Laman

Kamis, 27 November 2014

SPI - H - 13: PERANG SALIB (THE CRUSADES WAR)


PERANG SALIB
(THE CRUSADES WAR)

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas:
Mata kuliah: Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Ghufron Dimyati, M.S.I


 
Disusun Oleh:

                                    Khofidhotul Khasanah           202 111 2086

                                   
Kelas: H

JURUSAN TARBIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
PEKALONGAN
2014



BAB I
PENDAHULUAN
Perang Salib merupakan peristiwa bersejarah yang tidak dapat dilupakan dalam sejarah Islam dengan kristen yang terjadi pada abad pertengahan , karena perang ini berjalan dalam waktu yang cukup lama, memakan korban yang cukup banyak, menghabiskan dana yang tidak terhitungkan, mendatangkan kerugian yang tak dapat dinilai dengan uang dan bahkan mengakibatkan dampak yang negatif dan destruktif bagi hubungan umat beragama, namun demikian tak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya Perang Salib telah membawa perubahan peradaban yang signifikan khususnya bagi peradaban Barat yang nota bene beragama Kristen.
Perang yang terjadi hampir dua abad ini terjadi secara besar-besaran sebagai tragedi berdarah, dan dalam perang ini banyak pula tokoh-tokoh yang tidak bisa kita abaikan perannya, dan penting untuk kita ketahui serta kita contoh semangat juang dengan pantang sedikit pun mundur dari gejolak di medan perang. Dengan  kita melihat begitu banyak ilmu sejarah yang dapat kita ambil dari perang antara umat Islam dan Kristen ini, maka pada makalah ini akan diuraikan tentang sejarah Perang Salib.







BAB II
PEMBAHASAN
A.      Timbulnya Perang Salib
Perang Salib (The Crusades War) adalah serangkaian perang agama selama hampir dua abad sebagai reaksi Kristen Eropa terhadap Islam Asia. Perang ini terjadi karena sejumlah kota dan tempat suci Kristen diduduki Islam, seperti di Suriah, Asia Kecil, Spanyol, dan Sicilia. Militer Kristen menggunakan salib sebagai simbol yang menunjukkan bahwa perang ini suci dan bertujuan membebaskan kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem) dari orang Islam.
Perang Salib awalnya disebabkan adanya persaingan pengaruh antara Islam dan Kristen. Penguasa Islam Alp Arselan yang memimpin gerakan ekspansi yang kemudian dikenal dengan “Peristiwa Manzikart” pada tahun 464 H (1071 M) menjadikan orang-orang Romawi terdesak. Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Prancis, dan Armenia. Peristiwa besar ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian itu bertambah setelah dinasti Saljuk dapat merebut Baitul Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir. Penguasa Saljuk menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan ini dirasakan sangat menyulitkan mereka.
Oleh karena itu, untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci Kristen itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa agar melakukan perang suci. Perang ini kemudian dikenal dengan nama Perang Salib karena pasukan Kristen dalam berperang mengenakan tanda salib pada pakaian yang dikenakannya sebagai lambang.
Perang Salib berlangsung hampir 200 tahun lamanya, dari mulai 1095-1293 M, dengan 8 kali penyerbuan. Perang tersebut bertujuan untuk merebut kota suci Palestina, tempat “tapak Tuhan berpijak”, dari tangan kaum muslimin. Perang tersebut merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan di pantai timur Laut Tengah, yang merusak hubungan antara dunia Timur dan dunia Barat.
B.       Sebab-Sebab Perang Salib
       Ada beberapa faktor yang memicu terjadinya Perang Salib. Adapun yang menjadi faktor utama yang menyebabkan terjadinya Perang Salib ada tiga hal, yaitu agama, politik, dan sosial ekonomi.
1.    Faktor Agama
Sejak Dinasti Saljuk merebut Baitul Maqdis dari tangan Dinasti Fathimiyah pada tahun 1070 M, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana karena penguasa Saljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitul Maqdis. Bahkan mereka yang pulang berziarah sering mengeluh karena mendapat perlakuan jelek dari orang Saljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Saljuk sangat berbeda dari para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.
2.    Faktor Politik
Kekalahan Bizantium sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul) di Manzikart,  pada 1071 dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Saljuk telah mendorong Kaisar Alexius I Comnenus (kaisar Konstantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus II (1035-1099); yang menjadi Paus antara tahun 1088-1099 M, dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah penduduk Dinasti Saljuk. Paus Urbanus II bersedia membantu Bizantium karena adanya janji Kaisar Alexius untuk tunduk di bawah Paus di Roma dan harapan untuk dapat mempersatukan gereja Yunani dan Roma.
Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah sehingga orang Kristen di Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Saljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, dan Dinasti Fathimiyah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara khalifah Fathimiyah di Mesir, khalifah Abbasiyah di Baghdad, dan Amir Umayyah di Cordofa yang memproklamasikan dirinya sebagai khalifah. Situasi yang demikian mendorong para penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu persatu daerah Islam, seperti dinasti kecil di Edessa dan Baitul Maqdis.
3.    Faktor Sosial Ekonomi
Para pedagang besar yang berada di pantai Timur Laut Tengah terutama yang berada di kota Venesia, Genoa, dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota dagang di sepanjang pantai timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana Perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan. Hal itu dimungkinkan karena jalur Eropa akan bersambung dengan rute perdagangan di Timur melalui jalur strategis tersebut.
Disamping itu, stratifikasi sosial masyarakat Eropa pada kelompok rakyat jelata nampak pada kehidupan mereka sangat tertindas dan terhina mereka harus tunduk kepada para tuan tanah yang sering bertindak semena-mena dan dibebani berbagai pajak serta sejumlah kewajiban lainnya. Oleh karena itu, ketika mereka dimobilisasi oleh pihak-pihak gereja untuk turut mengambil bagian dalam perang salib dengan janji akan diberikan kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik apabila perang dapat dimenangkan, mereka menyambut seruan itu secara spontan dengan melibatkan diri dalam perang tersebut.
Selain hal diatas di Eropa berlaku diskriminasi terhadap rakyat jelata, pada saat itu di Eropa berlaku hukum waris yang menetapkan bahwa hanya anak tertua yang berhak menerima harta warisan. Apabila anak tertua meninggal, harta warisan harus diserahkan kepada gereja. Hal ini telah menyebabkan populasi orang miskin semakin meningkat. Akibatnya anak-anak yang miskin sebagai konsekuensi hukum waris yang mereka taati itu beramai-ramai pula mengikuti seruan mobilisasi umum tersebut dengan harapan yang sama, yakni untuk mendapatkan perbaikan ekonomi.
C.      Periodisasi Perang Salib
Menurut Phillip K. Hitti, dalam The Arabs A Short History, pembagian Perang Salib yang lebih tepat adalah sebagai berikut:
1.      Periode penaklukan (1096-1144 M).
2.      Periode reaksi umat Islam (1144-1192 M).
3.      Periode perang saudara kecil-kecilan atau periode kehancuran dalam pasukan salib (1192-1291 M).
tiga periode diatas sebagaimana berikut:
1.    Periode Pertama
Jalinan kerja sama antara Kaisar Alexius I dan Paus Urbanus II berhasil membangkitkan semangat umat Kristen, terutama akibat pidato Paus Urbanus II pada Konsili Clermont (26 November 1095 M). Menurut penilaian Philip K. Hitti, pidato ini kemungkinan merupakan pidato yang paling berkesan sepanjang sejarah yang telah dibuat Paus. Pidato ini menggema ke seluruh penjuru Eropa yang membangkitkan seluruh negara Kristen mempersiapkan berbagi bantuan untuk mengadakan penyerbuan. Gerakan ini merupakan gerakan spontanitas yang diikuti berbagai kalangan masyarakat.
Hasan Ibrahim Hasan dalam Tarikh Al-Islam, menggambarkan gerakan ini sebagai gerombolan rakyat jelata yang tidak memiliki pengalaman berperang, tidak disiplin, dan tanpa memiliki persiapan. Gerakan ini dipimpin oleh Piere I’Ermite. Sepanjang jalan menuju kota Konstantinopel, mereka membuat keonaran, melakukan perampokan, dan bahkan terjadi bentrokan dengan penduduk Hongaria dan Bizantium. Akhirnya dengan dengan mudah pasukan Salib dapat dikalahkan Dinasti Saljuk.
Pasukan Salib angkatan berikutnya dipimpin oleh Godfrey of Boulion. Gerakan ini lebih merupakan ekspedisi militer yang terorganisasi rapi. Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa,  sebagian besar bangsa Prancis dan Norman berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukan Nicea, dan tahun 1098 menguasai Edessa. Di sini mereka mendirikan Kerajaan Latin I dengan Baldwin sebagai rajanya. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan Kerajaan Latin II di Timur, Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Baitul Maqdis atau Yerusalem (15 Juli 1099) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan Godfrey sebagai rajanya. setelah penaklukan Baitul Maqdis, tentara salib melanjutkan ekspansinya, mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M), dan Tyre (1124 M). Di Tripoli mereka mendirikan Kerajaan Latin IV, dengan Raymond sebagai rajanya.
Pada tahun 1127 M, muncul Imaduddin Zanki seorang pahlawan Islam termasyhur dari Mousul, yang dapat mengalahkan tentara Salib di kota Aleppo Hamimah, dan Edessa. Kemenangan itu merupakan kemenangan pertama kali yang disusul dengan kemenangan selanjutnya sehingga tentara Salib merasakan pahitnya kekalahan demi kekalahan. Pada tahun 1046 M, Imaduddin Zanki wafat.
2.      Periode Kedua
Wafatnya Imaduddin Zanki, membangkitkan anaknya, Nuruddin Zanki untuk melanjutkan tugas sang ayah, meneruskan perjuangan membela agama, melakukan jihad, Nuruddin Zanki berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M, dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Jatuhnya Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang Salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Codrad II. Keduanya memimpin Pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syiria. Akan tetapi, pasukan mereka dihadang oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Codrad II sendiri melarikan diri pulang ke negerinya. Nuruddin wafat pada tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang berhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. Hasil peperangan Shalahuddin yang terbesar adalah merebut kembali Yerusalem pada 2 Oktober 1187 M. Dengan demikian, kerajaan Latin yang didirikan tentara Salib di Yerusalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir.
Jatuhnya Yerusalem ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lion Hart raja Inggris, dan Philip Augustus raja Prancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mendapat tantangan berat dari Shalahuddin akan tetapi mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota Kerajaan Latin, tetapi mereka tidak berhasil merebut Palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shulh Ar-Ramlah. Dalam perjanjian itu disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu.
Tidak lama kemudian, setelah perjanjian itu disepakati, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi, pahlawan Perang Salib itu meninggal dunia pada Februari 1193 M.
3.      Periode Ketiga
Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir terlebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan mendapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibti.  Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki kota Dimyat. Raja Mesir dari Dinasti Ayyubiah, Al-Malikul Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1247 M, di masa pemerintahan Al-Malikush Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik pengganti Dinasti Ayyubiyah, pimpinan kaum muslimin dipegang Baybars dan Qalawun. Pada masa itu Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin pada tahun 1291M.
Dalam periode ini telah terukir dalam sejarah munculnya pahlawan wanita Islam yang terkenal gagah berani, yaitu Syajar Ad-Dur. Ia berhasil menghancurkan pasukan raja tersebut. Bukan hanya itu, sejarah mencatat bahwa pahlawan wanita gagah perkasa ini telah mampu menunjukkan sikap kebesaran Islam dengan membebaskan dan mengizinkan Raja Louis IX  kembali  ke negerinya, Prancis.
D.      Jalannya Perang Salib
Perang salib yang berlangsung dalam kurun waktu hampir dua abad, terjadi dengan serangkaian peperangan. Pada tahun 490H/1096 M, pasukan salib yang dipimpin oleh komandan Walter dapat ditundukkan oleh kekuatan Kristen Bulgaria. Kemudian Peter yang mengomando kelompok kedua pasukan salib bergerak melalui Hongaria dan Bulgaria. Pasukan ini berhasil menghancurkan setiap kekuatan yang menghalanginya. Seorang penguasa negeri Nicea berhasil menghadapinya bahkan sebagian pimpinan salib berkenan memeluk Islam dan sebagian pasukan mereka terbunuh dalam peperangan ini.
Setahun kemudian yakni pada tahun 491 H/ 1097 M, pasukan Kristen dibawah komando Goldfrey bergerak dari Konstantinopel menyeberangi selat Bosporus dan berhasil menaklukan Antioch setelah mengepungnya selama 9 bulan. Pada pengepungan ini pasukan Salib melakukan pembantaian secara kejam tanpa perikemanusiaan.
Setelah berhasil menundukkan Antioch, pasukan salib bergerak ke Ma’arrat An-Nu’man, sebuah kota termegah di Syria. Di kota ini pasukan salib juga melakukan pembantaian ribuan orang. Pasukan salib selanjutnya menuju ke Yerusalem dan dapat menaklukannya dengan mudah. Ribuan jiwa kaum muslimin menjadi korban pembantaian dalam penaklukan kota Yerusalem ini. Sejarah telah menyaksikan sebuah tragedi manusia yang memilukan. Goldfrey selanjutnya menjabat sebagai penguasa atas negeri Yerusalem. Ia adalah seorang penguasa yang cakap, komandan yang bersemangat dan agresif. Pada tahun 503 H 1109 M, pasukan salib menaklukan Tripoli. Selain membantai masyarakat Tripoli, mereka juga membakar perpustakaan, perguruan dan sarana industri hingga menjadi abu.
Selama terjadi peperangan tersebut, kesultanan Saljuk sedang mengalami kemunduran. Perselisihan antara sultan-sultan Saljuk memudahkan pasukan salb merebut wilayah kekuasaan Islam. Dalam kondisi seperti ini muncullah seorang Sultan Damaskus yang bernama Muhammad yang berusaha mengabaikan konflik internal dan menggalang kesatuan dan kekuatan Saljuk untuk mengusir pasukan Salib. Baldwin, penguasa Yerusallem pengganti Goldfrey, dapat dikalahkan oleh pasukan Saljuk ketika ia sedang menyerang kota Damaskus. Baldwin segera dapat merebut wilayah-wilayah yang lepas setelah datang bantuan pasukan dari Eropa.
Sepeninggal Sultan Mahmud, tampillah seorang perwira muslim yang cakap dan gagah pemberani. Ia adalah Imaduddin Zanki, seorang anak dari pejabat tinggi Sultan Malik Syah. Atas kecakapannya, ia menerima kepercayaan berkuasa atas kota Wasit dari Sultan Mahmud. Belakangan penguasa Mosul dan Mesopotamia berlindung kepadanya. Ia menerima gelar Attabek dari khalifah di Baghdad. Ia telah mencurahkan kemampuannya dalam upaya mengembalikan kekuatan pemerintahan Saljuk dan menyusun kekuatan militer, sebelum ia mengabdikan diri di kancah peperangan salib.
Masyarakat Aleppo dan Hammah yang menderita di bawah kekuasaan pasukan salib berhasilkan diselamatkan oleh Imaduddin Zanki setelah berhasil mengalahkan pasukan salib. Tahun berikutnya ia juga berhasil  mengusir pasukan salib dari Al-Arsyarib. Satu per satu Zanki meraih kemenangan atas pasukan salib, hingga ia merebut wilayah Eddesa pada tahun 539 H/ 1144 M. Pada saat itu pula bangsa Romawi menjalin kekuatan gabungan dengan pasukan Prancis menyerang Buzza. Mereka menangkap dan membunuh perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa. Zanki segera mengerahkan pasukannya dan ia berhasil mengusir kekuatan Prancis dan Romawi secara memalukan. Wilayah perbatasan di Akra berhasil digrebek hingga menyerah, demikian juga kota Balbek ini dipercayakan kepada komandan Najamuddin, ayah Shalahuddin.
Penaklukan Edesa merupakan keberhasilan Zanki yang terhebat. Oleh umat Kristen Eddesa merupakan kota yang termulia, karenanya kota ini dijadikan pusat kepuasan. Dalam penaklukan tindakan pasukan salib. Tidak seorangpun merasakan tajamnya mata pedang Zanki, kecuali pasukan salib yang sedang bertempur yang sebagian besar adalah pasukan Prancis. Dalam perjalanan penaklukan Kalat Jabir, Zanki terbunuh oleh tentaranya sendiri. Selama ini Zanki adalah seorang patriot sejati yang telah berjuang demi membela tanah airnya. Baginya, pelana kuda lebih aman dan lebih dicintainya dari pada kasur sutra, dan juga suara hiruk pikuk di medan peperangan terdengar lebih merdu dan lebih dicintainya dari pada lantunan musik’’.
Kepimpinan Imaduddin Zanki digantikan oleh putranyan yang bernama Nuruddin Mahmud, ia bukan hanya seorang prajurit yang cakap, sekaligus sebagai ahli hukum, dan seorang ilmuan. Pada saat itu umat Kristen Eddesa dengan bantuan pasukan Prancis berhasil mengalahkan pasukan muslim yang bertugas di kota ini dan sekaligus membantainya. Nurrudin segera mengerahkan pasukannya ke Eddesa dan berhasil merebutnya kembali. Sejumlah pasukan Eddesa dan para pengkhianat dihukum dengan mata pedang, sedangkan bangsa Armenia yang bersekutu dengan pasukan salib diusir keluar negeri Eddesa.
Dengan jatuhnya kembali kota Eddesa oleh pasukan muslim, tokoh-tokoh Kristen Eropa dilanda rasa cemas. St. Bernard segera menyerukan kembali Perang Salib melawan kekuatan kaum muslimin. Seruan tersebut membuka gerakan Perang Salib kedua dalam sejarah Eropa. Beberapa penguasa Eropa positifseruan perang suci ini. Kaisar Jerman yang bernama Conrad III, dan kaisar Prancis yang bernama Louis VII segera mengerahkan pasukannya ke Asia. Namun, kedua pasukan ini dapat dihancurkan ketika dalam perjalanan menuju Syria. Dengan sejumlah pasukan yang tersisa mereka berusaha mencapai Antioch, dan dari sini mereka menuju ke Damaskus. Pengepungan Damaskus telah berlangsung beberapa hari, ketika Nuruddin, pasukan salib segera melarikan diri ke Palestina, sementara Conrad III dan Louis VII kembali ke Eropa dengan tangan hampa. Dengan demikian, berakhirlah babak kedua Perang Salib.
Nuruddin segera mulai memainkan peran baru sebagai sang penakluk. Tidak lama setelah mengalahkan pasukan salib, ia berhasil menduduki benteng Areima, merebut wilayah perbatasan Apamea pada tahun 544 H/ 1149 m, dan kota Joscelin. Pendek kata kota-kota penting pasukan salib berhasil dikuasainya. Ia segera menyambut baik permohonan masyarakat Damaskus dalam perjuangan melawan penguasa Damaskus yang menindas. Keberhasilan Nurruddin menaklukan kota Damaskus membuat sang khalifah berkenan memberinya gelar kehormatan Al-Malik Al-Adil.
Ketika itu Mesir sedang dilanda perselisihan intern Dinasti Fathimiyah. Shawar seorang perdana mentri Fathimiyah dilepas dari jabatannya oleh gerakan rahasia. Nuruddin mengirimkan pasukannya dibawah pimpinan komandan Syirkuh. Namun ternyata Syawar justru memerangi Syirkuh berkat bantuan pasukan Prancis sehingga berhasil menduduki Mesir.
Pada tahun 563 H/ 1167 M Syirkuh berusaha datang kembali ke Mesir, Syawarpun segera meminta bantuan raja Yerusalem yang bernama Amauri. Gabungan pasukan Syawar dan Amauri ditaklukan secara mutlak oleh pasukan Syirkuh dalam peperangan di Balbain. Antara mereka terjadi perundingan yang melahirkan beberapa kesepakatan: bahwa Syirkuh bersedia kembali ke Damaskus dengan imbalan 50.000 keping emas, Amauri harus menarik pasukannya dari Mesir. Namun Amauri tidak bersedia meninggalkan Kairo, sehingga perjanjian tersebut batal secara otomatis. Bahkan mereka menindas rakyat atas permintaan khalifah Mesir Syirkuh diperintahkan oleh Nuruddin agar segera menuju ke Mesir. Masyarakat Mesir dan Khalifah menyambut hangat kedatangan Syirkuh dan pasukannya, dan akhirnya Syirkuh ditunjuk sebagai Perdana Menteri. Dua bulan sesudah pernunjukan ini, Syirkuh meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh kemenakannya yang bernama Shalahuddin. Ketika kondisi politik Dinasti Fathimiyah semakin melemah, Shalahuddin Al-Ayyubi segera memulihkan otoritas Khalifah Abasyiyah di Mesir, dan setelah Dinasti Fathimiyah hancur, Shalahuddin menjadi penguasa Mesir 570-590 H (1174-1193 M).
Shalahuddin putra Najamudin Ayyub, lahir di Takrit pada tahun 432 H/1137 M. Ayahnya adalah pejabat kepercayaan pada masa Imanuddin Zanki dan masa Nuruddin. Shalahuddin seorang Letnan pada masa Nuruddin, dan telah berhasil mengonsolidasikan masyarakat Mesir Nubia, Hijaz dan Yaman. Sultan Malik Syah yang menggantikan Nuruddin adalah raja yang masih berusia belia, sehingga amir-amirnya seling berebut pengaruh yang menyebabkan timbulnya krisis politik internal. kondisi demikian ini memudahkan bagi pasukan salib untuk menyerang Damaskus dan menundukannya. setelah beberapa lama tampillah Shalahuddin berjuang mengamankan Damaskus dari pendudukan pasukan salib. lantaran hasutan Gumusytag, sang sultan belia Malik Syah menaruh kemarahan terhadap sikap Shalahuddin sehingga menimbulkan konflik antara keduanya. Sultan Malik Syah menghasut masyarakat Aleppo berperan melawan Shalahuddin. Kekuatan Malik Syah di Aleppo di kalahkan oleh Shalahuddin. Merasa tudak ada pilihan lain, Sultan Malik Syah meminta bantuan pasukan Salib. Semenjak kemenangan melawan pasukan Salib di Aleppo ini, terbukalah jalan lurus bagi tugas dan perjuangan Shalahuddin di masa-masa mendatang hingga ia berhasil mencapai kedudukan sultan. Semenjak tahun 578 H/1192 M , kesultanan Saljuk di pusat mengakui kedudukan Shalahuddin sebagai sultan atas seluruh wilayah Asia Barat.
Sementara itu Baldwin III menggantikan kedudukan ayahnya, Amaury. Baldwin III mengkhianati janjian genjatan senjata antara kekuatan muslim dengan pasukan salib Kristen.Bahkan pada tahun 582 H/1186 M , penguasa wilayah Kara yang bernama Reginald mengadakan penyerbuan terhadap kabilah muslim yang sedang melintasi benteng pertahanannya. Shalahuddin segera mengerahkan pasukannya di bawah pimpinan Ali untuk mengepung Kara dan selanjutnya menuju Galilei untuk menghadapi pasukan Prancis. Pada tanggal 3 Juli 1187 M kedua pasukan bertempur di daerah Hittin, di mana pihak pasukan Kristen mengalami kekalahan. Ribuan pasukan mereka terbunuh sedangkan tokoh-tokoh militer mereka ditawan. Sultan Shalahuddin selanjutnya merebut benteng pertahanan Tiberia. Kota Acre, Naplus, Jericho, Ramla, Caesarea, Asruf, Jaffra, Beirut, dan sejumlah kota-kota lainnya satu persatu jatuh dalam kekuasaan Sultan Shalahuddin.
Selanjutnya Shalahuddin memusatkan perhatiannya untuk menyerang Yerusalem, dimana ribuan rakyat muslim dibantai oleh pasukan salib Kristen. Setelah mendekati kota ini, Shalahuddin segera menyampaikan perintah agar pasukan salib Kristen Yerusalem menyerah. Perintah tersebut sama sekali tidak dihiraukan sehingga Shalahuddin bersumpah untuk menbalas dendam atas pembantaian ribuan warga muslim.Setelah beberapa lama terjadi pengepungan,pasukan salib kehilangan semangat tempurnya dan memohon kemurahan hati sang Sultan. Jiwa sang Sultan terlalu lembut dan penyayang untuk melaksanakan sumpah dan dendamnya, sehingga Sultan pun memaafkan mereka. Bangsa Romawi dan Syiria Kristen diberi hidup dan diizinkan tinggal di Yerusalem dengan hak-hak warga negara secara penuh.Bangsa Perancis dan bangsa-bangsa latin diberi hak meninggalkan Palestina dengan menbayar uang tebusan 10 dinar untuk setiap orang dewasa, dan 1 dinar untuk setiap anak-anak.Jika tidak bersedia mereka dijadikan budak.Namun,peraturan seperti ini tidak diterapkan oleh sang Sultan secara kaku.Shalahuddin berkenan melepaskan ribuan tawanan tanpa tebusan sepeser pun,bahkan ia mengeluarkan hartanya sendiri untuk membantu menebus sejumlah tawanan. Shalahuddin juga membagi-bagikan sedekah kepada ribuan masyarakat Kristen yang miskin dan lemah sebagai bekal perjalanan mereka pulang. Ia menyadari betapa pasukan salib Kristen telah membantai ribuan masyarakat muslim yang tidak berdosa,namun suara hatinya yang lembut tidak tega untuk melampiaskan dendam terhadap pasukan kristen.
Pada sisi lainnya Shalahuddin juga membina ikatan persaudaraan antara warga kristen dengan warga muslim,dengan memberikan hak-hak orang kristen sama persis dengan hak-hak warga muslim di Yerusalem.Sikap Shalahuddin demikian ini membuat umat kristen di negara-negara lain ingin sekali tinggal di wilayah kekuasaan sang sultan ini.sejumlah warga kristen yang meninggalkan Yerusalem menuju Antioch ditolak bahkan dicaci maki oleh raja Bahemond.Lalu mereka menuju ke negara Arab di mana kedatangan mereka di sambut dengan baik.Perlakuan baik pasukan muslim terhadap umat kristen ini sungguh tidak ada bandingannya sepanjang sejarah dunia.Padahal sebelumnya, pasukan salib Kristen telah berbuat kejam,menyiksa,dan menyakiti warga muslim.
Jatuhnya Yerusalem dalam kekuasaan Shalahuddin menimbulkan keprihatian besar kalangan tokoh-tokoh Kristen.Seluruh penguasa negara Kristen di Eropa berusaha kembali menggerakkan pasukan salib. Ribuan pasukan Kristen berbondong-bondong menuju Tyre untuk berjuang mengambilkan prestise kekuatan mereka yang telah hilang. Menyambut seruan kalangan gereja, kaisar jerman yang bernama Frederick Barbarosa, Philip August, kaisar prancis yang bernama Richard,beberapa pembesar Inggris, membentuk gabungan pasukan salib. Dalam hal ini seorang ahli sejarah menyatakan bahwa Prancis mengerakan seluruh pasukannya baik pasukan darat maupun pasukan laut. Bahkan wanita-wanita Kristen turut ambil bagian dalam peperangan ini.Setelah seluruh kekuatan salib berkumpul di Tyre, mereka segera bergerak mengepung Acre.
Shalahuddin segera menyusun strategi untuk menghadapi pasukan salib.Ia menetapkan strategi bertahan di dalam negeri dengan mengabaikan saran para amir untuk melakukan pertahanan di wilayah Acre.Shalahuddin mengambil sikap,yang kurang tepat dengan memutuskan pandangannya sendiri.Jadi,Shalahuddin haruslah berperang menyelamatkan wilayahnya setelah pasukan Prancis tiba di Acre.
Tanggal 14 september 1189 M .Shalahuddin terdesak oleh pasukan salib,namun kemenakannya bernama Taqiyuddin berhasil mengusir pasukan salib dari posisinya dan mengambilkan hubungan dengan Acre.Dalam hal ini Ibnu Al-Athir menyatakan “pasukan muslim harus melanjutkan peperangan hingga malam hari sehingga mereka berhasil mencapai sasaran penyerangan.Namun,setelah mendesak separuh kekuatan Prancis,pasukan muslim kembali dilemahkan pada hari berikutnya”. Kota Acre kembali terkepung selama hampir 2 tahun.Sekalipun pasukan muslim menghadapi situasi yang serba sulit selama pengepungan ini,namun mereka tidak patah semangat.Segala upaya pertahanan pasukan muslim semakin tidak mambawa hasil,bahkan mereka merasa frustasi ketika Richard dan Philip August tiba dengan kekuatan pasukan salib yang maha dahsyat.Sultan Shalahuddin merasa kepayahan mengahadapi peperangan ini,sementara itu pasukan muslim dilanda wabah penyakit dan kelaparan.Masytub,seorang komandan Shalahuddin akhirnya mengajukan tawaran damai dengan kesediaan atas beberapa persyaratan sebagaimana yang telah ddiberikan kepada pasukan Kristen sewaktu penaklukan Yerusalem dahulu. Namun, sang raja yang tidak mengenal balas budi ini sedikitpun tidak memberi belas kasih terhadap umat muslim. Ia membantai pasukan muslim secara kejam.
Setelah berhasil menundukan Acre, pasukan salib bergerak menunjukan Ascalon dipimpin jendral Richard.Bersamaan dengan itu Shalahuddin sedang mengarahkan pasukannya dan tiba di Ascalon lebih awal. Ketika tiba di Ascalon,Richard mendapatkan kota ini telah dikuasai oleh pasukan Shalahuddin. Mereka tidak berdaya mengapung kota ini,Richard mengirimkan delegasi perdamaian menghadap Shalahuddin.Setelah berlangsung perdebatan yang kritis, akhirnya sang sultan bersedian menerima tawaran damai tersebut. ”Antar pihak muslim dan pihak pasukan salib menyatakan bahwa wilayah kedua belah pihak saling tidak menyerang dan menjamin keamanan masing-masing,dan bahwa warga negara kedua belah pihak dapat saling keluar masuk ke wilayah lainnya tanpa gangguan apapun”. Jadi perjanjian damai yang menghasilkan kesepakatan diatas mengakhiri Perang Salib ketiga.
Setelah keberangkatan Jendral Richard, Shalahuddin masih tetap tinggal di Yerusalem dalam beberapa lama. Ia kemudian kembali ke Damaskus untuk menghabiskan sisa hidupnya, perjalanan panjang yang meletihkan ini mengganggu kesehatan Sultan dan akhirnya ia meninggal 6 bulan setelah tercapainya perdamaian,yakni pada tahun 1193 M.
Hari kematian Shalahuddin merupakan musibah bagi Islam dan umat islam, sungguh tidak ada duka yang melanda mereka setelah kematian 4 khalifah pertama yang melebihi duka atas kematian Sultan Shalahuddin.Demikian tulis seorang sejarawan.
Shalahuddin bukan hanya prajurit, ia juga seorang yang mahir dalam bidang pendidikan dan pengetahuan.Berbagai penulis berkarya di istananya. Penulis ternama diantara mereka adalah Imanuddin,sedangkan hakim yang termashur adalah Al-Hakkari. Sultan Shalahuddin mendirikan berbagai lembaga pendidikan seperti madrasah, perguruan dan juga mendirikan sejumlah rumah sakit diwilayah kekuasaannya.
2 tahun setelah meninggalnya Shalahuddin juga berkobar Perang Salib atas inisiatif  Paus Celesti III. Namun, sesungguhnya peperangan antara pasukan muslim dengan pasukan Kristen telah berakhir dengan usainya Perang Salib ketiga. Sehingga peperangan berikutnya tidak banyak di kenal.
Pada tahun 1195 M pasukan salib menundukkan Sicilia, kemudian terjadi beberapa kali penyerangan terhadap Syria. Pasukan Kristen ini mendarat di pantai Phoenesia dan menduduki Beirut.Anak Shalahuddin yang bernama Al-Adil segera menghalau pasukan salib.Ia selanjutnya menyerang kota perlindungan pasukan salib.Mereka kemudian mencari perlindungan ke Tibinim,lantaran makin kuatnya tekanan dari pasukan muslim,pihak salib akhirnya menempuh inisiatif damai.Sebuah perundingan menghasilkan kesepakatan pada tahun 1198 M , bahwa peperangan ini harus dihentikan selama 3 tahun.
Belum genap mencapai 3 tahun, Kaisar Innocent III menyatakan secara tegas berkobarnya Perang Salib kembali setelah berhasil menyusun kekuatan militer. Jenderal Richard di Inggris menolak keras untuk bergabung dalam pasukan salib ini, sedang mayoritas pebguasa Eropa lainnya menyambut gembira seruan perang tersebut. Pada kesempatan ini pasukan salib yang bergerak menuju Syiria tiba-tiba mereka membelokkan gerakannya menuju Konstantinopel. Begitu tiba dikota ini mereka membantai ribuan bangsa Romawi baik laki-laki maupun perempuan secara bengis dan kejam. Pembantaian ini berlangsung beberapa hari, jadi pasukan muslim sama sekali tidak mengalami kerugian karena tidak terlibat dalam peristiwa itu pada tahun 613 H/1216 M, Innocent III jua mengobarkan propaganda perang salib kembali. 250.000 pasukan salib mayoritas Jerman mendarat di Syiria. Mereka terserang wabah penyakit diwilayah pantai Syiria hingga kekuatan pasukan tinggal tersisa sebagian, mereka kemudian bergerak menuju Mesir dan kemudian mengepung kota Dimyat. Dari 70.000 personil, pasukan salib berkurang lagi hingga tinggal 3000 pasukan yang tahan dari serangan wabah penyakit. Bersamaan dengan ini, datang tambahan pasukan yang berasal dari Prancis yang bergerak menuju Kairo. Namun, akibat serangan pasukan muslim yang terus-menerus, mereka menjadi terdesak dan terpaksa menempuh jalan damai dengan syarat bahwa pasukan salib harus segera meninggalkan kota Dimyat.
Untuk mengatasi konflik politik internal, Sultan Kamil mengadakan perundingan kerjasama dengan seorang Jendral Jerman yang bernama Frederick. Frederick bersedia membantunya menghadapi musuh-musuhnya dari kalangan Bani Ayyub sendiri, sehingga Frederick nyaris menduduki dan sekaligus berkuasa di Yerussalem.
Yerussalem berada di bawah kekuasaan tentara salib sampai dengan tahun 1244 M, setelah itu kekuasaan salib direbut oleh Malik Ash Shalih Najamuddin Al Ayyubi atas bantuan pasukan Turki Khawarizmi yang berhasil melarikan diri dari kekuasaan Jenghiz Khan. Dengan direbutnya kota Yerussalem oleh Malik Ash Shalih, pasukan salib kembali menyusun penyerangan terhadap wilayah Islam. Kali ini Lowis IX, kaisar Prancis yang memimpin pasukan salib. Mereka mendarat di Dimyat dengan mudah tanpa perlawanan yang berarti. Karena pada saat itu Sultan Malik Ash Shalih sedang menderita sakit keras sehingga disiplin tentara muslim merosot. Ketika pasukan Lowis IX bergerak menuju ke Kairo melalui jalur sungai Nil, mereka mengalami kesulitan lantaran arus sungaimencapai ketinggiannya dan mereka juga terserang oleh wabah penyakit sehingga kekuatan salib dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Turan Syah putra Ayyub.
Setelah berakhir Perang Salib pada masa Turan Syah, pasukan salib Kristen berkali-kali berusaha membalas kekalahan, namun selalu mengalami kegagalan.[1]
Perang Salib ke IV dan selanjutnya sampai ke VIII tidak sedahsyat serangan tentara Salib sebelumnya sehingga nanti pada tahun 1292 M tentara Salib dapat terusir dari Timur. Demikianlah penyerbuan-penyerbuan tentara Salib dari Eropa melawan Islam dan umatnya. Mereka tidak dapat merebut apapun dari tangan kaum Muslimin dan tidak dapat menurunkan bendera Islam dari Palestina.[2]
E.       Pengaruh Perang Salib Terhadap Peradaban Islam
Pasca genjatan senjata, pasukan Islam dan pasukan salib hidup dengan tenang dan aman. Kedua belah pihak membaur dan berinteraksi langsung hingga terjadi pernikahan diantara keduanya. Masing-masing belajar dari yang lain dan itu sangat berpengaruh pada masa depan yang sedang menunggu. Pasukan Prancis mendapatkan banyak keuntungan dari pergaulan mereka dengan kaum Muslimin seperti terlihat berikut:
Satu: Mereka belajar berbagai macam disiplin ilmu yang saat itu tenggah berkembang dikalangan kaum Muslimin kepada kaum Muslimin lalu mengarangnya dalam bentuk buku-buku yang memuat banyak hal-hal yang inovatif dan membuat rumus-rumus tentang ilmu-ilmu tersebut. Sebagian dari tentara salib ada yang diberi tugas menterjemahkan naskah ilmiah ke dalam bahasa latin agar diketahui oleh orang-orang Barat.
Kedua: Pasukan salib belajar dari kaum Muslimin hal-hal yang terkait dengan perindustrian dan ketrampilan, seperti ketrampilan menenun, mewarnai, pelabuhan, barang tambang, industri kaca dan teknologi pembangunan. Kesemuanya itu pada akhirnya sangat berpengaruh pada kehidupan industri, bisnis dan ketrampilan bangsa Eropa.
Ketiga: Peradaban Barat sangat terwarnai oleh peradaban Islam hingga membuatnya maju dan berada dipuncak kejayaannya. Tanpa perang salib, peradaban Eropa tidak mungkin maju sampai batas waktu yang hanya diketahui Allah saja. Fakta ini secara jujur diakui oleh para orientalis yang moderat sebelum dikatakan para sejarawan Muslim sendiri.
Itulah yang dipanen bangsa Eropa dari perang salib. Kendati harus diakui bahwa perang salib menimbulkan kerugian dan kekalahan yang mengenaskan serta tidak mencapai targetnya yaitu merebut Baitul Maqdis dari kaum Muslimin. Namun dibalik itu, perang salib mendatangkan keuntungan yang lebih besar yang menjadikan bangsa Eropa maju.[3]
Apabila diperhatikan dampak dari pada Perang Salib itu adalah lebih banyak menguntungkan dunia Barat apalagi dibandingkan dengan dunia Timur khususnya ummat Islam. Umat Islam tidak melihat arti penting apapun dalam peristiwa Perang Salib itu. Pengaruh dari Perang Salib itu hanya sedikit seperti ornamen-ornamen gereja berpengaruh terhadap seni gaya bangunan masjid sebagaimana terlihat pada masjid An-Nashr di Kairo.
Perang Salib telah menimbulkan dampak-dampak penting dalam sejarah perkembangan dunia karena telah membawa Eropa ke dalam kontak langsung dengan dunia Islam yang telah lebih dahulu maju dan berperadaban, sementara Eropa / Barat berada dalam abad kegelapan. Melalui inilah hubungan antara Barat dengan Timur terjalin. Kemajuan orang Timur yang progresif dan maju pada saat itu menjadi daya dorong yang besar bagi pertumbuhan intelektual Eropa / Barat. Hal itu memerankan bagian yang penting bagi timbulnya renaissance di Eropa.
Dampak positif yang ditimbulkan oleh adanya Perang Salib itu bagi dunia Barat dapat dilihat dalam kenyataan berikut ini :
1. Secara kultural,  pasukan Perang Salib di Timur menjumpai beberapa aspek yang menarik dari kehidupan Islam. Ketika pasukan tersebut kembali ke tempat asal mereka, mereka berusaha untuk menirunya. Sejumlah terjemahan bahasa Arab ke bahasa Latin dikerjakan di wilayah-wilayah di mana Perang Salib berlangsung.
2. Gagasan Perang Salib memberi kontribusi kepada gerakan eksplorasi yang berujung pada ditemukannya Benua Amerika oleh Colombus dan ditemukannya rute perjalanan laut ke India dengan mengelilingi Tanjung Harapan (Cape of Good Hope). Akibatnya orang Barat menyadari bahwa selain adanya negara-negara Islam dan Barat, ada juga negara-negara lain yang bukan negara Islam dan bukan negara Barat.
Adapun dampak  positif  lainnya bagi dunia barat dengan adanya Perang Salib adalah menambah keuntungan Eropa di lapangan perniagaan dan perdagangan. Sebagai hasil dari Perang Salib, orang Eropa dapat mempelajari dan memodifikasi serta mengaplikasikan beberapa temuan penting yang telah dihasilkan oleh orang-orang Islam pada masa sebelumnya. Hal ini lebih banyak terutama berkaitan dengan masalah-masalah seni, industri, perdagangan dan pertanian.
Dalam bidang seni, gaya-gaya bangunan dan cara berpakaian Timur mempengaruhi seni gaya bangunan dan berpakaian orang Barat. Demikian pula halnya dalam bidang agrikultur, banyak pasukan Perang Salib yang terbiasa dengan produk agrikultur Timur, dan yang terpenting adalah gula; karena gula telah menjadi makanan termewah di Barat. Hal ini berkaitan dengan pembentukan pasar Eropa baru untuk produk-produk agrikultur Timur. Orang-orang Barat mulai menyadari kebutuhan akan barang-barang Timur. Karena kepentingan ini, berkembanglah perdagangan antara Timur dan Barat.
Bersama-sama dengan keperluan transportasi para peziarah dan pasukan Perang Salib telah merangsang kegiatan maritim dan perdagangan internasional. Aplikasi kompas terjadi pada kegiatan maritim saat itu, yang sekalipun jarum magnetik ditemukan orang Cina, namun penemuan jarum navigasi mulai dikembangkan oleh Islam.
Melihat kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka sesungguhnya dunia Barat berhutang budi pada ummat Islam, hanya saja utang budi ini tidak pernah diakui oleh dunia Barat secara terbuka kepada ummat Islam. Sikap ini berbeda dengan sikap ummat Islam yang secara terbuka dari dulu mengakui bahwa filsafat dipinjam dari Yunani, matematika dipinjam dari India, kimia dipinjam dari Cina, dan seterusnya. Itu semua diakui tanpa ada halangan sama sekali.[4]
Kemudian apa yang didapatkan kaum muslimin dari perang salib? Sesungguhnya pasukan Islam berhasil memantapkan penguasaanya terhadap wilayah-wilayah yang telah dikuasainya dan mengusir pasukan salib serta memulangkan mereka dengan kekalahan yang memalukan. Namun itu semua tidak banyak manfaatnya bagi kaum Muslimin karena wilayah-wilayah tersebut sudah lama mereka kuasai sebelum kedatangan pasukan salib. Jadi tidak ada yang baru dalam hal ini.
Hasil-hasil perang salib bagi wilayah-wilayah Islam bisa diringkas dalam poin-poin berikut:
Satu:  Perang salib yang berlangsung selama kira-kira dua abad  menghabiskan aset kekayaan negara dan putra-putra bangsa yang terbaik. Ribuan tentara termasuk para amir dan panglima perang terbunuh. Hingga mengakibatkan kaum Muslimin membutuhkan waktu yang lama untuk menyusun kembali militernya dan memulihkan kekuatannya yang hancur akibat perang yang menyakitkan tersebut.
Kedua: Genjatan senjata terjadi setelah didahului dengan pembantaian masal. Setelah itu kedua belah pihak bergaul antara satu dengan yang lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa perang apapun selalu meninggalkan cap hitam di negara yang terlibat. Cap hitam tersebut nampak dalam bentuk kemiskinan, dekadensi moral, kemunduran ilmu pengetahuan dan kerusakan struktur masyarakat.
Ketiga: Di samping genjatan senjata menyebabkan terjadinya krisis-krisis seperti diatas, di pihak lain pandangan dan perhatian pasukan salib terfokus kepada apa yang belum pernah terpikirkan oleh otak mereka sebelumnya. Bahwa dengan genjatan senjata, mereka bisa merusak struktur masyarakat Islam yang sebelum ini tidak bisa dilakukan militer yang tangguh dan senjata yang canggih.
Dunia Islam tidak mendapatkan apa-apa dari serangan brutal pasukan salib kecuali kehancuran dan kerusakan massal. Pada saat yang sama kita menyumbangkan kepada bangsa Barat yang terbelakang faktor-faktor kemajuannya dan kemodernnya.[5]
Meskipun menderita kekalahan dalam Perang Salib, pihak Kristen Eropa telah mendapatkan hikmah yang tidak ternilai karena mereka dapat berkenalan dengan kebudayaan dan peradaban Islam yang sudah sedemikian maju. Bahkan, kebudayaan dan peradaban yang mereka peroleh dari Timur-Islam menyebabkan lahirnya renaisans di Barat. Mereka membawa kebudayaan dari Timur-Islam ke barat terutama dalam bidang militer, seni, perindustrian, perdagangan, pertanian, astronomi, kesehatan, dan kepribadian.
Demikianlah Perang Salib yang terjadi di Timur. Perang ini tidak hanya behenti di Barat, di Spanyol, sampai akhirnya umat Islam terusir dari Spanyol Eropa. Akan tetapi, meskipun demikian, mereka tidak dapat merebut apa pun dari tangan kaum muslimin, dan tidak dapat menurunkan bendera Islam di Palestina. Walaupun umat Islam telah berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara salib, namun kerugian akibat perang itu sangat banyak.[6]



