Laman

Minggu, 15 Maret 2015

L - 5 - a: UNI KHOMSIATUN



AKAL, ILMU DAN AMAL
 Mata Kuliah             : Hadits Tarbawi II
                                        


Disusun oleh:
Nama   :         Uni Khomsiatun
NIM     :         2021213005
Kelas    :         L

JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PEKALONGAN
2015




A.    PENDAHULUAN

Seorang manusia dalam hidup ini adakalanya bodoh dan adakalanya berakal namun tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan akalnya. Manusia membutuhkan ilmu untuk menghilangkan kebodohannya, dan manusia harus mampu menggunakan akalnya secara bijaksana dalam tindakan dan perilaku.
Dengan adanya ilmu maka manusia dapat menyelesaikan segala permasalahan yang ada, dan ilmu bisa meluruskan amal seseorang. Berbuat tidak didasari ilmu tidak ubahnya dengan berjalan bukan dijalan yang benar, tidak mendekatkan pada tujuan melainkan menjauhkan.
Manusia merupakan mahluk sosial yang mana tidak dapat hidup sendirian, maka kita hidup di dunia ini harus saling tolong menolong. Salah satu diantaranya dengan beramal, dengan beramal kita dapat membantu sesama, amal dapat berupa harta benda, tenaga, pikiran, dan lain-lain, sesuai dengan kemampuan kita.
Kaedah Islam menekankan bahwa ilmu senantiasa menyeru kepada amal perbuatan. Jika amal memenuhi seruan ilmu maka umat menjadi baik dan berkembang. Namun jika tidak, maka ilmu akan meninggalkan amal perbuatan, dan dia akan tetap tinggal tanpa memberikan faedah.








B.     PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
a.          Pengertian Akal
Akal menurut etimologi berasal dari kata Al-‘aql yang berarti kemampuan untuk berfikir, berargumen, dan memahami.
Sedangkan pengertian akal menurut terminologi adalah alat manusia untuk merealisasikan tugas sebagai khalifah di muka bumi, dan menyingkap sebagian rahasia bumi, serta mengambil manfaat dari karunia-karunia yang diletakan oleh Allah SWT.[1]

b.         Pengertian Ilmu
Ilmu menurut etimologi  berasal dari kata bahasa Arab ‘Alima yang artinya mengetahui. Sedangkan menurut terminologi:
اَلْعِلْمُ صِفَةٌ يَنْكَشِفُ بِهَا ا لْمَطْلُوْبِ اِ نْكَشَا فًا تَا مًا
“ Ilmu adalah suatu sifat yang dengan sifat tersebut sesuatu yang dituntut bisa terungkap dengan sempurna.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ilmu merupakan sarana untuk mengungkap, mengatasi, menyelesaikan, dan menjawab persoalan yang sedang dihadapi dalam hidup dan kehidupan manusia.[2]
c.          Pengertian Amal
Secara etimologi kata amal berasal dari bahasa Arab amalia yang berarti pekerjaan atau perbuatan.[3]
Sedangkan secara terminologi pengertian amal adalah Perwujudan dari sesuatu yang menjadi harapan jiwa, baik berupa ucapan, perbuatan anggota badan maupun berpuatan hati. Amal harus berdasarkan niat, karena amal dinilai Tuhan berdasarkan niatnya.[4]
Yang dimaksud amal dalam islam adalah setiap amal saleh, amal ibadah dan amal jariah. setiap perbuatan kebijakan yang diridlai oleh Allah SWT.

2. TEORI PENDUKUNG
a)      Kedudukan Akal
Akal yang dapat membedakan antara manusia dengan hewan, dengan akal, manusia dapat mengenali dirinya, dunianya, Rabbnya. Akal memiliki kemampuan membedakan mana yang hakiki dan mana yang ilusi, serta antara yang yakin dan praduga, ia juga tidak dapat terjaga dari kesalahan dalam memahami dan menghasilkan sesuatu. Ia dapat dipengaruhi oleh ketergesa-gesaan, kesombongan, hawa nafsu, dan peradaban yang berkembang, baik pengaruh positif maupun negatif.[5]
Al-Quran menyatakan adanya potensi akal pada seluruh manusia. Hanya saja tingkat akal mereka dan metode pemakaiannya berbeda beda. Ada yang mempergunakannya dengan baik sehingga dia dapat memahami agama dan syariat Allah, dengan sarana alat ini yang memungkinkan seorang untuk membedakan antara yang bahaya dan manfaat, mengetahui yang baik dan buruk, dan lain-lain.
Manusia yang celaka adalah orang yang tidak mempergunakan akalnya; dia tunduk kepada hawa nafsu dan syaitannya, sehingga dengan sarana akal ini dia menjauh dari penciptanya. Allah mengancam mereka akan kekal di dalam neraka.[6]
b)      Kedudukan Ilmu
Ilmu dapat membedakan nilai manusia di hadapan Allah SWT. Allah telah membedakan antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu, karena dengan ilmunya orang akan dapat memikirkan semesta dengan segala ke-Mahakuasaan pencipta-Nya. Ilmu juga merupakan sarana untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.
Sabda Nabi Muhammad SAW;
مَنْ اَرَادَا لدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَا دَا لْآ خِرَةَ فَعَلَيْهِ بِلْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِهِ. ( رواه البخا رى)
“ Barangsiapa menghendaki dunia maka hendaknya dia berilmu, barangsiapa menghendaki akhirat maka hendaknya dia berilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya maka hendaknya dia berilmu pula”.[7]

c)      Kedudukan Amal
Amal orang-orang beriman diumpamakan sebagai kebun-kebun subur yang lebat buahnya. Pemilik kebun itu terus menerus mendapatkan hasil, dan hatiny damai serta tidak cemas terhadap terhentinya hasil kebun. Sebab ia yakin bahwa kebun itu akan dipelihara dan dijaga Tuhan.
Sedangkan bagi penyekutu Tuhan, amalan mereka diumpamakan sebagai debu yang ditiup topan pada hari berangin kencang, sedikitpun mereka tak dapat memanfaatkan amalnya.


Firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim: 18

مَثَلُ الَّذَيْنَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَا لُهُمْ كَرَمَادٍ ا شْتَدَّتْ بِهِ الرِّيْحُ فِي يَمْمٍ عأَ صِفٍ لَا يَقْدِرُوْنَ مِمّاَ كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَ لَكِ هُوَ الضّلَا لُ الْبَعِيْدُ
“ Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahkan (didunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (QS. Ibrahim:18)

Sementara amalan orang-orang munafik, al-Quran membuat perumpamaan seperti keadaan orang yang dalam kegelapan, atau seperti orang ditimpa hujan lebat.[8]

3. MATERI HADITS
a. Teks Hadits
- عَنْ عَائِشة قَالَتْ:﴿ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ بِأَيِّ شَئٍ يَتَفَاضَلُ النَّاسُ فِى الدُّنْيَا ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ, قَلَتْ فَفِى اْلأَخِرَةِ ؟ قَالَ: بِالْعَقْلِ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّمَا يُجْزَوْنَ بِأَعْمَالِهِمْ ؟ قَالَ وَهَلْ عَمِلُوْا اِلاَّ بِقَدْرِمَا أَعْطَاهُمْ اللهُ مِنَ الْعَقْلِ فَبِقَدْرِمَا أُعْطُوْا مِنَ الْعَقْلِ كَانَتْ أَعْمَالُهُمْ وَبِقَدْرِمَا عَمِلُوْا يُجْزَوِنَ﴾   ( رَاوَهُ الحَارِث فِى الْمُسْنَدِ : 823)




b. Arti Hadits

Dari ‘Aisyah-ra- ia berkata : saya bertanya kepada Rasulullah, dengan apakah manusia bisa utama di dunia. Rasulullah berkata ; dengan akal. Aisyah bertanya lagi : kalau diakhirat?, Rasulullah menjawab ; dengan akal. Maka Aisyah bertanya lagi : (bukankah) manusia sesungguhnya manusia itu dibalas hanya karena amal-amalnya. Rasulullah menjawab : dan tidaklah manusia-manusia beramal kecuali dengan sekedar yang Allah SWT berikan yaitu akal. Maka dengan sekedar apa yang telah diberikan kepada mereka (akal) itulah amal-amal mereka. Dan atas sekedar apa yang mereka kerjakan , maka mereka mendapat balasan. (HR. Al-Harits).

c. Mufrodat
Akal/ Ilmu                                              :           اَلْعَقْلِ
Perbuatan-perbuatan mereka                 :           اَعْمَلِهِمْ
Apa yang dikerjakan                              :           عَمِلُوْا
Kadar/ Kemampuan                               :           بِقَدْرِ

d. Biografi Perawi
Aisyah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq teman dekat Rasulullah. Ia lahir dua tahun setelah Nabi diutus sebagai Rasul, dinikahi Nabi pada usia 6 tahun dan berkumpul sebagai suami isteri pada usia 9 tahun, yaitu pada bulan syawal tahun 1 H. Dialah satu-satunya isteri Nabi yang masih gadis.
Diantara sifat keistimewaan yang dimilikinya adalah mempelajari bahasa, syair, ilmu kedokteran, ansab (keturunan), dan hari-hari Arab.
Jumlah hadis yang diriwayatkan Aisyah sebanyak 2.210 buah hadis, Imam Al-Bukhari meriwayatkan darinya sebanyak 54 buah hadis dan Muslim meriwayatkan sebanyak 68 buah hadis. Dia banyak meriwayatkan hadis dari para sahabat seperti dari bapaknya sendiri Abu Bakar, Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usaidi bin Khudhair, dan lain-lain. Demikian juga banyak dikalangan sahabat dan tabi’in yang mengambil hadis dari padanya, diantaranya dari kalangan sahabat wanita adalah Shafiyah binti Syaibah dan di kalangan tabi’in adalah Aisyah binti Thalhah, Amrah binti Abdurrahman, dan Hafashah binti Sirin.
Ia meninggal pada tahun 57 H/668 M pada bulan Ramadhan sesudah melakukan shalat witir.[9]
e. Keterangan Hadits
Dalam hadits diatas Rasulullah SAW menjelaskan tentang pentingnya Akal, dan kedudukan tertinggi adalah akal, karena dengan akal manusia dapat membedakan mana yang bermanfaat mana yang tidak.
Dengan berakal manusia dapat memperoleh keutamaan di dunia serta akhirat, akal merupakan sarana untuk mencari ilmu agar dapat memahami ayat-ayat Allah SWT serta fenomena-fenomena alam. Ilmu adalah pemimpin dan pembimbing amal perbuatan manusia, perbuatan tanpa didasari ilmu pengetahuan tidak dapat mencapai tujuan. Barang siapa berilmu maka dia harus berbuat, tidak ada faedahnya ilmu yang tidak diamalkan.[10]
Dan Rasulullah juga menjelaskan orang yang berilmu dan beramal harus berdasarkan akalnya, karena berbuatan berbuatan manusia akan di balas berdasarkan akalnya.

4. REFLEKSI HADIS DALAM KEHIDUPAN

Allah SWT telah memberikan kenikmatan kepada kita semua, salah satunya dengan akal, dengan akal manusia dapat menjalankan kehidupan. Akal merupakan landasan amal perbuatan manusia, sehingga jika kita melakukan sesuatu hendaknya dipikir apakah berbuatan itu baik atau tidak. Karena setiap perbuatan baik atau buruk itu dipengaruhi oleh akal.
Kita juga harus menggunakan akal kita untuk mencari ilmu, baik itu ilmu pengetahuan untuk urusan dunia maupun urusan akhirat, Mengkaji ilmu itu merupakan pekerjaan yang mulia karenanya maka orang yang keluar dari rumahnya untuk mengkaji dan mencari ilmu dengan di landasi iman kepada Allah, maka semua yang ada di bumi berdoa untuknya. [11]
Maka kita sebagi umat islam baik itu laki-laki maupun perempuan diharuskan mencari ilmu, agar bisa menghadapi segala permasalahan yang terjadi dilingkungan sekitar.
Dan kita hidup sebagai makhluk sosial hendaknya harus saling tolong menolong, salah satunya dengan beramal, meringankan beban sesama, baik berupa harta benda, tenaga dan pikiran. Jika kita beramal harus berdasarkan akal dan ilmu, karena jika tidak amal kita akan sia-sia.

5. ASPEK TARBAWI
1.      Manusia hendaknya menggunakan akal dengan baik agar mampu berpikir, sehingga mampu membedakan antara yang bahaya dan yang bermanfaat.
2.      Manusia diwajibkan untuk mencari Ilmu untuk menghilangkan kebodohan, serta dengan Ilmu kita dapat mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.
3.      Mencari Ilmu dengan niatan mencari ridla Allah SWT, dengan didasari rasa Keimanan.
4.      Seberapapun Ilmu yang kita miliki hendaknya diamalkan agar ilmu yang kita miliki bermanfaat.

6. PENUTUP
Al-Quran menyatakan adanya potensi akal pada seluruh manusia. Hanya saja tingkat akal mereka dan metode pemakaiannya berbeda beda.
Ilmu dapat membedakan nilai manusia di hadapan Allah SWT. Allah telah membedakan antara orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu, karena dengan ilmunya orang akan dapat memikirkan semesta dengan segala ke-Mahakuasaan pencipta-Nya.
Dengan berilmu seseorang dapat beramal, Segala amalan atau berbuatan manusia harus berdasarkan ilmu. maka dari itu Akal, Ilmu dan Amal saling keterkaitan. Akal digunakan untuk mencari ilmu, dan dengan adanya ilmu manusia dapat beramal.



















DAFTAR PUSTAKA

Majid Khon, Abdul. 2008. Ulumul Hadits. Jakarta: Amzah.
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. 1994. Ensiklopedia Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Munir, Ahmad. 2008. Tafsir Tarbawi. Yogyakarta: Teras.
IAIN SYARIF HIDAYATULLAH. (Tanpa Tahun). Ensiklopedia Islam Indonesia Jilid 1 A-H. Jakarta: Djambatan.
Juwariyah. 2010. Hadits Tarbawi. Yogyakarta: Teras.
Al-Masawi, Khalil. 2000. Bagaimana menjadi orang bijaksana: resep-resep mudah meraih hikmah dalam kehidupan. (edisi terjemahan oleh Ahmad Subandi). Jakarta: Lentera.
Az-Zabalawi, Muhammad sayyid Muhammad. 2007. Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa. ( edisi terjemahan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, Uqinu Attaqi, dan Mujiburrahman Subadi). Jakarta: Gema Insani Press.
Qardhawi, Yusuf. 1998. Sunnah Rasul sumber ilmu pengetahuan dan peradaban. ( edisi terjamahan oleh Abdul Hayyie Al-Kattanie, dan Abduh Zulfidar). Jakarta: Gema Insani Perss.











PROFIL PENULIS
 


                                                       Nama: UNI KHOMSIATUN
Ttl: Pemalang 11 Januari 1995
Alamat: Ds. Karanganyar, kel. Mendelem- Belik -Pemalang
Riwayat Pendidikan:
§  SDN 02 Mendelem
§  SMP ISLAM Comal
§  SMA NEGERI 01 BELIK
§  Pendidikan yang sedang di tempuh STAIN pekalongan.
Motto:
Yang penting bukan berapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita hidup.









[1]  Muhammad Sayid Muhammad az-Za’balawi, Pendidikan Remaja antara Islam dan Jiwa, alih bahasa Abdul Hayyie al-Kattini, Uqinu Attaqi, Mujiburrahman Subadi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2007), hlm. 46-47.
[2]  Juwariyah, Hadis Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm.139.
[3]  IAIN SYARIF HIDAYATULLAH, Ensiklopedia Islam Indonesia Jilid 1 A-H, (Tanpa Kota Terbit: Djambatan, Tanpa Tahun Terbit), hlm. 77.
[4]  Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), hlm. 131.
[5]  Yusuf Qardhawi, Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, alih bahasa Abdul Hayyie Al-Kattanie, Abduh Zulfidar, (Jakarta: Gema Insani, 1998), hlm.147.
[6]  Muhammad Sayid Muhammad az-Za’balawi, op.cit., hlm.53.
[7]  Juwairyah, op. cit., hlm. 140.
[8]  Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi: Mengungkap al-Quran tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 154-155.
[9] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, (Jakarta: Amzah, 2008), hlm. 252-254.
[10]   Khalil Al-Musawi, Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana: Resep-Resep Mudah dan Sederhana Meraih Hikmah dalam Kehidupan, alih bahasa Ahmad Subandi, (Jakarta: Lentera, 2000), hlm. 70.
[11]  Juwairiyah, op.cit, hlm. 141.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar