Laman

Sabtu, 03 September 2016

TT1 A 1b Nilai Orang Berilmu


NILAI ORANG BERILMU


Disusun Oleh:
Indah Wahyu Widyaningsih               2021113027
 Kelas : A



JURUSAN TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2016




KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim..
Puji dan syukur hanyalah bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW teriring keluarga, sahabat dan para penerus perjuangan beliau hingga akhir zaman.
Dengan ucapan syukur alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan tugas mencari Tafsir Tarbawi I, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1.      Bapak Ghufron Dimyati, M.S.I  selaku dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi I, yang memberikan bimbingan dan arahannya serta dorongan dan masukan untuk menyusun makalah ini.

2.      Kedua Orang Tua yang selalu memberikan semangat serta motivasi yang luar biasa  untuk saya menyelesaikan makalah ini.


 Penulis menyadari bahwa dalam penyajian makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharap kritik saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas ini.
Hanya kepada Allah jualah kami memohon keridho’an dan taufikNya, semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.




                                                                        Pekalongan, 1 september 2016


                                                                        Penulis

                                                            Indah Wahyu Widyaningsih
BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Ilmu adalah suatu yang sangat menonjol dalam agama islam, hal ini dapat dilihat dalam Al-Qur’an maupun sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia diwajibkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan baik agama maupun sosial. Dijelaskan juga bahwa antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu memiliki kedudukan yang sangat berbeda jauh.
            Selain itu dengan pendidikan yang baik, tentu akhlak manusiapun juga akan semakin baik. Tapi pada kenyataannya dalam hidup ini banyak orang yang menggunakan akal dan kepintarannya untuk kemaksiatan. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan antara ilmu dunia dan akhirat. Disinilah alasan mengapa ilmu agama sangat penting diajarkan kepada anak sebelum anak menerima ilmu duniadan islam memandang ilmu sebagai suatu yang pokok dalam ajaran islam dan menjadi suatu yang wajib dimiliki oleh setiap muslim.


B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian sebagaimana dikemukakakn di atas, maka makalah ini bermaksud mengkaji masalah diantaranya sebagai berikut :
1.      Bagaiman lafadz dan terjemah Q.S  Al-Mujadalah ayat 11
2.      Bagaimana penafsiran dari Q.S Al-Mujadalah ayat 11
3.      Bagaimana Mufradat, Asbabun Nuzul dan Aspek tarbawi pada Q.S Al-Mujadalah ayat 11


C.    TUJUAN
1.      Mengetahui definisi  Nilai Orang Berilmu
2.      Mengetahui Asbabun Nuzul Q.S Al-Mujadalah ayat 11
3.      Mengetahui Tafsir Q.S Al-Mujadalah ayat 11











BAB II
PEMBAHASAN

1.      Ayat Al-Qur’an tentang Nilai Orang Berilmu
a.      Q.S Al-Mujadalah ayat 11
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  


b.      Terjemah
“Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu : “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan  meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [1]

c.       Asbabun Nuzul
Dikemukakan pula oleh Ibnu Jarir yang juga bersumber dari Qatadah yang berkata : Dahulu para sahabat apabila melihat ada yang baru datang ke majlis Rasulullah saw, mereka tidak mau memberikan tempat duduk disisi Rasulullah saw, maka turunlah ayat “YA AYYUHALLIDZIINA AAMANUU IDZAA QIILA LAKUM TAFASSAHUU FIL MAJAALISI . . . . . sampai akhir ayat” (juz. 28, 58/Al-Mujadalah : 11) berkenaan dengan peristiwa itu yang menerangkan agar mereka memberikan tempat duduk kepada orang yang baru datang di tempat pengajian (majlis) Rasulullah saw.
Dikemukakan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil, bahwa ayat itu (juz. 28, 58 /Al-Mujadalah : 11) diturunkan pada hari jum’ah, pada waktu ahli (pejuang-pejuang perang) Badar datang ke tempat pertemuan (pengajian) yang penuh sesak. Para sahabat Nabi saw yang sudah berada di tempat itu lebih dahulu tidak mau memberikan tempat duduk kepada mereka yang baru datang itu, sehingga mereka terpaksa harus berdiri. Lalu Rasulullah saw menyuruh mereka yang sudah lebih dahulu berada di tempat itu untuk berdiri dan ahli badar tadi disuruh duduk di tempat mereka. Tetapi mereka merasa tersinggung perasaannya. Maka turunlah ayat tersebut di atas, sebagai peintah orang-orang mukmin agar menta’ati perintah Rasulullah saw dan memberikan kesempatan duduk kepada sesama orang mukmin.[2]


d.      Makna Mufrodat
Wahai orang-orang yang  =  ûïÏ%©!$ا$pkšr'¯»tƒ
 Mereka beriman = #þqãZtB#uä
  Apabila dikatakan kepada kalian =   öNä3s9@ŠÏ%#sŒÎ)
  Berlapang-lapanglah kalian = #qßs¡¡xÿs?

  Di dalam majlis = ħÎ=»yfyJø9$#Îû
maka berlapang-lapanglah = #qßs|¡øù$$sù
Niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu  =  öNä3s9!$#x|¡øÿtƒ
  Dan apabila di katakan = Ÿ@ŠÏ%#sŒÎ)ur

Berdirilah kalian  = #râà±S$#
 Maka berdirilah = #râà±S$$sù
Allah Swt mengangkat =   ª!$#ìsùötƒ
Orang-orang yang beriman =  (#qãZtB#uäûïÏ%©!$#
 Diantara kalian = Nä3ZÏB
orang yang berilmu = zOù=Ïèø9$##qè?ré&
;beberapa derajat   = M»y_uyŠ     
 Dengan apa yang kamu kerjakan = tbqè=yJ÷ès?$yJÎ/
Allah Swt Maha mengetahui = ŽÎ7yz[3]

e.       Tafsir

Ayat di atas memberikan tuntunan bagaimana menjalin hubungan harmonis dalam satu majlis. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu oleh siapa pun : “berlapang-lapanglah yakni berupayalah dengan sungguh-sungguh walau dengan memaksakan diri untuk memberi tempat orang lain dalam majlis-majlis yakni satu tempat, baik tempat duduk maupun bukan untuk duduk apabila di minta kepada kamu agar melakukan itu  maka lapangkanlah tempat itu untuk orang lain itu dengan suka rela. Jika kamu melakukan hal tersebut, niscaya Allah akan melapangkan segala sesuatu buat kamu dalam hidup ini. Dan apabila dakatakan : “berdirilah kamu ke tempat yang lain, atau untuk diduduk tempatmu buat orang yang lebih wajar, atau bangkitlah untuk melakukan sesuatu seperti untuk shalat dan berjihad, maka berdiri dan bangkit-lah, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu wahai yang memperkenankan tuntunan ini dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat kemuliaan di dunia dan di akhirat dan Allah terhadap apa yang kamu kerjakan sekarang dan masa datang , Maha Mengetahui .[4]
Kata ((#qßs¡¡xÿs?) tafassahu dan (#qßs|¡øù$ا) ifsahu terambil dari kata (فسح)fasaha yakni lapang. Sedang kata (#râà±S$#) unsyuzu terambil dari kata (نشوز) nusyuz yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi. Yang dimaksud disini pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu, atau bangkit melakukan satu aktivitas positif.

Kata (مخالس) majalis adalah bentuk jamak dari kata (مخلس) majlis. Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteksayat ini adalah tempat Nabi Muhammad saw. Memberi tuntunan agama ketika itu. Tetapi yang dimaksud disini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat berdiri atau bahkan tempat berbaring. Karena tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah memberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau yang lemah.[5]

Firman-Nya (M»y_uyŠ) “beberapa derajat  yakni beberapa derajat dalam agama mereka jika melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka. [6]

Yang dimaksud dengan (t(zOù=Ïèø9$##qè?ré&ûïÏ%©!$#ur) alladzina utu al’ilm /yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat diatas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh, dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan.
Ilmu haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan mahluk. Rasul saw. Sering kali berdoa : “Allahumma inni a’udzubika min ‘ilm(in) la yanfa’ (Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).”


f.       Aspek Tarbawi

1.      Ilmu haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan mahluk.
2.      Allah akan meninggikan derajat orang berilmu, mereka memiliki derajat-derajat yakni yang lebih tinggi dari yang sekedar beriman.
3.      Ilmu dalam pandangan Al-Qur’an bukan hanya ilmu agama.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
             Ayat diatas memberikan tuntunan bagaimana menjalin hubungan harmonis dalam satu majlis. Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu oleh siapa pun : “berlapang-lapanglah yakni berupayalah dengan sungguh-sungguh walau dengan memaksakan diri untuk memberi tempat orang lain dalam majlis-majlis yakni satu tempat, baik tempat duduk maupun bukan untuk duduk apabila di minta kepada kamu agar melakukan itu  maka lapangkanlah tempat itu untuk orang lain itu dengan suka rela.
             Jika kamu melakukan hal tersebut, niscaya Allah akan melapangkan segala sesuatu buat kamu dalam hidup ini. Dan apabila dakatakan : “berdirilah kamu ke tempat yang lain, atau untuk diduduk tempatmu buat orang yang lebih wajar, atau bangkitlah untuk melakukan sesuatu seperti untuk shalat dan berjihad, maka berdiri dan bangkit-lah, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu wahai yang memperkenankan tuntunan ini dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat kemuliaan di dunia dan di akhirat dan Allah terhadap apa yang kamu kerjakan sekarang dan masa datang , Maha Mengetahui .















DAFTAR PUSTAKA
Quraish Shihab.M.2005.Tafsir Al-Misbah.Jakarta: Lentera Hati
Imam.Syaikh.2009. Tafsir Al Qurthubi.Jakarta: Pustaka Azzam
Depag, Syamil Qur’an Terjemah Per Kata.
Mujieb.Abdul.M.Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul.Rembang:1986



























PROFIL



Nama                    : Indah Wahyu Widyaningsih
TTL                         : Pemalang, 25 Juli 1995
Alamat                 : Jln. Jati IV Gang Mangga Rt 07/Rw 04 Pelutan Pemalang
Hobi                      : Menyanyi , mendengarkan music dan membaca
Cita                        : Guru





[1] Syaikh Imam, Tafsir Al Qurthubi,( Jakarta: Pustaka Azzam,2009), hlm. 172
[2] M. Abdul Mujieb, Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul(Rembang:1986),hlm.570-572
[3] Depag, Syamil Qur’an Terjemah Per Kata.
[4] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah(Jakarta:Lentera Hati,2005), hlm.77-78
[5] M.Quraish Shihab, op cit, hlm.79-80
[6] Tafsir Al-Qurthubi, op cit, hlm.180

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar