Laman

Minggu, 15 Maret 2015

H - 5 - a: WILDA KARIMAH



AKAL ILMU DAN AMAL
Mata Kuliah : Hadis Tarbawi II
  



Oleh:
 Wilda Karimah                2021113046
 Kelas: H
 

JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015



Kata Pengantar
       Alhamdulillah, Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah Hadis Tarbawi  II yang bejudul “Akal, Ilmu dan Amal”, dengan lancar dan baik.
Dalam pembuatan makalah ini, semua materi tidak hanya diperoleh dari kerja keras penulis, melainkan ada beberapa pihak yang membantu memberikan bimbingan, semangat, dan saran. Berkenaan dengan hal tersebut penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1.        Bapak Muhammad Gufron Damyati, M.S.I selaku Dosen pengampu dan pembimbing Mata Kuliah Hadis Tarbawi II.
2.         Kedua Orang Tua, yang telah mendidik, dan menberi Do’a.
3.         Teman-teman atas motivasinya.
4.         Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
            Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan krirt dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Penulis mengucapakn terimakasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


                                                                        Pekalonagn,     Maret 2015

                                                                                    Penulis

A.    PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT, karena mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan allah yang lainnya yaitu manusia di anugerahi Akal, sehingga manusia mampu memilih, memperhatikan mana yang benar dan mana yang salah dengan fikirannya.
Agama Islam sangat menjunjung tinggi Akal, dengan akal seseorang bisa mampu mendapatkan Ilmu. Dengan Ilmu hidup seseorang akan bahagia didunia dan diakhirat. Dan apabila seseorang yang mempunyai Akal itu digunakan untuk mencari Ilmu, kemudian Ilmunya diamalkan kepada orang lain, maka Ilmu akan bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain.
Namun terkadang tanpa disadari manusia tidak memikirkan apa yang dilakukan, mereka sibuk dengan urusan dunia yang sebentar lagi akan meninggalkannya, padahal seharusnya dunia ini dijadikan tempat untuk bekerja keras dalam meraih kehidupan yang bahagia di akhirat,untuk itu makalah ini membahas tentang  Akal, Ilmu dan Amal.







B.     PEMBAHASAN
1. Pengertian
Akal secara sistematik adalah ah-hijr atau an-nha artinya kecerdasan. Sedamgkan kata Aqala artinya mengingat atau menawan. Akal pada hkikatnya merupakan potensi ranah yang dapat membedakan mana yang hak mana yang batal, mana yang benar da mana yang salah.
Akal dalam pandangan Islam bukanlah otak, tetapi merupakan daya berfikir yang terdapat dala jiwa manusia, daya yang didlam Al-Qur’an digambarkan memperoleh pengetahuan dengan memperlihatkan alam sekitarnya. Sesngguhnya akal mempuyai bemacam-macam arti yang pertama, akal adalah sifat yang membedakan antara manusia dengan binatng. Dengan akal manusia bersedia menerima berbagai macam ilmi yang memerlukan pemikiran. Yangkeduahakikat akal adalah ilmu pengetahuan yang timbu dari alam wujud.
Menggunakan akal artinya menggunakan kemampuan, pemahaman, baik dalam kaitannya dengan realitas yang konkret maupun realitas piritual atau kegaiban. Realitas konkrit dipahami oleh pemikiran dan realitas spiritual dipahami oleh qalb. Keduanya merupakan kesatuan organik akal sebagai instrumen dan daa ruhani untu memahami kebenaran.[1]
Ilmu menurut etimologi berasal dari kata bahasa Arab  عَلِمَartinya mengetahuai. Sedangkan menurut istilah:
العِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا الْمطْلُوْبِ اِنْكِشَا فًا تَامَا
Ilmu adalah suatu sifat yang dengan sifat sesuatu yang dituntut bisa terungkap dengan sempurna.
 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ilmu merupakan sarana untuk mengungkap, mengatasi, menyeesaikan dan menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam hidup  dan kehidupan manusia.[2]
Sedangkan amal adalah suatu kondisi pengharapan yang terdapat didalam jiwa seseorang.[3] Jadi dengan akal manusia mampu berpikir untuk mendapatkan ilmu dan mengamalkan ilmu dengan sebaik-baiknya.
2. Teori Pendukung
Manusia di anugerahi akal oleh Allah untuk memikirkan segala yang telah diciptakan oleh Allah dan Allah SWT. Dengan berpikir maka mendorong manusia untuk menggunakan dan mengembangkan akal pikirannya untuk menuntut ilmu. Firman Allah surat Az-Zumar ayat 9:

ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  
Artinya: “katakanlah: adakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) berilmu dengan orang-orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya (hanya) orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.[4]
Ilmu pengetahuan sangat di butuhkan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, untuk itu ilmu harus di amalkan kepada orang lain.
Keutamaan ilmu adalah tidak ada agama selain islam dan tidak ada kitab suci selain Al-Qur’an yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan. Mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya.[5] Ilmu dapat membedakan nilai manusia di hadapan Allah. Keutamaan orang berilmu pengetahuan lebih utama dari pada ahli ibadah, keutamaannya di umpamakan oleh Rasulullah baigakan bulan di antara semua bintang, keutaman bulan disini dalam hal fungsi menerangi. Bulan itu bercaya dan membuat dirinya terang dan dapat pula menerangi yang lain. Sementara itu, bintang yang cahayanya redup hanya untuk dirinya sendiri, sifat seperti itu terdapat pula pada orang yang berilmu pegetahuan dan ahli ibadah. Orang yang beriman dapat menerangi dirinya sendiri dengan petunjuk dan dapat pula menerangi orang-orang lain dengan pengajarannya. Dengan kata lain orang alim memberikan manfaat untuk dirinya dan bermanfaat pula bagi orang lain.
Orang berilmu dikatakan sebagai pewaris nabi, ini merupakan penghormatan yang sangat tiggi warisan nabi itu bukan harta dan fasilitas duniawi melainkan ilmu untuk mendapatkan warisan nabi tidak dibatasi pada orang-orang tertentu.Bahkan beliau menganjurkan agar umatnya mewarisi ilmu sebanyak-banyaknya.[6]
Fungsi ilmu adalah sebagai cahaya yang menerangi setiap orang. Dengan Ilmu, jalan hidup ini akan menjadi terang, sebaliknya tanapa Ilmu orang akan mersa hidup ini dalam keadaan gelap gulita. Oleh karena itu, orang dapat saja tersesat apabila tidak memiliki pengetahuan yang memadai.[7]

3. Materi Hadis
عَنْ عَائِشة قَالَتْ:﴿ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَيِّ شَئٍ يَتَفَاضَلُ النَّاسُ فِى الدُّنْيَا ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ, قَلَتْ فَفِى اْلأَخِرَةِ ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّمَا يُجْزَوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ ؟ قَالَ وَهَلْ عَمِلُوْا اِلاَّ بِقَدْرِمَا أَعْطَاهُمْ اللهُ مِنَ الْعَقْلِ فَبِقَدْرِمَا أُعْطُوْا مِنَ الْعَقْلِ كَانَتْ أَعْمَالُهُمْ وَبِقَدْرِمَا عَمِلُوْا يُجْزَوِنَ﴾   ( رَاوَهُ الحَارِث فِى الْمُسْنَدِ :823 )

            Terjemahan Hadis
Dari ‘Aisyah ra ia berkata: saya bertanya kepada Rasulullah, dengan apakah manusia bisa utama di dunia. Rasulullah berkata: dengan akal. Aisyah bertanya lagi: kalau diakhirat? Rasulullah menjawab : dengan akal. Maka Aisyah bertanya lagi; (bukanlah) manusia sesungguhnya manusia itu dibalas hanya karena amal-amal. Rasulullah menjawab; dan tidaklah manusia-manusia  beramal kecuali dengan sekedar yang Allah Swt  berikan yaitu akal. Maka dengan sekedar apa yang telah diberikan mereaka (akal) itulah amal-amal mereka. Dan atas sejedar apa yang yang mereka kerjakan, mereka akan mendapatkan balasan.(HR. AL-Harits).
4. Refleksi Hadis dalam Kehidupan
Manusia adalah mahluk yang sempurna karena di anugerahi akal. Dengan akal manusia mampu berfikir dan menganalis mana yang benar dan mana yang salah, dengan manusia menggunakan akal maka manusia mampu memfikirkan sang penciptanya dan memikirkan apa yang ada di alam semesta ini. Namun terkadang enggan memikirkan semua itu, mereka telah terlena dengan kemegahan duniawi yang tanpa sadari akan kita tinggalkan.
Setelah memfikirkan Allah dan alam semesta ini akan mendorong untuk menggunakan akal ini untuk mencari Ilmu. Karena sepanjang hidup pasti akan memerlukan ilmu, dengan ilmu akan mendapatkan cahaya karena fungsi Ilmu itu sendiri adalah sebagai penerang, sehingga  sebagai cahaya yang menerangi setiap orang. Dengan Ilmu, jalan hidup ini akan menjadi terang, sebaliknya tanap Ilmu orang akan mersa hidup ini dalam keadaan gelap gulita. Dan orang yang berilmu dalam masyarakat akan dipandang mulia.
Sehingga setelah mendapatkan ilmu memerlukan amal untuk bisa menagajarkan  ilmu kepada orang banyak, dengan mengamalkan ilmu maka ilmunya akan bermanfaat baik untutk dirinya maupun oarng lain. Seseorang yang mngajarkan ilmu kepda orang lain, kemudian diamalkan atau diajarkan lagi maka kepada orang lain, maka ia mendapat pahala seperti oarng yang mengamalkannya atau yang mengajrkannya sekalipun telah meninggal dunia[8]. Dan sesorang yang menggunakan akal untuk menutut ilmu dan mengamalkanyana maka ilmu tersebut akan ditamabah. Ilmu tanpa diamalkan maka ilmunya akan sia-sia. Antara akal, ilmu dan amal sangat terikat,karena akal akan menyempurnakan ilmu dan amal seseorang.




5. Aspek tarbawi
1.    Manusia adalah makluk yang sempurna karena dianugerahi akal,  untuk itu gunakanlah untuk memfikirkan tentang Allah swt dan penciptaan alam smesta ini.
2.    Hendaklah kita bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah berikan kepada kita berupa akal.
3.    Menuntut Ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
4.    Dengan menggunakan akal yang baik, maka akan menghasilkan ilmu dan bisa mengamalkan kepada orang lain sehingga ilmunya bermanfaat.













C.    PENUTUP
Akal adalah salah satu anugerah yang  diberikan oleh Allah SWT, yang dapat membedakan dengan makhluk ciptaan Allah swt yang lainnya. Dengan akal manusia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tinggi. Dengan adanya akal mendorong manusia untuk mencari imu karena ilmu sangat penting untuk kehidupan di dunia maupun diakhirat. Dengan ilmu manusia akan dimulikan dan di angkat derajatnya. Setelah mngetahuia betapa pentingnnya ilmu maka seharusnya ilmu harus di ajarkan maupun diamalkan kepada orang, sehingga ilmu akan bermanfaat untuk diri dendiri maupun oarng lain. Ilmu tanpa diamalkan maka ilmunya akan sia-sia. Antara akal, ilmu dan amal sangat terikat,karena akal akan menyempurnakan ilmu dan amal seseorang.















DAFTAR PUSTAKA

As’arie, Musa. 2002. Filsafat IslamSunah Nabi dalam Berfikir. Yogyakarta: Amzah.
Azra, Azyumardi.2000,Pendidikan Tradisi dan ModernisasiMenuju Menelium Baru. Karta: Logos Wacana Ilmu.
Glasel, Cryil.1999.Ensiklopedi Islam.Yogyakarta: PT.RajaGrafindo
Juwariyah. 2010. Hadis Tarbawi.Yogyakarta:Teras.
Khon, Abdul Majid. 2012.hadis Tarbawi:Hadis-hadis Pendidikan. Jakarta:  Kencana Prenada Media Group.
Qardawi, Yusuf. 2006.Al-Quran Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan.Jakarta: Gema Insani Pres.
Umar,Bukhari.2014.Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Presfektif Baru).Jakarta: Hamzah.













Tentang Penulis
Sejak saya lahir orang tua saya memberi sebuah nama yang sangat indah yaitu Wilda Karimah. Biasa dipanggil wilda. Tempat lahir saya Pekalongan. Alamat saya adalah Desa Tegalrejo, Kelurahan Pringrejo yang dulunya adalah kelurahan Tegalrejo. Pendidikan saya dari kecil hingga sekarang yaitu TPQ raudhotul Jinan , Tk Mashitoh 06 Tegalrejo kemudian saya melanjutkan sekolah diMI Tegalrejo, setelah itu saya belajar lagi di Mts Hidayatul Athfal (HIFAL) diBanyurip, kemudian saya melanjutkan di MAN 2 Pekalongan. Dan sekarang saya kuliah di STAIN Pekalongan. Dengan semangat menuntut ilmu saya juga menjadi pendidik disalah satu sekolah PAUD di Tirto dan mengikuti organisasi IPNU-IPPNU di desa tegalrejo.








[1] Musa As’arie, Filsafat Islam Sunah Nabi dalam Berfikir, (Yogyakarta: LESFI,2002), hlm 25-27
[2] Juwariyah, Hadis Tarbawi, (Yogyakarta:Teras,2010), hlm 139
[3] Cryil Glasse, Ensiklopedi Islam, (Yogyakarta: PT.RajaGrafindo, 1999), hlm 28

[4] Azyumardi Azra,Pendidikan tradisi dan Modernisasi Menuju Menelium Baru,(Jakarta: Logos Wacana Ilmu,2000), hlm 13
[5] Yusuf Qardawi,Al-Qura’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta:Gema Insani Press,2006),hlm 90-91
[6] Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif hadis),(Jakarta:amzah,2014), hlm 17-18

[7]Ibid, hlm21-22
[8] Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi: Hadis-hadis pendidikan,(Jakarta:Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm 128

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar