Laman

Minggu, 17 November 2013

SBM-B-11: variasi mengajar



MAKALAH
VARIASI MENGAJAR

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati, M.S.I

Oleh:
Akhsanul Khuluqiyah             2022111058
M. Jamaludin Al Afghoni       2022111060
Indah Kharis Septian              2022111079
Dewi Asriyah                          2022111083
 Kelas B

PRODI PBA
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013


BAB I
PENDAHULUAN

Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Merasakan makanan yang sama terus menerus akan menimbulkan kebosanan, melihat film yang sama dua kali saja orang sering tidak mau, juga karena bosan. Orang akan lebih suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti yang positif. Makan makanan yang bervariasi (bermacam-macam) akan merangsang untuk makan. Rekreasi pada dasarnya juga akan mengurangi kebosanan. Demikian juga dalam proses belajar mengajar. Bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi, maka akan membosankan siswa, perhatian siswa berkurang, mengantuk dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa.
Dalam proses belajar mengajar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikit pun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Variasi Mengajar
Variasi dapat diartikan selang seling atau bermacam-macam. Menurut Uzer Usman, variasi adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar, murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
Variasi mengajar adalah mengajar yang tidak monoton bisa dari gaya mengajar, metode, media, materi dan juga interaksinya.

Adapun fungsi dari variasi mengajar antara lain:
1.      Sebagai penarik perhatian siswa
2.      Sebagai motivasi ekstrinsik siswa dalam belajar[1]
B.     Tujuan Variasi Mengajar
Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimaksud adalah:
1.      Meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevansi proses belajar mengajar
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian  siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai faktor memang mempengaruhinya.
Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang dicapai. Perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
2.      Memberikan kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi
Dalam proses belajar mengajar di kelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenanginya, tetapi untuk bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran bukan masalah bagi guru. Karena dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Berbagai gangguan yang ada di sekitarnya kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.
3.      Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah
Hal ini adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa yang kurang senang terhadap seorang guru. Kurang senangnya seorang siswa terhadap guru bisa jadi disebabkan gaya mengajar guru yang kurang bervariasi. Gaya mengajar guru tidak sejalan dengan gaya mengajar siswa.  Misalnya, hanya menggunakan metode ceramah setiap kali pertemuan, tidak menggunakan metode yang lain.
Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.
4.      Memberikan kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individual
Sebagai seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai keterampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar. Penguasaan metode mengajar, menggunakan media dan penguasaan terhadap berbagai pendekatan dalam mengajar di kelas memudahkan seorang melakukan pengembangan variasi mengajar. Tetapi jika sebaliknya, maka sulitlah bagi guru mengembangkan variasi mengajar untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah. Fungsinya berguna sebagai alat bantu pengajaran dan alat peraga. Lengkap tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan metode yang harus guru lakukan.
5.      Mendorong anak didik untuk belajar
Menyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru. Kewajiban belajar adalah tugas anak didik. Kedua kegiatan ini menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang disebut interaksi edukatif. Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong anak didik untuk selalu belajar hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Kegiatan komponen variasi mengajar dapat menyeret kegiatan belajar anak didik ke dalam berbagai pengalaman yang menarik pada berbagai tingkat kognitif. Anak didik bergairah belajar.[2]
C.     Prinsip-prinsip Variasi Mengajar
1.      Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai
2.      Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak merusak perhatian siswa dan menggangu pelajaran
3.      Direncanakan secara baik dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran atau satuan pelajaran.
D.    Komponen-komponen keterampilan mengadakan variasi
1.      Variasi dalam mengajar guru
a.       Penggunaan variasi suara (teacher voice)
Penggunaan variasi suara yaitu perubahan suara keras menjadi lembut, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lembut dan pelan pada suatu saat memberikan tekanan pada kata-kata tertentu.
b.      Pemusatan perhatian siswa (focusing)
Memusatkan perhatian siswa pada hal-hal yang dianggap dapat dilakukan oleh guru. Misalnya dengan perkataan, “Perhatikan ini baik-baik”.
c.       Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence)
Adanya kesenyapan, kebisuan atau selingan diam yang tiba-tiba dan sengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa.
d.      Mengadakan kontak pandang dan gerak
Bila guru sedang bicara atau berinteraksi dengan siswa, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke semua murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang baik dengan mereka.
e.       Gerakan badan mimik (gesturing)
Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala dan gerak badan adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi.
f.       Pergantian posisi guru dan gerak guru di dalam kelas
Pergantian posisi guru di dalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa.[3]
2.      Variasi Media dan Bahan Ajaran
Ada tiga komponen dalam variasi penggunaan media yaitu:
a.       Variasi media pandang
Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai pengunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah, globe, peta, film, TV, radio, gambar grafik, model, demonstrasi dan lain-lain.
b.      Variasi media dengar
Pada umumnya dalam proses belajar di kelas, suara guru adalah alat utama dalam komunikasi. Ada sejumlah media dengar yang dapat dipakai, diantaranya yaitu pembicaraan anak didik, rekaman bunyi dan suara, rekaman musik, rekaman drama, wawancara dan lain-lain.
c.       Variasi media taktil
Media taktil adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran. Misalnya dalam bidang studi sejarah dapat membuat maket desa zaman majapahit.
3.      Variasi Interaksi
Variasi dalam pola interaksi antara guru dengan anak didiknya memiliki rentangan yang bergerak dari dua kutub, yaitu:
a.       Anak didik bekerja atau belajar secara bebas tanpa campur dari guru.
b.      Anak didik mendengarkan dengan pasif. Situasi didominasi oleh guru, di mana guru berbicara kepada anak didik.[4]
E.     Manfaat Variasi Mengajar
Adapun manfaat dari variasi mengajar menurut Uzer Usman adalah:
1.      Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar yang relevan.
2.      Untuk memberikan kesempatan bagi perkembangan bakat ingin tahu dan ingin menyelidiki siswa tentang hal-hal yang baru.
3.      Untuk memupuk dan membentuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai gaya mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang baik.
4.      Guna memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
Sedang manfaat variasi menurut JJ Hasibuan adalah:
1.      Memelihara dan meningkatkan aspek belajar siswa.
2.      Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi ingin tahu.
3.      Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.
4.      Kemungkinan dilayaninya siswa secara individual.
5.      Mendorong aktivitas belajar dengan cara melibatkan siswa dengan berbagai kegiatan.[5]
F.      Variasi Mengajar pada Model-model Belajar
Dalam melaksanakan variasi gaya mengajar, guru hendaknya memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar belajar siswanya, supaya siswa termotivasi, bersemangat dan berminat dalam belajar.
1.      Visual
Bagi pelajar visual, belajar yang efektif adalah dengan menggunakan gambar keseluruhan (melakulakan tinjauan umum), yakni dengan membaca bahan pelajaran secara sekilas.
Ciri-ciri pelajar visual:
a.       Teratur, memperhatikan segala sesuatu
b.      Mengingat dengan gambar, grafik dan warna untuk meningkatkan memori
Gaya mengajar guru yang mudah mempengaruhi siswa ini adalah kontak pandang, perpindahan posisi dan eksperimen wajah.
2.      Auditorial
Bagi pelajar auditorial, belajar yang efektif adalah dengan mendengar. Adapun ciri-ciri siswa auditorial adalah:
a.       Perhatianya mudah terpecah
b.      Berbicara dengan pola berirama
c.       Belajar dengan cara mendengar
d.      Berdialog secara internal dan eksternal
Untuk itu guru di saat menerangkan dituntut untuk menggunakan variasi, pemusatan, perhatian dan kesenyapan memudahkan dan meningkatkan perhatian siswa dalam belajar.
3.      Kinestetik
Bagi pelajar kinestetik, belajar yang efektif adalah dengan melibatkan diri langsung dengan aktivitasnya, jadi mereka cenderung pada eksperimen (gerak).
Ciri-ciri siswa kinestetik:
a.       Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca
b.      Mengingat sambil melihat langsung
Guru dianjurkan melibatkan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung, menggunakan metode eksperimen, bahasa tubuh guru bervariasi, supaya menarik perhatian siswa dan mempermudah pemahaman siswa terhadap materi tersebut.[6]



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan, begitu juga dengan siswa. Dalam proses belajar mengajar siswa juga bisa mengalami kebosanan, hal ini bisa jadi disebabkan karena kurang senangnya siswa terhadap gaya mengajar guru. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran serta variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.
Penguasaan dari ketiga keterampilan tersebut (metode, media dan pendekatan) memudahkan bagi guru melakukan pengembangan variasi mengajar. Tetapi jika sebaliknya, maka sulitlah bagi guru mengembangkan variasi mengajar untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.


















DAFTAR PUSTAKA

Zaenal Mustakim. 2011. Strategi dan metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.

Ahmad Sabri. 2003. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: QUANTUM TEACHING.



[1] Zaenal Mustakim, Strategi dan Metode Pembelajaran, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2011), hlm. 220.
[2] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar mengajar, (Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2010), Hlm. 161-166.
[3] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Jakarta: QUANTUM TEACHING, 2003), hlm.99-102
[4] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Op.Cit,. Hlm.169-171.
[5] Zaenal Mustakim, Op.Cit, Hlm. 225-226.
[6] Ibid, Hlm. 265-266.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar