new post

zzz

Rabu, 06 Maret 2013

d4-2 : mirza m.a.: tanggung jawab panca indra

Makalah
Penggunaan Panca Indra Akan Dinilai dan Dimintai Pertanggungjawaban
Makalah Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah                : Hadist tarbawi II
Dosen Pengampu          : M. Ghufron. M.SI









Disusun Oleh :
Nama : Mirza Muhammad Abda
Nim : 2021 111 153
Kelas : D


TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN )
PEKALONGAN
TAHUN 2013

BAB I
PENDAHULUAN
            Di dalam makalah ini akan membahas tentang sebuah pertanggung jawaban panca indra yang dimiliki oleh manusia terkait indra penglihatan dan pendengaran yang dilakukan manusia didalam dunia ini. Namun manusia harus menyadari bahwa, dalam perjalanan hidup manusia semua amal perbuatan baik maupun buruk akan selalu dicatat dan akan dipertanggung jawabkan kelak nanti diakhirat diwaktu hari pembalasan. 





















BAB II
PEMBAHASAN

A. Hadits
- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةً وً عًنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قالَ رًسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلًيْه وَسَلًمً : { يُؤتًى بِالْعَبْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ اللهُ لَهُ ألَمْ أجْعَلْ لَكَ سَمْعَا وَ بَصَرًا وَ مَالاً وَ وَلًدًا وَسَخَّرْتُ لكَ الأنْعَامَ و الْحرْثَ وَ تَرَكْتُكَ تَرْأسُ وَ تَرْبَعُ فكُنْتَ تطَنَّ أنَكَ مُلاَقِي يَومَكَ هَذَا قَالَ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ لهُ الَيوْم َنسَاكَ كَمَا لَسِيتَنِي قَالَ أَبُو عِسَى هذَا حَدِيَثُ صَحِيحُ غَرِيبُ وَمَعْنَى قَولِهِ اليُومَ اَتْرُكُكَ في الْعَذَابِ هَكَذَا فَسْرُوهُ قالَ أبُو عيسَي وَقَدْ فَسَّرَ بَعضُ أهْلِ الْعِلْمِ هَذِهِ الأيَتَ فَالْيوْمَ نَسَاهُمْ قَالُوا إنَّمَا مَعْنَاهُ الْيوْمَ نَثْرُكُهُمْ ڤِي الْعَذَابِ }. ( رواه الترمذي (

B. Terjemah
            Dari Abu Hurairah dan dari Abu Sa’id berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seseorang hamba dihadapkan pada hari lalu Allah berfirman kepadanya : “ Bukankah aku berikan kepadamu pendengaran, penglihatan, harta benda, anak dan menyerahkan kepadamu hewan ternak dan pertanian dan aku biarkan kamu memimpin dan menunggu maka apakah kamu menyangka bahwa kamu akan menjumpaiku pada hari ini?” Dia menjawab : “Tidak”. Allah berfirman kepadanya : “Hari ini aku lupakan kamu seperti kamu telah melupakanKu”. Ini adalah hadist shahih gharib. Adapun arti kata : “Hari ini aku melupakanmu seperti kamu melupakanKu adalah pada hari ini Aku biarkan kamu dalam siksa, dan demikian pula sebagian ahli tafsir menafsiri ayat (maka ada hari ini Kami melupakan mereka). (Al a’raf :5). Mereka berkata :” Artinya hari ini kami membiarkanmu dalam siksa”.(HR. thirmidzi)[1]
C. Mufodat
           
Seorang hamba
يؤتى
Dihadapkan
بالعبد
Hari kiamat
يوم القيامة
Pendengaran
سمعا
Penglihatan
وبصرا
Harta benda
ومال
Anak
ولدا
Menyarahkan
سخرة
Pertanian
الحرث
Memimpin
تر كتك
Aku lupakan kamu
انساك
Kamu lupakan Ku
نسيتني
Dalam siksa
في العذاب
Aku biakan kamu
اتركك
Menunggu
تربع
Menyangka
تظن
Menjumpai
ملاقي

D. Biogarfi Perowi
Ø  Abu Hurairah
Abu Hurairah adalah  seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist diantara tujuh orang tersebut. Baqi bin Mikhlad mentakhirjkan hadist Abu Hurairah sebanyak 5.374 hadist
Rasulullah sendirilah yan menjulukinya “Abu Hurairah”, ketika beliau melihat seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah itu semata karena keintaan beliau kepadanya, sehingga jarang ada orang memanggilnya dengan nama sebenarnya (Abdurrahman bin sakhr). Ia berasal dari Bani Daus bin Adnan. Abu hurairah memeluk  islam pada tahun 7H, tahun terjadinya perang khaibar, dan  meninggal di Aqiq pada tahun 57H .
Abu Hurairah telah meriwayatkan dari Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin ka’ab, Utsman bin  Zaid, A’isyah, dan sahabat-sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang yang meriwayatkan darinya melampaui 800 orang. Sanad yang paling shahih yang berpangkal darinya ialah:ibnu syihab az-zuhri, dari sa’id bin al-Musayyab, darinya (dari Abu hurairah). Adapun yang paling dla’if adalah as-sari bin sulaiman, dari Dawud bin yazid al-audi dari bapaknya (yadiz al-audi) dari abu hurairah.[2]
Ø  Abu Sa’id Al-khudri
Nama lengkapnya Sa’ad bin Malik bin Sinan bin ‘ubadi Al-anshari Al-khazraji, biasa dipanggil Abu sa,id dan terkenal dengan nama Abu sa’id al-khudri. Ia lahir di Madinah tahun 10 sebelum hijriyah. Pada perang Uhud, ia berniat ikut ke medan perang, tapi Nabi mencegahnya, karena saat itu usianya ia masih anak-anak.
Ayahnya Malik bin Sinan, gugur sebagai pahlawan syahid dalam perang Uhud. Ia pernah 12 kali ikut perang bersama rasulullah. Ia adalah orang yang selalu menyertai Nabi. Ia gemar memendekkan kumisnya dan menyemir jengotnya dengan warna kuning. Ia termasuk salah seorang ahli fiqih dan ulama sahabat, ia meninggal di Madinah tahun 74H dimana ia dulu dilahirkan.[3]
Ø  Imam at-tirmidzi
Beliau adalah seorang imam, hafiz, dan kritikus hadis. Nama lengkapnya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-tirmidzi. Ia lahir pada tahun 200H. Ia datang ke bukhara dan menyampaikan Hadis di sana. Banyak melewat ke berbagai negeri.
At-tirmidzi telah memberitahukankedudukan kitabnya. Katanya, “Aku susun kitab ini, lalu kupersembahkan kepada para ulama hijaz, irak, dan khurasan, ternyata mereka suka, Barangsiapadirumahnya dirumahnya terdapat kitab ini, seakan-akan didalam rumahnya ada Nabi yang berbicara. “Diakhir hayatnya ia terserang penyakit mata. Ia wafat pada tahun 279 H.[4]
E. Syarakh Hadis (Keterangan Hadist)
            Berdasarkan Hadist diatas diterangkan bahwa Allah SWT telah memberikan kenikmatan kepada manusia berupa penglihatan, pendengaran, harta benda, anak, hewan ternak, dan pertanian. Dari itu tergambar lah jelas bahwa pastinya Allah SWT maha pemurah lagi maha  penyayang terhadap para manusia terutama umat Nabi muhammad SAW.
            Tar-asu watarba’u, dan kujadikan kamu sebagai penguasa dikalangan hamba-hamba-Ku sehingga engkau menjadi pemimpin mereka. Sesungguhnya sekarang Aku melupakanmu sebagaimana engkau melupakan Aku, kemudian allah memperintahkan agar  ia dimasukan kedalam neraka. [5]

 

           
Artinya :
            “Dan sungguh, akan kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak digunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi)tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”(Qs.Al-a’raf: 179[6])
Karena nya itu syukurilah nikmat panca indera yang ada padamu, karena tidak semua orang seberuntung kita, memiliki panca indera yang berfungsi sempurna. Bersyukur tentunya tidak hanya sebatas berucap "alhamdulilah" atau segala bentuk ucapan syukur lainnya. Tapi juga memanfaatkan panca indera tersebut untuk hal-hal yang baik. Usahakanlah menghindari perkataan-perkataan yang kotor , apalagi sampai menebar perkataan-perkataan haram. Jika memang tak bisa berkata baik lebih baik diam. Bahkan lisan memegang kunci surga n neraka. Rasul saw bahkan sampai menjanjikan surga bagi yang bisa menjaga farji dan lisannya. Dan karena lisan juga, seseorang bisa memperoleh surga atau bahkan ditelungkupkan ke neraka.[7]
Firman Allah SWT:


Artinya
            “sesungguhnya apabila mereka sampaike neraka, pendengaran, penglihatan,dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan(20) Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula)berkata, dan dia ciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan(21) Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaktian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira Allah tidakmengetahui banyak tentang apa yang kamu ketahui(22) (Qs. Fushshilat :20-22)[8]
Juga pendengaran kita, gunakan untuk mendengar hal-hal yang baik, hindari segala bunyi yang hanya membuang waktu saja. Karena semua panca indera kita akan dimintai pertanggungjawaban, mereka akan menjadi saksi untuk apa mereka digunakan. Alangkah beruntung mereka yang tuli, bisu dan buta. Tuli dari mendengar hal-hal yang haram, bisu dari ucapan yang haram dan buta dari memandang yang haram. Tidak heran mengapa kita disunnahkan berdzikir meminta keselamatan badan, pendengaran dan penglihatan tiap pagi dan sore kepada Allah SWT.[9]
            Dari itu dalam hal pendengaran dan penglihatan tak lain agar manusia agar menaati perintahNYa dan menjauhi terhadap larangan-larangan-Nya. Dari itu terdapat suatu hadis yaitu “seorang hamba akan bertemu Tuhannya dimana Dia akan berfirman, ‘Wahai fulan , bukanlah Aku telah memuliakan dirimu’.”
            يا رسول الله, هل نرى ربنا يوم القيامة؟ قال:هل تضا رون في رؤية الشمس في الظهيرة, ليست في سحا بة؟ قالوا: لا, قال: فهل تضارون في رؤية القمر ليلة البدر, ليس في سحابة؟قالو : لا,قال: فوالذي نفسي  بيده, لا تضارون في رؤية ربكم, الا كما تضارون في رؤية احدهما, قال ::كفيلقى  العبد, فيقول :اي فل,الم اكرمك؟ واسودك, وازوجك, واسخر لك الخيل ولآبل واذرك ترآس, وتربع؟ فيقول: بلى, قال: فيقول: افظننت,انك ملاقي؟ فيقول: لا, فيقول: فإني انسأك كما نسيتني, ثم يلقى الثاني, فيقول: اى فل اكرمت؟ واسوودك,وازوجك واسخر لك الخيل والإبل؟ واذرك ترأس, وتربع؟ فيقول: بلى, اي  رب,فييقول: افظننت انك ملا قي؟ فيقول: لا, فيقول: فإني انسأك كما نسيتني, ثم يلقى الثلث, فيقول له مثل ذالك, فيقول :يا رب, امنت بك وبكتابك, وبرسلك وصليت وصمت وتصدقت, ويثني بخير ما استطاع, فيقول: ها هنا اذا, قال: ثم يقال له: الان نبعث شاهدنا عليك, ويتفكر في نفسه من الذي يشهد علي؟ فيختم على فيه, ويقال لفخذه ولحمه وغظامه: انطقي, فتنطق فخذه, ولحلمه وعظا مه بعمله من نفسه, وذالك المنافق, وذالك الذي يسخط الله عليه                                          
 Artinya
            “wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat tuhan ketika pada hari kiamat nanti?” Rasulullah menjawab, “Apakah kalian masih ragu untuk bisa melihat matahari pada waktu siang yang tidak mendung?” sahabat berkata”tidak” rasulullah bersabda “apakah kalian masih ragu bisa melihat rembulan dimalam bulan purnama yang tidak berawan?” para sahabat berkata “tidak” Rasulullah Bersabda, “demi dzat yang menguasai jiwaku, kalian  tidak merasa ragu lagimelihat tuhan kalian sebagaimana kalian tidak merasa ragu bisa melihatsalah satu dari keduanya.”lalu Allah akan menjumpai seorang hamba dan berirman, ‘wahai sifulan, bukanlah Aku telah memuliakanmu? Bukanlah Aku juga telah menjadikan sebagai tuan? Aku telah menikahkan dirimu? Membuat kuda serta unta tunduk kepaadamu? Membiarkanmu menjadi pemimpin? Juga menjadikanmu sebagai orang yang ditaati?’ Orang itu berkata, ‘wahai tuhanku’. Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengira sesungguhnya kamu akan berjumpa dengan-Ku?’ Orang itu menjawab, ‘tidak’. Allah berfirman, ‘sesungguhnya Aku telah melupakanmu sebagaimana kamu telah melupakan-Ku’.
            Kemudian Allah menjumpai hamba yang kedua lalu berfirman, ‘wahai fulan, bukanlah Aku telah memuliakanmu? Bukanlah Aku juga telah menjadikanmu sebagai tuan?Aku telah meikahkan dirimu? Membuat kuda serta unta untuk tunduk kepadamu? Membiarkanmu menjadi pemimpin? Juga menjadikanmu sebagai orang yang ditaati?’ Orang itu berkata’ Benar wahai tuhanku’. Allah berfirman, ‘apakah kamu mengira sesungguhnya kamu akan berjumpa dengan-Ku?’ Orang itu menjawab, ‘tidak’. Allah berfirman, ’Sesungguhnya Aku telah melupakanmu sebagaimana kamu telah melupakan Aku’.
            Allah menjumpai hamba yang ketiga an berfrman seperti yang disebutkan diatas. Lalu orang itu berkata. ‘wahai Tuhanku, aku beriman kepada-Mu, kitab-Mu,dan pararasul-Mu. Aku pun telah mengerjakan sholat, puasa, serta bersedekah’. Orang itu melafazhkan kalimat pujian sebatas yang dia mampu. Lalu Allah berfirman, ‘kalau begitu, [tetaplah kamu berada] disini!’ kemudian dikatakan kepada orang tersebut, ‘sekarang, kami akan mengutus saksi Kami kepadamu’. Orang itu berfikir didalam hati, siapakah yang akan menjadi saksi bagiku? Namun tiba-tiba mulut orang itu terkunci, Akan dikatakan kepada anggota pahanya, dagingnya, dan tulang-tulangnya, ‘berbicaralah kamu!’ dan itu munafik, dan itu orang yang dimurkai oleh Allah’
فوالذي نفسي بيده لا تضارون فى رؤية ربكم الا كما تضارون فى رؤية احدهما                                                                                               
          Didalam hadist tersebut tertulis bahwa nanti pada hari kiamat kalian akan melihat dengan jelas dan penuh keyakinan, diumpakan bagai kalian melihat matahari pada cuaca cerah dan melihat bulan purnama diwaktu tidak mendung.
فيلقى العبد فيقول اي فل                                                                                        
Klausa fayalqaal ‘abda adalah AllahSWT akan menjumpainya hambanya tersebut, sedang lafadz aiful adalah ya fulaan adalah nama seseorang yang tidak jelas namanya.
الم اكرمك واسودك وازوجك
          Wa’usawwiduka adalah “bukankah Aku(Allah) telah menjadikanmu sebagai tuan dari selain kamu”, sedang wa’uzawwijuka adalah Bukankah Aku(Allah) telah memberi rasa nyaman dengan adanya istri bagimu yang Aku ciptakan sebagai tempat berlabuh buatmu?”. Hal ini seperti firman-Nya : “Dan dijadikan diantaramu rasa kasih dan sayang (Qs. A-Ruum (30):21) .
واسخر لك الخيل والإبل واذرك ترأسوتربع
          Adzarka adalah atruka yang berarti Allah SWT telah memberikan kesempatan untukmu. Makna tar’asu adalah kamu untuk menjadi pemimpin dan menjadi seorang tokoh dikaummu. Dan makna tarba’u adalah Aku(Allah) memberikan kamu rasa nyaman, sehingga tidak merasa payah maupun berat.
فإنى انساك كمالانشيتني
            Maksud kalimat diatas: Allah SWT mencegah dirimu untuk bisa mendapatkan rahmat-Ku sebagaimana kamu juga tidak mau menuruti perintah-Ku
فيقول ها هنا اذا
          Makna kata diatas; sesungguhnya Allah SWT memfirmankankan kalimat ini kepada hamba yang menyangka dirinya telah beriman kepada Allah, kitab-Nya, dan para rasul-Nya. Dia juga mengaku telah mengerjakan shalat, puasa, sedekah, dan amal perbuatan baiknya lainnya. Padahal semua yang diungkapkan adalah kebohongan. Semula dia mengira bisa selamat dan aman melakukan kebohongan pada hari itu. Orang itu termasuk yang disebutkan sifatnya oleh Allah SWT dalam firman-Nya : “(ingatlah) hari (keika) merekasema dibangkitkan-Nya, lalu merekabersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu manfaat. Ketahuilah bahwa mereka termasuk orng-orang pendusta”. (Qs. Almujaadilah(58): 18)
ثم يقال له الا ن نبعث شاهدنا عليك ويتفكرفي نفسه من الذي يشهدعلي
            Kalimat ini dapat diketahui bahwa orang orang itu sebenarnya tidak mengetahui kalau semua anggota tubuhnya akan memberi kesaksian dengan sangat jujur atas apa yang telah dia lakukan.
فيختم على فيه
            Maksud kalimat ini: mulut akan benar-benar terkunci pada waktu itu dan tidak bisa melontarkan satu pata kata pun. Sebaliknya, malahan semua angota badan yang berbicara dan memberikan kesaksian dari apa yang telah ia lakukan. Sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa jala, “pada hari itu kami tutup mulut mereka: dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Qs. Yaasiin (36):65)[10]
F. Aspek Tarbawi
Hikmah yang dapat kita petik dari hadis pertanggung jawaban panca indra diatas, yaitu:
·         Memelihara akan penglihatan dan pendengaran kita dari hal-hal yang diharamkan oleh syariat agama islam,
·         Janganlah terfokus pada duniawi saja, tetapi jga harus memikirkan alam terakhir kita yaitu alam akhirat,
·         Menaati segala perintah Allah SWT dan penjauhi segala larangan-Nya
·         Mensyukuri atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT berikan kepada kita
·         Menyadari bahwa besukkelak dihari pealasan yang bersaksi adalah smua anggota badan dan mulut terkunci

















DAFTAR PUSTAKA
  • Zuhri, Moh.1992. Terjemah Sunan At tirmidzi Jilid 4. Semarang: CV ASY SYIFA.
  • Ash-Shalih, Subhi.1997. Membahas Ilmu-ilmu Hadis.cetakan ke-8.  jakarta: PUSTAKA FIRDAUS
  • Mursi sa’id, Muhammad. 2005. Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah.cetakan ke-4. Jakarta Timur: PUSTAKA AL-KAUTSAR
  • Hatta, Ahmad. 2010.Tafsir Qur’an Perkata. Cetakan ke-5. Jakarta: MAGHFIRAH PUSTAKA  
  • Soffandi, wawan, & ibnu. 2007. Syarah Hadist Qudsi. Ctakan ke-4. Jakarta: PUSTAKA AZZAM
  • Bahrun, Abu Bakar .1996. Mahkota Pokok-Pokok Hadist Rasulullah SAW.jilid 5. Bandung: SINAR BARU ALGENSINDO




BAB III
PENUTUP
            Bahwasanya Allah SWT telah memberian kenikmatan kepada kita berupa pendengaran, penglihatan, harta benda, anak dan menyerahkan kepadamu hewan ternak dan pertanian. Dari semua itu kita wajib mensyukurinya dan mengunakan nya sesuai dengan ketentuan Allas SWT berikan yaitu menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karenanya nanti pada hari pembalasan semua yang apa kita lakukan akan dipertanggung jawabkan.


[1] Moh. Zuhri, Terjemah Sunan At Tirmidzi, jilid ke-iv,(Semarang:CV. Asy-syifa’,1992).,hlm. 71-72
[2] Subhi ash-shalih, membahas ilmu-ilmu hadis, cet-VIII(jakarta: pustaka firdaus,2009), hlm.,332-334
[3] M. Sa’id  mursi, tokoh-tokoh sepanjang sejarah, cet-IV(jakarta timur: psutaka alkautsar, 2008).,hlm.126
[4] Subhi ash-shalih, Op.cit, hlm.,367-368
[5] Abu bakar, bahru, mahkota pokok-pokok Hadist Rasulullah SAW, jiid vI(bandung: sinar baru algensindo,1996),hlm., 1081
[6] A. Hatta, tafsir alquran perkata, cet –V (jakarta:magfirah pustaka,2010), hlm., 174
[8] A. Hatta., op.cit,hlm., 478-479
[10] Soffandi, wawan, & mukti, syarah hadist qudsi, cet-V (jakarta:pustaka azzam,2007), hlm.,770-774

56 komentar:

  1. meskipun kita tahu kelak penggunaan panca indra kita selama hidup akan dimintai pertanggung jawaban,tapi tetap saja sering kali kita lalai.bagaimana agar kita tidak lalai dan menggunakan alat indra kita dengan baik dan tidak kalah dengan orang yang fisik alat indranya tidak sempurna?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaannya
      1. caranya mungkin kita harus berfikir kehidupan setelah didunia ini yaitu kehidupan dialam kubur,
      bahwanya dalam alquran Allah berfirman yang artinya
      “Dan sungguh, akan kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak digunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi)tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah”(Qs.Al-a’raf: 179 )
      dalam surat tersebut menjelaskan bahwa orang yang hanya terfokus pada duniawi saja pastinya akan lalai terhadap penggunaan pnca indranya, sedangkan orang yang mau berfikir banyak-banyak kedalam alam akhirat pastinya akan berhati-ht dalam penggunaan panca indra

      2. caranya berfiir bahwasaya allah SWT akan penghitung semua amal kita atau yang disebut dengan hari pembalasan seperti dalam alquran Allah berfirman yang artinya:
      “Sesungguhnya apabila mereka sampaike neraka, pendengaran, penglihatan,dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan(20) Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula)berkata, dan dia ciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan(21) Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaktian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira Allah tidakmengetahui banyak tentang apa yang kamu ketahui(22) (Qs. Fushshilat :20-22)
      terlihat jeas bahwa besuk pada hari pembalasan semua anggota badan kita akan bicara terkait semua hal yang dilakukan dalam dunia, kecuali mulut. mulut akan terkunci pada waktu hari pembalasan dikarenakan mulut itu bisa berbohong sedangkan semua anggota badan itu tidak bisa berbohong.

      3. dengan cara mengikuti pengajian-pengajian yang berbasis keagamaan seperti pengajian-pengajian yang ada di mushola, masjid, dan majlis taklim yang didalam nya membahas tentang masalah keagamaan yang membuat kita dengan sang pencipta yaitu Allah SWT.

      Hapus
  2. awaliyah nailis saadah
    2021 111 339
    D
    bagaimana caranya agar kita bisa menggunakan panca indra kita dengan baik dan bijaksana apalagi pada zaman sekarang banyak sekali godaan-godaan yang menjerumuskan ke hal yang negatif dalam penggunaan panca indra?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaannya.
      melihat zaman yang penuh godaan ini. menurut saya pribadi itu tergantung dari diri kita sendiri,
      1. faktor pertemanan,
      yang namanya teman itu kan sifatnya bermacam-macam, apabila kita mau mencari teman-teman yang sifatnya baik atau terpuji itu kita tidak akan terjerumus kedalam hal-hal negatif.
      dan bilamana teman yang kita memiliki sifat yang tidak baik atau tercela, sudah pasti kita juga sifat kita akan seperti teman yang kita temani tersebut. bilamana iman kita kuat, insyaallah kita akan aman, namun jika iman kita tidak kuat, apakah kita akan aman pastinya jawabannya hanya Allah yang tau namun melihat dari mayoritas manusia dalam bergaul itu akan seperti orang yang kita ajak bergaul atau yang kita temani dimisalkan dalam sebuah contoh:
      apabila kita berteman dengan menjual minyak, maka kita akan wangi
      namun apabila kita berteman dengan menjual ikan, maka kita akan memiliki bau seperti ikan
      2. faktor keluarga,
      didalam faktor keluarga anak dididik agar menjadi anak yang sholekh & sholekhah dan pastinya akan berguna bagi nusa dan bangsa.
      namun bila mana keluarga itu hanya terfokus pada pekerjaaan duniawi saja kemungkinan besar anak itupun akan terjerumus didalam hal-hal yang negtif didalam penggunaan panca indra, dikarenakan kurangnya kasih sayang dan cinta tulus dari keluarga terhadap amak tersebut'
      3. faktor lingkungan,
      lingkungan menjadi sebuah tantangan bagi kita dalam meniti kehidupan ini. apabila dilungkungan disekitar kita adalah muslim atau mayoritas muslim itu kita akan aman, namu apabila bukan muslim didalam sekitar kita, aakah kita akan aman??

      jadi bisa disimpulkan bahwa sanya semua tergantung dari dalam diri kita sendiri bila mana kita kuat dalam menahan hal-hal yang membuat panca indra berjalan lurus maka kita akan selamat, namun bila mana dalam meniti kehidupan ini goyah, maka seringlah utuk mengikuti pengajian yng membahas tentang hal-hal keagamaan yang disertai gru yang bisa menuntut kita untuk bisa selamat dalam penggunaan panca indra.
      terimakasih

      Hapus
  3. Bariroh
    2021111029
    kelas: D

    makalah ini membahas mengenai penggunaan panca indra akan di nilai dan dimintai pertanggung jawaban, yang saya tanyakan bagaimana kita dapat menggunakan panca indra dengan sesuai agama dan menjauhkan dari kufur nikmat??

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaan sulitnya mbak bariroh,
      menggunakan panca indra yang benar sesuai perintah agama, tentunya kita semua sudah mengetahui, yakni manfaatkan panca indra hanya untuk ebaikan dijalan Allah SWT,seperti dengan menjaga penglihatan, ucapan, pendengaran, bisa menata hati. itu semua adalah cara-cara/kiat-kiatuntuk menggunakan panca indra sesuai dengan perintah Allah SWT.
      sedang panca indra sebagai salah satu cara untuk mencegah kekufuran yakni dengan mempertajamkan matahati, dan indra mata kita. dengan alat indra mata yang kita miliki seyogyanya kita bisa melihat penderitaan kaum dua'fa yang membutuhkan uuran tangan kita, setelah dengan kata melihat keadaan mereka, tentunya sekarang hati yang mengambil alih semuanya. yakni akan kah kita memberikan sedikit harta kita kepada kaum mereka(yang membutuhkan) atau acuh tak acuh dengan mereka.
      terimakasih

      Hapus
  4. NAMA: BADIATUL LIZA
    NIM: 2021 111 146
    KELAS: D
    Assalamu'alaikum mz bro...
    mohon jelaskan mengenai "Tar-asu watarba’u, dan kujadikan kamu sebagai penguasa dikalangan hamba-hamba-Ku sehingga engkau menjadi pemimpin mereka."
    terimakaih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mbak zubaidah atas pertanyaannya,
      maksud dari kata "Tar-asu watarba'u, dan kujadian kamu sebagai penguasa dikalangan hamba-hamba-Ku sehingga engkau menjadi pemimpin mereka
      maksudnya
      bahwasanya dulu ada dua orang dari kalangan orang-orang kafir, yaitu mereka sewaktu didunia diberi oleh Allah SWT harta yang banyak, kemudian mereka tidak bersyukur kepada-Nya, bahkan mereka memerangi-Nya dan melupakan-Nya sama sekali. maka pada hari itu Allah SWT melupakan mereka dikarenakan mereka adalah orang kafir

      sumber
      bahrun, abu bakar. 1996.mahkota pokok-pokok hadist Rasulullah SAW. jilid 5. bandung. SINAR BARU ALGENSINDO

      Hapus
  5. Nama : Imas Anggraeni Dewi
    NIM : 2021 111 203
    Kelas D

    Bagaimana agar supaya kita sebagai manusia selalu menjaga dan senantiasa bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah SWT.
    karena sekarang ini, banyak sekali orang-orang yang menyalah gunakan karunia yang diberikan Allah SWT?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaan dari mbak pemburu,,hehe
      menurut saya untuk mensyukuri atas nikmat yang diberikan kepada Allah SWT kepada kita adalah berfikir kebawah, berfikir kebawah bisa diartikan dengan melihat disekitar lingkungan kita dimana pasti ada orang yang mempunyai kenikmatan dibawah kita.jangan lah kita berfikir keatas selalu karena bila kita berfikir seperti itu maka bisa dipastikan kita akan selamanya berfikir kurang dan akan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan ALLah SWT kepada kita.
      misal
      1. kita hanya mempunyai sepeda ontel untuk kekampus dari itu kita berfikir kebawah masih lumayan kita kekampus naik sepeda ontel ketimbang kita jalan kaki kekampus.
      2. kita diberikan panca indra yang sempurna oleh Allah SWT namun kita tidak diberikan kekayaan harta benda, dari itu kita wajib mensyukurinya dengan berfikir kebawah kita masih mending daripada mereka dibeikan kekayaan tapi tidak diberikan panca indra yang sempurna olh Allah SWT.

      Hapus
  6. NAMA: NAIS STANAUL ATHIYAH
    NIM: 2021 111 280
    KELAS: D
    Bgaimana jika ada orang yang membunuh orang lain tetapi tidak sengaja?
    bagaimana relasinya dengan hadits tersebut?
    mohon penjelasannya, terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya apabila si pembunuh sudah mendapatkan hukuman didunia yang setimpal(Hukum Qishos) hukum yang tidak bisa digantikan dengan hukum apapun(hukum Allah) itu sesuai menurut alquran dan ulama fiqh maka kelak diakhirat nanti orang itu akan terbebas dari hukum yang ia lakukan didunia
      namun, apabila sipembunuh belum mendapatkan hukum didunia yang setimpal (hukum Qishos), maka hukumannya akan digantikan diakhirat kelak yang pasti sesudah sipembunuh meninggal.

      Hapus
  7. NAMA: KHOLIS ARIFAH
    NIM: 2021 111 293
    KELAS: D

    Assalamu'alaikum,
    Bagaimana caranya menyadarkan seseorang agar mau memanfaatkan, mengotimalkan, dan memaksimalkan panca indera untuk ke hal-hal yang baik,
    bagaimana usaha kita untuk menyadarkan orang tersebut,
    terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaannya
      caranya degan melakukan pendekatan-pendekatan yang disesuaikan dengan keadaaan psikisnya. yang paling penting jangan memaksakan, karena sesuatu yang dipaksa pasti hasilnya tidak otimal. langkah pertamauntuk mengingatkan orang yang tidak mengoptimalkan panca indra :
      1. pastinya selalu harus diingatkan
      2. dengan memberikan pukulan, pukulan itu pn dilakukan disesuaikan dengan keadaan siapa orang yang bersangkutn dan keadaan mental dan psikisnya. bila kedua cara itu belum menuaikan hasil yag sempurna.
      jalan terakhir adalah berdoa kepada Allah SWT, agar orang terseut mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
      terimakasih

      Hapus
  8. nama:nur hidayah
    nim:2021 111 145
    kelas: D
    menurut pemakalah,bagaimana cara agar menjadi orang yang selalu mensyukuri nikmat yang sudah dianugerahkan kepada kita sebab terkadang diri dikuasai oleh emosi(nafsu),sehingga hati tidak terkontrol dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaan ya...
      menurut saya dengan cara berfikir kebawah..berfikir kebawah atau melihat seseorang yang diberikan nikmat oleh Allah SWT namun nikmat itu masih dibawah nikmat yang diberikan Allah kpd kita.
      contoh: misal kita diberi indra penglihatan yang sempurna oleh Allah SWT namu kita diberi rizqi harta yang sederhana atau pas buat menjalanin hidup ini. dari itu kita menengok kebawah orang yang tidak diberi indra sempurna dan lagi tidak diberi rizqi harta yang mencukupi. dari itu mungkin kita mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah kpd kita.
      untuk masalah mengontrol emosi atau nafsu mungkin kita bisa dengan cara mengikuti hal-hal seperti pengajian jumat kliwon dihabib lutfi yag berisi tentang ceramah keagamaan dari itu kita bisa untuk mengontrol hati kita dan menahan sesuatu-sesuatu yang berunjung pada nafsu...
      terimakasih

      Hapus
  9. Assalamu'alaikum..
    Soraya Nailatul Izzah
    2021 111 097
    Kelas D
    Bagaimana jika kita sudah berusaha mempunyai niat untuk menggunakan panca indera dengan sebaik2nya, akan tetapi susah untuk melaksanakannya? Terima kasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumussalam.
      terimakasih atas pertanyaanya
      karenanya masih ada rasa keragu-raguan dari dalam hati.
      perlu dimengerti, rasa keragu-raguan itu muncul dari setan. sedangkan niat itu datangnya dari hati.
      apabila orang sudah memang bernat menggunakan panca indra dengan sebaik-baiknya, pasti tidak ada lagi rasa setengah-setengah untuk melakukan hal tersebut dan pastinya rasa keragu-raguan itu akan hilang dengan sendirinya.
      terimakasih

      Hapus
  10. Shofatul Jannah
    2021 111 183
    D

    bagaimana menurut pemakalah untuk Memelihara akan penglihatan dan pendengaran kita dari hal-hal yang diharamkan oleh syariat agama islam, sedangkan kita tahu bahwa tayangan tv banyak yang mengumbar aurat??
    mohon jelaskan
    terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk memelihara penglihatan, dan pendengaran kita dari hal hal di lingkungan/hubungan masyarakat mungkin masih bisa kita hindari dengan menjauhkan diri saat ada pemandangan dan suara yang tidak di benarkan/dilarang agama.
      Tetapi untuk menghindari hal buruk dr Tv mungkin sedikit susah karena rata rata tayangan di Tv mengandung kemaksiatan. Mengenai kasus ini alangkah baiknya kita masing masing lebih bisa membentengi diri untuk tidak melihat tayangan yang tidak layak untuk di tonton. Apabila masih ada tayangan yang lain yang layak di tonon maka gantilah cenel Tv. Karena juga tidak semua tayangan di Tv mengandung maksiat. Bila semua tayangan saat itu di isi dengan tayangan tayangan yang tidak layak di toton alangkah lebih baik kita gunakan waktu santai/waktu senggang untuk mengaji atau melakukan kegiatan lain selain menonton Tv. Karena menonoton Tv itu juga tidk wajib harus di gunakan saat waktusenggang atau untk pengusir rasa stres

      Hapus
  11. WILDAN FAZA
    2021111206
    kelas D

    pertanya'an
    apakah di akhirat nanti pertanggungjawaban semua indera itu sama antara mata, lisan, telinga ataukah berbeda?? mohon jelaskan!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaannya bung wildan
      semua indera akan ada pertanggung jawabannya. Tetapi kabar hukuman untuk mata, lisan, telinga dan bagian yang lain tidak sama.
      Seperti hal nya lidah yakni hukuman bagi orang orang yang suka menggunjing orang lain maka kelak di akhirat lidah mereka akan di gantungkan/dibelitkan pada besi neraka yang panas

      Hapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. nama :nur ulis sa'adah shofa
    Nim : 2021 111 205

    judul dari makalah anda kan "Penggunaan Panca Indra Akan Dinilai dan Dimintai Pertanggungjawaban"
    bagaimana tanggapan anda mengenai seorang penjahat yang semasa hidupnya melakukan berbagai tindak kejahatan seperti mencuri, membunuh, memerkosa, dll. akan tetapi diakhir hidupnya dia bertaubat. apakah dia harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatannya tersebut dihadapan Allah ataukah dengan taubatnya tersebut maka diampuni dosa-dosanya yg telah lampau??
    terimakasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas pertanyaannya,,,,
      kalo mengenai hal itu jawaban yang paling tepat adalah semua amal kita tergantung dari perbuatan dan tentang masalah pertanggungjawaban amal orang tersebut adalah urusan allah bukan urusan kita.

      Hapus
  14. assalamu'alaikum

    nama: nahdiyah
    nim: 2021 111 199

    disini saya ingin bertanya tentang:
    1.di makalah anda telah dijelaskan bahwa salah satu cara mensyukuri nikmat dari Allah adalah menggunakan panca indera dengan baik, namun realitanya anak2 jaman sekarang (anak TK)sudah sering mengatakan perkataan2 kotor, waloupun terkadang mereka tidak tahu arti dari kata yang mereka ucapkan. yang ingin saya tanyakan apakah nantinya mereka harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka ucapkan??
    2. zaman sekarang ini,kita tidak asing lagi dengan internet,apalagi tentang facebook,twitter dll. dari pembahasan makalah ini,bagaimana tanggapan pemakalah jika ada orang yang menuliskan perkataan2 yang tidak pantas (misuh)di akun mereka (update status yg tak layak,,hehe)

    mohon penjelasannya,,
    terimakasih.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arigato ....
      Kalo fenomena tersebut adalah kesalahan orangtua yang melakukan kontroling terhadap anak serta guru yang kurang merespon terhadap sifat dan perkataan dari anak/anak didiknya, karena mereka semua adalah benteng dasar dalam mendidik anak yang masih dalam usia dini, So, jangan mencari siapa yang salah ...
      akan tetapi apa yang salah....

      Hapus
    2. yupz,,terimakasih atas jawabannya...
      diatas anda menulis bahwa kejadian itu adalah kesalahn dari orang tua dan pendidik,,lalu bagaimana kaitannya dengan judul makalah anda,intinya apakah anak2 kecil itu juga harus bertanggung jawab atas perilakunya atau bgaimana??
      mohon penjelasannya
      hehe
      trims..

      Hapus
    3. terimakasih atas fittbacccckknya....
      kita melihat dullu apakah anak itu sudah baligh belum!!!
      bia mana anak itu telah baligh maka dia sudah berkewajiban untuk melaksanakan kewajiban nya dengan Allah SWTuntuk mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dari itu apabila anak itu melaksanakan sebuah kebaikan maka dia yang mendapatkan pahala tersebut dan bila mana anak itu mengerjakan keburukan maka anak itu yang menanggung dosanya tersebut...

      sedang utuk anak yang belum baligh itu menurut guru saya dulu dibangku aliyah, apaila anak itu melakukan sebuah dosa itu yang mennggung orang tuanya dan biasanya pada waktu anak belum baligh, orang tua sering mengajarkan tentang tatacara ibadah dengan Allah SWT agar sewaktu baligh a sudah terbiasa dan menganggapnya bukan suatu kewajiban lagi melainkan sebagai hal apabila tidak dilakukan itu malu kepada yang menciptakan-Nya yaitu Allah SWT.

      dari itu dapat disimpulkan bahwa anak yang belum baligh, apabila anak itu meninggal, maka dia langsung masuk surga(tanpa pertanggungjawabkan panca indra) dan bisa menjadi kunci surga bagi kedua orangtuanya
      sedangkan aabila anak itu sudah baligh, maka apabila ia meninggal ia akan mempertanggungjawabkan panca indranya atas apa yang ia lakukannya didunia.

      Hapus
  15. Nama: Nur Asfiyani
    NIM: 2021 111 200
    Kelas: D

    Menurut pemakalah, bagaimana cara kita untuk menjaga panca indera dari perkara-perkara yang syubhat yang tidak sesuai dengan syari'at Islam...?? Seberapa pentingkah kita menjaganya..?
    Terima kasihhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. arigatto...
      cara mnjaga panca indrs dari perkara yang syubhatadalah apabila berbenturan yang meragukan dengan yang menyakinkan, maka kita mengambil yang yakin terbukti dari perkataan, pendengaran, penglihatan para salafus saleh tentangkomitmen terhadap yang halal, menhindari yang syubhat dan menghiasi diri dengan sifat wara'
      sumber: Al wafi, hlm 97

      Hapus
  16. Nama: Kiki F. Mastriana
    NIM: 2021 111 198
    Kelas: D

    mohon jelaskan maksud dari kalimat "Dan karena lisan juga, seseorang bisa memperoleh surga atau bahkan ditelungkupkan ke neraka"
    terima kasiih.........

    BalasHapus
    Balasan
    1. arigato.....
      didalam makalah diatas tertulis Bahwa Rasulullah SAW bahkan sampai menjanjikan surga bagi orang yang menjaga farji nya dan isannya..
      dalam artian lisan ini bisa dijelaskan Rasulullah menyuruh kepada kita agar benar-benar berhati dalam menggunakan lisannya atau mulutnya dalam berbicara dengan teman maupun saudara-saudara kita.
      satu contoh kita sedang bercanda gurau dengan teman kita, namun pastinya dalam bercanda gurau itu kan pasti terkadang teman kita tersentuh hatinya atau sakit hatinya akibat omongan kita yang tidak senonoh menurut nya, padahal mungkin sepemahaman kita yang namanya orang bercanda itu pasti sudah biasa saja sampai bergurai kealam-dalam banget lubuk hati, tapi tak mau dikata orang itu berbeda hatinya dia malah marah dan bilang sampai tidak akan ikhlas dunia akhrat dengan omongan kita yang kita ucpkan padanya. mungkin dari itu bisa tergambar jelas bahwa orang yang tidak berhati-hati dalam menggunakan lisannya ia bisa masuk kedalam lungkup neraka.
      satu hal yang mungkin bisa menyelamatkan kita dari lingkup neraka yaitu dengan diam tanpa kata, karena bila memang kita menebar omongan-omongan yang sampai-sampai menykitkan orang lain lebih kita diam. dari itu mungkin kita bisa terselamatkan dari api neraka...
      terimakasih......

      Hapus
  17. Nama: Susi Ernawati
    Nim : 2021 111 202
    Kelas : D
    Assalamu'alaykum
    yang ingin saya tanyakan, apabila kita sudah berusaha menjaga penglihatan kita dari segala macam maksiat, namun jikalau hati kita belum mampu untuk hal tersebut, bagaiamana menurut pemakalah, adakah cara supaya hati kita selalu dijaga dalam kebaikan?
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mbak susi ermawati....
      pada dasarnya hati selalu mengajak kepada kebaikan. karena logikanya bila hati sudah niat untuk menjauhi hal maksiatdalam prakteknya juga akan bisa menjauhi maksiat. karena setiap manusia baik maupun buruk itu selalu tergantung dri niatnya masing-masing.
      intinya bahwa manusia melakukan semua hal entah itu melakukan hal baik maupun hal yang buruk itu awalnya ddasari dari NIATnya didalam hati...
      terimakasih bak susi

      Hapus
  18. Nama ; Heri Rubi Antoni
    Nim ; 2021 111 161
    Kls: D

    Bagaimana jika seorang yang dari lahirnya tidak mempunyai tangan apakah diakhirat tangannya akan dipertanggung jawabkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. arigatto mas panser snex asal doro kaliketing.com
      seseorang yang terlahir cacat sejak ia keluar dari rahim ibunya yang ada kekurangan salah satu organ inti dalm tubuhnya.
      menurut saya tangannya tetap dipertanggungjawabkan bila mana masih ada separuh dari tangan cacat tersebut atau dari bagian lengannya.
      namun bilamana ia sama sekali ia lahir tidak memiliki tangan, maka tangannya tersebut tidak akan dipertanggungjwbkan. dari itu bisa digambarkan bahwa orang yangterlahir cacat didunia itu walaupun dia menderita, namun diakhirat kelak ia menapatkan keistimewaan dari Allah SWT yaitu terbebas dari pemeriksaan mana ia tidak mempunyai tangansejk ia lahir didunia sampai meninggal...
      terimakasih......

      Hapus
  19. Nama: khomisah ikasasih
    Nim: 2021111171
    Kelas: D


    yang ingin saya tanyakan, bagaimana apabila seseorang yang dianugerahi kelebihan seperti indera keenam, apakah hal tersebut juga akan dimintai pertanggung jawabannya kelak diakahirat??jelaskan

    terimakasih. . . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaannya....
      bahwa sanya semua amal itu pastinya yang mengurus itu adalah Allah SWT. terkait dengan indra menurut hadist diatas menyebutkan bahwa penglihatan,pendengaran akan dipertanggungjawabkan nantinya disana, jadi bisa dimungkin bahwa indra ke enam mpun atau orang yang diberi kelebihan indra oleh Allah SWT pastinya juga akan dipertanggungjawabkan nantinya diakhirat atau diwaktu hari pembalasan yang semuanya anggota badan saling membuka atau berbicara kecuali mulut yang terkunci karena mulut bissa berucap dusta sedangkan yang lainnya berkata apa adanya apa yang ia lakukan saat ia didunia. terimakasih

      Hapus
  20. NAMA : ARINUN ILMA
    NIM : 2021 111 045
    KELAS: D

    Pertanyaannya, terkadang kehendak perbuatan dan hati suka bertentangan, didalam hatinya tidak ingin melakukan perbuatan tercela, tetapi panca inderanya melakukanny, meskipun dalam keadaan terpaksa atau yang lainnya, padahal kita tahu kelak panca indera akan dimintai pertanggung jawabannya, nah..bagaimana cara kita untuk menahan melakukan perbuatan tercela dan lebih mendengarkan hati nurani, terimakasih..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. arigatoo mbak ilma yang muuuaaaaannniiieeeezzz...hehe
      menurut saya hati nurani adalah suatu sumber referensi dari seseorang dimana seseorang akan melakukan perbuatan
      hati nurani dari itu mempunyai pilihan untuk membedakan mana amal yang berbasih akhlaq karimah dan amal yang berbasis akhlak suul karimah.
      dari itu tergantung dari diri kita sendiri atau NIAT (hawa nafsu) untuk menggerem atau membentenginya dari perbuatan yang tercela.
      terimakasih

      Hapus
  21. NAMA : NURUL HIDAYAH
    NIM : 2021 111 269
    KELAS: D

    Assalamu'alaikum...

    berbicara mengenai pertanggungjawaban di akhirat menganai panca indera kita, bahwasannya dalam Islam haram hukumnya apabila seorang laki-laki dan seorang wanita yang bukan muhrim saling memandang satu sama lain. kerena hal tersebut termasuk zina mata. nah, meskipun demikian, sehari-harinya kita hampir setiap hari bertemu bahkan berbincang-bincang, bercanda, dengan lawan jenis, di dalam kelas pun antara laki-laki dan perempuan di jadikan satu, otomatis untuk mengindahkan ajaran islam tersebut di atas rasanya teramat sulit.menurut pemakalah, bagaimana menyikapi dengan hal tersebut??
    terimakasih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. arigatto
      menurut saya memang bila mana antara laki-laki dan wanita it saling memandang itu zina mta, ettss tapi tunggu dulu!!
      bisa disebut zina mata bila mana dari salah satu pihak itu muncul hasrat atau nafsu.
      melihat keadaan sekarang yang namanya laki-laki sama perempuan pastinya ada dalam satu ruangan, mu itu dikampuz , diwarung, di sekitar rumah, diwarnet maupun dipekerjaan. karena memang pada dasarnya manusia diciptakan untuk prpasang-pasangan dan perlu diketahui bahwa manusia itu makhluk sosial atau makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. dari itu seperti halnya boz kita adalah wanita dan kita sendiri sebagai pekerjanya adalah laki-laki hampir setiap hari ketemu dengannya namun atas rasa saling profesional dalam pekerjaan dan bekerja untuk beribadah degan Allah SWT itu tidak apa-apa.
      jadi dapat disimpulkan bila mana tidak menimblkan syahwat atau hawa nafsu itu menurut saya tidak apa-apa mbak tapi dengan syarat tidak melebihi batas-batas koridor yang ditentukan oleh syariat agama.

      Hapus
  22. Nama: Mushofakhah
    NIM: 2021 111 196
    Kelas: D

    Bagaimana jika seseorang yang mempunyai keterbatasan fisik/ panca indra (cacat), apakah tetap mendapat pertanggungjawaban atas fisik/ panca indra di yaumul hisab nanti?
    Trimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arigatto......
      cacat disini mungkin bisa diartikan menjadi dua macam :
      1.cacat semuanya : dari hal ini mungin nama nya orang yag mempunyai kekurangan indra semua pastinya orang itu akan banyak melakukan aktifitas beribadah dengan Allah SWT dan ketimbang melaksanakan maksiat atau menjauhi larangannya.
      2. cacat sebagian : cacat sebagian disini mungkin orang tersebut masih bisa melakukan aktifitas seperti pekerjaan dan beribadah dengan Allah SWT.

      maka dapat didimpulkan bahwasanya Allah SWT adalah maha ang Adil dan dari itu orang yang mempunyai keterbatasan panca indra pun tetap akan dihitung amalnya kelak diyaumul hisab maupun orang yang mempunyai panca indra sempurna.

      Hapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  24. nama : naila syarifah
    NIM : 2021111149
    kelas : D
    trimakasih ....
    menurut anda menjaga panca indra agar terhindar dari hal-hal yang melanggar syariat islam dalam masyarakat itu bagaimana....dan itupun tanpa sengaja tetapi terjadi berturut-turut contohnya tanpa sengaja mendengar orang yang sedang bergunjing, ....
    dan apabila kita diajak seorang lawan jenis untuk bersalaman di muka umum, sikap apa yang harus kita ambil....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ariggatto naila
      menurut saya dengan berusaha menghindarinya saja.
      apabila kita bisa memperingatkan orang yag bergunjing tersebut itu lebih baik, disamping kita sudah memanfaatkan ilmu kita pada orang lain tentang bergunjing itu haram dan kita juga mendapatkan pahala.
      namun apabila kita tidak bisa memperingatkannya dengan alasan membahayakan diri kita, mungkin cukum mengingkarinya dengan hati, karena itu sudah termasuk perbuatan amal ma'ruf nahi mungkar yang paling lemah.
      dan untuk masalah menghindari bersalaman dengan lawan jenis dimuka umum. Alangkah lebih baiknya sebelum mengulurkan tangan, kita yang lebih dahuludngan senyum dan bersalaman yang tidak sampai bersentuhan. pasti hal ini tidak akan menyakiti dan menyinggung perasaan orang lain yang ingin berjabat tangan dengan kita.
      terimakasih....

      Hapus
  25. nama ;: Aisyah
    nim : 2021 111 158
    kelas;D
    bagaimana cara mengoptimalkan pembelajaran jika pendengaran kita sedikit terganguu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pertanyaan mbak aisyah yang paling immuueeeettzzz...
      dengan cara, mengoptimalkan panca indra yang lain, seperti menulis dan memakai alat bantu pendengaran.
      atau dengan cara berikutnya yaitu dengan pembelajaran yang dioptimalkan pada buku saja, kan belum tentu orang yang memiliki panca indra tidak sempurna juga tidak sempurna pada pemahaman ilmu pada buku.

      Hapus
  26. nama: faidhotun nikmah
    nim: 2021 111 267

    mengenai panca indera,..mulut dan telinga sering berhubungan..contohnya,dalam penerapan dikehidupan sehari", kenyataannya banyak ditemui orang" yang suka ngerumpi (membicarakan orang lain). padahal hal ini sudah jelas dilarang oleh agama kan..tetapi hal ini malah sudah menjadi makanan sehari" bagi kebanyakan orang..bagaimana menanggapi hal yang semacam ini? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. arigatto,,,,,,
      menurut saya itu adalah sebuah kebiasaan ya jadi mau tidak mau sedikit demi sedikit kita harus menghindarinya. dan satu hal lagi mungkin kita dengan mengingat tentang hukum karma. apabila kita sering ngrumpi atau membicarakan orang pasti entah kapan waktunya kita pun akan seperti itu...
      terimakasih

      Hapus
  27. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  28. apa yang terjadi jika kita tidak selalu bersyukur kepada Allah atas segala kenikmatan yang diberikan-Nya???

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbk nihla,
      jika kita tidak selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah maka ia akan selalu merasa kurang atas apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, sehingga ia akan selalau mengejar dunia tanpa memikirkan akhirat.
      sebaliknya jika kita selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita, maka Insya Allah, Allah akan menambahkan nikmat kepada kita,

      Hapus
  29. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus