Laman

Selasa, 05 Januari 2016

BELAJAR DARI KONTROVERSI ISIS

Aksi Kelompok Militan ISIS (Islamic State of Irak and Suriah) membukakan mata dunia akan kekerasan dan arogansi terorganisir yang mengklaim dan mengatasnamakan sebuah agama (Islam). Sepak terjang ISIS sontak membangkitkan perlawanan tidak hanya warga Irak dan Suriah yang menjadi korban, tapi justru seluruh dunia mengutuknya sebagai sebuah aksi teror, karena dilakukan dengan cara-cara yang mengerikan dan diluar prosedur hukum ketatanegaraan modern yang diakui mayoritas negara-negara mapan di dunia ini.

Kembali ke Seruan Al-Qur'an

Islam hadir ke dunia sebagai agama yang hanif (QS. 6:161) yaitu jalan hidup yang lurus dan misi yang ramah (QS, 2:256) yaitu sikap toleran. Visi Islam jelas terumuskan "rahmatan lil 'alamin" (QS. 21;107) yaitu mengedepankan aspek kasih sayang bagi semesta alam. Bahwa panji-panji Islam harus berdasar substansi misi manusia di bumi tidak lain adalah sebagai khalifah (QS, 2:30) yakni para pemimpin yang sanggup menjaga amanat (QS. 4:58) dan mengisyaratkan penegakan keadilan (QS, 3:18) secara universal. 

Nilai-nilai dasar Islam sebagaimana tersurat dan tersirat dalam Al-Qur'an bila direlisasikan sudah pasti akan mendapatkan simpati dan apresiasi dari kelompok bangsa manapun bahkan akan lestari tegak berdiri tak lekang digerus waktu. Hanya saja manusia-manusia yang mengaku bahkan mengklaim dan mengatasnamakan (agama) Islam justru tidak berkaca dan merepresentasikan pesan moral Islam. Nah, ironinya bila manusia-manusia ini terorganisir dan meluas berlabel negara Islam, maka petaka sudah pasti. Kelompok ini berniat mengangkat dan mengharumkan Islam, yang terjadi justru merendahkan dan mencoreng citra Islam di mata dunia. Mengaku Islam tapi tidak Islami.

Kaum Muslim Harus Bangkit dan Meneladani

Spirit Islam mendorong kaum Muslimin untuk hasanah fi ad-darain (QS. 2:201) yakni sukses dunia akhirat. Paradigma Islam mengarahkan agar manusia lebih-lebih yang beriman dan mengaku sebagai seorang muslim harus mau berubah (QS. 13:11), terus berkembang, berbenah, lebih maju, inovatif, dinamis dan aktif dalam peran serta membangun masyarakat, bangsa dan peradaban dunia. Kaum Muslimin selayaknya menjadi barometer dan mercusuar peradaban di belahan bumi manapun dan pada jaman kapanpun sepanjang secara konsisten dan kreatif mengamalkan pesan "membaca" (QS. 96:1). Prinsip Universal tersurat dalam Al-Qur'an sebagai Hukum Kekekalan Etis: "Baik dan Buruk kita sendiri akan menuai" (QS. 37:113). Dan Kaum Muslimin sudah sepantasnya menjadi teladan bagi kaum yang lain dalam segala aspek kehidupannya, dan teladan dari para teladan di dunia ini kita temukan pada diri Nabi Muhammad SAW (QS. 33:21). Beliau telah nyata membangkitkan peradaban manusia pada derajat tinggi dunia-akhirat. wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar