Laman

Selasa, 09 September 2014

SPI - F - 1: Peradaban Pra Islam dan Masa Nabi Muhammad SAW



MAKALAH
Peradaban Dunia Pra- Islam Dan Masa Nabi Muhammad Saw.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas:
Mata Kuliah: Sejarah Peradaban Islam (SPI)
Dosen Pengampu : Ghufron Dimyati, M.S.I



Disusun Oleh:
1.      ISTRIYANI                     (2021112254)
2.      KHOMARIYAH             (2021112283)
3.      DEWI MARWAH           (2021113001)

KELAS: F


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014





BAB I
PENDAHULUAN

Pembacaan kondisi-kondisi masa lalu merupakan sejarah, khususnya sejarah mengenai Arab sebelum Islam, merupakan diskursus yang menarik dan signifikan dalam mempelajari sejarah peradaban dan pemikiran Islam. Ini menjadi perhatian khususnya di kalangan intelektual Islam mutakhir untuk membuktikan apakah Arab Jahiliyyah adalah bodoh dalam berbagai aspek atau tidak?
 Kajian ini juga masih tetap signifikan dan relevan untuk masa sekarang, karena studi sejarah Islam ini merupakan bagian dari strategi untuk menggugah kembali fakrot-faktor kebaikan apa saja yang terdapat pada Arab Jahiliyyah untuk selanjutnya kita contoh dan factor-faktor keburukan apa saja yang patut dijauhi. Dengan kajian atas sejarah ini menjadi ibrah dalam pelaksanaan nilai-nilai ajaran Islam.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Peradaban Romawi Timur
          Sejak tahun 180 kekaisaran Romawi mengalami kemunduran. Kurang lebih 100 tahun Romawi diliputi oleh kekerasan dan perang saudara. Beberapa kaisar yang memerintah pada masa kemunduran ini antara lain:Diocletianus (284 - 305), merupakan kaisar yang kejam. Ia memerintahkan pembunuhan terhadap pengikut agama kristen. Mereka yang berhasil meloloskan diri membuat lubang perlindungan di gua-gua karang yang disebutCatacombe. Kaisar berikutnya adalah Konstantin yang Agung (324 - 337). Ia memindahkan ibukota Romawi dari Roma ke Bizantium (Konstantinopel) yang kini disebut Istambul. Pada tahun 313 Konstantin mengeluarkan Edic Milan yang berisi perintah menghentikan pengejaran terhadap umat kristen dan menetapkan agam kristen menjadi agama resmi negara: Kaisar Thedosius (378 - 395) menetapkan agama kristen sebagai agama negara. Ia membagi wilayah kekaisaran untuk kedua putranya: Kekaisaran Romawi Barat beribukota di Roma untuk Honorius, putra bungsunya dan putra sulung yang bernama Archadius berkuasa di Romawi Timur dengan ibukota Konstantinopel. Pada permulaan Abad Pertengahan, Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium sangat maju. Kekuatannyakemudian menjadi lemah karena perang dengan orang-orang Persi-Baru yang membangun suatu kerajaan besar di Asia. Romawi Timur memiliki wilayah meliputi: Semenanjung Balkan, Asia Kecil (sampai Armenia), Syiria sampai Eufrat dan Mesir. Setelah tahun 476 M, hubungan Romawi Barat dan Romawi Timur praktis putus. Romawi Timur dapat bertahan sampai tahun 1453 dengan melakukan perdagangan dan setiap serangan dari bangsa Barbar disikapi dengan memberi upeti.
          Sebagai penguasa dunia orang-orang Romawi ternyata tidak berhasil menguasai orang Arab. Pengiriman pasukan sebanyak 10.000 dari mesir serta dukungan dari sekutunya ternyata menemui kegagalan, tujuan ekspansi tersebut untuk menguasai rute perjalanan yang dimonopoli oleh orang arab untuk kepentingan Romawi. Ketertarikan bangsa Romawi terhadap kawasan ini karena kawasan ini dikenal sebagai kawasan wangi, sebagai penghasil wewangian dan rempah-rempah.(Philip K. Hitti, History of the Arabs, hal:55). Pada abad ke-5 kerajaan Romawi Barat sangat lemah sehingga Kaisar yang cakap dan semangatpun (misalnya Majorian, berkuasa 457-461 M) tidak berdaya mencegah tumbangnya kerajaan Barat. Sedangkan pada abad yang sama Kerajaan Timur bisa mengefektifkan sumber daya, energi, dan kebijakan kerajaanya, dan dari 414 sampai 518.[1]

B.     Peradaban Islam di Persia
Gelombang pertama perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan Usman bin ‘Affan telah membawa pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan peradaban Islam. Pada masa ini perluasan Islam ke seluruh arah Timur mencapai sungai Oxus. Dakwah Islam pertama masuk ke Persia disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Melalui surat yang dikirim kepada Kisra Abruiz dari kerajaan Sasan pada tahun 8 H (+630 M). Islam masuk ke wilayah Persia diawali pada masa pemerintahan Abu Bakar. Sementara itu, Persia di bawah kekuasaan kerajaan Sasan seolah telah kehabisan nafas akibat serangkaian peperangan yang panjang. Sekitar tahun 637 M pasukan Islam menang atas Persia di Kadisiah yang menyebabkan jatuhnya ibukota Selucia-Ctesipon yang menandai berakhirnya perlawanan Persia, ini merupakan kemenangan yang besar sehingga menjadi batu loncatan bagi gelombang perluasan selanjutnya oleh Bani Umayyah. Pada masa ini, Islam berhasil menguasai propinsi-propinsi yang tadinya tergabung dalam kemaharajaan Persia.
Setelah kedatangan Islam ke wilayah itu, daerah tersebut merupakan wadah terhjadinya akulturasi yang cukup kuat antara peradaban Islam dan peradaban Persia, bahkan sejak gerakan Revolusi Abbasiah yang dikomandani oleh Abu Muslim al-Khurasani, berbagai unsur peradaban Persia mewarnai perkembangan peradaban Islam. Berikut ini merupakan dinasti-dinasti penting:[2]
1)      II Khaniah (1256-1353)
Sejarah Iran dari abad ke-13 hingga 18 mengalami perkembangan kultural dan institusional, dari zaman terdahulu  Iran mewarisi peradaban pertanian dan rezim monarkis dengan pola yang khas sebuah perpaduan antara kultur Islam dengan kultur kerajaan Iran, asosiasi keagamaan muslim dalam bentuk mazhab-mazhab hukum Sunni, tarekat sufi dan sekte-sekte syi’ah, serta perpecahan antara komunitas perkotaan local dan kelas perkampungan. Meskipun menghadapi banyak pertentangan, baik dengan pihak luar maupun tekanan dari dalam, periode II-Khan merupakan periode kemakmuran bagi Persia. Ibukota II-Khaniah, Tabriz dan Maragha, menjadi pusat-pusat ilmu pengetahuan khususnya penulis sejarah dan ilmu-ilmu kealaman, seperti: Al Juwaini (1226-1283 M), Futub Al-Buldan (History of the world Conquerors) dan lain-lain.
2)      Timuriyah (1370-1506)
Rezim II-Khan berlangsung antara tahun 1256-1336. Rezim ini berakhir dengan terpecahnya kekuasaan menjadi sejumlah negara propinsial yang terlibat dalam persaingan satu dengan yang lainnya. Beberapa negara kecil yang menggantikannya akhirnya tersedot ke dalam kekuasaan imperium baru yang dibangun oleh Timur Lenk (Tamarlane, 1370-1405 M) dan keturunannya yang memperkenalkan sebuah fase perkembangan kultur kerajaan Iran.
Dalam menegakkan kekuasaannya, Timur didukung oleh elite Muslim setempat termasuk Syaikh Al-Islam di Samarkand dan kalangan sufi yang menjadi penasihat spiritualnya. Tokoh-tokoh agama Islam bekerja kepadanya sebagai Qadli, diplomat dan turtor bagi pangeran-pangeran muda.
Sepeninggal Timur (wafat tahun 1405 M), imperium Timuriah dibagi menjadi dua wilayah yang masing-masing menjadi pusat yang penting bagi kultur Iran. Transoxiana menjadi kota pusat kemajuan arsitektur, filsafat dan ilmu-ilmu ke-Islaman serta melahirkan sebuah varian baru peradaban imperium Islam-Iran. Di bawah pemerintahan Timuriah, Herat menjadi pusat kultur muslim yang kedua, Sultan Husyain membangun kota Herat sebagai pusat bagi kultur kesultanan di Turki. Ekspresi yang cukup krusial dari otoritas kepemimpinan suku di dalam masyarakat Turki-Mongolia adalah Uymag (Negara keluarga). Kepala Uymag mengerahkan dukungan militernya untuk mengumpulkan pajak dari warga dan untuk mendirikan sebuah pemerintahan lokal di wilayah perbatasan.
Akibat invasi Mongol, suksesi beberapa rezim yang tidak stabil, dan campur tangan kalangan Turki tumbuh bentuk-bentuk baru organisasi social keagamaan di Iran. Para sufi tampil sebagai pemimpin yang memberikan jawaban terhadap kebutuhan atas perlindungan politik dan kebangkitan spiritual.[3]
3)      Dinasti Safawiah (1501-1732 M)
Negara Safawiah dinisbahkan kepada nama seorang guru sufi di Ardabil, yaitu Syeikh Ishak Saifuddin (wafat tahun 1334 M). Ia mendirikan tarekat di Ardabil, Azerbaijan yang kemudian diberi nama Safawiah. Ia memiliki murid Tarekat yang sangat kuat berpegang pada ajaran agama.Gerakan tarekat tersebut semakin penting artinya terutama setelah ia mengubah bentuk tarekat itu dari pengajian tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syria dan Anatoli. Demikian halnya dengan gerakan tarekat Safariyah. Setelah berhasil menyebarkan pengarahannya di berbagai wilayah, mereka mulai mengatur kekuasaan. Propaganda yang gencar dilakukan oleh para penerusnya dalam upaya mengembangkan kekuasaan di sekitar Anatolia. Yang pada masa itu di bawah kekuasaan dari Qayamlu dan Aq-Quyunlu, dua di antara suku kuat Turki. Safawiah mempunyai pola pemerintahan yang teokratik, sebab para penguasa bukan saja mengaku sebagai keturunan Ali, namun juga mengklaim berstatus sebagai titisan para Imam Syiah, bahkan Ismail I mengaku sebagai penjelasan tuhan, sinar ketuhanan dari Imam yang tersembunyi dan Imam Mahdi. Ia memakai gelar bayangan tuhan di bumi, meniru gelar yang dipakai oleh raja-raja Persia.
Kerajaan Safawiah memiliki kemudahan dalam melakukan konsolidasi pemerintahan. Kekuasaan Turki Utsmani di sebelah barat dan Uzbeg di sebelah timur memang mirip musuh bebuyutan kerajaan Safawiah. Karena kekuatan yang seimbang, Safawi tidak berhasil mengalahkan Turki Utsmani. Abbas I (1558-1628 M) mengadakan perjanjian damai dengan Turki Utsmani dengan konsekuensi ia harus menyerahkan wilayah Azerbaijan Georgia dan sebagai Khuziztan. Di samping itu Abbas janji tidak akan menghina khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Umar dan Usman) dalam khotbah-khotbah Jum’at. Masa kekuasaan Abbas I (kemudian diberi gelar Abbas Syah yang agung) merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawiah. Beberapa hal yang dilakukan oleh Abbas I perlu ditegaskan di sini yaitu Pertama : melakukan persekutuan dengan orang-orang Kristen, dengan Inggris melawan Usmani, mendorong pedagang bangsa Belanda   dan Inggris di Bandar Abbas, juga menjalani hubungan diplomatik dengan bangsa Eropa. Kedua : Mengubah rakyat Iran dari paham Sunni menjadi Syi’i. Ketiga : Anehnya Abbas I, begitu juga beberapa raja yang lain, bersifat   bengis terhadap anak-anaknya sendiri, karena khawatir akan    merebut kekuasaan dari tangannya.Keempat : kegiatan pembangunan fisik pada masa Safawiah ini sangat menonjol. Untuk memperkokoh otoritasnya tersebut, Safawiah berusaha memantapkan Syi’isme di Iran. Syi’ah dijadikan sebagai madhb resmi negara. Dilakukan dalam memperluas dukungan dan mengkonsolidasikan otoritas Syi’ah. Ali Al-Kharakhi (1465-1534 M) mendirikan madrasah Syi’ah yang pertama di Iran. Pada periode-periode awal, otoritas yang syah terhadap kegiatan keagamaan benar-benar dominant. Perayaan di bulan Muharram merupakan agenda penting dalam pemerintahan Safawiah. Untuk mendukung penerapan agama resmi, rezim Safawiah melancarkan program untuk mengelimiur seluruh paham yang berbeda dengan paham Syi’ah Itsna  Asy’ariyah.  Reformasi militer dan administratif Syah Abbas sebagian didanai dengan usaha perdagangan yang cermat. Dia menggairahkan produksi sutera dan memasarkan hasilnya melalui pedagang yang terkontrol oleh negara, dengan membawa pedagang Armenia ke Isfahan dan menjadikan mereka perantara antara Syah dan pelanggan asing. Abbas I membangun pabrik untuk memproduksi barang-barang mewah baik untuk keperluan sendiri maupun untuk dijual dalam perdagangan internasional. Karpet yang semula merupakan industri istana, dipusatkan di pabrik-pabrik segar di Isfahan. Sutera juga jadi industri kerajaan yang hasilnya dijual ke Eropa. Orang Inggris yang pertama kali ke Iran adala Anthony Sherly dan Robert Sherley, mereka berinisiatif agar bangsa Iran memasuki perdagangan iternasional. Mereka datang pada tahun 1589, dan pada tahun 1616 the English East India Company (EEIC) memperoleh hak untuk berdagang secara bebas di Iran. Bangsa Inggris membantu Abbas I mengusir Portugis dari Pelabuhan Teluk Persi di Humuz dan membangun Bandar Abbas sebagai pelabuhan baru. Prestasi lain dari Safawiah adalah pembangunan ibukota baru yaitu Isfahan. Merupakan kota yang sangat penting bagi perkembangan politik, ekonomi Iran, dan sebagai simbol legitimasi dinasti Safawiyan.
Isfahan sangat penting kedudukannya bagi perekonomian negara, sebab merupakan pusat industri dan kegiatan pemasarannya semua kegiatan perekonomian itu berada di bawah pengawas petugas perpajakan negara. Kota ini juga sebagai symbol vitalitas Islam-Iran. Pada tahun 1666 M, Isfahan memiliki 162 masjid, 48 perguruan, 162 caravasaries, dan 273 tempat pemandian umum yang hampir seluruhnya dibangun oleh Abbas I dan Abbas II. Di bidang seni, Safawiyah juga memiliki prestasi yang cukup diakui. Pada tahun 1510 M sekolah seni lukis Timuriah dipindahkan dari Herat ke Tibriz. Bahzas (seorang pelukis terbesar pada saat itu), Syah Tahmasp (seorang seniman besar). Dari sekolah seni lukis tersebut terbitlah sebuahedisi Syah Nameh (buku tentang Raja-raja) yang memuat dari 250 lukisan dan merupakan salah satu karya besar seni manuskrip Iran. Kerajaan Safawi juga mengukir sejarah perkembangan tradisi keilmuan. Dalam sejarah Islam, Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dab bersahaja dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Banyak ilmuwan lahir dan berkembang pada masa pemerintahan kerajaan Safawiah. Yang masih hidup pada masa itu adalah Baha’ Al-Din Al-Amili (generalis ilmu pengetahuan), Sadr Al-Din Al-Syirazi (filosof) dan Muhammad Baqir bin Muhammad Damad (filosof ahli sejarah, teolog yang pernah mengadakan observasi atas kehidupan lebah). Pada masa kekuasaan Safawiyah, yang tampaknya dibangun atas kepentingan ideologi Syi’ah. Ini memang bentuk konsekuensi logis dari situasi dan kondisi yang melatarbelakangi kelahirannya. Ia tampak beroientasi ke Syi’ahan karena ia mengemban misi Syi’h. Tanda-tanda kehancuran kerajaan Safawiyah sudah kelihatan ketika pemerintahan dipegang oleh Sulaiman. Pemerintah melakukan penindasan dan pemerasan. Penindasan juga dilakukan terhadap para ulama dan penganut pahan Sunni dengan memaksakan paham Syi’ah. Keadaan bertambah buruk ketika kekuasaan dipegang oleh Sultan Husein II. Penduduk Afghan bagian dari Iran adalah penganut Sunni. Mereka ditindas oleh penguasa. Ketikamereka tidak tahan lagi atas penindasan yang dilakukan oleh penguasa mereka pun melakukan pemberontakan di bawah pimpinan Amir Kandahar, Amir Mahmudkhan, berhasil menguasai Herat dan Masyhad, kemudian merebut ibukota kerajaan Isfahan pada tahun 1772 M. Pada masa Safawiyah Iran melakukan perubahan yang luar biasa berkaitan dengan hubungan negara dan agama. Islam digunakan sebagai pemersatu masyarakat ke dalam gerakan moral dan politik. Yang lebih besar, bentuk-bentuk institusi kenegaraan, kesukuan dan institusi. Keagamaan Safawi yang diciptakan oleh Abbas I telah mengalami perubahan secara mencolok pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Abad ke-16 dan awal abad ke-17 memiliki kecenderungan untuk memperkuat kekuasaan negara dan membentuk keagamaan kalangan Syi’i. Sedangkan periode berikutnya mengantarkan pada sebuah kemunduran yang tajam bagi dinasti Safawiyah.  
4.      Dinasti Qajar (1785-1925 M)
Nadir Syah digantikan oleh Karim Khan, pemimpin koalisi kelompok kesukuan Zanddi Iran barat. Rezim ini berlangsung secara efektif dari tahun 1750-1779 M. Rezim ini berakhir dengan memberikan jalan bagi kelompok Qajar. Tahun 1779 M kelompok Qajar menyalahkan Zandan mendirikan sebuah dinasti yang berlangsung hingga tahun1924 M, kekuasaannya berlangsung 1795-1925 M. Iran berada di bawah dominasi ekonomi dan politik dari kekuatan-kekuatan besar, khususnya Inggris dan Rusia. Tahun 1889 M Imperial Bank of Persia didirikan. Tahun 1890 M perusahaan Inggris diberi hak monopoli industri tembakau. Pada tahun 1891 M dibentuk Bank of Peria, dan tahun 1890-an Rusia menjadi investor terbesar dalam mengucurkan pinjaman kepada Syah Iran. Tahun 1907 perjanjian antara Inggris dan Rusia membagi Iran menjadi dua wilayah. Wilayah bagian utara dan selatan dengan satu wilayah. Netral yang membatasi keduanya. Rusia dan Inggris juga memberi kesempatan kepada Iran untuk mempertahankan kemerdekaannya dan keutuhan kerajaannya secara nominal, tetapi keduanya berusaha menguasai Iran secara efektif.  Membangkitkan Qajar untuk memoderenisasi dan memperkokoh perangkat kenegaraan. Nasir Aldin (1848-1896 M) mengorganisasikan sebuah sistem militer yang mengharuskan masing-masing daerah untuk mensuplai sejumlah tentara atau membayar sejumlah uang yang sepadan untuk menggaji mereka. Reformasi Qajar tidak mampu menjalankan sentralisasi kekuatan negara dan tak berdaya campur tangan pihak asing. Ulama menjadi musuh utama pengaruh asing dan bagi negara sendiri yang menjadi kolaborator asing. Pada pemerintahan Nasir Aldin Syah yang berada di bawah pengaruh Mirza Taqikhan. Pemerintah berusaha mempersempit otoritas ulama. Posisi ulama diperkuat oleh para pedagang, pengrajin, kaum intelektual modernis Islam didikan barat, membentuk perlawanan nasional yang pertama terhadap Qajar. Puncak pergolakan terjadi pada krisis konstitusional yang mengantarkan kepada penyelenggaraan siding dewan konstituante nasional pada tahun 1996. Dewan ini menciptakan konstitusi yang menempatkan Syah di bawah pemerintahan parlementer dengan Islam sebagai agama Islam resmi.  
C.     Peradaban Arab Jahiliah
       Suasana sosial politik Arab yang selalu diwarnai oleh perebutan kekuasaan dan pengaruh di antara suku-suku Arab di samping interaksinya dengan dua Negara adi kuasa saat itu, Kekaisaran Byzantium dan Persia menjadi semakin kompleks dengan adanya persaingan dalam konteks keagamaan. Sementara itu, di Arab Selatan, beralihnya peta perekonomian ke Romawi telah berpengaruh kuat bagi lengsernya kerajaan Himyar. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Arab Selatan merupaka penghasil utama kemenyan dunia, yang digunakan dalam upacara keagamaan di Graeko Romawi dan sebagai bahan baku obat-obatan. Hal ini secara pasti memberi pengaruh yang kuat dalam bidang ekonomi di Arab Selatan. Suku-suku Arab yang terpecah dan sulit untuk disatukan dalam interaksinya dengan dunia luas memperlihatkan bahwa suku-suku tersebut hanya dimanipulasi oleh kebijakan luar negeri dari beberapa kekaisaran yang yang ada dan tidak adanya kepentingan yang diberikan kepada rakyat mereka. Masyarakat Arab menjelang kedatangan islam tidak dapat digolongkan rendah. Beberapa hal yang patut dicatat mengenai kondisi sosial, budaya, dan ekonomi sebelum datangnya Islam dan membawa pengaruh dalam pembentukan tradisi Islam.
1.      Mekkah sebagai pusat perekonomian
Mekkah menjadi pusat perekonomian disebabkan oleh posisi geografisnya yang berada ditengah rute perjalanan dagang ditambah lagi di Mekkah juga ada jaminan keselamatan karena adanya konvensi bahwa pertumpahan darah, yang sangat mudah tertumpah saat itu, dilarang dan mesti dilakukan di luar Mekkah, sehingga dagang dapat berlangsung lancar.
2.      Perilaku terhadap harta benda
Al-Qur’an dengn gambling menjelaskan terhdap fenomena ini. Misalnya Qs 104 : 1-3 menyebut bahwa para pembangkang yang senantiasa memfitnah dan mencela Nabi adalah mereka yang tidak hanya menumpuk harta tetapi juga beranggapan jika harta benda yang mereka kumpulkan itu akan menjadikan mereka abadi. Bahkan mereka juga beranggapan jika harta mereka mampu menyelamatkan mereka dari bencana (QS. 6 : 69)
3.      Pengetahuan tentang Yahudi dan Nasrani
Masyarakat Arab kontak dengan Yahudi dan Nasrani adalah sesuatu yang niscaya. Hal ini tidak lain karena adanya perjalanan dagang ke kota-kota Nasrani seperti Damaskus dan Gaza. Penganut Kristen terdapat juga di Mekkah, sementara Yahudi banyak terdapat di Madinah.[4]

D.    Periode Mekkah
       Dalam sejarah Peradaban Islam, sejarah hidup Nabi Muhammad SAW biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu ketika nabi Muhammad menjalani hidupnya di Makkah dan di Madinah. Demikian juga yang terjadi dalam sejarah Islam, karena perbedaan dan tantangan yang dihadapi Nabi Muhammad berbeda di dua tempat tersebut menjadikan sebagian penulis sejarah Islam juga membagi sejarah hidup rasul tersebut ke dalam dua babak, yaitu sejarah hidup rasul tersebut dan sejarah hidup rasul di Madinah.
Sebelum Islam dating di tanah Arab, sebenarnya masyarakat Arab bukan tidak berkeyakinan, mereka sudah memiliki keyakinan tertentu yang dikenal dengan paganism, mereka tidak mengingkari adanya Tuhan, tetapi umumnya mereka menggunakan perantara yaitu patung-patung atau berhala untuk menyembah Tuhan mereka.
Mereka suka berperang. Kaum laki-laki menjadi dominan dalam posisi ini, sehingga ketika mereka memiliki anak-anak laki mereka bangga, tetapi sebaliknya ketika mereka mendapatkan anak perempuan mereka merasa aib dan malu, karena tidak bisa diajak berperang, maka banyak yang mereka bunuh.
       Dalam kondisi masyarakat semacam itulah Nabi Muhammad diturunkan. Ayah nabi Muhammad SAW bernama Abdullah ibn Abdul Mutholib. Sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Dia dilahirkan di kota Makkah pada tanggal 20 Agustus tahun 570 M. Tahun ini disebut juga dengan Tahun Gajah karena pada tahun tersebut terjadi penyerangan terhadap ka’bah yang dilakukan oleh Raja Abrahah dari Yaman.
Kemudian Muhammad tumbuh dan berkembang menjadi pemuda yang baik kepribadian dan akhlaknya. Dia juga dikenal sebagai seorang yang memiliki perangai yang mempesona, sehingga masyarakat Makkah pada waktu itu memberikan gelar al-amin, gelar penghormatan kepada Muhammad sebagai pemuda yang bisa dipercaya. Dalam perjalanan hidupnya, muhamad sering menyendiri atau ber-khalwat, sebagaimana kebiasaan orang-orang Arab, khususnya orang-orang yang tergolong pemikir, sebagai upaya untuk mengetahui rahasia alam semesta. Usaha ini kemudian membuahkan hasil dengan turunya wahyu pertama surat al-‘alaq : 1-5, yang sekaligus menandai pengangkatan dirinya menjadi Nabi. Dalam sejarah Islam, kerasulan Nabi Muhammad secara resmi ditandai dengan turunnya wahyu yang pertama kepada Muhammad, dan Khadijah (istri beliau) adalah orang pertama yang mengimani kenabian Muhammad SAW, atau yang pertama kali masuk Islam, ini berarti bahwa rumah tangga Nabi sejak awal telah menyatu dalam keimanan dan siap bahu membahu dalam menghadapi tantangan, sehingga mengalami sendiri betapa beratnya perjuangan awal Nabi Muhammad sebagai Nabi.[5]
       Upaya Rasulullah dalam rangka mendakwahkan Islam secara terang-terangan ini kemudian mendapat reaksi dari pihak kaum musyrik Quraisy. Reaksi tersebut pada mulanya masih bersifat bujukan dan rayuan, agar Nabi meninggalkan tugasnya menyampaikan Islam. Namun dengan tegas Nabi menepis bujukan tersebut, dengan mengatakan :” Aku datang kepada kalian bukanlah untuk mendapatkan harta, pangkat dan kedudukan. Allah SWT mengutus aku kepada kalian untuk menjadi rasulnya”. Dalam posisinya sebagai Nabi, Muhammad sangat tegas terhadap mereka.
Perjalanan dan perjuangan dakwah Rasul pada periode-periode ini sangat berat, bahkan sampai pada tahun ke lima kerasulan pun, jumlah penganut agama Islam baru sekitar 102 orang. Setelah Umar bin Khatab masuk Islam pada tahun 616 M atau tahun keenam dari kenabian rasul, maka jumlah penganut Islam, secara berangsur-angsur, terus bertambah, walaupun masih menjadi kaum yang tertindas. Masuknya Umar ke dalam kelompok Islam membawa daya dorong tersendiri dalam perkembangan Islam.

E.     Periode Madinah
  Sebagaimana sudah dijelaskan di bagian terdahulu bahwa sebelum Rasulullah hijrah ke madinah, didahului oleh dua peristiwa yaitu bai’ah aqabah sughra (pertama) pada tahun 621 M dan ba’iah aqabah kubra ( kedua) pada tahun 622 M. Adanya bai’ah ini juga tidak lepas dari usaha Rasulullah untuk menyampaikan ajarannya kepada sebagian peziarah dan pedagang dari kota Yatsrib yang melaksanakan ibadah haji. Isi bai’at itu antara lain mengikrarkan keimanan kepada Allah dan Rasulnya Muhammad, amar ma’ruf nahyi munkar, dan kepatuhan kepada beliau pemimpin mereka. Nabi juga berjanji akan berjuang bersama mereka baik dalam peperangan maupun perdamaian. Sesungguhnya dengan peristiwa bai’at aqabah itu telah terjadi legislasi kepemimpinan Muhammad sebagai pemimpin mereka. Karena telah terjadi fakta persekutuan antara Nabi dengan penduduk Yatsrib, sampai dengan legistimasi formalnya sebagai kepala Negara Madinah, dengan ditetapkannya Piagam Madinah. Di piagam Madinah itulah diatur kehidupan masyarakat Madinah sehingga menjadi masyarakat yang maju dan beradab. Mereka hidup dengan menjalankan aturan-aturan yang mereka sepakati bersama itu. Oleh karena itulah Rasulullah bersama para sahabat melakukan hijrah ke Madinah. Sebenarnya ada beberapa sebab utama yang membuat Nabi hijrah ke Madinah, yaitu:
Pertama, perbedaan iklim di kedua kota itu mempercepat dilakukannya hijrah. Iklim Madinah yang lembut dan watak rakyatnya yang tenang sangat mendorong penyebaran dan pengembangan agama Islam. Sebaliknya, kota Mekkah tidak mempunyai dua kemudahan itu. Kedua, nabi-nabi umumnya tidak dihormati di Negara-negaranya sehingga Nabi Muhammad pun tidak diterima oleh kaumnya sendiri. Akan tetapi disukai sebagai Nabi Allah, oleh karena orang-orang Madinah dan dia sungguh diundangnya. Ketiga, tantangan yang Nabi hadapi tidaklah sekeras di Mekkah, golongan pendeta dan kaum ningrat Quraisy yang menganggap islam bertentangan dengan kepentingan mereka, ini tentu berbeda dengan sikap penduduk Madinah terhadap Nabi. Setelah Rasulullah membangun Masjid sebagai sarana untuk mempersaudarakan kaum muslimin di kota Madinah, selanjutnya Rasulullah juga melakukan pembangunan social, ekonomi dan politik Negara Madinah. Bai’at Aqabah yang dulu dilakukan kemudian begitu nyata yaitu dengan didukungnya Nabi Muhammad oleh sebagian besar suku Aus dan Kazraj yang memudahkannya dalam menggalang potensi mereka untuk disatukan menjadi suatu bangsa (nation) yang berdaulat dan membuat perjanjian untuk saling bantu membantu antara orang muslim dan non Islam yang didokumentasikan dalam piagam Madinah, yang menurut Ahmad Syalabi secara umum berisikan antara lain bahwa kelompok ini mempunyai pribadi keagamaan dan politik, kebebasan beragama terjamin semua, kewajiban penduduk Madinah, baik yang muslim maupun bangsa Yahudi, bantu membantu secara moril dan materiil, dan Rasulullah adalah pemimpin tertinggi penduduk Madinah.[6]
             Dalam periode Madinah inilah Rasulullah benar-benar dapat membina masyarakat yang kondusif, sehingga di bawah kepemimpinan Rasulullah, Madinah menjadi wilayah yang diperhitungkan. Kepemimpinannya sebagai panglima perangpun juga teruji dalam beberapa peperangan yang dilakukannya, baik yang tergolong ghazwah  ataupun sariyah, sampai dengan peristiwa fath Makkah  yang monumental, yaitu peperangan tanpa pertumpahan darah. Ajakan masuk Islam kepada pemimpin-pemimpin dunia melalui surat yang beliau kirimkan merupakan langkah politis yang sangat berani. Kemampuannya dalam mempersatukan umat Islam dengan kebinekaan kabilah dan suku, serta mempersaudarakannya adalah sebagai bukti misi risalah yang dibawanya berdimenssi religious dan sosial politik. Dan satu bukti sejarah bahwa Nabi seorang kepala negada di Madinah adalah munculnya persoalan siapakah yang pantas menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin wilayah yang luas itu setelah Rasulullah wafat. Di sebuah tempat di tengah kota Madinah, Saqifah bani Sa’idah, umat Islam sulit menentukan pemimpin mereka, sampai akhirnya terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama umat Islam.
F.      Peperangan dalam Islam
       Banyak peperangan yang terjadi sebagai upaya kaum muslimin dalam mempertahankan diri dari serangan musuh. Diawal pemerintahan, nabi melakukan ekspedisi ke luar untuk mempertahankan dan melindungi Negara yang baru dibentuk. Untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh, nabi membuat siasat dan membentuk pasukan perang. Beberapa perang yang pernah terjadi dalam rangka menentukan masa depan Negara islam antara lain :
1.            Perang Badar
Perang Badar al-Kubra terjadi pada tanggal 8 bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah (624 M), yaitu antara kaum muslimin Madinah di bawah pimpinan Rasulullah melawan kaum Quraisy. Sebab-sebab perang Badar ini antara lain kaum Quraisy ingn melenyapkan musuhnya padahal mereka telah merampas harta kaum muslimin di Makkah. Bila kaum Quraisy menang, maka jalur perdagangan ke utara akan aman tanpa gangguan, tetapi jika kalah maka perdagangan tergangu yang merugikan perniagaan kaum Quraisy sehingga mereka bertekad memerangi kaum muslimin.
Medan pertempuran terjadi di lembah Badar antara Makkah dan Madinah, kurang lebih 144,5 kilometer sebelah batar daya dari Madinah. Nabi sendiri memegang komando. Kaum Quraisy dipimpin oleh Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid putra Utbah dan Syaibah, saudara utbah. Sedangkan pasukan islam ditampilkan Ubaidah bin Haris, Hamzah, dan Ali bin Abi Thalib. Pasukan Quraisy sebanyak 900 sampai 1000 orang sedangkan kekuatan  Islam hanya 350 orang. Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh pihak Muslimin. Suku badui yang melihat kemenangan kaum muslimin pada perang Badar dan semakin meningkatnya kekuatan Islam, ingin sekali menjalin hubungan dengan nabi. Kemudian nabi menandatangani sebuah piagam perjanjian dengan suku badui.

2.            Perang Uhud
Perang Uhud terjadi pada bulan sya’ban tahun ke-3 hijra di kaki gunung uhud yang terletak di utara Madinah. Sebab peperangan ini berkobar adalah kaum Quraisy ingin menebus kekalahan yang dideritanya pada waktu perang Badar. Bagi mereka, kekalahan pada perang Badar merupakan pukulan yang sangat berat.
Pada awalnya pasukan Islam menang karena disiplin dan strategi jitu meskipun jumlahnya lebih kecil. Akan tetapi, kemudian karena godaan harta peninggalan perang musuh, pasukan Islam mulai memungut dengan tidak menghiraukan gerakan musuh meskipun sudah  diperingatkan oleh nabi agar tidak meninggalkan posnya. Kelengahan kaum muslimin ini dimanfaatkan oleh musuh. Pasukan Quraisy kemudian menyerang dan pasukan Islam pun porak poranda. Banyak kaum muslimin yang gugur sebagai syahid dalam perang Uhud ini yaitu sebanyak 70 orang. Nabi sendiri terluka.


3.            Perang Khandaq
Perang Khandaq terjadi pada bulan syawal tahun ke-5 hijrah, bertempat di sekitar Madinah. Dinamakan ahzab atau sekutu karena kaum Quraisy mengajak suku-suku lain untuk bergabung dan dikatakan khandaq karena di sekitar Madinah terutama bagian utara kota digali parit (khandaq), siasat ini atas usul Salman A Farisi untuk mempertahankan dari serangan musuh.
Pasukan Yahudi yang membelot bersama Abdullah bin Ubay termasuk Bani Nadir (kecuali Bani Quraizah) diusir ke luar  kota Madinah. Mereka menuju Khaibar. Mereka bergabung dengan masyarakat Makkah menyusun kekuatan untuk menyerang Madinah. Pasukan mereka berjumlah 24.000 orang yang terdiri ari beberapa suku. Sementara pasukan Madinah yang berkhianat yaitu orang-orang Yahudi di bawah pimpinan Ka’ab bin Asad yang membuat umat Islam semakin terjepit. Pasukan sekutu mengepung Madinah dengan mendirikan kemah-kemah di luar parit. Setelah sebulan pengepungan, angin dan badai pun turun dengan kencangnya dan memporak porandakan seluruh kemah dan perlengkapan mereka. Mereka akhirnya menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa hasil.

4.            Perang Khaibar
Perang Khaibar terjadi pada tahun ke-7 hijrah. Khaibar merupakan nama sebuah kota yang penduduknya orang-orang Yahudi dari golongan yang pernah bersekutu dengan kaum Quraisy dalam perang Khandaq. Pasukan Islam berhasil mengalahkan mereka pada hari yang ketujuh.

5.            Perang Mu’tah
Perang Mu’tah terjadi pada tahun ke-8 hijrah di dekat desa Mu’tah bagian utara jazirah Arab. Sebab perang ini berlangsung adalah tuntutan membalas perlakuan kejam dari raja Ghassan yang telah membunuh utusan yang dikirim nabi dalam rangka dakwah Islam. Nabi mengirim pasukan sebanyak 3000 orang di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Pasukan Ghassan mendapat bantuan dari romawi yang akhirnya peperangan tidak berimbang. Jumlah mereka mencapai 200.000 orang. Kemudian perang dasyat ini telah menggugurkan pahlawan Islam sebagai syahid yaitu Zaid bin Walid dan Ja’far bin Abi Thalib.

6.            Perang Hunain
Perang Hunain terjadi pada tahun ke-8 hijrah. Hunain adalah nama lembah tempat terjadinya perang ini. Sebab terjadinya perang hunain adalah masih adanya dua suku arab yang menentang yaitu Bani Tsaqif di Thaif dan Bani Hawazin di antara Taif dan Makkah, meskipun Makkah sudah ditaklukkan.
Pada awalnya, kaum muslimin menderita kekalahan. Kaum muslimin tidak waspada terhadap tipu daya musuh dan terpedaya oleh banyaknya jumlah pasukan mereka. Ketika bertemu kaum muslimin terperangkap di celah yang sempit dari lembah Hunain. Mereka diserang dengan panah sehingga mereka tercerai berai. Akhirnya mereka kembali dan berhasil mengalahkannya.

7.            Perang Tabuk
Perang Tabuk terjadi pada tahun 9 hijrah. Heraklius bergabung dengan Bani Ghassan dan Bani Lachmies menyusun pasukan besar untuk menghadapi Islam. Untuk menghadapi pasukan Heraklius, nabi juga menyusun pasukan dalam jumlah besar pula.
Tentara Romawi di bawah pimpinan Heraklius tersebut akhirnya merasa minder dan menarik diri kembali ke daerahnya masing-masing. Nabi tidak melakukan pengejaran tetapi berkemah di daerah Tabuk. Di daerah ini, beliau mengadakan perjanjian dengan penduduk setempat sehingga daerah tersebut menjadi daerah Islam. Perang Tabuk merupakan perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah.[7]
G.    Misi Dakwah Nabi Muhammad saw.
             Banyak alasan yang menjadikan Muhammad merenungi kaumnya, di antaranya beliau merasa prihatin dengan kegelapan umatnya yang banyak menyembah berhala, kemerosotan yang dilakukan oleh kaum jahiliyah. Beliau kemudian bertahanus menyepi di gua Hira’ di puncak Jabal Nur di luar Makkah. Usaha untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT berhasil dengan datangnya malaikat Jibril pada tanggal 17 Ramadhan 611 M saat usianya 40tahun. Wahyu pertama yang turun adalah surat al-‘alaq ayat 1-5.
Setelah wahyu pertama turun, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama. Dalam keadaan menanti itu, wahyu kedua turun kepada Nabi Muhammad yaitu surat Al-Muddatstsir ayat 1-7. Orang yang pertama kali percaya kepada kenabian dan kerasulan Muhammad adalah Khadijah. Kemudian dakwah nabi dilanjutkan. Ajakan selanjutnya kepada keponakannya sendiri yang masih kecil berusia 10 tahun yaitu Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, ia melihat Nabi dan Khadijah yang sedang shalat. Ia bertanya dan Nabi mengajaknya masuk Islam, ia lalu mengikutinya. Orang ketiga yang masuk Islam adalah Zaid bin Haritsah, seorang mantan hamba sahaya yang telah menjadi anak angkat Nabi. Ini adalah dakwah rasul secara diam-diam yaitu dikalangan keluarganya sendiri. Ia mengajak teman akrabnya Abu Bakar bin Abi Quhafah dari kabilah Taim yang dikenal bersih dan jujur. Ia pun percaya dan masuk Islam. Kemudian karena piawai dalam perdagangan, Abu Bakar juga menyiarkan kepada teman-temannya yang diikuti masuknya mereka ke dalam agama Islam yaitu antara lain Usman bin ‘Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Talhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin al-‘Awwam dan Abu ‘Ubaidillah bin al-Jarrah. Mereka dibawa Abu Bakar langsung kepada Nabi dan masuk Islam dihadapan Nabi. Mereka masih sembunyi-sembunyi memeluk Islam.
       Dakwah Nabi dilanjutkan secara terang-terangan kepada masyarakat umum. Mul-mula dari masyarakat Mekkah sampai kepada penduduk Negara lain. Selain itu, beliau juga menyeru kepada setiap orang yang datang ke Mekkah untuk mengerjakan haji. Jumlah pengikut nabi pun menjadi bertambah.
Orang kafir Quraisy berusaha menghalangi dakwah tersebut dengan cara diancam, disiksa dan dibunuh. Kekejaman penduduk Mekkah terhadap kaum Muslimin, mendorong nabi untuk mengungsikan sahabat-sahabatnya keluar Mekkah. Rasulullah menyuruh mereka untuk hijrah ke Abesinia (sekarang Ethiopia). Inilah hijrah pertama dalam Islam yang terjadi pada tahun kelima dari kenabian. Mereka tinggal di negeri yang mayoritas penduduk beragama Nasrani , dan rajanya, Najasyi (Negus) adalah raja yang adil, menghormati kaum Muslimin yang berada di sana sampai setelah Nabi hijrah ke Madinah.
             Kemajuan dakwah Islam menjadi berkembang pesat setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mulai menyeru kepada para peziarah haji ke Mekkah. Suku yang menyambut ajakan Rasul adalah suku Aus dan Khazraj yang berasal dari Yatsrib yang keduanya selalu berperang. Setelah bertemu dengan Nabi kemudian mereka menyiarkannya di antara kaum Yatsrib. Nabi memerintahkan umatnya untuk hijrah ke Yatsrib. Nabi sendiri menunggu perintah hijrah langsung dari Allah SWT. Sesudah merasakan gangguan yang luar biasa dari kaum Quraisy, maka Nabi pun hijrah ke Yatsrib.
Dalam perjalanan ke Yatsrib, Nabi berdiam beberapa hari di Quba’, sekitar lima kilometer dari Yatsrib dan mendirikan masjid dihalaman rumah Kulsum bin Hindun. Inilah masjid pertama yang dibangun nabi (sekarang bernama Masjid Quba’). Tanggal 12 Rabi’ul awal Rasulullah datang di Yatsrib. Kedatangan nabi begitu ditunggu-tunggu oleh penduduk Yatsrib. Sebagai penghormatan nabi mengubah nama kota itu menjadi Madinah al-Munawwarah (kota yang bercahaya). Dari sinilah cahaya Islam mulai memancar keseluruh penjuru dunia. [8]

H.    Masa Terakhir Nabi Muhammad saw.
       Pada tahun ke 10 hijriyah (631 M), Nabi melakukan ibadah haji bersama 100.000 kam muslimin. Khutbah nabi didekat bukit Arafah menjadi pusaka abadi bagi umat Islam. Dalam khutbah itu nabi menyatakan landasan-landasan dan peraturan agama Islam dan menyerukan persamaan diantara manusia. Haji kali ini diberi nama “Haji Wada” (haji perpisahan) karena ini adalah ibadah haji Rasulullah yang terakhir dan sempurnalah kerasulan Muhammad menyampaikan khutbahnya, yang isinya antara lain :
·         Larangan menumpahkan darah kecuali dengan cara yang haq dan larangan mengambil harta orang lain dengan cara bathil, karena nyawa dan harta adalah suci.
·         Larangan riba dan larangan menganiaya satu sama lainnya.
·         Perintah untuk memperlakukan istri dengan baik dan lembut dan perintah untuk menjauhi dosa.
·         Semua pertengkaran antara mereka di jaman Jahiliyah harus saling dimaafkan.
·         Balas dendam dengan tebusan darah seperti di jaman Jahiliyah tidak lagi dibenarkan.
·         Persaudaraan dan persamaan antar manusia harus ditegakkan, hamba sahaya di perlakukan dengan baik.
·         Umat Islam harus berpegang teguh pada dua sumber yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
         Setelah melaksanakan haji, nabi Muhammad kembali ke Madinah. Beliau mengatur organisasi masyarakat, mengatur peradilan, menetapkan zakat, dan mengajarkan para khabilah tentang ajaran-ajaran Islam untuk dikirim dakwah Islam keberbagai daerah. Setelah dua bulan, Nabi sakit demam. Tenaganya menjadi berkurang. Pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul awal tahun 11 Hijriyah / 8 Juni 632 M, Rasulullah Saw wafat dirumah istrinya, Aisyah dala usia 63 tahun. Ciri khas kehidupan Nabi Muhammad pada periode Madinah adalah turunnya Al-Qur’an dengan surat-surat yang panjang, luas cakupannya, mengandung hukum-hukum agama seperti shalat, zakat, puasa, pernikahan, perceraian, perlakuan terhadap budak, tahanan perang dan musuh. Meskipun Muhammad menjadi Rasul, sebagai pemimpin agama dan Negara, tetapi kehidupannya masih sangat sederhana. Rumahnya sangat sederhana dan perilakunya telah mampu membentuk tatanan norma yang diikuti oleh jutaan orang dari komunitas di Madinah. Dari perjalanan sejarah Nabi, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad mempunyai peran ganda yaitu selain sebagai pemimpin agama juga sebagai pemimpin Negara. Hanya sebelas tahun beliau menjadi pemimpin politik. Beliau berhasil menundukkan seluruh jazirah Arab kedalam kekuasaannya. [9]


















BAB III
PENUTUP

Ketika Rasulullah menetap di Madinah, Nabi mulai membentuk masyarakat Islam, yang bebas dari ancaman dan tekanan, mempertalikan  hubungan kekeluargaan antara Anshar dan Muhajirin, mengadakan perjanjian saling membantu, antara kam muslimin denngan orang –orang yang bukan Islam, dan menyusun siasat, ekonomi, sosial serta dasar-dasar Daulah Islamiiyah.
Dalam usaha membentuk masyarakat Islam di Madinah ini, sekaligus beliau berjuang pula memelihara dan mempertahankan masyarakat Islam yang telah dibina itu dari rongrongan musuh, baik dari dalam maupun dari lular. Dengan demikian gerak perjuangan Nabi di Madinah ini bersifat dua segi. Pertama, membina masyarakat Islam. kedua, memelihahra dan mempertahankan masyarakat Islam itu.






















DAFTAR PUSTAKA
Esha, Muhammad In’am. 2011. Percikan Filsafat Sejarah dan Peradaban Islam,
Malang : UIN-MALIKI PRESS.
Fu’adi, Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: SUKSES Offset.
Khoiriyah. 2012. Reorientasi wawasan sejarah Islam. Yogyakarta : Teras.
Maryam, Siti. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: LESFI Yogyakarta.
Toybee , Arnold. 2004. Sejarah Umat Manusia Uraian Analisis, Kronologis, Naratif
            dan komparatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.





[1] Arnold Toybee. Sejarah Umat Manusia Uraian Analisis, Kronologis, Naratif dan komparatif, (Yogyakarta:    
            Pustaka Pelajar, 2004). Hal : 433.
[2] Siti Maryam, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: LESFI Yogyakarta, 2003), hlm.327-332.
[3] Ibid, hlm. 334.
[4]  Muhammad In’am Esha, Percikan Filsafat Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang :UIN-MALIKI PRESS, 2011) Hal. 60-62
[5] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: SUKSES Offset, 2011), hal. 1-6.
[6] Ibid, Imam Fu’adi. Hal. 12-16.

[7]  Khoiriyah, Reorientasi wawasan sejarah Islam, (Yogyakarta : Teras. 2012) hal. 40-47.

[8]  Ibid, Khoiriyah, hal. 33 – 39.
[9]  Ibid, Khoiriyah, hal. 48 – 50.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar