Laman

Selasa, 16 September 2014

Ilmu Akhlak - E - 2 : PENGERTIAN AHLAK/ILMU AHLAK, NORMA DAN ISTILAH-ISTILAH LAIN YANG BERSANGKUTAN



 

Makalah
PENGERTIAN AHLAK/ILMU AHLAK, NORMA DAN
 ISTILAH-ISTILAH LAIN YANG BERSANGKUTAN

Disusun guna memenuhi tugas:
                                      Mata Kuliah              : ILMU AHLAK
  Dosen Pengampu      : MUHAMMAD HUFRON, M.S.I
                                        
    Kelas : E

                                                                   Disusun oleh :   
                                                             1. Nur Khikmah                   (2021114228)
                                                             2. Imam Ghozali                  (2021114229)
                                                           3. Nur Azmi Arifiani            (2021114230)
                                                             4. Lutfa Nur Atikoh             (2021114231)
                                                                  
                                                                   TARBIYAH PAI

                     SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
      PEKALONGAN
                                                                            2014



KATA PENGANTAR
Bissmillahirrahmanirrahim.
Assalaamu`alaikum, Wr, Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, milik Allah semata, Pencipta langit dan bumi, pembuat gelap dan terang, karena limpahan rahmat, karunia, dan hidayah- Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini.dan tidak lupa kami khaturkan salawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.
Adapun masalah yang kami angkat dalam makalah ini yaitu yang berkaitan dengan  Pengertian Ahlak/Ilmu Ahlak,Norma dan Istilah-Istilah yang bersangkutan.
Meskipun dalam penyusunannya masih terdapat kekurangan, kami mengharapkan kritik dan saran positif dari pihak pembaca guna menambah pengetahuan dan wawasan kami tentang Pengertian Ahlak/Ilmu Ahlak,Norma dan Istilah-Istilah yang bersangkutan.





                                                                                                         Pekalongan , 15 September 2014

Penyusun








DAFTAR ISI
KATA PENGATAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB  I       PENDAHULUAN....................................................................... 1
A.    Latar Belakang Masalah ......................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.................................................................... 1
C.     Metode Pemecahan Masalah................................................... 1
Metode Penulisan.......................................................................... 1
BAB  II     PEMBAHASAN.......................................................................... 2
A.    .Pengertian Etika..................................................................... 2
B.     Pengertian Ahlak dan Ilmu Ahlak........................................... 3
C.     Aturan-Aturan/Norma-Norma Dalam Etika............................ 4
D.    Istilah-Istilah Lain Yang Bersangkutan................................... 5
BAB III     PENUTUP.................................................................................... 7
A.    Kesimpulan...............................................................................

DAFTAR  PUSTAKA.................................................................................... 8










PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
            Kata kata seperti “ETIKA”,”ETIS”,dan “MORAL”tidak terdengar dalam ruang kuliah saja dan tidak menjadi monopoli kaum cendekiawan. Diluar kalangan intelektual pun sering disinggung tentang hal-hal seperti itu. Memang benar, dalam obrolan dipasar atau ditengah penumpang-penumpang opelet kata-kata itu jarang sekali muncul. Tapi jika kita membuka surat kabar majalah,hampir setiap hari kita menemui kata-kata tersebut. Berulang kali kita membaca kalimat-kalimat semacam ini : “Dalam dunia bisnis etika merosot terus “,”Etika dan moral perlu ditegaskan kembali”,”adalah tidak etis,jika …”,”Di televisi akhir-akhir ini banyak iklan yang kurang etis “,dan sebagainya. Kita mendengar “moral Pancasila “ dan “etika pembangunan”. Juga dalam pidato-pidato para pejabat pemerintah kata ”etika” dan “moral”banyak dipergunakan banyak dipergunakan . pendeknya,kata-kata seperti ini mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Dan dapat ditambah lagi kata-kata ini berfungsi dalam suasana iseng dan remeh,tapi sebaliknya dalam suatu konteks yang serius dan kadang malah amat prinsipiil.
B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
      1. Apa pengertian etika?
      2 .Apa saja pengertian ahlak dan ilmu ahlak?
      3.Bagaimana  aturan –aturan / norma – norma dalam etika?
      4 .Apa saja istilah lain yang berkaitan?
B.     Metode pemecahan masalah.
              Metode pemecahan masalah yang di lakukan melalui metode kajian pustaka, yaitu dengan mengunakan  beberapa referensi buku. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah jyang di bahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran.
C.     Metode Penulisan
             Kali ini penulis menggunakan metode kepustakaan. Cara yang digunakan pada penelitian ini adalah Studi Pustaka. Dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini.                                  
                                                                    BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etika.
      1. Asal Usul Etika
        Etika (etimologi), berasal dari kata Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat.Idendtik dengan perkataan moral yang berasaa dari kata Latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga Adat atau cara hidup.
Etika dan Moral sama artinya,tetapi dalam pemakain sehari hari ada sedikit perbedaan. Moral dan atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk mengkaji system nilai-nilai yang ada.[1]
2. Definisi Etika
       Seperti halnya dengan banyak istilah yang menyangkut konteks ilmiah, istilah “etika” pun berasal dari bahasa yunani kuno. Kata yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti : tempat tinggal yang biasa,; padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan,sikap, cara berfikir. dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah : adat kebiasaan. Dan arti terakhir inilah menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika “yang oleh filsuf yunani besar Aristoteles (384-322 s.M.) sudah dipakai untuk menunjukan fisafat moral. Jadi jiak kita membatasi diri pada asal-usul kata ini, maka “ etika “ berarti :  ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.[2]
        Dari definisi etika diatas, dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dengan emapat hal sebagai berikut, pertama, dilihat dari segi objek pembahasanya,etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Kedua dilhat dari segi sumbernya, etika bersumber pada mutlak, absolute dan tidak pula universal. Ia terbatas,tidak berubah, memiliki kekurangan, kelebihan dan sebaliknya. Selain itu, etika juga bermanfaat berbagai ilmu yang membahas perilaku manusia seperti ilmu antropologi,psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi, dan sebagainya. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya,etika berfungsi sebagai penilai,penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai,buruk,mulia, terhormat, hina, dan sebagianya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilakukan oleh manusia. Etika lebih mengacu kepada pengkajian system nilai-nilai yang ada. Keempat, dilhat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan ketentuan zaman.
Dengan ciri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan filosof barat mengenai perbuatan  baik atau buruk dapat dikelompokan kepada pemikiran etika sifatnya Humanistis dan antroposentris yakni bersifat paara pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.[3]
Jadi Etika adalah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia kepda lainnya, menyatakan sutu tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melkukan apa yang harus diperbuat.[4]
B. Pengertian Akhlak dan Ilmu Akhlak
            1. Pengertian Akhlak                       
              kata akhlak berasal dari bahasa arab  AKHLAK yang sudah di jadikan bahasa indonesia, yang diartikan sebagai tingkah laku,atau kesopanan. Kata ahlak bentuk jamak    dari mufradnya khuluk,yang sering juga diartikan dengan sifat bawaan,tabiat,adat kebiasaan dan agama.
      Sedangkan definisinya dapat lihat beberapa pendapat dari pakar ilmu ahlak antara lain :
a.  Al-Qurtubi Mengatakan :
Perbuatan yang bersumber dari diri manusia yang selalu dilakukan maka itulah yang  di sebut ahlak,karena perbuatan tersebut dari sumbernya.
      b.Muhammad bin ilan al-sadiqi mengatakan :
Aklak adalah suatu pembawaan yang ternam dalam diri,yang dapat mendorong seseorang berbuat baik dengan gampang.[5]
     2. Pengertian Ilmu Akhlak
               a.Menurut Al-Mansur Ali Rajab
      Ilmu tentang nilai-nilai yang baik,lalu mengetahui cara-cara mengikutinya,agar manusia  dapat mengunakanya untuk berbuat baik. Dan ilmu tentang nilai-nilai yang buruk, lalu mengetahui cara-cara menjauhinya untuk membersikan diri dari padanya.
                  b. Menurut Ahmad Amin
Ilmu akhlak adalah ilmu suatu ilmu yang membahas prbuatan manusia yang dapat di nilai baik atau buruk.[6]
C. Aturan-aturan/ Norma-norma dalam etika.
           1.Aturan-aturan Perilaku Agama (Adab al-din).
Tuhan menyatakan kehendakan-Nya kepada manusia dan menetapkan kewajiban-kewajiban  agama tanpa menginginkan imbalan atau keharusan yang memaksa-Nya untuk melakukan hal tersebut ; :Ia hanya berniat memberikan keuntungan kepada manusia melalui karunia-Nya yang tak terbatas,” yang dimanifestasikan melalui anugerah (ni’am) yang tak terhingga yang ia limpahkan kepada mereka. Dengan karunia dan kasih saying-Nya, tidak satupun dari tiga tipe kewajiban yang kita bebankan kepada manusia yang bentuk keyakinan, perintah dan larangan yang melampaui batas kemampuan mereka. Setiap tipe kewajiban ini, sekalipun telah ditetapkan Tuhan, secara rasional dapat diterima akal sehat. Ini adalah perintah dan larangan yang benar. “ karena ia memerintahkan suatu kewajiban yang benar (ma’ruf) dan melarang sesuatu yang salah (Munkar), sehingga perintah-Nya dan larangan-Nya terhadap  munkar menunjukan ketidakridoan-Nya.
 Pemenuhan kewajiban-kewajiban ini di samping sangat esensial bagi sebuah ketaatan juga   berperan sebagai sarana kebahagian abadi dalam kehidupan hari akhir.[7]
         2. Aturan-Aturan Perilaku Dunia (Adab Al-Dunya)
Bagian yangt berkaitan dengan “perilaku dunia” membangun tema tentang kelemahan dan rasa ketidakpuasan manusia yang sama pentingnya dengan ide-ide ukhrowi. Karena kelemahan dan rasa ketidakpuasan ini, maka manusia memerlukan bimbingan dan sikap qana’ah terhadap perbuatannya dan dengannya diharapkan dapat melawan kesombongan dan dipaksa untuk kembali kepada Tuhan.[8]
         3. Aturan-aturan Perilaku Individu (Adab Al Nafs)
Bagian ketiga dari karya al-Mawardi Adab al-Dunya Wa al-Din juga berhubugan dengan “Perilaku Individu” dan dapat dikatakan bahwa ia sangat berminat dengan analisis mengenai kebaikan-kebaikan manusia, seperti kerendahan hati, sikap yang baik, kesederhanaan, control diri, amanat, dan terbatas dari iri hati serta kebaikan-kebaikan social, seperti ucapan yang baik dan menjaga rahasia, iffah, sabar, dan tabah, memberi nasehat baik, menjaga kepercayaan dan kepantasan.[9]
 D. Istilah Lain yang berkaitan
     1.Etika dan Moral        
Kata yang cukup dengan‘’etika” adalah moral.kata ini berasal dari dari bahasa latin mos (jamak mores) yang berarti juga kebiasaan ,adat dalam bahasa inggris dan banyak bahasa lain termasuk bahasa indonesia (pertama kali di muat dalam kamus besar  bahasa indonesia,1988),kata mores masih di pakai dalam  arti yang sama. Jadi,etimologi kata sama dengan etimologi kata moral karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan.hanya bahasa asalny berbeda yang pertama berasal dari bahasa yunani yang kedua dari bahasa latin.[10]
2. Amoral dan Immoral
Masih mengenai istilah, perlu dibedakan antara amoral dan immoral. Disini terpaksa kita bertolak dari istilah-istilah inggris, karena dalam Bahasa Indonesia kita mengalami kesulitan. Oleh concise oxford dictionary kata amoral diterangkan sebagai “Unconcerned” With, out of the sphere of moral, non moral”. Jadi, kata Inggris amoral berarti : “tidak berhubungan konteks moral”, diluar suasana etis”, “non moral”. Dalam kamus yang sama immoral dijelaskan sebagai “opposed to morality; morality evil”. Jadi, kata Inggris “immoral” berarti : bertentangan dengan moralitas yang baik”, “secara moral buruk”,”tidak etis”.[11]
  1. Etika dan Etiket.
Dalam rangka menjernihkan istilah harus kita simak lagi perbedaan antara “etik“ dan “ etiket “. Kerap kali dua istilah ini dicampuradukkan begitu saja, padahal diantaranya sangat hakiki. “Etika” disini berarti “ moral “ dan “ Etiket “berarti “sopan santun “ (tentu saja, disamping arti lain: “secarik kertas yang ditempelkan pada botol atau kemasan barang”).
Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Diantara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukan cara yang tepat, artinya, cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan tertentu. Misalnya, jika saya menyerahkan sesuatu kepada atasan, saya harus menyerahkannya dengan menggunakan tangan kanan. Dianggap melanggar etiket, bila orang menyerahkan sesuatu dengan tangan kiri. Tetapi etika tidak terbatas pada cara dilakukannya sesuatu perbuatan; etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan boleh atau tidak. Mengambil barang milik orang lain tanpa izin tidak pernah dibolehkan. “jangan mencuri” merupakan suatu norma etika.[12]      

























        BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Etika atau ilmu akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini dapat dilihat antara lain sebagai berikut :
1.    Pada dasarnya ilmu akhlak bersumber pada Alqur’an dan hadis yang menjelaskan tentang baik dan buruknya tingkah laku seseorag.
2. Pokok pembahasan akhlak adalah tingkah laku manusia untuk menetapkan nilai yang baik   dan buruk.
3.    Akhlak terbagi menjadi dua, yaitu akhlak yang baik dan akhlak yang tidak baik, akhlak baik ialah akhlak yang sesuai dengan Alqur’an dan hadis, akhlak yang tidak baik ialah akhlak yang tidak sesuai dengan Alqur’an dan hadis.
Oleh sebab itu, sebagai manusia haruslah berakhlak baik sesuai dengan Alqur’an dan hadis, karena akhlak seseorang tercermin pada kepribadian seseorang. Dia baik dan buruk dapat dilihat dari akhlaknya.



                               








DAFTAR PUSTAKA

Zubair,ahmad charris.1995.kuliah Etika.Jakarta:PT.Raja Grafindo persada.
Bertens,K.1993. Etika Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
 Amin,ahmad.1995.ilmu Ahlak.Jakarta:Bulan Bintang
Mahjudin,2010.Ahlak Tasawuf.Jakarta pusat:KalamMulia
Fakhry,Majid.1996.Etika dan Islam.Yogyakarta;Pustaka Pelajar.


























                                         


      [1] Achmad Charis Zubair, Kuliah etika,Cet.1 (Jakarta : PT Raja Grafindopersada, 1995)H. 13
      [2] K. Bertens, etika,Cet.2-3-4 (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993) H .4
         [3] http://ekonomipintar(09/2010)Di akses,11 September 2014
         [4] Ahmad Amin,ilmu Ahlak, Cet.8(Jakarta,Bulan Bintang,1995),hlm.3
        [5] .Mahjudin,Ahlak Tasawuf,Cet. 1(Jakarta pusat,Kalam Mulia,2010),hlm.1


         [6] Mahjudin,Ahlak Tasawuf,Cet. 1(Jakarta pusat,Kalam Mulia,2010),hlm.3
        [7] Majid Fakhry,Etika dalam islam,Cet.1(Yogyakarta,Pustaka pelajar,1996),hlm.82
          [8] Ibid, hlm.83
         [9].Majid Fakhry,Etika dalam islam,Cet.1(Yogyakarta,Pustaka pelajar,1996),hlm.86
        [10] K.Bertens,Etika,Cet.2,3,4(Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1993),hlm.5
         [11] .Ibid hlm.7
            [12] K.Bertens,Etika,Cet.2,3,4(Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1993),hlm.4-5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar