Laman

Sabtu, 27 September 2014

ilmu akhlak - D - 4 : HUBUNGAN HATI NURANI DENGAN KESADARAN MORAL, MORALITAS DAN PERILAKU


MAKALAH

HUBUNGAN HATI NURANI DENGAN KESADARAN MORAL, MORALITAS DAN PERILAKU

Makalah ini Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Akhlak
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati, M.S.I.

Oleh:
 
                                           Muzayani (2021114161)
                                           Nala Rizqiyati (2021114163)
                                           Yayad Ruiyad (2021114164)
                                           Ummi Salamah (2021114165)

Kelas D

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
PEKALONGAN
2014


Kata pengantar

            Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya, makalah yang ini dapat diselesaikan. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada sebaik-baik manusia, Nabi dan junjungan kita, Muhammad SAW, keluarganya, dan sahabatnya.
            Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ade Dedi Rohayana, M.Ag selaku ketua STAIN Pekalongan, kepada Dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Akhlak Ghufron Dimyati, M.S.I,  kepada teman-teman dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam terselesaikannya makalah ini yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu.
            Makalah yang berjudul “HUBUNGAN HATI NURANI DENGAN KESADARAN MORAL, MORALITAS DAN PERILAKU” kami buat agar pembaca dapat mengetahui arti hati nurani, moral, moralitas, perilaku, dan hubungan diantara semuanya.
            Penulis telah berupaya menyajikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, meskipun tidak komprehensif. Di samping itu, apabila dalam makalah ini di dapati kekurangan dan kesalahan, baik dalam pengetikan maupun isinya maka penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik yang konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisnya berikutnya. Akhirnya semoga makalah yang sederhana ini menambah khasanah keilmuan yang bermanfaat.


                                                                             Pekalongan, 5 September 2014

                                                                              Penulis
                                                                                               
DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………... 1
Daftar Isi………………………………………………………. 2

BAB I     PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah……………………………. 3
B.   Rumusan Masalah…………………………………... 3
C.   Metode Perumusan Masalah………………………... 4
D.   Sistematika Penulisan Makalah…………………….. 4
BAB II    PEMBAHASAN
A.   Pengertian Hati Nurani……………………………... 5
B.   Pengertian Moral…………………………………… 7
C.   Pengertian Moralitas……………………………….. 8
D.   Pengertian Perilaku………………………………… 8
E.    Hubungan Hati Nurani dengan Kesadaran Moral, Moralitas, dan Perilaku………………………………………… 9
BAB III  PENUTUP
A.   Simpulan ………………………………………….... 10
B.   Saran/Rekomendasi………………………………… 10
DAFTAR PUSTAKA………………………………………..... 11


                                                                                                         
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya hidup ini adalah perbuatan, dan segala perbuatan adalah kontrol dari hati nurani kita. Makalah yang berjudul “Hubungan Hati Nurani dengan Kesadaran Moral, Moralitas dan Perilaku” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Akhlak. Di samping itu, juga agar mahasiswa dapat memahami dan mempelajari isi makalah ini sehingga dalam pengamalannya kita dapat memiliki hati nurani yang baik dan memunculkan moral, moralitas dan perilaku yan baik pula, kerena hubungan hati nurani dengan masing-masing sub tadi sangat erat, dimana hati nurani ini adalah sebagai kontrol bagi moral, moralitas dan perilaku kita.
Sebagai suatu pengantar, yang patut didasari bahwa moral, moralitas dan perilaku adalah semua aspek yang akan dinilai oleh orang lain terhadap kita. Oleh karena itu hati nurani sebagai instansi dalam hati kita, perlu diberi pupuk agar menumbuhkan moral, moralitas dan perilaku yang baik bagi manusia.
      
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.    Bagaimana pengertian hati nurani?
2.    Bagaimana pengertian moral?
3.    Bagaimana pengertian moralitas dan perilaku?
4.    Bagaimana hubungan diantara hati nurani, moral, moralitas dan perilaku?


C.  Metode Pemecahan Masalah
         Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menemukan masalah yang akan di bahas dengan melakukan perumusan masalah, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber.
D.  Tujuan penulisan
            Makalah ini kami tulis dengan tujuan sebagai berikut :
1.    Agar pembaca dapat mengetahui apa arti hati nurani
2.    Agar pembaca dapat mengetahui apa arti moral
3.    Agar pembaca dapat mengetahui arti moralitas dan perilaku
4.    Agar pembaca dapat mengetahui hubungan antara hati nurani, moral, moralitas dan perilaku.
5.    Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Akhlak










                                                                                                         
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Hati Nurani
Hati nurani dalam bahasa arab di sebut dlamir atau wijdan sedang dalam bahasa inggris di sebut dengan conscience. Hatinurani adalah suatu kekuatan dalam hati seseorang yang selalu memberikan penilaian benar dan salahnya atau baik dan buruknya atau perbuatan yang akan di lakukan.
        
1.    Bentuk Hati Nurani
Dapat di bedakan menjadi dua yaitu hati nurani retrospektif dan prospektif[1]
a)      Hati nurani retrospektif
          Yaitu hati nurani yang memberikan penilaian perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung di masa lampau, hati nurani dalam arti retrospektif menuduh atau mencela bila perbuatanya jelek dan menuju atau memberi rasa puas, bila perbuatanya di anggap baik . jadi hati nurani ini merupakan semacam instansi ke hakiman dalam batin kita tentang perbuatan yang telah berlangsung.

b)      Hati nurani prospektif
                                    Yaitu hati nurani yang melihat ke masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita yang akan datang. Hati nurani dalam arti ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu atau  -seperti barang kali lebih banyak terjadi-  mengatakan  “jangan” dan melarang untuk melakukan sesuatu . Dalam hati nurani ini sebenarnya terkadang semacam ramalan ia mengatakan, hati nurani
                                                                                                                                               
 pasti akan menghukum kita, andai kata kita melakukan perbuatan itu. Dalam
 arti ini hati nurani prospektif menunjuk kepada hati nurani retrospektif yang akan  datang , jika perbuatan menjadi kenyataan .
2.      Pembinaan hati nurani
Ilmu pengetahuan empiris mempunyai sebagai cita cita : objektifitas sempurna, keadaan yang mereka, subjektifitas sama artinya dengan kurang serius, tidak bisa diandalkan sewenang wenang. Karena sifat subjektif itu mereka tegaskan hati nurani juga mudah disalahgunakan. Hati nurani bisa menjadi kedok untuk melakukan rupa rupa kejahatan.
Etika sebagai ilmu tidak menjadi mubajir dengan adanya hati nurani. Etika harus berusaha keras untuk mencari kepastian ilmiah dan objektif dalam problem problem yang dihadapi.
Adanya banyak tipe hati nurani: ada yang halus dan jitu, ada pula yang longgar dan kurang tepat, bahkan ada yang tumpul. Dalam fisikiatri dibicarakan tentang moral insanity: kelainan jiwa yang membuat orang seolah olah buta dibidang etis, sehingga tidak bisa membedakan baik dan buruk.
Orang yang menderita moral insyanity perlu diobati.
Anak ytang didik dalam keluarga pencuri misalnya, hampir tidak mungkin akan mempunyai putusan hati nurani yang baik tentang hak milik.
Hanya hati nurani yang didik dan dibentuk dengan baik, dapat memberikan penyuluhan tepat dalam hidup moral kita.
Tapi pendidikan akal budi jauh lebih gampang untuk dijalankan. Metode metode yang harusnya digunakan untuk mencapai hasil optimal, dalam mendidik akal budi lebih jauh jelas. Pendidikan disekolah terutama bertujuan mengembangkan dan mendidik akal budi anak anak. Disekolah mendidik terutama berarti mencerdaskan.
Pada mulanya anak kecil hanya bisa dilatih untuk menyesuaikan diri secara lahiriah dengan kehendak para pendidiknya. Ketakutan akan sanksi yang mewarnai permulaan kehidupan moral, lama kelamaan harus diganti dengan cinta dan nilai nilai. Kewajiban terhadap hukum moral mengikat hidup semua orang.
Pendidikan hati nurani seolah seolah berjalan dengan sendirinya, bilamana si anak diliputi oleh suasana yang sehat serta luhur dan ia melihat bahwa orang disekelilingnya memenuhi kewajiban mereka dengan seksama dan mempraktekan keutamaan keutamaan yang mereka ajarkan.[2]

                                                                                                
B.  Pengertian Moral
Kata yang cukup dekat dengan “etika” adalah “moral”. Kata moral ini berasal dari bahasa latin mos (jamak: mores) yang berarti juga : kebiasaan, adat. Dalam bahasa Inggris, dan banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia (pertama kali dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia 1988), kata mores masih dipakai dalam arti yang sama. Jadi, etomologi kata: “etika” sama dengan etimologi kata “moral” karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan.[3]
Dalam perkembangan selanjuynya, istilah moral sering pula di dahului oleh kata kesadaran moral, sehingga menjadi istilah kesadaran moral. Kesadaran moral atau moral sense adalah suatu kesadaran dalam hati yang mengharuskan seseorang untuk mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan. Mengharuskan suatu perbuatan apabila perbuatan tersebut di nilai sesuai dengan norma akhlak yang barlaku dan di terima dalam hatinya. Melarang suatu perbuatan, apabila perbuatan tersebut di anggap bertentangan dengan norma akhlak yang di terima hatinya dan berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian kesadaran moral adalah kesadaran seorang untuk melakukan suatu perbuatan yang di nilai baik dan meninggalkan suatu perbuatn yang di nilai buruk.

1.    Tujuan minimum aturan moral
Adalah untuk mencegah konflik dan benturan di antara para individu. Tujuan yang lebih luas adalah untuk menyelaraskan sikap dan tindakan kita sedemikian rupa sehingga membuat pencapaian tujuan setiap orang sejauh mungkin dapat digabungkan. Tujuan ini dapat direalisasikan manakala aturan ini bukan hanya memungkinkan kita untuk mengantisipasi dan saling menggantungkan perilaku satu sama lain, melainkan juga meningkatkan dan memperdalam kerjasama positif kita antara yang satu dengan yang lain. Jadi, Kerjasama Sosial itu merupakan jantung moralitas, dan sarana yang dengan itu masing-masing di antara kita dapat secara sangat efektif menyediakan kebutuhannya dan memaksimalisasikan kepuasannya sendiri.

C.  Pengertian Moralitas
Moralitas adalah batasan kualitas dalam tindakan manusia. Dengan batasan tersebut seseorang dapat membedakan baik dan buruknya atau benar dan salahnya suatu perbuatan. Moralitas dapat bersifat objektif dan subjektif. Moralitas bersifat objektif apabila batasan nilai suatu perbuatan terlepas dari pandangan dan keinginan pelaku. Sedang moralitas bersifat subjektif apabila nilai suatu perbuatan sangat dipengaruri oleh pandangan dan keinginan pelakunya.

D.  Pengertian Perilaku
Perilaku merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya.Perilaku diatur oleh prinsip dasar perilaku yang menjelaskan bahwa ada hubungan antara perilaku manusia dengan Hatinurani manusia.Perubahan perilaku dapat diciptakan dengan merubah pemikiran didalam hatinuraninya yang menyebabkan perilaku tersebut bisa berubah sesuai kehendaknya atau hati nuraninya.

E.  Hubungan hati nurani dengan kesadaran moral, moralitas, dan perilaku.
Hati nurani memainkan peranan baik perasaan maupun kehendak maupun rasio. Alasannya, karena hati nurani memberi suatu penilaian, artinya, suatu keputusan. Ia menegaskan: ini baik dan harus dilakukan atau itu buruk dan tidak boleh dilakukan. Mengikuti hati nurani merupakan suatu hak dasar bagi setiap manusia. Tidak ada orang lain yang berwenang untuk campur tangan dalam putusan hati nurani seseorang. Tidak mengikuti hati nurani ini berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati martabat terdalam kita. Hati nurani berkaitan erat dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran. Dengan hati nurani dan kesadaran moral baik maka akan menciptakan moral serta perilaku yang baik pula.
















BAB III
PENUTUP

A.  SIMPULAN
Dari uraian di atas ternyata, bahwa manusia susila ialah manusia yang bertingkah laku baik. ia bertanggung jawab kepada kata hatinya, karena ia selalu memilih menurut petunjuk kata hati itu ; ia pun bertanggung jawab kepada siapapun, yang berhak brtanggung jawab dengan sah atas perbuatannya. Ia berkepribadian : satu-satunya pedoman bagi tingkah lakunya ialah keyakinannya bahwa itu baik. Dengan demikian ia tak terombang-ambingkan oleh apapun dalam pendiriannya etis, ia berwatak tinggi.

B.  SARAN
Manusia sebagai makhluk sosial yang memilkiki hati nurani sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka diharapkan agar kita selalu memiliki perilaku dan moral yang baik. 








DAFTAR PUSTAKA
Hazlitt, Hendry. 2003. Dasar-dasar Moralitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Poedjawijatna. 1996. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Bertens, K. 1993. Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.






[1] K.Bertens, Etika, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm.54-56
[2][2] K.Bertens, op., cit. hlm.63-66.
[3] Ibid., hlm.5.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar