Laman

Rabu, 16 September 2015

spi G 2


SEJARAH PERADABAN ISLAM
(Peradaban Islam Masa Khulafaurrasyidin)


 
Kelas PAI/G
1.    Ika Nova Sulistyani                   (2021112044)
2.    Nurul Hidayah                          (2021114012)
3.    Nikko Ajie Pratama                   (2021114118)



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2015


KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat serta inayah-Nya kepada kami, sehingga makalah yang berjudul “Sejarah Peradaban Islam(Peradaban Islam Masa Khulafaurrasyidin)” ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan  nabi kita, Nabi Muhammad SAW serta kepada keluarga dan  sahabatnya.
Makalah ini membahas mengenai sejarah peradaban islam,perkembangan islam setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, yang dimana dakwah beliau dilanjutkan oleh para sahabat,yakni Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan Ali Bin Abi Thalib, yang dari masing-masing sahabat tersebut menorehkan tinta emas bagi kemajuan Umat Islam untuk saat ini,sebagai pembelajaran kedepan bagi umat manusia pada umumnya,dan umat Islam pada khususnya.
Dengan demikian, Penulis telah berupaya menyajikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, meskipun tidak komprehensif. Di samping itu, apabila dalam makalah ini di dapati kekurangan dan kesalahan, baik dalam pengetikan maupun isinya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran pembaca guna penyempurnaan penulisan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amiin yaa rabbal’alamin.

 Pekalongan,7 September 2015

 Penulis



DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................ .... i
Daftar Isi .........................................................................................................      ii  
BAB   I     PENDAHULUAN ........................................................................... 1  
A.       Latar Belakang Masalah................................................................ .... 1  
B.       Rumusan Masalah .........................................................................      2
C.       Metode Pemecahan Masalah ........................................................ .... 2  
D.       Sitematika Penulisan Makalah ........................................................... 2  

BAB II      PEMBAHASAN ......................................................................... .... 3   
A.       Masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq (11-13 H/632-634 M)........ .... 3  
B.       Masa Khalifah Umar Bin Khattab (13-23 H/634-644 M)............. .... 6  
C.       Masa Khalifah Utsman Bin Affan (23-36 H/644-656 M)............. .... 9
D.       Masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib (36-41 H/656-661 M)              .... 11
E.        Kemajuan Peradaban pada Masa Khulafaur Rasyidin                   ....      13

BAB III     PENUTUP       ............................................................................. .... 16
A.       Kesimpulan  ....................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------------ --- 17


 
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-Hadharah al-Islamiyyah. Kata arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Kebudayaan Islam. “Kebudayaan”dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di arab dan barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata “Kebudayaan” (Arab al-Tsaqafah;Inggris,culture) dan “Peradaban” (Arab al-Hadharah; Inggris,Civilization). Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang. Kedua istilah itu di bedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan,manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan perdaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi(agama), dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi, dan teknologi. 
Perkembangan Islam pada Para Sahabat, terkhusus pada zaman khalifah empat atau yang lebih terkenal dengan sebutan Khulafaurrasyidin, islam berkembang pesat dimana hampir 2/3 bumi yang kita huni hampir dipegang dan dikendalikan oleh islam. Hal itu tentunya tidak terlepas dari para pejuang yang sangat gigih dalam mempertahankan dan juga dalam menyebarkan Islam sebagai agama Tauhid yang diridhoi. Perkembangan Islam pada zaman inilah merupakan titik tolak perubahan peradaban kearah yang lebih maju. Maka tidak heran para sejarawan mencatat bahwa Islam pada zaman Nabi Muhammad dan Khulafaur- Rasyidin merupakan Islam yang luar biasa pengaruhnya.
Dewasa ini menjadi sangat penting untuk kita kaji dan diterapkan pada era sekarang, yang dimana Nabi dan para sahabatnya serta para ulama dan tabi’in membawa Islam kepada kejayaan. Kesejahteraan dan persamaan hak yang wajib dijunjung umat manusia dalam beragama,berbangsa,dan bernegara.
Merefleksi hal tersebut, maka menjadi penting untuk mengkaji ilmu Sejarah Peradaban Islam bagi masyarakat umumnya, untuk mencapai kesempurnaan dalam ibadah maupun berkehidupan. Dengan kata lain, makalah ini berupaya memberikan stimulus pemahaman mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya tentang Sejarah Peradaban Islam.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.      Peradaban Islam Masa Abu Bakar Ash-shiddiq?
2.      Peradaban Islam Masa Umar Bin Khattab ?
3.      Peradaban Islam Masa Utsman Bin Affan ?
4.      Peradaban Islam Masa Ali Bin Abi Thalib ?
5.      Apa saja Kemajuan Islam pada Peradaban Khulafaurrasyidin?
C.  Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang di bahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya di mulai dengan menentukan masalah yang akan di bahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
D.  Sitematika Penulisan Makalah
Makalah ini di tulis dalam tiga bagian, meliputi : Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan.







BAB II
PEMBAHASAN

A.  Masa Abu Bakar Ash-shiddiq ra. (11-13H / 632-634M)
a)   Biografi Singkat
Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At-Tamimi. Di zaman pra Islam bernama Abdul ka’bah, kemudian diganti oleh nabi menjadi Abdullah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama. Dijuluki Abu Bakar karena dari pagi-pagi betul (orang yang paling awal) memeluk Islam. Gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai peristiwa, terutama Isra’ dan Mi’raj.[1]
Menjelang wafatnya Nabi Muhammad Saw dan saat beliau sakit, Abu Bakar ditunjuk oleh beliau sebagai penggantinya untuk mengimami shalat. Boleh jadi, ini sebuah indikasi bahwa nabi ingin menunjuk Abu Bakar sebagai penganti beliau.
Tercatat dalam sejarah, Abu Bakar adalah sahabat yang senantiasa membela Nabi Muhammad Saw. Tatkala beliau disakiti oleh kaum Quraisy dan satu-satunya sahabat yang menemani perjalanan nabi ketika hijrah ke Madinah. Abu bakar adalah sahabat nabi yang selalu membantu kaum yang lemah dan memerdekaakan budak, sebagaimana yang dilakukannya terhadap Bilal bin Rabah.
Pengabdian Abu Bakar untuk Islam sangatlah besar. Beliau menyerahkan harta bendanya demi kepentingan Islam serta mengajak beberapa sahabatnya masuk Islam, seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf.[2]
b)   Perkembangan Islam pada Masa Abu Bakar Ash-shiddiq
Pada tahap pertama,  khalifah Abu Bakar menaklukan persia. Pada bulan Muharram tahun 12 H (6333 M), ekspedisi ke luar jazirah Arabia dimulai. Musanna dan pasukannya dikirim ke Persia menghadapi perlawanan sengit dari tentara kerajaan Persia. Karena pasukan  lawan tangguh, khalifah Abu Bakar segera memerintahkan Khalid bin Walid  yang sedang berada di  Yamamah untuk membantu Musanna. Gabungan kedua pasukan ini segera bergerak menuju wilayah  Persia. Kota Ubullah yang terletak di pantai Teluk Persia, segera diserbu. Pasukan Persia berhasil diporak-porandakan. Perang ini dalam sejarah Islam disebut dengan Mauqi’ah Zat as-Salasil artinya peristiwa untaian rantai.
Pada tahap kedua, khalifah Abu Bakar berupaya menaklukan kerajaan  Romawi dengan membentuk empat barisan pasukan.  Masing-masing kelompok dipimpin seorang panglima dengan tugas menundukkan daerah yang telah ditentukan. Keempat kelompok tentara dan panglimaitu adalah:
1)   Abu Ubaidah bin Jarrah bertugas di daerah Homs, Suriah Utara, dan Antiokia,
2)   Amru bin Ash mendapat perintah untuk menaklukan wilayah Palestina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi Timur,
3)   Syurahbil bin Syufyan diberi wewenang menundukkan Tabuk dan Yordania, dan
4)   Yazid bin Abu Syufyan mendapat perintah untuk menaklukan Damaskus dan Suriah Selatan.
Perjuangan pasukan muslim ini terus berlangsung ketika khalifah Abu Bakar wafat. Perjuangan untuk menaklukan Persia dan Romawi baru tuntas pada masa kekhalifahan Umar  bin Khathab.[3]
c)    Pola pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra.
Adapun pola pemerintahan yang dilakukan oleh abu bakar adalah :
1.    Pemerintahan berdasarkan Musyawarah
Apabila terjadi suatu masalah, abu bakar ra. selalu mencari hukumnya dalam kitab Allah. Jika beliau tidak memperolehnya maka beliau mempelajari bagaimana Rasul bertindak dalam suatu masalah. Dan jika tidak menemukan apa yang dicari, beliaupun mengumpulkan tokoh-tokoh terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah.
2.    Kedudukan Baitul Mal
Abu Bakar ra. dan para sahabat Nabi Saw berpendapat bahwa Baitul Mal adalah amanat dari Allah dan masyarakat kaum muslimin. Karena itu mereka tidak mengizinkan pemasukan sesuatu kedalamnya dan pengeluaran sesuatu darinya yang berlawanan dengan apa yang telah ditetapkan oleh syari’at. Mereka mengharamkan tindakan penguasa yang menggunakan Baitul Mal untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi.
3.    Konsep Pemerintahan
Abu Bakar ra. mengajak kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun umat (bangsa) dan negara berdasarkan ajaran Islam. Beliau tidak bisa bekerja sendiri tanpa keikutsertaan pendukungnya, dan sebagai manusia tentu tidak lepas dari salah dan khilaf karena itu beliau minta ditegur kalau memang perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran Islam, namun beliau juga tidak gentar menghadapi musuh-musuh yang menentang Islam.
4.    Kekuasaan Undang-undang
Abu Bakar tidak pernah menempatkan diri beliau diatas undang-undang. Beliau juga tida pernah memberi sanak kerabatnya (kaum keluarganya) suatu kekuasaan yang lebih tinggi dari undang-undang. Dan mereka itu di hadapan undang-undang adalah sama seperti rakyat yang lain, baik kaum muslim maupun non muslim. Beliau sangat menjunjung tinggi keadilan, dan hukum dilaksanakan tanpa pandang bulu yang bersalah tetap harus dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku, dalam hal ini adalah hukum Islam.
Dengan pola pemerintahan yang demikian, Daulah Islamiyah yang telah di bangun oleh Nabi Muhammad Saw dan dilanjutkan oleh khalifah pertama dalam Khulafaur Rasyidun, khalifah Abu Bakar ra. menjadi aman tentram, adil dan makmur dan menjadi dasar bagi pemerintahan kekhalifahan selanjutnya.[4]
d)   Berakhirnya Masa Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Sebelum wafat, khalifah Abu Bakar berwasiat, sebagai penggantinya kelak, beliau menunjuk Umar bin Khathab. Penunjukan ini dilakukan setelah beliau bermusyawarah dan meminta pendapat dari sahabat senior, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan beberapa sahabat yang lain.
Setelah 15 hari menderita penyakit, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq wafat pada 21 Jumadil Akhir tahun 13 H, bertepatantanggal 22 Agustus tahun 634 M. Beliau memerintah selama 2 tahun 3 bulan 10 hari, dan dikebumikan di kamar Aisyah, disamping makam sahabatnya yang mulia, Nabi Muhammad Saw.
B.  Masa Umar Bin Khattab ra. (13-23H / 634-644M)
a)   Biografi Singkat
Umar bin Khathtab nama lengkapnya adalah Umar bin khathtab bin Nufail keturunan Abdul Uzza Al-Quraisy dari suku Adi; salah satu suku yang terpandang mulia. Umar dilahirkan di Makkah empat tahun sebelum kelahiran Nabi Saw. Ia adalah seorang yang berbudi luhur, fasih dan adil serta pemberani.[5]
Terpilihnya Umar bin Khaththab sebagai khalifah, berbeda dengan pendahulunya, Abu Bakar. Ia mendapatkan  mandat kepercayaan sebagai khalifah kedua tidak melalui pemilihan dalam suatu forum musyawarah terbuka, tetapi melalui penunjukan atau wasiat oleh pendahulunya. Abu Bakar sebelum meninggal pada tahun 634 M /13 H telah menunjuk Umar sebaagai penggantinya.[6]
Meskipun peristiwa diangkatnya Umar sebagai khalifah itu merupakan fenomena yang baru, tetapi haruslah dicatat bahwa proses peralihan kepemimpinan tetap dalam bentuk musyawarah. Yaitu berupa usulan atau rekomendaasi dari Abu Bakar yang diserahkan kepada persetujuan umat Islam.[7]
b)   Perkembangan Islam pada Masa Khalifah Umar bin Khattab
                          I.  Bidang Militer
Pada saat Umar bin Khatab menjabat sebagai khalifah, beberapa gelombang ekspansi perluasan wilayah dilakukan. Berikut uraiannya:
1)   Perluasan Islam ke Syiria dan jatuhnya Kota Damaskus
2)   Jatuhnya Kota Baitul Maqdis
3)   Pengembangan Islam di Persia (Iran)
4)   Penyebaran Islam di Mesir
                     II.     Bidang Politik
Dalam masa pemerintahannya, Khalifah Umar bin khalifah telah membentuk sebuah lembaga yang bernama ahlul hall wal aqdi atau lembaga penengahan dan pemberi fatwa. Lembaga ini terdiri atas wakil-wakil rakyat yang duduk sebagai anggota majelis syura, yang terdiri dari alim ulama dan kaum cendekiawan yang menjadi pemimpin-pemimpin rakyat dan dipilih atas mereka.
                    III.  Bidang Ekonomi
Selama masa kepemerintahannya, ada beberapa kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Khalifah  Umar terkait bidang ekonomi. Diantaranya:
1)   Al Kharaj
Sebelum Umar menjabat sebagai khalifah, kaum muslimin diberi hak menguasai tanah dan segala sesuatu yang didapat dengan berperang.  Umar mengubah peraturan ini, tanah-tanah itu harus tetap dalam tangan pemiliknya semula, tetapi bertalian dikenakan pajak tanah (al kharaj).
2). Ghanimah
Semua harta rampasan perang (ghanimah), dimasukkan ke dalam baitul Mal sebagai salah satu pemasukan negara untuk membantu rakyat. Ketika itu, peran diwanul jund, sangat berarti dalam mengelola harta tersebut.
3). Pemerataan zakat
Selama masa kepemimpinannya, khalifah Umar bin Khatab melakukan pemerataan terhadap rakyatnya dan meninjau kembali bagian-bagian zakat yang diperuntukkan kepada orang-orang yang diperjinakkan haatinya (al-muallafatu qulubuhum).[8]
c)    Kebijakan Umar Bin Khattab ra.
Umar Bin Khattab dalam menjalankan roda pemerintahan di samping melanjutkan kebijakan Abu Bakar As-Siddiq ra. juga menunjuk Zaid Bin Tsabit dan Abdullah Bin Arqam sebagai sekretarisnya dan juga melakukan pembaharuan-pembaharuan. Secara umum pembaharuan yang dilakukan Umar Bin Khattab antara lain adalah dalam menata pemerintahan beliau membentuk departemen-departemen (diwan) dengan mengadopsi model persia. Tugas diwan adalah menyampaikan perintah dari pemerintah pusat ke daerah-daerah dan menyampaikan laporan tentang perilaku dan tindakan-tindakan penguasa daerah kepada khalifah. Lembaga-lembaga yang dibentuk antara lain bertugas sebagai lembaga penengah dan pemberi fatwa atau di sebut ahlul hal wal’aqdi, antara lain:
a.         Majelis Syura (Diwan Penasihat)
b.        Al-Katib (Sekretaris Negara)
c.         Nidzamul Maly (Departemen Keuangan)
d.        Nidzamul Idary (Departemen Administrasi)
e.         Diwanul Jund (Departemen Kepolisian)
f.         Departemen Pendidikan dan lain-lain.[9]
d)   Berakhirnya Kepemimpinan Umar Bin Khattab
Masa kepemimpinan Umar bin Khatab berlangsung selama 10 tahun 6 bulan, yaitu dari tahun 13 H/634 M sampai tahun 23 H/644 M. Ia wafat pada usia 64 tahun.[10] Umar bin khathab dibunuh seorang budak yang bernama Abu Lu’lu’ah[11] ketika Umar hendak  berjamaah shalat Subuh di Masjid Nabawi. Meninggal pada 25 Dzulhijjah 23 H. Dalam kepemimpinannya yang terakhir beliau menunjuk 6 sahabat untuk dicalonkan sebagaai pengganti. Mereka adalah Utsman ibn Affan, Ali  ibn Thalib, Zubair ibn al-Awwan, Sa’ad ibn Abi Waqash, Abdurrahman ibn Auf, Thalhah ibn Ubaidillah.[12] Sepeninggal Umar ibn Khathab,mereka inilah yang bermusyawarah dan akhirnya menunjuk Usman ibn Affan sebagai khalifah umat Islam, menggantikan Umar ibn Khathab.


C.  Masa Utsman Bin Affan ra (23-36H / 644-656M)
a)   Biografi Singkat
Bahwa setelah meninggalnya Umar ibn Khathtab, Usman ibn Affan yang menggantikan kedudukan  Umar sebagai khalifah umat islam berdasarkan musyawarah sejumlah sahabat senior.[13]
   Utsman ibn Affan memiliki nama lengkap Utsman bin Abdilllah bin Umayyah bin Syams bin Abdi Manaf bin Qushayi. Ia dilahirkan pada tahun 574 M di Thaif. Ibunya adalah Urwah, putri ummu Hakim al-Baidha, keturunan Abdul Muthalib. Ayahnya, Affan, adalah seorang saudagar yang kaya raya dari suku Quraisy Umayyah.nasab Utsman melalui garis ibunya bertemu dengan nasab Nabi Muhammad Saw. Pada Abdi Manaf bin Qushayi.[14] Kalau Usman bersambung melalui Umayah ibn Abdi Syams ibn Abdi Manaf. Baik suku Umayah maupun suku Hasyim sejak sebelum Islam sudah mengadakan persaingan dan permusuhaan yang sangat keras. Setelah Islam, nabi berusaha mendamaikan kedua suku maupun suku-suku lain melaluiikatan perkawinan dan juga melancarkan dakwah Islam[15].
b)   Perkembangan Islam pada Masa Khalifah Utsman Bin Affan
pada kepemimpinannya, Khalifah Utsman bin Affan banyak menghadapi masalah politik yang cukup serius. Masa enam tahun pertama kebijakannya berjalan cukup baik. Akan tetapi, masa enam tahun terkhir terjadi banyak peristiwa yang berdampak negatif bagi pemerintahannya.
Meskipun demikian, cukup banyak keberhasilan yang dicapai oleh Khalifah Utsman dalam mengembangan dan penyebaran Islam. Berikut beberapa capaian pada masa pemerintahannya:
1.    Pembukuan Al-Qur’an
Salah satu karya monumental yang dipersembahkan khalifah Utsman kepada umat Islam adalah penyusunan kitab suci al-Qur’an. Maksud dari penyusunan itu ialah untuk mengakhiri perbedaan-perbedaan serius dalam bacaan al-Qur’an. Penyeragaman bacaan dilakukan karena pada masa Nabi Muhammad Saw,beliau memberikan kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab untuk membaca dan menghafalkan al-Qur’an sesuai lahjah (dialek) masing-masing.seiring bertambah luasnya wilayah Islam dan banyaknya bangsa-bangsa yang memeluk Islam, pembacaanpun menjadi semakin bervariasi. Akhirnya, sahabat Huzaifah  bin Yaman mengusulkan kepada Utsman untuk menyeragamkan bacaan.
2.    Perluasan Islam pada Masa Khalifah Utsman Bin Affan
Setelah kepemimpinan Umar bin Khatab, umat Islam berada dalam keadaan yang makmur dan sejahtera, kawasan dunia muslim pun bertambah luas. Khalifah Umar berhasil menciptakan stabilitas sosial politik di dalam negri sehingga ia dapat membagi perhatiannya untuk memperluas wilayah Islam. Ketika Utsman menjabat sebaagi khalifah, ia meneruskan sebagian besar garis politik Umar. Ia melakukan berbagai ekspedisi untuk mendapatkan wilayah-wilayah baru.
Pada masa pemerintahannya, khalifah Utsman berhasil menaklukan negri Tabaristan yang dipimpin oleh Said bin Ash. Dikisahkan bahwa dalam penaklukkan ini, kedua putra Ali bin Abi Thalib, yaitu Hasan dan Husain juga turut serta. Selain itu, ada pula Abdullah bin Abbas, Amru bin Ash, dan Zubair bin Awwam.
Saat itu pasukan muslim juga berhasil menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah yang telah berada di bawah kekuasaan Islam pada zaman khalifah Umar.[16]
c)    Berakhirnya Kepemimpinan Utsman Bin Affan
Situasi politik pada masa akhir pemerintahan Utsman semakin mencekam dan timbul pemberontakan-pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Utsman. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada tanggal  17 Dzulhijah 35 H/655 M. Ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Qur’an. Persisi seperti yang disampaikan Rasulullah Saw. Perihal kematian Utsman yang syahid nantinya. Beliau dimakamkan di perkuburan Baqi Madinah.[17]
D.  Masa Ali Bin Abi Thalib ra. (36-41H / 656-661M)
a)   Biografi Singkat
Ali adalah putra Abi Thalib ibn Abdul Muthalib, ia adalah sepupu Nabi Muhammad Saw. Ali diangkat sebagai khalifah dalam situasi politik yang kurang mendukung. Peristiwa pembunuhan terhadap khalifah Usman ibn Affan mengakibatkan kegentingan diseluruh dunia Islam yang waktu  itu sudah membentang sampai  ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali ibn Abi Thalib sebagai Khalifah, waktu itu Ali berusaha menolakm tetapi Zubair ibn Awwan dan Thalhah ibn Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali  menerima baiat mereka. Menjadikan Ali  satu-satunya khalifah yang dibaiat secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda.[18]
Kalau Abu Bakar diangkat melalui musyawarah terbuka di Tsaqifah bani Saidah, Umar bin Khatab melalui “penunjukan pendahulunya, Utsman bin Affan melalui Majlis al-Syura yang dibentuk Umar, sedang Ali dipilih menjadi khalifah dalam suasana yang kacau dan tidak banyak melibatkan sahabat senior.[19]
b)   Perkembangan Islam pada Masa Ali bin Abi Thalib RA
Tipe kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dalam menjalankan roda kekhalifahannya hampir sama dengan kepemimpinan Umar, yaitu keras, ddisiplin dan berani. Dalam menjalankan kebijakan perekonomian, Ali, sebagaimana juga para khalifah sebelumnya, pemunggutan zakat dan pajak-pajak mendapatkan perhatian utama. Cara-cara ini dianggap  mulai mengancam kesenangan dan kenikmatan khalifah Utsman lebih dan lunak.  Akibatnya, banyak golongan yang tidaak menyukai Ali.
   Sebagaimana kita ketahui Ali menjadi khalifah di tengah situasi yang kacau  dan penuh konflik. Bahkan, putranya mengkritik Ali karena mau dibaiat menjadi khalifah. Namun, inilah panggilan hati dari Ali untuk memperjuangkan kebenaran dan demi tegaknya syiar Islam.[20]Beberapa pertikaian dan pemberontakan yang terjadi pada masa Khalifah Ali :
1)      Perang Jamal
2)      Perang Shiffin
3)      Perang Nahrawan
c)    Berakhirnya Kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pemerintah Khalifah Ali banyak dipenuhi dengan pemberontakan. Saat itu, banyak kaum muslim yang membangkang, pelanggaran hukum dan berita perampasan, serta teror dan pembunuhan terjadi dimana-mana.[21]
Khalifah Ali bin Abi Thalib meninggal pada tanggal 20 Ramadhan 40 H atau 24 januari 660 M. Ia gugur sebagai syahid pada usia 63 tahun.jenazahnya dimandikan oleh putranya, Hasan dan Husain. Dengan meninggalnya Ali, maka berakhir kepemimpinannya yang memerintah selama hampir 6 tahun. Dan juga berakhirlah masa pemerintahan Khulafaur Rasyidun, digantikan dengan daulah bani umayyah. Wafatnya Ali ibnu Abi Thalib situasi umat islam terpecah menjadi tiga golongan yaitu :
1.      Jumhur Al-Muslimin pendukung Mu’awiyah
2.      Syiah yang tetap mencintai Ali dan keluarganya serta menentang keras terhadap Mu’awiyah
3.      Khawarij yang marah dan dendam terhadap Utsman, Ali dan Mu’awiyah.[22]
Secara garis besar pemerintahan Khulafaur Rasyidun dapat dikatakan pemerintahan yang dilaksanakan secara langsung. Rakyat dapat langsung berhubungan dengan khalifah. Khalifah di samping sebagai pemimpin negara juga pemimpin agama. Wilayah kekuasaan dibagi menjadi pemerintahan pusat yang berkedudukan di ibu kota sedang pemerintahan daerah berdomisili di daerah-daerah terbagi atas propinsi dan distrik. Tiap wilayah propinsi diperintah oleh seorang gubernur dengan sebutan amil. Fungsi pemerintahan propinsi yaitu menata administrasi politik, pengumpulan pajak, dan pemimpin agama. Hal ini berbeda dengan pemerintahan daulah Bani Umayyah. [23]
E.  Kemajuan Peradaban Islam pada Masa Khulafaurrasyidin
Masa kekuasaan khulafaurrasyidin yang dimulai sejak Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga Ali bin Abi Thalib , merupakan masa kekuasaan khalifah Islam yang berhasil dalam mengembangkan wilayah islam lebih luas. Nabi Muhammad Saw yang telah meletakkan dasar agama Islam di Arab , setelah beliau wafat , gagasan dan ide-idenya diteruskan oleh para khulafaur rasyidin. Pengembangan agama islam yang dilakukan pemerintahan khulafaur rasyidin dalam waktu yang relatif singkat telah membuahkan hasil yang gilang gemilang. Dari hanya wilayah  arabia , ekspansi kekuasaan Islam menembus ke luar Arabia memasuki wilayah-wilayah Afrika , Syiria, Persia , bahkan menembus ke Bizantium  dan Hindia.
Pada masa kekuasaan para khulafaurrasyidin , banyak kemajuan peradaban telah dicapai. Diantaranya adalah munculnya gerakan pemikiran islam. Diantara gerakan pemikiran yang menonjol pada masa khulafaur rasyidin adalah sebagai berikut.
1.    Menjaga keutuhan Alquran Al Karim dan mengumpulkannya dalam bentuk mushaf pada masa Abu Bakar.
2.    Memberlakukan mushaf standar pada masa Utsman bin Affan.
3.    Keseriusan mereka untuk mencari serta mengajarkan ilmu dan memerangi kebodohan berislam para penduduk negeri. Oleh sebab itu, para sahabat pada masa Utsman dikirim ke berbagai pelosok untuk menyiarkan Islam. Mereka mengajarkan AlQuran dan As Sunnah kepada banyak penduduk negeri yang sudah dibuka.
4.    Sebagian orang yang tidak senang kepada Islam, terutama dari pihak orientalis abad ke -19 banyak yang mempelajari fenomena futuhat al –islamiyah dan menafsirkannya dengan motif ekonomi, yaitu mencari dan mengeruk kekayaan negeri yang ditundukkan. Interpretasi ini tidak sesuai dengan kenyataan sejarah yang berbicara bahwa berperangnya sahabat adalah karena iman yang bersemayam di dada mereka.
5.    Islam pada masa awal tidak mengenal pemisahan antara dakwah dan negara , antara da’i maupun panglima. Tidak dikenal orang yang berprofesi khusus sebagai da’i. Para khalifah adalah penguasa  , imam shalat , mengadili orang yang berselisih , da’i, dan juga panglima perang.
Disamping itu, dalam hal peradaban juga terbentuk organisasi negara atau lembaga-lembaga yang dimiliki pemerintahan kaum muslimin. Organisasi negara tersebut telah dibina lebih sempurna, telah dijadikan sebagai suatu nizham yang mempunyai alat-alat perlengkapan dan lembaga-lembaga menurut ukuran zamannya telah cukup baik.
Dr. Hasan Ibrahim dalam bukunya “tarikh Al-Islam As-Siyasi”, menjelaskan bahwa oranisasi-oraganisasi atau lembaga-lembaga negara yang ada pada masa khulafaur rasyidin, di antaranya sebagai berikut.
1.    Lembaga politik
Termasuk dalam lembaga politik khilafah (jabatan kepala negara) , wizarah (kementrian negara), dan kitabah (sekretaris negara)
2.    Lembaga Tata Usaha Negara
Termasuk dalam urusan lembaga tata usaha negara, idaratul aqalim (pengelolaan pemerintah daerah) dan diwan (pengurusan departemen) seperti diwan kharaj (kantor urusan keuangan),diwan rasail (kantor urusan arsip),diwanul barid (kantor urusan pos), diwan syurthah (kantor urusan kepolisian) dan departemen lainnya.
3.    Lembaga Keuangan Negara
Termasuk dalam lembaga keuangan negara adalah urusan-urusan keuangan dalam masalah ketentaraan, baik angkatan perang maupun angkatan laut, serta perlengkapan dan persenjataannya.






4.    Lembaga Kehakiman Negara
Termasuk dalam lembaga kehakiman negara, urusan-urusan mengenai Qadhi (pengadilan negeri), Madhalim (pengadilan banding), dan Hisaba (pengadilan perkara yang bersifat lurus dan terkadang juga perkara pidana yang memerlukan pengurusan segera.[24]
















BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Islam pada Masa Kekhalifahan para sahabat berkembang pesat, hampir sebagaian wilayah dunia dikuasai oleh kaum muslimin, banyak kemajuan peradaban telah di capai, seperti gerakan pemikiran dalam islam di samping itu juga adanya organisasi negara ataupun lembaga-lembaga yang dimiliki kaum muslimin, sebagai pendukung untuk kemashlahatan kaum muslimin.
Namun disisi lain juga, dalam masa kekhalifahan para sahabat banyak terjadi fitnah dan pemberontakan kaum kafir ataupun kaum muslim yang murtad akibat tidak senangnya pada pemerintahan para sahabat Nabi tesebut. Namun itu semua dapat diatasi para sahabat mulia Nabi Muhammad Saw.



















DAFTAR PUSTAKA

Al-Azizi,Abdul Syukur.2014,Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap.Jogjakarta:Saufa.
Amin,Samsul Munir.2010,Sejarah Peradaban Islam.Jakarta:Amzah.
Faktikhah.2011,Sejarah Peradaban Islam.Pekalongan:STAIN Pekalongan Press.
Fuadi,Imam.2011,Sejarah Peradaban Islam.Jogjakarta:Teras.
Karim, Abdul.2011,Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam.Jogjakarta:Bagaskara.
Syukur,Fatah.2009,Sejarah Peradaban Islam.Semarang:Pustaka Rizki Putra.





















BIOGRAFI PENULIS
Nama              : IKA NOVA SULISTYANI
NIM                : 2021112044
TTL                : PEKALONGAN, 25 NOV 1993
ALAMAT      : Ds. API-API KEC. WONOKERTO KAB PEKALONGAN

NAMA           : NURUL HIDAYAH
NIM                : 2021114012
TTL                : PEKALONGAN, 5 NOV 1996
ALAMAT      :DS KALIBELUK WARUNG ASEM BATANG

NAMA           : NIKKO AJIE PRATAMA
NIM                : 2021114118
TTL                : PEKALONGAN, 1 MEI 1995
ALAMAT      : DS. TANJUNG RT I/ RW 3 TIRTO, KAB PEKALONGAN



[1] Samsul Munir. Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: AMZAH, 2010), hlm.93
[2] Abdul Syukur al-Azizi. Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap, (Jogjakarta: Saufa, 2014), hlm.63-64
[3] Abdul Syukur al-Azizi,Ibid,hlm.77-78
[4] Fatikhah,Sejarah Peradaban Islam,(Pekalongan:STAIN Pekalongan Press,2011),hlm.113-114
[5] Samsul Munir amin, Op Cit, hlm. 98
[6] Imam Fu’adi. Sejarah Peradaban Islam,(Yogyakarta: Penerbit Teras, 2011), hlm.32
[7] Fatah Syukur. Sejarah Peradaban Islam,(Semarang:Pustaka Rizki Putra, 2009), hlm.52
[8] Abdul syukur,Op Cit, hlm.83-92
[9] Fatikhah,Op Cit,hlm.119-120.
[10]Abdul Syukur al-Azizi,Ibid, Hlm.93
[11]Imam Fu’adi, Op Cit, Hlm.43
[12]Fatah Syukur,Op Cit, Hlm. 54
[13] Imam Fu’adi,Ibid, hlm.43
[14] Abdul syukur,Op Cit, Hlm94
[15] Abdul karim,Sejarah pemikiran dan peradaban Islam,(Yogyakarta:Bagaskara,2011),hlm. 89-90
[16] Abdul syukur,Op Cit, hlm.97-99
[17] Fatah syukur, Op Cit,hlm57
[18] Fatah Syukur,Loc Cit, Hlm. 57
[19] Imam fuadi,Op Cit, Hlm.58
[20] Abdul syukur,Op Cit, hlm.109
[21] Abdul syukur,Ibid,hlm. 128
[22] Fatikhah,Op Cit,hlm.159.
[23] Fatikhah,Ibid, hlm. 159.
[24] Samsul Munir Amin,Op Cit, hlm. 113-116.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar