Laman

Senin, 12 September 2016

TT1 B 2d BERPALING DARI ORANG BODOH (Tafsir Q.S Al – A’raf : 199)

BERPALING DARI ORANG BODOH
(Tafsir Q.S Al – A’raf : 199)

Miftakul Ulum
2021114300
 Kelas B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
PEKALONGAN
2016




 KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW . Penulis bersyukur kepada Illahi Rabbi yang telah memberikan hidayah serta taufiq-Nya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul “Berpaling dari orang Bodoh” guna memenuhi tugas tafsir tarbawi , telah terselesaikan.
Tidak lupa ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik moriil maupun materiil, terutama untuk orang tua, dosen, Yayasan  IAIN Pekalongan , serta teman-teman yang telah mendukung, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Uraian topik dalam makalah ini disusun secara sederhana,praktis dan sistematis sesuai dengan format yang telah ditentukan. adapun untuk penelusuran yang lebih jauh dan mendalam pembaca dapat mengadakan kajian pada buku buku rujukan yang telah disebutkan, dan buku lain yang dianggap berhubungan dengan pembahasan dalam makalah ini.
Kemudian kritik pembaca terhadap kekurangan makalah ini sangat diharapkan dan harap maklum atas kesalahan yang sudah pasti ada pada makalah ini . semuanya penulis terima sebagai bahan perbaikan pembuatan makalah setelahnya. Akhirnya saran dari semua pihak akan penulis terima dengan baik, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya , dan penulis pada khususnya.









BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Lukman AL- Hakim pernah berwasiat kepada anaknya “ wahai anakku, janganlah kamu bergaul dengan orang bodoh, karna dikhawatirkan kamu akan tertimpa bencana bersama mereka”. Begitu pula dengan Ali bin Abi Thalib mengatakan “teman yang bodoh itu melelahkan dan dapat mendatangkan musibah”.
Dari dua wasiat tokoh diatas sangatlah jelas, bahwa seharusnya seseorang itu dalam bergaul maupun beteman harus berhati – hati, namun yang terjdi dewasa ini  adalah seseorang lebih cendrung senang ketika mereka berteman dan bergaul dengan  orang – orang bodoh, yang hanya memikrkan dunia semata, di benaknya hanya kesenangan dunia dan mereka dalam menempuh perjalanan hidup ini melailaikan qur’an dan assunnah sebagai pedoman.
Berangkat dari masalah ini maka ditulislah makalah tafsir tarbawi yang berjudul “Berpaling dari orang Bodoh” yang diambil dari QS Al – A’raf yang diharapkan dapat menambah wawasan , dan menyakinkan kita akan  bahaya orang bodoh. Dan  diharapkan pula agar kita tahu bagaimana cara ketiaka berhadapan dengan orang bodoh dan bagaimana mengatasinya.

B. Judul
            judul tema yang akan dibahas pada makalah ini adalah Berpaling Dari Orang Bodoh”

C. Nash
            Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚ̍ôãr&ur Ç`tã šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ  
jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

D. Arti penting
uqøÿyèø9$I    :  secra etomologi, istilah ini brarti memaafkan, mengampuni. Sedang secara terminologi yaitu memberi kemudahan tanpa mempersulit
$óãèø9$I       : kata ini berarti kebajikan. Kata ini juga identik dengan istilah al ma’ruf yang berarti sesuatu yang diperintahkan oleh syara’
óúüÎ=Îg»pgø:$#        : adalah orang – orang yang sangat bodoh dengan perbuatan mereka yang sangat jelek dan berusaha berbuat jahat pada orang lain























BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bodoh
Bodoh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) artinya adalah tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu atau tidak dapat mengerjakan dan sebagainya.[1]
Namun Bodoh pada pembahasan ini ,adalah sifat yang tak mau menerima kebenaran dari Al - Qur’an dan As - sunnah dalam menempuh kehidupan di dunia. Dengan pengertian demikian, manusia yang jahil dianggap telah mamapu dalam menjalani kehidupan dan persoalanya tanpa pedoman Al – Qur’an dan Assunah tadi.
Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata: “Tanda orang bodoh itu ada tiga
1)      Bangga diri
2)      Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat
3)      Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.
Jadi, Orang Pintar itu selalu berupaya membebaskan diri dari 3 Tanda Orang Bodoh di atas, dan juga dari tanda-tanda yg lainnya, seperti bermalas-malasan dalam beramal ibadah dan tidak peduli dengan menuntut ilmu agama, mengharapkan keselamatan dan kebahagian di dunia dan akhirat tetapi ia berjalan di atas jalan kesesatan, kesengsaraan.
Di dlm sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yg artinya): “Orang yg pintar ialah siapa saja yg menundukkan jiwanya (utk melakukan ketaatan kapad Allah, dan ia selalu beramal (sebagai bekal) untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yg bodoh (lemah) itu ialah siapa saja yg selalu mengikuti bisikan (buruk) jiwanya, dan ia berangan-angan tinggi kepada Allah (namun tanpa disertai iman dan amal).”
Seorang ahli hikmah berkata: “Engkau berharap keselamatan (di dunia dan akhirat), tetapi engkau tidak mengikuti jalan-jalan keselamatan. Sesungguhnya kapal itu tidaklah berlayar di tempat yg kering”.[2]
dari Imam Al Ghazali :Ketahuilah, orang yang bodoh adalah orang yang hatinya sakit, sedangkan seorang ulama yang mengamalkan ilmunya adalah seorang dokter. Ulama yang kurang ilmu, terapinya tidak mustajab. Sedangkan ulama yang sempuma, belum tentu mampu menyembuhkan setiap penyakit, tetapi hanya mampu menyembuhkan penyakit orang yang memang mengharapkan kesembuhan dan kebaikan. Jika penyakitnya sudah kronis atau akut, maka sulit diharapkan kesembuhannya. Dalam hal ini, seorang dokter atau tabib cukup mengatakan, "Ini tidak mungkin disembuhkan." Karena itu, engkau jangan disibukkan dengan mengobatinya karena hanya menyia-nyiakan umur.[3]
B.Tafsir
1.      AL-Maraghi
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚ̍ôãr&ur Ç`tã šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ  
“ jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

            Allah ta’ala memerintahkan Nabi-Nya pada ayat ini untuk melaksanakan tiga perkara, yang semuanya merupakan dasar – dasar umum syariat, baik menyangkut tata soal kesopanan atau hukum – hukum amaliah:
a)      Al – Afwu, artinya mudah, tidak brliku –liku yang menyulitkan.
Jadi maksud ayat: diantara perbutan – prbutan ynag dilakukan orang, akhlak mereka dan apapun yang datang dari mereka, ambillah yang menurutmu mudah, dan bersikap mudahlah, jangan mempersulit dan jangan menuntut mereka melakukan sesutu yang memberatkan, sehingga mereka akan lari darimu.
Namun ada juga yang mengatakan maksud ayat: “ambillah sedekah orang – orang itu, berupa kelebihan harta yang mudah tiada memberatkan bagi mereka”
Kesimpulannya, diantara tata krama dan prinsip agama adalah kemudahan, menghindarin kesulitan dan byang memberatkan. Dan benarlah berita bahwa Nabi SAW. Apabila harus memilih dua perkara, maka beliau pilih yang lebih mudah
b)      Al – Amru bil ma’ruf (meneyeru kepada yang ma’ruf).
Al – ma’ruf artinya sesuatu yang diakui baik oleh hati. Hati senang kepadanya dan merasa tentram.
Tiadak diragukan, bahwa suruhan ini didasarkan pada pertimbangan kebiasaan yang baik pada uma, dan hal –hal menurut kesepakatan mereka berguna bagi kemaslahatan mereka.
Pendek kata, Al –Ma’ruf ialah kata umum yang mencakup setiap hal yang diakui, termasuk taat dan taqarrub kepada Allah serta berbuat baik kepada sesama manusia.
Berktalah sebagaian ulama terkemuka, “ma’ruf ialah apa yang menurut akal baik untuk dilakukan dan tidak dipungkiri oleh semua akal sehat. Dan dalam hal ini, bagi seorang mu’min, cukup dengan memelihara nash – nash yang tetap, karena tak mungkun seorang mukmin mengiungkari apa yang datang dari Allah dan Rasu-Nya. “
c)      Al – i’rad ‘anil jahilin ( berpaling dari orang – orang bodoh), yatu dengan cara tidak mempergauli mereka dan jangan bantah – bantahan dengan mereka. Karena, untuk menghindari agar jangan disakiti oleh mereka memeng tak ada jalan lain kecuali dengan berpaling dari mereka.
Menurut sebuah riwayat dari ja’far Ash – Shadiq ra, bahwa dia berkata “dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat yang lebih mencakup akan makarimal akhlaq ,  selain ayat ini”.[4]

2.      IBNU KATSIR
            Abbas mengartikan: terimalah apa yang diberikan merka kepadamu, dan ini terjadi sebelum adanya wajib zakat. Dan abbas juga mengartikan al – afwa disini dengan kelebihan.
            Abdur  Rahman  ibnu  Zaid  ibnu Aslam  mengatakan:Allah  memerintahkan  Nabi  Saw.  agar  bersifat  pemaaf  dan  berlapang dada  dalam  menghadapi  orang­orang  musyrik  selama  sepuluh  tahun. Kemudian  Nabi  Saw.  diperintahkan  untuk  bersikap  kasar  terhadap mereka. Pandapat  inilah yang dipilih oleh  Ibnu  Jarir.
            Ubai berkata: ketika turun ayat ini . Nabi SAW bertanya kepada jibril as. Apakah maksudnya ini hai jibril? Jawab jibril, “sesungguhnya Allah menyuruhmu memaafkan terhadap orang yang menganiyaimu, dan memberi pada orang yang bakhil kepadamu , dan menghubungi orang yang memutuskan hubungan kepadamu”.
            Ibnju jarir berkata, Allah menyuruh Hamba-Nya supaya menganjurkan segala kebaikan dan termasuk semua amal taat, juga mengabaikan orang yang bodoh, yakni tidak melayani kebodohannnya, ini juga tuntunan kepada hamba supaya sanggup menanggung tantangan orang bodoh dengan kesabaran, asalkan tidak menyalahi hukum yang wajib dalam agama, atau iman terhdap Allah, yakni jika menghadapi yang sedemikian maka harus berlaku tegas dan tidak boleh mengalah
            Sebagian  ulama  mengatakan  bahwa  manusia  itu  ada  dua  macam: Pertama,  orang  yang  baik;  terimalah  kebajikan  yang  diberikannya kepadamu, janganlah kamu membebaninya dengan sesuatu yang di  luar kemampuannya,  jangan  pula  sesuatu  yang  menyempitkan  dirinya. Adapun  terhadap  orang  yang  kedua,  yaitu  orang  yang  buruk,  maka perintahkanlah  dia untuk berbuat yang makruf. Jika ia tetap  tenggelam di  dalam  kesesatannya  serta  membangkang  tidak  mau  menuruti nasihatmu serta  terus­menerus di  dalam  kebodohannya, maka  berpalinglah  kamu  darinya. Mudah­mudahan  berpalingmu  darinya  dapat menolak tipu muslihatnya terhadap dirimu.[5]

C. Aplikasi dalam kehidupan
            Ibnu  Abbas r.a. pernah mengatakan,  "Uyaynah  ibnu Husain  ibnu  Huzaifah  tiba (di Madinah),  lalu  menginap  dan  tinggal di  rumah  kemenakannya,  yaitu AI­Hurr ibnu Qais. Sedangkan Al­Hurr termasuk salah seorang di antara orang­orang yang terdekat dengan Khalifah Umar. Lalu  Uyaynah  berkata kepada kemenakannya,  'Hai kemenakanku,  engkau  adalah  orang  yang dikenal  oleh  Amirul Mu­minin,  maka mintakanlah  izin masuk  mene­muinya bagiku." Al­Hurr berkata,  'Saya akan memintakan  izin  buatmu untuk bersua  dengannya' ." Ibnu Abbas melanjutkan  kisahnya, "Lalu Al­Hurr meminta  izin buat Uyaynah  kepada  Umar,  dan  Khalifah  Umar  memberinya  izin  untuk menemui  dirinya.  Ketika  Uyaynah  masuk  menemui  Umar,  Uyaynah berkata.  'Hai Umar.  demi  Allah,  engkau  tidak  memberi  kami  dengan pemberian  yang  berlimpah,  dan  engkau  tidak  menjalankan  hukum dengan  baik di  antara  sesama  kami . '  Maka  Khalifah  Umar  murka, sehingga  hampir  saja ia menampar  Uyaynah,  tetapi  Al­Hurr  berkata kepadanya,' Wahai Amirul Mu­minin, sesungguhnya Allah Swt. pernah berfirman  kepada Nabi­Nya:
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚ̍ôãr&ur Ç`tã šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ 
Dan sesungguhnya orang  ini termasuk orang yang bodoh. Demi Allah ketika ayat ini dibacakan kepada umar, umar tidak berani melanggarnya  dan Umar  adalah  orang  yang  selalu  berpegang  kepada Kitabullah."  Hadis diketengahkan oleh  Imam Bukhari secara  munfarid.
            Salim bin Abdullah bin umar ketika berjalan bertemu dengan qafilah orang – orang dari syam yang untanya diberi bel (klenengan). Maka salim berkata kepada mereka, “itu bel dilarang “. Mereka berkata “bukan ini yang dilarang, hanya bel yang besar itulah yang dilarang. Adapun yang kecil seperti ini tidak apa – apa”. Salim diam dan berkata, wa’a’ridh ‘anil jahilin.[6]
Pada dua kisah diatas adalah contoh bagaiman seharusnya ketika menghadapi orang bodoh, adalah  kita seru mereka kepada yang ma’ruf, namun apabila mereka membangkang dan merajalela dalam kebodohannya maka lebih baik kita berpaling darinya.
Dan apabila kita bantah – bantahan dengan mereka hal itu hanya akan memebuang - buang waktu, karana pada dasarnya orang bodoh adalah mereka yang tak mau menerima kebenaran. 


D. Aspek Tarbawi
1.      Islam  itu mempermudah dan tidak memberatkan
2.      Al – ma’ruf itu sesuatu yang diakui baik oleh hati. Hati senang kepadanya dan merasa tentram
3.      Sabar dan berpalinglah ketika menghadapi orang yang bodoh karna itu lebih mulia daripada berbantah – bantahan dengan mereka
4.      Bergaul dengan orang bodoh berarti mencari kesia- sian  dan bencana

           



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Pada ayat ini memuat pokok – pokok asas syariat. Kata khudzil afwa adalah isyarat agar bersikap lunak dan jangan membuat kesulitan, baik dalam mengambil, memberi atau pada semua urusan pembebanan.  Wa’mur bi ‘urfi,  adalah mencakup semua hal yang diperintahkan dan yang terlarang yang berkaitan dengan perbuatan ma’ruf dan yang terakhir  wa a’ridh anil jahilin yaitu suruhan untuk dengan sabar bersikap pemaaf, yaitu suatu sikap yang akan mendatangkan kepada seorang segala keinginan hatinya sendiri atau orang lain.

















DAFTAR PUSTAKA
Al-Maragi, ahmad mustafa.1993.Tafsir Al-Maragi.Semarang: PT.Karya Toha Putra Semarang
http://kbbi.web.id/bodoh.html
https://abufawaz.wordpress.com/2013/04/18/3-tanda-orang-bodoh.html
Bahreisy, salim .1986. Tafsir Ibnu Katsir. Surabaya: PT. Bina Ilmu.




















PROFIL



Nama                           : Miftakhul ulum
TTL                             : Kendal, 29-09-1996
Alamat                                    :JL. Hayam Wuruk Gg. 1 No. 32 Pesindon Pekalongan
Riwayat pendidikan    : SD N 3 SINGOROJO, MTs Muhammadiyah pekalongan, MAN 3 Pekalongan, IAIN Pekalongan
Aktifitas Organisasi    : KAMMI,  Yayasan SABILILLAH
pesan                           : Bertemanlah dengan orang – orang soleh


[1] http://kbbi.web.id/bodoh.html
[2][2] https://abufawaz.wordpress.com/2013/04/18/3-tanda-orang-bodoh.html
[3] https://web.facebook.com/notes/irwan-winardi/bagaimana-menyikapi-orang-orang-jahil/10152992225960123/?_rdr.
[4] ahmad mustafa Al-Maragi.Tafsir Al-Maragi.(Semarang: PT.Karya Toha Putra 1993) hlm. 279 - 283
[5] Salim Bahreisy. Tafsir Ibnu Katsir.( Surabaya: PT. Bina Ilmu 1986.) hlm 524 - 526
[6] Ibid . hlm 525 - 526

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar