Laman

Minggu, 15 Maret 2015

L - 5 - b: RIZQI MAZIDAH HILMI



INTUISI HATI
Mata kuliah : Hadits Tarbawi II
                                                                                 
  Disusun Oleh :
RIZQY MAZIDAH HILMY
(2021213019)
 REGULER SORE “L”

JURUSAN TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2015



KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT., atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa saya penulis panjatkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para umatnya yang insya ALLAH setia sampai akhir jaman. Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Hadits Tarbawi, yang berjudul “Intuisi Hati”.

Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, saya telah berusaha untuk dapat memberikan serta mencapai hasil yang semaksimal mungkin dan sesuai dengan harapan. Walaupun di dalam pembuatannya saya menghadapi berbagai kesulitan karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki.

Oleh sebab itu pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya khususnya kepada Bapak Ghufron Dimyati, M.S.I., selaku dosen pembimbing Hadits Tarbawi. Saya menyadari bahwa dalam penulisan dan pembuatan penulisan ini, masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat saya butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi kami dan teman-teman maupun pihak lain yang berkepentingan.



Pekalongan, 17 Maret 2015

 
                                                                                                Penulis




A. PENDAHULUAN
Suatu ilmu pengetahuan memiliki sumber-sumber yang bisa diteliti, ditelaah, ataupun dicari oleh setiap orang. Hal ini dilakukan untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan guna menjadi manusia yang seutuhnya. Sumber-sumber ilmu pengetahuan tersebut banyak macamnya. Dari mulai persepsi indera (sense), melalui proses akal sehat, dari informasi yang benar (Al-Qur’an dan As-Sunnah), sampai pada intuisi hati.
Intuisi hati adalah fungsi dasar hati untuk selalu berkata jujur dan pembimbing seluruh anggota tubuh untuk bertindak dalam kebenaran. Karena hati merupakan pembimbing, maka tak heran jika hati merupakan unsur terpenting yang dimiliki oleh manusia baik dalam aspek jasmaniyah maupun dalam aspek rohaniah, yang bertindak sebagai pembeda antara hal yang baik dan hal yang buruk. Sesuai fitrahnya tersebut, seluruh manusia memiliki hati dengan fungsi yang sama, hanya saja diperlukan iman dan ketaqwaan untuk mematuhinya. Sebagian besar manusia  sering mengingkari kata hati atau intuisi hati tersebut karena berbagai alasan keduniawian yang pada akhirnya justru menjerumuskan manusia tersebut ke dalam kemungkaran dan dosa.  Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita harus lebih bisa berhati-hati dalam ekspresi pengungkapan isi hati yang seyogyanya bisa dilakukan secara bijaksana sesuai dengan kadar kemampuan diri.
Dari sini kami mencoba mengungkapkan beberapa hadis yang berkaitan dengan intuisi hati, yang banyak mengandung nilai-nilai tarbawi dan sangat bermanfaat untuk kita pelajari.












B. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Intuisi adalah pengetahuan yang bergerak antara rasional dan literal.
Intuisi adalah kemampuan untuk mengetahui dan merasakan peristiwa yang akan terjadi.
Intuisi diartikan sebagai suatu proses datangnya pengetahuan secara langsung atau tiba-tiba tanpa disertai penjelasan sebelumnya.
Arti intuisi meliputi banyak hal dan sering di kaitkan seperti insting, indera ke-enam, sesuatu yang mistis, bahkan ajaib.[1]
Bekerja dengan hati nurani adalah bekerja dengan berlandaskan pada pusat kesadaran manusia, yaitu kalbu (hati). Hati nurani adalah hati yang telah diwarnai atau dipenuhi cahaya kebenaran. Sedangkan, kalbu (hati) merupakan dasar kefitrahan diri. Pada dasarnya, kalbu (hati) cenderung pada panggilan kesucian, kebenaran, dan ketaatan kepada ALLAH SWT.
Dalam bekerja, hendaknya mendengarkan suara hati nurani sebagai pengambil kebijaksanaan. Hati nurani atau kalbu (hati) digunakan sebagai alat pertimbangan yang utama dalam menentukan sikap dan perilaku di dunia kerja. Kalbu (hati), pada hakikatnya, cenderung merujuk pada kebaikan. Karena itu, dengan hati nurani, nilai-nilai kebaikan akan ditampilkan sebagai sikap kerja sehingga muncullah perilaku-perilaku positif dalam pekerjaan. Misalnya, bersih dalam kerja, penuh semangat, dan berharap keikhlasan dalam beribadah.
Manusia adalah makhluk ciptaan ALLAH SWT yang sempurna. Kesempurnaannya dapat mengantarkan manusia pada posisi terhormat, bahkan melebihi malaikat. Kesempurnaan hanya terwujud jika manusia mampu tunduk pada kebenaran yang terletak pada kalbu (hati) manusia. Namun, manusia juga berpotensi untuk terperosok ke dalam

lembah kenistaan sehingga menjadikannya lebih hina dari pada setan dan lebih buruk dari pada binatang. Inilah pekerjaan utama nafsu.
Kemampuan seseorang untuk menerima serta tunduk pada kebenaran dan menolak kemungkaran terletak pada kesadaran yang bersumber dari kecerdasan kalbu (hati). Kalbu (hati) adalah pusat kesadaran inti dalam diri setiap manusia. Kalbu (hati) sebagai pemilah dan pemilih terhadap nilai-nilai kebenaran dan ketidakbenaran. Kalbu (hati) adalah hakim bagi diri manusia. Kalbu (hati) adalah fitrah dalam diri setiap manusia yang beriman.[2]
2. Teori Pendukung
a. Menyingkap Rahasia Hati
Banyak hadits yang membicarakan tentang hati. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa ada segumpal darah dalam tubuh kita, di mana segumpal darah itu sangat menentukan (kesehatan fisik maupun psikis seseorang) segumpal darah itu adalah hati. Itu artinya, hati memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan fisik dan psikis kita. Hati diibaratkan selembar bulu di padang pasir yang bergantung di atas pohon, yang kemudian dihembus angin, terbolak-balik dari atas ke bawah. Artinya ada ketidakstabilan dalam posisi hati. Hal ini kembali kepada orangnya, bagaimana caranya menjaga agar hati ini “stay tune” kepada ALLAH SWT dan mengarah pada kebaikan.
Peranan hati, sebagaimana sabda Rasullah SAW, “Hati bagaikan raja, dan hati memiliki bala tentara. Apabila raja itu baik, maka baiklah seluruh bala tentaranya, demikian sebaliknya”. (kanz al-Ummal, hadis ke 1205). Dalam hadis lain disebutkan, “Sesungguhnya ALLAH SWT punya wadah di bumi dan wadah itu adalah hati. Maka sesungguhnya hati yang dicintai ALLAH SWT adalah hati yang lembut, yang bersih  dan yang kokoh. Kemudian, hati yang paling lembut adalah hati yang lembut kepada sesama saudaranya, dan yang bersih adalah hati yang bersih dari dosa-dosa, sedangkan yang kokoh adalah hati yang teguh membela agama ALLAH SWT, sedangkan ia tidak takut celaan dari orang yang mencelanya”.[3]
Hati dapat dibagi dalam tiga macam. Pertama, hati yang terbalik, yaitu hati yang tidak bisa menampung kebaikan meski sedikit sekalipun. Hati yang seperti ini adalah hatinya orang yang kafir amali (orang yang tidak mau bersyukur dan tidak mengindahkan peringatan). Kedua, hati yang di dalamnya terdapat lubang hitam, yang didalamnya bertarung antara kebaikan dan keburukan. Jika salah satu menang, maka akan menentukan pribadi seseorang. Ketiga, hati yang terbuka yang didalamnya ada lampu yang bersinar-sinar sampai hari kiamat. Itulah hati seorang Mukmin. (Jalaluddin Rakhmat, 1994).
Sementara hati yang memiliki kekuatan adalah hati yang bersih dari kotoran dan dosa-dosa dan kokoh. Hati yang bersih dari kotoran adalah hati hati yang jauh dari penyakit hati antara lain iri, dengki, sombong dan lain sebagainya. Sedangkan hati yang yang bersih dari dosa adalah hati yang tidak terdapat noda-noda hitam akibat kemunafikan, kefasikan, kejahatan, dan kemusyrikan. Hati yang kokoh adalah hati yang senantiasa berada dalam posisi berhubungan dengan ALLAH SWT.
Kemampuan manusia dalam mendeteksi dan mengikuti kehendak hatinya yang baik, akan membuka potensi kearah yang positif. Terbukanya potensi positif dalam diri seseorang, akan menjadikannya manusia sejati yang memiliki kesempurnaan lahir dan batin (al-Insan al- Kamil). Sebaliknya, ketidakmampuan memilih mana yang merupakan bisikan hati dan mana yang bisikan setan dalam jiwa ruhaniah-nya, maka akan cenderung mengarahkannya pada kelaziman, kefasikan, kemunafikan, dan kehancuran (al-Insan an-Naqish).
Hati memiliki ritme yang mengalun berdasarkan irama yang diciptakan oleh sang pembuat hati. Irama itu berdentang membentuk konfigurasi Asma ALLAH SWT yang Maha Agung. Konfigurasi itu sendiri tercipta manakala seseorang mau menyebut nama-Nya dan mengagungkan-Nya (zikir) dan (shalat). Ketika konfigurasi itu terbentuk, maka seseorang akan menyambangi Tuhan-Nya untuk menyatu dengan-Nya, yang pada akhirnya dapat mengejewantahkan sifat-sifat-Nya.
Ajaran Rasulullah SAW tentang bekerja, tentang berkeluarga, bermasyarakat, dan lain sebagainya, adalah murni berasal dari perintah ALLAH SWT yang tertanam dalam lubuk hatinya yang paling dalam mengikuti ajaran Rasulullah SAW, berarti mengikuti kehendak hati yang benar.
b. Sekilas tentang Hati
a. Struktur Hati
1.      Shadr, adalah tempat bersemayamnya cahaya iman: tenang, cinta, rela, yakin, takut, berharap, sabar, merasa cukup kepada Tuhan. Shadr  juga merupakan tempat rasa dendam, dengki, dan perbuatan jahat lainya. Shadr, memiliki kemampuan menerima informasi, oleh karenanya disebut tempat pembelajaran.
2.      Qalb, adalah tempat bersemayamnya niat dan ilmu. Segala sesuatu yang keluar dan masuk kedalam diri manusia berasal dari Qalb. Niat menghasilkan tindakan, tindakan berasal dari pengetahuan. Oleh karenanya, semua tindakan seseorang, hasilnya akan dirasakan oleh qalb.
3.      Fu’ad, adalah tempat terpancarnya cahaya penglihatan seseorang yang dapat membedakan antara benar dan salah. Fu’ad adalah penglihatan sesuatu secara mendalam, tetapi kerja bagian ini membutuhkan bantuan qalb. Seseorang melihat dangan fu’ad dan mengetahui dengan qalb.
4.      Lubb, adalah tempat bersemayamnya cahaya ketuhanan. Kepercayaan dan keyakinan terletak dalam bagian hati satu ini.
Masing-masing struktur memiliki bahan dasar yang kompleks pula. Bahan dasar itu sesantiasa menyifatkan kinerja hati dalam tingkatnya masing-masing. Bahan dasar itu adalah sebagai berikut:
§  Shadr: Ammarah ( mengajak pada perbuatan yang jahat dan dosa, tapi jika ditempatkan pada posisi yang benar, maka akan menjadi baik).
§  Qalb: Mulhimah (mengajak pada kebaikan, tapi terkadang mengajak pada kejahatan).
§  Fu’ad: Lawwamah (mengajak pada kebaikan, tapi tidak mampu mencegah kejahatan).
§  Lubb: Muthma’innah ( nafsu yang tenang, senantiasa mengajak pada kebaikan).[4]

b. Penyakit Hati
Ø  Obat Hati
Penyakit hati, jika hanya bersifat fisik, tidak akan terlalu memengaruhi kehidupan orang lain. Penyakit ini hanya akan menggerogoti fisik orang yang bersangkutan hingga ia meninggal dunia. Berbeda jika penyakit psikis, penyakit ini tidak hanya akan menggerogoti seseorang tetapi jauh pada perusakan jiwa dan hati orang lain pula.
Ø  Sang Pengawas
“Pengawas” tidak terbatas pada sang Khalik saja, akan tetapi Sang Khalik telah mengutus makhluk-Nya yang lain, malaikat Raqib dan Atid  dan diri-Nya sendiri untuk menjadi pengawas. Melalu alam semesta, ALLAH SWT menunjukan diri-Nya dan kekuasaan-Nya. Melalui syariat ALLAH SWT  menuntun kita. Melalui ketentuan-Nya ALLAH SWT mengajari kita para pengawas itu selalu tersambung melalui alat komunikasi yang sudah sejak awalnya tertanam dalam tubuh manusia, yaitu hati.
Ø  Ritme Hati
Jika seseorang bersedia mengikuti ritme hati, maka ia akan menjadi manusia yang sempurna, sebab sifat-sifat ALLAH SWT akan melekat pada dirinya. Ibarat seorang penari yang bergerak mengikuti irama musik yang didengarnya. Jika seorang penari benar-benar menghayati dan bergerak mengikuti ritme yang didengar, maka tarian itu benar-benar serasi dengannya. Keserasian itu akan membentuk sebuah gerakan estetika dan etika yang seirama dengan kehendak sang pembuat irama.
Jika seorang bergerak mengikuti irama hati, maka ia akan bergerak mengikuti kehendak sang pembuat hati, ALLAH SWT.

c. Mengenali Potensi Hati
ü Mata Hati yang Cemerlang
Menurut Imam Al-Ghazali, hati manusia memiliki dua pintu. Pintu yang satu terbuka menghadap ke dalam, terbuka kea lam malakut, yaitu lauh al-mahfuzh dan alam Malaikat, maka hati ini bening dan sering kali memiliki ke-waskita-an, ‘ngerti sak durunge winarah (mengetahui sesuatu sebelum terjadi). Sedangkan pintu yang lain menghadap ke luar, terbuka ke pancaindra dan terpancar ke alam syahadah (alam nyata). Tinggal pintu mana yang dipergunakan dan dikembangkan oleh seseorang. Disinilah perbedaan antara ulama atau ilmuwan dengan sufi yang ‘arif, yang mencari dan memperoleh ilmu melalui kedalaman hatinya, melalui riyadhah dan mujahadah.
ü Memiliki Ilmu Ladunni
Ilmu ladunni adalah ilmu yang berasal dari ALLAH SWT, yang diberikan kepada hamba-Nya yang dikehendaki, yakni ilmu yang dapat membuka rahasia-rahasia yang tidak diketahui manusia pada umumnya. Ilmu yang membuka hijab mata hati manusia. Ilmu ladunni diperoleh tanpa dipelajari dan tanpa sebab lahiriah, dan tak terbatas pada satu hal tertentu saja. Isyarat yang dapat diambil sebagai pelajaran adalah tentang kisah perjalanan Nabi Musa a.s., bersama muridnya yang bertemu dengan seorang yang alim dan mempunyai kelebihan-kelebihan karena memiliki ilmu ladunni yaitu Nabi Khidir a.s. Kisah ini tertulis dan diabadikan didalam  (QS. Al-Kahfi [18]: 60-82). Setelah keduanya bertemu dengan Nabi Khidir (QS. Al-Kahfi [18]: 65), Nabi Musa kemudian diperintahkan ALLAH SWT untuk berguru kepadanya. Dalam ayat-ayat tersebut dikisahkan bahwa peristiwa yang bakal terjadi sudah diketahui oleh Nabi Khidir a.s.
ü Memperoleh Ilham
Dalam keyakinan Islam, para Nabi dan Rasul menerima petunjuk ALLAH SWT berupa wahyu yang biasanya disampaikan oleh malaikat Jibril, merupakan kasyf syuhudi (terbukanya tabir secara langsung). Sementara petunjuk bagi manusia yang lain diistilahkan dengan ilham, yakni ‘goresan’ yang diberikan oleh ALLAH SWT dan dicampakkan ke dalam hati, merupakan kasyf ma’nawi (keterbukaan yang tidak langsung).
Baik wahyu maupun ilham, keduanya bisa diterima dalam keadaan terjaga (Jawa: ‘melek’) maupun dalam keadaan tidur berupa mimpi. Tentang kemungkinan kebenaran mimpi, Al-Qur’an menegaskannya dalam (QS. Yusuf [12]: 12).
Sedangkan ilham, untuk mendapatkannya, ketakwaan merupakan persyaratan utama, sebagaimana firman ALLAH SWT dalam (QS. Al-Baqarah [2]: 282). Dan itu merupakan rahmat ALLAH SWT yang siapa pun takkan dapat menghalangi kedatangannya (QS. Fathir [35]: 2).
d. Mengenali Virus Hati
Ø   Mengenal Macam-Macam Kondisi Qalb
Menurut Al-Ghazali ada tiga macam kondisi qalb manusia:
1. Hati yang shahih (sehat) yang menjadi salim (selamat), keadaan ini dijanjikan akan dapat bertemu ALLAH SWT (QS. As-Syura’: 87-89). Ia memiliki tanda-tanda antara lain: imannya kokoh, mensyukuri nikmat, tidak serakah, hidupnya tentram, khusyuk dalam ibadah, banyak berzikir, kebaikannya selalu meningkat, segera sadar jika lalai atau berbuat salah, suka bertobat, dan sebagainya.
2. Hati yang maridh (sakit), yang didalamnya ada iman, ada ibadah, ada pahala, tetapi juga ada kemaksiatan dan dosa-dosa (kecil/besar). Tanda-tandanya antara lain: hatinya gelisah, suka marah, tidak pernah punya rasa puas, susah menghargai orang lain, serba tidak enak dan nyaman, penderitaan lahir dan batin, tidak bahagia dan sebagainya.
3. Hati yang mayyit (mati), yang telah mengeras dan membatu karena banyak kerak (akibat dosa-dosa yang dilakukan) sehingga menghalangi datangnya petunjuk ALLAH SWT (QS. Al-Muthaffifin:13-14). Tanda-tandanya antara lain: tidak ada/tipis iman, mengingkari nikmat ALLAH SWT, dikuasai hawa nafsu, pikirannya negatif/buruk sangka, tak berperikemanusiaan, egois, keras kepala, tak pernah merasa bersalah, dan sebagainya.
Ø  Virus Hati
Menurut Al-Ghazali hati dapat memiliki kemampuan yang luar biasa, namun sebaliknya hati juga dapa tidak memiliki apa-apa jika terhalang oleh persoalan-persoalan dibawah ini:
1. Ada tabir (hijab) yang biasanya merupakan kesenangan dalam hidup, yakni persoalan inderawi dan dunia. Maka cinta dunia / materialis adalah tabir yang serius (QS. Al-Hadid:20).
2. Kotoran hati oleh sebab banyaknya dosa-dosa. Hati bagaikan cermin. Setiap melakukan suatu dosa berati menorehkan noktah hitam diatasnya. Semakin banyak dosa, semakin besar pula noktahnya. Yang pasti, semakin banyak noktah semakin kotor bahkan hati akan menghitam karenanya. (QS. Al- Baqarah: 7 dan al- Muthaffifin :14).
3.  Berpaling hati kearah yang lain.
4.  Kurang adanya kesediaan hati itu sendiri.
5.  Hati tidak mengetahui arah yang seharusnya dituju.
e. Mengarahkan dan Menetapkan Hati
Untuk mengarahkan hati agar senantiasa menuju kebaikan, ada beberapa tips yang perlu dilakukan, yaitu:
1. Mengurangi makan. Pada dasarnya secara fisik dapat dilihat bahwa dalam perut manusia itu terdapat banyak komponen yang berdesak-desakan, diantaranya jantung, lambung, usus, dan hati itu sendiri. Masing-masing memiliki  pergerakan yang membuatnya hidup. Ketika salah satu komponen terlalu domain, maka yang lain akan terhimpit dan sulit berfungsi.
2. Bergaul dengan orang yang saleh. Dengan sendirinyakita akan terpengaruh oleh ketulusan hatinya yang selalu ingin dekat kepada ALLAH SWT.
3. Selalu ingat ALLAH SWT (berzikir), baik pikiran maupun hati. Pikiri, berarti dapat menyandarkan segala sesuatu yang ada kepada kebesaran dan kekuasaan ALLAH SWT. Sedangkan hati, merasakan apa yang diucapkan dan dipikirkan.


Untuk mengarahkan hati agar selalu condong kearah kebaikan, dapat dilakukan dengan cara-cara:
1. Menjauhi maksiat, dan mencoba melengkapi ibadah dengan amalan sunah.
2. Tidak menentang kata hati. Hati yang sudah terbiasa dengan amalan yaing baik, akan senantiasa mengarahkan pada yang baik. Ketika ditentang, maka akan hilang kepekaannya. Kemudian, hati akan  mengikuti hawa nafsu. Dengan demikian, hilanglah ketetapanya untuk selalu berada dalam kebaikan.
3. Riyadhah dan Mujahadah. Teruslah berlatih dan bersungguh-sungguh untuk mempertahankan posisinya. Dengan cara itu niscaya ALLAH SWT akan menetapkan hati kita kepada yang kita kehendaki.[5]
3. Materi Hadits
A.  Hadits 22 : Intuisi Hati
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : اَلْحَلَالَ بَيْن وَالْحَرَامَ بَيْنَ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَهَاتٌ لَايَعْلَمُهَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَي الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَاَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَي حَوْلَ الْحِمَي يُوْشِكُ اَنْ يُوَاقِعَهُ اَلَا وَاِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَي اَلَا اِنَّ حِمَي اللهِ فِي اَرْضِهِ مَحَارِمُهُ اَلَا وَاِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَتً اِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَاِذَا فَسضَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُذلُّهُ أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ : (رواه البخاري في الصحيح, كتاب الإيمان , باب فضل من استحب الدين)
1.    Tarjamah
Nu’man bin Basyir bercerita bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Perkara yang halal telah jelas dan yang diragukan yang tidak diketahui hukumnya oleh  kebanyakan orang. Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara yang diragukan itu berarti dia memelihara agama dan kesopanannya. Barangsiapa mengerjakan perkara yang diragukan, sama saja dengan penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang, dikhawatirkan dia terjatuh ke dalamnya. Ketahuilah, semua raja mempunyai larangan dan ketahuilah pula larangan ALLAH SWT adalah segala yang di haramkan-Nya. Ketahuilah dalam tubuh itu semuanya. Apabila daging itu rusak, maka binasalah tubuh itu seluruhnya. Ketahuilah, daging tersebut ialah hati. (HR. Bukhari)
2.    Mufrodat
Samar
مُشَبَهَاتٌ
Menjaga
اسْتَبْرَاَ
Kehormatannya
وَعِرْضِه
Jatuh
وَقَعَ
Penggembala
كَرَاعٍ
Jurang
يُوَاقِعَهُ
Larangan
حِمَي
Hati
الْقَلْبُ

3.    Biografi Rawi
a.    Imam Bukhori
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari Al-Ju’fi. Akan tetapi beliau lebih terkenal dengan sebutan Imam Bukhari, karena beliau lahir di kota Bukhara, Turkistan. Ayahnya meninggal dunia tatkala beliau masih kanak-kanak dan beliau diasuh oleh ibunya. Ia mulai memperoleh ilmu mengenai hadis Nabi ketika berusia 10 tahun. Ia melawat ke Mekkah pada usia 16 tahun ditemani ibu dan kakaknya. Tampak ia mencintai Mekkah dan kaum agama terpelajar. Setelah mengucapkan selamat jalan kepada ibu dan kakaknya, ia pun menetap di Mekkah. Dua tahun ia berada di Mekkah dan kemudian hijrah ke Madinah. Usai menghabiskan waktu 6 tahun di Al-Hijaz yang berada diantara Mekkah dan Madinah, ia menuju Basrah, Kuffah, dan Baghdad dan mengunjungi banyak tempat termasuk Mesir dan Syiria. Ia kerap berkunjung ke Baghdad. Ia pun bertemu dengan banyak kaum terpelajar muslim, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal.
Sewaktu kecil Al-Imam Al-Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al-Imam Al-Bukhari, sesungguhnya ALLAH SWT telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa ALLAH SWT telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.
Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al-Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al-Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al-Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al-Muhabbir, Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al-Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al-Uwaisi, Abu Al-Yaman, ‘Ali bin Al-Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.
Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim. Al-Imam Al-Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.
Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al-Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari, beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”).
Anugerah ALLAH SWT kepada Al-Imam Al-Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang hidup sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) terhadap beliau. Berikut ini adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud: Muhammad bin Abi Hatim berkata, “Saya mendengar Ibrahim bin Khalid Al Marwazi berkata, “Saya melihat Abu Ammar Al-Husein bin Harits memuji Abu Abdillah Al-Bukhari, lalu beliau berkata, “Saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Seolah-olah dia diciptakan oleh ALLAH SWT hanya untuk hadits”.[6]
Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata, “Saya tidak pernah meliahat di kolong langit seseorang yang lebih mengetahui dan lebih kuat hafalannya tentang hadits Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dari pada Muhammad bin Ismail (Al-Bukhari). Muhammad bin Abi Hatim berkata, “ Saya mendengar Abu Abdillah (Al-Imam Al-Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr bin ‘Ali Al-Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadits tersebut”. Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceritakan peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.
Al-Imam Al-Bukhari mempunyai karya besar di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al-Jami’ atau disebut juga Ash-Shahih atau Shahih Al-Bukhari. Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al-Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al-Qur’an.
Hubungannya dengan kitab tersebut, ada seorang ulama besar ahli fikih, yaitu Abu Zaid Al-Marwazi menuturkan, “Suatu ketika saya tertidur pada sebuah tempat (dekat Ka’bah –ed) di antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim. Di dalam tidur saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau berkata kepada saya, “Hai Abu Zaid, sampai kapan engkau mempelajari kitab Asy-Syafi’i, sementara engkau tidak mempelajari kitabku? Saya berkata, “Wahai Baginda Rasulullah, kitab apa yang Baginda maksud?” Rasulullah menjawab, “ Kitab Jami’ karya Muhammad bin Ismail”. Karya Al-Imam Al-Bukhari yang lain yang terkenal adalah kita At-Tarikh yang berisi tentang hal-ihwal para sahabat dan tabi’in serta ucapan-ucapan (pendapat-pendapat) mereka. Di bidang akhlak belau menyusun kitab Al-Adab Al-Mufrad. Dan di bidang akidah beliau menyusun kitab Khalqu Af’aal Al-Ibaad.
b.    Nu’man bin Basyir
Hidup pada tahun 1-64 H. Beliau adalah sahabat Nabi yang lahirnya di Madinah setelah Nabi hijrah berjalan 4 bulan. Jadi ini sahabat Anshor yang pertama kali setelah hijrah. Kemudian berdomisili di Syam da wafatnya terbunuh di Desa Himash di negara Syam pada bulan Dzul Hijjah 64 H. menurut Ibnu Abi Khoitsamah wafatnya pada tahun 60 H. Beliau di dalam meriwayatkan hadits-hadits Nabi semua berjumlah 114 buah hadits, yang antara hadits Bukhori dan Muslim ada 5, yang di Bukhori saja hanya 1, yang di Muslim saja ada 4 hadits. Adapun ayahnya yang bernama Basyir ini mati syahid bersama Jenderal Kholid bin Walid pada tahun 12 H. setelah perang Yamamah. Beliau adalah Sahabat Anshor yang pertama kali berbai’at dengan kholifah Abu Bakar a.s. Shiddiq r.a. dan ikut ‘aqobah tsaniyah. Ikut perang Badar, Uhud dan semua perang yang diikuti beliau Nabi SAW.[7]
 4.    Keterangan Hadits
Hadis ini disepakati atas kedudukanya yang agung dan faedahnya yang banyak. Hadis ini merupakan hadis yang merangkum ajaran-ajaran Islam. Abu Dawud berkata: “Hadis ini merangkum seperempat ajaran Islam. Barang siapa yang merenungkannya dia akan mendapatkan semua kandungan yang disebutkan diatas karena hadis ini mencakup penjelasan tentang halal, haram, dan syubhat, apa yang maslahat dan yang akan merusak hati. Semua ini menuntut untuk mengetahui hukum-hukum syariat, pokok-pokok dan cabang-cabangnya. Hadis ini juga merupakan dasar bagi sikap wara’ yaitu dengan meninggalkan yang syubhat (samar).
Dalam hadis ini, yang halal sudah jelas dan yang haram sudah jelas dan diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar). Imam An-Nawawi berkata: Bahwa perkara itu ada tiga: yang jelas-jelas halal, dan tidak tersembunyi keadaannya. Seperti memakan roti, berbicara, berjalan, dan sebagainya. Kedua, yang jelas-jelas haram seperti khamr, zina, dan lain-lain. Adapun yang syubhat artinya tidak jelas halal atau haramnya. Oleh karena itu, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Adapun para ulama mengetahui hukumnya berdasarkan nash atau qiyas (analogi). Apabila ada keraguan antara halal dan haram dan tidak ada nash dan ijma’, maka seorang mujtahid berijtihad dalam masalah itu, lalu mengkategorikan masalah itu kepada salah satu hukum (halal atau haram) berdasarkan dalil syar’i.
Meninggalkan syubhat adalah wujud sikap wara’. Sikap ini direalisasikan dengan tidak bermuamalah bersama orang yang hartanya mengandung syubhat, atau bercampur dengan riba, atau terlalu banyak mengandung unsur-unsur mubah sehingga meninggalkan yang lebih utama. Adapun jika sampai kepada derajat was-was dengan mengharamkan sesuatu yang belum jelas, maka hal itu tidak termasuk syubhat yang harus ditinggalkan.
Perkara syubhat itu bermacam-macam, Ibnu Al-Mundzir membaginya kepada tiga bagian, yaitu: sesuatu yang diketahui oleh orang-orang sebagai barang haram, kemudian diragukan apakah ia masih tetap haram atau sudah menjadi halal, maka tidak boleh segera menganggapnya halal kecuali jika sudah diyakini. Selanjutnya kebalikannya yaitu perkara yang halal kemudian ada keraguan bahwa ia menjadi haram. Dan yang terakhir sesuatu yang kehalalan dan keharamannya diragukan dengan tingkatan yang sama dan yang lebih utama adalah meninggalkannya.
Ucapan para salafus saleh tentang meningggalkan syubhat. Abu Darda berkata Kesempurnaan takwa adalah seorang hamba takut kepada ALLAH SWT, sehingga dia takut kepada benda kecil sekecil apapun. Ketika dia meninggalkan sesuatu yang dipandang halal karena khawatir akan menjerumuskan kepada yang haram sehingga dia terhindar dari yang haram.
Setiap raja memiliki daerah larangan dan daerah larangan ALLAH SWT di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan. Tujuan penyebutan contoh seperti ini adalah untuk lebih menjelaskan sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konkret. ALLAH SWT memiliki wilayah-wilayah larangan di atas bumi-Nya, yaitu perbuatan-perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Barang siapa yang mendekatinya dengan menerjuni hal-hal yang syubhat, maka dia hampir terjerumus ke dalam yang diharamkan.
Selamatnya hati, selamatnya jasad tergantung pada selamatnya hati karena hati (jantung) merupakan organ terpenting di dalam tubuh.
B. Hadits 23: Intuisi Hati
عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (مَنْ عَمِلَ بِمَا
يَعْلَمْ وَرثَهُ الله عِلْمَ مَالَمْ يَعْلَمْ ) (رواه أبو نعيم الأصفهاني فى
حلية الأولياء(
1.    Tarjamah
Dari Anas bin Malik sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka ALLAH SWT akan memberikan ilmu sesuatu yang ia belum ketahui”. (HR. Abu Na’im al-Ashfihan dalam kitab Khilyatul Ashfiya’: 10/15)
2.    Mufrodat
ü    مَنْ عَمِلَ       : Barang siapa beramal
ü    بِمَا             : Dengan
ü    يَعْلَمْ                        : Sesuatu yang diketahui
ü    وَرَثَهُ اللهِ       : Akan diberikan kepadanya
ü    عَلْمَ             : Ilmu
ü    مَالَمْ يَعْلَمْ      : Sesuatu yang belum diketahui                     

3. Biografi Rawi
a. Nu’man bin Basyir)
Nama lengkapnya An-Nu’man bin Basyir bin Ka’ab Al-Khazraji Al-Anshari. Dilahirkan empat belas bulan setelah hijriah. Dia adalah orang Anshar pertama yang lahir setelah Nabi hijrah ke Madinah. Bapaknya adalah seorang sahabat dan ibunya juga seorang sahabiyah radiyallahu Anhuma. Nabi meninggal ketika dia berumur 8 tahun yang saat itu sedang tinggal di Syam. Muawiyah mengangkatnya sebagai pemimpin Himsh. Dan ditetapkan kepemimpinannya oleh Yazid bin Muawiyah. An-Nu’man bin Basyir adalah orang yang pemurah dan ahli syair. Dia dibunuh di sebelah kampung di Himsh karena dia menyerukan untuk membaiat Abdullah bin Az-Zubair, pada tahun 56 H. Al-Bukhari meriwayatkan hadits darinya sebanyak 6 hadits, dan haditsnya yang termaktub dalam kitab-kitab hadits sebanyak 114 hadits.[8]
  b. Anas bin Malik)
Anas bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji adalah pelayan Rasulullah SAW. Dia melayani Rasulullah semenjak berusia sepuluh tahun dan terus menyertai beliau selama dua puluh tahun. Rasulullah memberi kun-yah kepadanya dengan Abu Hamzah. Ibunya adalah Ummu Sulaim r.a. nabi pernah mendoakannya dengan doa, “Ya ALLAH SWT, perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkan umurnya dan berkahilah serta masukkan ke dalam surga”. Berkat doa tersebut, Anas menjadi orang yang paling banyak anak dan hartanya. Dia wafat dengan meninggalkan sebanyak 120-an anak. Dia berusia panjang, hidup lebih dari 100 tahun. Wafat di Bashrah tahun 93 H.
 Anas bin Malik adalah urutan ketiga dari Sahabat yang banyak meriwayatkan hadits. Ada 2.286 hadits yang ia riwayatkan.[9]
4.    Keterangan Hadits
Hadits tersebut menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan pada diri manusia tidak akan berkurang atau hilang dengan mengajarkannya pada orang lain, tapi justru akan bertambah. ALLAH SWT akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui, maknanya ialah bahwa ALLAH SWT akan menambahkan keimanan dan menerangi bashirahnya serta akan membukakan untuknya berbagai cabang ilmu. Oleh karena itu Anda mendapatkan seorang alim yang beramal akan bertambah ilmunya dan ALLAH SWT akan memberkahi waktu dan ilmunya. Dalilnya dalam Al-Qur’an, firman ALLAH SWT: “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk ALLAH SWT menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya”.

4. Refleksi Hadits dalam Kehidupan
Diri kita ini tidak hanya berwujud fisik belaka. Namun, ada satu hal yang lebih penting, bahkan menjadi inti dari kehidupan kita, yaitu hati. Jika kebutuhan fisik berupa makanan dan minuman telah terpenuhi dengan baik, apakah kebutuhan hati atau kalbu juga sudah terpenuhi dengan baik? Jangan-jangan, kita tak memiliki kesempatan sedikit pun untuk memenuhinya sehingga kalbu kita mengering, gersang, dan lama-kelamaan mati dengan sendirinya.
Pemenuhan kebutuhan bagi hati adalah dengan menerima dan tunduk pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Dalam bekerja, cobalah hidupkan hati kita. Dengarkanlah, bisikan-bisikan kebenaran yang disuarakannya. Jujurlah dengan suara-suara itu. Sadarkan dan pahamkan diri ini untuk mau mengikutinya. Ingatlah, selama ada keinginan, di situ ada jalan kemudahan.
Sejatinya, hati akan selalu membisikkan nilai-nilai kebaikan pada diri ini. Ia memiliki keinginan agar diri kita tetap berada di jalan kesucian, tidak dikotori oleh keburukan, keterpurukan, dan kehinaan. Cobalah renungkan saat kita akan melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas. Tentu, akan terdengar dua bisikan suara yang menggema dalam diri kita. Sebuah suara mengajak pada kebaikan, sementara suara lainnya mengajak pada keburukan.
Sebagai contoh termudah, adalah saat Anda membaca buku. Tentu, akan terdengar dua bisikan suara: ‘Ubah sikap dan ikuti apa yang disampaikan di buku ini,’ atau , ‘Jangan ikuti tulisan dalam buku ini, ini kan hanya tulisan, buat apa mengikutinya?’. Di saat Anda mengikuti bisikan pertama, berarti Anda telah memenangkan pertarungan. Anda telah memenangkan hati nurani dan mengikuti ajakan malaikat. Dengan demikian, hati nurani telah dipenuhi Cahaya Ilahi. Sebaliknya, jika Anda mengikuti bisikan kedua, berarti Anda telah memenangkan nafsu atau bersekutu dengan setan untuk memadamkan cahaya hidayah yang sedang menyala dalam diri Anda.[10]
Begitu pula dalam kehidupan kerja kita. Ikutilah bisikan-bisikan kebaikan dan kebenaran disetiap langkah kerja kita. Buang jauh-jauh ajakan kemungkaran. Jika mampu melakukannya, ALLAH SWT akan selalu memberikan pertolongan, membukakan jalan kemudahan, serta rizqy yang halal dan berkah. Ingatlah, sesungguhnya sejak awal penciptaannya, hati ini selalu condong pada kebaikan dan kebenaran. Karena itu, janganlah menolak dan memaksa diri kita untuk membohongi hati demi menerima kebenaran.
5. Aspek Tarbawi
v Hadits 22
a. Bahwasanya yang dapat memilah dan memilih apakah suatu hal meragukan atau tidak adalah hati, maka sangatlah penting bagi setiap muslim untuk mendengarkan kata hatinya (intuisi hati), bila hatinya meragukan hukum dari suatu hal maka lebih baik dia menghindari atau tidak melakukannya. Keragu-raguan tersebut dapat ditimbulkan oleh adanya dua hal : ketidaktahuan seseorang akan hukum suatu hal dan belum ditentukannya hukum akan hal tersebut.
b.   Dalam hadits tersebut di atas dikemukakan bahwa bila hati seseorang baik maka akan baik pula seluruh tubuhnya, maksud dari potongan hadits tersebut adalah pada fitrahnya hati semua manusia itu baik dan hanya mengajak ke hal-hal yang baik, namun demikian, pada sebagian besar manusia hatinya tidak terlatih utuk menyuarakan kebenaran lebih keras dan kemudian menegakkan niat yang terimplementasi ke dalam perbuatan. Hasilnya apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut adalah pengingkaran terhadap hati dan cenderung merupakan perbuatan-perbuatan yanng diharamkan atau yang diragukan kehalalannya. Jika hal ini terus menerus dilakukan dan menjadi sebuah kebiasaan serta tidak adanya usuha-usaha perbaikan maka jadilah apa yang disebut dalam hadits sebagai hati yang rusak atau yang tidak baik dan membawa kerusakan atau keburukan ke dalam semua perbuatan manusia itu sendiri.
v Hadits 23
a.    Setiap muslim yang telah memiliki ilmu akan suatu hal (yang tidak bertentangan dengan agama) wajib mengamalkannya dalam bentuk perbuatan dan mengajarkanya pada orang lain
b.    Tidak diperkenankan bagi muslim untuk menyembunyikan ilmunya, tapi juga tidak diperkenankan untuk pamer dengan tujuan  membanggakan diri dan merendahkan orang lain.


















C. PENUTUP
Simpulan
Dari pemaparan di atas dapat diketahui pentingnya hati dalam kehidupan manusia dan pentingnya mendengarkan intuisi hati serta mengikutinya termasuk intuisi hati untuk berbagi ilmu pengetahuan dengan sesama, karena dengan cara berbagi tersebutlah ilmu pada diri manusia tidak berkurang atau habis tapi justru bertambah. Untuk mencapai pertambahan ilmu tersebut hal lain yang juga penting untuk dilakukan adalah mengamalkan, melakukan atau mewujudkan ilmu tersebut dalam wujud perbuatan yang membawa kemaslahatan bagi diri sendiri dan umat.























DAFTAR PUSTAKA
Saleh,Muwafik,Akh. 2009. Bekerja dengan Hati Nurani. Semarang: Penerbit Erlangga.
Syukur,Amin.Usman,Fathimah. 2012. Terapi Hati. Semarang: Penerbit Erlangga.
AshShiediqi,Hasbi,Muhammad. 1999. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Ash-Shalih,Subhi. 2002. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus.
Soffan,Djunaedi.Wawan. 2003. Syarah Hadis Qudsi. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al-Bugha,Dieb,Musthofa.dkk. 2008. Al Wafi Syarah Hadits Arbai’in Iman Nawawi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.























TENTANG PENULIS


IMG20141122155430
 












Rizqy Mazidah Hilmy. Lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 28 Januari 1995.
Pendidikan dasar di MI Ihsaniyah Tegal, kemudian dilanjutkan di SMP Ihsaniyah Tegal, kemudian dilanjutkan di SMA Ihsaniyah Tegal.
Sekarang masih melanjutkan pendidikan di STAIN Pekalongan, jurusan Tarbiyah, prodi Pendidikan Agama Islam (PAI).
Motto: menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi tua yang bijak adalah pilihan.



[1] https://bindoni.wordpress.com/2015/03/15/apa-itu-intuisi/11:09.
[2] Akh Muwafik Saleh, Bekerja dengan Hati Nurani,  (Semarang: Penerbit Erlangga, 2009),  hlm. 52-53.
[3] Amin Syukur,Fathimah Usman, Terapi Hati, (Semarang: Penerbit Erlangga, 2012), hlm. 145.
[4] Amin Syukur,Fathimah Usman, Terapi Hati, (Semarang: Penerbit Erlangga, 2012), hlm. 6-7.
[5] Amin Syukur,Fathimah Usman, Terapi Hati, (Semarang: Penerbit Erlangga, 2012), hlm. 49.
[6] Muhammad Hasbi Ash ShiediqiTeungku, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999),  hlm. 18.
[7] Wawan Djunaedi Soffandi, Syarah Hadis Qudsi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007),  hlm. 18-19.
[8] Musthafa Al-Bugha,Al-Wafi Syarah, Hadits Arba’in Imam Nawawi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008), hlm.474.
[9] Subhi ash-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Hadis, (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus, 2002), hlm.336.
[10] Akh Muwafik Saleh, Bekerja dengan Hati Nurani,  (Semarang: Penerbit Erlangga, 2009),  hlm. 75-77.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar