Laman

Minggu, 06 Oktober 2013

SBM-T2C-3: Pembelajar-Gizag-Uswah



MAKALAH
HAKIKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas:

Mata Kuliah                : Strategi Pembelajaran
            DosenPengampu         : M. Ghufron Dimyati, M.S.I
           

DisusunOleh:

Nimah fajriyah            (342111072 )
UmuRosyidah              (342111094)
           
Kelas : T2C

TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM KI AGENG PEKALONGAN
(STIKAP) YMI PEKALONGAN
2013




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Siapa pun tidak akan pernah menyangkal bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dalam penuh makna. Di dalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan ke dalam ciri setiap pribadi anak didik.
Kegiatan belajar menagajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakan guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini dilahirkan interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Di sana semua komponen pengajaran diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan.
Sebagai kegiatan yang bernilai edukatif, belajar mengajar mempunyai hakikat, ciri dan komponen. Ketiga aspek ini perlu betul guru ketahui dan pahami guna menunjang tugas di medan pengabdian. Maka dari itu pemakalah akan mengulas sedikit mengenai ketiga aspek diatas yang akan kami bahas dalam makalah yang berjudul “ Hakikat, Ciri dan Komponen Belajar Mengajar”.

B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.    Bagaimana hakikat belajar mengajar itu?
2.    Apa sajakah ciri-ciri belajar mengajar?
3.    Apa sajakah komponen dalam belajar mengajar?
4.    Apakah belajar mengajar sebagai suatu sistem?


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Hakikat Belajar Mengajar
Belajar pada hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Sedangkan mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi, lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Sehingga dapat dikatakan bahwa hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru.[1]
Belajar mengajar adalah dua konsep yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Belajar merupakan apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek maupun sebagai obyek pembelajaran, sedangkan mengajar merupakan apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar.
Dua konsep tersebut menjadi terpadu apabila suatu kegiatan manakala terjadi interaksi guru dan siswa, pada saat pembelajaran itu berlangsung inilah hakikat belajar mengajar. Interaksi tersebut dalam proses pembelajaran memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif.
Belajar adalah suatu proses yang ditandai adanya proses perubahan pada diri seseorang. Inilah yang merupakan inti proses pembelajaran. Perubahan tersebut bersifat intensional, positif -aktif dan efektif fungsional.
Hakikat belajar, banyak ayat-ayat Al-quran maupun hadits yang mendorong umat islam untuk dapat menjadi pemikir dan memeiliki ilmu pengetahuan yang meroket. Apabila hal itu dapat tercapai, maka Allah akan mengangkat derajat mereka ke tempat yang lebih tinggi sebagaimna diklamkan dalam Q.S. Al-Mujadilah[58]: 11.
Belajar atau mendulang ilmu pada hakikatnya bukan sekedar untuk tahu, paham dan hafal suatu pengetahuan tertentu, melainkan bagaimana menjadi mengerti, kemudian mengamalkan, dan pada puncaknya menyampaikan manfaat bagi lingkungannya. Dalam dunia pesantren hal ini lebih dikenal dengan ‘alim, amil, shalih, dan nafi’.[2]
Syekh Tajuddin Zarnuji melalui kitab Ta’lim Al-Muta’alim Thariq Al-Ta’allum, mengajarkan bagaimana belajar yang tepat agar tak hanya membuahkan ilmu, tapi juga amal dan bermanfaat bagi lingkungan.
Pertama, luruskan niat bahwa belajar merupakan sarana untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri dengan Tuhan, mencapai ridha-Nya, serta menebarkan manfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Kedua, mengagungkan ilmu dan perantara ilmu (kiyai, guru, juga buku). Ketiga, dilandasi minat, ketekunan dan keuletan dalam belajar. Keempat, memilih ilmu dan guru yang tepat sehingga dapat dijadikan teladan dalam bertindak. Kelima, memiliki sifat waro’ (menjauhkan diri dari segala hal yang haram).[3]

B.  Ciri-ciri Belajar Mengajar
Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:
1.    Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu, sadar akan tujuan yang ingin dicapai dengan menempatkan peserta didik sebagai satu pusat perhatian .
2.    Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur atau langkah-langkah sistematik dan relevan.[4] Terhadap beberapa pendapat yang telah digunakan yaitu subject oriented, student oriented dan social oriented. Secara umum, prosedur belajar mengajar dilakukan melalui tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan; kegiatan inti; kegiatan akhir dan tindak lanjut kegiatan belajar mengajar.[5]
3.    Kegiatan belajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa sehingga cocok untuk mencapai tujuan.
4.    Ditandai dengan aktivitas anak didik.[6] Untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik menurut Widada (1994) guru dapat menggunakan pendekatan-pendekatan yaitu self esteem approach, creative approach, self actualization, multiple talent approach, inquiri approach, pictorial riddle approach dan syntetic approach.[7]
5.    Guru berperan sebagai pembimbing. Dalam peranannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
6.    Membutuhkan disiplin. Dalam membentuk disiplin belajar peserta didik Reisma dan Dayne dalam E. Mulyasa (2003), mengemukakan strategi umum merancang disiplin peserta didik, yaitu: konsep diri, keterampilan berkomunikasi, konsekuensi-konsekuensi logis dan alami, klasifikasi nilai, analisi transaksional, terapi realitas, disiplin yang berintegrasi,dan tantangan bagi disiplin.
7.    Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajr tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak dapat ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus dicapai.
8.    Evaluasi. Adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan sudah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat efisiensi pelaksanaan.[8]


C.  Komponen-komponen Belajar Mengajar
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi. Penjelasan dari setiap komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran yaitu suatu cita-cita yang bernilai normatif, dengan kata lain terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada peserta didik. Ny.Dr. roestiyah, N.K. (1989) mengatakan bahwa suatu tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar suatu proses dari pengjaran itu sendiri.
2.    Bahan pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yanga akan dicapai dalam proses belajar-mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Oleh karena itu guru yang akan mengajar harus menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Ada 2 persoalan dalam menguasai bahan pelajaran yaitu bahan pelajaran yang pokok dan penunjang. Pemakaian bahan penunjang harus sesuai dengan bahan pelajaran pokok agar dapat memberikan motivasi kepada peserta didiknya.
3.    Kegiatan belajar mengajar (pendidik dan anak didik)
Dalam kegiatan belajar mengajar anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi tersebut anak didiklah yang lebih aktif, bukan guru. Guru hanya sebagai motivator dan fasilitator, keaktifan anak didik menyangkut kegiatan fisik dan mental. Dalam kegiatan belajar mengajar guru hendakanya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual dan psikologis. Hal tersebut dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan mastery learning kepada setiap anak didik secara individual. Yang meliputi dua kegiatan yaitu program pengayaan dan program perbaikan.[9]
4.    Metode
Metode adalah suatu cara yag dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Faktor yang mempengaruhi penggunaan metode dalam mengajar sebagai berikut:
·      Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya
·      Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya
·      Situasi yang bermacam-macam
·      Fasilitas yang bermacam-macam kualitas dan kuantitasnya
·      Pribadi guru serta kemampuan dan profesional yang berbeda-beda.
5.    Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Alat mempunyai fungsi yaitu sebagai pelengkap sebagai pembantu memudahkan untuk mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan itu sendiri. Alat dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu alat (perintah, larangan dsb) dan alat perintah (globe, kapur tulis dsb).
6.    Sumber pengajaran
Sumber pengajaran merupakan materi / bahan untuk menambah ilmu pengetahuan dan hal-hal baru. Dalam mengemukakan sumber belajar ini para ahli sepakat bahwa segala sesuatu dapat dipergunakan sebagai sumber belajar sesuai dengan kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Macam-macam sumber belajar:
·      Manusia (dalam keluarga, sekolah dan masyarakat)
·      Buku atau perpustakaan
·      Mass media (majalah, surat kabar, tv, radio)
·      Alat pengajaran (peta, buku pelajaran, papan tulis dll)
·      Museum
·      Alam lingkungan
·      Aktivitas (karyawisata, simulasi)
7.    Evaluasi
Evaluasi adalah suatu tindakan atau proses menentukan nilai yang dan hubungannya dengan dunia pendidikan. Evaluasi mempunyai tujuan yaitu tujuan umum meliputi; mengumpulkan data-data yang menunjukkan taraf kemajuan murid dan tujuan yang diharapkan, memungkinkan guru melakukan penilaian aktivitas yang dilakukan, menilai metode mengajar yang digunakan. Tujuan khusus meliputi; merangsang kegiatan siswa, menemukan sebab-sebab kemajuan/kegagalan, memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan bakat siswa yang bersangkutan, memperoleh laporan tentang perkembangan siswa, untuk memperbaiki mutu pengajaran.
Dari tujuan tersebut dapat dipahami bahwa pelaksanaan evaluasi diarahkan kepada evaluasi proses dan evaluasi produk. Ketika evaluasi bermanfaat bagi guru dan siswa maka evaluasi mempunyai fungsi sbb:[10]
·      Sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses belajar mengajar
·      Untuk memberikan angka yang tepat bagi kemajuan atau laporan hasil belajar bagi setiap siswa
·      Untuk menentukan situasi belajar mengajar siswa sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki siswa
·      Untuk mengetahui penyebab siswa yang mengalami kesulitan belajar yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mencari solusinya.

D.  Belajar Mengajar Sebagai Sistem
1.    Pengertian sistem
Sistem berasal dari bahasa latin (sistema) dan bahasa yunani (sustema) adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Dalam pengertian umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan diantara mereka. Sedangkan menurut istilah sistem adalah suatu kesatuan berbagai unsur yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai tujuan/fungsi sistem tersebut.
Sedangkan pembelajaran adalah menekankan proses pembelajaran di sekolah, sehingga pembelajaran tersebut digambarkan sebagai kesatuan sub-sub sistem yang membentuk satu sistem utuh. Sub sistem yang membentuk sistem pembelajaran adalah tujuan, subjek belajar, pengelolaan, struktur dan jadwal pelajaran, materi pelajaran, strategi pembelajaran, alat bantu, perpustakaan dan pendidik. Interaksi inimembutuhkan komponen-komponen yang sangat berkaitan dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Komponen-komponen pembealjaran meliputi: tujuan, subjek belajar, materi pelajaran, strategi pembelajaran, media pembelajaran, dan penunjang pembelajaran.[11]
2.    Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap proses pembelajaran
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kegiatan proses sistem pembelajaran, diantaranya adalah:
·      Faktor guru
·      Faktor siswa
·      Faktor sarana dan prasarana
·      Faktor lingkungan.[12]


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
*   Hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru.
*   Ciri-ciri belajar mengajar: tujuan, ada suatu prosedur (jalannya interaksi), ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus, ditandai dengan aktivitas anak didik, guru berperan sebagai pembimbing, membutuhkan disiplin, ada batas waktu dan evaluasi.
*   Komponen belajar mengajar: tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber pengajaran dan evaluasi.
*   Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap proses pembelajaran: faktor guru, faktor siswa, faktor sarana dan prasarana, faktor lingkungan.

B.  Saran
Cukup demikian pemaparan dari malakah hakikat, ciri dan komponen belajar mengajar. Tentunnya kita sebagai generasi penerus bangsa apalagi kita yang bernaung di dalam manajemen pendidikan islam, dituntut untuk dapat memahami betul tentang hakikat, ciri dan komponen belajar mengajar sebagai modal dasar sebagai pendidik kelak. Semoga apa yang kita pelajari dapat meresapkan suatu manfaat. Terima kasih.







DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Reneka Cipta.

Mustakim, Zaenal.Strategi & Metode Pembelajaran. 2011. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.



[1]Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Reneka Cipta, 2006), h. 39
[2]Zaenal Mustakim, Strategi & Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2011), h. 48-49
[3]Ibid., h. 50
[4]Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Op. Cit., h. 40
[5]Zaenal Mustakim,  Op. Cit., h. 63-64
[6]Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Loc. Cit., h. 40
[7]Zaenal Mustakim,  Op. Cit., h. 66-67
[8]Ibid., h. 68-69
[9]Ibid., h. 50-52

[10]Ibid., h. 53-54
[11]Ibid., h. 55-56
[12]Ibid., h. 59-61

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar