Laman

new post

zzz

Selasa, 06 Oktober 2015

spi G 5



DINASTI-DINASTI LAIN DI DUNIA ISLAM
 
Disusun oleh :
 Winda  Ita mashita             
 Siti Hufriyah        Sahrul Kirom                   

KELAS : PAI G

PRODI PAI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN )PEKALONGAN
2015




KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim.
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat serta karuniaNya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Dinasti-dinasti lain didunia islam ”.
Adapun maksud dari pembuatan makalah ini adalah guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam semester III Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Pekalongan tahun akademik 2015.
Dalam makalah ini penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1.      Bapak dan ibu selaku kedua orang tua yang memberikan dukungan moral, materiil, serta motivasinya;
2.      Bapak Dr. Ade Dedi Rohayana, M.Ag selaku ketua STAIN Pekalongan;
3.      Bapak Drs.H.M.Muslih Husein, M.Ag selaku wakil ketua III STAIN Pekalongan;
4.      Bapak Ghufron Dimyati M.S.I selaku dosen pengampu mata kuliah Sejarah Peradapan Islam;
5.      Segenap Staf Perpustakaan STAIN Pekalongan yang telah memberikan bantuan referensi-referensi buku rujukan;
6.      Mahasiswa Prodi PAI G yang telah memberikan bantuan, dukungan dan motivasinya;
7.      Serta semua pihak yang telah memberikan dukungan moral dan materiilnya;
Dengan harapan semoga makalah ini yang terselesaikan bisa bermanfaat bagi semua pihak. Namun demikian kritik dan saran yang bersifat membangun demi kebaikan semua, tetap penulis butuhkan untuk generasi muda yang lebih baik.
    Pekalongan, 16 September 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kejayaan dunia Islam tentu tidak lepas dari peran kerajaan-kerajaan muslim yang telah berkecimpung membesarkan nama Islam. Banyak sekali peninggalan mereka yang berkesan hingga kini. Kontribusinya tidak bisa kita lupakan begitu saja. Karena berkat merekalah kita bisa mengenal dunia Islam saat ini.
Begitu pentingnya arti keberadaan kerajaan muslim tempo dulu. Tentu sebagai seorang calon pendidik kita wajib untuk mengetahuinya. Karena apa? Kita nanti yang akan memperkenalkan kepada para murid kita bagaimana peran penting kerajaan muslim dalam membangun Islam.
Pada kesempatan ini kami akan mengkaji lebih dalam bagaimana kerajaan-kerajaan muslim didunia ini. Bagaimana kronologis kerajaan itu berdiri dan apa saja kontribusi bagi peradaban Islam.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya penulis merumuskan beberapa masalah sebagai acuan untuk mengkaji makalah ini. Adapun rumusan masalahnya yaitu sebagai berikut :
1.      Bagaimana sejarah dinasti Idrisiyah?
2.      Bagaimana sejarah dinasti Aghlabiyah?
3.      Bagaimana sejarah dinasti Samaniyah?
4.      Bagaimana sejarah dinasti Safariyah?
5.      Bagaimana sejarah dinasti Tulun?
6.      Bagaimana sejarah dinasti Hamadiyah?
7.      Bagaimana sejarah dinasti Fathimiyah?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    DINASTI IDRISIYAH (172 H/789 M-314 H/926 M)
Wilayah kekuasaan Dinasti Idrisiyah adalah Magribi (Maroko). Dinasti ini didirikan oleh Idris I bin Abdullah, cucu Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dan merupakan dinasti pertama yang beraliran Syi’ah, terutama di Maroko dan Afrika Utara. Sultan Idrisiyah terbesar adalah Yahya IV (292 H/905 M-309 H/922 M) yang berhasil merestorasiVolubilis, kota Romawi menjadi kota Fez. Dinasti Idrisiyah berperan dalam menyebarkan budaya dan agama islam ke bangsa Barbar dan penduduk asli. Dinasti ini runtuh setelah ditaklukkan oleh Dinasti Fathimiyah pada tahun 374 H/985 M. Dinasti Idrisiyah antara lain meninggalkan Masjid Karawiyyin dan Masjid Andalusia yang didirikan pada 244 H/859 M.
Ada dua alasan penting yang melatarbelakangi munculnya dinasti Idrisiyah dan menjadi dinasti yang kokoh dan kuat : (1) adanya dukungan yang sangat kuat dari bangsa barbar yang mana mereka sangat mengagungkan keturunan ali (2) letak geografis dinasti ini sangat jauh dari pusat pemerintahan Abbasiyah yang berada di Baghdad sehingga sulit untuk ditaklukan.[1] 

B.     DINASTI AGHLABIYAH (184 H/ 800 M-296 H/909 M)
Pusat pemerintahan Dinasti Aghlabiyah terletak di Qairawan, Tunisia. Wilayah kekuasan Dinasti Aghlabiyah meliputi Tunisia dan Afrika Utara. Pemimpin pertama dinasti ini adalah Ibrahim bin Al-Aghlab, seorang panglima dari Khurasan.
Ibrahim bin Al-aghlab adalah seorang pejabat khurasan dalam militer Abbasiyah. Ia terkenal seorang yang mahir dalam bidang administrasi. Ia mampu mengatur roda pemerintahan dengan baik dengan kemampuan ilmu administrasinya. Dinasti aghlabiyah merupakan tonggak terpenting dalam sejarah konflik berkepanjangan antara Asia dan Eropa.     
Aghlabiyah berperan dalam mengganti bahasa latin dengan bahasa Arab serta menjadikan Islam agama mayoritas. Dinasti ini berhasil menduduki Sicilia dan sebagian besar Italia Selatan, Sardinia, Corsica bahkan pesisir Alpen pada abad ke-9. Dinasti Aghlabiyah berakhir setelah ditaklukan oleh dinasti Fathimiyah. Peninggalan dinasti ini antara lain adalah Masjid Raya Qairawan dan Masjid Raya di Tunis.


C.     DINASTI SAMANIYAH (203 H/819 M- 395 H/1005 M)
Wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah meliputi daerah Khurasan (Irak) dan Transoxania (Uzbekistan) yang terletak di sebelah timur Baghdad. Ibu kotanya adalah Bukhara. Dinasti Samaniyah didirikan oleh Ahmad bin Asad bin Samankhudat, keturunan seorang bangsawan Balkh (Afghanistan Utara). Puncak kejayaannya tercapai pada masa pemerintaha Isma’il bin Ahmad (Ismail I), penguasa ketiga dinasti ini. Isma’il II Al-Muntasir, khalifah terakhir Samaniyah, tidak dapat mempertahankan wilayahnya dari serangan Dinasti Qarakhan dan Dinasti Ghaznawi. Dinasti Samaniyah berakhir setelah Isma’il terbunuh pada tahun 395 H/1005 M peninggalan Dinasti Samaniyah berupa Mausaleum Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, seorang ilmuan muslim.

D.    DINASTI SAFARIYAH (253 H/865 M-900 H/1495 M)
Dinasti safariyah merupakan sebuah dinasti Islam yang paling lama berkuasa di dunia Islam. Wilayah kekuasaan Dinasti Safariyah meliputi kawasan Sijistan, Iran. Pendiri dinasti ini adalah Ya’qub bin Lais As-Saffar, seorang pemimpin kelompok Khawarij di Provinsi Sistan (Iran). Dinasti Safaniyah di bawah kepemimpinan Amr bin Lais berhasil melebarkan wilayah kekuasaannya sampai ke Afghanistan Timur. Pada masa itulah kekuasaan Dinasti Safariyah mencapai puncaknya. Dinasti ini semakin melemah karena pemberontakan dan kekacauan dalam pemerintahan. Akhirnya Dinasti Ghaznawi mengambil alih kekuasaan Dinasti Safariyah. Setelah penguasa terakhir Dinasti Safariyah, Khalaf meninggal dunia, berakhir pula kekuasan Dinasti Safariyah di Sijistan.

E.     DINASTI TULUN (254 H/868 M-292 H/905 M)
 Dinasti Tulun adalah sebuah dinasti Islam yang masa pemerintahannya paling cepat berakhir. Wilayah kekuasaan Dinasti Tulun meliputi Mesir dan Suriah. Pendirinya adalah Ahmad bin Tulun, putra seorang Turki yang diutus oleh gubernur Transoxania (Uzbekistan) membawa upeti ke Abbasiyah. Dinasti Tulun yang memerintah sampai 38 tahun berakhir ketika dikalahkan oleh pasukan Dinasti Abbasiyah dan setelah Khalifah Syaiban bin Tulun terbunuh.
Dinasti Tulun mencatat berbagai prestasi, antara lain sebagai berikut:
a.     Mendirikan bangunan-bangunan megah, seperti Rumah Sakit Fustat, Masjid Ibnu Tulun, dan istana khalifah yang kemudian hari menjadi peninggalan sejarah Islam yang sangat bernilai.
b.   Memperbaiki nilometer (alat pengukur air) di Pulau Raufah (deket Kairo).
c.    Berhasil membawa Mesir pada kemajuan.
Masa kehancuran Dinasti Tulun:
-          Dinasti ini mulai melemah kekuasaanya sehingga tidak dapat mengontrol sekte Qaramithah yang ada di gurun Syiria.
-          Persaingan yang hebat antara pembesar-pembesar dinasti telah memecah persatuan dalam dinasti Thulun.
-          Kematian Khumarawayh pada tahun 282 H/ 895 M merupakan awal kemunduran Dinasti Thulun.[2]


F.     DINASTI HAMDANIYAH (292 H/905 M-394 H/1004 M)
Dinasti Hamdaniyah, wilayah kekuasaan meliputi Aleppo (Ssuria) dan Mosul (Irak). Nama dinasti ini dinisbahkan kepada pendirinya, Hamdan bin Hamdun yang berkelar Abu AI-Haija’. Dinasti Hamdaniyah di Mosul dipimpin oleh Hasan yang menggantikan ayahnya, Abu AI-Haija’. Kepemimpinan Hasan mendapat pengakuan dari pemerintah Baghdad. Dinasti Hamdaniyah di Aleppo didirikan oleh Ali Saifuddawlah merebut Aleppo dari Dinasti Ikhsyidiyah. Dinasti Hamdaniyah di Mosul maupun di Aleppo berakhir ketika para pemimpinnya meninggal.[3]

G.    DINASTI FATHIMIYAH
Diantara beberapa dinasti Syi’ah didalam islam, Dinasti Fathimiyah. Yang bisa disebut paling besar. Kemelut dalam lingkungan dau;at Fathimiyah (909-1171 M) di Mesir itu memuncak pada tahun 556 H/1161 M sampai kepada tumbang pada tahun 567 H/1171M.[4] Dinasti Fathimiyah ini didirikan oleh kaum Syi’ah dari sekte Ismailiah.[5] Berdirinya dinasti Fathimiyah dilatarbelakangi melemahnya Dinasti Abbasiyah. Ubaidillah Al-Mahdi mendirikan Dinasti Fathimiyah yang lepas dari kekuasaan Abbasiyah. Dinasti ini mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Al-Aziz. Kebudayaan Islam berkembang pesat pada masa Dinasti Fathimiyah, yang ditandai dengan berdirinya Masjid Al-Azhar. Masjid ini berfungsi sebagai pusat pengkajian Islam dan ilmu pengetahuan.
Adapun para penguasa Dinasti Fathimiyah adalah sebagai berikut :
1.      Al-Mahdi (909-934 M)
Al-Mahdi merupakan penguasa Fathimiyah yang cukup. Dua tahun semenjak penobatannya, ia menghukum mati pimpinan propaganda yakin Abu Abdullah Al-Husain karena terbukti bersekongkol dengan saudaranya yang bernama Abdul Abbas untuk melancarkan perebutan jabatan Khalifah. Pada tahun 920 H, Khalifah Al-Mahdi mendirikan kota baru di pantai Tunisia dan menjadikannya sebagai ibu kota Fathimiyah. Kota ini dinamakan kota Mahdiniyah.
Al-Mahdi ingin menaklukan spanyol dari kekuasaan Umayyah, oleh karena itu ia menerima hubungan persahabatan dan kerjasama dengan Muhammad ibn Hafsun, pimpinan gerakan pemberontakan di Spanyol. Namun ambisinya ini belum tercapai sampai ia meninggal dunia pada tahun 934 M.[6]
2.      Al-Qa’im (934-949 M)
Al-Mahdi digantikan oleh puteranya yang tertua yang bernama Abdul Qasim dan bergelar Al-Qa’im. Al-Qa’im merupakan prajurit pemberani, hampir setiap ekspedisi militer dipimpinnya sendiri secara langsung. Ia merupakan khalifah pertama yang menguasai lautan tengah. Al-Qa’im digantikan oleh putranya yang bernama Al-Manshur.
3.   Mu’iz Lidinillah (965-975 M)
Ketika Al-Manshur meninggal putranya yang bernama Abu Tamim Ma’ad menggantikan kedudukannya sebagai khalifah dengan bergelar Mu’iz Lidibillah. Banyak keberhasilan yang dicapainya. Pertama kali ia menetapkan untuk mengadakan peninjauan keseluruh penjuru wilayah kekuasaanya untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya, Mu’iz merupakan langkah-langkah yang harus ditempuh demi tercapainya keadilan dan kemakmuran.
Pada tahun 969 M, Jauhar berhasil menduduki Fustat tanpa suatu perlawanan. Jauhar segara membangun kota Fustat menjadi kota baru dengan nama Qahirah (kairo). Semenjak tahun 973 M kota ini dijadikan sebagai ibu pemerintahan dinasti Fathimiyah. Selanjutnya Mu’iz mendirikan masjid Al-Azhar. Masjid ini oleh khalifah Al-Aziz dijadikan sebagai pendidikan tinggi Al-Azhar. Khalifah Mu’iz meninggal pada tahun 975 M, setelah memerintah selama 23 tahun, ia merupakan Khalifah yang terbesar. Ia adalah pendiri dinasti Fathimiyah di Mesir.
4.      Al-Aziz (975-996 M)
Al-Aziz menggantikan kedudukan ayahnya, Mu’iz. Kemajuan imperium Fathimiyah mencapai puncaknya pada masa pemerintahan ini. Pembangunan fisik dan seni arsitektur merupakan lambing kemajuan pada masa ini. Bangunan megah banyak didirikan dikota kairo. Al-Aziz meninggal pada tahun 996 M dan bersamaan dengan ini berakhirlah kejayaan dinasti Fathimiyah.
5.      Al-Hakim (996-1021 M)
Sepeninggalan Al-Aziz, khalifah fathimiyah oleh anaknya yang bernama Abu Al- Mansyur Al-Hakim. Ketika naik tahta ia berusia sebelas tahun. Selama bertahun-tahun Al-Hakim berada di bawah pengaruh seorang gubernurnya yang Barjawan. Pada tahun 1036 M, ia menyelesaikan pembangunan Dar Al-Hikmah sebagai sarana penyebaran teologi Syi’ah, sekaligus untuk kemajuan-kemajuan kegiatan pengajaran.
6.      Az-Zahir (1021-1036 M)
Al-Hakim digantiakan oleh putranya yang bernama Abu Hasyim Ali dengan gelar Az-Zahir. Ia naik tahta pada usia enam belas tahun, sehingga pusat kekuasaan dipegang oleh bibinya yang bernama Siti Al-Mulk sepeninggal bibinya, Az-Zahir menjadi raja boneka ditangan mentrinya. Pada masa pemerintahan ini rakyat menderita kekurangan bahan makanan harga barang tidak dapat terjangkau. Kondisi ini disebabkan terjadinya musibah banjir terus menerus. Az-Zahir meninggal pada 1036 M, setelah memerintah selama 16 tahun.
7.      Al-Muntasir (1036-1095)
Az-Zahir digantikan oleh anaknya yang bernama Abu Tamim Ma’ad yang bergelar Al-Muntasir, pemerintahannya selama 61 tahun. Pada masa ini kekuasaan Fathimiyah mengalami kemunduran secara drastis. Sepeninggalan Al-Muntasir pada tahun 1095 M, imperium Fathimiyah dilanda konflik dan permusuhan. Tidak ada seorang pun khalifah sesudah Al-Mutasir mampu mengendalikan kemerosotan imperium ini.
8.       Al-Musta’li (1095-1101 M)
Putra termuda Al-Mustansir yang bergelar Al-Musta’li menduduki tahta kekhalifahan sepeninggal sang ayah al-Mustansir. Setelah Al-Musta’li meninggal, anaknya yang nasih muda bernama Al-Amir Manshur dengan gelar Al-Amir dinobatkan sebagai khalifah.
Setelah Al-Amir menjadi korban pembunuhan politik, kemenakan Al-Hafiz memproklamasikan diri sebagai khalifah. Anaknya Abu Manshur Ismail, dengan gelar Az-Zafir menggantikan kedudukan ayahnya setelah Al-Hafiz wafat. Az-Zafir meninggal pada tahun 1154 M.
Anak Az-Zafir yang masih kecil menggantikan kedudukan ayahnya dengan gelar Al-Azid. Al-Azid keras untuk menegakkan kedudukannya dari serangan raja Yarusalem. Dalam keadaan yang kacau, datang Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pejuang dalam perang salib. Sultan Shalahuddin menurunkan Al-Azid dari khalifah Fathimiyah pada tahun 1171 M. Dengan demikian, dinasti Fathimiyah ini sudah berakhir.[7]

Kemajuan Peradaban pada Dinasti Masa Dinasti Fathimiyah
a.       Bidang Plitik
Keberhasilan pemerintahan Fathimiyah yang dapat menakluan Mesir merupakan kesuksesan yang besar. Secara politik dinasti Fathimiyah merupakan ancaman tersendiri bagi kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
Kekuasaan Fathimiyah yang demikian luas didukung oleh kondisi politik yang stabil dan perekonomian yang bagus. Masjid al-Azhar yang kemudian berkembang menjadi universitas al-Azhar dibangun pada masa awal pendudukan orang-orang Fathimiyah ke Mesir ini. Demikian juga Kota Kairo yang dibangun megah dan dipercantik.[8]
b.      Bidang Administrasi
Kementrian Negara terbagi menjadi dua yaitu ahli pedang dan ahli pena. Ahli pedang menduduki urusan militer dan keamanan serta pengawal pribadi sang khalifah. Ahli pena menduduki beberapa jabatan : 1) Hakim, 2) Pejabat atau Dar Al-Hikmah, 3) Inspektur pasar yang bertugas menerbitkan pasar dan jalan, 4) Pejabat keuangan yang menangani segala urusan keuangan Negara, 5) Regu pembantu istana, 6) Petugas pembawa Al-Qur’an. Tingkat terendah ahli pena adalah pegawai negeri yaitu petugas penjaga dan juru tulis dalam berbagai departemen.
c.       Bidang Sosial
Mayoritas khalifah Fathimiyah bersikap moderat penuh perhatian kepada urusan agama nonmuslim. Mayoritas khalifah Fathimiyah berpola hidup mewah dan santai. Dinasti Fathimiyah berhasil dalam mendirikan sebuah Negara yang sangat luas dan peradaban yang berlainan didunia timur. Hal ini sangat menarik perhatian karena sistem administrasinya yang sangat baik sekali, aktivitas artistic, luasnya toleransi relijiusa, efisiensi angkatan perang dan angkatan laut, kejujuran pengadilan dan terutamanya pelindungannya terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
d.      Kemajuan ilmu pengetahuan dan kesustraan
Ibnu khilis merupakan salah seorang wazir Fathimiyah yang sangat memperdulikan pengajaran. Ia mendirikan sebuah lembaga pendidikan dan memberinya subsidi setiap bulan.
Khalifah Fathimiyah mendirikan sejumlah sekolah dan perguruan tinggi, perpustakaan umum dan lembaga ilmu pengetahuan. Para khalifah Fathimiyah yang umumnya mencintai berbagai seni termasuk seni arsitektur. Khalifah juga mendatangkan sejumlah arsitek Romawi untuk membantu menyelesaikan tiga buah gerbang raksasa di Kairo dan benteng-benteng perbatasan wilayah Bizantium.[9]
e.       Bidang Ekonomi
Perekonomian pemerintahan Fathimiyah dapat dibilang cukup bagus. Kemajuan ini tidak bisa lepas dari luasnya wilayah yang dikuasai dan stabilitas politik yang mapan. Kondisi ini berdampak majunya bidang ekonomi termasuk didalamnya kemajuan bidang perdagangan dan sector industry.

KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN
1.      Kemunduran
Para sejarawan menyimpulkan kemunduran dinasti Fathimiyah disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1.      Figur khalifah yang lemah
Khalifah yang dianggap figur yang lemah disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah diangkat dalam usia muda. Terdapat beberapa nama khalifah yang diangkat dalam usia muda, diantaranya adalah khalifah Al-Hakim yang diangkat dalam usia 11 tahun. Al-zahir juga menjadi khalifah pada usia 16 tahun, Al-Muntashir usia 11 tahun. Karena faktor usia khalifah masih muda terkadang muncul sikap sewenang-wenang khalifah.
2.      Perebutan kekuasaan di Tingkat Istana
Sebagai akibat dari diangkatnya khalifah di usia muda mengakibatkan peranan Wazir menjadi sangat penting dan kompetitif, sehingga perebutan kekuasaan antara Wazir tak terhindarkan lagi konflik yang terjadi semakin hari semakin melemah kekuasan khalifah fathimiyah. Demikian juga pada masa al-Adhid juga terjadi pertentangan, terutama perebutan Wazir antara Syawar dan Dirgham. Dan dari pertentangan inilah secara berangsur-angsur Dinasti fathimiyah mengalami kehancurannya.
3.      Konflik di tubuh militer
Pada masa khalifah al-Muntashir, di masa ini kekuasaan Dinasti Fathimiyah merosot tajam. Tentara profesional betul-betul tidak bisa dikendalikan sang khalifah. Kelompok-kelompok militer yang terdiri dari orang Turki, Sadan, Barbar, dan Armenia bersaing sengit dan terkadang terjadi pertempuran diantara mereka.
4.      Bencana alam berkepanjangan
Pada masa al-Muntashir, selama 7 tahun (1065-1072), Mesir ditimpa musibah kelaparan akibat kekeringan. Sungsi Nil sebagai urat nadi wilayah Mesir saat itu mengalami kekeringan menyebabkan pertanian mengalami kegagalan.
5.      Keterlibatan non-muslim dipercaya menjadi, mentri, petugas pajak, dan bahkan penasehat dalam bidang politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan, juga terdapat para dokter dan para pejabat yang mengendalikan kerja operasional kekhalifahan. Kenyataan ini secara berangsur-angsur dapat melemahkan dan menggerogoti kondisi kekhalifahan Fathimiyah.
2.      Kehancuran
Setelah kekuasaan berjalan sekitar dua setengah abad, kemudian khalifah fathimiyah mengalami kehancuran, kehancuran ini terjadi pada masa kekhalifahan al-Adhid. Kehancuran iniselain dari akumulasi berbagai faktor juga disebabkan oleh adanya kekuatan kaum salajiqah dan pasukan salib yang banyak terlibat dalam urusan-urusan kekhalifahan. Para wazir juga mempertahankan kekuasaannya sehingga konflik-konflik kerap muncul dimasa khalifah al-Adhid.
Pada tahun 1171 M khalifah al-Adhid meninggal dunia, maka dengan demikian hancurlah sudah kekuasaan dipimpin oleh shalahuddin dengan dinasti keturunannya yaitu dinasti Ayyubiyah.[10]



























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dinasti Idrisiyah adalah Magribi (Maroko). Yang didirikan oleh Idris I bin Abdullah, cucu Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dan merupakan dinasti pertama yang beraliran Syi’ah, terutama di Maroko dan Afrika Utara.
Pusat pemerintahan Dinasti Aghlabiyah terletak di Qairawan, Tunisia. Wilayah kekuasan Dinasti Aghlabiyah meliputi Tunisia dan Afrika Utara. Pemimpin pertama dinasti ini adalah Ibrahim bin Al-Aghlab, seorang panglima dari Khurasan.
Dinasti Samaniyah didirikan oleh Ahmad bin Asad bin Samankhudat, keturunan seorang bangsawan Balkh (Afghanistan Utara). Puncak kejayaannya tercapai pada masa pemerintaha Isma’il bin Ahmad (Ismail I).
Wilayah  kekuasaan Dinasti Safariyah meliputi kawasan Sijistan, Iran. Pendiri dinasti ini adalah Ya’qub bin Lais As-Saffar, seorang pemimpin kelompok Khawarij di Provinsi Sistan (Iran).
Wilayah kekuasaan Dinasti Tulun meliputi Mesir dan Suriah. Pendirinya adalah Ahmad bin Tulun, putra seorang Turki yang diutus oleh gubernur Transoxania (Uzbekistan) membawa upeti ke Abbasiyah
Dinasti Hamdaniyah di Aleppo didirikan oleh Ali Saifuddawlah merebut Aleppo dari Dinasti Ikhsyidiyah.
Dinasti Fathimiyah ini didirikan oleh kaum Syi’ah dari sekte Ismailiah. Berdirinya dinasti Fathimiyah dilatarbelakangi melemahnya Dinasti Abbasiyah.







DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir, 2010 Sejarah Peradaban Islam, Jakarta :AMZAH.
Fu’adi, Imam,  2012, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta : Teras.
K. Ali, , 2003,  Sejarah Islam Dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani,  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Khoiriyah, 2012,  Reorientasi Wawasan Sejarah Islam, Yogyakarta: Teras.
Sou’yb, Joesoef, 1978 Sejarah Daulah Abbasiyah III, Jakarta : Bulan Bintang.






















TENTANG PENULIS

Winda Atika Sari dilahirkan di Batang, 9 juni . Saya lahir dari keluarga yang sederhana. Saya bertempat tinggal di sebuah Desa Keputon, Dukuh Sukoyoso, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Sebelum saya sekolah dulu saya belajar dilembaga non Formal Madrasah Diniyah Miftahululum Dukuh Sukoyoso. Pendidikan Formal TK Mardisiwi Blado, SD Negeri Blado 01, SMP Negeri 1 Blado. Kemudian saya SMAnya melancong di kota Kendal, SMA saya SMA PMS Kendal. Dan saya masih kuliah di STAIN Pekalongan.


Ita Mashita dilahirkan di Pemalang, 04 November 1996. Saya dilahirkan dari keluarga yang sangat. Saya dilahirkan di Desa Pesucen Petarukan. Asal sekolah saya dari TK Pertiwi, SD N 1 Pesucen, MTs N Petarukan, SMA N 1 Petarukan, kemudian sampai saat ini di STAIN Pekalongan.   
 


                                                     

Siti Hufriyah itulah nama yang diberikan oleh orang tua saya sejak tanggal   
12 April 1995. Saya dilahirkan di Desa Gringgingsari kec. Wonotunggal kab. Batang. Asal sekolah SMA Negeri 1 Bandar, dan sekarang saya kuliah di STAIN Pekalongan.









[1] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), Hlm.128.
[2] Khoriyah, Op.Cit., Hlm. 142.
[3] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta :AMZAH,2010), hlm. 275-277
[4] Joesoef Sou’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah III, (Jakarta : Bulan Bintang, 1978), hlm. 170
[5] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta : Teras, 2012), hlm.1
[6] K. Ali, Sejarah Islam Dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 492.
[7] Samsul Munir Amin, Op.cit, hlm. 254-263
[8] Imam Fu’adi, Op.cit, hlm. 4-5
[9] Samsul Munir Amin, Op.cit, hlm.264-266
[10] Imam Fu’adi, Op,cit, hlm. 7-9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar