Laman

Minggu, 15 Maret 2015

H - 5 - b: EKA HESTI SAFITRI



INTUISI HATI
 Mata kuliah : Hadits Tarbawi II



Disusun oleh :
 Eka Hesti Safitri         (2021113075)

Kelas : H

TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015




KATA PENGANTAR

            Dengan mengucapkan Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin. Pemakalah panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan karunia-Nya kepada pemakalah sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul “INTUISI HATI”.
            Makalah ini untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Hadis Tarbawi II, kelas H PAI jurusan tarbiyah STAIN Pekalongan.
            Pemakalah menyadari bahwa makalah ini kurang dari sebuah kesempurnaan, untuk itu pemakalah mengharapkan kriritk dan saran. Akhir kata penulis hanya berharap semoga bermanfaat bagi semuanya.
Aminnn……















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang sempurna. Kesempurnaanya dapat mengantarkan manusia pada posisi terhormat bahkan melebihi malaikat. Kesempurnaa hanya terwujud jika manusia mampu tanduk pada kebenaran yang terletak pada kalbu manusia.
Hati adalah pokok dari segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia. Hati merupakan salah satu fungsi rohani yang dapat menentukan sifat baik dan buruk manusia. Karena pengaruh hati, seseorang dapat menjadi hamba yang sangat taat kepada Tuhan-nya. Tetapi sebaliknya, hamba dapat menjadi hina bagaikan binatang buas. Maka dari itu, saya akan membahas tentang intuisi hati.

B.     Rumusan Masalah
Demi fokusnya kajian makalah ini dan supaya mudah dimengerti audiens, adapaun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengertian intuisi hati?
2.      Bagaimana teori pendukung tentang intuisi hati?
3.      Bagaimana materi hadis tentang intuisi hati?
4.      Bagaimana refleksi hadis dalam kehidupan tentang intuisi hati?
5.      Apa aspek tarbawi tentang intuisi hati?









BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Intuisi adalah kekuatan yang dengan menyadari bahwa “sesuatu” itu adalah kususnya. Intuisi adalah kemampuan psikis yang dikenal sebagai firasat, atau kemampuan untuk merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal tersebut dilakukan tanpa intervensi dari berbagai proses yang masuk akal.
Secara fisik, hati adalah segumpal daging yang berbentuk bundar, memanjang, terletak pada kiri dada. Didalamnya terdapat lubang-lubang yang terisi darah hitam. Ia merupakan sumber dari tambang dan nyawa. Sedangkan secara psikis,  hati adalah sesuatu yang halus, yang berasal dari ketuhanan. Dialah yang merasa, mengetahui, dan mengenal segala hal, serta diberi beban, disiksa, dicaci, dan sebagainya. Hati sangat berperan dalam kehidupan manusia setiap saat, baik secara fisik, maupun psikis. Hati memiliki fungsi utama yang menggerakkan, dan mengarahkan kehidupan seseorang. Secara fisik, hati berfungsi sebagai penyimpanan energi; pembentukan protein asam empedu; pengaturan metabolism kolesterol; dan penetralan racun dalam tubuh. Sementara dilihat dari psikisnya, hati berfungsi layaknya panca indera, yaitu perasa, pelihat, pendengar dan peraba.[1]
Intuisi hati adalah fungsi dasar hati untuk selalu untuk selalu berkata jujur dan membimbing seluruh anggota tubuh untuk bertindak kebenaran.

B.     Teori Pendukung
Hati memiliki kemampuan membedakan antara hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, bahkan sesuatu yang berada di antara keduanya, yaitu yang syubhat (samar). Namun, hati harus ditata karena mengandung dua kecenderungan yang baik dan buruk. Jika hati cenderung baik, maka seseorang akan baik, dan begitu pula sebaliknya. Untuk membuat hati cenderung pada kebaikan, maka seseorang harus benar-benar mampu mengarahkannya.[2] Allah SWT berfirman:
ولقدْ خَلَقْنَا الانْسَانَ وَنَعْلَمُ ما تُوَسوسُ بِه نَفسُه ونحْنُ أقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حبْلِ الْوَرِيْدِ
Artinya: sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikan hatinya, Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya”. (QS. Qaaf: 16)
Hati merupakan salah satu fungsi rohani yang dapat menentukan sifat baik dan buruk seseorang, sebagaimana salah satu hadits yang mengatakan:
“Ketahuilah, bahwa dalam jasad ada segumpal daging yang baik, maka baiklah seluruh jasad itu. Dan  apabila buruk, maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah (bahwa yang dimaksud) adalah hati”. (H.R. Bukhari dan Ahmad).

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, seharusnya hati membutuhkan santapan, minuman dan kebersihan agar dapat melihat keajaiban Allah dan mendapatkan hikmah (kondisi jiwa yang bijaksana). Santapan hati adalah dzikir, minumannya adalah tafakkur, sedangkan kesuciannya adalah ketenangan atau keteduhan hati.[3]

C.     Materi Hadis

 حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنْ عَامِرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: " الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْب
(رواه البخاري في الصحيح, كتاب الإيمان , باب فضل من استحب الدين)
Artinya:
“Nu’man bin Basyir bercerita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Perkara yang halal telah jelas dan yang diragukan yang tidak diketahui hukumnya oleh  kebanyakan orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti dia memelihara agama dan kesopanannya. Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan, sama saja dengan penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah, semua raja mempunyai larangan dan ketahuilah pula larangan Allah swt adalah segala yang di haharamkan-Nya. Ketahuilah dalam tubuh itu semuanya. Apabila daging itu rusak, maka binasalah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah, daging tersebut ialah hati.”
(HR. Al-Bukhori)


ثُمَّ ذَكَرَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ هَارُونَ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنّ النَّبِيَّ قَالَ: مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمُ وَرَّثَهُ اللَّهُ مَا لَمْ يَعْلَمْ  
(رواه أبو نعيم الأصفهان فى حلية الأصفياء)

            Arinya:
“Dari Anas bin Malik sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui,maka Allah akan memberikan ilmu sesuatu yang ia belum ketahui”. (HR. Abu Na’im al-Ashfihan dalam kitab Khilyatul Ashfiya’: 10/15)

D.    Refleksi Hadis dalam Kehidupan
Dalam bekerja, kita tentu berharap mendapatkan rezeki kita berikan dan nafkahkan kepada keluarga. Nafkah tersebut akan menjadi darah, mengalir ke anggota seluruh tubuh, serta menggerakkan seluruh pikiran dan sikap dalam keseharian. Jika nafkah dari hasil kerja yang tidak baik-syubhat, makruh ataupun haram-tentu yang mengalir tubuh keluarga menjadi haram.
Makanan yang kita usap akan menumbuhkan dan sel-sel tubuh yang telah rusak. Sari makanan akan terjadi unsure-unsur darah, otak, daging, tulang-belulang, dan organ tubuh lainnya. Darah dari sari makanan yang haram akan mengalir ke seluruh tubuh.
Nafkah yang haram tidak hanya mempengaruhi lewat makanan dan minuman, tetepi juga menjadikan semua hal menjadi haram. Maka, seluruh organ tubuh akan dialiri dengan darah. Hatinya dialiri dengan darah haram, jantungnya menyemburkan darah haram, dan seluruh organ tubuh menjadi tubuh haram.
Sebaiknya, dengan nafkah yang halal, makanan yang kita belipun menjadi halal. Dengan nafkah halal, berharap menjadi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.[4]

E.     Aspek Tarbawi
Aspek tarbawi yang dapat kita ambil dari hadits diatas adalah:
1.      Setiap pendidik yang memiliki ilmu wajib mengamalkan dan mengajarkan kepada orang lain dengan ikhlas.
2.      Dalam pendidik tidak diperkenankan menyembunyikan ilmu dan tidak diperkenankan untuk riya (pamer)
3.      Banyak bersyukur atas nikmat atas nikmat yang Allah SWT berikan, sekecil apapun itu.
4.      Mewujudkan sikap takwa dalam mendidik dengan selalu menghadirkan Allah SWT dalam setiap langkah yang dilakukan.
5.      Menggunakan hati yang ikhlas.






















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Intuisi adalah kemampuan psikis yang dikenal sebagai firasat, atau kemampuan untuk merasakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Hal tersebut dilakukan tanpa intervensi dari berbagai proses yang masuk akal. Secara fisik, hati adalah segumpal daging yang berbentuk bundar, memanjang, terletak pada kiri dada. Intuisi hati adalah fungsi dasar hati untuk selalu untuk selalu berkata jujur dan membimbing seluruh anggota tubuh untuk bertindak kebenaran.
Hati memiliki kemampuan membedakan antara hak dan yang batil, yang halal dan yang haram, bahkan sesuatu yang berada di antara keduanya, yaitu yang syubhat (samar). Namun, hati harus ditata karena mengandung dua kecenderungan yang baik dan buruk.
Dalam bekerja, kita tentu berharap mendapatkan rezeki kita berikan dan nafkahkan kepada keluarga. Nafkah tersebut akan menjadi darah, mengalir ke anggota seluruh tubuh, serta menggerakkan seluruh pikiran dan sikap dalam keseharian. Jika nafkah dari hasil kerja yang tidak baik-syubhat, makruh ataupun haram-tentu yang mengalir tubuh keluarga menjadi haram.













DAFTAR PUSTAKA

Mahjuddin. 2010.  Akhlak Tasawuf II. Jakarta: Kalam Mulia

Saleh, Akh. Muwafik. 2009. Bekerja dengan Hati Nurani. Jakarta: ERLANGGA

Syukur, Amin. 2013. Menata Hati Agar Disayang Ilaahi. Jakarta: ERLANGGA

Syukur, M.AMin dan Usman, Fathimah. 2009. Terapi Hati. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra
















TENTANG PENULIS



Eka Hesti Safitri adalah anak dari pasangan suami istri yang sangat harmonis dan sederhana. Lahir di Kabupaten Pekalongan, letaknya ds. Bligorejo, kec. Doro. Riwayat pendidikan: SDN 01 Bligorejo, MTs Syarif Hidayah Doro, MAN 2 Pekalongan. Sekarang ia mahasiswa STAIN pekalongan jurusan Tarbiyah, prodi PAI di semester empat.


[1] M. Amin Syukur dan Fathimah Usman, Terapi Hati, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm. 1
[2] Amin Syukur, Menata Hati Agar Disayang Ilahi, (Jakarta: ERLANGGA, 2013), hlm. 3
[3] Mahjuddin, Akhlak Tasawif II, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010), hlm. 83-85
[4] Akh. Muwafik Saleh, Bekerja dengan Hati Nurani, (Jakarta: ERLANGGA, 2009), hlm. 42-45

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar