebanyak-banyaknya :D

    BalasHapus
  2. If you're looking to lose fat then you certainly have to start using this totally brand new personalized keto meal plan diet.

    To create this keto diet service, licensed nutritionists, fitness trainers, and top chefs united to develop keto meal plans that are useful, convenient, economically-efficient, and delicious.

    Since their first launch in January 2019, 100's of people have already transformed their body and well-being with the benefits a certified keto meal plan diet can give.

    Speaking of benefits: in this link, you'll discover eight scientifically-certified ones given by the keto meal plan diet.

    BalasHapus