Laman

Sabtu, 05 Mei 2012

Pengajian A, SAIFUL HAKIM : Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW

Nama Majelis Ta’lim  : Al-Muqarrabin
Hari/Tanggal               : Jumat, 20 April 2012
Waktu                          : 16.30 wib
Alamat                         : Jl. Palapa III Perumahan Kandang Panjang, Pekalongan Utara
Pembicara                   : Hj. Mualifah
Tema                            : Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW
 
 
Ringkasan Pengajian
Dizaman kepemimpinan Rasulullah SAW. Terjadi suatu peperangan yaitu peperangan antara kaum muslim dengan kaum kafir, dimana dalam peperangan itu kaum muslimin yang jumlahnya sedikit bisa mengalahkan pasukan musuh yang jumlahnya lebih banyak, semua itu atas pertolongan Allah yang selalu menyertai Rasulullah dan sahabatnya yaitu para pasukan kaum muslim. Setelah kembali dari peperangan para kaum muslimin membawa harta rampasan perang (ghonimah) dan para tawanan. Nabi Muhammad saw dan kaumnya berkumpul untuk membicarakan mengenai apa yang harus dilakukan pada tawanannya ini. Kemudian, sahabat nabi yang bernama  Abu Bakar mengusulkan bahwa lebih baik para tawanan itu dimaafkan saja. Mendengar usul Abu Bakar Nabi saw hanya diam. Kemudian Umar bin Khatab angkat bicara dan mengusulkan bagaimana jika tawanan ini kita bunuh saja. Mendengar usul Umar Nabi juga masih diam. Kemudian nabi beranjak dari tempat duduknya dan masuk kekamar, setelah beberapa menit Nabi saw keluar dari kamarnya dan memberikan tanggapannya mengenai usul dari kedua sahabatnya tersebut. Beliau menyampaikannya dengan sangat bijak dan hati-hati agar tidak menyakiti siapapun. Sebagian kaum muslim setuju dengan pendapat Abu Bakar dan sebagian lain setuju dengan Umar bin Khatab. Nabi saw memulai perkataanya, beliau memuji Abu Bakar dan mengumpamakan Abu Bakar jika di umpamakan malaikat Abu Bakar seperti malaikat Mikail yang pemaaf dan jika diumpamakan nabi Abu Bakar seperti nabi Ibrahim yang menghadapi umatnya bukan dengan keras. Kemudian Nabi saw juga memberikan pujianny kepada Umar bin Khatab, jika diumpamakan malaikat Umar seperti malaikat jibril yang maha pemberi wahyu, dan jika diumpamakan Nabi, Umar seperti Nabi Nuh yang berdoa kepada Allah “ ya allah jangan Engkau tinggalkan satupun orang kafir disini”. Nabi saw adalah pemimpin yang bijaksana, setelah memberi pujian kepada keduannya bagaimanapun sebagai seorang pemimpin nabi saw harus tegas mengambil keputusan, dan nabi saw memilih pendapat Abu Bakar untuk memaafkan para tawanannya, mendengar itu Umar bin Khatab berlapang dada menerimanya.
            Pemimpin itu hendaknya bijaksana, tegas dan berwibawa. Paling tidak seorang pemimpin memiliki sedikit sifat seperti yang ada pada diri Rasulullah. Dengan menteladani sifat-sifat beliau. Kemudian seorang pemimpin   hatinya harus bersih,
إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح لها الجسد وإذا فسدت فسد لها الجسد كله
Hati yang rusak menyebabkan segala perbuatannya buruk. Dan ketika pemimpin mempunyai hati yang rusak maka kepemimpinanya akan buruk. Tidak lagi ada keadilan dan kebijaksanaan yang dipentingkan adalah dirinya sendiri. Hati yang demikian terjadi karena kurangnya berdoa atau mendekatkan diri kepada Allah swt. Doa itu sangat penting dan segala sesuatu itu terjadi atas kehendak-NYA. Namun, setidaknya seorang pemimpin itu harus bersungguh-sungguh dalam kerjaanya karena itu adalah sebuah amanat. Seperti hadis nabi yang berbunyi “ tidaklah seorang pemimpin yang memimpin perkara orang muslim kemudian dia tidak bersungguh-sungguh dan tidak berbuat baik kepada mereka kecuali dia tidak akan masuk surga bersama mereka”.
            Ciri-ciri orang yang hatinya sudah mati yaitu :
-          Mudah meninggalkan solat, misalnya ketika seseorang menjadi domas di acara hajatan dan berdandan begitu rapinya, ketika memasuki watu solat mereka merasa kesulitan jika harus berwudhu dan sebagainya maka mereka tidak mengerjakan solat.
-          Melakukan maksiat dengan bangga, seperti melakukan aborsi dan itu berkali-kali meskipun diketahui orang lain sekalipun.
-          Benci dengan Al quran, maksudnya malas membaca al quran dan lebih suka mengobrol sana sini .
-          Suka maksiat, maksudnya lebih banyak  mengerjakan larangan Allah dari pada perintahNya.
-          Benci dengan ulama, maksudnya apabila ada orang yang mengajarkan pada kebajikan justru digunjing.
-          Keras hatinya, artinya tidak mau mendengarkan nasehat orang lain.
-          Gila dunia, maksudnya bahwa orang tersebut hanya memikirkan kekayaan atau kebahagiaan dunia saja. Tanpa memikirkan akhirat.
-          Sibuk dengan menggunjing, senang menggosip dan menjelek-jelekan orang lain.
Hati adalah mata dari segalanya, hati yang dapat merasakan senang, sedih, marah, dan juga iman pada Allah dirasakan melalui hati. Menurut Abu Hurairah, hati adalah panglima, apabila panglima itu baik maka prajuritnya akan baik pula.
 
 Analisis pengajian
            Nabi Muhammad adalah super leader. Dia seorang pemimpi negara yang sepektakuler yang bisa membangun sebuah tatanegara yang adil. Dia  juga seorang pemimpin agama yang mengagumkan . dirinya bisa menggabungkan dua kepemimpinan dalam satu tubuh, pemimpin agam dan pemimpin dunia. Keberhasilan dia dia sebagai kholifah bisa lihat dari kepiawaian dia dalam berdakwah, keverdasan dia dalam berstrategi dan kelaihaan dia dalam berkalkulasi, terbukti dengan kemenangan menaklukkan makah tanpa tumpa darah, keberhasilan memimpin jazirah arab hingga beradab, kepiemimpinan dalam kemasyaraskatan, sampai kelihaian dalam rumah tangga. Sungguh beruntung kita, umat islam mempunyai sosok pemimpin yang menjadi suri tauladan. Lalu, keinginan dalam diri untuk mentauladaninya? Adakah waktu yang kita sediakan untuk mencontohkan, kalau waktu tidak ada, biaya tidak pernah keluar, kesungguhan tidak maksimal, maka kegagalan yang akan didapat, seorang pemimpin yang tidak berhasil dalam memimpin negaranya bisa jadi karena tidak mengenal betul kepemimpinan Rasul dalam memimpin khalifahanya.terjdi Kegagalan bisa juga terjadi karena ketidak mampuan seorang memimpin dirinya. Tidak berhasil memimpin nafsu, syahwat, amarah. Kalu ada seorang atasan mersa kesulitan memimpin  bawahannya, maka tanyakan pada dirinya, sudah bisakah memimpin diri? Pertanyaan-pertnyaantersebut sangat menolong kita dalam bentuk sesuatu dibanding hanya dengan  menyalahkan pihak lain. Ketidak mampuan dalam memimin diri salah satu dari indikasi dari kettidak mampuan mengolah hati. Hati tidak bis disentuh dengan tangan, pukulan, denga senjata, hati hanya bisa disentuh dengan hati lagi. Artinya memimpin yang bisa merubah orang lain adalah pemimpin yang bisa ada dihati orang yag dipimpin. Pemimpin yang berhasil mengolah hatinya, yang bisa membawa oang-orang yang dipimpinya mencari tujuan mulia dunia akhirat. Inilah yang akan menjadi pondasi bagi seseorang dalam memimpin orang lain.     
            Jadi seorang pemimpin haruslah orang yang benar-benar memiliki kerteria seperti yang di contohkan oleh Rasul yaitu seorang pemimpin yang ideal pemimpin yang benar-benar amanah dalam menjalakan tugasnya dan mementingkan umatnya dari pada diri sendiri. Paling tidak seorang pemimpin menteladani kepemimpinan Rasul meski itu sulit bahkan mustahil karna pemimpin dan sesempurn-sempurnanya manusia adalah beliua yaitu Nabi Muhammad SAW. 

SAIFUL HAKIM 
(2021110047)
Kelas   :   A

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar