Laman

Kamis, 27 November 2014

SBM - C - 11: VARIASI MENGAJAR


MAKALAH
VARIASI MENGAJAR
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas :
Mata Kuliah                : Strategi Belajar Mengajar
Dosen Pengampu        : Ghufron Dimyati, M.S.I


  Disusun oleh:
Kelas : C
Ulfa Hemi Ristiana                 (2021112259)
Aini A’inda Wahdati              (2021112267)
Kholisul Marom

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014


BAB I
PENDAHULUAN

Proses belajar mengajar konvensional umumnya berlangsung satu arah yang merupakan proses transfer atau pengalihan pengetahuan, informasi, norma, nilai dan lain-lainnya dari seseorang guru atau dosen kepada peserta didik, murid, atau mahasiswa.
Pada mengajar seorang guru perlu kreatif agar proses belajar mengajar tidak membosankan atau monoton.
Demikian juga dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi ( monoton), maka akan membosankan siswa, perhatian siswa berkurang, mengantuk, tidak bersemangat dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai.
Maka dalam makalah kali ini kami akan membahas materi mengenai variasi mengajar, sebagai bekal kita kelak sebagai seorang pendidik atau guru.





















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Makna Dan Fungsi Variasi Mengajar
Menurut Uzer Usman, variasi adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid sehingga dalam situasi belajar mengajar, murid senantiasa menunjukan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi.[1]
Variasi mengajar adalalah mengajar yang tidak monoton bisa dari gaya mengajar, metode, media, materi, dan juga interaksinya. Adapun fungsinya, antara lain:
1.      Sebagai penarik perhatian siswa
2.      Sebagai motivasi ekstrinsik siswa dalam belajar
B.     Tujuan Variasi Mengajar
Tujuan mengadakan variasi mengajar, antara lain:
1.      Meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevansi proses pembelajaran.
Seorang guru dituntut selalu memperhatikan variasi mengajarnya, karena dengan adanya perhatian tersebut diharapkan perhatian siswa tetap pada materi yang diajarkan oleh guru. Dengan demikian akan medukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
2.      Memberikan kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi.
Guru memberikan motivasi kepada siswanya agar mau memperhatikan materi yang disampaikan, walaupun motivasi itu sudah ada pada diri siswa, yaitu motivasi intrinsik. Namun, tidak semua siswa memiliki motivasi intrinsik sepenuhnya, maka motivasi ekstrinsik dari guru bisa memberikan dorongan kepada siswa.
3.      Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah
Sebagai seorang guru tidak hanya menyampaikan materi saja, melainkan ketika penyampaian tersebut diselingi dengan humor dan pendekatan yang edukatif. Selain itu guru mampu menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Maka siswa akan merasa diperhatikan dan akan mempunyai jalinan yang harmonis dengan gurunya.

4.      Memberikan kemungkinan pilihan dan fasilitas belajar individual
Sebagai seorang guru dituntut untuk mempunyai ketrampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar, untuk menunjang tugas mengajar maka harus menguasai berbagai metode. Selain itu fasilitas dari sekolah pun dapat mempengaruhi proses belajar mengajar.
5.      Mendorong anak didik untuk belajar
Guru berupaya dalam menciptaan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa senang dan semangat belajar. Upaya tersebut misalnya dalam mengembangkan variasi mengajar, penggunaan media dan bahan pengjaran, maupun interaksi guru dengan siswa.
C.     Prinsip-Prinsip Variasi Mengajar
Agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar, tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya ke arah itu adalah dengan cara memperhatikan prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar adalah sebagai berikut:
1.      Dalam penggunaan ketrampilan veriasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain itu juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk setiap jenis variasi. Smua itu untuk mencapai tujuan belajar.
2.      Menggunakan vriasi secara lancar dan berkesinambungan sehingga terbentuk proses belajar mengajar yang utuh dan tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidak terganggu.
3.      Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktur penggunaan yang luwes, spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. 
D.    Manfaat Variasi Mengajar
Adapun manfaat dari variasi mengajar menurut Uzer Usman adalah:
1.      Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar yang relevan
2.      Untuk memberikan kesempatan bagi perkembangan bakat ingin tahu dan ingin menyelidiki siswa tentang hal-hal baru.
3.      Untuk memupuk dan membentuktingkah laku yang positif terhadap guru dan lingkungan belajr yang baik
4.      Guna memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yng disenanginya
5.      Memelihara dan meningkatkan siswa yang berkaitan dengan aspek belajar
6.      Meningkatkan kemungkinan berfungsinya motivasi ingin tahu melaluin kegiatan investivigasi dan eksploitasi.
7.      Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah.
8.      Kemungkinan di layaninya siswa secara individual sehingga memberi keindahan belajar.
9.      Mendorong aktifitas blajr dengan cara melibatkan siswa dengan berbagai kegiatan atau berpengalaman belajar yang menarik dan berbagai tingkat kognitif.[2]                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
E.      Aspek-Aspek Variasi Mengajar
Ketrampilan mengadakan veriasi mengajar dalam proses belajar mengajar meliputi tiga aspek yakni sebagai berikut:
1.      Variasi gaya mengajar
Guru selalu membuat variasi gaya mengajarnya, karena yang terpenting dalam mengajar bukan terdoktrinasi oleh sesuatu falsafah pengajar yang kaku, melainkan adanya falsafah pengajaran yang fleksibel, dan yang terpenting memiliki kompetensi sesuai dengan tujuan penidikan nasional
a.       Pengertian
Variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam konteks belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. Dan ini bisa dibuktikan melalui ketekunan, antusiasme, keaktifan mereka dalam belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas.
b.      Macam-macam gaya mengajar
Dari karakteristik masing-masing guru, terdapat macam-macam gaya mengajar yaitu:
1.      Gaya mengajar klasik
Dalam bentuk pengajaran klasikal pengajar melakukan berbagai macam kegiatan. Jumlahnya cukup banyak misalkan pengajar berbicara, menjelaskan, menulis, memikirkan, mempertimbangkan, berjalan, mendengarkan, bartanya, membaca, membenahi diri dan lain sebagainya.
2.    Gaya mengajar teknologi
Gaya mengajar teknologigaya mangajar teknologis ini mensyaratkan guru untuk berpegang pada media yang tersedia. Guru mengjar dengan memperhatikan kesiapan siswa dan selalu memberi rangsangan pada anak didiknya untuk mampu menjawab persoalan.
3.    Gaya mengajar personalisasi
Guru mengajar bukan hanya untuk memandaikan siswa semata, akan tetapi juga memandaikan dirinya sendiri. Guru inisiator selalu memposisikan dirinya sebagi mitra belajar siswa dengan memberikan bantuan atas perkembangan dalam berbagai aspek.
4.    Gaya mengajar interaksional
Guru dalam pengajaran intraksionis senantiasa mengedepankan dialogis dengan siswanya sebagai bentuk interksi yang dinamis.guru dan siswa atau siswa dan siswa saling ketergantungan, artinya mereka sama-sama menjadi subjek pengajaran dan tidak ada yang dianggap sebagai yang lebih atau sebaliknya yang paling rendah.
c.       Pendekatan gaya mengajar
Dalam gaya mengajar, pendekatan mempunyai peran penting untuk mencapai tujuan. Dan gaya mengajar akan menjadi tepat guna jika pendekatan yang dipakai selaras dengan tujuan, materi pelajaran, dan minat serta kebutuhan siswa.
Pendekatan-pendekatan tersebut diantranya:
a.       Pendekatan filosofis
Gaya mengajar guru hendaknya didasarkan pada nilai-nilai kebenaran, yaitu memandang siswa sebagai makhluk rasional yang mampu berpikir dan perlu dikembangkan.
b.      Pendekatan induksi
Merupakan pendekatan gaya mengajar dalam bentuk analisa secara ilmiah, yakni berasal dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum atau kaidah yang bersifat umum.
c.       Pendekatan deduksi
Pendekatan gaya mengajar dalam bentuk analisa ilmiah yang bergrak dari hal-hal yang bersifat umum kepada hal-hal yang bersift khusus.
d.      Pendekatan sosio-kultural
Pendekatan gaya mengajar yang berpandangan bahwa siswa adalah makhluk yang bermasyarkat dan berkebudayaan sehingga dipandang sebagai homo socius dan homo sapiens dalam kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan.
e.       Pendekatan fungsional
Pendekatan gaya mengajar guru dengan penekanan pada pemanfaatan materi ajar bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari
f.       Pendekatan emosional
Pendekatan gaya mengajar untuk menyentuh perasaan yang mengharuskan dengan tujuan menggugah perasaan dan emosi siswa agar mampu mengetahui, memhami, dan menerapkan materi pelajaran yang diperolehnya.
d.      Komponen-komponen variasi gaya mengajar
a.       Variasi suara
Variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lemah dan tinggi menjadi rendah dari cepat menjadi lambat.
Variasi suara sangat mempengaruhi informasi, lagu bicara atau intonasi suarapun mempunyai pengaruh pada day tangkap siswa terhadap pembicaraan guru
b.      Pemusatan perhatian / penekanan (focusing)
Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan atau memberikan peringatan dengan bentuk kata-kata , misalnya “perhatikan baik-baik”
c.       Pemberian waktu (pausing)
Pemberian waktu atau pausingdiartikan sama dengan kesenyapan atau kebisuan guru (teaching silence). Pemberan waktu dimaksudkan untuk mengorganisasikan jawabannya aaaaaagar menjadi lengkap.
d.      Kontak pandang
Guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan pandangannya keseluuh kelas atau siswa, sebab menatap atau memandang mata setiap anak didik atau siswa dapat membentuk hungungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian.
e.       Gerakan anggota badan (gesturing) atau mimic
Variasi dalam ekspresi wajah, gerakan kepala, gerakan tangan, dan anggota badan lainnya merupakan aspek yang sangat petng dalam berkomunikasi, gunanya untuk menyampaikan arti dari pesan lisan yang dimaksudkan untuk memperjelas penyampaian materi.
2.      Variasi media, metode dan bahan ajar
a.    Variasi bahan ajar
Seorang guru dalam proses belajar mengajar tidak hanya mengajarkan materi-materi pokok saja melainkan diselingi (divariasikan) dengan materi penunjang, seperti cerita, verbal, anekdot dan sebagainya.
b.    Variasi media
Dengan variasi penggunaan media, kelemahan indra yang dimiliki anak didik dapat dikurangi. variasi tersebut dapat memberi stimulus terhadap indra anak didik.
c.    Variasi metode
Guru dalam proses belajar mengajar tidak terpaku oleh satu metode / bis memvariasikan penggunaan berbagai metode dengan tujuan agar anak tidak merasa jenuh / bosan sehingga proses pembelajaran bisa tetap berjalan lancar.
Adapun metode lain yang dapat dijadikan alternatif dalam
memvariasi metode antara lain:
1.      Question student have
Strategi belajar merupakan cara yang aman untuk mengetahui kebutuhan dan harapan-harapan anak didik. Strategi tersebut merupakan salah satu yang dapat mendatangkan pertisipasi anak didik melaui tulisan daripada secara lisan.[3]
2.      Planted question
Mempresentasikan informasi dalam bentuk respons terhadap pertanyaan yang telah di tanamkan/diberikan sebelumnya kepada siswa tertentu[4]



3.      Modeling the way
Strategi ini memberi kesempatan kepada anak didik untuk mempraktikkan ketrampilan spesifik yang dipelajri di kelas melalui demonstrasi.[5]
3.      Variasi interaksi guru dengan murid
a.       Pengertian
Roestiah (1994) mengemukakan bahwa “ interaksi yaitu proses dua arah yang mengandung tindakan atau perbuatan komunikator maupun komunikan.” Berarti interaksi dapat terjadi antar pihak jika pihak yang terlibat saling memberikan aksi dan reaksi.
Interksi yang bernilai edukatif, yakni interksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi inilah yang mmbedakan dengan interaksi yang lain.
b.      Ciri-ciri interaksi
1.      Interaksi belajar memiliki tujuan
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana
3.      Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
4.      Ditandai dengan adanya aktivitas siswa
5.      Dalam interaksi belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
6.      Di dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin
7.      Ada batas waktu.
c.       Bantuk dan pola interaksi guru dengan murid
1.      Guru yang aktif sedangkan siswa yang pasif
2.      Guru merupakan sumber belajar
3.      Terjadi interaksi antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa
4.      Siswa memperoleh pengalaman dari teman-temannya dan di konsultasikan dengan guru.
F.        Variasi Mengajar Pada Model-Model Belajar
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar seorang guru hendaknya memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar siswanya untuk memotivasi dan menyemangati. Adapun model-model tersebut adalah:
1.      Visual
Ciri-ciri pelajar visual:
a.       Teratur, memperhatikan segala sesuatu
b.      Mengingat dengan gambar, grafik dan warna untuk mengingatan memorinya
Tampilan visual suatu desain pembelajaran diantaranya dapat berupa:
Ø  Uraian atau narairf
Ø  Skema
Ø  Melingkar
Ø  Prosedural
Ø  Kombinasi dari model-model diatas.[6]
2.      Auditorial
a.       Perhatiannya mudah terpecah
b.      Berbicara dengan pola berirama
c.       Belajar dengan cara mendengar
d.      Berdialog secara internal dan eksternal
3.      Kinestetik
a.       Tipe belajar akomodator
Anak didik belajar dengan baik dengan menggunakan pengalaman konkret dan eksperimentasi aktif
b.      Tipe belajar asimilator
Anak didik mengandalkan konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif
c.       Tipe belajar konverger
Anak didik mengandalkan konseptualisasi abstrak dan eksperimental aktif
d.      Tipe belajar diverger
Anak didik menggunakan pengalaman konkret dan pengalamn reflektif untuk memunculkan gagasaan-gagasan






BAB III
PENUTUP

Dalam dunia pendidikan dengan sengaja guru berupaya mengarahkan tenaga dan pikirannya untuk mengeluarkan peserta didik dari terali kebodohan. Bingkai keluhuran akal budi untuk mewariskan nilai-nilai ilahiyah dan menstransformasikan multinorma keselamatan duniawi dan ukhrawi kepada peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia,cerdas, kreatif, dan mandiri, bukan hanya dari perbuatanya saja yang mampu disalurkan dengan baik. Namun dalam proses belajar mengajar ketika penyampaian materi pun di harapkan seorang guru mampu untuk melakukannya.
Dengan variasi mengajar maka guru dapat menyalurkan materi pelajaran dengan lebih kreatif lagi. Dan denga variasi mengajar ini dapat merangsang peserta didik unruk lebih aktif dan semangat lagi dalam menerima pelajaran.






















DAFTAR PUSTAKA

Mustakim zaenal, 2011, Strategi Belajar Mengajar, Pekalongan:STAIN Pekalongan Pers
Prawiradilaga Dewi Salma, 2007, Prinsip Desain Pembelajaran, Jakarta:Prenada Media Group
Zaini Hisyam dkk, 2002, Desain Pembelajaran Di Perguruan Tinggi, Yogyakarta:Center of Teaching Staff Development


[1] Zaenal Mustakim, Strategi Belajar Mengajar, (Pekalongan: STAIN pekalonagn Pers,2011)h.220
[2] Ibid.,h.226
[3] Hisyam Zaeni dkk, Desai Pembelajaran Di Perguruan Tinggi, (Yogyakarta:Center for Teaching Staf Development;2012),h.139


[6] Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip-Prinsip Pembelajaran, (Jakarta:Prenada Media Group:2007),h.34

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar