Laman

Selasa, 13 September 2016

TT1 C 2a Perbedaan Orang Alim dan Jahil

Perbedaan Orang Alim dan Jahil
Ulin Nuha 2021115051
Kelas C

Tarbiyah/PAI
Institut Agama Islam Negeri Pekalongan
Tahun 2016



Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufiq , hidayah, dan inayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Tafsir Tarbawi ini dengan baik. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Sahabatnya, Keluarganya serta segala umatnya hingga yaumil akhir.
Sebagai mahasiswi di Institut Agama Islam Negeri Pekalongan sudah menjadi kewajiban untuk selalu mengikuti dan mengerjakan tugas dari Dosen pembimbing, salah satunya Tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi pada semester tiga ini. Tugas makalah yang harus diselesaikan oleh setiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah Tafsir Tarbawi ini.
Saya bersyukur kepada Allah SWT, yang telah memberi kesempatan dalam menyelesaikan tugas mata kuliah ini, saya juga sangat berterima kasih kepada Dosen pembimbing yang telah memberi tugas ini kepada saya, tidak lupa pula kepada ibuku yang selalu mendukung dan mendo’akanku, serta teman-temanku.
Penulis menyadari bahwa kemampuan dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna. Penulis sudah berusaha dan mencoba mengembangkan dari beberapa referensi mengenai sumber ajaran islam yang saling berkaitan. Apabila dalam penulisan makalah ini ada kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan dan pembahasannya maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca.
Akhir kata, semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Amin yaa robbal ‘alamin.
                                                                                                         Pekalongan,  september 2016
                                                                                                Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Makhluk hidup di dunia ini meliputi tiga jenis, yaitu manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya diantara makhluk yang lain, karena manusia bisa bergerak, merasakan, dapat berkomunikasi dan memiliki akal budi. Dengan akal budi manusia dapat berkreasi untuk memenuhi kebutuhan hidup-nya. Untuk mempertahankan kehidupannya manusia juga berusaha menciptakan beragam kebudayaan baik berupa activity, idea, maupun artefac. Dengan beragam itulah manusia berusaha mempelajari segala sesuatu yang ada di alam ini untuk dapat mereka kelola sebaik mungkin sehingga dapat mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapinya.[1]
Maka sangat penting manusia untuk mencari ilmu agar menjadi manusia yang berakal dan berilmu. Allah menegaskan dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar penting dalam kehidupan. Apabila ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau mencari ilmu, maka ia dipandang telah melakukan suatu pelanggaran yaitu tidak mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Karena begitu pentingnya ilmu pengetahuan itu, Rasulullah mewajibkan umatnya belajar.
Makalah ini membahas mengenai perbedaan orang alim dan jahil dengan tujuan menyadarkan manusia betapa pentingnya berilmu dan menjadi orang alim agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
B. Judul Makalah
Dengan judul keutamaan akal budi, dalam konteks Perbedaan Orang Alim dan Orang Jahil, yang terkandung dalam surat yang pertama dari juz 24 ialah Az-Zumar, 39:9. Adapun keistimewaan orang yang menuntut ilmu lebih utama daripada ahli ibadah. Keutamaannya diumpamakan oleh Rasulullah SAW, bagaikan keutamaan bulan diantara semua bintang. Semoga dengan makalah ini dapat meyadarkan mahasiswa pentingnya berilmu agar selamat hidup didunia dan akhirat.


C. Nash dan Arti Az-Zumar ayat 9
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
Artinya : (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) atau orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?  Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang barakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar; 39:9).
D. Arti penting untuk dikaji
    Penulis membuat makalah ini tentang perbedaan alim dan jahil. Yang terdapat pada surat Az-Zumar ayat 9 yang mana menjelaskan betapa berharganya dan pentingnya seseorang berilmu yang sesuai kaidah Al-Qur’an dan Hadist dan hanya mencari kerifdhaan Allah. Dengan mempelajari makalah ini mahasiswa diharapkan :
1. Menyadarkan mahasiswa pentingnya belajar agar menjadi orang Alim.
2. Mampu mempertahankan diri dari berbagai godaan duniawi yang semata hanyalah sementara.
3. Menjadi mahasiswa yang teladan sesuai syariat agama Islam.
4. Mendapatkan keridhaan Allah.





BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Secara Umum
            Kata ilmu berasal dari bahasa arab  ‘ilm yang berarti pengetahuan merupakan lawan kata jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Sumber lain mengatakan bahwa kata ‘ilm dalam bentuk masdar ‘alima, ya’lamu, ilman. Menurut ibn zakaria, pengarang buku mu’jam maqayiz al-lughah, bahwa kata ‘ilm mempunyai arti denotatif “bekas sesuatu yang dengannya dapat dibedakan sesuatu dari yang lainnya.” Menurut ibn manzur ilmu adalah antonim dari tidak tahu (naqid al-jahl) sedangkan menurut Al-Ashfahani dan Al-Anbari ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu.
            Kata ilmu biasa disepadankan dengan kata arab lainnya yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur (perasaan). Al’ilm itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah. Jadi orang Alim adalah orang yang memiliki pengetahuan sedangkan orang jahil adalah orang yang tidak berpengetahuan atau bodoh.
B. Penjelasan
1. Dari Tafsir Al-Maraghi     
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
Apakah kamu, hai orang musyrik, lebih baik keadaan dan nasibmu daripada orang yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan tugas-tugas ibadah pada saat-saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa dan lebih jauh dari riya, sehingga ibadah di waktu itu lebih dekat  untuk diterima, sedang orang itu dalam keadaan takut dan berharap ketika beribadah. Tidak diragukan, bahwa jawabannya tidak perlu diterangkan. Apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat, kedua-duanya tentu jelas tidak sama.
            Kemudian Allah menegaskan tentang tidak kesamaan diantara keduanya dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Firman Allah, Katakanlah hai Rasul kepada kaummu : Apakah sama orang yang mengetahui pahala yang akan mereka peroleh bila melakukan ketaatan kepada Tuhan mereka dan mengetahui hukuman yang akan mereka terima bila mereka bermaksiat kepada-Nya, dengan orang-orang yang tidak mengetahui hal itu. Yaitu, orang-orang yang merusak amal perbuatan mereka secara membabi buta, sedang terhadap amal-amal mereka yang baik tidak mengharapkan kebaikan, dan terhadap amal-amal buruk mereka tidak takut kepada keburukan.
            Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan pertanyaan untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang pertama mencapai derajat kebaikan tertinggi, sedangkan yang lain jatuh ke dalam jurang keburukan. Dan hal itu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membantah. Kemudian, Allah menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh setiap orang yang mempunyai akal. Karena, orang-orang yang tidak tahu, dalam hati mereka terdapat tutup sehingga tidak dapat memahami suatu nasihat, dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan.
            Sesungguhnya yang mengetahui perbedaan antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu hanyalah orang yang mempunyai akal pikiran sehat, yang dia pergunakan untuk berpikir.[2]
2. Dari Tafsir Al-Azhar
“Ataukah orang yang tertekun ditengah malam, dalam keadaan sujud atau berdiri, karena takut akan hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?”. Dalam susunan ini jelas makna ayat yang didalamnya ada dua macam kehidupan yaitu kehidupan pertama ialah kehidupan yang gelisa langsung berdoa menyeru kepada Allah jika malapetaka datang menimpa dan lupa kepada Allah bila bahaya telah terhindar. Dan kehidupan kedua yaitu kehidupan orang mu’sehingga baik ketika berduka atau ketika bersuka, baik ketika angin topan menghancurkan segala bangunan sehingga banyak orang kehilangan akal atau seketika angin demikian telah mereda, langit cerah dan angin sepoi jadi gantinya, namun orang itu tetap tenang tidak kehilangan arah. Dia tersentak dari tidurnya tengah malam, dia bertekun mengingat Allah lalu bersujud memohon ampunan dan ridha ilahi, bahkan ada yang terus qiyamul-lail, berdiri tegak mengerjakan solat. Yang mendorongnya untuk bertekun, berqunut ingat akan Tuhan, sampai bersujud dan solat lain tidak lain karena takut kalau-kalau di akhirat kelak amalannya mendapat nilai yanag rendah di sisi Tuhan, bahkan dia hanya mengharapkan Rahmat Ilahi, kasih sayang Tuhan yang tidak berkeputusan dan tidak terbatas.


هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
Katakanlah! Apakah akan sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang yang tidak berpengetahuan?”. Pokok dari segala pengetahuan adalah mengenal Allah. Tidak kenal kepada Allah sama artinya bodoh. Karena kalaupun ada pengetahuan padahal Allah yang bersifat Maha Tahu, bahkan Allah itupun bernama ‘ilmun (pengetahuan), samalah dengan bodoh. Sebab dia tidak tahu akan kemana diarahkannya ilmu pengetahuan yang telah didapatnya itu.
إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
“Yang akan ingat hanyalah semata-mata orang-orang yang mempunyai akal budi”.
Sampai ke langit pun pengetahuan, Cuma kecerdasan otak. Belum lah dia mencukupi kalau tidak ada tuntunan jiwa. Iman adalah tuntunan jiwa yang akan jadi pelita bagi pengetahuan.
Albab artinya akal budi. Dia adalah kata banyak dari sisi, atau intisari atau teras. Dia adalah gabungan diantara kecerdasan akal dan kehalusan budi dan yang meninggikan derajat manusia.[3]
3. Dari Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawi
            Pada ayat tersebut terlihat adanya hubungan orang yang mengetahui (berilmu=ulama) dengan melakukan ibadah di waktu malam, takut terhadap siksaan Allah di akhirat serta mengharapkan rahmat dari Allah dan juga menerangkan nahwa sikap yang demikian itu merupakan salah satu ciri dari ulu al-bab, yaitu orang yang menggunakan pikiran, akal dan nalar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan menggunakan hati untuk mengarahkan ilmu pengetahuan tersebut pada tujuan peningkatan akidah, ketekunan beribadah dan ketinggian akhlak yang mulia.
            Sehubungan dengan ayat (Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?). Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik beberapa catatan sebagai berikut:
a. Al-Qur’an sangat mendorong dikembangkannya ilmu pengetahuan. Hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyuruh manusia agar menggunakan akal pikiran dan segenap potensi yang dimilikinya untuk memperhatikan segala ciptaan Allah.
b. Dorongan Al-Qur’an terhadap pengembangan ilmu pengetahuan tersebut terlihat pula dari banyaknya ayat Al-Qur’an (lebih dari 700 ayat) yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan; pujian dan kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang berilmu serta pahala bagi yang menuntut ilmu.
c. Sungguhpun banyak temuan dibidang ilmu pengetahuan yang sejalan dengan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an, namun Al-Qur’an bukanlah buku tentang ilmu pengetahuan. Al-Qur’an tidak mencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan.
d. Bahwa temuan manusia dalam bidang pengetahuan patut dihargai. Namun tidak sepatutnya membawa dirinya menjadi sombong dibandingkan dengan kebenaran Al-Qur’an. Temuan manusia tersebut bersifat terbatas , terkadang keliru, dan suatu saat mungkin dianggap salah dan harus ditinggalkan. Sedangkan Al-Qur’an bersifat mutlak, pasti benar , berlaku sepanjang jaman.
e. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi petunjuk (Hudan) termasuk petunjuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan yaitu agar ilmu pengetahuan dikembangkan untuk tujuan peningkatan ibadah, aqidah dan akhlak yang mulia.
f. Kemajuan yang dicapai oleh manusia dalam bidang ilmu pengetahuan harus ditujukan untuk mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Hal ini akan terjadi manakala tujuan dari pengembangan ilmu pengetahuan tersebut tidak dilepaskan dari dasar peningkatan ibadah, aqidah dan akhlak tersebut.
g. Sebagai kitab petunjuk, Al-Qur’an tidak hanya mendorong manusia agar mengembangkan ilmu pengetahuan, melainkan juga memberikan dasar bidang dan ruang lingkup ilmu pengetahuan, cara menemukan dan mengembangkannya, tujuan penggunaannya, serta sifat dari ilmu pengetahuan itu sendiri.
h. Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan tentang sumber ilmu (ontologi), melainkan juga tentang cara mengembangkan ilmu  (epistemologi) dan pemanfaatan ilmu (aksiologi). Sumber ilmu itu pada garis besarnya ada dua, yaitu ilmu yang bersumber pada wahyu atau Al-Qur’an yang menghasilkan ilmu naqli; dan bersumber pada alam melalui penalaran yang menghasilkan ilmu naqli. Ilmu yang bersumber pada naqli ini adalah ilmu-ilmu agama (tafsir, hadis, fiqh, tauhid, tasawuf dan sejarah). Sedangkan ilmu aqli (seperti filsafat, ilmu sosial, teknik, biologi, sejarah dan sebagainya). Ilmu-ilmu naqli dihasilkan dengan cara memikirkan secara mendalam (berijtihad) denga metode tertentu dan persyaratan tertentu; sedangkan ilmu-ilmu aqli dihasilkan melalui penelitian kuantitatif (dilaboratorium dengan menggunakan alat ukur, timbangan dan sebagainya) dan penelitian kualitatif (terjun langsung mengamati, mewawancarai dan berdialog serta bergaul dengan masyarakat). Ilmu-ilmu tersebut harus diabdikan untuk beribadah kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya.[4]
            Rasulullah mengumpamakan orang alim seperti keutamaan bulan diantara para bintang. Keutamaan bulan disini adalah dalam hal fungsi menerangi. Bulan itu bercahaya yang membuat dirinya terang dan dapat pula menerangi yang lain. Sementara itu, bintang yang cahayanya redup hanya untuk dirinya sendiri. Sifat seperti itu terdapat pula pada orang yang berilmu pengetahuan dan ahli ibadah. Orang yang berilmu pengetahuan dapat menerangi dirinya sendiri dan orang lain dengan pengajarannya.[5]
Dari perilakunya, sifat orang bodoh adalah mengabaikan akibat, terlalu percaya diri pada orang yang belum dikenalnya, ujub, banyak bicara, cepat menjawab, suka berpaling, kosong dari pengetahuan, tergesa-gesa, sembrono, lalai, dan angkuh. Jika kaya hura-hura, jika miskin putus asa, jika berkata-kata kotor, jika diminta pelit, jika meminta memaksa, jika diterangkan tidak paham, jika tertawa terbahak-bahak, dan jika menangis meraung-raung. Apabila kita tilik kerusakan ini pada diri manusia, kita akan mendapatinya pada kebanyakan manusia, sampai-sampai tidak diketahui lagi orang yang bijak di antara orang-orang yang bodoh” (Kitab Al-Mustatraf fi kulli fann Muistazraf).










C. Aplikasi Dalam Kehidupan
            Pengaplikasian dalam kehiduoan sehari-hari :
1. Orang yang beramal dimalam hari lebih terjaga niatnya karena aman dari sifat riya’, dimana orang yang lain tidur sedangkan ia bangun sendirian untuk beramal.
2. Orang yang tunduk pada Allah selalu mempergunakan waktu-waktunya untuk beribadah kepada Allah.
3. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki dua pokok yaitu ilmu dan amal ynag harus selalu dijaga dan dipergunakan sesuai syariat Agama Islam.
D. Aspek Tarbawi
Nilai-nilai yang terkandung dalam makalah ini yaitu :
1. Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu sesuai dengan firman dalam Al-Qur’an.
2. Allah menegaskan dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Firman Allah, Katakanlah hai Rasul kepada kaummu : Apakah sama orang yang mengetahui pahala yang akan mereka peroleh bila melakukan ketaatan kepada Tuhan mereka dan mengetahui hukuman yang akan mereka terima bila mereka bermaksiat kepada-Nya, dengan orang-orang yang tidak mengetahui hal itu. Yaitu, orang-orang yang merusak amal perbuatan mereka secara membabi buta, sedang terhadap amal-amal mereka yang baik tidak mengharapkan kebaikan, dan terhadap amal-amal buruk mereka tidak takut kepada keburukan.
3. Allah akan membalas segala perbuatan manusia sesuai amal dan ketakwaannya.
              







BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa  Albab artinya akal budi. Dia adalah kata banyak dari sisi, atau intisari atau teras. Dia adalah gabungan diantara kecerdasan akal dan kehalusan budi dan yang meninggikan derajat manusia. Manusia diwajibkan belajar dan beramal sesuai dengan ilmu agar mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
B. Daftar Pustaka
1. Sujarwo.2011. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2. Musthafa, Ahmad Al-Maraghi.1993. Terjemah Tafsir Al-Maraghi.Semarang: CV. Toha Putra.
3. Nata, Abuddin. 2002.Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy.Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
4. Umar, Bukhari.2014.hadits TARBAWI Pendidikan dalam perpektif Hadits.Jakarta: Amzah.















Biodata Pemakalah


1. Nama Lengkap                   : Ulin Nuha
2. Nama panggilan                 : Ulin
3. Tempat/Tanggal Lahir       : Pekalongan, 07 Maret 1997
4. Alamat                                : Desa Pucung Kec. Tirto Kab. Pekalongan
5. Riwayat Pendidikan           :
·       Lulus RA Pucung Tirto
·       Lulus  MIS Pucung Tirto
·       Lulus Mts-IN Banyurip Ageng Pekalongan
·       Lulus SMK Ma’arif NU Tirto
·       Masih menjalani SI IAIN Pekalongan
6. Hobi                                    : Membaca Novel, Tidur.





[1] Sujarwo, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2011) hlm. 355.
[2] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. TOHA PUTRA, 1993) hlm. 259-260.
[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Surabaya, TOKO BUKU “KARUNIA”, 1977)  hlm. 28-29.
[4]  Abuddin nata, Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy, (Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002) hlm. 166-  169.
[5] Bukhari Umar, hadits TARBAWI Pendidikan dalam perpektif Hadits (Jakarta: AMZAH), 2014, hlm. 11.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar