MAKALAH
RUMAH SEBAGAI MADRASAH
dan
MEMANFAATKAN TENAGA PENGAJAR PROFESIONAL
Disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah : Hadits Tarbawi II
Dosen
Pengampu : Muhammad Hufron Dimyati, M. S. I
Disusun oleh:
Nama :
M. Miftakhul Aziz
NIM : 2021111018
Kelas : A
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
PENDAHULUAN
Lingkungan keluarga
merupakan bagian dari pendidikan luar sekolah sebagai wahana pendidikan agama
yang paling pertama sebelum anak mengenyam bangku sekolah dan terjun ke
masyarakat, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan
dan bimbingan dari orangtuanya. Dapat pula dikatakan lingkungan yang utama,
karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga
pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga.
Dalam
kaitannya hal tersebut, rumah dapat dikatakan sebagai madrasah pertama bagi
anak, dan orang tualah berperan sebagai tenaga pengajar profesional, dimana
orang tua bertanggungjawab penuh terhadap pendidikan anaknya di dalam rumah.
.Untuk mengetahui lebih jelasnya akan dibahas dalam pembahasan makalah ini.
PEMBAHASAN
A. Hadits
Ø
Rumah Sebagai Madrasah
عثمان بن الأرقم أنه كان يقول : أنا ابن سبع الإسلام أسلم أبي سابع سبعة و كانت داره على
الصفا و هي الدار التي كان النبي صلى الله عليه و سلم يكون فيها في الإسلام و فيها
دعا الناس إلى الإسلام
(رواه الحاكم فى المستدرك, باب ذكر الأر قم بن أبي الأرقم المخزومي رضي الله عنه)
Ø
Memanfaatkan Tenaga Pengajar Profesional
حد ثنا علي بن
هاصم قال : قال داودحد ئنا عكر مة عن ابن عباس قا ل :(كان
ن س من الاسرى يوم بد لم يكن لهم فدا ء
فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم فداء هم ان يعلموااولادالانصارالتابة قال فجاء
يوما غلا م يبكي الى ابيه فقال ماشانك قا ل ضربنى معلمى قال الخبيث يطلب بز حل بد
ر والله لاتا تيه ابدا )
(رواهاحمد فى ا لمسند,من مسند بني ها شم,
بدايه مسند
عبدالله بن عبس)
B. Terjemah
Ø
Rumah Sebagai Madrasah
“Ustman bin Arqam
berkata: saya masuk Islam usia tujuh tahun, ayah saya orang yang ke tujuh masuk
Islam. Rumahnya di tanah safa dan rumah itu pernah di tempati oleh Nabi
Muhammad SAW untuk berdakwah dan berdo’a kepada manusia untuk masuk Islam. (HR.
Al- Hakim).[1]
Ø
Memanfaatkan Tenaga Pengajar Profesional
“Ali
bin Hasyim mencerminkan kepada kami, ia berkata : Daud berkata, Ikrimah
menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abbas, ia berkata “ ada sejumlah orang
diantara para tawanan perang badar yang tidak mempunyai tebusan, lalu
Rasulullah SAW menetapkan tebusan mereka dengan cara mengajarkan tulisan kepada
anak – anak Kaum Anshor. Suatu hari, seorang anak menemui ayahnya sambil anak
itu menangis, maka sang ayah bertanya, “ ada apa denganmu?” anak itu menjawab,
“pengajarku telah memukulku”. Sang ayah pula berkata si buruk itu, ia telah
menuntut ( balas ) dengan bekas perang badar!” demi Allah jangan lagi kau
mendatanginya.”[2]
C. Mufradat
Ø
Rumah Sebagai Madrasah
·
Masuk Islam
usia tujuh tahun: ابن سبع الإسلام
·
Orang yang ke tujuh masuk islam:
أسلم أبي سابع
سبعة
·
Rumah:
داره
·
Berdoa:
دعا
Ø
Memanfaatkan Tenaga Pengajar Profesional
·
Tawanan : الأسرى
·
Tebusan :
فداء
·
Menangis:
يبكى
·
Ada apa dengan
mu?: ما شاء نك
·
Buruk:
الخبث
D. Biografi Perawi
Ø
Rumah Sebagai Madrasah
Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam Adalah
seorang pengusaha yang berpengaruh dari suku Makhzum dari kota Mekkah.
Dalam sejarah Islam,
dia orang ketujuh dari As-Sabiqun al-Awwalun.
Rumahnya berlokasi di bukit Safa, di tempat inilah para pengikut Muhammad
belajar tentang Islam. Sebelumnya rumah al-Arqam ini disebut Dar al-Arqam (rumah Al-Arqam) dan
setelah dia memeluk Islam akhirnya disebut Dar
al-Islam (Rumah Islam). Dari rumah inilah madrasah pertama kali ada. Al-Arqam juga
ikut hijrah
bersama dengan Muhammad ke Madinah.[3]
Ø
Memanfaatkan Tenaga Pengajar Profesional
Abdullah bin Abbas adalah seorang sahabat Nabi, dan merupakan anak dari Abbas bin Abdul-Muththalib, paman dari
Rasulullah SAW. Dikenal juga dengan nama lain yaitu Ibnu Abbas (619
- Thaif,
687/68H). Ibnu Abbas
merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan banyak hadits sahih
yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta beliau juga menurunkan seluruh Khalifah
dari Bani Abbasiyah. Beliau merupakan anak dari
keluarga yang kaya dari perdagangan bernama Abbas bin Abdul-Muththalib, maka
dari itu dia dipanggil Ibnu Abbas, anak dari Abbas. Ibu dari Ibnu Abbas adalah
Ummu al-Fadl Lubaba, yang merupakan wanita kedua yang masuk Islam, melakukan
hal yang sama dengan teman dekatnya Khadijah binti Khuwailid, istri Rasululah.
Ayah dari Ibnu Abbas dan ayah dari Muhammad merupakan anak dari orang yang
sama, Syaibah bin Hasyim, lebih dikenal dengan nama Abdul-Muththalib. Ayah
orang itu adalah Hasyim bin Abdulmanaf, penerus dari Bani Hasyim klan dari
Quraisy yang terkenal di Mekkah. Ibnu Abbas juga memiliki seorang saudara
bernama Fadl bin Abbas. Ia pernah di doakan Nabi dua kali, saat didekap beliau
dan saat ia melayani Rasulullah dengan mengambil air wudlu, Rasululah berdoa,
Ya Allah fahamkanlah (faqihkanlah) ia. (HR. Muslim) Ibnu Abbas wafat pada tahun
78 hijriyah, dalam usia 75 tahun, diriwayat lain 81 tahun. Dari Ibnu Jubair
menceritakan, bahwa Ibnu Abbas wafat di Thaif.[4]
E. Keterangan Hadits
Ø
Rumah Sebagai Madrasah
Orang
ke tujuh dari orang yang masuk Islam
: سا بع سبعة
Maksudnya bahwa al-Arqam merupakan salah satu dari assabiqunal awalun
(sahabat Nabi yang perttama-tama masuk Islam).
Rumah : دا ر
Maksud rumah disinui adalah rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Ali al-Arqam
yang berada di bukit Shafa, rumah tersebut merupakan tempat ilmu pengetahuan
agama dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh Nabi Muhammad SAW. Dan rumah
tersebut merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam yang
sebelumnya disebut Dar al-Arqam (rumah
al-Arqam), setelah al-Arqam memeluk Islam disebut dengan Dar al-Islam (rumah
Islam).
Mengajak : دعا
Maksudnya bahwa rasulullah SAW mengajak para sahabat dan orang-orang
yang hadir dalam majelis di rumah al-Arqam untuk masuk Islam, kemudian
mengajarkan pendidikan agama dan menyuruh mereka untuk mengamalkannya dengan
perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Ø
Memanfaatkan Tenaga Pengajar Profesional
Dari hadits diatas dapat diperoleh keterangan bahwa
pada saat perang badar terjadi rasulullah menangkap beberapa musuh dan
dijadikan tawanan. Akan tetapi beberapa tawanan tersebut tidak mempunyai
tebusan untuk jaminan kebebasan dirinya. Maka dari itu, Rasulullah mengganti
tebusan nya dengan jalan lain, yaitu menyuruh mereka mengajarkan menulis
anak-anak dari kaum anshor. Setelah Kegiatan Belajar mengajar berlangsung
beberapa hari, pada suatu saat ada seorang anak yang mendatangi ayahnya dalam
keadaan menangis. Setelah ditanya, ternyata anak tersebut telah dipukul gurunya
yang tidak lain adalah tawanan Rasul. Maka mulai saat itu sang Ayah melarang
anaknya untuk tidak datang kepada guru tadi selama-lamanya.
Dengan demikian, jelas
secara tersirat kita bisa mengetahui bahwa tawanan tadi kemungkinan besar
menaruh dendam pada rasul karena telah dijadikan tawanan. Secara otomatis,
mereka juga menyimpan dendam pada kaum tersebut dan meluapkan dendam nya pada
anak-anak kaum itu. Berarti, tawanan tadi sudah berlaku menyimpang dan tidak
bersikap professional dalam mengajar anak-anak kaum anshor. Seharusnya, tawanan
yang menjadi guru itu harus bisa membedakan mana masalah pribadi yaitu
kemarahan dan dendam akibat kalah dalam perang badar dan posisinya sewaktu ia
menjadi guru.[5]
F. Aspek Tarbawi
Ø
Rumah Sebagai Madrasah
Fungsi rumah selain
sebagai tempat tinggal, rumah juga dapat dijadikan sebagai
v
Tempat memperoleh pendidikan keluarga, yaitu:
·
Pengalaman pertama masa kanak-kanak
·
Memantapkan kehidupan emosional anak
·
Menanamkan dasar pendidikan moral
·
Memberikan dasar pendidikan sosial
·
Peletakan dasar-dasar keagamaan
v
Tempat ibadah
Jadikanlah shalat
sebagai tiangnya, zikir sebagai pondasinya dan bacaan Al Qur’an sebagai cahaya
yang akan menerangi para penghuninya.[6]
Ø
Memanfaatkan Tenaga Pengajar Profesional
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh,
panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh
karena itu, guru harus memiliki standar kualitas dan pribadi tertentu yang
mencakupp tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Jadi
dapat disimpulkan bahwa untuk menjaadi seorang pendidik yang berkompeten, maka diperlukan beberapa kompetensi –
kompetensi antara lain :
ü
Kompetensi
personality ( kepribadian)
Kemampuan
dasar yang menyangkut pada kepribadian agamis dari pendidik, misalnya dalam
mengajarkan ilmunya hendaklah berniat untuk mencari ridho Allah SWT.
ü
Kompetensi sosial
Menyangkut
kepedulian pendidik terhadap masalah – masalah sosial selaras dengan ajaran
agama
ü
Kompetensi
profesional
Menyangkut
kemampuan untuk menjalankan tugas keguruannya secara profesional, misalnya
seorang guru harus ahli dalam bidangnya, menguasai materi, dan sebagainaya.
ü
Kompetensi
pedagogik
Kemampuan
dalam mengolah pembelajaran.[7]
PENUTUP
Lembaga
pendidika pertama dalam Islam adalah keluarga atau rumah. Rumah sebagai lembaga
sosial pendidikan dalam Islam diisyaratkan dalam al-qur’an surat Asy-Syu’araa’
ayat 214 yang artinya “Ajarilah keluargamu yang terdekat”. Kurang lebih 13
tahun Nabi Muhammad SAW menjadikan keluarga sebagai lembaga pendidikan dalam
Islam guna mengadakan dan menyalurkan perubahan dalam masyarakat.
Secara
formal dirumah al-Arqam inilah Nabi mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam kepada
para sahabat dan dirumah itu pula Nabi menerima tamu yang ingin bertanya kepada
nabi tentang ajaran Islam dan orang-orang yang ingin masuk Islam. Dirumah ini
pula terbentuknya jama’ah Islam yang pertama di periode Mekkah, maka rumah ini
merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Hakim. 1398-1978 M.
Al mustadrak jilid III. Mesir: Beirut.
Imam Ahmad Bin muhammad Bin
Hambal.
2007. Musnad Imam Ahmad. Jilid III. Jakarta: Pustaka Azzam
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Abbas
Sayadi,Wajidi, 2009. Hadits Tarbawi, Pesan-Pesan
Nabi saw Tentang Pendidikan. Jakarta : PT. Pustaka Firdaus.
Hasbullah. 1999. Dasar-Dasar
Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Muhaimin dan Abdul Mujib,1993. pemikiran
pendidikan islam:kajian filosofis dan kerangka dasaroperasionalnya, Bandung:Trigenda
Karya
[2]
Imam Ahmad Bin muhammad Bin Hambal, Musnad
Imam Ahmad. Jilid III (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007) hal.30-31
[4]
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Abbas
[5] Sayadi,Wajidi, Hadits Tarbawi, Pesan-Pesan Nabi saw
Tentang Pendidikan. (Jakarta : PT. Pustaka Firdaus. 2009).
[7] Muhaimin dan Abdul Mujib,pemikiran
pendidikan islam:kajian filosofis dan kerangka dasaroperasionalnya (Bandung:Trigenda
Karya,1993),hal 173
ASSALAMU'ALAIKUM WR. WB. . . .
BalasHapusNAMA: DEWI NURLITA KURNIAWATI
NIM : 2021111036
Rumah dikatakan sebagai madrasah, nah... Bagaimana jika dalam rumah yang dihuni oleh keluarga yang tidak harmonis, pendidikan terabaikan justru membuat anak terjerumus dalam limbah hitam, misalnya saja anak terjerat seks bebas dan narkoba karena mereka berfikiran dunia luar lebih indah dari dunia dalam rumah akibat berbagai faktor ketidak harmonisan keluarga. Rumah yang seharusnya dijadikan tempat berlindung dan sebagai wadah pendidikan justru seperti neraka bagi neraka. Bagaimana solusi anda untuk mengatasi masalah tersebut?? Syukron. . . jazakumullah. . .
WASSALAMU'ALAIKUM WR. WB. . .
solusi yang diberikan bisa berupa tindakan preventif contohnya Memberikan pendidikan agama untuk meletakkan dasar moral yang baik dan berguna. Maupun dengan tindakan represif yaitu dengan: Mengadakan introspeksi sepenuhnya akan kesalahan yang telah diperbuatnya sehingga menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan. Namun, menurut saya karena permasalahan itu bersumber dari keluarga, solusi terbaik untuk anak-anak tersebut bukanlah psikolog, guru dan ulama, melainkan orang tua yaitu ayah dan ibunya di rumah yang dapat berperan dan berfungsi selayaknya orang tua.
HapusDesi Atinasikhah ( 2021111343)
BalasHapusAssalamu'alaikum wr.wb.
dimakalah dijelaskan bahwa rumah adalah tempat madrasah atau sebagai tempat pembelajaran pertama bagi anak. Tapi kenyataannya sekarang ini, banyak orang tua yang sibuk dengan urusannya sendiri. bagaimana solusi dari pemakalah untuk menyiasati keadaan yang demikian, supaya pendidikan untuk anak tidak terabaikan.
seharusnya sang ibu mengalah guna tercipta kondisi psikis anak yang kondusif sehingga tercipta pula perasaan percaya dari anak ke orang tua. Apabila sang ibu merupakan seorang wanita karir pastilah hal tersebut sukar untuk di lakukan oleh karena itu bisa disiasati dengan cara ibu dapat membuka usaha sendiri di rumah. Sehingga, selain dapat membantu pendapatan keluarga, yang paling penting adalah dapat mengawasi dan membimbing anak dalam masa-masa kritis seperti pada masa pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.
HapusMuhammad Kamaluddin (2021 111 042)
BalasHapusRumah sebagai Madrasah mngkin yang saya tangkap adalah keluarga sebagai pendidik, lah yang saya ingin tanyakan apabila keluarga tersebut beda agama seperti islam dan kristen bagaiman cara kita mendidik anak kita pasti kita akan sama-sama mengajarkan agama kita masing-masing apakah peranan rumah sebagai madrasah akan terwujud pada keluarga seperti ini?
dan di atas disebutkan memanfaatkan pengajar profisional, yang saya ingin tanyakan kita sebagai calon pendidik agar dapat menjadi pendidik yang profisional dan dapat di manfaatkan semaksimal mungkin itu gimana, dan profisonal disini itu profisional yang seperti apa?_
Mengatasi pendidikan keluarga beda agama adalah dengan cara kita memberi kebebasan pada anak untuk memilih mempelajari pendidikan Islam maupun pendidikan kristen. Buanglah sifat egois masing-masing dan jangan fanatik pada agama masing-masing. Seperti pasangan keluarga Jamal Mirdad dan Lidya Kandau yang telah berhasil dalam mengarahkan pendidikan anak-anaknya, ada yang memilih Islam dan ada pula yang memilih kristen. Akan tetapi lebih baik kita sebelum menikah harus memilih pasangan hidup kita yang sama keyakinannya.
HapusMenurut sya, peranan rumah sebagai madrasah dalam keluarga tersebut sudah tercapai asalkan ada kebebasan dalam memilih menerima ilmu.
menjadi pendidik yang profesional tidaklah mudah karena harus memiliki standar kualitas dan pribadi tertentu yang mencakupp tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin. Semua itu harus saling berkisambungan satu sama lain.
Dzikrotul khasanah (2021 111 262)
BalasHapusUntuk menjadi pendidik yang kompeten diperlukan 4 kompetensi yaitu: sosial, personal, profesional, dan pedagogik. Menurut anda bagaimana jika seorang pendidik mengajar namun tidak sesuai dengan bidangnya dengan kata lain menyimpang dari kompetensi profesional. Bagaimana tanggapan anda mengenai hal itu serta berikan solusinya?
terimakasih...
Selama ini mungkin kita banyak menyalahkan guru yang mengajar tidak pada bidangnya. Ada guru yang latar belakang pendidikannya sarjana pendidikan agama tetapi mengajar matematik, atau guru bahasa Indonesia mengajar bahasa Inggris, tetapi mungkin sedikit dari kita yang mencoba mengetahui kenapa bisa seperti itu. Contohnya di daerah pelosok, apalagi untuk sekolah kecil dengan kelas hanya 4 atau lima, jarang sekali guru berkualitas mau mengajar sesuai bidangnya di sana, akibatnya guru lain harus menghandle bidang yang tidak ada gurunya.Mau tidak mau guru lainlah yang masuk ke kelas, daripada kosong siswa tidak ada bimbingan. Akibatnya, keadaan belajar di kelas kemudian jauh dari berkualitas. Ada yang hanya meminta tiap anak membaca buku teks secara bergantian sampai jam habis atau hanya mengerjakan LKS tanpa dikoreksi atau belajar sendiri. Akan tetapi ada juga yang mencoba berbenah dan memperbaiki diri sesuai kemampuan, belajar bidang yang diempunya dengan membaca buku teks lebih banyak lagi. Memang hanya sebatas itu karena keterbatasan.
HapusSalah satu penyebab banyak lulusan sekolah guru belum mendapat pekerjaan adalah, lembaga pendidikan tersebut menerima mahasiswa terlalu banyak. Seharusnya ada penghitungan terlebih dahulu sebelumnya. Sehingga, angka "Pengangguran Terpelajar" bisa dikurangi. Kuantitas guru yang kita temui saat ini sangat luar biasa banyaknya. Apalagi dengan makin banyaknya program seleksi masuk ke perguruan tinggi. Mulai dari yang namanya SNMPTN at SPMB sampai yang mandiri, dan seleksinya yang cenderung mudah, semakin mendorong banyaknya penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi keguruan. Ini begitu jomplang ketika melihat daerah diluar sana yang kekurangan guru. Sampai-sampai ada program seperti Indonesia Mengajar. Miris sekali. Dan menurut salah satu survei di dunia maya, pendidikan di Indonesia nomor 69 dunia.
Ila Ariska (2021 111 023)
BalasHapusMenurut pemakalah bagaimana jika seseorang menjadikan rumahnya sebagai pusat ilmu pengetahuan namun menuntut bayaran kepada peserta didiknya?
upaya apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan tenaga pengajar yang profesional?
Seseorang yang menjadikan rumahnya sebagai pusat ilmu pengetahuan akan tetapi menuntut bayaran kepada peserta didiknya itu mungkin dimaksudkan untuk membiayai kemaslahatan keluarga pendidik dan itu dianggap sebagai upah atas tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan. Memang sebagai pendidik seharusnya kita dituntut untuk ikhlas. Akan tetapi ikhlas yang dimaksud di sini bukan berarti gratis melainkan kita harus mengoptimalkan sebaik mungkin peran kita sebagai pendidik dan tidak mengharapkan apa-apa selain ridho Allah.
HapusUpaya yang harus dilakukan untuk mempersiapkan tenaga pengajar yang profesional adalah :
1. Meningkatkan mutu pendidikan nasional
2. Mengembangkan kurikulum nasional dan lokal
3. Meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan
4. Pengadaan buku dan alat pengajaran
5. Sertifikasi guru
6. Pengadaan dan perbaikan sarana dan prasarana pendidikan
7. Meningkatkan mutu manajemen sekolah.
Ummu Hanik (2021 111 014)
BalasHapusDalam makalah dijelaskan bahwa seorang guru tidak boleh membawa masalah pribadi kedalam kelas, namun pada kenyataannya hal itu sering terjadi, bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut? dan langkah apa yang harus ditempuh agar seorang pendidik tersebut mampu memposisikan dirinya dalam proses pembelajaran?
Seorang guru memang tidak boleh membawa masalah pribadi ke dalam kelas, tetapi itu merupakan ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian yaitu rangsangan yang memancing emosinya. Kestabilan emosi amat diperlukan, namun tidak semua orang mampu menahan emosi terhadap rangsangan yang menyinggung perasaan, dan meman diakui bahwa tiap orang mempunyai temperamen yang berbeda dengan orang lain. Untuk mengatasi masalah tersebut, langkah yang diambil adalah dengan upaya dalam bentuk latihan mental.
HapusNaila Chusniyyati
BalasHapus2021 111 264
A
Assalamu'alaikum
menurut pemakalah sebenarnya apa yang dimaksud rumah sebagai madrasah itu? lalu apabila dalam suatu rumah hanya terdiri dari orang tua yang hanya sibuk diluar rumah dan hanya mengundang guru privat untuk mendidik anaknya,apakah rumah tersebut masih bisa dikatakan sebagai madrasah?
terimakasih . . .
Rumah sebagai madrasah ialah sebuah rumah yang dibangun / susun dengan mempertimbangkan kebutuhan anak, dari segi: Spiritual, Kemandirian, Akhlak, Pengetahuan, Sosial, Kreativitas yang dikembangkan berbasis Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW, contohnya pendidikan yang berkaitan dengan penanaman akidah, bimbingan membaca Al-Qur’an, praktik beribadah, dan prkatik akhlak mulia, serta pembinaan watak, karakter, kepribadian.
HapusRumah tersebut masih bisa dikatakan sebagai madrasah karena dengan mengundang guru privat, orang tua masih berperan dalam mendidik anaknya walaupun secara tidak langsung.
Ass.. .
BalasHapusNama: Anita Kumala
Nim: 2021 111 364
Pemakalah yang terhormat, yang ingin saya tanyakan di sini adalah dalam makalah di atas dikatakan bahwa guru harus memiliki standar kualitas dan kepribadian tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin untuk menjadi seorang pendidik yang berkompeten,
Nah Menurut pemakalah Sifat wibawa yang baik dan yang benar yg hrus dmiliki oleh seorang pendidik itu seperti apa ? Apabila seorang pndidik dihadapkan pada suatu masalah, smisal pendidik dikaruniai seorang murid yg amat sgt nakal didalam kelas, sudah ditegur dan dinasehati tp tetap saja tdk mau berubah, Mengingat bahwa seorang pendidik yg profesional itu tdk boleh memukul peserta didik seenaknya sndri.
Menurut pemakalah kewibawaan (kbijaksanaan) yg perlu diterapkan dsini itu bgmn?
Sekian, terimakasih...
Sifat wibawa yang baik dan benar yang harus dimiliki oleh seorang pendidik adalah guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial dan intelektual dalam pribadinya, serta memiliki kelebihan dalam pemahaman ilmu pengeahuan, teknologi, dan seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan.
HapusKewibawaan (kebijaksanaan) yang perlu diterapkan mengenai masalah tersebut adalah dengan cara mendekati anak tersebut secara perlahan-lahan jangan sampai terbawa emosi dalam menghadapi anak tersebut. Karena api jangan dilawan dengan api yang semakin menyala-nyala akan tetapi dengan air agar bisa padam.
Menurut Anda, seperti apa ciri-ciri rumah sebagai madrasah itu??? serta apa kelebihan dan kekurangannya??
BalasHapusmohon jelaskan dan berikan contoh berdasarkan realita???
Terima Kasih.....
ciri rumah tangga sebagai madrasah tak ubahnya seperti rumah tangga islami dimana didalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Rumah tangga Islami adalah rumah tangga yang didirikan atas landasan ibadah. Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada kebaikan dan mencegah keburukan karena cinta mereka kepada Allah. Dengan begitu anak akan tercipta pondasi agama yang kokoh.
HapusCOntoh nyatanya seperti Terbiasa saling tolong menolong dalam menegakkan adab-adab Islam(Saling mengingatkan untuk sholat atau berdoa sebelum memulai suatu pekerjaan. Juga adab mengucapkan terima kasih / jazaakallah khoiran atas pertolongan yang diberikan anggota keluarga lainnya.
Nama: Nur Amiroh
BalasHapusNim:2021 111 345
kelas: a
menurut pemakalah,bagaimana tanggapanya apabila ada pendidik yang memberikan hukuman dengan cara kekerasan?dan sekarang kan menggunakan KTSP dimana murid di tuntut untuk mandiri,sedangkan fungsi gurukan sebagai pengarah,mengayomi muridnya,nhah bagaimana peranan guru yang sebenarnya?apakah dengan KTSP tersebut dapat memberikan dampak baik bagi keduanya?
hukuman dg cara kekrasan menurut saya sangat tidak pantas, namun Hukuman terhadap siswa harus berlandaskan keseimbangan. Misalnya dari strata paling rendah, siswa yang nakal dibina dulu oleh wali kelas. Apabila masih belum bisa ditolerir dikenakan hukuman skorsing tidak boleh mengikuti kegiatan sekolah. Sedangkan hukuman di strata puncak jika memang sekolah tidak mampu membina lagi, kembalikan kepada orang tuanya.
HapusDalam KTSP ini seorang guru dituntut untuk mampu mengubah sumber pembelajaran menjadi bahan ajar, sehingga materi yang diajarkan kepada peserta didik tidak monoton pada buku yang menjadi pegangan di sekolah tersebut serta hal ini akan mengurangi kejenuhan siswa saat belajar. Dengan demikian proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik, guru bisa memberikan pelajaran dengan bahan ajar dan metode yang variatif sehingga peserta didik merasa nyaman dan materi yang diajarkan menarik untuk dipahami yang pada akhirnya peserta didik bisa terhindar dari kejenuhan. sedangkn bagi Peserta didik menjadi lebih aktif, leluasa dlm mengungkapkan gagasannya dan materi yg disampaikan guru lebih cepat di tangkap.
Siti Nur Fitriana ( 2021 111 257 )
BalasHapusDidalam aspek tarbawi dipaparkan tentang memanfaatkan tenaga pengajar yang profesional, Nah yang saya tanyakan, Bagaimana cara kita agar mengetahui bahwa pengajar tersebut profesional atau tidak???dan bagaimana cara nya agar seorang pengajar itu bisa menguasai keempat kompetensi-kompetensi tersebut? MOhon jelaskan,,
Wassalammualaikum,,,, Terima kasih....:)
menurut saya ciri pengajar profesional itu ada 3 yaitu
Hapus1.Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.dengan begitu tercipta hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya
2.Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.
3.Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa.
untuk menguasai keempat kompetensi tsb pengajar haruslah bersikap obyektif, terbuka untuk menerima kritik terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, misalnya dalam hal caranya mengajar. Hal ini diperlukan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan demi kepentingan anak didik sehingga benar-benar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Keberanian melihat kesalahan sendiri dan mengakuinya tanpa mencari alasan untuk membenarkan atau mempertahankan diri dengan sikap defensif adalah titik tolak kearah usaha perbaikan
assalamualaikum
BalasHapuspendidik adalah seorang tenaga ahli yang telah terdidik baik etika moral dan estetikanya,dengan seperti itu maka seharusnya seorang pendidik sudah memiliki sebuah kebijaksanaan dan dapat membedakan antara pribadi dan mana yang kepentingan umum.bila terjadi seperti kasus diatas maka apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pendidik adalaah yang mencerminkan pribadi yang baik. maka pertanyaan saya yaitu bila terjadi penyelewengan apakah dia bisa dikatakan sebagai pendidik yg profesional?
yang dimaksud penanya penyelewengan yang seperti apa. Apabila harga tersebut jelas-jelas melanggar kode etik guru dan norma-norma kemasyarakatan maka pendidik tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pendidik yang profesional.
HapusMayda Ar Rahmah
BalasHapus2021 111 272
Assalamu'alaikum
Islam sebagai agama mulia, secara tegas mengatur posisi wanita sebagai madrasah utama dalam pendidikan di rumah. Ibu, dalam Islam mendapat posisi penting sebagai guru pertama bagi anaknya,,,
Yang saya tanyakan, bagaimanakah pelaksanaan tanggung jawab bagi seorang ibu yang memiliki sebuah pekerjaan/karier?
Trims
Memang benar dalam masalah pendidikan, seorang ibu sangat berperan bagi kelangsungan pendidikan anak. Namun , selama ini ibu banyak disibukkan dengan permasalahan diluar rumah. Sementara pendidikan anak tertelantar. Bahkan cenderung sang anak diserahkan tanggung jawabnya kepada pembantu.
HapusKeterbatasan waktu menjadi kendala bagi ibu untuk melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perkembangan anak dirumah. Kalau anak berkembang sendiri tanpa adanya pengawasan, maka dikhawatirkan akan melakukan hal-hal yang negatif. Sehingga sebagai alternatif atau jalan keluar dalam membantu keuangan keluarga, ibu dapat membuka usaha sendiri di rumah. Sehingga, selain dapat membantu pendapatan keluarga, yang paling penting adalah dapat mengawasi dan membimbing anak dalam masa-masa kritis seperti pada masa pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.
nila naeli R.
BalasHapus2021111271
A
seperti yang kita ketahui bahwa pada jaman sekarang guru dituntut untuk profesional dalam segala bidang (dalam lingkup kependidikan), namun dalam realita yang ada, banyak guru yang bisa dibilang kurang profesional, seperti dalam bidang teknologi, dan lainnya, sedangkan pada jaman sekarang guru dituntut untuk menguasai teknologi, serta kompetensi lainnya. nah, pertanyaan saya apa langkah yang harus dilakukan terhadap guru-guru tersebut (terutama guru yang sudah lama mengajar/ sudah cukup berumur) karena biasanya mereka menolak jika diberi masukan dengan alasan mereka lebih berpengalaman...karena biar bagaimanapun dengan kekurangprofesionalan mereka maka dampaknya akan dirasakan terutama untuk para peserta didik...terimakasih...
pemahaman tentang keprofesionalitasan yang dapat di ukur itu menurut saya sebenarnya salah karena keprofesionalan akan muncul pada pendidik apabila dapat memanfaafkan dan mengoptimalkan apa yang telah pendidik kuasai.
Hapussebenarnya mereka bukannya menolak masukan yang diberikan tapi cara penyampaianya terhadap mereka saja yang belum tepat karena secara sendirinya mereka akan sadar bahwa semua itu adalah tuntutan atas pekerjaan yang mereka lakukan jadi mau tidak mau mereka akan belajar dengan sendirinya.
Beberapa hari belakangan di media gempar dengan adanya berita mengenai seorang wakasek dari salah satu SMA di Jakarta yang melakukan tindakan yang tidak pantas terhadap salah seorang peserta didiknya. bagaimana tanggapan anda mengenai kasus tersebut ? berikan solusinya ?
BalasHapusTindakan asusila seorang guru terhadap siswanya tersebut sangat mencoreng moral pendidikan, seorang guru semestinya harus dapat menjadi panutan, tetapi dia justru mencoreng nama baik profesinya.Empat kompetensi yang dimiliki guru, yaitu personal, sosial, profesional dan pedagogik. Namun, tidak seluruhnya berjalan dengan baik.
Hapussolusi yang dilakukan adalah mengembalikan psikologis siswi tersebut agar kembali ceria dan terbebas dari bayang-bayang hal negatif yang pernah dialaminya, Dan untuk wakasek sudah selayaknya menanggalkan profesi sebagai pendidik karena hal tsb jauh dari kata pendidik yg profesional dan di beri hukuman yg seberat-beratnya.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusNama: Eka Supriyatin
BalasHapusNim : 2021 111 357
Assalamualaikum...
bagaimana jika dalam suatu keluarga pengetahuan tentang ilmu agama dan praktek nya kurang sempurna, bagaimana cara menjadikan anak tersebut menjadi lebih baik dari orang tua nya. jelaskan ??
Seharusnya orang tua sadar akan kekurangannya tersebut dan sesegera mungkin mengarahkan anaknya agar lebih baik dari orang tuanya. Dengan begitu tanggung jawab orang tua sebagai pendidik tidak gugur karena telah berusaha mendidik anak walaupun tidak secara langsung adapun langkah yang dapat dilakukan adalah dengan menyekolahkan anaknya di sekolah yang kompeten terutama dalam bidang keislaman.
HapusNama:dzati ismah
BalasHapusNim:2021 111 263
assalamu'alaikum
bagaimana menurut pemakah,apabila di rumah ada pendidikan ,tetapi yang mengajar itu kurang paham dengan yang akan di ajarkan,bagaimana solusinya supaya anak itu bisa paham dengan hal yang akan di ajarkan,,,,??
Menjadi pendidik bukan berarti berhenti dari belajar, terlebih materi yang diajarkan. Sebagai pendidik kita harus meningkatkan pemahaman dan pengetahuan kita tentang materi yang kita ajarkan. Selain itu, pendidik juga harus mengikuti perkembangan terkini tentang materi yang diajarkannya (updating). Updating perkembangan terbaru tentang ilmu yang diajarkan akan meningkatkan dan memperdalam pemahaman pendidik tentang ilmu tersebut.
HapusNama:Anisa Nur Idatul Fitri (2021 111 372)
BalasHapusassalamuAlaikum
yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana tanggapan pemakalah terhadap pengajar yang memiliki 2 sisi kepribadian, misalnya ketika ia mengajar ia bisa bersikap santun, kemudian berjilbab, dan selalu mengajarkan hal-hal kebaikan dan bisa memenuhi peranya sebagai pendidik. tetapi ketika di rumah ia menjadi sosok yang berbeda seperti berpakaian sexy, bermalas-malasan..dll? apakah pendidik yang seperti itu bisa dikatakan profesional?? sekian terima kasih