PENUTUP
Perang salib dilatar belakangi oleh berbagai faktor, Perang ini berlangsung selama hampir dua abad dan membawa dampak yang sangat berarti terutama bagi barat  yang beradabtasi dengan peradaban Islam yang jauh lebih maju dari berbagai sisi, Dalam hal ini Eropa / Barat banyak berutang budi pada dunia Islam. Sedangkan umat Islam sendiri lebih banyak memperoleh kerugian dengan adanya perang salib ini.
Dari perang salib ini terdapat rahasia Allah Azza wa jalla yaitu membakar semangat kaum mukminin untuk mengejar musuh dan melarang mereka lemah dalam upaya tersebut. Serta diperlukannya persatuan umat Islam dengan aqidah yang benar berdasarkan al-Qur’an. Allah berfirman:
Janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh). Jika kalian menderita sakit, maka sesungguhnya merekapun menderita sakit (pula), sebagaimana kalian menderita sakit tersebut, sedang kalian mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. An- Nisa’: 104)
Maksud ayat diatas,  seriuslah dalam mengejar musuh Islam dalam hal ini berjihad,  jika kalian sakit karena telah jatuh korban dan terluka dipihak kalian,  maka sesungguhnya mereka juga seperti kalian yang terluka dan tewas. Namun kalian tidak sama dengan mereka, kalian bisa berikhtiyar dan menunggu pertolongan Allah beserta pahala-Nya, sementara mereka tidak.












DAFTAR PUSTAKA
Amin, Samsul Munir. 2010.  Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.
Hasibuan, Ahmad Supardi. perang salib dan dampak yang ditimbulkannya, http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=439
Sayyid Al-Wakil, Muhammad. 1998. Wajah Dunia Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kausar.
Sunanto, Musyrifah. 2003. Sejarah Islam Klasik. Bogor: Prenada Media.




[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Cet.2, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 231-252.
[2] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Cet.1, (Bogor: Prenada Media, 2003), hlm. 191-192.
[3] Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam, Cet.1, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 1998), hlm. 225-227.
[4]Ahmad Supardi Hasibuan, perang salib dan dampak yang ditimbulkannya, http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=439

[5] Muhammad Sayyid Al-Wakil, Op.Cit., hlm. 227-230.
[6] Samsul Munir Amin, Op. Cit., hlm. 241

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar